Chapter 8.
Title : My Ice cream Doctor.?
Author : Rilakkumaa_94
Cast : Oh Sehun.
Xi Luhan.
Park Chanyeol.
Do Kyungsoo.
Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)
Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.
Rating : T
Playing : Junggigo feat Soyou (SISTAR) – SOME.
Rilakkumaa_94
Present
.
.
.
" Bukankah seorang pangeran harus berbuat baik pada orang yang kesusahan."
" Kau bahkan mengatakan menyukai si tukang jagal ini."
" Ayo pergi berkencan."
.
.
.
.
.
Seorang pria bak model kelas dunia itu berjalan santai memasuki gedung Rumah Sakit ini. Dia bahkan sempat mendapat tatapan kagum dari orang orang yang kebetulan melihat. Lelaki itu, bagaimana ya cara mendiskripsikanya? Dia tinggi, tampan dan juga seksi.
Bahkan jika dibandingkan dengan Sehun, dia tak kalah tampan. Hanya saja lelaki ini memiliki kulit yang eksotis.
" Apa kau melihat dokter dengan mata bulat disini.?" Tanya pria tadi kepada perawat yang ditemuinya.
Perawat itu menaikkan satu alisnya, tidak mengerti maksud pria tampan ini.
Kim Jongin sadar, dia salah berucap.
" Kau tahu dokter magang yang tingginya segini, dan punya mata bulat seperti burung hantu." Ucapnya lagi, sembari mendeskripsikan tingginya Kyungsoo.
Perawat itu berfikir sejenak. " Maksud anda dokter Kyungsoo."
Jongin membenarkan, entah itu benar dia atau tidak. Setidaknya perawat ini tahu siapa yang dia maksud.
" Dimana dia sekarang." Tanya Kai sopan.
" Coba cari di UGD." Saranya, kemudian pamit pergi.
Sebelumnya Jongin mengucapkan terima kasih.
Pria itu membenarkan pakainya sebentar, lalu berjalan menuju UGD.
.
Kyungsoo.
.
" Kau kenapa lagi Lu.?" Tanya Kyungsoo pada Luhan yang menyandarkan kepalanya di meja.
Luhan hanya bergumam tak tertarik menjawab pertanyaan Kyungsoo.
Mereka sekarang tengah makan siang bersama di cafeteria rumah sakit. Sekarang waktunya makan siang, dan baru saja Luhan menyelesaikan hukumanya.
.
Flashback.
.
Setelah usahanya membujuk Sehun untuk menghentikan hukumanya yang tentu saja gagal itu, gadis itu diam dan memperhatikan Sehun baik baik, meneliti penampilan dokter itu dengan cermat. Mulai sekarang Luhan harus belajar menerima kenyataan bahwa Sehun bukanlah orang yang gampang dirayu. Gadis itu bahkan mengeluarkan aegyeo menjijikan, merayu Sehun untuk membatalkan niatnya menghukum Luhan berdiri sampai dia memaafkan kesalahanya.
" Bbuing buing kau tampan sekali sih." Luhan merayu, melakukan bbuing bbuing pada Sehun.
" Kau sangat tampan, bahkan seperti pangeran dari negri dongeng. Jadi maafkan aku yayaya,"
" Bukankah seorang pangeran harus berbuat baik pada orang yang kesusahan." Mohon Luhan lagi, merayu Sehun dengan rayuan basinya.
Luhan berhenti sebentar, menatap kearah Sehun yang sepertinya tidak tertarik. Gadis itu memutar otaknya lagi.
" Aa…aaa…..aaaaa aduh kakiku." Luhan kesakitan sembari memegang kakinya.
Luhan menatap Sehun " Kakiku sakit sekali.." Ulang Luhan lagi, sengaja mengeraskan suaranya.
Sehun tidak menggubris Luhan, dia hanya diam saja.
" Kakiku ya tuhan sakit sekali, yaampun sakitnyaa.." Teriak Luhan sembari menatap Sehun, mencari perhatian lelaki itu.
Luhan mendengus sebal menatap Sehun yang diam dan terlihat tak tertarik, perbuatanya sedari tadi tidak membuahkan hasil.
Gadis itu mencoba sekali lagi, sama seperti tadi pura pura kesakitan.
" Berdiri yang benar." Perintah Sehun. Lalu Luhan berdiri dengan benar.
" Aku lelah, jadi berdirinya sampai jam istirahat makan siang saja ya.?" Minta Luhan dengan memohon.
Sehun menatap Luhan sebentar " Minta maaf."
Luhan menaikkan satu alisnya, dia belum mengerti maksud Sehun. Sejurus kemudian gadis itu mengerti maksudnya.
" Baik baik, dokter Oh maafkan aku." Ucapnya tulus, memandang Sehun melas.
Sehun tersenyum simpul " Ulangi sekali lagi."
Luhan mendengus, dokter ini sedang mengerjai dirinya.
" Dokter Oh maafkan aku, aku menyesal dan tidak akan datang terlambat lagi." Luhan mengatakanya dengan keras dan sungguh sungguh.
" Puas kau." Lanjutnya kesal, sesaat setelah Sehun mengangguk menerima permintaan maafnya.
Sehun tertawa melihat raut kesal Luhan.
Sehun berdehem pelan, mengakhiri tawanya dengan cara yang menawan.
Menatap Luhan lalu mulai bicara " Kau harus mendengarkan perkataanku, jika masih ingin menjadi dokter disini." Prolog Sehun.
Luhan hanya bergumam tak tertarik.
" Pertama, jangan datang terlambat."
Luhan bergumam ya dengan malas.
" Kedua, jangan pernah membantah perintah maupun perkataanku."
Luhan menjawab iya pelan, masih tak tertarik menatap Sehun.
" Dan yang ketiga, bersikaplah dengan baik." Sehun melanjutkan, suaranya serius. Itu adalah perintah mutlak darinya yang tak bisa dibantah Luhan.
" Kau bisa melakukanya kan, tidak ada penolakan."
Luhan mengangguk pasrah.
" Apa ada lagi?" Tanya Luhan.
Dia menatap Sehun menunggu kelanjutan kalimatnya.
" Dan jika kau melanggar, akan ada hukuman.-" Ancamnya.
Sehun menatap dingin padanya, Luhan mengangguk pasrah. Lelaki dihadapanya memang jiwa iblis berwujud pangeran tampan.
Sehun tersenyum, Luhan tampak mengerti. Dia terlihat senang bisa membuat gadis sinis itu tunduk dan patuh pada perintahnya.
" Apa aku boleh bertanya.?"
" Bertanyalah."
" Apa aku boleh makan sekarang, aku sangat lapar." Luhan bertanya polos pada Sehun.
Sehun yang melihatnya tak bisa menyembunyikan senyumanya. Gadis ini disaat yang lain bisa berubah menjadi gadis manis dan menggemaskan.
Tanpa sadar dia mengangguk, dan Luhan bersorak senang.
" Terima kasih, pangeran." Ucapnya sembari melambaikan tanganya pada Sehun dan berjalan keluar.
.
Flashback end.
.
" Lalu sekarang apa yang sedang kau pikirkan, Lu.?" Eun Ha bertanya, letak dimana yang Luhan sesali.
Eun Ha dan Kyungsoo bertanya setelah Luhan bercerita tentang perlakuan Sehun tadi.
" Kau tidak menyesal karena menuruti perintahnya kan?" Kyungsoo menebak, tapi Luhan menggelengkan kepalanya.
" Lalu apa kau menyesal karena meminta maaf pada dokter oh." Eun Ha menebak juga, tapi Luhan juga menggeleng.
" Lalu apa, Lu. Berhentilah membuat aku dan Kyungsoo penasaran."
Kyungsoo mengangguk setuju.
Luhan mengangkat wajahnya, menatap Kyungsoo dan Eun Ha.
" Aishh…" Desahnya, memalingkan mukanya kesamping.
Eun Ha dan Kyungsoo bertatapan.
Luhan menghadap Kyungsoo dan Eun Ha.
" Kau tidak membuatnya marah lagi kan.?" Eun Ha menebak lagi, karena Luhan tak kunjung bersuara.
" Bukan seperti itu.." Luhan memotong cepat.
" Lalu.." Kyungsoo bertanya.
" Aku menyesal karena menyebutnya pangeran."
Setelah kalimat itu keluar, Kyungsoo dan Eun Ha menghela nafasnya kasar. Mereka pikir apa, ternyata hanya soal itu.
" Seharusnya aku mengatakan dia mirip iblis bukan pangeran, aishh.." Luhan berteriak kesal, merutuki kebodohanya.
" Dia memang seperti pangeran." Kyungsoo bersuara.
" Siapa yang kalian sebut pangeran, pasti aku ya." Suara lain menjawab cepat dan penuh percaya diri.
Ketiga gadis itu memandang heran lelaki disampingnya. Lelaki ini gila ya.? Tapi wajahnya terlalu tampan jika mengidap penyakit gila.
.
.
Kim Jongin.
.
Lelaki itu sudah sampai di UGD, bertanya kembali.
" Apa kau melihat dokter Kyungsoo." Tanyanya pada perawat dihadapanya.
Perawat itu menggeleng, lalu bergegas pergi.
Jongin berdecak, dia kembali melanjutkan bertanya pada perawat lainya.
" Kau tahu dimana dokter Kyungsoo, yang matanya bulat itu."Jongin bertanya lagi, sekarang lebih jelas.
Perawat min menjawab " Maaf saya tidak tahu." Lalu berjalan pergi.
Jongin berdecak sebal, mencari Kyungsoo sangat sulit. Kenapa di Rumah Sakit ini tak ada yang melihatnya.
" Kau mencari dokter Kyungsoo, mungkin dia sedang makan siang." Perawat Jang berkata pada Jongin.
Jongin menatap yang bicara padanya, lalu mengucapkan terima kasih.
" Terima kasih." Ucapnya lalu berjalan pergi.
Dia menelusuri lorong lorong Rumah Sakit, sesekali bertanya pada orang yang lewat.
" Kau jalan saja kesana, lalu belok kanan dan ikuti garis hijau. Maka kau akan sampai di kantin."
Jongin mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih pada perawat laki laki yang ditemuinya.
" Belok kanan, ikuti garis hijau. Ah ini dia."
Jongin melanjutkan langkahnya mengikuti garis hijau.
Di sudah sampai dicafetaria rumah sakit, pria itu mengedarkan pandanganya mencari sosok Kyungsoo.
Menelusuri setiap penjuru tempat ini.
" Ah itu dia." Ucapnya senang saat menemukan Kyungsoo berada di meja pojok kanan bersama dua dokter lainya.
Jongin berjalan mendekat, berjarak lima langkah dia mendengar percakapan dokter dokter itu.
" Aku menyesal karena menyebutnya pangeran."
kalimat itu keluar dari dokter bermata rusa itu, Kyungsoo dan wanita lainya menghela nafasnya kasar.
" Seharusnya aku mengatakan dia mirip iblis bukan pangeran, aishh.." Si dokter bermata rusa berteriak kesal.
" Dia memang seperti pangeran." Kyungsoo bersuara.
Jongin tersenyum lalu langsung menyeletuk.
" Siapa yang kalian sebut pangeran, pasti aku ya."
Setelah mengatakan itu, ketiga dokter itu menatap Jongin heran, dan Kyungsoo memekik terkejut.
" Apa yang kau lakukan disini."
Luhan dan Eun Ha memandang Kyungsoo heran. " Kau mengenalnya."
Jongin tersenyum canggung " Aku mencarimu."
Kyungsoo terkejut, Luhan dan Eun Ha bersorak menggoda Kyungsoo.
Kyungsoo malu, dia bahkan memberikan death glare pada Luhan dan Eun Ha. Tapi malah membuat kedua gadis itu terkikik geli.
" Silahkan duduk." Eun Ha mempersilahkan, dia bahkan pindah duduk disamping Luhan. Membiarkan Jongin dan Kyungsoo duduk bersebelahan.
Jongin mengucapkan terima kasih lalu duduk disebelah Kyungsoo.
"Untuk apa anda mencari Kyungsoo, tuan…" Luhan mengantungkan kalimatnya, menatap Jongin.
Jongin yang mengerti menyebutkan namanya " Aku Kim Jongin."
Luhan mengangguk " Ya Kim Jongin, untuk apa anda mencari Kyungsoo. Apa dia berhutang padamu, atau dia mencuri sesuatu milikmu mungkin." Ucap Luhan asal.
Kyungsoo menatap Luhan kesal, Jongin terkikik. " Bukan seperti itu."
" Lalu.." Eun Ha ikut bertanya.
" Aku hanya ingin melepaskan jahitan di lenganku." Jelasnya, dan diakhiri senyuman diujung kalimatnya.
Luhan dan Eun Ha bahkan sempat tersihir waktu Jongin tersenyum. Sungguh dia sangat tampan jika tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
" Kau bisa menemuiku di UGD, kenapa mencari kesini." Kyungsoo bertanya tak suka.
Jongin hanya mengedikan bahu acuh.
Luhan menatap menyelidik pada Kyungsoo.
" Jangan jangan ini si tukang jagal." Luhan berucap asal.
" OH iya ini yang kau sebut pangeran waktu itu Kyung." Eun Ha berseru.
Kyungsoo kaget, kedua teman tololnya ini suka sekali mempersulit hidupnya. Belum lagi tatapan Jongin yang heran sekaligus bertanya tanya ditujukan padanya.
" Apa maksudnya—"
" Jangan dengarkan mereka.." Potong Kyungsoo cepat.
Jongin diam saja, Eun Ha dan Luhan sengaja melakukan itu.
" Kau bahkan mengatakan menyukai si tukang jagal ini."
" Kau juga mengatakan bahwa dia sangat tampan dan seksi." Eun Ha memanas manasi.
Kyungsoo kesal, dia bangkit dan menarik Jongin pergi.
" Ayo.." Kyungsoo menarik Jongin pergi.
Luhan dan Eun Ha tertawa iblis, melihat Kyungsoo salah tingkah.
" Dia lucu sekali." Luhan berkomentar, saat Kyungsoo dan Jongin berjalan menjauh.
" Dan juga dia sangat tampan, pantas saja Kyungsoo bisa tergila gila padanya." Eun Ha menambahi.
Dan selanjutnya, kedua dokter itu melanjutkan makan siangnya, sembari membicarakan Kyungsoo dan Jongin.
.
.
.
.
Luhan , Sehun dan Soobin masuk keruangan khusus anak anak. Sehun tadi sempat mengatakan bahwa mereka harus memeriksa kondisi anak anak yang mengidap penyakit jantung. Sehun menyuruh mereka untuk berhati hati dan jangan melakukan hal yang membuat anak anak menangis.
Sehun membuka pintu itu, disana terdapat banyak sekali anak anak kecil yang bermain. Mereka menggunakan pakaian yang sama dan juga gambarnya lucu lucu berupa binatang.
Soobin menyapa mereka dengan hangat, dan mereka juga membalas dengan gaya khas anak anak.
" Kalian bermain apa.?" Tanya Soobin lembut pada salah satu anak, namanya Jieun.
Jieun menjawab " Boneka."
Soobin mengangguk lalu mengelus surai anak kecil itu.
Luhan memandang sekitar, dia memandang setiap anak yang bermain. Mereka yang disana terlihat seperti anak biasa, sehat dan ceria. Tidak terlihat sakit sedikitpun.
" Apa yang kau pikirkan." Tanya Sehun mendapati Luhan bengong didepan pintu.
Luhan tersadar lalu mengikuti Sehun menuju anak diujung ruangan bermain.
" Buka mulutmu.."
Anak itu menurut dan membuka mulutnya. Sehun menyenter mulut anak itu dan menggeleng kan kepalanya.
Anak itu menutup mulutnya kembali, Sehun memandang anak itu sebentar.
" Jangan terlalu makan banyak permen, mengerti." Ucapnya lembut.
Anak itu mengangguk semangat, dan Sehun mengusak kepalanya gemas.
Luhan menatap Sehun, bisa bisanya dokter ini segampang itu mengurus anak kecil.
" Kenapa memandangku, suka ya.?" Sehun berucap asal, merasa diperhatikan Luhan disampingnya.
Luhan memutar bola mata malas " Aku tidak menyukaimu." Bantahnya.
Sehun mengabaikan lalu mulai memeriksa anak yang lainya.
" Pegang dia." Perintah Sehun.
Luhan menurut memegang tubuh anak perempuan tadi.
" Tenang sayang." Sehun menenangkan. Suaranya lembut tapi tegas.
Sehun mengoleskan alcohol ke lengan gadis kecil itu. Gadis kecil itu meronta minta dilepaskan. Luhan bahkan sampai kewalahan memegangnya.
" Diam sebentar." Bentaknya kesal.
Sontak saja gadis kecil itu diam dan menurut karena takut. Melihat itu Sehun tak menyia nyiakan kesempatan dan langsung menusukkan jarum ke lengan gadis tadi.
Gadis itu menjerit tertahan, Luhan menenangkan dan menyuruhnya jangan menangis.
Sehun selesai dengan pekerjaanya " Jangan menangis." Bujuknya.
" Jika kau menangis, nanti kau akan dimakan hantu." Luhan menakut nakuti.
Bukanya diam gadis tadi malah menangis semakin keras.
Sehun menatap tajam Luhan, Luhan menjawab kenapa.
" Sstt jangan menangis, nanti kalau kau menangis cantiknya hilang." Sehun mengatakanya dengan lembut, menenangkan gadis kecil itu.
" Kau pernah berjanji untuk tidak menangis kan.?" Lanjutnya.
Gadis itu mengangguk menatap Sehun dan menghentikan tangisanya.
" Anak pintar." Sehun memeluk gadis tadi, dan menatap Luhan tajam.
Luhan memandang Sehun dengan tatapan yang mengatakan " Apa? Aku membuat kesalahan lagi."
.
.
Kyungsoo.
.
Kyungsoo menarik lengan pria itu. Wanita itu bahkan bisa merasakan betapa kerasnya lengan Jongin. Jongin menurut, tidak berniat melepaskan tarikan Kyungsoo.
" Lenganya." Kyungsoo berkata dalam hati. Dia bahkan lupa dengan amarahnya untuk Jongin. " Tak apalah, yang penting bisa menyentuh otot laki laki ini." Pekik Kyungsoo senang.
Kyungsoo menghempaskan tubuh Jongin diatas ranjang. Lalu membuka pakaianya, eh gak ding?
Menyuruhnya untuk duduk disana.
" Untuk apa kemari?" Tanyanya lagi.
" Aku ingin melepas jahitanku." Jongin menjelaskan.
Kyungsoo menatap sebentar kearah Jongin. " Kenapa tidak meminta pada dokter yang lain."
Jongin tersenyum lalu menyeringai " Aku ingin kau yang melakukan."
Kyungsoo menegang, suara Jongin sungguh seksi.
Kyungsoo berdehem pelan, mengubur dalam dalam kegugupanya.
" Kalau begitu tunggu sebentar." Kyungsoo berucap lalu pergi.
Belum sampai tiga menit kepergianya, dokter itu sudah kembali lagi dihadapan Jongin sembari membawa wadah aluminium.
" Tangan." Kyungsoo memerintah.
Jongin tersenyum lalu menyerahkan tanganya yang terluka dan disambut hangat oleh Kyungsoo.
" Apa kau meminum obat mu dengan teratur." Tanyanya sembari melepaskan perban dilengan Jongin.
Jongin menjawab iya, dan kembali melanjutkan memandang Kyungsoo.
Kyungsoo meneliti luka Jongin.
" Bagus, lukanya sudah kering." Ucapnya menatap Jongin, sembari tersenyum.
Jongin tersihir sesaat.
Kyungsoo melanjutkan kembali kegiatanya.
" Apa maksud temanmu tadi.?" Jongin bertanya.
" Jangan dengarkan mereka." Kyungsoo menjawab tanpa memandang Jongin.
Jongin menyeringai " Lalu kenapa kau menyebutku pangeran."
Kyungsoo terdiam sebentar, sedetik kemudian melanjutkan kegiatanya lagi. " Itu bukan kau."
" Benarkah.? Memangnya apa kau tak suka padaku." Tanya Jongin lagi, menggoda Kyungsoo.
" Untuk apa aku menyukaimu." Kyungsoo membantah, tapi ragu ragu.
Jongin menatap Kyungsoo menggoda " Karena aku seperti pangeran."
Kyungsoo berdecih sinis. Dia tak lagi membalas omongan Jongin, lebih baik diabaikan.
" Sudah." Ucap Kyungsoo kepada Jongin.
Jongin tersadar, lalu melihat lenganya.
" Kau tidak perlu datang lagi kemari, dan juga jangan lupa untuk tetap meminum obatnya." Kyungsoo menjelaskan.
Jongin mengangguk, masih memandang Kyungsoo.
" Apa ada yang ditanyakan.?" Tanya Kyungsoo saat Jongin memandangnya dengan aneh.
Jongin berdehem pelan, berhenti sebentar.
" Apa kau sudah memiliki kekasih.?" Tanyanya kikuk, dia sudah tidak tahan untuk menanyakan pertanyaan itu.
Kyungsoo menaikkan satu alisnya, kaget dengan pria ini yang bertanya tiba tiba.
" Tii.. tiidak.." Ucapnya terbata.
Jongin tersenyum " Apa hari libur jadwalmu kosong." Jongin bertanya lagi.
Kyungsoo terlihat berfikir, mengingat ingat. " Kenapa?"
Jongin menghela nafas pelan, lalu memandang Kyungsoo dengan senyuman " Ayo pergi berkencan."
Kyungsoo menegang, apa maskudnya semua itu. Apa barusan Jongin mengajaknya berkencan. Apa secara tidak langsung pria itu mengatakan suka padanya.? Jadi selama ini Jongin menyukainya, tapi untuk alasan apa?
" Bagaimana.?" Jongin bertanya, memecah keragu-raguan Kyungsoo.
Kyungsoo mengangguk dia bahkan berkeinginan untuk menolak, tapi dia seperti tidak punya tenaga lebih untuk menggelengkan kepalanya.
Jongin tersenyum " Temui aku di Dream World jam 10 ."
" Aku menunggumu, Kyungsoo." Ucapnya lalu berlalu pergi sembari mengusak kepala Kyungsoo sebentar.
Meninggalkan Kyungsoo sendiri yang diam bak orang bodoh. Dia barusan diajak berkencan di hari minggu besok, dia akan berkencan dengan pria bak model itu. Dengan pria seksi bernama Kim Jongin? Benarkah? Rasa rasanya Kyungsoo sekarang tengah bermimpi indah.
Tuhan jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.!
Kyungsoo bahkan diam dan melotot seperti patung, dia masih bingung. Itu tadi nyata atau hanya halusinasinya saja. Tapi jika ini halusinasi, tapi kenapa dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdetak cepat saat ini. Kyungsoo menggeleng gelengkan kepalanya mencoba berfikir realistis, dia mencoba yakin bahwa tadi bukan halusinasi, telinganya pun juga masih berfungsi. Jadi tadi itu nyata dan dia diajak berkencan dengan pria bernama Kim Jongin itu.
" Ahhhh." Teriaknya sembari menutup mulutnya.
.
.
.
TBC.?
.
.
.
.
Sebelumnya mau ngucapin makasih buat Kim Tan yang udah kasih kritik ke aku. Dan juga disini aku mau ngejelasin semuanya. Emang sih aku nyadar kalau ff buatan aku ini Alay dan lebay banget, sadar aku-nya. Maklum aku masih SMA belum juga 17 thn jadi belum bisa buat ff yang lebih bagus dari ini, makanya kan aku udah bilang kritik itu juga perlu banget buat penulis abal abal cem aku. Dan kalau soal cerita bertele tele, tulisanya alay dan gk diperbaiki? Gini ya mbaknya? Emang alurnya dibuat gini sih, aku pengenya gitu hunhan jatuh cintanya itu lama jadi gak langsung dibuat jatuh cinta dan jatohnya cerita ini bertele tele trus banyak part yang jadinya nyampah disini. Dan juga masalah summary sama ceritanya emang gak nyambung, itu aku juga nyadar. Yang disummary kesanya kek Sehun pemeran utama, tapi pas baca cerita kebanyakan perasaan Luhan yang aku tulis. Tapi mau gimana lagi? Terserah aku ya. Tapi makasih udah dikritik, jadi aku bisa perbaiki cerita in dimasa depan.
Buat yang mau baca dan suka sama ff ini, makasih. Aku janji chapter selanjutnya gk akan alay kek gini lagi. Dan maaf ya kalau chap ini alay, udah terlanjur aku nulisnya kek gini. Aku nulis ff ini udah nyampe chapter 12, sayang kalau diedit lagi. Aku-nya orang yang moody'an jadi kalau disuruh ngedit ceritanya jatohnya males banget. Maaf ya! Udah itu aja kurang lebihnya tolong dimaafkan dan dimaklumi.
Wassalam.
