Chapter 9.
Title : My Ice cream Doctor.?
Author : Rilakkumaa_94
Cast : Oh Sehun.
Xi Luhan.
Park Chanyeol.
Do Kyungsoo.
Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)
Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.
Rating : T
Playing : Bolbbalgan4 – Galaxy.
Foreword : FF ini mengandung unsur kealay-an yang berlebihan, diperuntukkan untuk anak anak yang masih suka nulis dicampur pake 4n9k4 yach.. Jujur saya gk suka dikritik *egois, soalnya kepikiran terus sumpah… Jadi kalau mau baca ff ini harus diterima ya, pokoknya chap ini sampe chap depan terlalu banyak mengandung unsur alay yang mungkin membuat anda mual, pusing berkepanjangan dan mungkin jyjyck gak mau baca ff aku lagi. Saya udah ingetin diawal kalau ff ini alay. Maksa baca? Tanggung konsekuensinya.. Terima kasih. J J J
Rilakkumaa_94
Present
.
.
.
" Kau terlambat lima menit."
" Aku memiliki kesempatan."
" SUDAH KUBILANG AKU TIDAK CEMBURU."
.
.
.
.
Hari yang buruk.
Luhan duduk diruangan Sehun, menunggu pria itu datang. Terhitung sekarang masih jam 6.40 pagi, dan Luhan sudah berada dirumah sakit. Hari ini dia sengaja datang lebih awal sekali agar tidak dihukum lagi oleh si Sehun sialan itu. Dia bahkan harus bangun pagi pagi dan mandi lebih awal. Dia bahkan tidak sarapan, karena ibunya belum menyiapkan apa apa.
.
Flashback.
.
Luhan keluar dari kamar mandi, gadis itu bahkan menggigil kedinginan. Dia bangun pagi sekali hari ini, dan bergegas mandi. Gadis itu bahkan menghabiskan waktu dikamar mandi hanya 15 menit, yang biasanya memakan waktu 1 jam lebih. Luhan suka sekali bernyanyi, jadi tak heran jika kamar mandi jadi tempat konser dadakan untuknya.
Gadis itu memakai baju yang sudah disiapkanya tadi, sweeter lengan panjang berwarna merah dan celana jeans. Luhan menghadap kaca, duduk disana sembari mengoleskan bedak serta make up yang dia punya. Luhan menguap sesekali, sungguh dia masih sangat mengantuk.
" Huahhh.." Luhan menutup mulutnya, gadis itu bahkan memejamkan matanya.
" Dingin sekali." Luhan berucap sembari mengoleskan BB Cream ke wajah cantiknya.
Luhan berdandan tak lama lama, dia hanya memakai make up natural dan tak berlebihan.
Setelah dirasa cukup, Luhan berdiri dan meneliti penampilanya. Kebiasaanya kambuh, bersolek didepan kaca.
Kemudian setelah puas, gadis itu keluar untuk berangkat ke rumah sakit.
Jam 05.40
Luhan meneliti dapurnya, ibunya belum memasak apapun.
" Duduklah sebentar Lu, ibu akan membuatkanmu sesuatu." Tawar Soyou menyuruh Luhan menunggu.
Luhan melirik jam di dinding.
Lalu menatap ibunya " Tidak usah bu, aku akan berangkat sekarang."
" Ini tidak akan lama, tunggulah sebentar." Soyou membujuk.
Luhan menggeleng. " Tidak usah, aku sarapan dirumah sakit saja, bu."
Soyou menatap putrinya sebentar " Baiklah."
Luhan langsung saja berlalu meninggalkan ibunya, Soyou mengekori putrinya menuju pintu.
"Aku berangkat."
Soyou melambaikan tanganya " Jangan lupa makan, nak."
Luhan tidak menjawab. Gadis itu sudah masuk kedalam mobilnya.
.
Jalanan di saat pagi memang sedikit itu Luhan tidak memakai mobil balapnya kali ini, dia diantar dengan mobil biasa. :v
Luhan memandang jalanan sekitar, pandangan pertama yang dia tangkap adalah gedung gedung tinggi menjulang, lampu lampu jalan yang menyala, dan jalanan yang disampingnya ditumbuhi pepohonan.
Luhan memandang dari jendela, dia meneliti setiap lekuk penjuru kota ini.
" Indahnya." Gumamnya.
Luhan sempat terpesona dengan trotoar yang dipenuhi dedaunan kering dibawah penerangan lampu seadanya. Luhan mengakui bahwa seleranya sangat tidak wajar.
Setelah menempuh jalanan yang lancar dan bebas hambatan, gadis itu sampai dirumah sakit 30 menit kemudian.
Luhan sudah turun dari mobilnya
Luhan memandang gedung dihadapanya, menguatkan hatinya.
" Fighting Luhannie."
Luhan menghirup dalam dalam oksigen dipagi hari, udaranya masih bersih dan sejuk. Setelah dirasa cukup Luhan masuk kedalam.
Dia berjalan santai, menuju ruangan yang dia hapal letaknya.
Melirik jam di tanganya sesekali disela sela jalanya.
" Masih pagi." Ucapnya dalam hati sembari tersenyum.
Setelah berjalan Luhan sampai ditempat tujuan. Dia langsung saja membuka pintu itu, tidak dikunci pikirnya. Lalu langsung masuk kedalam.
Ruangan itu milik Sehun dan pemiliknya belum datang. Luhan duduk disofa sembari mengamati ruangan ini.
Rapi. Kesan pertama yang ditangkap Luhan.
Oh Sehun benar benar definisi lelaki idaman menurutnya. Jika melupakan kekejaman dan semenyebalkan Oh Sehun.
" Kamarku bahkan tak seperti ini." Ucapnya sembari melihat tumpukan buku buku Sehun disebelah kiri ruangan.
Luhan mangut mangut, meneliti kembali ruangan Sehun.
Dia melirik sebentar kemeja Sehun, disana terdapat sebuah undangan.
" Apa ini.?" Tanyanya, sembari melihat undangan itu.
Diundangan itu tetera sebuah Seminar yang mengundang Sehun sebagai tamu undangan.
" Jeju." Luhan membaca isinya.
" Jauh sekali, aku ingin kesana."
Luhan membaca undangan itu yang letak penyelenggaraanya di Pulau Jeju. Dan itu dua minggu lagi.
Luhan mengembalikan itu ketempat semula, melirik jamnya lagi lalu berjalan kearah sofa dan duduk diatasnya.
Menunggu si dokter tampan Oh Sehun.
.
Flashback end.
.
.
Setelah kurang lebih 15 menit Luhan menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga.
Luhan menatap lelaki dihadapanya, lelaki itu menampilkan raut terkejut yang kentara.
" Apa yang kau lakukan disini." Serunya, sembari masuk dan menutup pintu. Memandang Luhan seperti maling.
Luhan duduk, melirik jam yang dikenakanya sebentar lalu menatap Sehun. Sehun menatap heran gadis gila dihadapanya, masuk keruanganya sebelum pemiliknya datang. Sehun curiga jangan jangan Luhan menaruh hal yang tidak tidak diruanganya, bisa jadi kan? Luhan menyembunyikan bangkai tikus atau kucing diruanganya mengingat setidak sukanya wanita itu dengan Sehun.
Sehun mencoret pemikiranya tadi, itu tidak mungkin terjadi. Dia menatap Luhan datar.
" Kau terlambat lima menit." Ucap Luhan bak seseorang yang berhasil menangkap maling.
Sehun mengedikan bahu acuh, lalu berjalan menuju mejanya.
" Lalu." Tanya pria itu santai.
Mata Luhan mengikuti arah jalan Sehun, dia masih duduk disofa.
" Kau terlambat.." Perjelas Luhan. Sehun tersenyum tipis tapi Luhan tidak melihat.
" Seharusnya seorang dokter harus datang tepat waktu." Luhan mengucapkanya seperti sedang protes.
Sehun menggantungkan jas hitam yang dipakainya lalu beralih memakai snelli dokternya dengan rapi.
" Lalu apa urusanmu."
" Kau seharusnya memberikan contoh yang baik."
Sehun duduk dikursinya, tidak berniat menatap Luhan.
" Kaupun tidak mengikuti peraturan, tapi kemarin malah menghukumku. Kau seharusnya dihukum juga." Luhan protes, tidak terima. Haknya dipertaruhkan disini.
Sehun berdecak menertawakan sikap Luhan dalam hati " Lalu apa yang harus kulakukan." Sehun bertanya main main.
Luhan menyeringai " Berdiri disana." Ucapnya memerintah sembari menunjuk Sehun.
Sehun memandang Luhan, lalu tersenyum miring. " Jika aku tidak mau, apa yang akan kaulakukan." Balasnya datar.
Luhan terdiam, pertanyaan Sehun memang menjebak. Luhan bahkan berfikir keras untuk itu.
Sehun tersenyum simpul " Kau tahu, kenapa ada kata terlambat didunia ini.?"
Luhan menghadap Sehun lalu menggeleng polos.
Sehun tersenyum, beralih memindahkan tanganya diatas meja.
Luhan memandang serius kearah Sehun, pikiranya berkata bahwa Sehun akan mengeluarkan kata kata mutiara.
Sehun tersenyum tipis, memandang Luhan juga.
" Kenapa.?" Tanya Luhan penasaran.
Sehun mengelus dagunya bak ada jenggot panjang bergelantungan disana, dia tersenyum tipis lalu memandang Luhan yang sepertinya penasaran.
" Percuma ku jelaskan, orang bodoh sepertimu pasti tidak akan mengerti." Sehun mengatakan itu dengan santai.
Luhan tersadar, dia sedang dipermainkan oleh Si Sehun setan itu.
" Setan, kau membuatku penasaran saja." umpatnya kesal.
Dan Sehun hanya tertawa tanpa memandang Luhan lagi. Gadis itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan pergi.
.
.
.
Luhan.
.
Gadis itu tidak henti hentinya menggerutu, baru hari pertama bekerja. Hidupnya sudah dipersulit oleh Sehun. Sehun menyuruhnya membaca buku buku yang tebalnya beratus ratus halaman.
Bukanya apa apa.? Luhan memang hobby membaca, tapi bukan buku yang hanya dipenuhi tulisan saja. Luhan punya banyak komik dirumahnya, dan Luhan juga mempunyai novel romantic bahkan yang plus plus dalam kurung dewasa Luhan juga punya.
Luhan membuka lembar per lembar buku yang dipegangnya, dia membaca kilat isinya. Entah apa isinya yang penting dia mengerti sedikit sedikit. Yang dianggap penting Luhan tulis ulang . Terhitung ini buku pertamanya dan mau habis kurang lebih ¼ halaman lagi.
Luhan meminum air putih disampingnya, menghilangkan rasa pusing yang mendera dikepalanya. Dia bingung bukan main, karena harus berkonsentrasi membaca buku tebal itu.
" asdfghjklmwnhdjhhskssdnjrydfbbf." Luhan melafalkan isinya asal, yang penting mulutnya komat kamit bak membaca buku.
Dia sekarang berada diruangan Sehun.
Si setan itu menyuruhnya mengerjakan tugasnya disini, padahal Luhan mengatakan akan mengerjakanya dirumah atau di tempat istirahat.
Sehun yang tengah berada dimejanya, melirik Luhan sebentar. Pria itu bersandar pada kursinya sembari menatap Luhan.
Luhan tidak melihat dia focus membaca. Sehun menyeringai tipis sembari menyidekap kedua tanganya didepan dada.
" Ini hanya awal Luhan, akan kutunjukan yang sebenarnya." Sehun bergumam dalam hati.
Bermenit menit berlalu, dia masih memandang Luhan yang tengah serius membaca.
Terbesit ide jahat dalam fikiranya.
" Huaahh.." Luhan menguap, sembari merenggangkan otot otonya yang mulai kaku.
Dia sudah selesai dengan buku pertama, berniat membaca buku kedua.
" Tata cara menjadi dokter yang baik. Ditulis oleh dr. Choi Kyuhyun." Luhan membaca judulnya, memulai membuka bagian pertama.
Luhan membaca seperti sebelumnya, membaca kilat dan asal yang penting mulutnya bergerak.
" Luhan." Panggil Sehun.
Luhan tidak mendengar.
" Luhan." Sehun memanggil lagi dengan lebih keras.
" Apa." Balasnya, tanpa memandang Sehun.
Sehun tersenyum miring " Kemarilah."
" Ada apa, aku sibuk." Ucapnya cepat, beralih membaca lagi.
" Cepat kemari..." Sehun memerintah lagi.
Luhan dengan kasar membanting bukunya, tak lupa menyelipkan pensil di bagian yang dibacanya tadi.
Berjalan dengan kasar kearah Sehun.
Tepat berjarak tiga langkah, dia bertanya " Ada apa."
Sehun tersenyum tipis, lalu mengarahkan tubuhnya kedepan.
Mengambil sesobek kertas dan menulis disana.
Sehun mencoret coret indah diatas kertas itu, melakukan gerakan bak pelukis handal.
" Pergilah ke apotek, belilah ini." Ucapnya, menyerahkan kertas tadi.
Luhan mengambil kertas itu, dan bergegas pergi tanpa melihat isinya.
Sehun menyeringai melihat punggung Luhan menjauh.
.
Luhan.
.
Dia berjalan santai menuju apotek di ujung kiri Rumah Sakit. Dia tidak memikirkan apa apa, selain mengerjakan pekerjaanya dan pulang. Dia ingin sekali tidur dan memainkan ponselnya dengan tenang. Menstalking Chanyeol dan nyepam di instagramnya. Luhan ingin sekali menuliskan puisi puisi indah karanganya untuk dikirimkan kepada Chanyeol. Siapa tahu dengan usahanya itu, Chanyeol mengajaknya bertemu dan lebih baiknya berkencan sekalian.
Luhan mencoret opsi terakhir, dia mulai berfikir rasional sekarang. Mendapatkan cinta Chanyeol tak semudah itu. Daripada membayangkan yang tidak tidak, gadis itu mempercepat langkahnya menuju apotek.
Luhan melihat kertas yang diberikan Sehun. Demi apapun tulisan Sehun tak seindah wajahnya, bahkan Luhan tak bisa membacanya.
"Pa.. pa..apa sih."
"Ah obat demam ya. "
" Dia gak pernah belajar nulis yang benar ya.?" Luhan mencemooh tulisan Sehun.
" Untung tampan." Luhan greget sendiri.
Kemudian Luhan melanjutkan jalanya menuju apotek, dan membeli obatnya. Menyerahkan kertas tadi kepada petugas apotek.
" Ini obatnya." Petugas apotek menyerahkan bungkusan kepada Luhan 15 menit kemudian.
" Terima kasih." Ucapnya dan bergegas pergi.
.
.
9.30 am.
.
Luhan mengerjakan kembali laporanya, masih diruangan Sehun. Luhan mengetik dengan cepat, jari jarinya bergerak lincah seperti mesin berteknologi canggih.
Sehun tidak ada diruanganya, dia pergi memeriksa pasien dengan Soobin.
.
Sehun dan Soobin masuk keruangan Sena. Gadis itu duduk diranjangnya sembari menonton televisi.
" Sena.." Soobin menyapa dengan hangat.
Sena melihatnya dan tersenyum senang.
" Apa yang kau lakukan.?" Tanya Soobin.
" Menonton kartun."
Soobin mengangguk, lalu mulai bercerita dengan Sena.
Sehun menatap datar kedua manusia itu. Dia merasa aneh, Sehun adalah tipe pria normal yang suka dengan perempuan cantik apalagi berbudi pekerti luhur, baik, adil dan hidupnya makmur seperti Soobin. Menurut para lelaki Soobin merupakan tipe idaman.
Soobin punya tubuh yang bagus, kurus tapi terlihat seksi. Dia juga dewasa, dan penyayang terhadap anak kecil. Tapi kenapa Sehun tidak berdebar saat melihatnya.
Jika tidak karena desakan ibunya untuk mencari kekasih dia tidak akan melakukan ini. Pria itu bahkan meneliti Soobin dari atas sampai bawah, dan kesimpulan yang ia dapatkan adalah Soobin cantik dan sesuai tipenya. Lalu apa yang membuatnya kurang.? Sehun bertanya dalam hati.
Kenapa jantungnya tidak menunjukan ketidaknormalan saat memandang Soobin. Dia malah biasa saja dan tidak merasakan apa apa. Dia bahkan tidak bisa tersenyum dan tertawa jika melihat Soobin. Berbeda dengan yang dirasakanya dengan Luhan, gadis itu sedikit unik. Jujur saja Sehun tidak menyukai tipe gadis egois, pemarah, dan asal asalan seperti Luhan. Sehun bahkan sempat risih saat pertama kali bertemu denganya.
Tapi seiring berjalanya waktu, dia mulai berubah. Luhan bukan gadis menyebalkan, tapi dia lucu. Setiap ucapan dan cemoohanya yang sinis dan asal asalan, kenapa bisa membuat Sehun tertawa. Gadis itu bisa benar benar baik dan polos disaat yang berbeda. Dan juga menjadi menyebalkan dan jahat disaat yang lain. Tapi itu yang membuatnya unik. Apa Sehun menyukai Luhan.? Sisi dalam tubuh Sehun bertanya seperti itu.
" Menyukai Luhan?." Sehun bergumam dalam hati.
Kemudian pria itu menggelengkan kepalanya.
Terlalu cepat jika dia mengatakan suka. Rasa itu hanya sebatas kesenanganya yang berhasil membuat Luhan menurut padanya.
Semua senyum dan tawa yang diakibatkan perbuatan Luhan itu adalah hal yang wajar, menurutnya.
" Dokter." Sena memanggil Sehun yang tengah melamun.
Soobin menatap Sehun juga, dan tak kunjung mendapat jawaban.
" Dokter oh." Sena memanggil lagi, sembari menarik pelan jas Sehun.
Sehun tersadar, lalu menatap Sena. " Ada apa.?"
Sena tersenyum " Ayo bermain."
Sehun balas tersenyum " Apa dokter mau bermain dengan Sena."
Soobin melihat Sehun dengan pandangan memohon juga, dan Sehun mengangguk.
Sena dan Soobin bersorak senang, mereka melakukan high five segala.
" Tapi.." Sehun menggantungkan kata katanya.
Sena menatap Sehun bertanya menunggu kelanjutan kalimatnya.
" Sena harus minum obat terlebih dahulu."
Lalu diangguki semangat oleh Sena.
Soobin dengan cekatan mengambil tablet obat Sena dan memberikan obatnya.
Kapsul merah, pil warna putih, hijau, biru, merah putih , kemudian sirup rasa stoberi.
Sena menelan semua obat itu dengan lancar.
" Sudah dokter." Ucapnya sembari tersenyum.
Sehun tersenyum lalu mengacak gemas surai Sena dan duduk diranjangnya.
" Lalu kita akan bermain apa sekarang." Sehun bertanya.
Sena terlihat berfikir.
" Bagaimana kalau pangeran dan putri." Soobin mengusulkan, Sehun menatap tajam Soobin dan dibalas senyum lebarnya. Soobin merasa tak berdosa sama sekali.
" Setuju, dokter menjadi pangeran, Sena menjadi putri dan dokter menjadi ratu." Sena mengatakanya sembari menunjuk Sehun dan Soobin bergantian.
Soobin mengangguk semangat dan Sehun ikut menganggukan kepalanya pasrah. Sena yang melihatnya bersorak gembira.
Dan selanjutnya mereka bermain bersama.
.
.
.
10.45 am.
.
Soobin dan Sehun memutuskan untuk pergi dari kamar Sena. Gadis kecil itu sudah kelelahan karena terlalu senang bermain.
" Uhuk uhuk." Sena terbatuk disela sela tawanya.
Soobin yang tertawa langsung memberikan Sena minum.
Sehun memeriksa Sena.
" Sudah bermainya putri, sekarang istirahat mengerti." Perintahnya sembari menuntun Sena berbaring.
Sena menurut.
" Kita bermain lagi besok, sekarang Sena harus tidur." Soobin berucap pelan, sembari mengecup puncak rambut Sena.
" Janji." Sena bertanya sembari mengeluarkan jari kelingkingnya
Soobin mengangguk lalu menautkan jari kelingking mereka berdua.
" Sekarang tidur Sena." Sehun mengingatkan.
Soobin mengerti dan mengikuti Sehun keluar menuju pintu.
" Selamat tidur Sena." Sapanya.
Soobin menutu pintu kamar Sena pelan, dan mengekori Sehun dibelakangnya.
Dia melirik sesekali kearah dokter tampan itu.
" Dia tampan dan juga baik." Pekiknya dalam hati.
Sudah lama Soobin mengagumi sosok Oh Sehun. Soobin tidak bisa memungkiri bahwa ia telah jatuh kedalam pesona dokter dingin disampingnya ini. Soobin sudah berusaha menjadi dokter yang baik dan penyayang dihadapan Sehun . Untuk itu jika ada Sehun, Soobin akan bersikap baik dan kalem.
" Terima kasih." Soobin bergumam pelan.
Sehun mendengar kalimat itu meskipun sangat pelan.
" Untuk apa." Sehun bertanya.
Soobin tersenyum lalu memandang Sehun.
" Karena sudah membuat Sena tertawa tadi." Ucapnya malu sembari menunduk.
Sehun mencoba tersenyum " Itu juga karenamu."
Soobin mengangkat kepalanya, menyangkal pernyataan Sehun.
" Tidak, itu karena anda mau bermain dengan Sena. Bukan karena saya dokter." Soobin sampai melambaikan tanganya dan mengehentikan jalanya segala.
Sehun tersenyum " Yasudah sama sama." Balas pria itu seadanya.
Soobin dibuat kalang kabut karena senyum Sehun tadi. Soobin seperti terbang ke awan hanya karena Sehun tersenyum padanya.
.
.
.
Luhan.
.
Gadis itu merenggangkan otot ototnya yang sudah kaku dan pegal semua. Gadis itu sudah menyelesaikan buku keduanya dan sudah berhasil mengetik ¼ bagian. Luhan menggelengkan kepalanya kekanan dan kiri sampai menimbulkan bunyi.
Gadis itu melirik jam sebentar. Masih ada waktu setengah jam sebelum jam makan siang. Dia sudah benar benar lapar sekarang, dan juga lelah. Perutnya meronta minta diisi, belum lagi pusing dadakan yang mendera kepalanya.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya sejenak, menutup mata dan merilekskan badanya. Pikiranya jauh kemana mana dia ingin pulang, sungguh.! Pekerjaan ini menguras otak dan tenaganya. Luhan membuka matanya, dia tidak boleh ketiduran disaat seperti ini. Dia menatap layar laptopnya lagi, kemudian buku disampingnya dan mendesah pelan.
" Semangat Luhan, ini demi ibu." Ucapnya menyemangati diri.
" Kau harus bisa membuat orang tuamu bangga." Lanjutnya.
Dia menatap layar laptopnya, berniat mengetik.
" Aku tidak bisaa." Teriaknya kesal.
" Susah sekalii.."
" Lebih baik membaca komik daripada buku buku sialan itu."
" Oh Sehun benar benar." Gerutunya.
Tak lama pintu kembali terbuka.
Luhan menatap siapa yang datang, ternyata Sehun dan Soobin.
Tunggu, dokter Seohyun dan dokter Kim juga ikut masuk kedalam .
Luhan memandang heran keempat orang itu. Sehun menatap Luhan sebentar, dan otomatis Luhan memalingkan mukanya kesal.
" Sedang apa kau Luhan." Dokter Kim bertanya.
" Tidur." Luhan menjawab asal.
" Tapi kau sedang duduk."
Luhan mendengus sebal, tapi tak berniat membalas.
" Lalu kau membaca buku apa itu." Lanjut dokter Kim.
Luhan berdecak. " Tanyakan saja pada dokter itu." Ucapnya kesal sembari menunjuk Sehun menggunakan ekor matanya.
Dokter Kim maklum dengan jawaban sinis Luhan.
" Kenapa kau bicara tidak sopan seperti itu." Seohyun menegur sikap kurang ajar Luhan.
Luhan mengabaikan " Hey, lihat aku anak magang." Seohyun memperingatkan.
Dokter Kim menengahi " Biarkan saja. Dia memang seperti itu."
Seohyun tidak terima dan tetap memarahi Luhan.
" Apa.?" Tanyanya.
" Berlaku lah yang sopan, kau itu magang disini seharusnya bisa bersikap lebih baik pada seniormu."
Luhan bergumam tak tertarik.
" Anak ini benar benar, apa kau tidak pernah diajarkan sopan-" Seohyun menggantungkan kalimatnya.
" Dokter Seohyun." Sehun memotong cepat.
Seohyun menatap Sehun dan, Sehun menyuruhnya berhenti. Seohyun tidak mau, tapi Sehun malah menatap nya tajam dan meminta mengerti. Dengan berat hati Seohyun menurut dan duduk.
.
Keempat orang itu berbicara tentang sebuah operasi transplantasi jantung. Mereka berempat terlihat serius dengan percakapanya meninggalkan Luhan yang juga serius dengan laporan dan buku bukunya.
" Kondisinya harus tetap stabil sampai hari H." Dokter Kim berucap.
" Tapi dia terlihat tidak sehat akhir akhir ini."
Sehun mangut mangut begitupula Soobin.
" Kau sudah memberinya vitamin secara rutin kan?" Sehun bertanya pada Soobin.
" Sudah."
" Mungkin dia sedang stress karena kudengar anaknya juga sedang sakit." Dokter Seohyun bercerita.
" Berapa umur anaknya."
" Dia masih berada di sekolah dasar."
Sehun, Soobin dan dokter Kim mengangguk mengerti. Memang salah satu factor ketidakberhasilan operasi besar adalah kondisi mental si pasien. Dan tantangan mereka saat ini adalah mengembalikan jiwa semangat si pasien.
" Saya akan membeli minuman." Soobin menawarkan, berniat berdiri tapi dicegah Sehun.
" Tidak usah kau disini saja." Soobin menatap Sehun heran, kemudian menurut duduk ketempatnya kembali.
" Tapi siapa yang akan membelinya, bukan dokter kan." Tanyanya.
Sehun tersenyum miring dalam hati " Luhan." Panggilnya.
Luhan yang mengerti, sontak saja menyerapahi Sehun dalam hatinya.
" Setan kau Oh Sehun." Umpatnya dalam hati.
Luhan menoleh. " Apa."
" Belikan minuman, ini uangnya." Sehun menyerahkan credit cardnya pada Luhan.
Luhan mendesah keras, " Kau mau kan membantu." Sehun berbicara lagi, nadanya menjijikan.
Luhan mencoba tersenyum paksa. " Baiklah, apa yang tidak untukmu dokter." Balasnnya dibuat semanis mungkin.
Kemudian Luhan merampas kartu Sehun dan berjalan pergi, meninggalkan Sehun yang bersorak gembira dalam hati.
Dokter kim yang memperhatikan merasa tak percaya pada sikap Luhan yang tadi. Dengan mudahnya dia menurut dan bersikap manis kepada Oh Sehun.
Dokter Kim menatap Sehun dan Sehun hanya mengedikan bahu acuh.
.
Luhan keluar dari ruangan Sehun dengan emosi meluap luap, dia dianggap pembantu oleh Sehun. Luhan bahkan menghentakkan kakinya karena kesal.
" Oh Sehun setan."
" Oh Sehun pedofil."
" Sukanya anak anak."
" Dasar setan, muka dua."
" Aku membencimu." Rutuknya dalam hati.
" Kubunuh kau dengan cara paling kejam suatu hari nanti."
Luhan memerah karena kesal. Dia bersumpah akan membalas Oh Sehun suatu hari nanti.
.
.
.
.
.
12.00 am.
.
Luhan melirik jam yang ada didinding café itu, sekarang waktunya makan siang. Dan dia terjebak disini menunggu pesanan Sehun.
Luhan menggerakkan kakinya kesana kemari karena bosan, salahnya sendiri karena meninggalkan ponselnya diruangan Sehun.
" Lama sekali sih." Luhan menggerutu.
Sudah 10 menit dia menunggu tapi pesananya tak kunjung datang.
" Mereka menyeduh biji kopi atau pohonya sih.?" Gerutunya kesal.
Luhan orang yang tidak sabaran ,memang.
Setelah lima menit kemudian menunggu, pesananya datang juga.
Luhan menyerahkan credit card Sehun, lalu menerimanya kembali.
" Terima kasih."
Luhan hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Sementara itu, diruangan Oh Sehun.
Keempat dokter itu tidak lagi membicarakan soal operasi, mereka sekarang tengah membicarakan sesuatu yang lucu dan menjadi topic terhangat di Rumah Sakit, katanya.
" Aku juga tidak tahu jika dokter Min dan dokter Jung akan menikah."
" Benar, mereka awalnya tidak akur dan sering bertengkar."
" Tapi bukankah akan dilaksanakan dua minggu lagi.?" Soobin bertanya.
" Benar, kudengar mereka akan bulan madu ke Eropa." Dokter Seohyun membenarkan.
Soobin bersorak kagum, dokter Kim tertawa pelan dan Sehun diam saja terlihat tidak tertarik.
" Lalu apa kau mempunyai kekasih dokter oh." Dokter Kim bertanya.
Sehun sontak menggeleng " Tidak."
Dokter Seohyun dan Soobin tersenyum penuh arti.
" Lalu wanita seperti apa yang anda sukai." Seohyun bertanya.
Soobin menatap Seohyun tak suka, lalu memilih mendengarkan jawaban Sehun.
" Kenapa bertanya seperti itu." Sehun bertanya dia sungguh benci dengan pertanyaan seperti ini.
" Sudah jawab saja dokter." Soobin geram atas sikap Sehun.
Sehun menatap Soobin dan Seohyun bergantian.
" Benar, mungkin diantara mereka berdua ada yang sesuai tipemu." Dokter Kim memanas manasi.
Sehun diam, terlihat berfikir. Seohyun dan Soobin menatap tajam dokter Kim.
" Aku menyukai wanita.." Sehun menggantungkan kalimatnya.
Bayangan Luhan melewati otaknya. Bayangan Luhan yang kesal dan saat sedang mengejeknya.
" Dasar setan, kau membuatku penasaran saja." Luhan mengatakan itu dengan kesal.
" Dasar pedofil."
" Bukankah pangeran harus membantu yang sedang kesusahan." Bayangan Luhan saat merayu Sehun.
" Bbuing bbuing." Luhan melakukan aegyeo.
" Dasar setan." Luhan menyerapahi Sehun.
Sehun menepis bayang bayang itu, kemudian mengahadap depan.
Cklek
Pintu terbuka menampilkan Luhan yang datang membawa minuman pesanan Sehun. Sehun kaget, tapi rautnya masih datar. Yang tengah dipikirkanya sekarang tengah berdiri didepan pintu dan pas menghadap kearahnya. Luhan memalingkan wajahnya dan ia meletakkan minumanya dimeja dan ikut duduk disamping Sehun lalu kembali mengerjakan laporan yang sempat ia tinggalkan.
Seohyun dan Soobin mengumpat Luhan dalam hati mereka yang telah mengagalkan Sehun berbicara, dan menunda kalimat pernyataan Sehun tentang wanita yang disukainya.
" Wanita seperti apa dokter Oh.?" Seohyun mengulangi pertanyaanya.
" Wanita yang baik." Sehun melanjutkan.
Seohyun dan Soobin tersenyum percaya diri, mereka masuk untuk kriteria satu ini.
" Lalu.."
" Mereka membicarakan apa." Luhan menguping diam diam, tapi masih sok sibuk dengan bukunya.
Sehun berfikir lagi, melirik Luhan melalui ekor matanya. " Penyayang dan lucu."
Seohyun dan Soobin semakin optimis dan percaya diri, semua kriteria wanita idaman Sehun ada pada mereka.
" Aku memiliki kesempatan." Seohyun dan Soobin bergumam dalam hati.
" Dasar setan." Luhan menyerapahi Sehun dalam hati.
Dokter Kim tertawa " Lalu apa kau sudah menemukanya sekarang."
Seohyun dan Soobin menatap Sehun penasaran, begitupun Luhan tapi dia masih menatap bukunya.
Sehun tertawa lalu menjawab " Aku sedang mencarinya."
Dan selanjutnya kedua wanita itu bersorak gembira dalam hati.
" Ku doakan semoga kau tidak menemukanya, dan melajang seumur hidup." Luhan tertawa dalam hati mengutuk Oh Sehun sialan itu.
.
.
.
.
Jam makan siang sudah lewat setengah jam yang lalu, Seohyun dan dokter Kim sudah kembali keruangan masing masing.
" Apa anda tidak ingin makan siang." Soobin bertanya pada Sehun.
" Tidak, kau duluan saja." Sehun menolak.
" Saya juga tidak akan makan jika anda tidak makan." Soobin cemberut, Sehun merasa tidak enak.
" Aku tidak lapar, jadi jangan begitu. Kau harus tetap makan Soobin."
Soobin menatap Sehun, berniat menolak lagi.
" Tapi-."
" Jangan membantah, kau bisa sakit nanti." Perintahnya.
Dan Soobin dibuat terkejut dengan perkataan Sehun yang seakan akan mencemaskan keadaanya.
" Apa dokter Oh menyukaiku.?" Soobin bertanya dalam hati.
Soobin menatap Sehun, perlakuan Sehun tadi membuatnya.. terharu.?
" Tapi anda nanti juga harus makan dokter."
Sehun mengangguk. " Sekarang pergilah dan makan."
Soobin mengangguk semangat dan membungkuk hormat pada Sehun.
" Dasar.." Luhan menyerapahi saat Soobin sudah keluar.
Sehun menatap Luhan sebentar.
" Kau bilang apa.?"
Luhan menatap Sehun sinis. " Aku seperti melihat drama tadi. Kau begitu manis dan perhatian." Luhan mengatakanya dengan sinis, bermaksud menyindir Sehun.
Sehun masih menatap datar Luhan, menunggu kalimat selanjutnya.
" Kau bahkan mengkhawatirkan keadaanya."
Luhan berdecih sinis. " Kau seperti sosok pangeran yang diidam idamkan wanita."
" Palsu sekali jika itu dirimu." Lanjutnya mengejek Sehun.
" Kau cemburu."
Pernyataan balasan Sehun membuat Luhan terdiam, lalu menatap Sehun kesal.
" Uuu..un..untuk apaa.?" Dia tergagap.
Sehun menyeringai mendengar itu dalam hatinya.
" Kenapa aku harus cemburu kepadamu.." Luhan membantah tuduhan Sehun.
Sehun tertawa geli, Luhan kelihatan sekali. Ada keinginan dalam hatinya menggoda gadis bodoh ini sekali sekali.
" Lalu kenapaa kau bersikap seperti itu."
" Ii..ii,,ii..itu.." Luhan ingin menjawab, tapi dia kehilangan kata kata.
Sehun masih tertawa, lalu memandang Luhan menggoda " Apa namanya kalau bukan cemburu."
Luhan mendadak salah tingkah, sungguh dia tidak cemburu.
" Tidak, aku tidak cemburu." Bantahnya keras. Luhan memalingkan mukanya. Sehun tersenyum, entah karena apa.
" Aku..aku..aku hanya tidak suka kau tahu. Ya! tidak suka, -" Luhan menggantungkan kalimatnya, merasa risih diperhatikan Sehun.
" Kau tahu, kau kan tidak pernah bersikap seperti itu kepadaku.-"
" Jadi kau ingin aku bersikap seperti itu juga kepadamu." Sehun memotong kalimat Luhan.
" TIDAK." Luhan berteriak, dia bahkan menggelengkan kepalanya.
Sehun menaikkan satu alisnya, masih memandang Luhan.
" Bukan seperti itu, maksudku kau terlihat sangat, sangat tidak cocok berlaku seperti itu."
" Dan juga itu bukan gayamu, kau itu dingin dan tidak mungkin berlaku semanis tadi kepada Soobin."
Luhan berhasil menyelesaikan kalimat asalnya.
Sehun hanya tersenyum menatapnya. Entah karena apa perasaan Sehun begitu hangat melihat kelakuan Luhan yang seperti itu.
Merasa disenyumi oleh Oh Sehun yang terlihat mengerikan, Luhan memukul tubuh Sehun dengan buku yang dipegangnya. " Jangan tersenyum padaku, kau membuatku takut."
" Bukankah aku tampan jika tersenyum." Sehun mengatakanya penuh percaya diri. Berniat menggoda gadis itu.
Luhan berdecih, dia sudah kembali menjadi Luhan yang sinis. " Kau malah terlihat mengerikan."
" Tapi Sena menyebutku pangeran." Sehun membela dirinya.
Luhan menatap Sehun. " Kau pangeran kodok." Lalu Luhan tertawa setelah mengejek Sehun.
Sehun malah tertawa pelan " Biarkan saja, yang penting tadi kau sempat cemburu padaku."
Luhan memberengut kesal dan memalingkan mukanya tidak menghadap Oh Sehun.
" SUDAH KUBILANG AKU TIDAK CEMBURU." Teriaknya keras keras, sembari merengek.
Dan selanjutnya Sehun hanya tertawa melihat sikap Luhan. Meninggalkan Luhan yang kelihatan sekali sedang malu bercampur kesal.
.
.
.
TBC.?
.
.
.
Makasih ya yang udah mau baca, maaf juga kalau masih 4L4Y 5Y3K4L331-1 . Bingung soalnya mau diubah kek gimana, ini alurnya udah fix kayak gini. Maaf deh? Buat yang ngerasa ff ini makin hari makin 4L4Y mending gk usah dibaca, karena aku gamau dikritik lagi, kepikiran terus sumpah. Udah itu aja jangan lupa riview ya..
Big thanks buat yang setia nunggu ff ini, terhura akutu huhuhuhu … Terima kasih.. J J J
