Title : My Ice cream Doctor.?

Author : Rilakkumaa_94

Cast : Oh Sehun.

Xi Luhan.

Park Chanyeol.

Do Kyungsoo.

Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)

Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.

Rating : T

Playing : IKON - #WYD

.

.

Rilakkumaa_94

.

.

" Kuharap dia bukan wanita bodoh yang terjebak oleh rayuan mautmu."

" Karena aku cantik?"

" Dia masih bersikap kurang ajar padaku sampai saat ini."

.

.

.

.

" Bagaimana kabarmu?" Seseorang yang duduk dikursi sebrang meja bertanya.

" Baik." Sehun yang ditanya membalas datar.

Kini Sehun dan Jongin tengah makan bersama disalah satu Restoran Italia langganan Sehun.

Jongin yang mendengar balasan Sehun mengangguk ringan.

" Lalu bagaimana kabarmu.?" Giliran Sehun yang bertanya.

Jongin menatap Sehun lalu tersenyum. " Baik juga."

" Kudengar kau baru putus dengan kekasihmu?" Tanya Sehun main main.

Jongin yang mendengar itu mengeluarkan senyum mirisnya.

" Benar, dia memutuskanku." Jongin mengucapkanya dengan begitu santai dan seperti itu bukanlah hal yang patut ditangisi.

Sehun berdecih pelan, mengomentari sosok Jongin dihadapanya. " Untuk alasan apa lagi kali ini.?"

Jongin terdiam sebentar, menunggu pelayan selesai menghidangkan makanan yang mereka pesan. Menatanya dengan rapi dan meneliti apa ada yang kurang, setelah dirasa lengkap pelayan itu meninggalkan meja mereka.

Jongin menatap Sehun yang menatapnya juga dengan wajah datar -_-

" Biar kutebak, kau pasti tertangkap basah berselingkuh dengan wanita lain.?" Sehun menyatakan apa yang dipikirkanya, Jongin orang yang mudah ditebak.

Setelah Sehun mengeluarkan kata itu, dia terbahak kemudian. Jongin bahkan sampai memandang Sehun takjub.

" Kau selalu tahu tentangku." Gumamnya.

Sehun berdecih sekali lagi. " Biar kutebak lagi, kau juga sempat disiram jus bekas tepat diwajahmu.?"

Dan kalimat lanjutan Sehun berhasil membuat Jongin tertawa senang sekali lagi. Sehun yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya lalu berniat mulai menyantap makanannya.

" Dia bahkan mengatakan aku lelaki murahan yang suka mempermainkan wanita." Jongin mengucapkanya dengan raut antara tidak percaya dan meremehkan.

" Lalu jika aku seperti itu, kenapa dia mau berkencan denganku?" Tanyanya kemudian.

Sehun yang sedang makan hanya bergumam tak tertarik.

" Wanita zaman sekarang sungguh bodoh, begitu gampang dirayu." Ungkapnya kemudian.

Sehun menghentikan makanya lalu menatap Jongin sebentar.

" Kau juga bodoh."

Jongin yang mendengar itu sontak menatap Sehun heran. " Apa maksudmu.?"

" Karena kau mengencani wanita bodoh dan sempat dipermalukan olehnya." Sehun mencemooh Jongin dihadapanya.

Bukanya marah atau apa, Jongin malah menunjukkan senyum lebarnya.

" Kau benar, aku akan mengencani wanita baik dan pintar lain kali."

Sehun hanya mengangguk lalu kembali menyendokkan makanan kemulutnya.

" Dan juga aku juga akan pergi berkencan siang nanti." Jongin menyombongkan dirinya.

Sehun tersenyum tipis. " Siapa wanita itu.?"

Jongin menatap Sehun sebentar. " Dia sangat cantik dan memiliki mata yang bulat, wah aku tidak sabar bertemu denganya."

" Kuharap dia bukan wanita bodoh yang terjebak oleh rayuan mautmu." Sehun mencemooh Jongin lagi.

Jongin berdecak kesal. " Tidak, dia cukup sulit didekati." Akunya kemudian. Sehun hanya mengangguk tak tertarik.

" Lalu apa kau tidak ingin berkencan?" Giliran Jongin yang bertanya.

Sehun menggeleng, tidak berminat sedetikpun melirik Jongin.

Jongin dihadapanya berdecak sebal, Sehun sungguh kaku. Apa hormone testosterone-nya tidak berfungsi lagi?

" Aku hanya tidak ingin buang buang waktu." Balasnya.

Jongin mendengus " Berkencan itu tidak buang waktu, itu menyenangkan Sehun-ah."

" Apa kau mau kukenalkan pada teman wanitaku.?" Tawar Jongin pada Sehun.

Sehun menatap Jongin kemudian, melihat temanya dengan seksama.

Lalu Sehun menghembuskan napasnya pelan. " Untuk apa? Dia mungkin bodoh sama seperti mantan mantan kekasihmu dulu." Ucapnya asal.

" Tidak, dia teman baikku dan menurutku dia tidak seperti itu." Jongin membela temanya.

Sehun mengedikkan bahu acuh dia terlihat tak tertarik. " Apa kau mau ku kenalkan padanya?" Jongin mencoba sekali lagi.

" Tidak terima kasih." Balasnya.

Jongin menatap Sehun dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Temanya tidak pernah berubah, Sehun selalu dingin dan terlampau kaku. Jongin sempat merasa khawatir jika Sehun akan melajang seumur hidupnya dan akan terus terusan menutup hatinya.

.

.

.

Luhan.

" Bagaimana kau di Rumah Sakit?" Tuan Xi bertanya disela waktu sarapanya, sembari menatap Luhan dikursi lainya.

Luhan yang tengah mengunyah nasi dimulutnya mengarahkan pandanganya menghadap ayahnya. " Baik."

Tuan Xi tersenyum. " Kau harus bersikap baik Luhan, jangan membuat kesalahan lagi."

Luhan hanya mengangguk mengerti lalu melanjutkan sarapanya kembali.

Sekarang masih jam tujuh, dia akan berangkat lebih siang hari ini. Untuk itu Luhan menyempatkan diri untuk sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.

" Aku pergi ayah ibu." Pamitnya sembari memasukki mobilnya bersama sang supir.

Tuan Xi dan Soyou yang berada didepan pintu mengangguk lalu melambaikan tangan mereka berdua. Mobil yang ditumpangi Luhan melaju memecah jalanan pagi itu.

35 menit kemudian.

Luhan sudah sampai di Rumah Sakit, dia sempat terjebak macet tadi pagi. Mungkin karena sekarang weekend jadi banyak orang orang Seoul yang berpergian.

Gadis itu mengganti bajunya dengan snelli dokternya. Menghadap kaca kecil yang dibawanya sebentar, meneliti wajahnya. Setelah dirasa baik baik saja, gadis itu berjalan pergi untuk melakukan tugasnya.

Tujuan pertamanya adalah ruangan Sehun.

" Luhan."

Luhan menoleh ke sumber suara, barusan dia mendengar suara Eun Ha yang memanggilnya. Dan benar, sekarang Eun Ha dan Kyungsoo sedang berjalan kearahnya dengan raut gembira.

" Ada apa?" Tanyanya setelah mereka berdua sampai dihadapanya.

" Ayo ke UGD bersama sama." Ajak Eun Ha.

Luhan sontak menggeleng tujuanya bukan kesana. " Ah iya, maksudku ayo kita jalan bersama ke sana, bukankah arahnya sama." Ralat Eun Ha.

Luhan mengangguk setuju, Kyungsoo juga. Lalu mereka bertiga berjalan bersama.

" Kyung kenapa kau masuk hari ini?" Tanya Luhan saat mereka berjalan.

Bukankah ini weekend? Dan Kyungsoo sempat bercerita akan berkencan dengan Jongin saat weekend?

" Iya bukankah kau akan berkencan?" Eun Ha juga ikut bertanya

Kyungsoo melirik Luhan. " Aku bingung harus pergi atau tidak." Gumamnya pelan.

" Kenapa seperti itu?"

" Aku hanya tidak yakin." Balasnya, ada nada ragu ragu disana.

Luhan dan Eun Ha melirik Kyungsoo. " Bukankah kau juga menyukainya, kalau begitu pergilah."

" Kita baru berkenalan satu minggu yang lalu, aku tidak yakin dia benar benar menyukaiku.?" Gumam Kyungsoo mengutarakan apa yang dipikirkanya.

Kyungsoo sebenarnya ingin pergi, tapi masalahnya dia dan Jongin baru berkenalan satu minggu yang lalu. Kyungsoo hanya tidak yakin apa yang diucapkan Jongin itu nyata atau tidak. Dan juga bagaimana kalau Jongin hanya mempermainkan Kyungsoo. Kyungsoo disini hanya takut dianggap wanita murahan yang mau diajak orang asing berkencan dengan mudah, setidaknya dia harus jual mahal. Benar bukan?

" Kau harus pergi Kyung, dia mungkin menunggumu." Luhan melanjutkan.

Tapi Kyungsoo tetap menggeleng dan berniat tidak ingin pergi.

" Aku sebaiknya disini saja." Putusnya. Luhan dn Eun Ha mengangguk mengerti lalu melanjutkan jalan mereka ke tempat tujuan.

.

.

.

.

Jam 09.15 am.

Sehun sudah kembali keruanganya beberapa menit lalu, dia sudah mengenakan snelli dokternya dan duduk manis dikursinya. Kembali mengerjakan laporan laporan yang sempat dia tinggalkan.

Lelaki dingin itu meneliti satu persatu kertas kertas ditanganya. Membaca dan memahami isinya.

Tok Tok

Tak lama pintunya diketuk dari luar. Tak lama dari itu seseorang masuk kedalam, Sehun melirik siapa yang datang, dan ternyata Soobin yang masuk.

Gadis itu membungkuk hormat dihadapan Sehun.

" Ini." Soobin menyerahkan sebuah map kepada Sehun.

" Itu jadwal operasi dokter bulan ini."

Sehun mengangguk mengerti lalu Sehun menatap Soobin sebentar.

Ditatap seperti itu Soobin bertanya. " Apa dokter ingin menyuruh saya melakukan sesuatu."

Sehun menggeleng. " Tidak."

Soobin mengangguk lalu berniat pergi lagi.

Setelah kepergian Soobin, Sehun melihat jadwal operasinya untuk satu bulan kedepan. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian Sehun saat itu, sebuah map berwarna biru di pinggir mejanya.

Sehun mengambil map itu lalu membuka isinya. Lembar demi lembar Sehun membaca dan memahami isinya. Terkadang sesekali dia mengernyitkan dahinya atau tertawa pelan, entah apa yang bacanya. Sehun terlihat nyaman dengan itu.

" Gadis bodoh." Lelaki dingin itu berkomentar.

Meletakkan kembali map yang dipegangnya lalu mengambil sebuah bolpoin.

" Akan kuberi tahu cara menulis yang benar." Gumamnya sembari mencoret coret kertas itu.

.

.

.

Jongin.

Setelah selesai menemui Sehun tadi, lelaki itu sudah mandi untuk yang kedua kalinya pagi ini. Dia sudah menggunakan bajunya dengan rapi tapi santai. Dan itu membuatnya terlihat menawan dan juga seksi. Jangan lupakan kata itu, apalagi rambut yang disisir keatas memperlihatkan dahinya.

Sekarang lelaki itu menunggu didepan pintu masuk Dream World, tempat tujuanya mengajak Kyungsoo berkencan. Terhitung sudah 1 jam lebih dia menunggu tapi Kyungsoo masih belum terlihat.

" Mungkin dia sibuk." Gumamnya.

" Tapi seharusnya dia memberitahuku." Ungkapnya kesal.

" Ah tapi kami tidak sempat bertukar nomor telepon" ingatnya kemudian.

Salah Jongin sendiri yang begitu percaya diri setelah mengajak Kyungsoo berkencan dia langsung pergi begitu saja. Setidaknya dia harus berpura pura mengajak Kyungsoo makan siang bersama dan bertukar nomor telephone.

Jongin mengacak rambutnya frustasi, dia jadi ragu apakah Kyungsoo akan datang atau tidak hari ini. Jika tidak apa yang akan dikatakanya pada Sehun jika lelaki dingin itu bertanya tentang kencanya hari ini. Dia harus menjawab apa? Setidaknya jika Kyungsoo datang hari ini, dia bisa lebih menyombongkan diri nanti dihadapan Sehun.

Selama berkencan Jongin tidak pernah dibuat menunggu? Pria tampan itu jika berkencan dengan kekasihnya yang dulu dulu selalu datang satu atau dua jam kemudian. Dan sang wanitalah yang menunggunya, tapi untuk kali ini. Entah dia salah makan, atau karena tertular Sehun dia sedikit berubah.

Dia datang tepat waktu untuk menemui Kyungsoo untuk pergi berkencan bersamanya, tapi Kyungsoo belum juga menampakkan diri.

Pria itu duduk dikursi taman, dia bingung apa yang akan dilakukanya hari ini, jujur dia merasa kecewa. Tapi ada sedikit rasa aneh yang menjalar dihatinya, setidaknya Kyungsoo bukan gadis yang gampangan. Itu yang terpikirkan olehnya, dan itu membuatnya terlihat menarik. Jongin tidak bisa mendiskripsikan Kyungsoo, dia terlihat manis dan polos juga pemalu, tapi jika mulut mungilnya terbuka sedikit maka lawan bicaranya akan terkejut dengan ucapanya.

" Menarik." Kata itu yang selalu muncul dipikiran Jongin saat memikirkan Kyungsoo, berikut kata kata lainya.

Jongin tersenyum kemudian, setidaknya untuk kali ini biarkan dia yang menunggu untuk beberapa saat. Siapa tahu nasib baik akan menghampirinya. Dan Kyungsoo mendatanginya bak seorang bidadari yang turun dari langit. Cantik, putih, dan polos.

.

.

.

Jin Hee

Wanita itu berjalan santai memasukki gedung megah dihadapanya ini, sembari menjinjing paper bag yang dibawanya dari rumah. Wanita yang hampir berumur setengah abad itu tampak cantik menggunakan gaun berwarna hitam yang membuatnya tampak lebih muda. Dengan polesan make up tebal untuk menutupi keriput yang mulai terbentuk diwajah cantiknya.

Semenjak kedatanganya banyak pasang mata yang menatap heran kearahnya, dia terlihat berkelas dan cantik. Apakah seorang pasien atau apa? Begitu pemikiran sebagian orang yang kebetulan melihat.

Jin Hee sesekali melirik orang orang yang berpapasan denganya dan mengomentarinya dalam hati, melihat beberapa perawat dan juga dokter wanita yang ada di Rumah Sakit ini.

" Dia cantik."

" Dia juga." Gumamnya pelan saat berpapasan dengan beberapa perawat muda yang baru saja membersihkan makan siang pasien.

" Apalagi dia." Komentarnya lagi, saat tak sengaja matanya menangkap sosok Seohyun dimeja administrasi.

Dokter wanita itu terlihat cantik dengan snelli dokter yang membalut tubuh rampingnya, dia terlihat seperti salah satu member girl group SNSD, pikir Jin Hee dalam hati.

Jin Hee mempoudkan bibirnya kemudian. Mengomentari Sehun dalam hati, apa tidak ada satupun wanita cantik disini yang menarik perhatianya.?

Selama dia memperhatikan perawat dan dokter disini yang mempunyai wajah cantik dan bertubuh tinggi bagus. Tapi kenapa anak lelaki tampanya itu tak sedikitpun berminat memacari salah satunya.

Jin Hee berani bertaruh, pasti banyak dari perawat berikut dokter muda yang menaruh hati pada Sehun, tapi anaknya itu sudah pasti bersikap dingin dan tidak peduli pada mereka. Jin Hee mencibir pelan Sehun, tapi setidaknya dia bangga bisa mempunyai anak setampan Sehun.

" Sehun anakku, dan aku ibunya." Gumamnya menyombongkan diri.

Dia sudah kelewat pede dan juga senang dengan itu. Kemudian wanita itu melanjutkan langkah kakinya keruangan Sehun yang terletak dilantai tiga gedung ini.

.

.

Sehun melemparkan sebuah map kepada orang dihadapanya, sontak seseorang itu langsung menangkapnya dan menatap tajam kearah Sehun didepanya.

" Apa kau tidak bisa bersikap baik kepadaku?" tanyanya kesal.

Sehun menggeleng tetap memandang seorang dihadapanya datar dan sedikit meremehkan.

Luhan mendengus sebal kemudian, pertanyaanya selalu diabaikan oleh dokter menyebalkan *tapi tampan dihadapanya ini.

" Apa yang kau pikirkan saat menulis itu.?" Tanya Sehun.

Luhan kemudian membuka isi map itu dan benar saja dia dibuat tercengang dengan isinya. Penuh coretan dan terlihat berantakan.

Sehun tetawa pelan sembari menatap wajah Luhan yang terlihat bodoh.

" Menusuknya dengan kejam." Sehun mengatakan kalimat itu dengan remeh.

Sontak membuat Luhan menatapnya dengan tajam dan memanjatkan ribuan sumpah serapah untuk Sehun dalam hati.

" Lagipula itu sudah sangat lama." Belanya.

" Karena aku cantik?" Sehun berucap lagi, dan diakhiri tawa diujung kalimatnya.

Wajah Luhan berubah merah padam, dia malu sekarang bercampur marah.

" Hentikan dokter oh." Serunya.

Sehun menatap Luhan lagi, menunggu kelanjutan perkataan gadis itu.

" Kau sengaja melakukan ini padaku untuk mempermalukanku ya?" tuduhnya, sembari menyipitkan matanya.

Sehun diam, dia menatap Luhan datar. " Untuk apa.? Tanpa aku melakukan itu kau sudah mempermalukan dirimu sendiri." Balasnya pedas.

Kenapa mulutnya pedas sekali sih.?

Luhan berdecak " Lalu darimana kau mendapatkan ini? "

" Kau yang menulisnya benar?" Sehun malah bertanya balik.

" Kutanya kau dapat dari mana, bukanya malah memberiku pertanyaan lagi."

Sehun menyeringai tipis. " jawab dulu pertanyaanku.?"

Luhan mendengus sebal, " Iya tapi itu sudah sangat lama." Balasnya jujur.

Lalu dia menatap Sehun. " Jadi darimana kau mendapatkanya, setahuku aku sudah membuangnya."

" Dokter kim yang memberikanya padaku."

Dugaanya tepat sasaran, dokter tua itu selalu membuatnya menambahkan level kebencian untuknya setiap saat.

Sehun menatap Luhan yang terdiam, " apa yang kau pikirkan saat menulis kalimat itu?" sindirnya.

Luhan sontak saja memandang Sehun. " Aku sungguh marah pada saat itu, jadi aku menjawabnya asal."

Sehun bergumam, dia terus menatap Luhan. " dan juga kupikir itu akan menguntungkanku."

" Menguntungkanmu." Tanya sehun.

Luhan mengangguk, lalu dia menatap Sehun. " kau penasaran ya?" tanyanya dengan wajah menyebalkan menurut Sehun.

Melihat itu Sehun diam saja dan menyangkalnya. " Untuk apa?"

" tapi kau terlihat seperti itu."

Sehun tersenyum tipis. " Lalu kenapa kau akan ' menusuk anak anak dengan kejam '."

Luhan menatap Sehun " Karena aku tidak suka anak nakal, mereka merepotkan tahu."

" Jadi aku jawab saja menusuk mereka dengan kejam." Lanjutnya.

Sehun maklum dengan yang satu ini. Luhan memang anti dengan anak kecil apalagi yang nakal.

" Bodoh." Gumam Sehun pelan, tapi Luhan masih bisa mendengarnya.

" Apa katamu?"

Sehun menggeleng dan berkata tidak mengatakan apa apa.

" Kau baru saja menyerapahiku kan?" tanyanya tidak terima.

" Tidak."

Luhan berdecih " Kau mengatakan bahwa aku bodoh." Ucapnya lalu melirik kearah Sehun yang masih memasang wajah datar.

" Tapi setidaknya aku cantik." Lanjut Luhan penuh percaya diri.

Sehun tertawa setelah mendengar kalimat balasan Luhan. Gadis ini sungguh percaya diri, tapi memang benar dia terlihat cantik dimata Sehun.

" Kurasa tidak."

Luhan berdecih sinis mendengar itu. " Kau memang tidak tahu wanita cantik, kau bahkan tidak pernah berkencan." Dia menggantungkan kalimatnya.

" Kau kan suka anak anak, jadi wajar saja kau tidak tahu wanita cantik sepertiku."

Luhan melirik Sehun sebentar, " Kau pasti akan jatuh cinta kepadaku jika aku berdandan dengan cantik."

" Dan juga mungkin Yoona SNSD akan iri melihat kecantikanku." Lanjutnya penuh penuh percaya diri.

Sehun yang mendengar sontak saja menertawakan Luhan. Luhan telihat kesal melihat Sehun yang sepertinya sangat senang.

" Menyebalkan.." Ucapnya dengan nada kesal lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan Sehun tanpa pamit terlebih dahulu.

Sehun yang melihatnya tidak bisa menyembunyikan tawanya, sikap Luhan barusan seperti anak kecil yang sedang marah. Lelaki dingin itu bahkan masih mengeluarkan tawanya meskipun ada lagi seseorang yang masuk kembali keruanganya.

" Kau terlihat senang." Tanya orang itu sembari tersenyum menghadap Sehun.

" Apa kau menyukainya?"

Sehun sontak saja menghentikan tawanya dan memandang sosok dihadapnya. Sosok itu hanya tersenyum lalu menghampiri sofa diruangan Sehun dan duduk diatasnya.

.

Sehun membuka map biru itu yang menarik perhatianya. Dia membaca dan sesekali tertawa dan mengernyit saat membaca isinya.

" Gadis bodoh." Komentarnya sembari tertawa.

Siapa yang tidak tertawa setelah membaca isi map itu. Semua orang pasti akan berpikiran sama dengan Sehun.

Didalam sana terdapat sebuah soal tentang dokter beserta jawabanya, dan menampilkan nama Xi Luhan sebagai identitas namanya. Map itu diberikan oleh dokter Kim beberapa hari yang lalu, dan sekarang dia baru sempat membacanya. Isinya sungguh menarik, Luhan menjawabnya dengan asal asalan, terlebih rata rata isinya adalah curhatan dia tentang bagaimana perasaanya.

Bagaimana tidak? Ada salah satu kalimat yang dijawab Luhan asal, begini bunyinya.

Q : Jika ada seorang anak kecil menangis karena tidak mau disuntik, apa yang akan anda lakukan.?

Dan Luhan menjawab. " Menusuknya dengan kejam."

Satu lagi.

Q : Apa yang membuat seorang dokter dihormati.?

Luhan menjawab : " Karena aku cantik, jadi tentu saja dihormati."

Dua jawaban itu yang berhasil menggelitik humor Sehun. Padahal jika dipikirkanya lagi bukankah seharusnya dia merasa marah pada Luhan yang sudah menjawab asal asalan.? Tapi yang dilakukanya tadi malah terlihat seperti sedang menggoda gadis itu. Ini memalukkan. Pikirnya dalam hati.!

.

.

Flashback.

Beberapa menit yang lalu.

Jin Hee sudah sampai didepan ruangan Sehun, setelah melewati koridor rumah sakit berbelok kanan kiri dan mencari ruangan anaknya akhirnya dia sampai. Wanita itu sempat ingin mengetuk pintu tapi urung dilakukan. Sayup sayup dia mendengar percakapan dua orang didalam sana.

" Apa katamu?" suara perempuan yang sedang kesal didengar oleh telinga Jin Hee.

Wanita itu bahkan harus menyempitkan jarak antara dia dengan pintu untuk menguping Sehun.

" Kau baru saja menyerapahiku kan?" suara sang wanita terdengar tidak terima.

" Tidak."

Itu suara Sehun pikir Jin Hee.

" Dia sedang berbicara dengan siapa?" gumamnya pelan.

" Kau mengatakan bahwa aku bodoh." Sang wanita berucap lagi, kali ini dia terlihat kesal mungkin.

" Tapi setidaknya aku cantik." Wanita itu melanjutkan lagi.

Jin Hee mencibir pelan, wanita didalam pasti sangat penuh percaya diri. Jin Hee menebak adegan selanjutnya, pasti Sehun akan mengeluarkan kata kata sinisnya pada wanita itu. Dia semakin mendekatkan telinganya kepintu ruangan Sehun.

Diluar dugaan, yang Jin Hee dengar Sehun malah tertawa. Dan itu membuat Jin Hee mengernyit heran sekaligus tersenyum. Tawa Sehun terlihat senang, dan Jin Hee bersyukur anaknya masih bisa tertawa, tidak dingin dan kaku seperti yang ia bayangkan selama ini.

" Kurasa tidak." Suara Sehun menjawab, setelah tertawa.

Jin Hee menaikkan satu alisnya, menunggu balasan dari si wanita.

" Kau memang tidak tahu wanita cantik, kau bahkan tidak pernah berkencan." Sang wanita menggantungkan kalimatnya. Untuk pernyataan ini dia hampir setuju dibagian Sehun tidak pernah berkencan, tapi tetap saja gadis didalam menghina Sehun secara terang terangan.

" Kau kan suka anak anak, jadi wajar saja kau tidak tahu wanita cantik sepertiku." Jin Hee bergumam pelan mendengar itu, siapapun wanita didalam sana, dia pasti mengenal Sehun jauh lebih baik.

" Kau pasti akan jatuh cinta kepadaku jika aku berdandan dengan cantik."

" Dan juga mungkin Yoona SNSD akan iri melihat kecantikanku." Lanjutnya si wanita percaya diri.

Dan Jin Hee mendengar tawa Sehun lagi, tapi kali ini lebih keras.

" Menyebalkan.." Tak lama si wnaita mengucapkan kata itu dengan nada kesal.

Jin Hee mendengar tawa lagi dan suara derap langkah kaki menuju pintu. Sontak saja wanita paruh baya itu menjauhkan tubuhnya dan bersembunyi.

Jin Hee melirik dari dinding sebelah, siapa wanita itu.

" Aku seperti pernah melihatnya.?"

Luhan disana terlihat kesal dan menolehkan kepalanya keruangan Sehun.

" Dasar." Ucapnya sembari menghentakkan kaki ditanah.

" Untung tampan." Pujinya kemudian.

Jin Hee tersenyum saat mendengarnya. Ternyata wanita ini juga melihat Sehun sebagai lelaki tampn.

Setelah mengatakan itu, Luhan kembali melangkahkan kakinya menjauh. Sedangkan Jin Hee keluar dari tempat persembunyianya dan menatap punggung Luhan yang menjauh.

Kemudian menatap kembali ruangan Sehun dengan senyum yang mengembang dan mulai membuka pintu untuk masuk kedalam sana.

.

Flashback end.

.

.

Sehun memandang seseorang dihadapanya sedikit terkejut apalagi setelah kalimat tidak masuk akal yang baru dilontarkan Jin Hee padanya.

" Untuk apa ibu kemari?" tanyanya, sembari bangkit dari duduknya dan menghampiri ibunya yang duduk disofa.

Jin Hee menatap Sehun sebentar. " Membawakanmu makan siang." Balasnya sembari memperlihatkan pada Sehun paper bag yang dibawanya tadi.

Sehun mendegus pelan. " Ini bukan waktunya makan siang ibu." Kemudian dia duduk disofa disamping ibunya.

Jin Hee tidak peduli, dia sibuk menata makanan yang dibawanya tadi di atas meja, semuanya terlihat sangat lezat dan baunya juga sangat enak.

" Tidak apa apa, lagipula tidak ada orang yang tahu. Dan juga akhir akhir ini kau terlihat kurus anakku."

Sehun berdecak pelan mengomentari sikap ibunya, Jin Hee orang yang keras kepala.

" Nah sekarang makanlah, ibu membuat telur gulung kesukaanmu." Ucapnya sembari menyerahkan sumpit kepada Sehun.

Sehun diam sebentar, menatap ibunya.

" Makanlah." Ulang Jin Hee lagi.

Sehun menyerah, dia tidak tega menolak permintaan ibunya. Meskipun dalam hati dia merasa tidak enak? Sungguh! Sehun adalah orang yang taat peraturan, dan berkelakuan baik sesuai norma norma yang berlaku. Dia tidak mungkin melanggar peraturan kan, apalagi saat ini dia menjadi dokter di Rumah Sakit ini. Bukankah seharusnya dia memberi contoh yang baik. Tapi benar kata ibunya, tidak ada orang yang tahu apalagi melihat. Jadi dia memutuskan menuruti kemauan ibunya, toh dia juga lapar sebenarnya.

" Baiklah." Balasnya, lalu mulai makan.

Jin Hee tersenyum melhat Sehun yang makan dengan lahap. " Kau suka."

" Hmm…" Sehun hanya balas bergumam.

Jin Hee tersenyum lagi melihat Sehun yang dengan lahap memakan telur gulung kesukaanya.

" Sehun, apa ibu boleh bertanya."

" Ya." jawabnya singkat.

" Siapa wanita yang keluar dari ruanganmu tadi dan terlihat kesal.?:

Sehun menghentikan makannya, melirik sebentar kearah ibunya.

" Ibu kebetulan melihat tadi." Jin Hee melanjutkan sebelum Sehun menuduhnya yang tidak tidak.

" Dia dokter magang disini." Balasnya datar.

Jin Hee mengangguk mengerti. " Dia pasti tidak menyukaimu kan?"

" Kenapa ibu bertanya seperti itu?"

Jin Hee menatap Sehun sebentar. " Sewaktu dia keluar tadi, wajahnya terlihat sangat kesal. Tapi dia tetap terlihat cantik." Jawab ibunya, masih sempat sempatnya memuji kecantikan Luhan.

" Dan juga sepertinya ibu pernah melihatnya, tapi dimana ya.?" Lanjutnya kemudian sembari mengingat ingat.

Sehun tidak terlalu memdulikan itu, dia focus untuk menghabiskan makananya supaya ibunya cepat cepat pulang sebelum membuat masalah seperti yang dulu dulu.

" Sehun-ah kenapa diam saja." Jin Hee kesal melihat kediaman Sehun yang seolah olah mengabaikan dirinya.

" Aku sedang makan ibu."

Jin Hee mencibir anaknya dalam hati. " Siapa nama wanita tadi.?"

" Luhan." Balasnya datar.

" Luhan… Ah Luhan.. benar dia Luhan.." Jin Hee mengingat sekarang, dia Luhan anaknya Soyou teman masa kecil Sehun dahulu. Untuk itu dia tadi tidak merasa asing dengan wajah Luhan.

Sehun mengernyit heran menatap ibunya yang heboh karena nama Luhan. Jin Hee menatap Sehun kemudian.

" Kau tidak mengingatnya?"

Sehun hanya memberikan tatapan heran untuk pertanyaan ibunya.

" Dia Luhan anak bibi Soyou, temanmu sewaktu kecil Sehun-ah. Kau lupa?" jelas Jin Hee panjang lebar, dia terlihat antusias.

" Aku mengingatnya." Balas Sehun kemudian.

Jin Hee menatap tak percaya pada putranya. " Apa dia tidak mengingatmu juga? Wah dia sangat cantik sekarang."

Sehun tidak menjawab. " Dia berteman denganmu saat kecil, kalian sering bermain bersama." Jin Hee kembali bercerita.

Padahal tanpa Jin Hee beritahu Sehun pun sudah tahu bahwa itu adalah Luhan teman masa kecilnya dulu. Sehun sebenarnya sudah tahu kebenaran itu sewaktu Soyou mengunjunginya dan memintanya membawa Luhan kembali. Dan itu juga yang menjadi alasan Sehun kenapa dia memaafkan kesalahan Luhan dan membawanya kembali ke Rumah Sakit.

" Kau ingat dia pernah memukulmu dengan sendok karena kau tidak mau berbicara padanya ahhaahhaaa" Jin Hee mengucapkanya dengan raut senang, berniat menggoda Sehun.

Sehun berdecak lalu menatap ibunya. " Dan kau menangis karena itu." Jin Hee melanjutkan lagi.

" Itu dulu ibu."

Jin Hee menghentikan tawanya " Dia senang menganggumu sewaktu kecil hanya karena ingin mendengarmu bicara."

Sehun mendengus sebal. " Dia memang anak perempuan nakal yang pernah kutemui."

Jin Hee tertawa lagi mendengar itu. " Tapi dia juga tidak menyukaimu karena kau tidak menyenangkan dan pelit bicara."

Sehun mencibir. " Lalu kenapa dia selalu mengangguku kalau tidak suka bermain denganku.?" Tembaknya balik.

Jin Hee berdecih sinis. " Ibu yang menyuruhnya, karena kau terlalu kaku dan lebih senang menyendiri."

" Dan juga ibu sangat senang jika kau bermain denganya, kau jadi lebih ekspresif." Lanjutnya.

Sehun mencibir pelan mendengar hal itu. Jin Hee hanya tertawa melihatnya lalu melanjutkan. " Kau jadi lebih sering menangis, marah ataupun kesal saat bermain denganya dan juga Jongdae."

" Itu karena mereka berdua adalah iblis kecil yang suka mengangguku." Balasnya dengan nada kesal yang kentara.

Jin Hee tertawa sejadi jadinya mendengar penuturan Sehun barusan, anaknya terlihat sangat kesal.

Sehun memberikan tatapan tajam untuk ibunya. " Sudah ibu, hentikan."

Jin Hee menatap wajah Sehun yang terlihat kesal, lalu mengehentikan tawanya yang menjadi itu.

" Apa dia masih menganggumu.?"

Sehun melirik ibunya. " Dia masih bersikap kurang ajar padaku sampai saat ini."

Jin Hee tersenyum. " Apa dia juga mengenalimu.?" Tanyanya.

" Mungkin tidak." Balas Sehun jujur.

Jin Hee mengangguk mengerti, Sehun menatap ibunya lalu melirik jam tangan Rolex silver yang melingkari tangan kirinya. " Ibu sebaiknya pulang sekarang, aku harus memeriksa pasienku lagi."

Jin Hee menghadap Sehun lalu mengangguk setuju. " Baiklah, ibu akan pulang sekarang." Lalu wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya, memeluk putranya erat erat.

" Aku menyanyangimu anakku."

" Aku juga ibu." Balas Sehun sembari membalas pelukan ibunya.

Kemudian Jin Hee melepaskan pelukan itu dan bepamitan pada Sehun lalu berjalan keluar. Sehun menghela nafas lega melihat ibunya sudah pergi. Sekarang dia bisa melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda.

.

.

.

.

.

Kyungsoo.

Gadis itu tengah berada di UGD, dia terlihat tidak nyaman dengan pekerjaanya dan juga seperti sedang memikirkan sesuatu yang menganggu.

" Anda tidak apa apa?" tanya perawat Jang padanya

Kyungsoo mengangguk lalu mengatakan bahwa dia tidak apa apa. Perawat Jang mengerti lal berlalu pergi, melanjutkan pekerjaanya membantu di UGD yang tidak terlalu ramai saat ini.

" Apa yang salah denganku?" tanyanya dalam hati.

Gadis itu memikirkan banyak hal, ada sesuatu yang aneh pada dirinya, dia terlihat tidak tenang sungguh!

" Kenapa aku masih memikirkan ajakanya untuk berkencan kemarin."

" Dia pasti tidak serius saat mengatakan itu." Kyungsoo meyakinkan dirinya sendiri.

" Tapi, kenapa aku tidak tenang saat ini." gumamnya lagi.

" Ini salah, kau tidak seharusnya seperti ini Kyungsoo." Ucapnya untuk kesekian kali.

" Bagaimana kalau dia menungguku.?" Tanyanya lagi pada diri sendiri.

Kemudian Kyungsoo melirik jam dinding yang ada di UGD.

12.45 am.

" Apa dia masih menungguku.?" Gumamnya lagi.

" Tapi ini sudah lewat hampir tiga jam, dia mungkin tidak lagi disana." Lirihnya merasa kecewa.

Eun Ha melihat Kyungsoo yang menunduk diujung ruangan lalu berniat menghampirinya.

" Kyung.." sapanya pelan.

Kyungsoo hanya bergumam pelan.

Eun Ha menarik nafasnya pelan, dia mengerti alasan Kyungsoo seperti ini. Sayup sayup tadi dia mendegar perkataan Kyungsoo.

" Kau memikirkanya.?"

Kyungsoo mendongak menatap Eun Ha. " Apa kelihatan sekali.?"

Eun Ha mengangguk sebagai jawaban. " Pergilah kalau begitu, dia pasti menunggumu.." saranya.

Kyungsoo menunduk lagi, dia tidak yakin sungguh? Bagaimana jika nanti dia datang Jongin sudah tidak berada disana.

" Bagaimana kalau dia sudah pergi."

Eun ha mengelus bahu Kyungsoo. " Kalau begitu pergilah dan pastikan sendiri, jika dia tidak berada disana kau tidak usah menemuinya lagi. Lelaki yang tidak menepati janji itu rata rata brengsek dan hanya ingin memepermainkanmu saja Kyungsoo." Jelas Eun ha panjang lebar.

" Bagaimana kalau dia seperti yang kau katakan.?" Tanyanya.

Kyungsoo menatap Eun Ha, Eun Ha juga menatapnya. " Kalau begitu pergilah, dan pastikan sediri." Ulangnya lagi.

Dan selanjutnya Kyungsoo mengangguk dan berlalu pergi keruang ganti untuk mengambil tas dan barang barangnya. Eun Ha tersenyum melihat Kyungsoo seperti itu, dia terlihat senang.

" Semoga dia masih menunggumu Kyungsoo." Lirihnya pelan, lalu berbalik pergi.

.

.

.

Tidak sampai 30 menit Kyungsoo sudah sampai ditempat tujuan. Dia berdiri bak orang bodoh didepan pintu masuk Dream World yang terlihat ramai pengunjung. Gadis itu mengedarkan pandanganya kesegala penjuru arah mencari keberadaan Jongin.

" Apa dia masih disini?" tanyanya lagi, entah ditujukkan pada siapa yang jelas ini sudah kesekian kali gadis bermata bulat mengeluarkan pertanyaan seperti itu.

Kyungsoo memutuskan untuk berjalan, dia menemui kursi taman diujung kanan pintu masuk. Gadis itu berjalan pelan sembari menunduk berharap bahwa Jongin belum pergi dari sini dan lelaki itu menemukan keberadaanya.

Gadis itu duduk kemudian, dia melihat kesekeliling. Diujung kiri terdapat banyak sekali balon warna warni yang terbang tinggi. Gadis itu juga melihat banyak dari anak muda yang pergi berkencan sekrang, mereka berdua terlihat sangat imut, dengan balutan baju , sepatu bahkan kacamata pun disamakan.

Kyungsoo mencibir pelan, dia cemburu sungguh. Apalagi dia sudah menunggu sekitar 10 menit disini, tapi dia tak juga menemukan keberadaan Jongin. Gadis itu memainkan kakinya yang menginjak tanah.

" Apa benar yang diaktakan Eun Ha.? Bahwa dia hanya mempermainkanku.?" Gumamnya lirih.

" Lalu bagaimana jika dia baru saja pulang karena terlalu lama menungguku.?" Tanyanya pada diri sendiri.

Kyungsoo gemas sendiri saat ini, itu juga salahnya yang tadi pagi menolak saran Luhan dan Eun Ha. Jadi sekarang dia harus menanggung kesalahanya seorang diri. Apakah boleh Kyungsoo mengatakan menyesal sekarang?

Gadis itu berdecak pelan, lalu bangkit dari duduknya berniat pergi.

" Dia tidak mungkin masih menungguku. Aish aku bodoh sekali, mengaharapkan dia masih menungguku.?" Kesalnya lalu berjalan pergi.

Belum tujuh langkah dia melangkah ada suara dibelakang yang menginterupsi langkahnya.

" Mau kemana.?" Suara dibelakang bertanya.

" Kau mau membuatku menunggu lagi?" suara itu melanjutkan.

Kyungsoo menegang sempurna, suara ini? Dia mengenalnya. Kyungsoo berbalik menghadap belakang dan sukses membuatnya memekik tertahan melihat Jongin berdiri disana.

" Kau tidak mau berkencan denganku ya.?" Tanyanya, sembari berjalan pelan pelan mendekati Kyungsoo.

" Joo..jongin.."

Jongin tersenyum sangat manis, sama seperti waktu itu. Dia berjalan pelan pelan mendekati Kyungsoo yang diam mematung disana.

Kyungsoo tersenyum senang, dugaanya salah. Jongin adalah pria baik dan tulus menyukainya. Dia merasa senang sekaligus bahagia sekarang.

" Kau tidak mau pergi berkencan denganku, dan sengaja membuatku menunggu selama itu huh?." Tanyanya langsung setelah sampai tepat dihadapan Kyungsoo.

" Maafkan aku." Gumamnya pelan tapi tulus.

Jongin tersenyum lagi. " Jadi benar ya kau tidak mau berkencan denganku.?"

Kyungsoo sontak menggeleng dan tidak membenarkan tuduhan Jongin. Melihat itu Jongin tersenyum kemudian.

" Aku tidak mengatakan itu, dan juga maaf membuatmu menunggu." Dia meminta maaf, tidak berani menatap Jongin.

" Tidak apa apa."

Kyungsoo menatap lelaki dihadapanya, dan Jongin malah menunjukkan senyum tampanya sekali lagi untuk Kyungsoo.

" Kau ingin kemana.?" Tanya Jongin menatap kyungsoo.

Kyungsoo mengernyit heran. " Bukankah kita akan kesana?" ujar Kyungsoo sembari menunjuk Dream World dibelakang Jongin.

Jongin berbalik lalu bergumam, " ah iya, kita akan kesana. Maafkan aku."

" Tidak apa apa." Balas Kyungsoo.

Jongin mengangguk lalu dengan tanpa izin dia langsung menggandeng tangan Kyungsoo dan menariknya masuk kedalam. Kyungsoo menatap tangan kananya yang digenggam Jongin.

" Tidak apa apa kan aku melakukan ini.?" Tanyanya pada Kyungsoo.

Kyungsoo hanya mengangguk sebagai jawaban. Jongin tersenyum lebar sekali lagi, lalu lebih erat mengenggam tangan Kyungsoo dan menuntunya masuk kedalam.

" Tersenyum seperti itu lagi, kau akan mendapatkan piring cantik Kim Jongin." Rutuknya dalam hati.

.

.

.

TBC.?

.

.

Wkwkwkwkwk part ini garing banget ya, kalo boleh jujur ya ini konfliknya gak berat berat banget sih bcs ku gamau nyakitin Hunhan biarin mereka bahagia ok.! Trus yang penasaran siapa yang bakal dijodohin sama Sehun? Chap depan pasti aku jelasin. Ini ff mungkin bakal panjang mengingat udah chap segini konfliknya belum muncul. Dan juga aku mau berterima kasih yang udah ngeriview fav foll ff ini, terhura akutuh. Dan juga yang minta ada adegan Chanbaek ya, maaf ya aku gak bisa janji keknya disini lebih focus kehub Hunhan sama Kaisoo #lah…

Untuk yang terakhir kalinya, EXO gilaa ganteng bangettt bosquueee :v aapalagi nak ayam suami idaman itumah..

See You Guys jaga kesehatan okay.!