Title : My Ice cream Doctor.?
Author : Rilakkumaa_94
Cast : Oh Sehun.
Xi Luhan.
Park Chanyeol.
Do Kyungsoo.
Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)
Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.
Rating : T
Playing : Hanin Dhiya – Kau yang sembunyi
Ps : maaf baru bisa update chap selanjutnya, sumpah gaada mood buat nulis dan juga maaf udah gantungin ff ini. Trus aku juga mau bilang, kemarin aku bilang sehun dijodohin kan? Nah itu sebenenya gak dijodohin. Tapi sehun itu… baca sendiri ya.!
.
.
Rilakkumaa_94
.
.
" Hei? Siapa yang menyalahkanku?Aku tidak salah, aku korban disini. "
" Lain kali kita mungkin bisa menonton film atau melihat drama musical. Ah kurasa itu menarik, bukankah begitu.?"
" Aku tidak mau Oh Sehun.!"
.
.
.
Xi berumur 23 tahun ini memiliki banyak sisi buruk yang sangat kelihatan, tak heran banyak orang yang secara terang terangan mengaku tak sombong, pemarah, sok cantik, tidak mau disuruh, suka memerintah dan banyak hal buruk lainya. Semua orang memberikan kesan buruk saat pertama kali bertemu denganya apalagi dengan mulut kurang ajarnya membuat beberapa orang menaikkan level kebencian padanya. Luhan tak peduli, dan tak mau peduli pendapat orang lain kepadanya. Ini hidupnya dan orang lain tak berhak berkomentar itu pikirnya.!
Banyak orang mengira Luhan tipe orang yang tidak punya hati, tak berperasaan dan jahat mengingat perlakuanya yang sebegitu tak sukanya pada anak seharusnya orang normal merasa senang saat bertemu anak kecil?Menciuminya, mengajaknya bermain, membelikanya es krim dan Luhan malah sebaliknya, dia sangat tidak suka anak bahkan jika ada kasus alergi tehadap anak anak mungkin Luhan lah yang menjadi kandidat nomer satu.
Luhan menghapus air matanya yang keluar tiada habisnya. Sungguh kenapa sesakit ini melihat orang yang kau suka menjalin hubungan dengan orang lain. Luhan tidak mau percaya dan menolak untuk percaya. Berita macam apa itu? Tidak berbobot, tidak bermutu, tidak berguna, bukan fakta melainkan dating?Berkencan ?Konfirmasi.?
Yang benar saja, Chanyeolnya mana mungkin memiliki kekasih.
Dispatch kurang ajar.!
Bangsat.
Mati saja kau, jalang.!
Banyak serapahan berlalu lalang diotaknya, mengumpat dan memaki semua orang yang menfitnah Chanyeolnya.
Kenyataanya bukan fitnah sih karena pihak Agensi Chanyeol pun sudah mengkonfirmasi perihal kencan Chanyeol dengan model seksi Miranda Kerr.
" Sudah Lu, berhentilah menangis banyak orang yang melihatmu?" Eun Ha membujuk Luhan agar berhenti bertiga masih berada dirumah sakit dan disini masih banyak orang.
" Kau kan tahu Chanyeol tidak mungkin seperti itu."
Bukanya diam Luhan malah mengencangkan volume tangisanya. Kyungsoo dan Eun Ha dibuat panic melihat Luhan. Gadis iitu seperti gadis perawan yang habis disakiti oleh tatapan mata bertanya dari orang sekitar yang kebetulan melihat mereka bertiga masih menggunakan jas dokternya.
" Luhan, berhenti menangis." Pinta Kyungsoo sedikit sudah merasa risih mendapat tatapan sinis dari beberapa orang.
" Chanyeol hiks chan hiks.." Luhan mengatakan itu dengan terbata ingin bercerita tapi tidak jadi, terlalu sakit untuk diungkapkan.
Eun Ha mengelus punggung Luhan yang bergetar, gadis ini terlihat seperti Luhan biasa yang super dia terlihat seperti orang sok tersakiti.?
Memang begitukenyataanya, Luhan terluka karena dirinya sendiri yang terlalu menyukai Park mencintai Chanyeol sebanyak cinta yang dia semuanya demi Chanyeol, apapun untuk dia melupakan hal yang lebih berharga daripada Chanyeol, yaitu dirinya sendiri.
Luhan buta?Memang cinta itu merasakan itu, dia tersakiti atas ulahnya sendiri yang begitu mendamba dan memuja Chanyeol.
" Luhan.." Kyungsoo meminta lagi.
Luhan tetap tak bergeming, dia masih duduk disalah satu kursi dilorong Rumah Sakit dan menangis sesenggukan disamping Kyungsoo dan Eun Ha.
" Aku.. aku tidak rela Chanyeol ber..ken..channn… huaaaa" pekiknya
Sontak saja Kyungsoo dan Eun Ha membungkam mulut Luhan agar tidak menarik perhatian orang orang sekitar.
" Yak kau ini.." Eun Ha menatap kesal Luhan yang seperti anak kecil.
Luhan berlebihan, pikirnya!
Dengan sangat terpaksa Eun Ha dan Kyungsoo memutuskan menemani Luhan hingga tangis gadis itu mereda dan dia merasa sedikit lebih baik. Mungkin sampai satu atau dua jam kedepan .
…
..
.
Sehun.
Dia tidak pernahberhenti untukterus berpikir, sembari melangkahkan kakinya menuju sebuah restoran mewah didepan sana. Restoran dengan gaya italia dan terlihat dari arsitekturnya yang mewah. Sehun bahkan tidak mengerti kenapa dia mau mau saja menuruti permintaan ibunya untuk menemui seseorang direstoran Sehun cukup pintar untuk menebak, kenapa ibunya yang cantik ituterus terusan memaksa dan membujuknya untuk datang direstoran Italian ini.
Sehun membuka pintu Restoran tersebut, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam. Didalam restoran ini sungguh mewah, dengan gaya khas Italia dan beberapa perabotan mewah menghiasi seluruh ruangan.
Sehun menghela nafasnya pelan, dia mengeluarkan ponselnya yang bergetar.
Ada satu panggilan masuk.
" Halo." Sapanya datar.
" Kau sudah sampai disana ?" tanya Jinhee dari seberang telepon.
Sehun hanya bergumam sebagai jawaban.
" Baiklah, sekarang carilah seseorang yang melambaikan tangan kepadamu. Dia memakai baju berwarna merah dan berambut panjang." Ucap Jinhee memberitahu penampilan seseorang yang akan ditemui Sehun.
Sehun mengedarkan padanganya kesana kemari bermaksud mencari orang yang dimaksud benar saja, dia menemukan seseorang gadis ah bukan wanita dewasa lebih tepatnya, yang sedang duduk menghadap jendela melihat kearah jalanan. Demi Tuhan? Sehun seperti baru saja bertemu seorang peri yang berubah menjadi manusia. Wanita itu sungguhan cantik jika Sehun melihatnya dari arah sini, kulitnya putih mulus sangat cocok dengan balutan dress merah maroon yang ia gunakan.
Sehun melangkahkan kakinya menuju kearah perempuan itu.
" Hay." Sapanya sebiasa mungkin.
Irene berbalik menghadap Sehun dan menatapnya kebingungan.
" Ah iya.." sapanya balik dengan canggung.
" Kau Sehun anaknya bibi Jinhee.?" Tanya Irene kemudian, mendapati Sehun yang tidak berucap apapun setelahnya.
Sehun mengangguk lalu mulai duduk dihadapan Irene.
Keduanya terdiam setelahnya, tidak ada percakapan terlihat sibuk dengan pikiran masing saling mengomentari dalam hati makhlukindah ciptaan Tuhan yang terpampang nyata terlihat tampan, dia menggunakan jas berwarna abu abu dan rambutnya yang disisir keatas memperlihatkan jidatnya yang menawan.
" Ehm, bagaimana kalau kita memesan makanan terlebih dahulu." Saran Irene dan Sehun mengangguk sebagai jawaban.
Irene memanggil pelayan dan memesan makanan.
" Kita belum berkenalan, namaku Bae Irene." Ucap Irene semanis mungkin sembari menyodorkan tanganya dihadapan Sehun.
Sehun tersenyum sekilas lalu menjabat tangan Irene dan mengucapkan namanya.
" Oh Sehun."
Irene tersenyum mendengarnya, Sehun sangat tampan.
" Kau mungkin orang yang sibuk, maafkan ibuku yang telah merepotkanmu." Ucap Sehun yang berusaha dibuat menyesal.
Tapi tetap saja yang terlihat hanya wajah datar dan raut yang itu itu tidak pintar berekspresi.
Irene menggeleng, sungguh dia tidak apa apa jika harus menemui Sehun lagi dalam keadaan sibuk. Eh?
" Tidak apa apa. Bibi Jinhee tidak merepotkan, lagipula ibuku juga menyuruhku untuk menemuimu dan menyuruh kita berkenalan satu sama lain." Balasnya sembari tersenyum.
" Ehm ngomong- ngomong apa pekerjaanmu, kudengar kau seorang dokter bedah..?"
" Benar, aku dokter." Balasnya singkat.
Irene mengulum senyumnya." Bukankah dokter adalah pekerjaan yang hebat.?" sahut Irene bahkan mengucapkanya dengan mata berbinar sembari tersenyum.
" Begitukah?" tanya Sehun menanggapi.
Irene mengangguk." Jika aku menjadi dokter itu adalah sebuah keberuntungan"
Sehun menaikkan satu alisnya.
" Karena kau bisa membantu orang orang yang sakit." Lanjutnya kalem.
Sehun diam, menunggu kelanjutan ucapan Irene.
" Dan juga kau bisa menjadi orang yang hebat karena menyelamatkan orang lain dan berguna untuk banyak orang." Tambahnya dengan diakhiri senyum diakhir kalimatnya.
Sehun tersenyum, Irene sungguh imut. Dia pikir wanita dihadapanya adalahsosok yang dingin dan angkuh. Ternyata dia orang yang baik dan anggun.
" Kau juga bisa berguna untuk orang lain selain menjadi dokter." Balas Sehun seadanya.
" Kudengar kau juga seorang designer terkenal.?" Tanyanya kemudian, mengalihkan topic pembicaraan.
Irene tersenyum " Tidak, itu hanya sebuah butik biasa." Ucapnya merendahkan diri.
Percakapan keduanya harus berhenti sebentar karena pelayan datang mengantarkan pelayan itu menata beberapa makanan pesanan mereka dan dan Sehun melanjutkan percakapan mereka dan menyantap makanan yang mereka pesan.
Keduanya terlihat terlibat percakapan yang tidak membosankan. Terlihat dari cara keduanya saling menaggapi pertanyaan satu sama lain, bahkan sekarang sudah tidak secanggung tadi.
"Irene baik dan cantik, pikir Sehun.!"
.
.
.
Luhan.
Keadaan tetap sama bahkan tidak ada yang berbeda. Luhan masih menangis bahkan lebih parah dari saja dia sudah berada dirumah, dikamarnya dan menangis sendirian.
Ini sudah beberapa jam dan stok air matanya bahkan belum habis habis menangisi Park Chanyeol. Luhan memutuskan untuk pulang dan tidak bekerja hari ini, dia sungguh terpuruk dan sedih.
" Srott." Ingus Luhan keluar kemana mana, dia mengelap ingusnya yang keluar menggunakan tissue dan membuangnya kesembarang arah.
Tok tok tok
Itu suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Ketukan itu terus berulang berkali kali seraya menyerukan nama Luhan. Luhan mendengarnya, tapi ia enggan untuk membukakan pintu. Dia ingin sendiri, tidak mau diganggu meskiitu ibu atau ayahnya sekalipun.
" Lu kau baik baik saja?" tanya ibu Luhan dari arah luar kamar.
Tidak ada jawaban.!Sama seperti yang sudah sudah.
" Luhan.!" Serunya agak keras.
Luhan kesal, kenapa tidak ada yang mengerti sih? Dia tidak ingin apa apa, tolong semua orang mengertilah.
Luhan menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi kepalanya, dia butuh menangis untuk menenangkan perasaannya yang kacau balau.
Salah siapa semua ini?Batin Luhan mengingatkan.
Salah Chanyeol?
Salah Miranda yang sekarang menjadi kekasih Chanyeol?
atau
Salah Luhan?
" Hei? Siapa yang menyalahkanku?Aku tidak salah, aku korban disini." batin Luhan berteriak membela dirinya.
Atau yang paling banyak disalahkan atas semua kejadian menyakitkan yang dialami manusia adalah salah…?
Salah Tuhan?
Well, bukankah manusia memang seperti itu, menyalahkan orang lain atau jika orang itu menolak mereka akan menyalahkan Tuhan sebagai satu satunya dzat yang disalahkan.
Mereka dan juga kita menyalahkan Tuhan dengan alasan takdir?
" Kenapa kau menuliskan takdirku begitu buruk? Padahal hidupku didunia tidak lama, bisakah kau hanya menuliskan sesuatu yang indah saja.?"
Sepenggal kata yang sering terucap tanpa sadar saat kita dalam keterpurukan.
Hei?Tahukah kamu, semua yang terjadi tidak sepenuhnya salah manusia memiliki akal, lalu mengapa tidak digunakan?
Bukankah umur Luhan yang sekarang sudah tahu mengenai konsekuensi apa yang akan ia dapatkan jika terlalu mendamba Park Chanyeol?
Sakit.!
Luhan sudah tahu, tapi kenapa masih diteruskan?
…
..
.
Irene melirik kesampingnya lalu tersenyum diam diam, diperhatikanya wajah Sehun yang teramat tampan dibawah terpaan sinar matahari yang tidak terlalu panas mendukung sekali ditambah angin sepoi sepoi yang menambah kesejukan hari bersyukur untuk hari ini dia sangat bahagia, setelah makan siang di restoran mewah tadi keduanya memutuskan untuk berjalan jalan disekitar Sungai menikmati angin sore dan melihat aktivitas beberapa orang orang yang sedang berolahraga sore atau bersepeda disekitaran jalan. Yah! Itu bukan hal buruk bukan?Cukup menyenangkan.
" Kau tidak lelah? " tanya Sehun sembari menolehkan wajahnya mengahadap Irene yang berjalan disampingnya.
Tinggi keduanya terpaut jauh, mungkin sekitar 20 cm.
Irene menoleh, lalu mengangguk ragu.
" Kita istirahat disana saja." Tawar Sehun sambil menunjuk sebuah kursi taman yang tidak terlalu jauh dari hadapan mereka.
Irene sudah duduk duluan, Sehun mengatakan akan pergi untuk membeli minuman dan menyuruhnya menunggu.
" Ini." Sehun menyodorkan kaleng minuman dingin kepadanya, Irene menerimanya lalu mengucapkan terima kasih.
" Terima kasih untuk hari ini." Irene memulai percakapan setelah meminum minumanya.
Sehun mengangguk lalu mengucapkan sama sama.
" Aku tidak keberatan jika kita bertemu lagi Sehun-ssi." Lanjutnya.
Sehun menoleh sebentar dan mendapati Irene tersenyum sambil menatap kearahnya.
Senyumnya cantik, terbingkai dengan apik diwajahnya yang bak dewi aprodite itu.
" Uh hm baiklah. Kapan kapan kita bisa bertemu kembali."Balas Sehun.
Irene tersenyum semakin lebar.
" Lain kali kita mungkin bisa menonton film atau melihat drama musical. Ah kurasa itu menarik, bukankah begitu.?" Saranya.
Sehun tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Tunggu sebentar.
Tersenyum?
Sehun tersenyum?
Dan kepada Irene?
Tidak mungkin kan?
Sehunku tidak seperti itu.!
*Author gakrela yorobun.
" Baiklah kita bisa melakukanya saat tidak sibuk?" ucap Irene semangat.
" Bagaimana kalau akhir pekan?" lanjutnya.
" Terserah kau saja." Balas Sehun seadanya.
Hei?
Tunggu sebentar.
Sepertinya ada yang tidak beres.
Bukankah itu adalah hal hal yang wajar dilakukan orang orang saat berkencan.?
Iyakan?
Jangan bilang kalau Sehun dan Irene..?
Ehh hemm.!
TIDAK!
Mungkin.?
Selanjutnya mereka sibuk dengan fikiran masing masing, saling diam sampai beberapa kembali canggung setelah percakapan terakhir kali, tidak ada yang mau memulai percakapan duluan, entah bingung atau memang sengaja dibiarkan seperti ada yang tahu kecuali Tuhan.
" Mau pulang sekarang?" tanya Sehun.
Sekarang sudah sore dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan, menghindari resiko kehujanan lebih baik untuk pulang sekarang kan?
Irene menoleh, lalu mengangguk.
" Ayo."
Sehun berdiri lalu diikuti berdua berjalan kembali ketempat mobil Sehun diparkir. Sehun akan mengantarkan Irene pulang kerumahnya dengan selamat.
…
..
.
Selasa.
Hari yang menyenangkan. Bagaimana tidak, semalam setelah pulang berkencan, ibunya Sehun - Jin Hee lebih tepatnya.- bersikap manis dan menyambut kedatangan Sehun sembari menggiringnya kemeja makan sambil melontarkan bertubi tubi pertanyaan tidak penting seputar petemuanya dengan Irene siang tadi.
Seperti ini.
" Bagaimana kencanmu dengannya.?"
" Apa menyenangkan?"
" Dia cantik bukan.?"
" Dia sunggu manis bukan, aku tahu itu."Ucap Jin Hee seorang peramal yang tebakanya 99 % benar.
" Ah kau juga menyukai dia kan? Hei Sehun-ah jawab pertanyaan ibu.?"
Semua kalimat kalimat itu dilontarkan Oh Jin Hee tanpa Sehun sempat heran dengan sikap ibunya yang sok tahu dan selalu ingin tahu tentang kehidupan Sehun.
" Sehun-ah jawab pertanyaan ibu." Sungutnya kesal sembari mempaudkan bibirnya lucu.
Bukankah sudah tidak cocok diumur yang menginjak kepala lima melakukan tingkah kekanakan seperti itu. Ah tapi bukankah perempuan memang seperti itu.
" Pertanyaan yang mana?" balasnya datar.
Sehun sedang makan malam, dia menikmati masakan ibunya yang memasakkan semua makanan kesukaanya.
" Semuanya. Kau harus menjawab semuanya!" balas Jin Hee menekankan kata semuanya.!
" Baiklah. "Sehun mengehentikan makanya sebentar lalu menghadap ibunya.
Jin Hee menatap serius kearah putranya, menunggu Sehun bercerita.
"Seperti yang ibu lihat-."
Jin Hee mengernyitkan dahinya, menunggu kelajutan ucapan Sehun yang sengaja dibiarkan mengantung.
" Tidak ada yang menarik.!" Ucapnya datar seraya mengedipkan sebelah matanya .
Raut Jin Heeyang semula penasaran berubah kesal. Anaknya benar benar es batu.!
Melihat raut merah padam ibunya Sehun tertawa sekeras kerasnya, sungguh ekspresi Jin Hee yang kesal adalah yang paling lucu.
" Ck kau.?" Sentak Jin Hee kesal sembari menunjuk wajah Sehun.
Bukanya takut Sehun malah melanjutkan tawanya.
" Tidak ada jatah makan malam untukmu hari ini." Ucapnya sengit, lalu membereskan makanan yang ada dimeja makan.
Melihat itu Sehun langsung berhenti tertawa dan memohon agar ibunya tidak melakukan belum kenyang,Sehun masih ingin menghabiskan makanan tadi. Ah sial, memang tidak mudah melawan ibu ibu.
Mengingat kejadian semalam, senyum Sehun mengembang. Hari ini Sehun menggunakan setelan kemeja berwarna abu abu dan celana kain senada, ditambah dengan sepatu pantopfel dan sebauh tas tangan coklat yang selalu ia bawa saat bekerja. Sehun sangat tampan, apalagi jika dia sering tersenyum seperti sekarang.
" Jjaa baiklah, mulai bekerja." Ucapnya semangat sembari meletakkan barang barangnya diatas meja sudah berada diruanganya, menggantungkan jas hitamnya lalu menggantinya dengan snelli putih khas seorang dokter.
Sehun melangkahkan kakinya keluar, bersiap untuk memeriksa pasienya satu bahwa keadaan pasienya semakin tugas dokter.
" Ah Soobin-ssi." Sapa Sehun saat mendapati Soobin di salah satu kamar pasien Sehun.
Soobin menoleh lalu menjawab sapaan Sehun dan membungkukan badanya hormat.
" Kau sendirian?" tanyanya.
Soobin mengangguk." Iya dokter. Luhan sedang sakit jadi tidak bisa masuk."
Sehun terdiam sebentar, pria yang tengah memeriksa detak jantung pasienya itu menghentikan aktivitasnya selama beberapa detik. Mungkin ia terkejut.
" Luhan sakit?" ulangnya, merasa hal itu terasa tidak wajar.
" Iya, kemarin Luhan pulang saat bekerja. Dia bahkan menangis dirumah sakit entah karena apa.?" Jelas Soobin menceritakan peristiwa Luhan kemarin.
Sehun hanya diam, mencerna baik baik kalimat yang diucapkan Soobin.
…
..
.
" Apa Luhan baik baik saja?" tanya Kyungsoo pada Eunha.
Mereka berdua sekarang berada dirumah sakit, melakukan tugas mereka seperti ilmu dan belajar secara langsung pada dokter pasien dengan sukarela dan merawatnya sampai pulih kembali.
Eunha menoleh " Aku tidak tahu, kurasa buruk." Balasnya ragu tidak yakin akan jawaban yang ia lontarkan.
Jujur keduanya pun khawatir jika Luhan melakukan hal yang aneh aneh, bunuh diri tidak mungkinkan?
Hei?Tapi Luhan itu ekstrem, dia bahkan meninggalkan tugasnya di Rumah Sakit demi Chanyeol?
Sebanyak itu dia menyukai Chanyeol?
Lalu apakah Luhan benar benar akan bunuh diri.?
" Aku akan minum racun jika Chanyeol sampai menikah." Ucap Luhan kala itu saat mereka bertiga berkumpul dan makan bersama.
Saat itu Eunha bertanya pada Luhan apa yang akan gadis itu lakukan jika Park Chanyeol menikah dengan wanita selain dirinya.? Lalu seperti itulah jawaban Luhan, jika tidak mengebom gedung resepsi Chanyeol, atau menculik calon istrinya dan menyekapnya sampai mampus, maka Luhan akan bunuh diri sebagai pilihan terakhir.
Ingatan itu kembali berulang, seperti kaset rusak yang terus terusan terputar pada satu titik yang sama. Luhan saat itu mengatakanya dengan sungguh sungguh. Eunha dan Kyungsoo sempat berfikir Luhan pantas jadi penghuni Rumah Sakit itu memang berpikiran sempit dan hanya memusatkan dirinya pada Park Chanyeol saja.
" Oh Tuhan!" Eun Ha dan Kyungsoo serempak menggeleng.
" Kenapa?" Tanya mereka bersamaan sembari memandang satu sama lain.
" Aku hanya memikirkan Luhan melakukan hal konyol. Tidak lucu kan kalau dia sampai bunuh diri.?" Eunha melontarkan isi pikiranya dengan nada bertanya, seolah meminta jawaban bahwa hal yang difikirkanya tidak akan terjadi.
Kyungsoo mengernyit heran, dia juga memikirkan hal yang sama. Mengingat kelakuan kampret Luhan yang tidak bisa berfikir waras jika menyangkut Park Chanyeol, gadis itu bisa melakukan apa saja.
" Aku tidak yakin?" balas Kyungsoo juga ragu ragu.
…
..
.
Rabu pagi.
Sehun baru saja duduk diruang kerjanya, mendapat satu panggilan masuk. Ponsel yang ia letakkan diatas meja itu berdering cukup nyaring, entah siapa yang menelpon. Sehun meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk, mengalihkan fokusnya yang semula pada tumpukkan kertas lalu berpindah kelayar ponselnya.
Raut heran tak bisa dia hanya heran saja, tidak biasanya orang ini menelpon ada sesuatu yang penting. ?
Panggilan itu terhenti, karena Sehun terlalu lama tidak berniat menelpon balik, jarinya akan menekan logo berwarna hijau itu, tapi orang tadi ternyata menelpon kembali. Buru buru Sehun mengangkat dan mengucapkan salam.
" Halo, ada apa bibi.?"
"…"
Sehun terdiam sebentar, bingung harus menjawab apa.
" Maafkan aku, hari ini aku ada jadwal operasi bibi." Balas Sehun dengan nada menyesal.
Suara disana berceloteh panjang lebar mungkin mengungkapkan kekahwatiranya, dia sangat mengharapkan Sehun untuk datang.
Sehun terlihat berfikir, dia tidak yakin. Masih ragu, haruskah ia datang? Tapi suara orang disebrang sana sungguh berharap kedatangan Sehun.
" Baiklah aku akan datang nanti sore." Putusnya.
Terdengar gumaman terima kasih dari sana. Lalu sambungan itu terputus begitu saja.
Sehun meletakkan ponselnya kembali, dia menumpukkan dagunya pada kedua tangan. Terlihat berfikir, entah memikirkan apa. Seseorang seperti Oh Sehun bukanlah hal yang mudah untuk menebak apa isi pikiranya.!
.
Flashback.
Setelah selesai follow up pasien berjalan menuju ruanganya sendirian, Soobin masih dibangsal anak anak menemani mereka bermain sekalian mengawasi Jaemin jika anak itu memakan coklat lagi tanpa sepengetahuanya. Sehun hari ini cukup lelah setelah mengurus beberapa pasien anak anak yang dititipkan kepadanya karena dokter anak di Hansin salah satunya sedang keluar kota. Wajar Sehun lelah, mengurus anak kecil bukan perkara mudah.
Sehun berbalik kekiri saat ada pertigaan dilorong itu, menuju bagian nurse perjalanan dia melihat dua orang yang tidak asing satu bermata bulat besar dan satunya lagi mempunyai rambut hitam sebahu. Keduanya sama sama pendek dan mungil. Ya! Itu Kyungsoo dan Eunha, keduanya terlibat percakapan cukup dari raut keduanya yang seakan tidak peduli keadaan sekitar. Keduanya bercerita, entah apa itu.
Mereka bagi Sehun seperti anak SMP, apalagi jika ditambah Luhan disana. Dengan gaya kelewat semangatnya Luhan akan menceritakan Chanyeol pada teman temanya itu dengan penuh binar. Tapi kenapa membicarakan Luhan ya? Apa Sehun kepikiran.?
Sehun berjalan semakin mendekat, jaraknya tidak terlalu jauh. Dia bahkan bisa mendengar samar samar percakapan keduanya. Entahlah?Kenapa Sehun seperti menjadi tukang menguping seperti ini.
" Apa Luhan baik baik saja?" tanya si mata burung hantu pada rambut sebahu.
Eunha mengatakan tidak tahu dan mungkin keadaan Luhan buruk.
Sehun yang mendengar terdiam, dia sekarang berada di nurse station, menghadap computer yang menyala untuk memeriksa sesuatu.
Keduanya diam kembali, apa percakapanya sudah selelsai. Entahlah?Sehun tidak menghadap kearah keduanya.
Lalu tiba tiba keduanya memekik bersamaan.
" Ada apa?" batin Sehun bertanya, merasa heran dan juga penasaran.
Dia tidak menyangka akan penasaran dengan kehidupan Luhan. Gadis itu sedang sakit, jadi Sehun merasa sedikit khawatir, sudah tiga hari dia tidak masuk. Sehun hanya ingin tahu apakah Luhan punya penyakit yang parah atau alasan lain. Bagaimanapun dia juga bertanggung jawab atas Luhankan.?
" Aku hanya memikirkan Luhan melakukan hal konyol. Tidak lucu kan kalau dia sampai bunuh diri.?" Eunha melontarkan isi pikiranya dengan nada bertanya, seolah meminta jawaban bahwa hal yang difikirkanya tidak akan terjadi.
Sehun sedikit kaget. 'apa apaan itu?'
" Aku tidak yakin?" balas yang satunya dengan ragu ragu.
Sehun kembali terdiam, lalu melangkah pergi dari sana dengan berbagai pikiran.
Luhan?
Luhan?
Semua menyinggung Luhan.
Ada apa dengan gadis itu?
…
..
.
Sementara itu dikediaman keluarga Luhan.
" Lu buka pintunya." Soyou membujuk Luhan lagi. Entah untuk kesekian kalinya hari ini ia berdiri dan memohon agar anak perempuanya itu mau mebuka pintu dan makan.
Soyou kembali mengetuk pintunya" Lu bukalah, kau harus makan sayang." Teriaknya.
Soyou sangat khawatir akan kondisi putrinya, Luhan jika marah. Dia akan mengurung diri dikamarnya dan tidak mau melakukan apapun. Terhitung sudah dua hari Luhan tidak mau memakan apapun. Soyou takut anaknya terjadi apa apa. Bahkan nampan yang sengaja ia tinggalkan kemarin tidak diambil Luhan dan dibiarkan sampai dikerubungi semut.
" Luhan.." Soyou berteriak putus asa.
" Buka pintunya nak, kau harus makan." Lanjutnya dengan nada memohon.
Sebenarnya kemarin Eunha dan Kyungsoo juga datang membujuk Luhan gadis itu enggan untuk keluar, masih betah meringkuk didalam kamarnya.
" Apa yang harus aku lakukan?"
" Apa aku harus menelponya?" Soyou seperti mendapat sebuah ide, dan langsung merealisasikan ide seseorang untuk dimintai pertolongan membujuk anaknya.
" Semoga saja berhasil." Gumamnya.
Hari beranjak sore, Sehun memarkirkan mobil nya diperkarangan sebuah rumah bertingkat, yang berada disalah satu kawasan perkomplekan elit di wilayah Seoul. Sehun keluar dari mobil Audi keluaran terbaru itu, memakai jas hitam panjang dibalik sweater hitamnya sembari menenteng tas kulit berisi perlengkapan medis seperti biasanya. Dia terlihat gagah walau hanya menggunakan sepatu sneaker, Sehun terlihat fashionable dan makin tampan saat menggunakan pakaian non formal.
Didepan sana tepatnya didepan pintu masuk Sehun sudah disambut dua orang wanita paruh baya yang menantikan tersenyum penuh arti kearah Sehun, dan Sehun hanya tersenyum tipis sebagai balasan.
" Kau datang." Ucap salah satu wanita tadi – itu Kang Soyou.-
Sehun mengangguk lalu mengucapkan salam pada keduanya.
" Apa kabar bibi.?" Sapanya.
Soyou menggandeng Sehun masuk kedalam rumahnya." Masuklah."
Soyou menyuruh wanita dibelakangya – asisten rumah tangga.- bibi jung untuk membuatkan minuman untuk Sehun.
" Bi tolong buatkan makanan dan minuman untuk Sehun." Perintah Soyou pada Bibi Jung.
Bibi Jung mengangguk lalu beralih menuju dapur.
Sekarang Sehun dan Soyou duduk di ruang yang tampak sangat nyaman dan memang benar benar nyaman. Diruangan ini terdapat sofa dan juga televise. Beberapa hiasan dan ornament juga terpampang dengan rapi, seperti foto keluarga misalnya. Dalam frame tersebut teradapat dua anak perempuan, salah satunya Luhan dan yang satunya adalah adik Luhan. Nayeon. Sehun masih ingat gadis kecil itu, dia mempunyai gigi kelinci yang membuatnya semakin cantik.
" Sehun-ssi." Kang Soyou mengatakan itu dengan ragu ragu, mencoba mengalihkan perhatian Sehun.
Sehun yang tadinya sibuk melihat sekitar langsung mengarahkan atensi nya pada Soyou.
" Terima kasih sudah mau datang kerumah, aku sangat berharap padamu untuk ini."
Sehun tersenyum lalu menjawab." Tidak apa apa bi."
Soyou mendongak lalu mengenggam tangan Sehun yang duduk disofa sebelahnya" Tolong bujuklah Luhan agar mau makan, dia sudah hampir 3 hari tidak makan dan mengurung diri dikamarnya." Ucapnya penuh pengharapan.
" Kami sudah bingung harus bagaimana lagi membuatnya keluar kamar." Lanjutnya frustasi.
Sehun diam, tidak terpikir apapun sebagai jawaban.
" Jadi Sehun-ah tolong bantu bibi." Minta Soyou dengan nada memohon.
Sehun yang melihatnya menjadi tidak tega, dia mengenggam kembali tangan Soyou dan menatapnya teduh.
" Bagaimana bisa Luhan jadi seperti ini bi?" tanya Sehun hati hati, dia masih tidak mengerti penyebab Luhan yang merajuk dan mengurung diri dikamar.
Soyou menyeka air matanya yang keluar " Dia sedih dan juga frustasi karena idola kesayangnya Park Chanyeol memiliki kekasih." Jelasnya.
Apa?
Sehun terkejut saking tidak percayanya?
Hanya karena masalah itu Luhan mengurung dirinya sampai seperti ini?
Sampai membuat keluarga dan bahkan teman temanya khawatir.!
Sehun pikir Luhan ada masalah keluarga, bertengkar dengan ayahnya mungkin?
Seperti yang biasa gadis itu lakukan.
Tapi kali ini, hanya karena Chanyeol?
Ya, Chanyeol yang memiliki kekasih.
Luhan merajuk seperti ini.!
Luar biasa.!
" Anakku itu memang terlihat kasar, tapi sebenarnya sangat lembut dan juga rapuh." Lanjut Soyou bercerita, memutus pemikiran Sehun tentang apa yang dipikirkan gadis itu, Luhan.
" Dia sangat menyukai Park Chanyeol melebihi dirinya sendiri."
" Dia begitu memujanya dan bahkan alasan dia ingin menjadi artis adalah untuk bertemu dengan Chanyeol, hah anakku sungguh unik." Soyou masih bercerita bagaimana seorang Luhan menyukai Chanyeol secara berlebih.
" Bahkan ayahnya sudah sering memarahi dan membuang barang barang yang berhubungan dengan Chanyol agar Luhan bisa sadar dan menjalani kehidupanya dengan baik, tapi gadis itu masih saja melakukan apapun semaunya tanpa peduli larangan ayahnya."
" Dan sekarang dia malah jatuh terpuruk karena kabar kencan Chanyeol dengan kekasihnya itu." Akhir ceritanya.
Sehun mengangguk mengerti, sekarang dia mengerti kenapa Luhan bisa begitu nekat pergi dari Rumah Sakit demi menonton konser Park begitu menyukai Park Chanyeol, ya hanya karena kata yang bernama 'suka' bisa mengubah perilaku seseorang.
" Lalu dimana Luhan sekarang bi?" tanya Sehun.
…
..
.
Sehun beridiri disebuah pintu kayu bertuliskan Miss Park di bagian gantungan pintu dihadapanya memegang kunci kamar Luhan, untunglah Soyou mempunyai dua kunci untuk masing masing berjaga jaga jika hal semacam ini terjadi, dan untunglah Sehun menanyakan hal itu. Karena jujur Kang Soyou bahkan sampai lupa mempunyai kunci cadangan kamar Luhan.
Cklek.
Pintu terbuka, Sehun membukanya dan Soyou langsung berhambur masuk kedalam melihat keadaan Luhan.
Dingin!
Kesan pertama yang Sehun rasakan didalam kamar ini, diikuti bau khas Luhan menguar didalam sini, wangi vanilla manis sekali.
" Luhan." Pekik Soyou sembari menghampiri ranjang Luhan dengan terburu buru.
Soyou langsung memeluk Luhan yang tidur memunggunginya sembari memeriksa bagaimana bentuk putrinya itu.
" Lu.." panggilnya sembari menggoncangkan tubuhnya perlahan.
Luhan tetap tidak bergeming dia malah menaikkan selimutnya sebatas dada.
" Luhan" ulang Soyou sekali lagi.
Luhan menarik nafasnya lalu menjawab dengan gumaman menyuruh semua orang didalam kamarnya untuk keluar.
" Syukurlah kau masih hidup." Ucap Soyou penuh syukur, anaknya masih hidup walau dengan kondisi yang memprihatinkan. Tissue tissue bekas berserakan dimana mana, tempat tidur yang sudah tidak berbentuk, ruangan dengan suhu kelewat dingin Sehun bahkan sampai bingung apakah Luhan gila menyalakan pendingin ruangan saat musin dingin seperti ini. Apa gadis itu ingin cepat mati huh?
Kamar ini luas, terdapat banyak sekali poster Chanyeol yang melekat disana sini, bahkan ada salah satu foto yang didalamnya ada foto Luhan bersama editan atau bukan tapi ukuran foto itu sangat besar.
" Lu makan ya, kau belum memakan apapun dari kemarin." Bujuk Soyou lagi.
" Ke..luu..ar aku ingin sendiri.!" Luhan mengucapkanya dengan lirih tapi dia menekankan kata kata tertentu.
Soyou diam, bingung memilih untuk tetap tinggal atau keluar seperti keinginan putrinya.
" Aku mohon ibu, pergi aku ingin sendiri." Lanjut Luhan lagi nadanya memohon.
Soyou menatap Sehun seolah meminta penjelasan, dan Sehun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Luhan.
Soyou mengangguk lalu bangkit dari duduknya." Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Ibu akan membuatkanmu bubur."Ucapnya lalu pergi.
Setelah kepergian Soyou, Sehun mengambil kursi yang berada dimeja rias dan meletakkanya disamping tempat tidur.
" Mau apa kesini, pergilah." Ucap Luhan ketus.
Gadis itu menyadari bahwa Sehun yang datang dan belum pergi dari kamarnya.
" Aku tidak membutuhkanmu.!"
Sehun tersenyum simpul, bukanya pergi dia malah mendaratkan bokongnya dikursi. Memandang punggung dan gerak gerik Luhan dari arah belakang.
" Kau tuli ya, aku menyuruhmu pergi.!" Ulangnya lagi dengan nada kesal.
Gadis itu masih tidak mau berbalik mengahadap Sehun.
Malas katanya.!
" Kubilang pergi Oh Sehun.!" Teriaknya lagi, kali ini dengan keras. Mungkin Luhan sudah amat sangat kesal karena makhluk dibelakangnya tetap diam dan tidak mengeluarkan suara apa apa.
Luhan tidak suka, Sehun didalam kamarnya apalagi melihatnya seperti ini dan merasa kasihan padanya. Sungguh Luhan benci belas kasihan orang lain.
" Sampai kapan kau mau seperti ini?" akhirnya kalimat pertama Sehun terucap. Dia mengatakanya dengan begitu tenang dan datar.
" Aku baik baik saja, pergilah.!" Balas Luhan lirih, terdengar lebih seperti ke permintaan.
Gadis dihadapanya ini jauh dari kata baik baik saja. Rambut acak acakan, kantung mata hitam, matanya sembab, hidung merah seperti tomat dengan leleran ingus yang keluar, dan wajahnya juga nampak pucat. Lihat?Dari segi mana Luhan baik baik saja.
Sehun menarik nafasnya perlahan lalu berucap "Aku akan memeriksamu dulu setelah itu pergi.!"
" Aku tidak mau.!"
Sehun berdecak sebal, sikap keras kepalanya masih ada meskipun sedang sakit.
" Dengar Luhan, dengan sikapmu yang seperti ini tidak akan mengubah apapun.!" Ucap Sehun akhirnya, dia mencoba memberi pemahaman untuk Luhan yang sedang labil.
" Memang apa pedulimu.?" Sinisnya.
Sehun berdecak sekali lagi " Aku peduli." Ucapnya tanpa ragu.
Luhan kaget sebentar, kesambet setan mana seorang Oh Sehun peduli padanya.
" Memangnya kau siapa.?"
" Aku doktermu dan kau pasienku. Seorang pasien harus menuruti perkataan dokternya."Balas Sehun mantap.
Luhan berdecih sinis ' pasien pantatmu, aku baik baik saja setan.'
" Aku tidak mau jadi pasienmu, aku baik baik saja.!" Ungkapnya dengan nada kesal.
Dia bahkan sampai membalikkan tubuhnya yang semula menyamping membelakangi Sehun menjadi terkekeh geli, Luhan terlihat kesal tadi cukup kini dapat melihat dengan jelas wajah Luhan, begitu pucat, bibir kering pecah pecah, apalagi mata sayunya yang mendelik tajam terlihat kesal. Jika saja Luhan tidak sakit, maka Sehun akan mentertawakan kelakuanya saat ini.
" Baiklah.." ucap Sehun akhirnya, setelah ia bisa mengendalikan dirinya untuk tetap bersikap tenang.
Sehun membuka tas kulit yang ia bawa tadi, mengambil beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk memeriksa keadaan Luhan. Tangan Sehun mengambil tensimeter, Luhan mengawasi setiap hal yang dilakukan Sehun.
" Kau mau apa?" tanyanya tidak sabaran, saat Luhan mendapati Sehun mendekati tubuhnya yang berbaring diranjang.
Sehun acuh, dia diam dia sudah duduk dipinggiran tempat tidur Luhan, berniat untuk memriksa tekanan darahnya.
" Aku tidak mau Oh Sehun.!" Teriaknya frustasi saat Sehun menarik lengan kananya.
Luhan dengan sekuat tenaga menarik tanganya dari genggaman Sehun, tapi Sehun tidak diam itu menahanya cukup kuat.
" Diam.!" Desis Sehun dingin, dia sedang focus pada pekerjaanya.
Luhan diam sebentar, nada suara Sehun cukup membuatnya takut. Begitu dingin dan menusuk, apa karena suhu ruanganya yang dingin dan suasana yang sepi hingga efek suara sehun yang datar seperti tadi bisa terdengar menyeramkan?
Selesai mengukur tekanan darah Sehun menempelkan tanganya ke dahi Luhan, mengukur suhu tubuh gadis itu. Luhan memejamkan matanya sejenak saat menerima sentuhan Sehun, tanganya begitu dingin. Luhan merasa nyaman seketika, seluruh tubuhnya pun ikut merasa sejuk hanya karena sentuhan tangan dengan badanya yang panas, tangan Sehun bak es yang bisa menyejukkanya dengan cepat. Oh tidak, itu berlebihan.!
" Kau demam." Komentarnya.
Sehun mengambil stetoskop untuk memeriksa detak jantungnya sebelumnya ia akan membuka dua kancing terataspiyama Luhan.
" Ya! Mesum." Hardiknya kesal sembari menepis tangan Sehun, Luhan bahkan menutupi bagian dadanya yang kacingnya terbuka.
" Kau mencuri kesempatan dalam kesempitan kan, kenapa membuka bajuku.?" Lanjutnya kesal sembari memincingkan matanya.
" Kau mau berbuat macam macam kan?" tuduhnya bak seorang jaksa pada terdakwa kasus pelecehan seksual.
Sehun melongo, tidak percaya." Apa yang kau pikirkan.?" Sehun bertanya dengan nada datar, merasa heran dengan sikap aneh Sehun terlihat seperti seorang penjahat kelamin?
" Aku hanya memeriksamu." Jelasnya, bagaiamanapun Luhan seharusnya sudah juga kenapa sikapnya berlebihan seperti ini?
Luhan masih menatapnya dengan pandangan menuduh.
Sehun menghembuskan nafasnya perlahan mencoba tetap bersabar, lalu menyingkirkan tangan Luhan dari sana " Aku bahkan tidak melakukan apapun." Lalu mulai menempelkan stainless dingin itu kedada mengernyit heran, entah apa yang ia dengar, suara orang berlarian mungkin.?
" Apa ada yang sakit?" tanya Sehun setelahnya.
Luhan menggeleng, meskipun ada Luhan tidak akan mengatakanya pada Sehun. Never!
Sehun menarik nafasnya perlahan, " Katakan saja jika merasa sakit."
Luhan menatap Sehun, lalu berdecak kesal.
" Kau sudah selesai kan, sekarang keluar."
Sehun memandang Luhan cukup intens, entah apa yang dipikirkan gadis ini. "Sebegitu tak sukanya dia padaku hingga menyuruhku terus terusan pergi dari sini?" batin Sehun bertanya keheranan.
…
..
.
TBC.!
Hai yorobun, kangen gak nih? Maaf banget baru bisa up sekarang, soalnya tbtb gaada mood buat ngelanjutin ff ini. Ini udah sesuai ceritaasli ya gaada perubahan apapun dr cerita awal. Chap selanjutnya mungkin bakal bahas kisah cinta Hunhan. Dan jg mau ngucapin makasih buat yg udah nungguin ff abal abal ini, uh maaciw. Trus author mau minta doa juga moga moga lulus snmptn ya, dan jg bisa masuk ke ptn yg author inginkan. Amin.!Dan mungkin 1 minggu lagi aku bakal up chap 13, so tungguin aja. !
Ini ceritanya Luhan sakit, trus dirawat Sehun, ok berlebihan kan ya penulisanya diatas. Tapi gimana ya, aku nulisya gitu dan kepikiranya gitu nikmati aja.
Happy reading and be happy. See you next time !
