Kesalahan terbesar yang pernah Kise buat adalah meremehkan takdir—atau, mungkin lebih tepat lagi jika disebut 'meremehkan takdir yang dipercaya Midorima Shintarou'.
.
...*...
.
Disclaimer: Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi.
Saya tidak mendapat keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: BL, fluff, AU, OOC, miss typo(s) etc.
Selamat membaca ^^
.
...*...
.
Setelah gagal meyakinkan kakak-kakaknya jika hari ini dia tidak enak badan, dengan langkah gontai, Kise membawa dirinya sendiri ke sekolah. Beberapa gadis terang-terangan menunggu dirinya di stasiun, mengerumuninya seperti semut mengerumuni gula, mengusir gadis-gadis sekolah lain yang sudah mencuri pandang pada pangeran sekolah mereka.
Sungguh, Kise tak ingin pergi ke sekolah hari ini. Meraba handphone yang tersimpan di saku, pemuda itu diam-diam berharap mendapat telepon kerja dari ibunya untuk menjadi model darurat. Tapi, tentu saja, kebetulan tidak terjadi semudah itu.
Meski kemungkinan Midorima tahu jika Kise lah yang menciumnya kemarin sangat kecil, Kise tidak bisa menghentikan perasaan bersalah yang menggerogoti hatinya. Setelah merenung semalaman, dia akhirnya menyadari betapa buruk tindakannya. Dia mencium seseorang yang sedang tidak sadar. Jika Kise ada di posisi Midorima, tentu saja dia akan sangat murka.
"Kise-kun, apa kau tidak enak badan hari ini? Kau terlihat sedikit lemas," salah seorang gadis—yang Kise tak ingat namanya—bertanya.
Kise tersenyum pada gadis itu, mencoba bersikap seramah mungkin, seperti seorang pangeran—seperti seseorang yang mereka imajinasikan ada pada diri Kise. "Hanya sedikit terjaga karena terlalu senang dapat pergi ke sekolah bersama kalian lagi."
Gadis-gadis itu berteriak kegirangan sambil terkikik.
Kise biasa berpikir jika gadis-gadis itu membosankan dan konyol. Hanya dengan sedikit kata-kata manis contekan dari novel, mereka akan memujanya seolah dia adalah dewa. Satu-satunya alasan mengapa Kise bertahan bersama mereka adalah karena gadis-gadis itu mempermudah hidupnya. Mereka membuatkannya makan siang, menemaninya ke mana pun, merapikan mejanya, dan tentu saja, menjaganya dari serangan kecemburuan anak laki-laki—karena kehidupan sebagai pria tampan benar-benar berat, kau tahu?
Tapi yang utama, mereka membuat Kise tak pernah sendirian.
Hari ini, Kise sungguh-sungguh bersyukur ada mereka di sisinya. Mereka mengalihkan pikirannya dari Midorima. Oke, mungkin cuma dua persen, tapi setidaknya ada sebagian otaknya yang tidak dipenuhi rasa bersalah atau kegembiraan berlebih.
Segalanya akan berjalan seperti biasanya, Kise sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri. Kalaupun Midorima menyadari ada seseorang yang menciumnya saat dia tertidur, dia tak akan menemukan bukti apapun yang merujuk pada Kise.
Setidaknya, itulah yang dia pikirkan saat melihat Midorima (dengan wajah menyeramkan dan patung beruang kayu setinggi lutut) berdiri di dekat gerbang, mengawasi tiap orang yang lewat dengan seksama. Hidungnya kembang kempis seperti binatang buas.
Dia tampak marah—sangat marah. Dia tahu seseorang menciumnya, pikir Kise ngeri. Namun, melihat gerak-gerik Midorima yang sepertinya mengawasi semua orang, Kise menarik napas lega. Dia masih belum tahu siapa yang menciumnya.
Menenangkan hatinya, Kise mencoba mengobrol dengan gadis yang berjalan di sampingnya. Tertawa pada lelucon yang tidak dapat dicerna otaknya. Kepalanya semrawut, hanya dapat mengulang kata-kata yang sama...
Dia tak akan tahu.
Segalanya akan berjalan seperti biasa.
Dia tak akan tahu.
Segalanya akan berjalan seperti biasa.
Dia tak akan tahu.
Segalanya akan berjalan seperti biasa.
Dia tak akan tahu.
Kise lewat di depannya, Midorima nyaris dapat dikatakan mengabaikannya.
Kise Ryouta, sudah kukatakan padamu, dia tak akan tahu. Sekarang kau bisa kembali menjadi stalker kecil yang menyedihkan. Pemikiran itu singgah di otak Kise, dan entah mengapa dia merasa sedikit kecewa. Dia ingin menegur dirinya sendiri, mengatakan jika harusnya dia bersyukur Midorima tidak mengetahui hal itu, karena Kise tidak siap menerima penolakan dalam bentuk apapun untuk saat ini.
Dia sedang sibuk mengasihani dirinya sendiri saat tiba-tiba kerah belakang seragamnya ditarik paksa.
Kise mengeluarkan suara tercekik saat tubuhnya sudah didorong ke pagar sekolah. Telinganya menangkap jeritan panik dan kaget gadis-gadis yang bersamanya. Pemuda itu hendak mengutuk, mengumpat, memaki, menghina siapa pun yang melakukannya saat menyadari jika pelakunya adalah Midorima Shintarou.
Nyalinya menciut. Panik dan malu ganti menyerang.
"Apa yang kau—"
Kise kembali kehilangan kata-kata saat tanpa diduga Midorima memperpendek jarak di antara mereka. Satu tangan diletakkan di jeruji pagar di samping kepala Kise sementara tangan yang lain mencengkeram pundaknya erat, mencegahnya pergi. Wajahnya mendekat, Kise terbelalak ngeri. Membuang wajah ke satu sisi dan memejamkan matanya erat-erat.
Jantungnya berdebar seperti hendak keluar menerobos rusuk dan kulit dadanya. Apa yang akan dia lakukan? Tidak mungkin dia akan—
Dua endusan singkat dirasakannya di dekat leher.
Kise menahan napas.
"Aku tahu."
Bisikan Midorima terdengar tepat di samping telinganya, membuat Kise merinding. Takut-takut, Kise membuka matanya, Midorima sudah menjauh darinya, namun tangannya masih tetap menahan si pirang tetap pada posisinya. Mata Midorima tajam memandangnya dari balik kacamata yang dia gunakan, memandang menilai.
"Aku tahu. Kau yang menciumku kemarin, kan?"
DIA TAHU!
Kise merasa otaknya meledak menjadi seribu gumpalan lembut kecil tidak berbentuk. Demi apapun, bagaimana bisa Midorima tahu?! Dia tampak tak menunjukkan reaksi apapun sepuluh detik lalu saat Kise lewat di depannya! Lalu, bagaimana bisa? Apakah dia hanya menebak, ataukah...
Sebelum otaknya bisa membaca situasi, Kise sudah mendorong pundak Midorima menjauh darinya. "Apa yang kau lakukan?!" teriaknya. Suaranya terdengar marah, efek samping dari perasaan kacau yang hati dan otaknya alami. "Lepaskan aku! Kau pasti sudah sinting!"
Midorima tak melepaskannya, justru mencengkram pundak Kise makin erat. Satu tangan menangkap tangan Kise yang berusaha memberontak. "Ruang seni. Jam makan siang. Ciuman. Itu kau, kan?"
"Itu tuduhan gila!" Kise memberontak semakin keras, mencoba menyingkirkan tangan Midorima yang mengekangnya. "Kau pasti sudah kehilangan kewarasanmu! Tuduhanmu benar-benar sinting. Aku? Menciummu? Dalam mimpi tergilaku pun tidak akan!"
Midorima menatapnya tajam. Tampak memikirkan sesuatu. "Apa zodiakmu?"
"Apa?" Kise tak dapat mencegah pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Dia tahu, saat ini ekspresinya pasti terlihat sangat bodoh—jauh dari karakter pangeran yang diembannya, namun pertanyaan tentang zodiak adalah hal yang terlalu tidak terduga. Dia sudah menyusun daftar 'apa yang akan Midorima katakan jika dia tahu Kise menciumnya' dalam otak, dan zodiak tidak termasuk di dalamnya.
Dengan satu tangan, Midorima mengambil sesuatu dari dalam sakunya, melambaikannya di depan wajah Kise.
Saputangan sutra putih dengan mawar biru sebagai bordirannya. Benda keberuntungan gemini yang Kise bawa hanya karena iseng semata. Dia bahkan tak menyadari jika dia telah kehilangan benda itu.
Dan sekarang Midorima memilikinya, sebagai bukti atas dosa yang telah dilakukannya.
Wajah Kise memucat.
Namun, Midorima tersenyum kecil. "Kau menjatuhkannya."
.
...*...
.
Midorima sudah menemukannya. Sedikit lebih cepat dan lebih mudah dibanding perkiraannya.
Takdirnya.
Atau setidaknya, begitu seharusnya.
Seseorang yang menciumnya begitu jauh dari imajinasi Midorima. Seperti yang telah dikatakannya pada Akashi, dia menerima kemungkinan jika seseorang itu adalah laki-laki. Namun, sungguh, dia tak dapat menerima kenyataan jika sang takdir adalah pria tinggi dengan rambut pirang, tindik di telinga dan banyak pengikut wanita. Dia lebih terlihat seperti playboy yang bergonta-ganti perempuan tiap malam dibanding seseorang yang akan mencium laki-laki yang sedang tertidur.
Atau mungkin, Akashi benar. Ini semua hanya permainan. Taruhan gila sepertinya adalah kegiatan sehari-hari pemuda itu.
Pemuda itu, yang tidak dia ketahui namanya, menonjoknya di pipi dan kabur sambil mengatainya sinting. Midorima menyesal tidak sengaja mencium aroma kayu manis itu saat si pirang—siapa pun dia—lewat.
Namun, rambut halus yang membelai punggung tangannya saat Midorima mendorong pemuda itu ke pagar, aroma kayu manis kuat yang menguar dari balik telinga, dan ekspresi panik saat Midorima mengeluarkan saputangan—tidak ada keraguan, dia adalah orang itu.
Akashi menatap plester besar yang menempel di wajah Midorima. Sudah sepuluh menit sejak Midorima datang ke ruang dewan siswa, namun pemuda itu hanya berdiri diam di tepi jendela seperti patung. "Kau tidak datang untuk melakukan pekerjaanmu sebagai wakilku, bukan?"
Midorima hanya menoleh singkat. "Aku sudah menemukannya."
Akashi menghela napas panjang, "Tidak perlu mengatakan apapun, aku sudah mendengarnya."
"Gosip benar-benar menyebar dengan cepat," Midorima mengangkat bahu tidak peduli. Otaknya masih mengulang detail-detail pertemuannya dengan sang takdir—juga perpisahannya yang meninggalkan luka, secara harfiah. "Dia menyangkal."
Akashi memandangnya seolah Midorima adalah alien asing yang baru tiba di bumi, bukan teman yang dikenalnya sejak masih kecil. "Siapa pun akan menyangkal jika caramu seperti itu." Pemuda berambut merah itu duduk di kursinya dan menggeleng pelan. "Kau beruntung hanya mendapat satu tonjokan di wajah, bukan dicincang hingga ukuran mikro oleh gadis-gadis pengikutnya."
Midorima hanya membenarkan letak kacamatanya, menyilangkan tangan di dada dan mendengus pelan. Tak peduli pada kata-kata Akashi. "Karena kau sudah mendengarnya, kau tentu tahu siapa dia, bukan?"
Kau memojokkannya tanpa tahu siapa dia? Akashi tergoda untuk melemparkan pertanyaan itu. Melambaikan buku daftar siswa yang dimilikinya sebagai ketua dewan siswa, Akashi menjawab pertanyaan Midorima, "Kise Ryouta, kelas 2-7. Dia bekerja sebagai model profesional dan sering absen untuk pekerjaannya. Sudah delapan kali aku menolak para gadis yang mengajukan ide pembentukan klub penggemar Kise Ryouta. Kau juga akan tahu kalau kau melakukan pekerjaanmu sebagai wakil ketua." Gagal membaca ekspresi rumit di wajah Midorima, Akashi melanjutkan, "Dan kau benar, dia gemini."
"Sudah pasti itu dia," Midorima berkata dengan puas hati. Kise mungkin bisa meneriaki dan memakinya, namun ekspresi panik di wajahnya berkata lebih banyak dari mulutnya. Sepertinya, Midorima bukan satu-satunya orang yang tidak dapat jujur pada perasaannya sendiri. "Aku masih tidak paham mengapa dia mengelak."
Justru Akashi yang tidak mengerti apa yang tidak dipahami Midorima. Apakah Midorima Shintarou selalu tidak sepeka ini pada logika umum, ataukah dia hanya dimabuk oleh janji takdir? "Dia mencium laki-laki, tentu saja dia tak ingin kau dan orang lain mengetahuinya. Rumor tentang kalian sudah beredar sejak pagi."
"Benarkah?" Midorima bertanya ragu. Takao, teman sekelasnya, biasanya sudah mengejeknya habis-habisan jika ada rumor miring beredar tentang Midorima—sekecil apapun itu. Namun, pemuda itu begitu tenang hari ini, bahkan dia menghilang segera setelah bel makan siang berdentang, sesuatu yang begitu ganjil. Jika Takao diam saja, dia yakin gosip yang beredar pasti tidak seburuk itu.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Akashi bertanya serius pada temannya. "Apa kau benar-benar akan mengejarnya karena dia adalah 'takdir' yang sudah digariskan untukmu?"
"Aku ingin tahu takdir apa yang dibawanya untukku."
Jawaban itu jelas sudah diperkirakan oleh Akashi, pemuda itu hanya bisa tersenyum kecil. "Kau pikir, takdir macam apa lagi yang akan akan dibawa seseorang yang menciummu diam-diam?"
Midorima tidak tersenyum, tidak pula menampilkan ekspresi marah. Dia hanya menyentuh plester besar yang menutupi pipinya, matanya memandang jauh pada halaman belakang sekolah yang sepi. "Aku tidak akan berekspektasi terlalu besar. Aku tidak ingin merusak kejutan yang disiapkan kehidupan untukku."
Akashi tertawa pelan, "Kurasa, akulah yang akan lebih terkejut ke depannya."
.
...*...
.
Takao tertawa terpingkal-pingkal.
Kise mempertimbangkan untuk menonjoknya hingga babak belur.
Tidak cukupkah kesialannya hari ini? Dosanya terbongkar—di depan umum pula. Di tengah rasa malu yang melanda, dia tidak sengaja menonjok laki-laki yang dia sukai sebelum kabur. Para gadisnya bertingkah sedikit aneh. Dan sekarang, dia masih harus menghadapi tingkah buruk Takao juga?
Mengesalkan.
Harusnya dia menolak ajakan Takao untuk makan siang bersama di halaman belakang sekolah. Dia sudah mengorbankan bekal buatan tangan para gadis demi sepotong roti yang tidak sesuai seleranya, dan apa yang didapatkannya? Cemoohan. Sempurna. Benar-benar sempurna.
Dia berharap Takao mendesaknya mengklarifikasi tudingan Midorima, sesuatu yang dia yakin akan teman baik lakukan. Bagaimanapun juga, Kise menonjok Midorima tepat di wajah pagi ini. Dan seharian ini, Midorima berkeliaran dengan plester besar di wajah. Bukankah seharusnya Takao mengatakan sesuatu tentang itu?
"Ini gosip paling lucu yang pernah kudengar tahun ini—kecuali mungkin gosip jika Sakurai perempuan semester lalu." Takao mendengus beberapa kali, mencoba meredakan tawanya setelah melihat wajah Kise yang menggelap.
Kise menendang tulang kering Takao sekeras yang bisa dilakukannya dengan posisi duduk. Pemuda berambut hitam itu hanya sedikit mengerang sebelum tawanya kembali meledak. Kejadian tadi pagi menyebar sebagai gosip dengan intensitas yang mengerikan, gadis-gadis mulai memandangnya dengan tatapan aneh yang tidak Kise suka. "Harusnya aku memberi dia lebih dari sekedar satu pukulan," gumamnya.
"Hukuman berat menanti jika kau benar melakukannya," Takao terkekeh geli. Bersandar pada dinding luar gudang tempat mereka menghabiskan roti dan susu. "Lihat, sekarang siapa yang lebih pengacau di antara kita?"
"Seseorang sepertinya benar-benar menikmati situasi ini sampai mengundangku makan siang bersama, bukan?" Kise mengatakannya dengan nada dingin mengancam.
"Aku hanya prihatin karena kau sama sekali tidak punya teman laki-laki," Takao mengelak. Menjejalkan potongan terakhir rotinya ke mulut. "Lagi pula, Shin-chan segera pergi ke ruang dewan siswa—kutebak untuk main shogi. Aku tak sempat menggodanya."
"Dan kau memilih untuk menggodaku?" Kise mendengus sinis. Menyingkirkan roti yang tidak sesuai selera lidahnya. "Bersiaplah untuk mati."
"Mendengar kau baru mencium Shin-chan dengan ciuman ganas seorang pangeran di gudang peralatan olahraga sambil mengenakan kostum Phantom of The Opera milik klub drama, siapa yang tidak ingin menggoda?"
Kise hanya dapat mengedipkan mata beberapa kali mendengar cerita yang dibawa Takao. Ciuman ganas? Gudang peralatan olahraga? Phantom of The Opera? Bagaimana ciuman kecil di pipi bisa berubah menjadi kisah gila seperti itu? "Itu menggelikan! Siapa pun yang mengarangnya pantas mendapatkan Penghargaan Akutagawa."
"Oh, itu belum yang terburuk," Takao meminum susu keduanya, melirik pada roti yang tidak dimakan Kise. "Aku juga mendengar jika kau pernah dirawat di rumah sakit milik keluarga Shin-chan saat masih kecil dan Shin-chan jatuh cinta padamu yang terlihat seperti seorang gadis mungil yang cantik. Kalian bersumpah akan menikah saat dewasa. Namun, saat kalian bertemu lagi saat masuk SMA, Shin-chan melupakanmu, dan kau sakit hati padanya. Karena tidak tahan dengan perasaan itu, kau memojokkannya di ruang kesehatan, menutup matanya dengan perban, kemudian menciumnya sambil menangis dan memintanya untuk bertanggung jawab. Mereka bilang, kau bahkan melakukan hal-hal-berbahaya di sana."
"Terdengar seperti plot cerita di komik-komik kesukaan kakakku," Kise menggumam ngeri. "Tunggu dulu, dari mana kau tahu jika wajahku saat masih anak-anak terlihat seperti perempuan?"
Takao tertawa riang, mengabaikan pertanyaan Kise. "Aku menambahkan satu cerita versiku sendiri untuk meramaikan gosip itu, mau dengar?"
"Tidak. Terima kasih. Cukup kau dan para penggemar gosip itu saja yang tahu."
"Oh, kau tidak perlu malu. Dengan senang hati aku akan mengatakannya."
Kise benar-benar ingin membunuh Takao saat itu juga.
Tentu saja, Takao tidak menyadarinya—atau mungkin berpura-pura tidak menyadarinya. Dengan nada riang, dia berceloteh, "Kukatakan pada para gadis itu jika aku bertemu denganmu setelah kelas seni dan aku mengatakan padamu jika Shin-chan tertidur di sana. Jadi mungkin saja kau pergi untuk mengintip wajah tertidurnya dan tiba-tiba, perasaan cinta yang selama ini kau pendam meluap begitu saja. Begitu kuat hingga kau tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Shin-chan. Lalu kau kabur. Sayangnya, entah bagaimana Shin-chan bisa mengenalimu. Mungkin dengan kekuatan cinta. Dan semua berujung pada drama di depan gerbang sekolah." Takao menarik napas panjang setelah menyelesaikan ceritanya, tersenyum lebar. "Bagaimana? Ide ceritaku cukup bagus, bukan?"
Kise terdiam.
Tunggu...
Takao benar-benar hanya asal bicara, bukan?!
Dia tidak menguntit Kise ke ruang seni kemarin, bukan?!
Kadang-kadang imajinasi Takao bisa begitu... tepat. Ini mengerikan. Kise merinding, memikirkan kemungkinan untuk mulai berhati-hati pada Takao Kazunari mulai saat ini.
"Aku tidak pernah melihat Shin-chan bersikap seperti ini sebelumnya," Takao masih bicara. Kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius. "Dia memang aneh, eksentrik. Tapi, di saat yang sama, Midorima Shintarou tidak pernah kehilangan ketenangannya. Seolah, dia tahu apa yang akan terjadi dan dia sudah siap. Ini kali pertama aku melihatnya begitu kacau dan berantakan."
Kise menyipitkan mata, sedikit cemburu pada bagaimana cara Takao mendeskripsikan Midorima. Dia menutupinya dengan bergumam, "Kau benar-benar menikmati kekacauan ini, bukan?"
"Hidup akan jadi sia-sia jika kau tidak bisa menikmati apapun yang terjadi, kau tahu?" Takao bangkit dari duduk, menepuk-nepuk remah roti yang menempel di celananya. "Kali ini, ganti Shin-chan yang tak akan bisa melepaskan pandangannya dari seorang Kise Ryouta. Kurasa, itu hal bagus—untukmu."
Kise mengedipkan mata beberapa kali. Tidak bisa menelan kata-kata Takao. "A-apa?"
Takao tersenyum misterius, "Kau tertarik padanya kan?" Pemuda itu tertawa melihat ekspresi bingung dan ngeri yang Kise tampilkan. "Karena tak banyak orang yang betah mendengarkanku mengoceh tentang Shin-chan selama satu jam penuh. Dan kau harus melihat ekspresi apa yang kau pasang tiap aku menyebutkan namanya."
Refleks, Kise menyentuh wajahnya sendiri. Ekspresi macam apa?
Takao tertawa semakin keras. Menepuk pundak Kise simpatik. "Omong-omong, aku sudah mengumpulkan orang untuk karaoke minggu depan. Pastikan kau membawa gadis-gadis paling manis, oke?"
Takao pergi, meninggalkan Kise yang duduk membeku sendirian dengan roti yang hanya setengah termakan.
Sepertinya... sejak awal Kise sudah gagal mengendalikan situasi.
.
...*...
.
Kise sudah memutuskan untuk tidak akan lari lagi. Tidak, setelah apa yang terjadi. Takao sudah cukup berbaik hati untuk tidak mengatakan apapun pada Midorima. Menunda lebih lama hanya akan membawa lebih banyak masalah yang tidak perlu.
Dan Kise juga perlu membereskan masalah gosip yang sepertinya berkembang ke arah tidak terduga. Beberapa gadis menghampirinya, menjabat tangannya dan berkata 'aku mendukungmu' dengan wajah simpatik sebelum berlalu. Mereka pasti tipe gadis yang sama dengan anak-anak perempuan di keluarga Kise.
Kise bertanya-tanya apakah sekarang dirinya tampak seperti tokoh utama laki-laki di manga percintaan gay?
Mungkin memang iya.
Dia menunggu Midorima di depan kelasnya tepat setelah bel pulang berbunyi. Bersandar pada dinding dengan tangan terlipat di dada. Beberapa gadis yang melihatnya tersipu, beberapa lainnya terkikik.
Takao keluar dari kelas lebih dulu, dengan beberapa anak laki-laki—tanpa Midorima. Memukul pundak Kise sambil tertawa, "Jangan menghajarnya terlalu keras!" dan dia berlalu, diikuti beberapa anak laki-laki yang mencuri pandang penasaran.
Kise meringis dalam hati. Sepertinya besok akan ada gosip baru jika Kise memukuli Midorima sampai setengah mati.
Midorima keluar tak lama setelah itu, memandang Kise dengan tatapan menilai. Berhenti tepat di depannya, yakin jika dialah orang yang dicari sang model. "Kupikir kau akan kabur."
"Aku tidak pernah kabur—kecuali pagi tadi."
Midorima menaikkan kacamatanya. "Jadi, apa yang kau inginkan?"
Kise menarik napas panjang. "Kita perlu bicara."
.
... TBC...
.
A/N:
Halo, aku Hime Hoshina.
Jujur, aku lupa update kemarin. Cerita sudah beres, dan aku lupa mau publish. Kurasa daya ingatku memang kudu dipertanyakan. Jika ada bagian yang terasa janggal di chapter ini, aku minta maaf. Aku menulisnya dalam kondisi setengah sadar (aku masih sakit, dan harusnya aku memang nggak ngetik, tapi nggak ada kegiatan juga bikin badan makin nggak enak).
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
Salam,
Hime Hoshina.
Wonosobo, 15 Mei 2019.
.
.
.
Side Story (Akakuro)
Kuroko berangkat sekolah sambil menguap lebar. Sepertinya, bergadang hingga pukul empat pagi untuk belajar bermain shogi agak sedikit berlebihan. Pemuda berambut biru muda itu berpikir untuk tidur saja di kelas, toh, para guru tidak akan menyadarinya—mereka bahkan tidak pernah menyadari Kuroko Tetsuya ada.
Kuroko mengamati rombongan di depannya, sekumpulan gadis berambut panjang mengerumuni laki-laki yang dijuluki sebagai pangeran sekolah. Kuroko memandang laki-laki pirang yang berada di pusat kelompok itu, Kise Ryouta. Tinggi, pirang, dengan tindik di telinga. Laki-laki yang berhasil membuat setengah populasi perempuan di sekolah memanjangkan rambutnya hanya karena wawancara pendek di majalah tentang 'tipe gadis kesukaan'.
Kuroko tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya selalu menjadi pusat perhatian seperti itu. Pasti melelahkan.
Dia sudah menguap untuk kedelapan kalinya saat melihat Midorima berdiri di dekat gerbang, mengawasi siapa pun yang lewat dengan seksama, mengendus-endus udara. Jangan bilang dia serius hendak mencari orang yang menciumnya dengan cara itu? pikirnya geli.
Kuroko sedang menguap untuk yang kesembilan kalinya saat tiba-tiba saja Midorima bergerak, berlari melewatinya dan menarik kasar kerah belakang Sang Pangeran. Benturan keras dan teriakan para gadis terdengar saat Midorima mendorong Kise ke pagar sekolah.
Perkelahian? Kuroko menghentikan langkahnya.
Kise berteriak murka, "Apa yang kau—"
Midorima mengendus leher Kise.
Ah!
"Aku tahu. Kau yang menciumku kemarin, kan?"
Kuroko sudah menduganya.
Gadis-gadis pengikut Kise yang sebelumnya hendak ikut campur dan membebaskan pangeran mereka terdiam di tempatnya. Bahkan make up tebal pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi bodoh mereka.
Kise memberontak. "Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku! Kau pasti sudah sinting!"
"Ruang seni. Jam makan siang. Ciuman." Midorima berkata dengan kepercayaan diri yang entah datang dari mana. "Itu kau, kan?"
"Itu tuduhan gila! Kau pasti sudah kehilangan kewarasanmu! Tuduhanmu benar-benar sinting." Kise berteriak makin keras, tampak benar-benar marah saat ini. "Aku? Menciummu? Dalam mimpi tergilaku pun tidak akan!"
Midorima terdiam sejenak sebelum bicara. "Apa zodiakmu?"
"Apa?"
Pemuda berambut hijau mengeluarkan sesuatu dari sakunya, melambaikannya di depan wajah Kise sebelum membisikkan sesuatu yang tak dapat Kuroko dengar. Wajah Kise memucat saat itu juga. Beberapa detik berlalu dengan keheningan sebelum...
... Kise Ryouta menonjok muka Midorima Shintarou.
"MENYINGKIR DARIKU, ORANG ANEH! KAU BENAR-BENAR SINTING!"
Kise Ryouta berlari masuk ke sekolah diiringi dengan tatapan penasaran dari orang-orang yang melihat kejadian itu.
"Apa yang terjadi?" salah satu gadis pengikut Kise yang berdiri di dekat Kuroko bertanya.
"Sepertinya Midorima-kun baru saja menuduh Kise-kun... menciumnya?" gadis lain menjawab dengan ragu-ragu.
Kantuknya hilang seketika. Oh, Kuroko jadi punya alasan bagus untuk menemui Akashi pagi ini.
.
... TBC (?) ...
.
