Midorima harusnya dapat menduga sejak awal, Kise Ryouta tidak akan selalu menjadi kabar baik.

.

...*...

.

Disclaimer: Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi.

Saya tidak mendapat keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: BL, fluff, AU, OOC, miss typo(s) etc.

Selamat membaca ^^

.

...*...

.

"Apa yang mau kau bicarakan denganku?"

"Tidak bisakah kau beri aku sedikit waktu dulu? Aku belum siap! Aku perlu menata hati dan otakku!"

"Kenapa kau menciumku?"

"MENGAPA KAU LANGSUNG MEMBAHAS HAL ITU?!"

"Mengapa tidak?"

"Karena... seperti yang sudah kukatakan... aku perlu menata hati dan otakku lebih dulu. Ini terlalu cepat... aku tidak benar-benar siap... sesuatu seperti itu..."

Akashi Seijuurou berdeham pelan. Duduk di meja kerjanya sebagai ketua dewan siswa, mengerjakan pekerjaan tanpa dibantu orang lain, dia terpaksa harus mendengar pembicaraan dua laki-laki yang terdengar bernuansa merah muda dan penuh bunga? Tidak. Mereka tidak bisa melakukan ini padanya. "Jika kalian ingin bicara, tidak bisakah kalian memilih tempat lain?"

"Tidak," Midorima menolak dengan cepat. Meletakkan benda keberuntungannya di meja kerja Akashi. Sama sekali tidak melepaskan pandangannya pada Kise. "Dia tidak mau bicara di tempat umum, toilet, atau rumahku. Dia bilang, ini bukan pembicaraan yang bisa didengar orang lain. Tidak ada pilihan lain selain di sini."

"Tidakkah kalian menganggapku dan Kuroko 'orang lain' juga?"

Midorima dan Kise terdiam sejenak sebelum menyadari jika selain mereka dan Akashi, ada entitas seorang laki-laki lain di ruangan itu. Pemuda kurus dengan rambut biru muda dan mata besar yang duduk membaca buku di kursi malas sudut ruangan.

Kise melotot, "Sejak kapan dia ada di sana?!"

"Mungkin sejak awal," Midorima menjawab datar. Menaikkan kacamatanya untuk menutupi kekagetannya. Dia nyaris lupa jika dewan sekolah mereka memiliki satu anggota 'spesial' yang keahliannya adalah menghilang—secara harfiah.

Kuroko mengangkat kepalanya dari buku, mengangguk sopan. "Selamat siang, Midorima-kun, Kise-kun."

"Kau tahu namaku?" Kise bertanya, penasaran. Mengamati pemuda yang tampaknya lebih cocok disebut sebagai siswa SMP dibanding SMA.

"Kita sekelas."

"Tidak mungkin! Aku tidak pernah melihatmu sebelum ini!"

" Justru aneh jika kau menyadari keberadaanku."

"Tunggu dulu, aku tidak bisa mengikuti arah pembicaraan ini."

Akashi tersenyum miring pada Midorima, "Terlalu banyak gangguan, bukan? Kupikir kau seharusnya mempertimbangkan tempat baru. Aku bisa meminjamkan kunci gudang olahraga jika kau mau."

Kise mengerang. "Tolong jangan gudang olahraga. Aku tak mau ada season 2 kisah Phantom of The Opera."

Midorima mengibaskan tangannya tidak peduli. Mencengkeram pundak Kise dan memaksanya duduk di salah satu kursi. "Abaikan Kuroko—dan Akashi—kau akan bisa melupakan keberadaannya dalam hitungan detik." Sebelum Kise dapat memprotes sesuatu, Midorima kembali angkat suara, "Bukankah kau ke sini untukku?"

Akashi memilih untuk mengerjakan kembali pekerjaannya—seperti Kuroko yang kembali menundukkan kepalanya di atas buku. Terlalu banyak laporan untuk dibaca, tidak ada waktu untuk peduli pada masalah Midorima. Namun dia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir, seseorang sepertinya benci diabaikan.

Rona merah tipis singgah di pipi Kise, hilang dalam hitungan detik sebelum digantikan wajah kesal. "Aku memang mencarimu untuk bicara, namun aku sendiri tidak tahu apa tepatnya yang harus kita bicarakan."

"Bicarakan alasan mengapa kau menciumku." Midorima mengambil kursi di seberang Kise, mengamati pemuda itu dengan seksama. Tiap ekspresi yang silih berganti di wajahnya dengan cepat tak lepas dari pandangan tajam Midorima, apakah sesulit itu untuk bicara?

Kise membuang muka, mengintip reaksi Midorima dari sudut mata, "Tanpa perlu aku mengatakannya, kau pasti sudah tahu, bukan?"

"Permainan hukuman?"

Kise terdiam sejenak, mulutnya terbuka. Dia pikir Midorima akan menduga dengan 'Apakah kau menyukaiku?' seperti yang selalu terjadi di komik-komik kakaknya. Namun, sekali lagi, Midorima Shintarou adalah makhluk yang tidak bisa diprediksi nalar Kise. Jika boleh jujur, sesungguhnya Kise merasa sedikit terhina. Midorima berpikir jika Kise dapat mencium seorang laki-laki hanya karena sebuah permainan. Penilaian yang benar-benar buruk. "Kau pikir aku akan melakukannya karena alasan sesepele itu?" tanyanya masam.

"Ya," Midorima menjawab tanpa ragu.

Sungguh, Kise benar-benar ingin menangis dibuatnya. "Tega sekali kau berpikir seperti itu! Memangnya, seperti apa aku di matamu?!"

"Playboy yang pernah mengencani seluruh gadis di sekolah."

"Tidak. Mereka akan saling bunuh jika aku berusaha mengencani salah satu di antara mereka."

Midorima menajamkan matanya, mengamati Kise yang tampaknya tidak memikirkan apapun sebelum bicara. Laki-laki pirang di hadapannya terlalu gugup, terlalu panik, terlalu jujur—sampai taraf yang menyebalkan. "Apakah di matamu aku juga terlihat 'cantik'? Kau menciumku, ingat?"

Kise tidak menyangka Midorima bisa menyetir pembicaraan ini dengan begitu lihainya. Tapi sungguh, siapa orang yang berani mengatakan pemuda dengan tinggi nyaris dua meter dengan kata 'cantik'? Kise melipat tangannya di dada, kesal. "Kau pengecualian."

"Mengapa?"

Apakah Midorima benar-benar tidak peka atau dia hanya mempermainkan Kise semata?! Si pirang nyaris dibuat frustrasi olehnya, Kise berkata tegas, "Bukankah itu sudah cukup jelas? Aku menyukaimu! Jangan membuatku mengatakan hal-hal yang sudah pasti!"

Ada keheningan aneh yang terjadi di ruangan.

Kise sudah siap untuk ditolak dan ganti dipanggil sinting, tapi keheningan ganjil dan ekspresi Midorima yang masih tak bisa dibacanya membuatnya sedikit berharap. Pemuda itu menunduk, menggigiti bibir tanpa sadar. "Kau pikir ada alasan lain mengapa aku melakukannya?"

"Aku masih berpikir permainan hukuman adalah alasan yang lebih masuk akal."

Kise menutup wajahnya dengan kedua tangan. Emosi menggolak, sebegitu burukkah dia di mata Midorima? Hingga kata-katanya yang paling jujur sekalipun dianggap kebohongan? "Cobalah untuk memahami situasiku! Aku tidak pernah ingin mengatakan hal seperti ini. Aku sudah cukup puas hanya melihat dari jauh saja. Menyatakan cinta... dalam situasi seperti ini pula, tidak pernah ada dalam rencanaku. Ini membutuhkan keberanian besar! Sangat besar. Dan kau... kau menjawabnya dengan begitu kejam."

"Oh, Midorima tidak benar-benar berpikir begitu. Dia hanya berusaha menyembunyikan rasa malunya," Akashi yang sejak tadi diam menyahut. Tersenyum misterius pada Kise. "Satu-satunya hal yang tidak bisa dihadapi Midorima Shintarou dengan kejujuran adalah dirinya sendiri."

"Akashi!" Midorima menyahut dengan nada mengancam. Mulai menyesal tidak menerima tawaran Akashi untuk pindah ke gudang olahraga.

Akashi hanya tersenyum kecil. "Hanya sedikit meluruskan kesalahpahaman." Menandatangani salah satu dokumen, mengecapnya, dan meletakkannya di sisi lain meja. "Aku tak mau ruang dewan siswa dirusak para gadis karena pangeran sekolah kita keluar dari tempat ini sambil menangis."

"Aku tidak menangis," gumam Kise pelan. Pemuda itu membuka sedikit sela di antara jari-jarinya, mengintip ekspresi Midorima. Ada sedikit rona di wajah pemuda itu, dan alisnya berkerut. Dia membuang muka sambil menggumam sesuatu yang tak dapat Kise dengar.

Midorima berdeham pelan, masih memalingkan wajahnya. "Aku tidak terbiasa mendapatkan pengakuan cinta—"

Tentu saja, Kise selalu memastikan dia membuang semua surat dan hadiah yang ada di kotak sepatu Midorima ke tungku pembakaran sampah sebelum pemuda itu melihatnya.

"—aku tidak yakin bisa menerima perasaanmu saat ini."

Kise menundukkan wajahnya makin dalam. "Apakah ini artinya, kau menolakku?"

"Dia bilang 'saat ini'." Akashi memutuskan untuk kembali ikut campur, atau dia tidak akan segera mendapatkan ketenangan yang dibutuhkannya. "Kita tidak tahu bagaimana keputusannya jika itu besok atau lusa."

"Atau mungkin di akhir masa," Midorima menambahkan.

Kise sepertinya lebih percaya pada kata-kata Akashi dibandingkan Midorima. Membuka tangannya dan menatap Midorima dengan pandangan berharap. "Apakah aku masih boleh menyukaimu? Apakah aku boleh memperjuangkan perasaanku?"

Midorima membuang muka, tangannya kembali membenarkan letak kacamata—atau mungkin sekedar menutupi rona wajahnya yang terlalu merah. "Apa yang kau rasakan atau apa yang kau lakukan, itu pilihanmu. Selama kau tidak menciumku secara tiba-tiba lagi."

Kise tersenyum lebar, terlihat puas. "Bagus. Kalau begitu, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."

.

...*...

.

Midorima tengah duduk di sofa sambil mengeringkan rambut adik perempuannya.

Gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu berceloteh tentang apa yang terjadi hari ini di sekolahnya; tentang nilai matematikanya yang sempurna atau anak laki-laki usil yang terus menarik kepangan rambutnya dan memanggilnya 'rumput'. Sayangnya, syaraf pendengaran Midorima sedang memutuskan untuk tidak menyampaikan apa yang didengarnya ke otak, karena pikiran Midorima sedang berada jauh entah di mana.

Dia mendapatkan pernyataan cinta dari laki-laki.

Terlebih lagi, dari Kise Ryouta—yang menurut pendapat Kuroko—mendapat titel memalukan sebagai pangeran sekolah. Kuroko bilang, Midorima bisa menjadi target kebencian setengah populasi perempuan di sekolah jika sampai kabar ini terdengar. Seolah Midorima berniat membocorkannya saja.

Midorima tidak tahu dia harus bahagia atau sedih, orang paling diinginkan di sekolah menyukainya. Namun orang itu laki-laki. Kepalanya benar-benar kosong. Hatinya terasa aneh, ada perasaan asing yang tak dapat dia sebut namanya di sana. Perpaduan antara jengkel, geli, dan mungkin... kepuasan. Perlukah dia membuka kamus kanji untuk mencari tahu perasaan apa itu?

"... aku yakin itu adalah suka."

Midorima memelototi puncak kepala adik perempuannya yang baru saja mengatakan sesuatu—sesuatu yang paling tidak ingin Midorima dengar.

Gadis kecil itu sedang memeluk boneka beruangnya erat-erat, mulai tampak mengantuk. "Anak laki-laki sungguh tidak bisa jujur. Mengapa mereka menutupi rasa malunya dengan melakukan hal-hal jahat dibanding mengakuinya? Itu menyebalkan—Kakak, berhenti mengeringkan rambutku! Kepalaku mulai terasa panas!"

... adiknya tidak sedang membicarakan Midorima Shintarou, bukan? Midorima mematikan pengering rambut, tidak menyadari jika rambut adiknya sudah benar-benar kering. Dia mulai mengepangnya menjadi dua, hal yang selalu dilakukannya karena orang tua mereka biasanya belum pulang hingga tengah malam. "Apakah kau membenci laki-laki seperti itu?" Midorima bertanya.

Adik perempuannya menguap pelan. "Tidak. Aku tidak membencinya, tapi akan lebih baik jika mereka langsung mengatakannya, kan?"

Seperti yang dilakukan Kise. Tidak. Salah. Kise melakukan lebih dari sekedar mengatakannya. Kise menciumnya, kabur, menonjoknya, kabur lagi, kemudian menyatakan cinta.

Ah, Midorima tahu memang ada yang tidak benar dengan otak pemuda itu.

"Jika dia jujur, itu akan mempermudah segalanya. Dia tidak akan melukai orang yang dia sukai, dan orang yang dia sukai tidak akan membencinya."

Apakah ada kemungkinan Kise membenci Midorima?

Sepertinya mustahil, Kise sangat menyukainya sampai berani mencium Midorima. Namun, jika dipikir lagi, Midorima nyaris membuatnya menangis di ruang dewan. Dan suara Kise saat mengkritik sikap Midorima terdengar begitu... dingin dan penuh kemarahan—meski lenyap dalam hitungan detik digantikan oleh senyum riang dan tawa lebar.

"Tentu saja, aku akan menolaknya jika aku tidak menyukainya. Tapi, setidaknya, jika dia berkata jujur, aku pasti akan mulai memperhatikannya—mau tidak mau. Karena... kita tidak bisa mengabaikan perasaan seseorang, bukan? Apalagi jika orang itu menyukai kita. Dan mungkin, aku akan menyukainya juga satu saat nanti."

Midorima terdiam sejenak. "Apakah sejak tadi kau membicarakan masalahmu sendiri?"

Adik perempuannya mengedipkan kedua mata besarnya, merengek, "Jangan bilang, sejak tadi Kakak tidak mendengarkanku?!"

Sementara adiknya protes dan memukuli pelan tangan Midorima, pemuda itu tidak bisa berhenti berpikir, bahkan adiknya yang usianya nyaris separonya punya pandangan yang lebih dewasa mengenai cinta.

Midorima hanyut dalam pikirannya, sampai lupa mengatakan pada adiknya jika gadis kecil itu masih terlalu muda untuk berurusan dengan cinta.

Setelah mengantarkan adiknya, ke tempat tidur. Midorima yang duduk terdiam di depan televisi sambil menunggu ramalan Oha Asa dimulai, bergumam pada dirinya sendiri.

"Mungkin seharusnya aku memperlakukannya dengan sedikit lebih baik."

.

...*...

.

Jika biasanya Kise turun dari kereta disambut oleh sekelompok gadis yang langsung mengerumuninya, kali ini ada yang ganjil. Tidak, gadis-gadis itu masih di sana, setia menunggu sambil memperbaiki make up yang rusak dibawa menunggu terlalu lama. Namun, ada hal lain yang tertangkap mata Kise...

... pria tinggi berambut hijau yang berdiri tak jauh di belakang gadis-gadis itu—dan satu pot bunga mawar di tangannya.

Tunggu, bukankah Midorima berangkat sekolah dengan berjalan kaki? Kise yakin Takao pernah menertawakan ide berangkat sekolah dengan gerobak yang diutarakan Midorima. Lalu, mengapa dia ada di stasiun?

Tidak mungkin dia... menungguku?

Kise membiarkan imajinasi melambung dan tertawa dalam hati. Tidak, mustahil Midorima menunggunya. Setelah pembicaraan kemarin, Kise yakin jika dia harus berusaha ekstra keras untuk mengejar Midorima. Dan, jika menilai dari plot cerita komik-komik kakaknya, Kise yakin Midorima akan berusaha menjauh dan mengusirnya.

"Kise-kun," salah satu gadis yang menunggunya menghampiri. Menggandeng lengannya posesif seolah itu hal yang wajar dan bergelayut manja di sana. Matanya tidak mengarah pada Kise, melainkan pada pria lain yang menjadi tokoh utama gosip kemarin, pandangannya mengancam. "Kudengar kau berkelahi, itu tidak benar bukan?"

Kise mencuri pandang pada Midorima—yang entah mengapa sedang memandangnya juga. Si pirang menundukkan pandangannya dan tertawa canggung. "Kami cuma bicara. Kesalahpahaman kecil. Dan aku juga harus meminta maaf karena sudah memukulnya."

"Kau terlalu baik," gadis lain berkata. "Dia menuduhmu melakukan hal gila! Wajar jika kau marah."

Yah, Kise memang benar-benar melakukan hal gila itu, tapi dia tak ada niat untuk membeberkannya pada para gadis.

Mereka hendak berlalu saat—sekali lagi—kerah Kise ditarik dengan kasar. Ah, Kise merasa kenal sensasi tercekik ini.

"Apa yang kau lakukan?!" para gadis yang pernah mengalami hal ini sebelumnya tak lagi kehilangan suara. Salah satunya memegangi tangan Kise dengan protektif. "Jangan berurusan Kise-kun lagi! Kau mengganggunya!"

Kali ini Kise sedikit kesal pada para gadis yang bicara seolah mereka benar-benar tahu apa yang Kise rasakan.

"Aku perlu bicara dengannya," Midorima menjawab dingin. Ganti menggamit lengan Kise, memaksanya untuk mengikuti Midorima. "Dan itu bukan urusan kalian."

"Apa kau bi—"

"Sekarang?" Kise memotong cepat sebelum segalanya makin kacau. Bagaimanapun juga, beberapa mata penasaran sudah mulai memperhatikan keributan kecil yang mereka timbulkan. "Kupikir kita sepakat untuk bicara lagi sepulang sekolah," dusta Kise.

Para gadis yang beberapa saat lalu bertingkah seolah mereka hendak pergi berperang melembutkan ekspresinya setelah mendengar kata-kata Kise.

"Aku berjanji untuk membantunya mencari orang yang menciumnya," Kise melebarkan dustanya. Mengembangkan senyum palsu untuk menenangkan para gadis. "Kurasa menundanya semakin lama akan mempersulit kami untuk mencari orang itu. Jadi, maaf. Meski kalian sudah susah payah menungguku..."

Melihat ekspresi bersalah di wajah pangerannya—yang jelas-jelas palsu dan hanya sandiwara semata—para gadis itu luluh. Sambil menggumam, "Jika Kise-kun berkata begitu," dan melemparkan tatapan mengancam pada Midorima, gadis-gadis itu menyingkir.

Kise menarik napas lega.

"Membantuku mencari orang yang menciumku?" Midorima mendengus pelan. "Kebohongan menarik, mengingat KAU yang melakukannya. Bagaimana caramu mencari dirimu sendiri?"

"Aku hanya perlu menatap cermin, mudah saja." Kise menjawab sambil merapikan kerahnya yang kusut. Tidak terganggu pada cemoohan Midorima. Menurut Kuroko, jika Midorima mulai mengoceh, artinya pemuda itu sedang menutupi rasa malunya. "Omong-omong, bisakah kau hentikan kebiasaanmu menarik kerah seragamku untuk memanggilku? Suatu saat aku bisa benar-benar mati tercekik."

Midorima mengabaikannya, memandu untuk mengambil jalan memutar menuju sekolah yang berbeda dengan yang diambil para gadis.

"Jadi, ada apa? Aku tidak ingat membuat janji untuk berangkat sekolah bersama." Meski semalam Kise benar-benar mempertimbangkan untuk menjemput Midorima di rumahnya. Tapi, tentu saja, itu gila. Sedikit menakutkan, bukan, jika seseorang yang tidak kau kenal sebelumnya tiba-tiba tahu di mana kau tinggal?

Sudah cukup buruk Midorima tahu Kise menyukainya, kariernya sebagai stalker akan jadi rahasia hingga mati.

Midorima mengambil beberapa waktu sebelum menjawab pertanyaan Kise, "Aku hanya merasa aku harus berusaha untuk mengimbangi usahamu juga."

Kise mengedipkan matanya, bertanya tanpa kata.

"Mengabaikanmu saat tahu kau sedang berjuang, itu sikap yang benar-benar buruk."

Hati Kise berdebar keras saat mendengarnya. Oh, Tuhan, katakan bagaimana bisa dia tidak jatuh cinta pada seorang Midorima Shintarou? Kise menepuk kedua pipinya, mencegahnya berubah merah. "Bukankah kebanyakan orang akan menjauh saat mendapatkan pernyataan cinta dari gender yang sama?"

"Sepertinya kau berpengalaman dengan laki-laki."

Apakah dia cemburu? Kise berteriak dalam hati. Menghela napas panjang dan menggeleng pelan. "Jika bukan karena kau, aku pasti sudah mengencani gadis paling cantik di sekolah kita, atau supermodel ternama." Si pirang tertawa pelan, menyadari kemustahilan dalam kata-katanya sendiri. "Kalaupun ada pengetahuan tentang cinta sesama jenis yang kumiliki, terima kasih pada kedua kakak perempuanku—mereka tergila-gila pada komik gay."

Kise mengoceh, membicarakan apapun yang singgah di otaknya, Midorima hanya menanggapi dengan beberapa gumaman singkat. Si pirang akhirnya mengerti mengapa Midorima menyembunyikan rasa malunya dengan berbicara. Bicara mengalihkan perhatiannya dari hal-hal kecil yang membuat Kise grogi, memberikannya sedikit rasa aman.

Hei, dia berangkat sekolah bersama Midorima Shintarou!

Hingga kemarin, kemungkinan hal ini terjadi nyaris nol. Kise tidak pernah berharap segalanya akan terjadi secepat ini.

Midorima berjalan di sampingnya, mendengarkannya bicara, mengatakan 'oh' dan 'hm' tiap kali Kise mengambil jeda, dan tiap beberapa langkah sekali, bahu mereka bersentuhan. Mereka terlihat seperti pasangan romantis, bukan?

Kebahagiaan ini cukup untuk membunuh Kise.

"Hei," Midorima memotong cerita Kise tentang kedua kakak perempuan yang bertingkah seperti ratu jika di rumah dengan panggilan pendek. "Mengapa kau menyukaiku?"

Kali ini, Kise gagal menahan rona muncul di wajahnya. Dia benci bertingkah seperti seorang gadis remaja, namun kulitnya yang putih terkadang menjadi pengkhianat. Dia memalingkan muka, "Mengapa kau tiba-tiba bertanya?" suaranya sedikit bergetar, sial.

"Karena itu terlalu aneh."

Tentu saja. Mereka tidak pernah bicara sebelumnya, tidak pernah berinteraksi. Keduanya seolah hidup di dunia yang berbeda meski tiap hari berada di sekolah yang sama. Andaikata Kise tak pernah mencium Midorima, hingga mereka lulus dan berpisah, Midorima mungkin tak akan pernah tahu namanya.

Kise paham, cepat atau lambat, Midorima pasti akan mempertanyakan alasannya, menggunakan kalimat seperti 'kau tidak mengenalku, kau jatuh cinta pada aku yang ada dalam pikiranmu, bukan aku yang sesungguhnya, sebaiknya kita hentikan saja ini,' untuk menolak Kise.

Si pirang tersenyum kecil, terlihat misterius, seolah menyimpan rahasia. "Aku belum bisa mengatakannya sekarang—"

Midorima menatap sendu yang singgah di mata Kise.

"—tapi yang jelas itu tidak ada hubungannya dengan rumah sakit, janji masa kanak-kanak, atau mukaku sepuluh tahun lalu."

Mungkin dia hanya berhalusinasi.

Kise tertawa, menggaruk kepalanya grogi dan menyelaraskan langkahnya dengan Midorima. "Tapi, aku pasti akan mengatakannya," bisiknya pelan. "Mungkin saat kau sudah muak pada hubungan ini dan menolakku. Atau saat kau akhirnya jatuh cinta padaku. Atau ketika kita mengambil yang berbeda. Saat itu, aku akan mengatakannya."

Midorima tidak mendesak, hanya mengangguk kecil.

Keduanya berjalan selama beberapa menit dalam keheningan. Kise tidak tahu bagaimana bisa mulutnya membisu. Otaknya bergerak cepat mencari topik untuk berbicara, untuk mencairkan suasana, namun mulutnya terkatup rapat.

"Mau pergi ke suatu tempat setelah sekolah?"

Kise menoleh cepat, melotot tidak percaya pada Midorima yang sedang menaikkan kacamatanya dengan grogi. "Bisakah kau mengulangi pertanyaanmu? Aku rasa aku salah dengar."

"Mungkin makan, atau ke toko buku, atau... tempat ke mana kau bisa pergi."

Baiklah, Midorima tidak mengulang pertanyaannya, namun Kise juga tidak salah dengar.

Tunggu, apakah ini... kencan?

Apakah benar Midorima Shintarou mengajak Kise Ryouta kencan sepulang sekolah seperti pasangan-pasangan manis yang dimabuk asmara? Kise bisa mati bahagia saat ini juga.

"Karena kau bilang kau ingin membuatku jatuh cinta padamu, kupikir aku harus mengenalmu lebih dulu. Karena sekarang, kau masih bukan siapa-siapa buatku."

Tidak, Kise tidak bisa mati dulu saat ini—atau dia akan jadi arwah penasaran yang menangis tiap malam. "Aku tidak bisa."

Midorima sepertinya tidak memperkirakan penolakan. Ekspresi kagetnya menggantikan pertanyaan 'Kenapa?'.

"Aku membolos kegiatan klub kemarin. Jika aku membolos lagi, Senpai pasti akan menghajarku."

"Kau mengikuti kegiatan klub?" Midorima terdengar tidak percaya.

Kise menghela napas panjang, bosan pada reaksi seperti ini. "Aku tahu, dengan penampilanku, orang pasti berpikir aku adalah tipe yang langsung pulang untuk bermain dengan para gadis sepulang sekolah. Tapi tidak! Aku cukup serius dengan kegiatan klubku."

"Klub apa yang kau ikuti?" Midorima bertanya, mengamati Kise dari atas ke bawah, kembali ke atas, "Basket? Musik? Memasak?"

"Tidak pernah ada yang mendugaku masuk klub memasak sebelumnya," Kise bergumam pelan. Menatap Midorima sejenak, memperkirakan reaksi apa yang akan dikeluarkan Midorima jika mendengar jawaban yang benar. Bergumam pelan, "Astronomi."

"Apakah kita membicarakan astronomi yang sama—bintang, planet, meteor, komet..."

"Ya, bintang, planet, meteor, komet. Tidak ada astronomi yang lain."

Dan meski dapat dikatakan jika ini adalah kali pertama Kise melihat Midorima tertawa, pemuda itu tidak bisa merasa senang.

.

...*...

.

"Omong-omong, boleh aku memanggilmu Midorimacchi?"

"Mati saja kau."

.

...*...

.

Takao mengeluarkan senyum lebar, selebar senyum kucing di Wonderland.

Midorima memiliki firasat buruk.

"Seseorang sepertinya dimabuk cinta." Memutar kursinya, pemuda yang mendaulat dirinya sendiri sebagai sahabat karib Midorima itu menyangga kepalanya dengan kedua tangan, siap mendengar gosip terbaru. "Kemarin siang, dan pagi ini, berduaan penuh cinta. Pasangan baru memang benar-benar curang."

Midorima memakan bekalnya dengan tenang, tidak terpengaruh. "Bukankah kau yang makan berdua dengannya di halaman belakang, kemarin?"

"Kau melihatnya?" Takao melebarkan senyumnya—Midorima bertanya apakah senyum itu akan sampai ke telinganya atau tidak. "Kutebak, kau pasti cemburu."

"Tidak."

"Kau tidak jujur, dasar tsundere."

"Aku jujur."

"Kuharap kau segera dicincang oleh para gadis di sekolah ini."

Midorima membiarkan Takao mengambil telur gulung di kotak bekalnya, karena marah hanya akan membuang-buang tenaga. "Dia mengatakannya padamu?"

"Tidak. Aku hanya menebak-nebak. Tidak ada yang bisa dilewatkan oleh mata elang Takao Kazunari jika itu berhubungan dengan percintaan!" Takao mengambil satu tomat ceri, masih diabaikan. "Tidakkah kau senang, untuk pertama kalinya ada yang menyatakan cinta padamu di masa sekolah? Kini kehidupan SMA-mu yang abu-abu akhirnya mulai dihiasi warna bunga sakura."

Andai saja Midorima mempelajari bagaimana cara Akashi membungkam seseorang hanya dengan pandangan mata, dia pasti akan membuat Takao mati kutu detik ini juga. "Kami tidak berkencan."

"Jadi kalian memilih untuk memulainya sebagai teman dulu? Saling mengenal lebih dalam sebelum hati kalian saling terkait. Romantis."

"Tidak juga—dia tidak memintanya."

Takao memasang ekspresi ngeri yang terlihat terlalu dibuat-buat. Menutup mulutnya tidak percaya. "Jangan bilang kalian... sex fri—"

"Aku akan melenyapkanmu detik ini juga."

"Aku hanya bercanda!" Takao membuka bungkus rotinya dan mulai makan, meski matanya tidak lepas dari udang goreng di kotak bekal Midorima. "Jika kalian tidak berkencan, tidak memulai sebagai teman, tidak pula sex—oke, oke—menjalani hubungan fisik demi kepuasan seksual semata... aku tidak menemukan nama hubungan yang tepat untuk menjelaskan mengapa kalian berangkat bersama pagi ini."

Midorima sendiri tidak bisa memberi nama pada hubungannya dengan Kise. Mereka praktis dapat dikatakan orang asing, kecuali fakta jika Kise menyukainya dan Midorima berusaha merespons perasaan itu—baik respons positif atau negatif. "Dia hanya mengatakan akan membuatku jatuh cinta padanya."

"Seperti yang diharapkan dari pangeran sekolah! Benar-benar keren. Aku yakin 90% gadis pasti akan takluk detik itu juga jika menghadapi situasi seperti itu."

Midorima tidak mau menanyakan imajinasi gila macam apa yang singgah di kepala Takao, tidak, dia sudah belajar dari pengalamannya.

Takao memutuskan untuk mencomot udang goreng Midorima, yang berhadiah tatapan mematikan. "Aku mendukung dia."

"Kau sepertinya tidak masalah jika aku menjadi gay."

"Tentu saja, itu masalahmu, bukan masalahku." Takao mengangkat bahu tidak peduli, terkekeh pada wajah masam Midorima. "Lagi pula, dia sudah lama menyukaimu."

Midorima menyipitkan mata di balik lensanya, Takao sepertinya mengenal lebih intim Kise Ryouta dibandingkan sekedar 'pernah makan siang bersama'. Entah mengapa, ini membuat Midorima sedikit kesal. "Berapa lama?" tanyanya.

"Sejak aku menyadarinya? Tiga bulan. Perkiraanku? Hampir setengah tahun—sejak dia mulai mengadakan kencan kelompok, omong-omong aku mengenalnya dari acara semacam itu, jadi berhenti cemburu. Yang sesungguhnya? Hanya Kise dan Tuhan yang tahu." Takao menghabiskan rotinya. Menatap ke luar jendela dengan tatapan melamun palsu, mencoba bertingkah dramatis seperti aktor di drama remaja sekolah yang sedang populer. "Mungkin aku harus mempertimbangkan untuk memanggilnya, Ryou-chan... atau lebih baik lagi; Kakak Ipar."

"Kau sudah gila."

"Jangan mengatakannya padaku. Katakan pada dirimu sendiri di masa depan."

"Kau benar-benar sudah gila."

"Bahkan ramalanmu pun, tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di depan sana, Shin-chan."

.

...TBC...

.

A/N:

Hai, Hime Hoshina di sini.

Jujur, aku berniat menulis cerita ini tanpa plot pasti. Hanya gambaran-gambaran kasar untuk chapter-chapter berikutnya. Karakterisasi itu sulit, memasukkan karakter Kise yang meledak-ledak namun di sisi lain juga sinis dan Midorima yang tidak bisa jujur namun sebenarnya sangat peduli cukup sulit. Aku akan berusaha lagi untuk ke depannya.

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Salam,

Hime Hoshina.

Wonosobo, 21 Mei 2019

.

.

.

Side Story (Akakuro)

Kuroko Tetsuya resmi memiliki nama panggilan 'Kurokocchi'.

Dan untuk pertama kalinya, cukup banyak pandangan mata jatuh ke arahnya—kebanyakan dari para gadis yang memandang curiga.

"Kurokocchi, kau sudah bergabung dengan dewan siswa sejak kelas satu, bukan?" Kise, yang mengambil alih tempat duduk Kagami, berceloteh. "Artinya kau sudah mengenal dekat Midorimacchi sejak saat itu, bukan?"

"Kami tidak dekat." Kuroko menutup buku shogi-nya. Dia tidak paham. Dan mungkin tidak akan pernah paham isi buku tersebut. "Kise-kun tidak bisa menggali informasi apapun dariku."

"Eeeeeh? Tapi Dewan Siswa melakukan banyak kegiatan bersama. Kalian pergi berkemah di musim panas, mempersiapkan festival sekolah dan pekan olahraga, bahkan belajar bersama."

"Aku tidak pandai menghadapi Midorima-kun. Dia lebih sering bersama Akashi-kun."

"Apa kau cemburu?"

Kuroko hanya menatap Kise yang sedang tersenyum dengan matanya yang besar. "Apakah semudah itu membacaku?"

"Bukankah mereka bilang orang yang sedang jatuh cinta akan bisa mengenali sesamanya?" Kise melembutkan senyumnya, menghela napas panjang. "Terutama mereka yang bertepuk sebelah tangan."

Kuroko menatapnya sejenak, menilai, kemudian menggeleng pelan, "Tetap saja, aku tidak tahu banyak hal tentang Midorima-kun."

"Baiklah kalau begitu," Kise merengut, namun tidak pergi dari kursi Kagami. "Omong-omong, ibuku mengikuti kelas minum teh seminggu sekali di akhir pekan. Dia bercerita jika ada anak laki-laki dari sekolah kita yang mengikuti kelas itu juga. Aku yakin ibuku memanggilnya 'Seicchi' dan berkata jika rambutnya merah."

Kuroko menegang di bangkunya.

"Ibuku suka mengambil gambar untuk kenang-kenangan, sebulan lalu mereka mengadakan acara minum teh dengan pakaian tradisional. Aku yakin melihat beberapa foto 'Seicchi' di sana."

Kuroko mendongakkan kepala, menatap serius, "Kimono?" tanyanya.

"Kimono hitam. Lengkap dengan haori."

"Tanyakan segalanya padaku tentang apa yang ingin kau tahu tentang Midorima-kun, Kise-kun. Aku bisa menjawabnya."

Tim baru telah terbentuk.

.

... TBC (?) ...

.