II
Seokjin berjalan berdampingan dengan Hakyeon memasuki bandara JFK, New York. Mereka mendapatkan kabar bahwa seorang penumpang pesawat ditahan sekuriti custom karena barang bawaan di dalam ketiga kopernya yang memicu alarm keamanan. Hakyeon berkata mungkin ini ada kaitannya dengan The Dutchman.
"Penumpang bernama Toby Field. Ini barang yang dibawanya", Hakyeon membuka ketiga koper penumpang pesawat yang berisi tiga lusin buku kuno. "Dia berkerja sebagai penjual buku langka, kau tahu ini apa?", Hakyeon menyerahkan buku berwarna merah dengan gambar tujuh kurcaci di sampulnya kepada Seokjin.
"Blancanieves y Los Siete Enanos8", Seokjin mengernyit. "Snow White and The Seven Dwarves".
8Blancanieves y Los Siete Enanos: Bahasa Spanyol untuk "Putri Salju dan Tujuh Kurcaci".
Hakyeon mengangguk, "Penjual buku itu memiliki dokumen lengkap. Ia membawa jenis dan jumlah barang yang konsisten pada tiga penerbangan sebelumnya", Seokjin meneliti buku Snow White yang tampak tidak mencurigakan. "Apa menurutmu dia bersih?".
Hakyeon menggeleng dengan senyum tipis, ada sesuatu tentang Toby Field yang membangkitkan firasat buruknya.
"Untuk seseorang yang memiliki dokumen lengkap, Field terlihat gelisah".
Seokjin ikut tersenyum, "Bagus. Kalau begitu, aku akan bicara dengannya", Hakyeon mengangguk sebelum mereka berdua berjalan menuju ruang keamanan bandara, dimana Toby Field terduduk sembari meremas jemarinya waswas.
"Toby Field, aku Kim Seokjin, FBI", Seokjin menunjukkan tanda pengenal bertugasnya. Field terengah dengan kekehan gugup, tidak mengharapkan masalahnya menjadi serumit ini. "Yah, seperti yang sudah kukatan berulang kali, pekerjaanku adalah mengimpor dan menjual buku buku langka", jawab Toby menghindari pandangan Seokjin.
"Langka? Kau memiliki 600 kopi", ujar Seokjin yang hanya dibalas dengan kekehan resah Toby.
"Snow White, dalam bahasa Spanyol?", tanya Hakyeon yang kembali meneliti buku Putri Salju.
"Yah, Snow White tidak diciptakan oleh Disney, Detektif", ujar Toby sedikit meremehkan.
Hakyeon tersenyum singkat, "Aku federal agent. Dan maksud anda cerita rakyat seperti "Tale of The White Princess and The Seven Knights", karya Alexander Pushkin?", Field terengah kaget, tidak menyangka akan jawaban Hakyeon yang masih tersenyum. Seokjin menahan tawa, ia mengerti Hakyeon memiliki pengetahuan yang luas dibalik sikap sederhananya.
"Sekarang, katakan yang sebenarnya kepada kami", Hakyeon menatap Toby tajam. "Untuk apa buku buku itu?".
Sebelum Toby sempat menjawab, pintu ruang keamanan terbuka dan seorang pria berkepala botak melangkah masuk. "Saya sangat menghargai bila Anda tidak berbicara dengan klien Saya", pria berjas kelabu itu melirik Seokjin dan Hakyeon sebelum mendekati Toby Field yang tergagap kalut.
Seokjin tidak bergerak, terus mengamati pengacara Toby hingga ia menghela napas panjang. Mereka tidak mempunyai pilihan selain berhenti menginterogasi Field dan meninggalkan mereka berdua sendiri.
"Ayo", Seokjin berjalan dengan Hakyeon yang mengikuti di belakangnya dengan terpaksa.[]
Bandara John F. Kennedy, New York, ramai oleh penumpang pesawat yang hilir mudik dengan roda koper menggelinding di belakang mereka. Seokjin berhenti diantara kerumunan pengunjung yang berlalu lalang melewati pintu utama.
"Hakyeon, apa kau melihat costum inspector bandara?", Hakyeon mengangguk dan menunjuk seorang pria paruh baya yang berseragam biru gelap.
"Hei! Mengapa kau tidak memberitahu kami bahwa Field menelpon pengacaranya?", tanya Jin tegas sembari mendekati inspektur keamanan. "Sekarang, kami tidak bisa menginterogasi dan mendapatkan jawaban!", custom Inspektur bandara itu terkejut sembari menggeleng bingung.
"Apa yang kau bicarakan, Agent Kim? Toby Field sama sekali tidak membuat panggilan".
Seokjin mendengus kesal, "Lalu bagaimana pengacaranya tahu kalau‒". Seketika itu juga, Seokjin bertukar pandang dengan Hakyeon tegang. Mereka berdua langsung berlari menuju ruang keamanan airport, Seokjin mengumpat keras ketika melihat Toby Field yang sudah tergeletak lemas dengan jarum suntik menancap di leher.
"Panggil paramedis kesini!", Hakyeon berteriak keras. "Sekarang!".
Satu satunya petunjuk mereka kepada 'The Dutchman' kembali hilang.[]
Rak rak kayu melengkapi tiap sisi dinding apartemen, bersisi koleksi buku sejarah dan perkamen langka yang sudah terbaca habis. Kanvas disandarkan disudut kiri dengan lukisan realistis yang baru setengah jadi. Pintu kaca membingkai bagian timur apartemen, memanjang ke balkon kecil yang langsung menghadap ke pemandangan kota New York. Apartemen Jeon Jungkook terlihat seperti rumah seorang seniman, menyembunyikan misteri ditiap lapis dinding yang mengelilinginya.
Jungkook pun membuka pintu apartemen perlahan sembari menyesap kopi yang ia beli tak jauh dari jarak radius anklet-nya. Jungkook terkejut ketika ia melihat seorang pria yang tengah duduk di kursi kerjanya dengan santai.
"Halo?", Jungkook menyuara ketika pria itu berbalik badan dengan senyuman lebar, kacamata besarnya bertengger di hidung seperti yang terakhir kali Jungkook ingat. Jungkook terkejut bukan main ketika mengenali lelaki yang tertawa cerah itu, "H-Hobi-hyung?!", sudah empat tahun ia tidak bertemu dengan Jung Hoseok.
"Hei, Kook! Bagaimana kabarmu?", Jung Hoseok memeluk Jungkook dan memberi remasan erat pada pundaknya. Ia terkekeh melihat tracking anklet di kaki kiri Jungkook yang berkedipan hijau. "Jeon Jungkook bekerja dengan FBI? Menarik", Jungkook hanya membalas dengan seringai kecil.
"Hyung, kau datang pada waktu yang tepat. Aku membutuhkan bantuanmu", ujar Jungkook yang langsung dibalas dengan anggukan mengerti Hoseok.
"Aku sudah mendengar, Kook. Taehyung pergi ketika kau dipenjara, kan? Aku tak menyangka dia akan menghilang tanpa alasan", Hoseok mendesah ketika Jungkook mengernyit sedikit kesal.
"Sebuah hubungan memang tidak pantas untuk orang seperti kita, Jungkook. Kita itu penipu, kita tidak boleh terkait dengan orang lain, oke?", Hoseok menaruh buku tebal yang sudah hampir selesai dibacanya. Jungkook tidak menjawab, semua yang dimilikinya bersama Taehyung bukan kebohongan, tidak ada permainan yang mempengaruhi perasaan Jungkook terhadap Kim Taehyung.
"Tapi, karena kau teman baikku, aku akan mencari tahu kemana Taehyung pergi".
Jungkook melebarkan bola matanya terkejut, "B-Benarkah?".
"Ya", Hoseok kembali merangkul Jungkook. "Aku akan kemari setelah mendapatkan informasi tentang Taehyung", Jungkook pun tersenyum manis kepada Hoseok sebelum pria itu menghilang dibalik pintu apartemen. Setidaknya, Hoseok akan mengorek informasi tentang Kim Taehyung sementara Jungkook terikat dibawah pengawasan FBI.
Baru saja Jungkook hendak merebahkan diri di ranjang, ponselnya berdering nyaring. Nama 'Kim Seokjin' yang tertera di layar ponsel membuat pria itu mendengus panjang.
"Halo?", Jungkook menjawab sembari memejamkan mata lelah.
"JFK Airport, sekarang", ujar Seokjin ketus.
"Sekarang?", tanya Jungkook yang kembali terduduk kaget.
"Kecuali penjara terdengar lebih asyik bagimu?", Jungkook langsung memakai jaketnya dan beranjak keluar dari apartemen tanpa mempunyai pilihan lain. Ia melesakkan tubuhnya ke dalam taksi dan meluncur ke bandara JFK, New York.
Ia harus segera sampai sebelum Kim Seokjin naik pitam dan kembali menjebloskannya ke penjara.[]
Seokjin bersidekap di samping tumpukan buku Snow White yang masih diamankan oleh sekuriti bandara. Jungkook mengangguk kearah Seokjin dan langsung bergabung dengan para rekan kerjanya yang tampak penat.
"We got a dead book dealer, a killer lawyer, and a bunch of worthless books", Seokjin melempar buku Putri Salju yang ditangkap oleh Jungkook dengan cepat. "Kau penipu yang handal, kan, Jeon? Apa menurutmu keterkaitan Dutchman dengan buku ini?".
Jungkook memeriksa sampul buku Snow White dan meneliti isinya, "Diterbitkan di Madrid tahun 1944. Kurasa, ini yang dia inginkan", Jungkook menunjuk kertas kosong halaman awal buku Putri Salju dengan mata terfokus.
"Apa?", Seokjin mengernyit dan mendekati Jungkook yang masih memeriksa kertas cetak Snow White.
"Perkamen asal Spanyol, inilah yang diinginkan oleh Dutchman". Seokjin meraih buku di tangan Jungkook, memeriksanya sebelum mengangguk.
"Good. This is good".
Hakyeon berdeham ketika Jungkook tersenyum puas, "Jadi, The Dutchman akan memalsukan sesuatu yang aslinya dicetak dengan bahan kertas seperti ini?", Jungkook mengangkat bahu, "That's what I would do".
Hakyeon pun mengangguk singkat dan kembali menghadap ke Seokjin, "Toby melakukan impor pada tiga kali penerbangan".
"Dua halaman kosong pada tiap buku sama dengan 600 lembar kertas", jawab Jungkook yang kembali mendapatkan perhatian Hakyeon.
"Dimana dompet Field?", tanya Seokjin yang menerima dompet kulit cokelat milik Toby Field dari Hakyeon. Ia menemukan tiket kunjungan ke sebuah museum bersejarah, dua hari sebelum Toby terbang ke Spanyol, ia mengunjungi gedung National Archive di New York.
"Kita lihat benda apa yang ingin ia palsukan", Seokjin pun berjalan bersama unitnya menuju gedung arsip nasional.[]
Seokjin tiba di National Archive Building tidak lama kemudian, mereka berbicara dengan penanggung jawab museum yang mengingat Toby Field, pria itu mengunjungi tempat ini beberapa bulan yang lalu dan minggu kemarin. Penanggung jawab museum yang bernama Vincent menunjukkan selembar bond9 kepada mereka.
"The Spanish Victory Bond. Tuan Field datang untuk melihat ini, surat perjanjian ini memang memiliki sejarah yang mengagumkan".
9Bond: Surat perjanjian
"Ini adalah Goya", Jungkook menyuara kagum, ia mengenakan sarung tangan lateks dan meraba permukaan kertas yang membuat senyumnya tersungging. Seokjin berdeham ketika tatapan Jungkook tidak pernah lepas dari surat perjanjian di tangannya. Siapa yang bisa menebak insting kriminal sepertinya, sih?
"Yes, beautiful isn't it?", Vincent menghembuskan napas sembari mengapresiasi Spanish Victory Bond.
"Lihatlah", Seokjin mengeluarkan sampel perkamen kertas dari halaman awal buku Snow White, ukurannya sama persis dengan surat perjanjian Spanyol yang akan dipalsukan oleh Dutchman.
Seokjin terkekeh pelan, "Pas dengan sempurna. Kau akan mulai mendapatkan gaji kalau kau terus bekerja seperti ini, Jeon", Jungkook balas tersenyum sebelum ia berpaling kepada Vincent yang setia berdiri.
"Ada spekulasi bahwa terdapat satu boks penuh surat perjanjian Spanyol yang masih tertinggal di gua Atlamira setelah perang Spanyol melawan Axis pada tahun 1944. Ini adalah satu satunya kopi yang berhasil diselamatkan", Vincent menjelaskan sementara Jungkook mempelajari kertas ditangannya.
Jungkook mengangkat alis, "Except it's a forgery".
"W-What?", Vincent tersentak dan memucat.
Seokjin dan Hakyeon menatap Jungkook yang mengangguk dengan wajah prihatin. "Ah, begini. Tinta yang digunakan adalah pewarna yang dicampur untuk menyesuaikan warna pada periode 1944. Tapi, tinta ini belum kering dengan sempurna. Kalian masih bisa mencium bau Arabic gum-nya kan?", Jungkook menyodorkan Spanish Bonds ke rekan kerjanya yang mengernyit kaget.
"B-But that's impossible", Vincent menggeleng gugup. "This has been here since 1944".
Jungkook menggeleng sembari tersenyum menyesal, "It's been here less than a week".
Seokjin dan Hakyeon saling bertukar pandang serius, "Kita harus segera berdiskusi", Seokjin pun berjalan diikuti dengan unitnya menuju kantor Federal Bureau of Investigation.[]
Jungkook menaikkan kakinya ke meja kantor, bermain lempar tangkap dengan tanda pengenal FBI yang menegaskan dirinya sebagai konsultan. Seokjin memelototi Jungkook sebelum menghela napas kesal, Hakyeon berdiri di sampingnya.
"Jadi, Toby Field melakukan dua kali penerbangan. Penerbangan pertama, dia mengambil gambar Spanish Victory Bond. Yang kedua, dia menukar bond yang asli dengan tiruan. Apa kita bisa menkonfirmasi ini?".
Hakyeon mengangguk, "Hasil tes lab mengidentifikasi bahwa umur tintanya kurang lebih enam hari‒pas dengan waktu kunjungan Toby ke museum. Aku juga akan mencari rekam keamanan untuk memperkuat teori kita".
Seokjin mengangguk, namun, ada sesuatu yang terus menganggu pikirannya. "Tapi, untuk apa Dutchman membuat tiruan yang sangat persis, pada jenis kertas yang sesuai, hanya untuk mengembalikannya ke arsip museum?".
Seokjin menghela napas panjang ketika ia kembali menemui jalan buntu. "Tidak masuk akal, kan?".
"Sebenarnya masuk akal", Jungkook berhenti memainkan kartu identitasnya, menoleh kepada Seokjin dan Hakyeon yang meliriknya menunggu penjelasan. "Harga pasaran untuk surat perjanjian itu sekitar 248 ribu dolar, benar? Dan dia mempunyai 600 lembar, semuanya menjadi 150 juta dolar". Jungkook bangkit dari kursinya, sedikit tersenyum ketika mendekati Seokjin dan Hakyeon.
"Dutchman bisa saja mengakui bahwa kopi yang ia miliki adalah asli, Vincent berkata ada satu boks Spanyol Bonds yang masih tersimpan di gua Atlamira, kan? Menurtmu, bagaimana surat perjanjian ini akan diotentikasi10?".
10Otentikasi: Membuktikan sesuatu, terutama karya artistik sebagai benar atau asli.
"Mereka akan membandingkan surat perjanjian tiruan Dutchman dengan surat perjanjian yang sudah diarsipkan di museum", sambung Hakyeon sebelum terengah. "‒yang dimana sudah ditukar dengan tiruan Dutchman sendiri", ujar Hakyeon dan Jungkook secara bersamaan.
Seokjin mengangguk mantap, "Tentu saja hasil tes akan menyatakan barang tiruan Dutchman sebagai asli". Seokjin tersenyum kepada anggota unitnya, "Kerja bagus hari ini. Beristirahatlah, kita akan melanjutkan investigasinya besok". Hakyeon meraih jaketnya yang tersampir di kursi.
"See you tomorrow", ia pun berjalan keluar kantor.[]
Jaehwan sedang terduduk di meja makan, menanti waswas sembari terus melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Ia sudah menunggu Seokjin sejak 4 jam yang lalu, namun sepertinya Seokjin masih sibuk menyelesaikan kasus bersama dengan Hakyeon dan Jungkook yang baru saja direkrut kemarin. Jaehwan sendiri tak memiliki pendapat pribadi tentang Jungkook. Ia rasa, semua orang bisa berubah, dan sangat mungkin bila Jungkook berubah untuk seseorang yang dekat dengannya.
Jaehwan pun meraih ponsel dan menelpon Seokjin. Ia tersenyum ketika suara pria itu menyambutnya pada dering ketiga.
"Jae? Kau belum tidur?".
Jaehwan menggigiti bibirnya sebelum menjawab, "Aku menunggumu pulang. Ini hampir tengah malam, Jin".
Seokjin tertawa kecil di seberang telepon. Jaehwan ingin memeluk Seokjin dan mendiskusikan kasus bersamanya sebelum tidur, pria itu selalu tegang dan kesulitan beristirahat. Jaehwan ingin menemaninya dan menghilangkan rasa lelah Seokjin setelah pekerjaan yang rumit.
"10 menit, aku janji. Kau tidak menyiapkan makan malam, kan?".
Jaehwan tertawa kekanakkan sebelum membalas, "Kau kira aku tidak mengenalmu? Aku mengerti pekerjaan di kantor sedang banyak, jadi kau harus lembur". Seokjin merasa sangat beruntung memiliki seseorang seperti Jaehwan yang selalu mengerti kondisi dan kesibukannya.
"Aku akan segera pulang, oke? Bye", Seokjin pun menutup telepon.
Jaehwan menghembuskan napas panjang, membereskan kembali makan malam yang sudah ia siapkan sejak tiga jam yang lalu.[]
Jungkook memasuki apartemennya sembari mengurut pelipis. Bola matanya melebar melihat Hoseok yang sudah tersenyum di meja makan, "Selamat datang, Kook. Apa kau siap mendengar informasi tentang Taehyung?", Jungkook merasakan tubuhnya kembali bertenaga. Ia segera mendudukkan dirinya di hadapan Hoseok.
"Apa yang kau temukan tentang dia, Hobi-hyung?".
"Pertama tama, dia sudah menghilang", Hoseok melanjutkan ketika wajah Jungkook berubah pucat. "But a tree does make a sound when it falls in the forest", Hoseok mengeluarkan sebuah foto hitam putih yang diambil dari kamera ATM New York.
Jungkook melebarkan bola matanya melihat wajah Taehyung yang ketakutan, tangan bercincin seorang pria meremas pundaknya dari arah samping.
"Siapa dia?", tanya Jungkook tajam.
Hoseok hanya mengangkat bahu. "Yang terpenting, kita sudah menemukannya, kan?".
"Ya", Jungkook menyahut geram. "But so does he".
Jungkook mengepalkan tangan, "Aku rasa Taehyung tidak meninggalkanku, Hyung", ia tertawa dingin, "Seseorang telah menculiknya".[]
