III
Seokjin meremas rambutnya pening, ponselnya meraung raung di nakas kamar tidur, menanti untuk diangkat. Seokjin menarik napas panjang sebelum membuka mata, ia mengernyit ketika tak menemukan Jaehwan yang terlelap di samping ranjang.
"Halo, Hakyeon?", Seokjin menyuara serak ketika mengangkat telepon, berusaha mengesampingkan rasa lelah akibat tidurnya yang kurang semenjak menangani kasus Dutchman.
"Seokjin, maaf menganggumu, ada situasi penting", Hakyeon menarik napas kehabisan sabar. "Anklet milik Jeon Jungkook baru saja aktif. Ia berada diluar radius".
Seokjin melebarkan bola matanya sekejap, "Apa?!", ia segera meraih jaket yang ia sampirkan di meja tanpa berpikir panjang.
"Lacak GPS-nya sekarang. Aku benar benar tidak percaya ini!", Seokjin terburu buru menuruni anak tangga rumah, ia terhenti ketika melihat seorang pria yang sedang duduk disamping Jaehwan. Jaehwan tersenyum cerah, mengangguk angguk dan tampak sangat akrab dengan lelaki itu.
Seokjin terengah kaget ketika mengenali Jeon Jungkook yang balas tertawa lepas kepada kekasihnya. Jungkook menoleh dengan senyum lebar, tidak merasa bersalah duduk begitu dekat dengan Jaehwan.
"Selamat pagi, Jin. Aku tidak menyangka kau mempunyai kekasih semenyenangkan ini".
Seokjin memelotot garang, "Jeon Jungkook, apa yang kau‒", Seokjin menarik napas, kembali berbicara di telepon.
"Tidak usah kau lacak, Hakyeon. Dia berada dirumahku".
Hakyeon mengernyit bingung di seberang telepon, "Dirumahmu?".
"Ya".
Hakyeon terdiam beberapa detik sebelum menjawab,"Baiklah. Sampai nanti kalau begitu".
Jin memutus sambungan telepon sebelum menarik tangan Jungkook kasar, "Kau berada dirumahku, duduk dikursiku dan berbicara dengan kekasihku?!", Seokjin mendesis tajam. "Beri aku alasan untuk tidak memasukkanmu ke penjara lagi!".
"Ah, tentu saja", Jungkook tertawa geli. "Lagipula, aku dan Jyani hanya membahas‒". "Jaehwan!", Seokjin kembali menyeret Jungkook sejauh jauhnya dari Jaehwan yang terfokus pada bonds di tangannya.
"Sekarang, jelaskan semuanya atau aku bersumpah‒!", Jungkook terengah ketika Seokjin menghubungi sipir penjara Florence.
"Aku mengerti siapa The Dutchman", Jungkook langsung memotong. Ia tersenyum puas ketika Seokjin kembali mematikan ponselnya jengkel.
"Dengarkan aku, Jin. You're gonna like this".
"I better", Seokjin mengatur napasnya kesal, memaksakan diri untuk duduk di samping Jungkook sementara Jaehwan tersenyum menyemangati sebelum berjalan ke dapur.
"Jadi?", tanya Seokjin tidak sabar. "Siapa The Dutchman dan apa buktinya?".
Jungkook meraih Spanish Victory Bond tiruan Dutchman dari meja kaca tanpa ragu, "Dia adalah Curtis Hagan, salah satu seniman terbaik di dunia. Ia berseni khususnya pada Goya", Jungkook melanjutkan, "And he signed this bond".
Seokjin mendengus keras, "Kurasa kalau dia menandatanganinya, kami pasti melihatnya, kan?", Jungkook menggeleng, Jaehwan kembali dari dapur membawa dua cangkir kopi. "Jin, kau harus mendengarkan Jungkook. Kurasa, dia benar".
Seokjin memelototi Jungkook sebelum mengangguk terpaksa, "Dimana dia menanda tanganinya?". Jungkook menunjuk celana seorang petani yang dilukis pada Spanish Victory Bond.
"Kau lihat? Terdapat inisial C.H di ujungnya. Tiruan ini benar benar masterpiece. Kalau aku membuat sesuatu sebagus ini, aku juga akan meninggalkan tanda tangan".
Seokjin menghembuskan napas panjang sebelum mengangguk, "Baiklah, aku akan berdiskusi dengan Hakyeon dan mencari tahu tentang Hagan".
"Terimakasih telah mendengarkanku", Jungkook tersenyum dan kembali memakai jaketnya.
"Well", Seokjin menghela napas, "Let's just hope you're right".[]
Jungkook membuka pintu apartemennya setelah kembali dari menginvasi rumah Seokjin. Hoseok sudah duduk dengan sarapan lengkap di meja makan, "Jadi? Kau sudah memberitahu FBI tentang Hagan?", Jungkook mengangguk, tersenyum berterimakasih sebelum bergabung dengan Hoseok yang sudah melahap sandwich kedua. Semalam, Hoseok mengutarakan teori kepada Jungkook bahwa The Dutchman adalah Curtis Hagan.
Mereka menemukan inisial C.H serupa pada karya Hagan yang terdahulu, kini karya lukis itu dipajang pada sebuah gereja.
"Hal yang sangat menyiksa tentang art forgery adalah kau tak bisa mendapatkan pujian atas karyamu", Hoseok tertawa geli. "Kecuali kau senekat Hagan dan menandatanganinya. Sekarang, seluruh FBI mengikuti jejak Hagan".
Jungkook hanya membalas dengan anggukan kecil, pikirannya kembali melayang kepada Taehyung yang masih menghilang tanpa kabar. "Bagaimana dengan Tae, Hyung? Ada berita lain?", Hoseok berdeham keras, berusaha tidak membahas kekasih Jungkook lagi. Jeon Jungkook terlalu terfokus kepada lelaki itu dan sangat sering teralihkan.
Tidak seharusnya mereka memiliki sebuah hubungan yang serius. Tiga hal yang tidak bisa disatukan yaitu Jungkook, business dan relationship.
The Unholy Trinity.
"Hyung?", Jungkook menghela napas ketika Hoseok masih tidak mau menjawab. "Bagaimana dengan tracking anklet-ku kalau begitu? Ada cara untuk meretasnya?".
"I'm working on it", Hoseok menyahut sembari menggigiti roti lapisnya. Ia kembali mengamati Jungkook yang tampak sedikit murung akhir akhir ini.
"Kook, apakah kau benar benar peduli kepada Taehyung? Karena serius, aku mulai curiga bahwa ini hanya salah satu sandiwaramu untuk menipu FBI".
"Apa?", Jungkook meletakkan makanannya dan menatap Hoseok sedikit tajam.
"Orang yang menculik Taehyung jelas menginginkan sesuatu darimu, Kook. Kau menyimpan sangat banyak harta", Jungkook terengah sebelum meremas rambutnya tidak habis pikir.
Apakah benar Taehyung terluka hanya karena harta curian Jungkook?
"You mean everything I ever stolen?", Jungkook berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Y-Yah, itu bisa saja terjadi. Aku memberitahu Taehyung bahwa aku menyimpan semuanya di San Diego. The money, the bonds, the art, everything".
Hoseok tertawa miris, sedikit mengimbuhi sarkasme, "Kasihan sekali ya, dia? Padahal, harta curianmu tidak di San Diego, kan? Semuanya kau simpan di Portland", Hoseok terhenti ketika Jungkook menatapnya menyesal.
"Oh…tidak di Portland?", Hoseok melebarkan mulutnya tidak percaya. "Jadi…jadi, kau berbohong kepadaku?!".
"Hyung‒".
"Harta rampasanmu tidak ada di San Diego maupun di Portland, kan?!", Hoseok bangkit dengan geram. "Kau bilang kepada Taehyung semuanya ada di San Diego, kau mengatakan Portland kepadaku", Hoseok tertawa tidak menyangka.
"Jadi, kalau salah satu dari kami ada yang mencarinya, kau tahu siapa yang berkhianat, begitu?!", Hoseok menggeram kecil, "Kena kau!".
"Hyung, dengarkan aku‒", Hoseok mengangkat tangan jengkel, tidak ingin mendengar penjelasan Jungkook yang sudah pasti hanya akan memelintir fakta lagi dan lagi.
"Beginilah dirimu, Jungkook. Kau tidak memercayaiku, kau tidak memercayai Taehyung".
Hoseok menyeru kesal, "You don't trust anyone! Dan Taehyung yang harus membayar atas kebohonganmu ini!". Jungkook terdiam seribu bahasa, wajahnya tampak dingin alih alih bersalah.
"Maaf", ujar Jungkook nyaris seperti bisikan.
"Kau tahu? Aku yang selalu ada untukmu, Kook", Hoseok menyahut tajam. "Aku yang selalu menyelesaikan masalahmu dan membantumu dengan segala cara yang bisa kulakukan! Sedangkan Tae? Ia justru mencampakkanmu!".
"Dia terpaksa, okay?!", Jungkook membalas marah.
"Lalu, kenapa Taehyung tidak meninggalkan petunjuk untukmu dan hilang begitu saja?!", Hoseok tersenyum jengkel. "Mungkin dia muak dengan tipu dayamu dan memutuskan untuk balik menipumu".
"Oke, cukup!", Jungkook menarik napas panjang untuk mengendalikan emosi. "Aku rasa Taehyung meninggalkan sebuah petunjuk tapi aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Now, enough about him. Dimana Hagan?", tanya Jungkook yang sudah kembali sekeras batu.
Hoseok menghembuskan napas dan mengeluarkan secarik kertas, "Aku sudah menemukan lokasinya, terimakasih kembali", ia memberikan jeda sebelum tersenyum muram, "…Jungkookie".
Jungkook menerima kertas yang berisi lokasi Hagan dari tangan Hoseok. Ia mengangguk dan membalas senyumnya dengan perasaan bersalah, "Aku akan mengabari Seokjin. Sampai jumpa…Hyung".[]
Jungkook membuka pintu kantor Seokjin yang sedang berbicara dengan Hakyeon tanpa repot repot mengetuk.
"Punya sopan santun tidak, sih?", tegur Seokjin kepada Jungkook yang hanya mengangkat bahu. "Ketuk pintu dan tunggu hingga aku mengijinkanmu masuk, mengerti?".
Jungkook justru tersenyum makin lebar, "Aku menemukan lokasi Hagan".
"Apa?", Seokjin teralihkan ketika pria itu menyerahkan secarik kertas yang berisi alamat The Dutchman.
Hakyeon membuka mulut keheranan. "Darimana kau‒".
"Jangan tanya", potong Jungkook cepat. "Ada sebuah gudang di dekat dermaga. Hagan menjalankan usahanya dari Guatemala di lokasi itu. Sebaiknya, kita kesana sekarang".
Hakyeon menghela napas sedikit kesal, "Kita tidak bisa seenaknya saja menggeledah warehouse Hagan, Jungkook. Kita tidak memiliki search warrant11".
11Search warrant: Dokumen hukum yang memberi wewenang kepada penegak hukum atau pejabat lain untuk masuk dan menggeledah suatu tempat.
"Bacalah ini, supaya kau paham bahwa kita mempunyai sistem dan aturan", Hakyeon menyerahkan buku tebal yang menyangkut warrant law kepada Jungkook. Jungkook menerima sembari tersenyum heran, "Terimakasih, Hakyeon-ssi, kau sangat pengertian".
Seokjin memutar mata jengah dan mengangguk kearah pintu, "Aku akan mengajukan permintaan search warrant setelah ini. Sementara itu, keluar. Aku dan Hakyeon ingin berbicara".
Jungkook sedikit mendengus sebelum berjalan keluar dari kantor Seokjin, ia pun memasuki lift Federal Bureau of Investigation sembari membaca buku warrant law lembar demi lembar.
Seokjin dan Hakyeon menghabiskan waktu dua jam berdiskusi tentang kasus lama yang masih mereka kerjakan. Seorang penjahat 'kerah biru'12 yang tidak pernah tertangkap meski sudah terdeteksi dalam radar FBI.
Ia tidak pernah meninggalkan jejak sehingga tak ada bukti kotor yang bisa mengarah kepadanya.
12Blue Collar: Kejahatan blue collar adalah kejahatan apa pun yang dilakukan oleh individu dari kelas sosial yang lebih rendah sebagai lawan dari kejahatan white collar.
"Aku akan beristirahat sebentar, mau kopi?", tawar Hakyeon yang sudah berjalan ke pintu kantor.
Seokjin mengangguk, "Trims".
Seokjin kembali menandatangani surat pengajuan dari anggotanya ketika Hakyeon mengisi dua cangkir kopi dari mesin espresso. Ia menunggu sembari mengurut lehernya yang sedikit pegal. Cha Hakyeon mengernyit ketika ponselnya bergetar dengan suara bising di dalam kantung jas, bola mata pria itu kontan melebar melihat sinyal pemberitahuan yang menyala merah dengan kode darurat di atasnya.
"Seokjin!", Seokjin menoleh terkejut ketika Hakyeon kembali dengan napas tersendat sendat.
"Hakyeon, ada apa?", tanya Seokjin sembari mendekati rekan kerjanya yang pucat pasi.
"Jeon Jungkook", ujar Hakyeon sembari menggeleng panik.
"He ran away".[]
Jungkook mengalungkan kameranya di pinggir dermaga, memotret gambar warehouse Curtis Hagan yang dikelilingi oleh penjaga bersenjata lengkap. "Hei! Hei! Apa yang kau lakukan disini?!". Jungkook tersenyum lebar ketika seorang pria berjalan ke arahnya garang.
"Oh hai, selamat pagi", Jungkook membenarkan letak kacamatanya, hendak memotret lagi ketika lelaki itu merebut kamera Jungkook dan menginjaknya hingga pecah.
"Kau tidak boleh berada disini! This is a private property!".
Jungkook mengangkat tangan ketika penjaga itu menyeret kerahnya sembari memelotot, "Aku mengambil kelas di Annex. Aku hanya ingin mengambil gambar logam berkarat yang pasti akan memberiku nilai A".
Pria itu mendesis dan menoleh ke penjaga lain yang berkeliling di pintu gudang, "Bawa dia masuk!".
"Apa?! Tapi aku‒", Jungkook nyaris terjatuh ketika mereka menyeretnya sangat kasar, mendorongnya memasuki gudang yang dipenuhi mesin pencetak kertas. Jungkook tersenyum lebar melihat lusinan buku Snow White dan Spanyol Victory Bond yang mulai diproduksi.
"Masukkan dia ke kantor Hagan!", Jungkook tidak melawan ketika seorang lelaki lain mendorongnya ke kantor Curtis Hagan yang terbuat dari kaca. Jungkook melihat sekeliling dengan kagum, menyeringai ketika Hagan berjalan ke arahnya dengan wajah merah padam.
"Hei, siapa dia?! Kenapa kau membawanya ke dalam?!", Hagan mengibaskan tangan ketika anak buahnya hendak menjelaskan. Jungkook langsung mengunci pintu kantor ketika Hagan hendak masuk.
"Who are you?", Hagan mendengus benci. "Aku harap apa yang mereka tawarkan sepadan dengan ini, 'cause I'm gonna kill you", ia mengamati Jungkook dengan keinginan untuk menghabisi. Jungkook hanya mengangkat bahu dan mendudukki kursi Hagan, ia menaikkan kakinya ke meja sementara anak buah Dutchman mengelilinginya dengan pistol teracung.
"Oh, ya, sangat setimpal", jawab Jungkook yang tertawa geli ketika suara sirene polisi mengelilingi dermaga. Hagan mengernyit panik, menoleh kesana kemari ketika Jungkook mengangkat celananya tenang.
"Oh, sepertinya mereka mencariku".
Hagan menggeram melihat tracking anklet yang berkedipan merah di kaki kiri Jungkook.
"You're a particular kind of bastard!", desis Hagan kasar.
Jungkook mendengus, "Ya, aku sangat setuju".
"Freeze!", Seketika, selompok FBI mendobrak warehouse Hagan dengan anggota unit yang langsung menggeledah dan menyita barang bukti percetakan.
"Bawa bonds-nya! Ayo, cepat, cepat!", Hagan hendak melarikan diri ketika Seokjin dan Hakyeon menghalangi jalan keluar.
Seokjin mendengus melihat Jungkook yang melambai kearahnya dari dalam kantor Hagan. "Kita memiliki buronan dalam pelarian yang bersembunyi disini. Inilah yang disebut oleh hukum sebagai exigent circumstance. Ada yang tahu itu apa? Hakyeon?".
Hakyeon melirik Jungkook yang tersenyum geli, ia menggeleng kecil ketika menyadari Jungkook benar benar membaca buku warrant law yang ia berikan. "Exigent circumstance memperbolehkan pengejaran terhadap tersangka sampai ke private propery tanpa adanya warrant".
FBI langsung meringkus Hagan yang tidak bisa kemana mana lagi, Hagan memelotot dendam ke arah Jungkook ketika kedua tangannya diborgol di belakang punggung.
Seokjin berjalan masuk ke kantor Hagan, Jungkook membukakan pintu untuknya sembari membungkuk kecil.
"Nice", Seokjin berkomentar, sedikit tersenyum kepada Jungkook. Ia melihat surat perjanjian Spanyol disebuah brankas besi. "Apakah itu bonds yang asli?", tanya Seokjin terengah. Jungkook mengangguk, membuat pria itu tersenyum semakin lebar.
"Good job, Jeon".
Hakyeon berjalan masuk tak berapa lama kemudian, ia mengamati Jungkook sepersekian detik sebelum tertawa pelan, "Kau membaca bukunya? Benar benar ya".
Jungkook hanya mengedikkan bahu, "Terimakasih telah mengedukasiku, Hakyeon-ssi".
Hakyeon memberi tepukan kecil pada pundak Jungkook, "Baiklah, aku akan mengurus penangkapan Hagan. Sampai nanti", ia pun berjalan keluar kantor. Seokjin membisu beberapa lama, hanya mendudukkan dirinya di samping Jungkook yang tersenyum senyum.
Seokjin menggeleng, "Kukira kau benar benar melarikan diri, tahu?".
"Aku?", Jungkook menatapnya heran, "Untuk apa aku kabur? Aku senang bekerja denganmu".
"Oh, ya?", Seokjin berpaling, tak bisa menghapus senyum dari bibirnya. Setelah hari yang panjang, pengejaran yang tiada akhir, ia berhasil menangkap The Dutchman. Tak disangka, atas bantuan kriminal yang dulu dikejarnya dua tahun penuh.
"Hei", Seokjin memecah keheningan ketika Jungkook menoleh. "Mau kuantar pulang?", Jungkook terengah kaget, menyeringai lebar ketika Seokjin mendengus penuh penyesalan.
"Berhenti tersenyum. Ini sudah malam, aku hanya tak mau kau berkeliaran kesana kemari diluar pengawasanku".
Jungkook mengangguk, "Mau", ia bangkit dan mengangguk lagi. "Aku mau".[]
Jungkook langsung merebahkan tubuhnya ketika ia sampai di apartemen. Rasa lelah seperti melumpuhkan seluruh sarafnya dan ia nyaris tidak bisa bergerak. Jungkook mengerang ketika ponselnya berdering. Ini sudah lewat tengah malam, siapa yang menganggunya selarut ini?
Jungkook mendecak kesal sebelum meraih ponselnya malas, "Jeon Jungkook".
"J-Jungkook".
"Taehyung?!", Jungkook tersentak seketika, ia langsung duduk tegak, bola matanya melebar mendengar suara Taehyung yang bergetar takut di ujung telepon.
"Taehyung?! Tae, kau dimana?!", Jungkook menyeru panik. "Siapa yang menahanmu?!".
"J-Jungkook, berikan apa yang ia inginkan", Taehyung menahan isak tangis ketika Jungkook kembali memanggilnya panik.
"Apa yang dia mau?!", balas Jungkook sembari meremas ponselnya. Ia menggeram ketika jemarinya bergetaran hebat.
"A music box", ucap Taehyung nanar. "Please, give it to him".
Jungkook mendengar tarikan napas Taehyung yang pendek pendek. Taehyung kembali menyuara pelan, nyaris terdengar seperti bisikan parau.
"Don't trust anyone, Jungkook".
"Tae, katakan saja dimana kau‒Taehyung?!".
"Taehyung?!", Jungkook berteriak keras ketika telepon kembali terputus.[]
