IV
Jungkook menepuk pundak Hoseok yang sudah berada di apartemennya pada pagi buta. Jungkook masih mengenakan piyama tidur, ia mengacak rambutnya dengan wajah mengangtuk, "Selamat pagi, Hyung", Jungkook menyuap sereal yang nyaris terendam di dalam mangkuk penuh susu.
Hoseok berdeham serak, duduk di samping Jungkook yang memejamkan matanya lagi. "Jadi, semalam Taehyung menelponmu?", Hoseok bertanya ketika Jungkook hanya mengangguk tidak bertenaga. "Dan dia mengakatakan bahwa penculiknya menginginkan sebuah…music box?".
"'The' music box", jawab Jungkook sembari mengusap wajahnya berulang kali. "Apa kau sudah mencari tahu tentang kotak musik itu?".
Hoseok mengangguk, "Nihil. Aku sudah bertanya kesana kemari. Tidak ada yang tahu menau tentang music box itu".
Jungkook menghela napas, "Well, keep looking".
Hoseok tidak merespons, ia hanya mengambil surat berkartu pos Amerika Serikat yang sudah bertumpuk tumpuk di meja santai Jungkook, "Lawan catur anonimusmu mengirim surat lagi, omong omong". Jungkook mengernyit, melihat surat tanpa nama yang hanya berhiaskan kartu pos New York.
"Knight to D-7?", Jungkook membaca isinya sebelum menggerakkan bidak pada papan catur yang selalu terbuka di meja santai.
"Knight to D-7", Hoseok mengamati dalam diam ketika Jungkook menopangkan dagu di depan papan caturnya. Hoseok menyipitkan mata khawatir, terkadang Jungkook terlihat seperti orang gila, tenggelam dalam dunianya sendiri yang penuh segala rahasia.
"Tidakkah kau ingin tahu siapa yang terus mengirimimu surat, Kook?", tanya Hoseok yang hanya disambut oleh gelengan Jungkook.
"I like the mystery", Hoseok tertawa sinis mendengar jawaban Jungkook yang masih memikirkan strategi bermain.
"Halo? Kekasihmu hilang, kita belum menemukan kotak musik yang akan menyelamatkannya. One might say, you have enough mystery in your life, Jeon Jungkook". Jungkook hanya mengedikkan bahu, ia kembali membaca surat anonimusnya sebelum sebuah ingatan menampar pria itu.
"Hei, hei, Hyung! Lihat, Knight to D-7". Hoseok yang langsung menyadari pun ikut terengah.
"You've done this move before, right?", sambung Hoseok menggebu nggebu. "Ya, ya! Dengan rivalmu. Siapa yang menang?", tanya Hoseok bersemangat.
Jungkook menggeleng lagi, "Kami tidak pernah menyelesaikan permainan‒", Jungkook melebarkan bola mata, tersenyum ketika membaca isi surat terakhir.
'The game isn't over'
Hoseok menutup mulut kaget, antara antusias dan cemas mengetahui siapa orang yang menantang Jungkook dalam permainan kecil ini. Hoseok berakhir menggeleng ketika mengingat apa yang mampu lawan Jungkook lakukan, "No. no, no. If this is about 'that' rival of yours, don't do it", Hoseok memotong ketika Jungkook tampak kecewa.
"Permainan sudah selesai, Jungkook. Sudah cukup apa yang pernah terjadi diantara kalian. Cukup aku menyelamatkanmu darinya, oke?!".
Jungkook hanya tersenyum penuh hiburan. "Tidak". Ia mengerling cerah kepada Hoseok.
"We haven't finish the game".[]
Kantor Federal Bureau of Investigation belum ramai, Jungkook sengaja datang dua jam lebih awal dari waktu kerja. Ia sedang mempelajari sebuah kasus perampokan di American Museum of National History. Sebuah kejahatan yang terlihat acak dan kecil kecilan. Namun, daftar barang yang dicuri menarik perhatian Jungkook.
"Hei, kau datang awal?", sapa Seokjin yang berhenti di meja kerja Jungkook.
Jungkook hanya menengadah dan mengangguk pelan, "Aku sedang mempelajari sebuah kasus".
"Let me see it", Seokjin membaca kasus perampokan berencana sebuah museum sejarah nasional, "Barang yang dicuri diantaranya gabus bebek antik dari gudang penyimpanan. Persediaan barang yang disegel oleh lilin dan sampel tanah Prancis milik Dokter John Bartram?". Ia mengernyit heran yang direspons Jungkook dengan wajah tidak mengerti.
Meski sebenarnya, Jungkook tahu apa kegunaan semua barang barang itu.
"Apa perlu kuperiksa?".
"Oh", Jungkook menggeleng. "Mereka sudah menemukan tersangkanya, Manuel Campos. Ia tertangkap basah sedang memasukkan barang curiannya ke dalam ransel".
Seokjin sedikit tersenyum sebelum mengamati Jungkook, "Lalu, kenapa kau terlihat sangat tertarik, hm?". Jungkook mengedikkan bahu.
"Apa kita perlu bicara dengan Campos? Dia ditebus dan keluar dari penjara hari ini".
Jungkook hanya mengangguk lagi, berusaha menyembunyikan antusiasme dan detak jantungnya yang berdentam tak keruan di rongga dada. Seokjin menggeleng kecil sebelum bersiap siap menemui Campos. Ada sesuatu yang tidak Jungkook ceritakan disini, dan Seokjin harus lebih berhati hati dalam mengambil langkah.
Hakyeon sedang bertugas di Washington D.C sehingga tidak mungkin membantu Seokjin untuk melihat menembus tipu daya Jungkook. Secepatnya, ia harus tahu motif Jungkook dalam mengambil sebuah kasus yang tampak sepele.[]
Jungkook berjalan beriringan dengan Seokjin di jalanan kota New York. Seokjin melepas kacamatanya ketika matahari bersinar sangat terang. Jungkook tertawa kecil, memperhatikan Seokjin yang membersihkan lensa kacamatanya dengan jas kerja terburu buru.
"Itu Campos", ujar Seokjin yang mengabaikan tawa Jungkook dan menunjuk seorang pria dengan ransel besar. Pria itu melambai ke istrinya yang menunggu di depan rumah dengan air mata bercucuran deras.
"Manuel!".
Manuel Campos tersenyum lebar, menyebrangi jalan raya untuk memeluk sang istri. Seketika, sebuah mobil meluncur dengan kecepatan tinggi dari ujung jalan New York. Istri Campos menjerit histeris ketika tabrakan terjadi, melempar tubuh suaminya yang berlumuran darah ke jalan raya. Seokjin meneriakkan sesuatu namun Jungkook tak bisa mendengar, ia hanya membeku ketika Seokjin memanggil bantuan sembari menatap Jungkook sangat tajam.
"Jungkook!"
"Hei, Jungkook!", Jungkook tersentak ketika Seokjin menggoncangkan pundaknya kasar.
"Sebaiknya kau katakan apa yang sebenarnya terjadi!", Seokjin menggeram marah. "Seseorang telah meninggal dan kau tahu siapa pelakunya!".
Jungkook menelan ludah ketika istri Campos memeluk suaminya sembari terisak isak, suara ambulans menulikan telinga Jungkook yang hanya bisa terdiam ketika pria itu digotong ke dalam ambulans sembari meregang nyawa. Jungkook bergidik ngeri melihat darah segar yang membercak di jalan.
Ia mengerti mengapa Jung Hoseok mewanti wanti agar Jungkook tidak ikut campur dengan rival yang menantangnya ini. Mungkin, ini juga sebuah peringatan untuk Jungkook, agar ia tahu dengan siapa ia sedang berhadapan.
"Y-Ya", Jungkook menemukan suaranya kembali dan mengangguk miris. "Ya. Aku rasa aku tahu siapa dalang dibalik semua ini".
This isn't a game.
Jungkook berpaling melihat wajah Campos yang bernapas tersiksa.
This is a murder.[]
"Baik. Aku mengerti", Seokjin memejamkan mata sembari menutup telepon kantor dengan muram. Seokjin mengurut pelipisnya yang pening sembari memperhatikan Jungkook yang terduduk dihadapannya kaku, "Campos baru saja meninggal di ICU, istrinya sangat terpukul. Tidak ada yang melihat pengemudinya, NYPD tidak punya petunjuk", Seokjin menarik napas panjang dan menatap Jungkook serius. "So, tell me who did this".
Jungkook balas menatap mata Seokjin, ia sangat pucat setelah menyaksikan kematian Campos. Namun, sekarang wajah Jungkook justru sekeras batu.
"Ravi. You can say, he's the blue version of me", Seokjin mengernyit mendengar nama yang akrab ditelinganya. Ia adalah pria yang Seokjin bicarakan dengan Hakyeon ketika menyelesaikan kasus The Dutchman. Kriminal 'kerah biru' yang sudah lama berada dalam radar FBI namun tidak pernah tertangkap.
"Interpol menghubungkan Ravi dengan pencurian barang antik sampai ke penyelundupan senjata".
"Ya, tapi dia tidak pernah tertangkap, kan?", Jungkook meremas jemarinya sembari tersenyum tajam. "He always slipped off".
Seokjin berdeham ketika wajah Jungkook bertambah dingin, "Jadi, dia siapa? Some kind of rival of yours?". Jungkook mengedikkan bahu, sulit mengatakan apa anggapannya terhadap pria itu.
"Lebih seperti lawan", aku Jungkook. "Terakhir kali aku mendengar tentangnya, ia melakukan perampokan di Bandara Stockholm".
"Dia mencuri dari sebuah pesawat yang sedang membongkar Krugerrands. Meninggalkan bom palsu dalam pelarian sehingga tidak ada yang berani mengejarnya, kan?", jelas Seokjin mengingat kasus lama yang sampai sekarang belum terselesaikan itu. "Dia tidak takut mengambil resiko".Jungkook mengangguk dengan seringai kecil, "Yeah and now he's stepping up his game", Jungkook mengangguk kearah folder Manuel Campos yang menjadi korban dalam perampokan yang bahkan tak direncanakannya. "Dia tidak takut untuk mengorbankan nyawa".
Seokjin berdeham pelan, mengabaikan seringai Jungkook dan menyerahkan folder kasus pencurian di museum sejarah nasional Amerika. "Lalu bagaimana dengan perampokan museum ini? Ravi menggunakan Campos untuk mencuri cork dan wax, untuk apa?".
Jungkook terdiam beberapa detik sebelum tertawa geli, membuat Seokjin makin mengernyit dan ingin secepatnya berhenti berurusan dengan kedua kriminal itu.
"Ah, itu bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan taruhan kami. 'Memalsukan botol anggur milik Ben Franklin'", jelas Jungkook yang justru terlihat bersemangat.
Seokjin memelotot ketika Jungkook masih tersenyum juga. "You and your freaking wine. Itu mengapa orang orang mati? Iya?". Seokjin menarik napas, rasanya sangat sulit bekerja dengan Jungkook tanpa bantuan Hakyeon yang sedang sibuk bertugas di D.C.
Jungkook mengangguk kecil, "Marie Antoinette memberi Benjamin Franklin sebotol Château Du Munn sebelum tahun 1945. Sekarang, botol itu berada di private hands dan tidak pernah dijual maupun dilelang. Intinya, mustahil untuk memasulkan Franklin Bottle".
"Ah, jadi begitu?", Seokjin berusaha menahan emosi ketika mengetahui alasan adanya korban nyawa dibelakang permainan dua bajingan seperti mereka. "Jadi, ini benar benar sebuah tantangan? Melakukan sesuatu yang mustahil?".
Jungkook tersenyum lebar, "May the best man wins".
Seokjin mendengus geram, "I don't care about your rivalry. If he's my killer, I want him".
Jungkook mengangguk, senyumnya tak pernah lepas dari bibir meski ia baru saja terguncang akibat kematian Campos.
"Tentu saja", Jungkook tertawa cerah. "Aku akan sangat senang menangkapnya untukmu".[]
Jungkook dan Seokjin menemui seorang pria yang selalu menyelenggarakan pelelangan anggur di perusahaan jual beli wine bernama Weatherby. Seokjin duduk di dalam kantor yang terkesan elegan, menghadap lelaki berjas mahal yang menyibukkan diri membenarkan kacamatanya, "Tuan Cattigan, Namaku Kim Seokjin, FBI".
Cattigan mengernyit sebelum menopangkan dagu, "Panggil aku Sir Roland Cattigan", ia mengoreksi Seokjin dengan nada angkuh.
"Ah, Sir Cattigan", Seokjin memaksakan seulas senyum. "Apa yang Anda ketahui tentang Franklin Bottle ini?". Cattigan melirik sekilas gambar botol yang dicetak Seokjin dari dokumen kasus.
"Seseorang menjual Franklin Bottle itu dan kami akan melelangnya di acara auction Weatherby pada Jumat malam". Seokjin menoleh kepada Jungkook yang juga tersenyum simpul.
"Dan siapa penjualnya?", tanya Seokjin kepada Cattigan yang menghela napas panjang.
"My seller request to remain anonymous".
Seokjin tertawa pelan, "Yah, kau harus mengecewakannya, Sir. Kita khawatir botol itu palsu". Cattigan mengernyit, menggeleng dengan geli, "Maaf, tapi itu mustahil. Franklin Bottle tidak bisa‒".
"‒Dipalsukan", sambung Jungkook yang menatap tajam sembari tersenyum. Cattigan berdeham tidak nyaman sebelum berpaling.
"Aku rasa kalian tidak mengerti tentang kebijakan dalam bisnisku".
Seokjin menyahut kesal, "Kurasa aku paham, Sir. Jika pelanggan Anda mendengar bahwa Franklin Bottle itu palsu, tamatlah sudah Anda. Nah, aku tidak mau mematikan bisnis Anda dengan menggeledah perusahaan Anda menggunakan search warrant‒but I will", Seokjin mengamati Cattigan tajam sembari mengeluarkan surat warrant-nya, membuat pria itu tersentak dengan gelisah.
Cattigan menarik napas sebelum menjawab, "Aku tidak tahu siapa penjualnya. Tapi, broker12-nya adalah seorang wanita bernama Grace Queen", ia menatap Seokjin dan Jungkook kesal. "Sudah puas?".
12Broker: Pedagang perantara
Seokjin tersenyum, mengangguk kearah Jungkook sebelum bangkit, "I believe I am".
Seokjin berjalan berdampingan dengan Jungkook keluar dari perusahaan anggur Weatherby. Seokjin tertawa sebelum menyerahkan surat yang ia tunjukkan kepada Cattigan di ruangan tadi, "Hei, keberatan jika kau memesan tofu pork untukku?", Jungkook terengah ketika mengambil kertas dari tangan Seokjin, tersenyum lebar menyadari surat warrant itu hanyalah menu makanan kedai di dekat kantor FBI.
"Wow, kau menipunya?", Jungkook menatap Seokjin terkesan. "I'm a bad influence to you, Jin".
Seokjin kembali tertawa geli, "Oke, jadi broker Ravi bernama Grace Queen. Dia memiliki gudang anggur kelas atas yang disebut Bin 903. Apa sekiranya kita bisa menghubungkan Queen dengan Ravi?".
Jungkook mengangguk, "Pantas dicoba, aku akan berbicara kepadanya".
"Kau?", tanya Seokjin heran.
"Aku akan mengatakan kepada Queen kalau aku mewakili seorang klien yang tertarik untuk membeli koleksi anggurnya dan mengorek informasi apa pun yang menyangkut Ravi. Hei‒", Jungkook mengangkat celananya ketika Seokjin terlihat khawatir untuk mengirim Jungkook sendirian.
"You know where to find me".
Seokjin melirik tracking anklet Jungkook yang berkedipan hijau sebelum mengangguk, "Always do".
Seokjin pun membuka ponselnya ketika Jungkook berjalan kearah yang berlawanan. Ia sedikit menyesal ketika membaca pesan dari Hakyeon yang bertanya tentang perkembangan kasus. Kalau Hakyeon sampai tahu ia sudah menipu seseorang demi mendapatkan informasi, Hakyeon tidak akan membiarkan Seokjin menjadi pengawas Jungkook.[]
Jungkook memasuki rumah pribadi Grace Queen yang sangat mewah, koleksi anggur berjajaran di rak kaca, memanjang sampai ke ujung. Jungkook membenarkan jas berwarna merahnya sebelum tersenyum kepada wanita berambut pirang yang mengamatinya dengan senyuman elegan.
"Château Latour. Mouton-Rothschild. Case of Pétrus 1945", Jungkook menjelaskan koleksi anggur klien-nya kepada Grace Queen yang terengah kecil.
"Itu koleksi yang sangat serius. Jika tertarik, Anda bisa mengajak klien Anda kemari. Saya akan menyelenggarakan private wine tasting dalam rangka perayaan Weatherby's annual sale".
Jungkook mengangguk sembari tersenyum, "Apa Anda juga mengundangku?".
Grace tertawa pelan, "Kalau Anda membawa serta klien Anda, tentu saja".
Jungkook kembali melihat lihat koleksi anggur yang berada di sekelilingnya kagum. "Aku sangat menghargai bila Anda memberi tur singkat kepadaku, agar aku bisa melihat koleksi anggur Anda yang lebih pribadi", ujar Jungkook. "Klienku sangat selektif, setidaknya aku bisa memberinya informasi akan produk yang Anda tawarkan?".
Grace mengangguk sembari bangkit dari kursi, "Tentu saja, ikuti aku". Jungkook mengikuti Grace menuruni anak tangga menuju sebuah gudang anggur. Gudang itu dikelilingi kaca dengan pintu berkeamanan tinggi. Jungkook mengamati dalam diam ketika Grace menekan digit password dan melakukan finger scan hingga pintu terbuka.
"Kami selalu mengganti kata sandi setiap hari. Untuk berjaga jaga".
Jungkook mengikutinya masuk, "Of course". Jungkook terkesan ketika melihat koleksi anggur yang dijajarkan pada etalase kaca, "Château Du Munn, post French revolution. Nice", Jungkook menganguk angguk kagum. Ia mengernyit ketika melihat sebuah surat berkartu pos Amerika Serikat yang terselip di dalam buku sejarah produksi anggur.
"Anda menjadi perantara penjualan Franklin Bottle, benar?", Grace terdiam ketika Jungkook berbalik menghadapnya.
"Dan penjual Franklin Bottle itu. He's been here recently?".
Grace terengah sebelum mengatur mimik wajahnya dan kembali tersenyum, "Apa yang membuat Anda berkata demikian?".
"Pria dengan selera sepertinya. Aku yakin ia sangat mengapresiasi sejarah", Jungkook menunjuk buku sejarah produksi anggur, "May I?", ia pun membuka lembar buku yang diselipi surat berkartu pos setelah Grace mengangguk memberi ijin.
Jungkook mengernyit melihat keterangan lokasi di dalam surat tersebut, "King's Crown, salah satu tempat produksi anggur. Sebuah kedai yang sering dikunjungi oleh George Washington, sekarang terkubur dibawah Water Street? Menarik", Jungkook kembali membaca pesan di dalam surat.
King's crown. 8PM
"Baik", Jungkook tersenyum kepada Grace sebelum menutup bukunya, "I get the message".[]
"Halo, Jin?", Jungkook mengangkat ponselnya ketika ia sudah tiba di Water Street malam itu. Water Street ditutup akibat konstruksi yang sedang berlangsung. Jungkook mendengar suara Jaehwan yang menyanyakan tentang dirinya di seberang telepon. Jungkook sedikit tersenyum sebelum suara cemas Seokjin kembali membalas, "Hei, apa yang sedang kau lakukan di Water Street?".
Jungkook tertawa ketika suara kekanakkan Jaehwan memanggil nama Jungkook berkali kali, namun, ia lebih terhibur menyadari bahwa Seokjin khawatir akan seorang kriminal. "Apa kau takut aku kabur lagi?", tanya Jungkook. "Aku hanya membeli tiram terenak di New York".
Seokjin menghela napas sebelum mengernyit bingung, "Kau membeli tiram di…Water Street?".
Jungkook hanya menjawab santai, "Yeah, ada apa?".
Seokjin berdeham sebelum kembali menyuara serius, "Ada sesuatu yang ingin kusampaikan tentang Ravi, hal ini cukup penting dan aku harap kau tidak menemuinya tanpaku, oke?". Jungkook melihat jam tangan, sepuluh menit lagi hingga waktu pertemuan mereka.
"Yeah, tentu saja", jawab Jungkook, "Ada apa Jin?".
"Kau ingat ketika Ravi merampok bandara Stockholm? Heist itu didanai oleh Russian mob money".
"Whoa", Jungkook terengah mengetahui bahwa lawan caturnya terlibat sesuatu yang bahkan Jungkook hindari.
"Dan tampaknya para Russian itu menyimpan dendam karena Ravi mengambil semua hasil perampokan, tanpa memberingkan jatah kepada yang lain", lanjut Seokjin.
"Oh, that's bad", Jungkook mendecak. "Kalau orang Rusia itu menemukan Ravi, mereka akan membunuhnya", sambung Jungkook yang tidak tahu harus merasa senang atau khawatir.
"Kecuali dia menjajikan The Russian uang mereka dan tambahan yang lain".
"Oh", Jungkook sedikit tertawa ketika menyadari rencana rival-nya yang ternyata sesederhana membayar sebuah hutang. "Jadi, dia menjual Franklin Bottle untuk mengembalikam uang mereka?".
"Sepertinya betitu", Seokjin bergumam di seberang telepon, "Dengar. Aku ingin bicara denganmu besok pagi, Jungkook. Kita harus menangkap Ravi sebelum orang Rusia itu menemukannya, oke?".
"Okay", Jungkook pun mematikan ponsel ketika ia melihat bayangan seorang pria yang merokok di dalam area kontruksi.
"Hei, Ravi", Jungkook tersenyum miring ketika ia mendekati lawan caturnya yang tampak tak terganggu. Ravi berpaling sedikit, tertawa geli melihat tracking anklet di kaki kiri Jungkook.
"Jeon Jungkook", ia bangkit dan menghembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Bayangkan bagaimana perasaanku ketika mengetahui‒dari semua orang‒Kau, bekerja untuk feds".
Jungkook hanya mengedikkan bahu, "Jadi, kenapa? Kau dikejar hutang?", Jungkook menyeringai lebar, "Kudengar mereka mau membunuhmu".
Ravi mendengus sinis, melirik Jungkook yang masih tersenyum merendahkan. Ravi menghela napas, mendecak ketika mengamati Jungkook dari atas sampai bawah. "Penjara benar benar merubahmu, ya? Kau tahu berapa lama Kim Taehyung sendirian ketika kau ditahan, huh?".
Jungkook merasakan seluruh tubuhnya menegang seketika, ia berusaha memaksakan tawa yang justru terdengar depresi, "What the hell did you just say?".
"He always love the smart ones", Ravi tertawa dingin, "Tapi kau sudah tidak suka bersaing, benar? No wonder he looks for someone else". Ravi menyeringai ketika Jungkook mendekatinya dengan wajah geram, Jungkook terengah ketika bunyi bising menguar seiring dengan warna anklet-nya yang berubah merah terang.
"Oh, aku lupa bilang. Kita berada di batas radiusmu, one more step and‒", Ravi menunjuk tracking anklet Jungkook. "FBI akan menangkapmu lagi, Jeon Jungkook".
Jungkook menggeleng marah, mengepalkan tangan ketika ia kembali menatap wajah Ravi, "Apa yang kau ketahui tentang Taehyung?". Ravi hanya mengedikkan bahu.
"Ravi, dimana dia? Katakan sekarang!", Jungkook mengumpat ketika teriakan frustasinya terlepas.
"Aku tidak tahu dimana Taehyung, Jungkook", Ravi balik menatap Jungkook tajam. "Dan aku tidak menemuimu untuk membahas dia. I want to finish our game", Jungkook menggeleng, mengutuk kasar ketika kakinya tidak bisa maju satu langkah lagi.
"Percuma, Ravi. Kau sudah menyerahkan Franklin Bottle-mu ke auction house, kau yang menang", Jungkook berusaha mengendalikan emosinya. "Now tell me where he is!"
Ravi menghela napas panjang, "Sudah kukatakan aku tidak tahu dimana Taehyung berada. It's your fault that he's missing anyway". Ravi kembali tersenyum, "Now let's finsh our game. You got ten days", ia pun melempar botol alkohol yang langsung ditangkap oleh Jungkook.
Membuat forgery Franklin Bottle. Kalahkan milik Ravi di auction house, Jungkook berusaha menancapkan semua kalimat itu di dalam kepalanya, berhenti memikirkan Taehyung dan selesaikan permainan yang sekarang ia hadapi.
Ia tak bisa menghindari tantangan rival-nya begitu saja, pilihan Jungkook hanya menyelesaikan permainan atau kalah.
"Kalau aku menang, katakan apa yang kau ketahui tentang Taehyung", Ravi mendengus geli sebelum menoleh lagi.
"Berapa kali harus kukatakan kepadamu, hah? Aku tidak tahu siapa yang menculik dia", Ravi menyeringai dengan wajah menyesal. "I was just there when you miss all those valentine days".
Jungkook melebarkan bola mata ketika Ravi berjalan pergi.
"Ravi!", Jungkook berteriak geram, hendak mengejar pria itu ketika anklet-nya kembali berbunyi bising. "Ravi, tunggu!", Jungkook berteriak lebih keras, ia meremas rambutnya ketika bayangan pria itu mulai menghilang di jalan raya.
"Fuck!".[]
