DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Genre: Romance
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Happy Reading
.
.
.
Kartu Pelajar YG Senior High School
Nama : Kim Hanbin
TTL : Seoul, 22 Oktober 1998
Jenis Kelamin : Laki-Laki
No. Induk : 72296
Kartu ini berlaku selama menjadi siswa YG Senior High School
Hanbin memandang kartu pelajarnya yang sangat berharga itu. Benda yang ia dapatkan dengan susah payah. Ya… bukan dengan susah payah juga… Setahun yang lalu, saat ia sedang bingung mencari sekolah menegah, sebuah kilasan muncul didepannya. Lebih tepatnya kilasan soal-soal yang digunakan untuk tes masuk di sekolah ini. Beruntung? Atau curang?
Kilasan itu selalu muncul tiba-tiba. Kadang tidak muncul disaat yang Hanbin inginkan. Seperti saat Eomma-nya jatuh di kamar mandi dua bulan lalu. Jika saja kilasan itu muncul, mungkin saja Eomma-nya tidak dirawat di rumah sakit.
Kadang juga, Hanbin tidak ingin tahu masa depan orang lain, apalagi masa depannya. Seperti tadi, sebuah gambaran tentang suami masa depannya. Rasanya Hanbin ingin segera melupakannya. Bagaimana bisa ia menikahi sunbae-nya sendiri? Bagaimana ia bisa menikahi orang kaya?
"Hanbin-ah!"
"Eo?" Hanbin menolehkan kepalanya ke samping. Tampak Donghyuk menatapnya dengan kesal.
"Aku berbicara kepadamu sedari tadi!"
"Mian." Hanbin memasukkan kartu pelajar itu ke dalam dompetnya dan menyuapkan beberapa butir nasi ke dalam mulutnya.
Donghyuk menutup kotak makannya. Ia sudah selesai makan. Memang, mulut Donghyuk dua kali lebih besar dari Hanbin. Jadi ia bisa makan lebih cepat. "Wae? Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Gara-gara tempat mereka diambil oleh sepasang kekasih yang sedang bercumbu, akhirnya mereka memutuskan makan di taman belakang sekolah.
"Donghyuk-ah… Aku…."
"Eo?" Donghyuk memperhatikan wajah sahabatnya yang terlihat sedang bingung itu. "Tunggu. Apa kau melihat sesuatu?" Ia sangat memahami Hanbin. Ia tahu jika sahabatnya ini melamun, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Eo."
"Apa itu?
"Aneh…"
"Mwo?"
"Sangat aneh…"
"Kau melihat sesuatu yang aneh?"
"Aku melihat… Suami masa depanku…" Kata Hanbin dengan sangat pelan.
"MWORAGO?!"
"Pelankan suaramu." Kata Hanbin sambil melihat sekelilingnya. Untung saja taman ini termasuk tempat yang terpencil.
Butuh beberapa detik untuk Donghyuk pulih dari keterkejutannya. "Kau melihat suami masa depanmu?"
Hanbin menganggukkan kepalanya sambil membereskan kotak makannya.
"Kapan kau melihatnya? Dimana? Siapa?" Tanyanya antusias.
"Tadi, di atap sekolah-"
"Jangan-jangan…. Goo Junhoe?!" Teriak Donghyuk dengan mata melotot.
"Pelankan suaramu, Kim Donghyuk…"
"Jinjja? Apa aku benar?"
"Eo."
Mulut Donghyuk terbuka, masih dengan mata melototnya. "Wah… Jinjja… Kenapa kau santai sekali? Jantungku saja hampir lompat mendengarnya."
Hanbin menghentikan kegiatannya. "Aku juga tidak tahu harus percaya atau tidak."
"Bukankah penglihatanmu tidak pernah salah?"
"Eo."
"Keureom wae?"
"Hanya saja…. Sangat tidak mungkin aku menikahi orang sepertinya." Tiba-tiba saja suara Hanbin terdengar murung.
"Orang sepertinya?" Tanya Donghyuk bingung.
"Kau tahu… Sunbae itu mempunyai banyak uang…"
"Lalu kenapa? Kau merasa tidak pantas untuknya?"
Hanbin terdiam sebentar. "Lagipula, bukankah ia sudah mempunyai pacar?"
Donghyuk menggelengkan kepalanya. Terkadang Hanbin bisa sangat pesimis, bahkan nasehatnya tidak bisa membuat namja di depannya ini percaya diri. Donghyuk memutar badannya ke arah Hanbin dan memegang pundak namja itu. "Hanbin-ah, gambaran yang kau lihat itu menandakan kau harus percaya diri. Memang apa salahnya dengan masa depanmu yang sudah kau ketahui itu? Bukankah itu pertanda baik? Mungkin Junhoe sunbae memang jodohmu. Mungkin kau akan bahagia bersamanya."
Hanbin mendengarkan Donghyuk dengan seksama. Terkadang Donghyuk bisa terlihat dewasa, tidak sepertinya. "Keurae. Gomawo. Mulai sekarang aku akan mulai mempercayai diriku." Kata Hanbin sambil tersenyum kecil.
Donghyuk yang melihat sahabatnya tersenyum itupun ikut tersenyum. "Eo. Jadi apa rencanamu? Apa setelah ini kau akan mendekati Junhoe sunbae?"
"Molla."
.
.
.
Keesokannya, seperti biasa setelah bel istirahat berbunyi, murid-murid keluar dari kelas, kecuali Donghyuk dan Hanbin.
"Ahh… Haisss…." Donghyuk memegang perutnya, ia tampak kesakitan.
"Wae? Perutmu sakit?" Tanya Hanbin khawatir.
"Eo. Hanbin-ah mian, aku ingin ke toilet. Kau bisa ke atap sekolah lebih dulu. Ah ya, tolong bawa kotak makanku, nanti aku menyusul." Donghyuk memberikan kotak makannya ke Hanbin dan berjalan terburu-buru ke luar kelas.
"Hari ini kita makan di atap? Bukankah ada sunbaenim-deul?"
Donghyuk menghentikan langkahnya dan membalikan badan. "Aniya. Mungkin saja mereka tidak ada disana. Lagipula apa setiap istirahat mereka pacaran disana?" Donghyuk kembali memegang perutnya. "Hanbin-ah, aku harus cepat." Lalu ia berlari ke arah toilet.
Hanbin menggelengkan kepala, sepertinya pencernaan sahabatnya itu sedang buruk.
.
.
.
Dengan perlahan Hanbin membuka pintu dekat tangga dilantai paling atas. Semoga saja tidak ada orang.
"Huuu…." Hanbin menghela napas lega. Tidak ada orang. Benar kata Donghyuk. Tidak mungkin setiap istirahat mereka pacaran disini. Memangnya tidak ada tempat lain?
Hanbin berjalan dengan hati-hati ke sudut tempat biasa ia dan Donghyuk makan. Didekat pintu banyak besi-besi bekas yang tajam. Entah apa kegunaan besi itu. Baru saja Hanbin hendak duduk, tiba-tiba seseorang membuka pintu. Donghyuk?
"Donghyuk-ah, aku bawa bekal kimbab." Kata Hanbin tanpa melihat siapa yang datang. Selama beberapa saat tidak ada jawaban. Hanbin mengangkat kepalanya. Dilihatnya suami masa depannya berdiri dengan tangan dimasukkan ke kantong celana.
Hanbin segera berdiri, ia mengambil kotak makannya dan Donghyuk. "Mianhae-yo sunbae, aku akan cari tempat lain." Hanbin berjalan ke arah pintu.
"Aniya, aniya…" Kata Junhoe menghentikan langkah Hanbin. "Kau sudah lebih dulu disini. Aku yang akan pergi." Junhoe tersenyum, matanya bergerak ke sesuatu yang sedang dibawa Hanbin. "Apa itu bekalmu?"
"Ne." Hanbin menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau membawa bekal? Kau bisa membeli makanan di kantin."
"Makanan disana cukup mahal." Jawab Hanbin polos.
Junhoe terkejut, kemudian ia tertawa kecil. "Kau sangat jujur."
Hanbin mengerutkan dahinya. Memangnya ia harus berbohong?
"Keurae. Aku kalah cepat denganmu. Silahkan menikmati makan siangmu." Junhoe melambaikan tangannya ke Hanbin dan berjalan ke pintu.
Hanbin menjatuhkan kotak makan yang ia bawa. Wajahnya tampak pucat. Matanya mengarah kepada Junhoe. Hanbin berlari ke namja itu dan mendorongnya ke samping dengan sekuat tenaga. Kemudian ia merasakan sesuatu benda keras menghantam kepalanya. Setelah itu Hanbin tidak ingat apa-apa lagi.
.
.
.
Hanbin membuka matanya perlahan. 'Apa sudah pagi?' pikirnya.
"Hanbin-ah…."
Hanbin melirikan matanya ke samping. 'Donghyuk? Kenapa ia ada dikamarku?' Hanbin berusaha bangun dari tempatnya berbaring. Tiba-tiba ia merasakan sakit dipelipisnya. Tangannya reflek memegang bagian yang sakit. 'Perban?' Lalu ia melihat sekelilingnya. 'Rumah sakit? UGD?'
"Jangan bangun. Kau harus istirahat." Kata Donghyuk dengan wajah khawatir.
"Ada apa denganku?" Tanya Hanbin bingung.
"Kau tidak ingat? Kepalamu terhantam besi saat kau menolong Junhoe sunbae."
Hanbin berusaha mengingat-ingat. Ahh…. "Apa Junhoe sunbae baik-baik saja?"
"Eo. Dia sedang mengurus administrasi. Hanbin-ah, apa kepalamu sakit?"
"Eo. Sedikit."
Donghyuk merubah ekspresi wajahnya, dari khawatir ke marah. Lalu ia memukul punggung lengan Hanbin cukup keras.
"Aaa! Appo…" Hanbin mengelus lengannya.
"Sekali lagi kau membahayakan dirimu, aku tidak mau menjadi temanmu lagi!"
"Mian."
"Untung Junhoe sunbae segera membawamu ke rumah sakit, kalau tidak kau bisa kehilangan nyawamu."
"Sunbae yang membawaku?"
"Eo. Ia menggendongmu dipunggungnya dan berlari ke ruang guru minta dipanggilkan ambulan."
Hanbin terdiam. Jujur ia tidak ingat apa-apa. Besi itu menghantamnya kepalanya cukup keras. Sebelumnya, ia melihat kilasan Junhoe yang terkena besi itu, makanya ia segera berlari ke arah Junhoe dan mendorong namja itu.
"Sunbae!" Donghyuk melambaikan tangannya ke Junhoe yang sedang kebingungan.
Hanbin melihat Junhoe berjalan ke arahnya. Ia juga melihat noda darah didekat leher dan jas sekolah namja itu.
"Gwaenchana, Kim Hanbin?" Tanya Junhoe sambil memperhatikan perban yang menempel dikepala Hanbin.
"Ne. Gwaenchanayo."
"Kau harus dirawat inap hari ini. Aku akan menelepon ibumu."
"Aniyo." Kata Hanbin cepat. "Aku ingin pulang. Lagipula aku sudah baikan."
"Wae?! Kau belum sembuh. Wajahmu bahkan masih pucat!" Kata Donghyuk tidak terima.
Hanbin menarik tangan Donghyuk dan berbisik. "Aku harus sekolah. Besok ada ulangan mendadak. Pelajari seni musik bab 3."
"Jinjja?" Bisik Donghyuk.
Hanbin menganggukkan kepalanya. Sedangkan Junhoe memandang dua namja pendek didepannya ini dengan tatapan bingung.
"Sunbae, Hanbin ingin pulang. Ia tidak ingin membuat Eomma-nya khawatir." Sekarang Donghyuk membantu Hanbin keluar dari rumah sakit.
"Keurae? Apa kau benar baik-baik saja?"
"Ne, sunbae."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengantar kalian pulang." Junhoe mengeluarkan kunci mobil dari kantong celananya.
"Aniyo, sunbae. Aku bisa pulang sendiri. Sebentar lagi supirku akan menjemput. Kau bisa menghantar Hanbin pulang, rumahnya sangat jauh dari sini."
Hanbin melotot ke Donghyuk."Wae? Kita bisa pulang bersama." Bisiknya. Ia baru pertama kali berbicara dengan Junhoe hari ini, setelah setahun bersekolah di tempat yang sama. Pasti suasana akan sangat canggung saat mereka di mobil nanti.
"Buku seni musikku tertinggal di sekolah. Aku harus mengambilnya." Jawab Donghyuk pelan.
Hanbin menatap Donghyuk kesal. Lalu ia tersenyum ke Junhoe. "Gwaenchanayo, sunbae. Aku bisa pulang sendiri." Tolaknya.
"Aniya. Aku akan mengantarmu pulang. Kajja."
"Tapi aku-"
"Ppalli. Aku akan menunggumu di depan."
.
.
.
Hanbin duduk dengan canggung di mobil Junhoe. Mobil ini cukup mewah untuk anak sekolah, ditambah lagi Junhoe yang sedang menyetir disebelahnya, membuat Hanbin menjadi tambah canggung.
"Duduk saja dengan nyaman. Tidak usah tegak seperti itu." Kata Junhoe seolah-olah tahu apa yang Hanbin pikirkan.
"Ne." Hanbin melemaskan otot punggungnya dan mulai duduk dengan nyaman.
"Aku baru pertama kali melihatmu hari ini. Apa kau murid baru?" Tanya Junhoe sesekali melihat ke namja itu.
"Aniyo. Aku sudah setahun sekolah di sana." Apa Hanbin sangat tidak terkenal?
"Ah… Mian…"
"Gwaenchanayo. Aku sudah terbiasa. Bahkan beberapa guru pernah bertanya seperti itu padaku." Kata Hanbin santai. Ia memang tidak terkenal.
"Jinjja? Kau harus berbaur dengan yang lain. Bertemanlah dengan banyak orang."
"Ne. Sunbae, kau bisa menurunkan aku disana." Hanbin menunjuk ke sebuah rumah kecil.
Junhoe memberhentikan mobilnya. Dilihatnya rumah kecil itu beberapa lama.
"Waeyo? Apa kau heran kenapa aku bisa tinggal di tempat seperti itu?"
"Aniya. Aku tidak bermaksud berpikir seperti itu." Kata Junhoe pelan. Memang pada awalnya ia terkejut. Ia kira Hanbin juga sepertinya.
"Aku tidak apa-apa." Kata Hanbin sambil tersenyum, lalu matanya mengarah ke kemeja Junhoe yang terdapat noda darah. "Sunbae, aku bisa membersihkan jasmu. Berikan padaku." Setidaknya sebagai rasa terima kasih Hanbin kepada Junhoe.
"Dwaeseo."
'Ahh… Benar… Pakaiannya pasti dicuci oleh pelayannya. Atau mungkin ia bisa membeli baru.' Pikir Hanbin.
"Gomawo."
"Ne?"
"Terima kasih telah menolongku."
Hanbin tersenyum , lagi. Sepertinya Junhoe orang yang baik.
.
.
.
"Hanbin-ah! Kau kenapa?!" Tanya Eomma histeris. Orang tua mana yang tidak kaget melihat anaknya pulang dengan kepala diperban?
"Aku terjatuh di sekolah." Bohong Hanbin. Ia tidak ingin membuat Eomma-nya khawatir.
"Bagaimana bisa? Kau harusnya hati-hati." Kata Eomma lembut. "Aku sudah memasakkanmu sup ayam. Makanlah."
"Ne." Hanbin melepas tasnya dan berjalan ke ruang tamu (sekaligus ruang makan).
"Appo?" Eomma mengelus kepala Hanbin. Dilihatnya anak satu-satunya itu dengan sedih.
"Aniyo."
"Eottokhae? Aku tidak bisa merawatmu besok. Besok ada makan malam perusahaan, sepertinya aku akan pulang larut."
"Gwaenchanayo, Eomma tidak usah mengkhawatirkan aku. Bersenang-senanglah." Hanbin tersenyum. Berusaha menyakinkan Eomma-nya bahwa ia baik-baik saja.
Eomma mencubit pipi Hanbin. "Aigoo…. Anakku memang hebat… Sangat manis…"
"Eomma!" Hanbin mengelus pipinya yang memerah.
.
.
.
"Huu… Untung saja kau memberitahuku…." Donghyuk menghela napas lega. Sekarang mereka sedang bersiap-siap makan karena bel istirahat sudah berbunyi dari tadi. "Ujian tadi sangat mudah. Aku bahkan bisa mengerjakannya sambil tutup mata."
"Dasar pemalas. Apa kau hanya akan belajar jika ada ulangan?" Tanya Hanbin sinis.
"Ya! Aku tidak sepertimu. Aku hanya pintar dibeberapa mata pelajaran kecuali seni musik!" Protes Donghyuk.
Saat Hanbin hendak membalas perkataan Donghyuk, tiba-tiba dua orang namja masuk ke dalam kelas mereka. Goo Junhoe dan… Kim Jinhwan. Hanbin melirik tangan Jinhwan yang menggandeng lengan Junhoe, sangat mesra.
"Kim Hanbin, apa kau sudah baikan?" Tanya Junhoe.
"Ne."
"Hanbin-ah, terima kasih karena telah menolong Junhoe. Aku tidak tahu jika tidak ada kau. Junhoe-ya, apa kau mengantarnya selamat sampai rumah?"
"Tentu saja."
"Jika saja kau tidak menungguku, mungkin Hanbin tidak akan terluka. Bukankah begitu?" Tanya Jinhwan ke Hanbin dengan senyum yang aneh.
"Ne."
"Keurae. Kajja, Junhoe-ya. Dia baik-baik saja." Kata Jinhwan dengan wajah datarnya, sangat berbeda dengan tadi.
Junhoe tersenyum kepada Hanbin. Lalu tangannya ditarik Jinhwan keluar kelas.
Donghyuk yang sedari tadi hanya melihat kini membuka mulutnya. "Kau lihat tadi? Jinhwan sunbae sepertinya cemburu padamu."
"Cemburu? Kenapa ia harus cemburu?"
"Kau tidak dengar kata-katanya tadi? 'Kajja, Junhoe-ya. Dia baik-baik saja.' Itu tandanya Junhoe sunbae yang mengajaknya kemari untuk melihat keadaanmu."
"Benarkan?"
"Jinjja-ya. Apa kau tidak marah? Calon suamimu bermesraan dengan calon mantan pacarnya."
"Kenapa aku harus marah?" Hanbin mengeluarkan kotak makannya dengan santai. "Toh nanti ia akan menikah denganku."
"Uwwooo…. Kim Hanbin… Kau mulai percaya diri…" Kata Donghyuk sambil tersenyum mengejek. "Apa kau tidak ada rasa suka padanya?"
"Tidak ada. Aku juga bingung. Mungkin ada suatu hal yang membuat kami menikah tanpa ada rasa suka."
.
.
.
TBC
Annyeong…. Ada yang masih ingat dengan ff ini? Hehe.. udah jamuran ya…
Saya bikin Hanbin disini kelahiran tahun 1998 agar sesuai dengan ceritanya. Maaf kalo ada yang salah-salah… saya berasa kok dari tadi kerjaan Hanbin sama Donghyuk makan melulu ya?! Maafkan author yang lapar ini… Terima kasih atas masukkannya…. Saya ubah sudut pandangnya!
Pada penasaran kan? Gimana Junhoe bisa nikah sama Hanbin?! Tunggu chapter-chapter selanjutnya!
Review juseyo^^
