DEAR FUTURE HUSBAND

Main Cast:

Kim Hanbin

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jinhwan

Kim Donghyuk

Kim Jiwon

Genre: Romance

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Jinjja-ya. Apa kau tidak marah? Calon suamimu bermesraan dengan calon mantan pacarnya."

"Kenapa aku harus marah?" Hanbin mengeluarkan kotak makannya dengan santai. "Toh nanti ia akan menikah denganku."

"Uwwooo…. Kim Hanbin… Kau mulai percaya diri…" Kata Donghyuk sambil tersenyum mengejek. "Apa kau tidak ada rasa suka padanya?"

"Tidak ada. Aku juga bingung. Mungkin ada suatu hal yang membuat kami menikah tanpa ada rasa suka."

.

.

.

"Dijodohkan?" Donghyuk menatap Hanbin ngeri. Menikah karena dijodohkan? Seperti drama Korea yang ia tonton kemarin…

"Molla. Donghyuk-ah, kajja. Aku sudah lapar." Kata Hanbin sambil memegang perutnya.

Saat hendak keluar kelas, tiba-tiba masuk seorang namja. Namja itu berpakaian berantakan, rambutnya berwarna cokelat. Beberapa kancing kemeja atasnya tidak dikancing, sehingga kaus dalam namja itu kelihatan.

"Apa kalian kenal Kim Hanbin?" Tanya namja itu.

"Aku Kim Hanbin." Hanbin mengangkat tangan kanannya.

"Kau dipanggil si botak."

"Si botak?" Tanya Hanbin bingung.

"Maksudmu Ryu seonsaengnim?" Tanya Donghyuk menebak.

"Eo. Si botak Ryu." Kata namja itu santai. "Dia bilang ada urusan penting."

Hanbin memandang Donghyuk yang berada disebelahnya. "Kau bisa pergi duluan." Ia menyerahkan kotak makannya pada Donghyuk lalu berjalan ke luar kelas, meninggalkan sahabatnya berduaan dengan namja itu.

Donghyuk memasukkan bekal miliknya dan Hanbin ke dalam tas kecil, tak lupa dengan botol minum mereka berdua. Ia berjalan ke luar kelas. Saat melewati pintu, tiba-tiba Donghyuk merasa tangannya ditarik seseorang.

"Mau kemana, manis?" Tanya namja itu disertai senyum genit.

Donghyuk menatap namja itu tajam. Ia tidak suka dengan orang yang baru ia kenal mencampuri urusannya. Apalagi memanggilnya manis. Lagipula kelihatannya namja itu bukan anak baik-baik.

"Bukan urusanmu." Jawab Donghyuk jutek.

"Kenapa kau berbicara seperti itu dengan sunbaemu?" Tanya namja itu lembut, hm.. mungkin lebih terlihat seperti menggoda?

"Sunbae?" Donghyuk melihat nametag namja itu. "Kim Jiwon?"

"Kim Jiwon sunbaenim." Kata Jiwon membenarkan.

Donghyuk menatap Jiwon datar. Ia menarik tangannya yang sedang dipegang namja itu kasar. "Minggir." Lalu ia pergi meninggalkan Jiwon.

Jiwon menatap kepergian Donghyuk sampai namja itu menghilang dari pandangannya. "Kim Hanbin…. Kim Donghyuk…" Gumamnya, disertai senyum nakal.

.

.

.

"Permisi." Kata Hanbin begitu tiba di ruang guru. Ia menengok ke sudut ruangan, ke meja kerja Ryu saem.

"Eo, Hanbin-ah…" Panggil Ryu saem yang sedang memegang gagang telepon.

"Ne, nyonya. Kim Hanbin sudah datang." Kata Ryu saem dengan seseorang diseberang sana. "Hanbin-ah, ada telepon untukmu."

Hanbin mengambil gagang telepon itu dari tangan Ryu saem. Nuguya? Apa Eomma-nya yang menelepon? Hanbin baru ingat ia meninggalkan handphone-nya di rumah.

"Yeoboseyo?"

"Kim Hanbin?" Kata seorang wanita ditelepon.

"Ne, nuguseyo?" Wanita ini jelas bukan Eomma Hanbin. Suaranya berbeda.

"Hanbin-ah… hiks…" Terdengar wanita itu terisak.

"Ahjumma, gwaenchanayo?" Tanya Hanbin khawatir sekaligus bingung. Siapa ahjumma ini? Kenapa meneleponya sambil menangis seperti ini?

"Hanbin-ah, Eomma-mu, Na Jiyoo..."

.

.

.

Donghyuk menatap Jiwon dengan kesal. Namja itu sedang berdiri disebelahnya sambil melihat pemandangan dari atap sekolah.

"Kenapa kau mengikutiku?"

"Aku ingin menemanimu sampai temanmu datang. Aku tidak ingin kau sendirian." Kata Jiwon genit.

"Tidak perlu. Pergi sana!" Kata Dongyuk jengkel.

"Wah, anginnya sejuk. Tidak heran orang itu menyukai tempat ini." Kata Jiwon girang, tidak menghiraukan omongan Donghyuk.

Donghyuk memutar bola matanya. Ia tidak berniat bertanya siapa yang dimaksud Jiwon 'orang itu.'

"Donghyuk-ah, apa kau tidak ingin menyusul temanmu?"Tanya Jiwon tiba-tiba.

"Wae? Dia menyuruhku pergi kesini sendiri." Kata Donghyuk sambil menekankan kata 'sendiri'.

Jiwon tertawa kecil. "Sepertinya ada telepon untuk temanmu."

"Telepon?"

"Eo. Aku mendengar sedikit pembicaraan Ryu saem ditelepon. Dia bilang 'aku turut berduka cita'."

Donghyuk mengerutkan dahinya. Apa ada seseorang yang Hanbin kenal meninggal? Keluarganya mungkin? Tapi keluarga Hanbin hanya Eomma-nya. Tunggu…

Donghyuk tersentak. Tidak. Tidak mungkin. Ia segera berlari ke arah tangga, meninggalkan Jiwon yang berteriak memanggil namanya.

.

.

.

Jinhwan menatap sekelilingnya risih. Dilihatnya beberapa siswa memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Memang tatapan mereka bukan mengejek, tetapi tetap saja Jinhwan merasa tidak enak. Lagipula tidak biasanya Junhoe mengajaknya ke taman belakang sekolah seperti ini.

Jinhwan memandang Junhoe yang sedang duduk disebelahnya. Namja itu seperti orang aneh, tersenyum sendirian.

"Wae irae? Kenapa kau malah mengajakku ke sini bukannya atap sekolah?"

Junhoe tidak mendengarnya. Namja itu masih tersenyum, kadang-kadang tertawa, seperti membayangkan sesuatu yang lucu.

"Junhoe-ya." Kata Jinhwan sambil menyentuh pundak Junhoe.

"Ah!" Kata Junhoe sedikit terkejut. "Maaf, kau bilang apa tadi?"

Jinhwan menghela napas. "Kenapa kau malah mengajakku ke sini?"

"Ah… itu… Kim Hanbin. Kau tahu? Dia suka makan siang di atap sekolah bersama temannya. Aku tidak ingin mengganggu mereka."

"Hanya karena itu?"

"Eo. Memangnya apa lagi?" Tanya Junhoe bingung. "Lagipula apa kau tidak bosan setiap hari ke sana?"

Jinhwan menatap Junhoe tanpa ekspresi. "Junhoe-ya, kita yang lebih dulu memakai tempat itu. Mereka hanya junior kita. Kita bisa saja mengusirnya."

Jinhwan mendekatkan wajahnya dengan Junhoe dengan ekspresi pura-pura marah. "Dan aku sama sekali tidak bosan setiap hari pergi ke atap sekolah asal denganmu."

Junhoe tersenyum. "Apa kau marah?"

"Eo. Aku tidak suka pacaran tempat ramai seperti ini." Jinhwan mempoutkan bibirnya.

Junhoe menatap Jinhwan yang sedang berekspresi lucu, menurutnya. Digenggamnya tangan namja mungil itu. "Mianhae. Kau jangan marah, eo?"

"Apa besok kita bisa pacaran di atap sekolah lagi?"

"Eo. Terserahmu."

Jinhwan tersenyum girang. "Kalau begitu, kau kumaafkan."

"Gomawo." Junhoe mencium tangan namja chingu-nya itu. Mereka sudah berpacaran hampir dua tahun dan jarang sekali bertengkar. Junhoe selalu mengalah demi Jinhwan karena ia sangat menyayangi namjanya itu.

"Junhoe-ya, hajima. Orang-orang memandang kita." Kata Jinhwan sambil mengedarkan pandangannya.

"Biarkan saja. Mereka juga sudah tahu kita berpacaran. Apa kau malu?"

"Aniya. Aku hanya-"

"Eo. Itu Kim Hanbin." Junhoe menunjuk sesosok namja yang sedang berjalan di koridor, seberang mereka. "Sepertinya anak itu pergi ke ruang guru."

Jinhwan mengikuti arah pandang Junhoe. "Lalu kenapa?"

"Jinhwan-ah, apa kau tahu? Kim Hanbin adalah orang yang sangat unik. Dia terlihat sangat santai. Setiap aku bertemu dengannya, wajahnya selalu tanpa ekspresi kkk…"

Jinhwan terdiam, ia melepaskan tangannya dari Junhoe perlahan.

"Sebelum kecelakaan kemarin, aku mengobrol sedikit dengannya. Aku bertanya kenapa dia membawa bekal, bukannya membeli makan di kantin. Dan kau tahu apa jawabannya? Dia bilang makanan disana terlalu mahal kkk…. Anak itu jujur sekali..." Kata Junhoe sambil tertawa.

"Jadi karena itu kau tersenyum sedari tadi?" Tanya Jinhwan dengan wajah datar.

"Eo. Apa menurutmu itu tidak lucu? Kkk…"

"Aniya. Itu tidak-" Jinhwan belum menyelesaikan kalimatnya karena Junhoe tiba-tiba berdiri. Wajah namja itu terlihat terkejut.

"Wae?"

Junhoe tidak menjawab pertanyaan Jinhwan. Matanya sedang fokus ke satu titik, Kim Hanbin yang keluar dari ruang guru sambil menangis.

.

.

.

Donghyuk berlari secepat mungkin. Turun beberapa lantai dan berlari disepanjang koridor menuju ruang guru. Mudah-mudahan ia salah, mudah-mudahan Eomma Hanbin baik-baik saja.

Langkahnya terhenti saat melihat sahabatnya itu berjongkok sambil menangis sesegukan di depan ruang guru. "Hanbin-ah…"

Hanbin mendongakan kepalanya. "Donghyuk-ah… Uri Eomma meninggal…" Ujarnya lemah.

Hal yang ditakuti Donghyuk terbukti benar. Dihampirinya Hanbin dan dirangkul sahabatnya itu. "Aku turut berduka cita, Hanbin-ah…"

Tangisan Hanbin menjadi tambah keras, ia tidak peduli semua orang memperhatikannya. Eomma-nya sudah tiada, sekarang ia tidak punya siapa-siapa lagi.

"Donghyuk-ah…" Panggil Ryu saem yang sekarang berada didepan Donghyuk dan Hanbin. "Bisa tolong antarkan Hanbin ke rumah duka sekarang?"

"Ne, saem."

"Dan kau Kim Hanbin, kau boleh tidak masuk sekolah untuk beberapa hari. Aku akan meminta ijin ke kepala sekolah." Lanjut Ryu saem. "Sekali lagi aku turut berduka cita." Setelah itu ia meninggalkan Hanbin dan Donghyuk.

Donghyuk memandang Hanbin yang masih menangis dirangkulannya. Ia membantu sahabatnya itu berjalan, karena tubuh Hanbin sepertinya lemas.

"Kajja, Hanbin-ah…"

.

.

.

Junhoe memandang Hanbin dari seberang. Namja berlesung pipi itu sekarang sedang dipapah oleh Donghyuk. Ada apa dengan Hanbin? Kenapa dia menangis?

"Jinhwan-ah, kau tunggu disini sebentar." Kata Junhoe yang sama sekali tidak melihat Jinhwan. Saat hendak berjalan, tiba-tiba tangannya ditarik oleh pacarnya itu.

"Kajima."

"Sebentar saja. Aku hanya-"

"Aku bilang jangan pergi." Kata Jinhwan tegas. Junhoe memandangnya kaget sekaligus bingung. "Biarkan saja, itu urusannya. Kau jangan terlalu ikut campur, Junhoe-nya."

Junhoe menundukkan kepalanya. Ia hanya ingin bertanya pada Hanbin kenapa namja itu menangis.

"Kau bisa bertanya pada temannya besok." Kata Jinhwan seolah bisa membaca pikiran Junhoe.

Junhoe menanggukkan kepalanya, ia kembali duduk dan memandang ke bawah cukup lama. Sorot matanya menandakan ia sedang memikirkan sesuatu.

Jinhwan memutar bola matanya malas. Ada apa dengan namja chingu-nya ini? Beberapa hari ini Junhoe selalu membicarakan Kim Hanbin. Ya, sejak ada namja itu, Junhoe mulai berubah.

Jinhwan mengedarkan pandangannya. Matanya berhenti ke seseorang yang sedang memperhatikannya dari jauh. Sepetinya orang itu ingin berbicara dengannya.

.

.

.

Hanbin berusaha berjalan dibantu Donghyuk. Setelah diantar oleh supir Donghyuk, akhirnya ia tiba disini. Tempat yang terakhir kali ia datangi saat Appa-nya meninggal.

Hanbin dan Donghyuk masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang berpakaian hitam. Beberapa orang ada yang menangis, ada yang termenung sendirian dan ada yang mengobrol, mengenang orang yang meninggal.

Hanbin melihat ke arah kiri. Disana terlihat peti mati dengan foto seorang wanita didepannya. Wanita tercantik yang pernah ia lihat.

Hanbin berjalan ke depan peti mati itu bersama dengan Donghyuk disebelahnya. Tiba-tiba ia jatuh terduduk, kakinya tidak lagi kuat menopang berat badannya.

"Kenapa Eomma ada disitu?" Tanya Hanbin ke foto wanita yang sedang tersenyum itu. "Eomma bilang hari ini akan pulang telat. Tetapi kenapa Eomma ada disitu?" Air mata membasahi pipinya, lagi. "Kenapa Eomma meninggalkanku?"

Hanbin tidak bisa berteriak. Sejujurnya ia marah. Marah karena Eomma-nya pergi begitu mendadak. Marah karena kilasan gambar yang biasa ia lihat itu tidak muncul. Marah karena ia tidak bisa menolong keluarga satu-satunya yang ia punya.

"Hanbin-ah…" Panggil seorang ahjumma. Suara ahjumma itu sama persis dengan orang yang menelepon Hanbin tadi.

Hanbin menengok ke sumber suara. Ahjumma yang sudah lama sekali tidak ia lihat.

"Sera ahjumma?"

.

.

.

Hanbin duduk sambil memeluk lututnya di dekat peti mati Eomma-nya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Semua orang yang melayat sudah pulang, termasuk Donghyuk. Sebenarnya Donghyuk menawarkan diri menemaninya yang menginap di rumah duka, tetapi Hanbin menolak dengan tegas dan berkata bahwa Donghyuk bisa mengunjunginya lagi besok, sepulang sekolah.

Hanbin sudah mendengar dari Sera ahjumma bahwa Eomma-nya meninggal karena kecelakaan bus. Bus itu membawa tigapuluh orang pegawai perusahaan, tempat Eomma-nya bekerja. Kendaraan itu menabrak pembatas jalan dan terbalik karena rem blong. Empat orang meninggal, termasuk Eomma-nya.

"Eomma, sekarang aku harus bagaimana?"

"Hanbin-ah…" Panggil seseorang dari pintu masuk. Wanita itu berjalan menghampiri Hanbin sambil membawa sebuah kantong.

Sera ahjumma duduk disebelah Hanbin, mengeluarkan sebuah kotak dan sebotol air mineral dari kantong yang dibawanya itu.

"Ini. Kau pasti belum makan." Ahjumma itu membuka kotak yang ternyata berisi kimbab.

Hanbin menatap makanan itu. Tidak berubah. Sera ahjumma tidak berubah. Sahabat Eomma-nya itu sering membuatkannya kimbab sewaktu ia kecil.

Hanbin ingat, dulu Sera ahjumma sering datang ke rumahnya karena tempat kerja wanita itu dekat dengan rumahnya. Saat itu Seunghan ahjussi (suami Sera) mengalami kebangkrutan dan Sera memilih untuk bekerja.

Setahun kemudian, perusahaan yang baru dibangun Seunghan ahjussi berkembang pesat dan membuka cabang di Jepang. Sera ahjumma diminta mengurus perusahaan itu, sedangkan Seunghan dan anaknya tinggal di Korea.

"Wae? Apa kau ingin makan yang lain?"

"Aniyo." Hanbin mengambil kimbab itu, memasukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan.

"Makan yang banyak." Kata Sera ahjumma sambil tersenyum.

"Ne."

"Mianhae, aku baru mengunjungimu setelah hampir tiga belas tahun. Kemarin aku baru saja tiba di Korea. Lalu tadi siang aku mendengar kabar Eomma-mu."

"Gwanchanayo. Eomma pernah bercerita ahjumma pindah ke Jepang untuk menjalankan perusahaan ahjussi." Kata Hanbin sambil tersenyum miris. Hatinya sakit saat menyebutkan kata 'Eomma'. "Ahjumma kenapa tidak pulang? Aku bisa sendirian disini."

"Aku ingin menemanimu." Sera ahjumma mengelus kepala Hanbin. Ia sangat menyayangi Hanbin seperti anaknya sendiri. "Hanbin-ah, Eomma-mu akan dimakamkan besok pagi."

"Ne."

"Apa yang akan kau lakukan setelah itu?"

Hanbin terdiam sebentar. "Mollayo." Air mata mulai menutupi pandangannya.

"Apa kau mau tinggal bersamaku?"

Hanbin memandang Sera ahjumma yang sekarang sedang tersenyum. Aura keibuan memancar dari tubuh sahabat terbaik Eomma-nya itu.

"Kau bisa tinggal di rumahku. Aku akan merawatmu seperti anakku sendiri."

Air mata Hanbin jatuh saat mendengar kalimat Sera yang terakhir. Ia merasa tersentuh dengan perkataan wanita itu.

"Uljima." Kata Sera ahjumma sambil menghapus air mata Hanbin. "Aku tidak akan menjual rumahmu. Aku memberikan kebebasan padamu mau diapakan rumah itu. Aku hanya tidak ingin kau tinggal sendirian, Hanbin-ah. Bagaimana? Apa kau mau?"

"Ne, aku mau."

.

.

.

"Hanbin-ah, eodiya? Tadi aku ke rumah duka dan kau tidak ada disana. Pegawai disitu bilang Eomma-mu sudah dimakamkan." Kata Donghyuk dari seberang sana.

"Mianhae, aku lupa memberitahumu." Hanbin yang sedang memegang handphone dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sedang memasukkan barang terakhir ke dalam kardus.

Hanbin melihat sekelilingnya yang penuh dengan kardus, dari ukuran kecil sampai besar. Kardus-kardus itu ia beri nama sesuai isinya, 'baju', 'seragam sekolah', 'buku pelajaran' dan lain-lain.

Malam ini juga ia akan pindah ke rumah Sera. Rumahnya akan dikosongkan, mau diapakan nantinya, Hanbin juga belum tahu.

"Mianhae, aku tidak ada di pemakaman Eomma-mu tadi pagi." Kata Donghyuk dengan nada sedih.

"Aniya, aku yang salah karena tidak memberitahumu."

Donghyuk terdiam sejenak. "Hanbin-ah…"

"Eo?"

"Apa sekarang kau tinggal sendirian? Apa kau ingin tinggal di rumahku? Atau aku yang tinggal di rumahmu?"

Hanbin tersenyum, Donghyuk sangat baik padanya. "Untuk apa kau tinggal di rumahku? Rumahku akan dikosongkan."

"Mwo? Lalu kau tinggal dimana?"

"Ada seorang sahabat Eomma yang mengajakku tinggal bersamanya."

"Ah… Apa kau akan pindah sekolah juga? Jangan pergi, Hanbin-ah." Kata Donghyuk dengan nada memohon.

"Wae? Apa karena kau tidak ingin bocoran-soal-ujian-berjalan ini tidak memberitahumu lagi?"

"Ya! Kenapa kau berpikir seperti itu?!"

"Kkk… Aniya, aku tidak akan pindah sekolah."

"Baguslah. Omong-omong, tadi ada yang menanyakan kabarmu."

"Nugu? Ryu saem?" Kata Hanbin sambil mengambil lakban yang ada disebelahnya. Ia menjepit handphone-nya dengan pundaknya dan mengambil gunting.

"Aniya. Suami masa depanmu, Junhoe sunbaenim."

Hanbin menghentikan kegiatannya melakban kardus. Kenapa Junhoe menanyakannya? Apa mereka sudah sedekat itu sampai-sampai menanyakan kabar?

"Dia melihatmu menangis kemarin. Sepertinya dia khawatir."

Ah… Ternyata begitu. Tangisannya kemarin memang dilihat banyak orang.

"Hanbin-ah, kapan kau akan masuk sekolah? Aku kesepian…"

"Molla. Mungkin beberapa hari lagi."

"Araseo. Hubungi aku jika kau ingin masuk sekolah, eo? Kututup teleponnya. Annyeong…"

"Eo, annyeong…"

Hanbin menjauhkan handphone dari telinganya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari barang yang mungkin saja lupa ia masukan ke dalam kardus. Lalu ia melihat sebuah bingkai foto disebelah tempat tidurnya. Foto Eomma dan dirinya yang sedang tertawa ke kamera.

Hanbin mengambil bingkai foto itu dan memasukkan ke dalam tas punggungnya. Ia mengambil lakban dan melanjutkan kegiatannya. Saat sudah melakban kardus terakhir, Sera ahjumma masuk ke kamar.

"Eottae? Sudah selesai?"

"Ne."

Malam itu Hanbin meninggalkan tempat tinggalnya sedari kecil. Tempat yang memiliki banyak kenangan.

.

.

.

Di dalam mobil, Sera ahjumma bercerita tentang pengalamannya di Jepang. Ia juga mengenang saat-saatnya bersama Jiyoo. Hanbin mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan tanggapan.

Beberapa saat kemudian, suasana hening. Mereka melakukan kegiatan masing-masing, Sera ahjumma yang sedang mengetik sesuatu di handphone-nya dan Hanbin yang terus menatap ke luar jendela.

Hanbin menegok ke sebelahnya, ia memberanikan diri untuk berbicara. "Kamsahamnida, ahjumma."

Sera ahjumma melepas pandangan dari handphone-nya dan menatap Hanbin. "Aniya, gwaenchana. Aku senang keluargaku bertambah. Rumahku jadi tidak sepi lagi."

"Ahjumma juga membantuku mengurus pemakaman Eomma. Aku sungguh berterima kasih…" Hanbin menundukan kepalanya. Ia sudah banyak merepotkan wanita itu.

Sera ahjumma memegang tangan Hanbin. "Itu memang sudah tugasku. Eomma-mu sudah aku anggap seperti saudara dan kau sudah aku anggap seperti anakku sendiri." Katanya sambil tersenyum.

"Apa kau tahu? Sedari dulu aku ingin sekali mempunyai anak sepertimu." Kata Sera dengan nada ceria. Ia berusaha mengubah suasana. "Hanbin-ah, apa kau ingat anakku?"

Hanbin berusaha mengingat. Sera ahjumma memang mempunyai seorang anak laki-laki dan beberapa kali pernah datang ke rumahnya. Tapi Hanbin lupa nama anak itu, bahkan wajahnya pun tidak ingat.

"Sekarang anakku sudah besar, sama sepertimu. Tapi sifatnya berubah, mungkin karena aku tidak ikut merawatnya. Anak itu sekarang benar-benar kurang ajar, dia bahkan tidak menjemputku di bandara kemarin!" Kata Sera ahjumma kesal. "Hanbin-ah, kau harus berusaha membantuku mengubah sikapnya itu, eo?"

Hanbin tersenyum. "Ne, aku akan berusaha."

"Ah, kita sudah sampai."

Hanbin menengok ke luar jendela. Dilihatnya sebuah gerbang besar yang terbuka. Rumah yang sekarang ia lihat ini memiliki taman depan dan air mancur. Pintunya juga sangat mewah, bak istana.

Hanbin dan Sera ahjumma turun dari mobil. "Anggap saja rumahmu sendiri." Ahjumma itu mempersilahkan Hanbin masuk, lalu langsung mengantar anak itu ke kamar yang sudah ia siapkan. Mereka menaiki tangga yang ada disebelah kiri pintu masuk. Melewati koridor lalu belok kanan. Sampailah mereka disebuah ruangan besar.

"Ini kamarmu, Hanbin-ah."

Hanbin melangkahkan kakinya masuk ke kamar. Ia memandang sekeliling. Kamar itu sangat luas, dilengkapi dengan tempat tidur yang mewah dan jendela yang besar.

"Disana ada kamar kecil khusus untuk menaruh pakaian." Kata Sera ahjumma sambil menunjuk ke ruangan kecil di samping kanan tempat tidur. "Aku juga sudah membeli beberapa pakaian yang bisa kau pakai. Disebelah kiri tempat tidurmu, ada kamar mandi, lengkap dengan bathtub dan shower."

"Ne. Kamsahamnida, ahjumma…"

Sera ahjumma tersenyum. "Semoga kau nyaman tinggal disini, Hanbin-ah. Barang-barangmu akan segera dibawa naik. Kalau ada apa-apa aku ada dibawah." Lalu ia keluar dan menutup pintu kamar Hanbin.

Hanbin berjalan ke jendela yang ada di seberang pintu masuk. Dilihatnya pemandangan taman belakang yang indah. Lalu ia berjalan ke samping tempat tidur. Hanbin mengeluarkan bingkai foto itu dari dalam tasnya dan menaruhnya disebelah tempat tidur.

"Eomma... Apa keputusanku ini tepat?"

.

.

.

Keesokannya, Hanbin bangun kesiangan. Padahal ia sudah bersiap-siap untuk menyapa penghuni rumah. Sera ahjumma bilang Hanbin bisa melakukannya saat makan malam.

Sepanjang hari Hanbin terus berada di dalam kamar, membereskan barang-barangnya. Sesekali ia pergi ke luar kamar, mengelilingi rumah ditemani Sera ahjumma.

Akhirnya makan malam pun tiba. Setelah mandi, Hanbin turun ke lantai satu, ia pergi menuju dapur.

"Jogiyo…" Kata Hanbin kepada para pelayan yang sedang menyiapkan makanan. "Apa ada yang bisa kubantu?"

Pelayan-pelayan itu memandang Hanbin heran. "Maaf, tuan muda. Nyonya bilang, tuan muda tidak boleh melakukan apa-apa."

Hanbin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tuan muda? Rasanya aneh dipanggil seperti itu.

"Hanbin-ah, sedang apa kau disini?" Tanya Sera ahjumma yang datang ke dapur sambil membawa nampan kosong.

"Hm… Aku datang ke sini untuk membantu…" Jawab Hanbin pelan.

"Aniya, aniya, tidak perlu. Kau tunggu saja di ruang makan." Sera ahjumma mendorong punggung Hanbin agar namja itu pergi dari dapur.

Hanbin yang diusir, berjalan ke ruang makan pasrah. Ia merasa tidak enak, tinggal disini tapi tidak membantu apa-apa. Langkahnya terhenti saat melihat namja bertubuh tinggi yang sedang berdiri di depan meja makan, membelakangi Hanbin.

Hanbin memperhatikan namja itu dari kepala hingga kaki. Ah… itu pasti anak Sera ahjumma. Tapi tunggu. Bukankah itu seragam sekolahnya? Namja didepannya itu mengambil segelas air yang ada di meja makan.

"Ah… segarnya…"

Suara itu…

Merasa diperhatikan, namja itu membalikkan badannya.

"Eo? Kim Hanbin?"

"Goo Junhoe sunbaenim?"

.

.

.

TBC

Haihai^^

Apa kalian sudah menduga-duga cerita selanjutnya?

Junhoe yang mulai peduli pada Hanbin? Jinhwan yang merasa pacarnya berubah?

Ada yang bisa nebak kenapa Hanbin sama Junhoe bisa nikah?

Udah ah, kebanyakan nanya…

Kasih tau ke saya pendapat kalian dengan mereview

Review juseyo^^