DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Hanbin memperhatikan namja itu dari kepala hingga kaki. Ah… itu pasti anak Sera ahjumma. Tapi tunggu. Bukankah itu seragam sekolahnya? Namja didepannya itu mengambil segelas air yang ada di meja makan.
"Ah… segarnya…"
Suara itu…
Merasa diperhatikan, namja itu membalikkan badannya.
"Eo? Kim Hanbin?"
"Goo Junhoe sunbaenim?"
.
.
.
Hanbin membelalakan matanya, ia sangat terkejut, begitupun dengan Junhoe. Ekspresi namja itu seperti melihat hantu. Selama beberapa detik Hanbin dan Junhoe saling pandang. Sampai kemudian Junhoe menaruh gelas yang dipegangnya dimeja dan menghampiri Hanbin yang tidak bergerak ditempatnya.
"Kau benar Kim Hanbin?" Tanya Junhoe tidak percaya. Ia memperhatikan Hanbin dari kepala sampai kaki.
"Ne…" Jawab Hanbin bingung. Ia mengikuti arah pandang Junhoe yang sedang memperhatikan badannya. "Setahuku, aku tidak punya kembaran."
Junhoe tertawa kecil. Benar. Namja didepannya ini benar Kim Hanbin. Cuma Hanbin yang bisa melucu tanpa ekspresi seperti itu. Junhoe tersenyum lega. Entah kenapa ia merasa senang bisa melihat namja berlesung pipi itu. "Ah… Kau kenapa bisa ada di rumahku?"
Hanbin menundukkan kepalanya. Ia harus jawab apa? Menceritakannya dari awal? "Um.. Aku…"
"Junhoe-ya!"
Hanbin dan Junhoe kompak membalikkan badan, ke sumber suara. Dibelakang mereka terlihat Sera sedang membawa nampan. Wanita itu berjalan cepat ke meja, menaruh nampan, lalu memukul punggung Junhoe beberapa kali.
"Anak kurang ajar! Sekarang sudah malam dan kau baru pulang?! Lebih baik kau tidur di jalan saja sana!"
"Aw! Aw! Sakit!" Junhoe menahan sakit, Sera terus memukulnya. Tidak kuat lagi, ia lalu menghindar dan bersembunyi dibelakang Hanbin sambil memegang pundak namja itu.
Hanbin yang kebingungan tidak bisa kemana-mana karena Junhoe memegangnya begitu kuat. Sedangkan tangan Sera sudah ada didepan wajahnya, hampir memukulnya. Hanbin memejamkan matanya, berusaha menahan sakit yang akan ia rasakan.
"Ah… Mianhae, Hanbin-ah…." Sera segera menarik tangannya. Hampir saja ia menampar Hanbin.
Hanbin membuka matanya dan menghela napas lega. "Gwaenchanayo."
Sedangkan Junhoe mengerutkan dahinya, tampak bingung. "Eomma kenal dengannya?" Tanyanya sambil mengarahkan pandangan ke Hanbin.
"Tentu saja." Kata Sera masih dengan nada kesal. "Hanbin-ah, kau ingat dia?" Tangannya menunjuk ke Junhoe. "Dia anakku, Goo Junhoe. Kalian sering bermain bersama waktu kecil."
Junhoe menatap wajah Hanbin. Ia semakin bingung. Teman masa kecil? Tiba-tiba Junhoe tersenyum lebar. "Kau Hanbinie?!"
Hanbin membelalakkan matanya. Hanbinie? Sepertinya panggilan itu terdengar tidak asing.
Ah… ia ingat... Benar. Dulu ia dan Junhoe pernah main bersama. Hanya namja itu yang memanggilnya 'Hanbinie'. Junhoe kecil yang selalu jahil padanya, dan Hanbin yang pendiam. Ia ingat semuanya.
"Wah… Tidak mungkin…" Kata Junhoe dengan nada terkejut sekaligus senang. "Kalau dilihat-lihat kau memang Hanbinie!"
Hanbin tersenyum canggung. Rasanya aneh mengetahui sunbaenim-mu ternyata teman masa kecilmu.
"Eomma, Kim Hanbin adalah juniorku di sekolah!"
Sera tampak terkejut. "Jinjja?" Tanyanya pada Hanbin.
"Ne…"
"Wah… Dunia itu sempit sekali ternyata… Ya! Kenapa kau tidak mengenali Hanbin?!" Sera kembali memukul punggung Junhoe.
"Aaa! Keumanhae! Aku juga baru sadar sekarang, Eomma!" Teriak Junhoe. "Ya, Kim Hanbin, kau sendiri saja? Mana Eomma-mu? Aku sudah lama tidak bertemu Jiyoo ahjumma."
Mendengar nama Eomma-nya disebut, Hanbin menundukkan kepalanya. Rasanya ia tidak sanggup menceritakan semuanya pada Junhoe.
"Junhoe-ya, ikut aku sebentar." Sera menarik tangan Junhoe menjauhi Hanbin.
Hanbin melirik Sera dan Junhoe yang tampak berbisik-bisik diujung ruangan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat wajah terkejut Junhoe. Pasti Sera sedang membicarakan kondisinya. Hanbin berdiri canggung disamping meja makan. Apa keluarga Sera bisa menerimanya?
Beberapa menit kemudian, Hanbin merasakan seseorang memegang pundaknya. Dilihatnya siapa pemilik tangan itu.
"Aku turut berduka cita." Ujar Junhoe penuh penyesalan. "Aku sungguh minta maaf karena tidak bisa hadir dipemakaman Eomma-mu."
Hanbin tersenyum kecil. "Gwaenchanayo."
"Jja…" Suara Sera memecah keheningan yang diciptakan Junhoe dan Hanbin selama beberapa detik tadi. "Goo Junhoe, mandi dan ganti pakaianmu. Sebentar lagi waktunya makan malam."
"Ne…" Junhoe menatap Hanbin yang ada didepannya dan menarik tangan namja berlesung pipi itu. "Kajja, ikut aku."
Hanbin menatap Sera bingung. Sedangkan wanita itu hanya tersenyum sambil menjauh. Lalu ia kembali menatap Junhoe yang sedang berjalan didepannya. "Eodiga-yo?"
Junhoe tidak menjawab. Namja bertubuh tinggi itu terus berjalan sambil menggenggam tangannya. Junhoe membawa Hanbin ke lantai dua dan berjalan ke arah kamarnya.
"Apa ini kamarmu?" Junhoe menunjuk pintu yang ada didepan mereka, kamar tempat Hanbin tidur semalam.
"Ne."
Junhoe tersenyum. "Bagus kalau begitu. Kamar tidur kita berseberangan."
Hanbin melihat pintu dibelakangnya. Ah… jadi itu kamar Junhoe…
"Ayo." Junhoe kembali menarik tangan Hanbin dan membawanya ke kamar seberang.
Junhoe melepas jas sekolahnya dan menaruhnya ditempat tidur. "Kenapa kau berdiri didepan pintu? Ayo masuk." Ia menghampiri Hanbin, mendorong punggung namja itu lalu menutup pintu kamar.
Junhoe menarik Hanbin agar duduk disebelahnya, ditempat tidur.
"Dengar, aku benar-benar minta maaf soal Eomma-mu. Kalau saja ada yang memberitahuku, aku pasti datang."
Hanbin tersenyum. "Aku tidak apa-apa."
Melihat Hanbin tersenyum, mau tidak mau senyum Junhoe juga mengembang. "Kau tahu tidak? Kau terlihat lebih baik saat tersenyum."
"Ne?"
"Saat di sekolah, kau selalu saja memasang wajah datarmu." Junhoe menirukan wajah datar Hanbin versi lebih aneh. Dahi mengerut, dan bibir monyong.
Hanbin membelalakkan matanya. "Apa aku benar-benar terlihat seperti itu?"
Junhoe tertawa kecil. "Kau memang tidak berubah. Selalu saja mudah dibohongi."
Hanbin mempoutkan bibirnya kesal. Junhoe juga tidak berubah, jahilnya tidak pernah hilang.
Junhoe mencubit kedua pipi Hanbin pelan dan menariknya. Membuat wajah mereka saling berhadapan. "Anggaplah rumahmu sendiri. Jangan merasa sungkan."
Hanbin mengedipkan matanya beberapa kali. Ada satu hal yang berubah dari Junhoe. Sekarang dia lebih terlihat dewasa.
"Oho!" Wajah Junhoe terlihat serius.
"Waeyo?"
"Apa kau sekarang sedang bersikap imut?"
"Aniyo, sunbaenim." Hanbin memundurkan tubuhnya kebelakang, menjauhi Junhoe.
"Mwoya…. Kenapa kau berbicara formal padaku? Ah! Panggil aku 'hyung'!"
"Ne?!" Kata Hanbin terkejut.
"Wae? Shirreo?"
"A-ani…" Hanbin menundukkan kepalanya. Memang ia dan Junhoe sudah berteman sejak kecil. Dari dulu juga Hanbin memanggil Junhoe dengan sebutan 'Hyung'. Tapi itu kan tiga belas tahun yang lalu.
"Kalau begitu panggil aku 'hyung'. Kau juga memanggilku hyung saat kita masih kecil."
"A-aku…."
Junhoe memasang wajah marah yang dibuat-buat. Mau tidak mau Hanbin menurutinya.
"H-hyung…. Junhoe hyung…"
Junhoe tersenyum lebar. "Aigoo… Aku sangat merindukan panggilan itu…"
Hanbin tersenyum canggung. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Kau juga harus memanggilku begitu di sekolah, eo?"
"Eo…"
"Bagus…" Junhoe mengelus kepala Hanbin. "Kau harus berbicara banmal padaku. Itu membuatku lebih nyaman."
"Eo…"
Setelah puas mengelus kepala Hanbin, Junhoe berdiri dan berjalan ke sebuah rak dekat jendela. Dikeluarkannya sebuah boneka lalu dilemparkannya kepada Hanbin. Dengan sigap, Hanbin menangkap benda itu. Ditatapnya benda itu. Boneka Mickey Mouse miliknya…
"Kau ingat?"
"Eo. Ini boneka punyaku saat umur lima tahun." Hanbin tersenyum girang. Boneka itu adalah boneka pertama yang dibelikan Appa-nya. Junhoe merebutnya karena tidak suka Hanbin yang statusnya laki-laki memainkan boneka.
"Kukembalikan padamu." Kata Junhoe sambil membuka satu persatu kemejanya.
Hanbin yang melihat hal itu langsung memalingkan wajahnya. "Kenapa hyung membuka baju?"
Junhoe tampak kebingungan. "Wae? Apa aku harus mandi sambil memakai kemeja?"
"Ani…"
"Aku ingin mandi dulu. Kau tunggu disini, nanti kita ke ruang makan bersama." Junhoe melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Hanbin melirik Junhoe yang sudah masuk ke kamar mandi. Ia menghela napas lega. Lalu ia kembali melihat bonekanya dan memeluknya dengan erat. "Akhirnya kau kembali padaku~"
.
.
.
"Hah…. Aku tidak sanggup lagi…."
Donghyuk menyandarkan punggungnya ke kursi. Lalu ia memejamkan matanya yang terasa perih. Sesekali ia memijit pelipisnya. Tugas ini membuatnya lelah.
Donghyuk melihat jam yang ada dilayar laptopnya. Padahal baru setengah jam, kenapa terasa lama sekali?
"Pesanan anda sudah tiba." Kata seorang pelayan sambil membawa nampan berisi pesanan Donghyuk dan menaruhnya diatas meja. "Satu buah cheese cake dan green tea latte."
"Kamsahamnida."
Donghyuk sedikit membungkukkan badannya, mencium makanan yang ada didepannya yang terlihat menggiurkan. Lalu ia mengedarkan pandangannya. Café tempat ia berada sekarang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka.
Setelah yakin tidak ada yang memperhatikannya, Donghyuk mengambil garpu dan memakan cheese cake pesanannya dengan brutal.
"Wah…. Aku terasa hidup kembali."
Saat hendak memasukan makanan untuk yang keempat kalinya, Donghyuk teringat sesuatu. Diambil handphonenya dan mengetik sesuatu. Lalu tangannya terhenti.
Aniya. Ia tidak bisa menganggu Hanbin. Anak itu perlu istirahat yang banyak. Donghyuk melirik laptop yang ada disebelah kanan depannya. Tugas, tugas, tugas. Andai saja Hanbin ada disini, pasti tugasnya cepat selesai, dia kan pintar.
Hanbin juga pasti sudah memberitahunya seminggu yang lalu, sehingga ia bisa mengerjakan tugas jauh-jauh hari sebelumnya.
Suara bel didepan pintu café berbunyi, membuyarkan lamunan Donghyuk. Refleks, namja itu melihat siapa yang datang. Dan ternyata…
Donghyuk segera bersembunyi dibalik layar laptopnya. "Kenapa sunbae gila itu ada disini?!" Dilihatnya Jiwon masuk ke dalam cafe dan berjalan ke kasir.
"Eotteokhae?" Gumam Donghyuk sambil mempererat pegangannya pada laptop.
Tunggu. Kenapa ia harus sembunyi? Donghyuk memperbaiki duduknya dan membereskan barang-barangnya. Keurae, ia harus terlihat natural dan pelan-pelan keluar dari sini.
Bukan apa-apa, Donghyuk sebenarnya malas meladeni sunbae yang terus mengganggunya itu. Ya, karena Hanbin tidak masuk beberapa hari ini, Jiwon selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Bahkan menemaninya makan siang dengan alasan tidak ingin melihat Donghyuk kesepian. Padahal niat namja bergigi kelinci itu adalah mencuri makanannya.
"Kim Donghyuk!"
Ugh.
Mau tidak mau Donghyuk menoleh ke sumber suara. Jiwon menghampirinya sambil tersenyum lebar.
"Kau sudah lama disini?" Jiwon menarik kursi dan duduk didepan Donghyuk.
"Eo, dan sekarang aku sudah mau pulang." Donghyuk mengambil tasnya dan handphone-nya lalu berdiri. Saat hendak pergi, tangan Jiwon menahannya.
"Kajima. Temani aku makan!" Jiwon mendorong Donghyuk agar namja itu kembali duduk.
"Kau bukan anak kecil lagi. Kau bisa makan sendiri." Donghyuk kembali berdiri.
Kesal karena tidak didengarkan, Jiwon mengambil handphone yang ada ditangan Donghyuk dan menyitanya.
Donghyuk membelalakkan matanya. "Kembalikan!"
"Tidak mau."
"Aku bilang kembalikan!"
"Tidak mau."
Frustasi, Donghyuk mengepalkan tangannya hendak menonjok Jiwon.
"Eo? KENAPA KAU MEMUKULKU?!" Kata Jiwon yang meninggikan suaranya, membuat orang-orang di café memperhatikan mereka. "AKU HANYA MEMINTAMU MENEMANIKU MAKAN. TAPI KENAPA KAU MEMUKULKU?!" Lalu ia membuat ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.
Donghyuk yang malu dilihat orang-orang, segera menurunkan tangannya. "Aniyo, aku tidak memukulnya." Katanya sambil melambaikan tangan kepada pengunjung disitu. "Aku tidak memukulnya."
Percuma. Orang-orang berbisik sambil menatap Donghyuk dengan wajah tidak senang.
"Aiisshh… Eotteokhae?" Gumamnya.
Melihat Donghyuk putus asa, Jiwon berdiri dan merangkul namja itu. "Aku minta maaf. Kami sedang latihan teater. Maaf jika mengganggu. Kami hanya berakting."
Jiwon membungkukkan badannya dan mendorong leher Donghyuk agar namja itu juga melakukan hal yang sama.
"Oppa sudah menyelamatkanmu hari ini. Kau harus menemani oppa makan sekarang."
Donghyuk menatap Jiwon horor dan memperlihatkan ekspresi hendak muntah.
.
.
.
Hanbin menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan canggung. Diliriknya Sera, Seunghan dan Junhoe bergantian. Semuanya terlihat biasa saja, tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuat Hanbin merasa tidak nyaman.
Kemarin ia masih bisa makan dengan Eomma-nya. Kemarin ia masih bisa bermanja-manja dengan Eomma-nya. Kemarin Eomma masih membuatkan makanan untuknya. Kemarin….
Tanpa sadar Hanbin menangis. Air mata itu meluncur tanpa seijinnya, membuat anggota keluarga Goo memperhatikannya.
"Hanbin-ah, kenapa kau menangis?"
Suara Sera membuat Hanbin menangis lebih kencang. "Maafkan aku sudah mengganggu makan malam kalian. Aku hanya merindukan Eomma. Hiks…"
Sera yang melihat Hanbin menangis, juga ikut menitikan air mata. Dirangkulnya anak itu dan mengelus kepalanya.
"Aigoo Hanbin-ah… Mianhae…"
"Aniyo… Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah mengganggu kalian hiks… Aku sudah merepotkan kalian…"
Hanbin menghapus air matanya. Pasti semuanya merasa tidak nyaman karena tingkahnya.
"Tidak. Jangan berpikir seperti itu." Suara berat Seunghan tiba-tiba terdengar. "Kami sudah menganggapmu keluarga."
"Benar. Aku senang kau ada disini." Sahut Junhoe.
"Hanbin-ah, buang jauh-jauh pikiran itu, eo?" Kata Sera. "Jangan merasa tidak enak hati dengan kami."
Hanbin mengangguk lemah. Rasa canggungnya perlahan mulai hilang. Ternyata itu yang ia khawatirkan saat ini: takut tidak diterima dengan baik.
Sera tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Aku tidak memintamu melupakan Jiyoo, tapi mulai sekarang anggap kami keluarga barumu, eo?"
"Ne.." Ujar Hanbin sambil tersenyum.
"Makanlah…"
Hanbin menganggukkan kepalanya dan kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana? Apa masakanku enak?" Tanya Sera dengan penuh semangat.
Hanbin menguyah perlahan. "Tidak terlalu enak." Jawabnya enteng.
Sera yang agak syok menatap Hanbin kecewa, sedangkan Junhoe tertawa terbahak-bahak.
"Yeoksi, Kim Hanbin akan menjawab seperti itu."
"Kau jujur sekali…" Gumam Sera.
.
.
.
Junhoe berdiri didepan kamarnya sambil memegang perutnya yang masih sakit karena tertawa terlalu keras tadi.
"Aigoo, kau sangat hebat Hanbin-ah. Kau membuat Eomma-ku mati kutu."
"Aku tidak bermaksud seperti itu." Kata Hanbin pelan.
"Aku menyukai kejujuranmu itu. Kau membuatku terhibur."
"Eo… Kalau gitu aku masuk dulu." Hanbin memegang pintu kamarnya. "Selamat malam."
"Ya! Kenapa kau buru-buru sekali?!"
"Eo?"
"Kau tidur denganku malam itu. Sudah lama kita tidak tidur bersama."
"Eh?!" Junhoe menarik tangan Hanbin dan membawanya masuk.
Memang saat kecil Junhoe pernah beberapa kali menginap di rumah Hanbin dan mereka tidur satu kamar. Tapi itu sudah lama...
"Sini. Tidur disini." Junhoe menepuk spot kosong ditempat tidurnya.
Hanbin berjalan dan duduk diujung tempat tidur.
"Ya! Kemari, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Aku sudah menganggapmu adikku sendiri."
"Adik?" Batin Hanbin. Ia menghampiri Junhoe dan tiduran disebelahnya.
Setelah menyelimuti Hanbin, Junhoe menyanggah kepala dengan lengannya dan menatap namja itu.
Hanbin yang merasa tidak enak dengan pandangan Junhoe, menarik selimut dan menutupi setengah wajahnya.
Junhoe tersenyum kecil. "Kau tahu tidak selama ini aku mencarimu?"
Hanbin tidak menjawab. Tapi ekspresi wajahnya menandakan ia tidak tahu.
"Hanbin-ah…"
"Eo?"
"Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatnya."
"Hm…"
"Hanbin-ah…"
"Eo?"
Junhoe terdiam sambil memandang wajah Hanbin untuk beberapa saat. "Aniya, tidak ada apa-apa. Tidurlah. Aku akan mematikan lampu."
.
.
.
Hanbin membuka matanya. Gelap. Belum pagi rupanya. Hanbin menoleh ke kanan. Dengan bantuan sedikit cahaya dari jendela, ia melihat jam yang ada dirak. Masih jam tiga pagi.
Hanbin memejamkan matanya, hendak melanjutkan tidur. Tapi kemudian ia kembali membuka matanya. Hanbin menoleh ke kiri. Dilihatnya Junhoe sedang tertidur menghadapnya.
Misteri kenapa ia bisa menikah dengan Junhoe nantinya, mulai terlihat. Banyak kemungkinan yang masuk akal terlintas dipikiran Hanbin.
Junhoe hanya menganggapnya sebagai adik. Berarti kemungkinan yang paling besar adalah mereka menikah karena dijodohkan. Ditambah lagi Sera dan Seunghan tampak menyukainya.
"Ah… Molla…" Batin Hanbin.
Tiba-tiba saja muncul sebuah kilasan…
Lampu kamar yang mati, sama seperti sekarang. Hanbin yang berkeringat tanpa pakaian. Junhoe yang juga telanjang berada diatasnya.
"Appooo…"
"T-tahan sebentar, Hanbin-ah…."
"Ahh! Hhyyuunngg…"
Cup
"Saranghae, Kim Hanbin…"
Hanbin melompat dari tempat tidurnya.
Apa-apaan ini?!
.
.
.
TBC
Haihai^^
Masih ingat saya? Saya benar-benar minta maaf karena jarang update. Saya juga belum bisa janji bakal update di ffn atau tidak. Banyak halangan. Saya tahu mungkin saya terlalu banyak beralasan... Maaf ya...
Kalo kalian mau mengunjungi wattpad saya silahkan parksennassi
Kalo saya updatenya lama, tegor aja ya! Saya ga marah kok^^ malah saya jadi merasa ga enak sama kalian..
Gimana chapter kali ini?
Review juseyo^^
