DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Lampu kamar yang mati, sama seperti sekarang. Hanbin yang berkeringat tanpa pakaian. Junhoe yang juga telanjang berada diatasnya.
"Appooo…"
"T-tahan sebentar, Hanbin-ah…."
"Ahh! Hhyyuunngg…"
Cup
"Saranghae, Kim Hanbin…"
Hanbin melompat dari tempat tidurnya.
Apa-apaan ini?!
.
.
.
Merasa adanya pergerakan, Junhoe membuka mata perlahan. Samar-samar dilihatnya Hanbin berdiri disamping tempat tidur sambil menatapnya horor. Junhoe bangun dari tempat tidur dan menyalakan lampu yang ada disebelahnya. Lalu ia melihat ke arah jam dinding.
"Wae? Kau mimpi buruk?" Tanya Junhoe sambil mengucek matanya.
"A-niyo." Jawab Hanbin yang masih menunjukkan wajah syok.
"Keureom wae?"
Hanbin tidak menjawab, ia menundukkan kepalanya. Kilasan itu masih sangat jelas diingatannya. Dari semua kilasan masa depan, kenapa kilasan seperti itu yang muncul?
Hanbin melirik Junhoe yang masih menunggu jawabannya. Lalu ia memperihatikan sekeliling Junhoe. Tempat tidur yang acak-acakan begitupun dengan selimut, bahkan ada bantal yang jatuh ke lantai. Dan namja itu… masih tidur menyamping dengan lengan yang menahan kepalanya. Dan…. Kancing piyama Junhoe…. Oh tidak, uri Hanbin yang polos ini sekarang sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Hanbin-ah." Panggil Junhoe. Namja berlesung pipi itu masih belum menjawab pertanyaanya. "Gwaenchana?"
"Hyung, aku ingin kembali ke kamarku." Tanpa menunggu jawaban Junhoe, Hanbin segera menuju pintu, ia ingin segera keluar dari sana.
Junhoe yang kebingungan dengan sikap Hanbin, segera melompat dari tempat tidurnya dan mengejar namja itu. "Kau kenapa?" Ia menahan tangan Hanbin yang ingin menggapai gagang pintu.
Hanbin yang terkejut tangannya dipegang, reflek berteriak. "Ah!"
Junhoe juga tidak kalah terkejut. Ia melepaskan tangan Hanbin dan menatap namja itu horor. "Kkamjagiya."
"Mianhae." Cicit Hanbin.
"Ya! Kau kenapa?" Tanya Junhoe sekali lagi.
Hanbin hanya bisa menundukkan kepalanya. Tidak mungkin ia bilang yang sebenarnya. 'Hm… Jadi hyung, aku bisa melihat masa depan. Omong-omong kita akan menikah nanti. Dan sekarang aku melihat sebuah kilasan saat kita sedang…. sedang….'
Hanbin menggelengkan kepalanya. Memangnya ia gila?
Junhoe semakin kebingungan melihat Hanbin bersikap aneh didepannya. "Eodi appo?"
"Ani." Jawab Hanbin yang masih belum bisa menatap mata Junhoe. "Hyung, aku ingin tidur di kamarku."
Junhoe mengerutkan dahinya. Walaupun masih bingung dengan situasi sekarang, ia memperbolehkannya. "Keurae."
Hanbin membuka pintu dan langsung masuk ke kamarnya yang ada diseberang kamar Junhoe. Sebelum menutup pintu, ia mendengar Junhoe berkata, "selamat tidur. Semoga mimpi indah."
Hanbin hanya bisa meringis. Memangnya ia bisa tidur setelah ini?
.
.
.
Pagi ini suasana di dapur sangat ceria. Sera ahjumma memasak makanan dengan semangat, bahkan sampai menyenandungkan sebuah lagu. Kenapa ia memasak sendiri ketika ia punya banyak pelayan? Karena hari ini hari spesial. Hari pertama Hanbin sekolah. Maksudnya, hari pertama Hanbin berangkat ke sekolah dari rumahnya.
Saat lagi asik-asik memasak, tiba-tiba Sera ahjumma merasa seseorang memeluk pinggangnya dari belakang. "Mwohae?" Terdengar suara berat yang sangat ia kenal itu.
"Menurutmu?"
"Kulihat kau sedang memasak. Memangnya hari ini ada apa?"
Sera membalikkan badannya, sekarang ia berhadapan langsung dengan Seunghan. "Hari pertama Hanbin sekolah."
Seunghan tertawa kecil. "Apa kau begitu menyukai anak itu?"
"Eo. Hanbin sudah kuanggap seperti anakku sendiri."
"Berarti dia juga anakku?"
Lalu mereka berdua tertawa kecil.
"Bogoshipeo." Kata Seunghan.
"Nado."
Cup
Junhoe yang sedang berjalan ke dapur untuk mengambil minum, langsung menghentikan langkahnya dan bersembunyi dibalik tembok. "Aiissh jinjja…. Anaknya sudah sebesar ini masih saja melakukan hal itu ditempat terbuka."
Hanbin yang sedang menuruni tangga, melihat Junhoe yang sedang mengintip dari balik tembok. Dihampirinya hyung-nya itu. "Hyung."
"Ah! Kkamjagiya…" Kata Junhoe terkejut. "Aiissh… kau membuatku terkejut."
"Hyung sedang melihat apa?" Hanbin yang berada didepan Junhoe, ikut mengintip dari balik tembok. Ia penasaran apa yang sedang dilihat namja itu.
Junhoe yang melihat gerakan Hanbin, segera menarik lengannya. "Ya! Kau masih kecil, belum boleh melihat hal seperti itu."
Hanbin mengedipkan matanya beberapa kali. "Memangnya hyung melihat apa?" Ia malah makin penasaran.
"Kau masih belum cukup umur."
"Aku sudah delapan belas tahun, hyung." Kata Hanbin mengingatkan.
Junhoe menatap Hanbin kesal. "Lalu kenapa? Bagiku kau masih anak umur lima tahun."
Hanbin mempoutkan bibirnya. "Anak umur lima tahun mana yang badannya sebesar ini?" Cibirnya.
"Kau bilang apa tadi?"
"Ani."
Junhoe menatap Hanbin yang memasang ekspresi 'aku-tidak-mengatakan-apa-apa'. "Kau sekarang sudah bisa menjelekan orang, eo?" Ia mencubit pipi chubby Hanbin dengan tangannya dan membawanya ke ruang makan.
"Appo!" Teriak Hanbin kesakitan. Ia heran kenapa orang-orang senang sekali mencubit pipinya. Eomma-nya, Donghyuk, bahkan sekarang Junhoe.
Begitu sampai di ruang makan, Junhoe menjauhkan tangannya dari pipi Hanbin. Namja yang lebih pendek darinya itu langsung mengelus-elus pipinya yang agak merah, lalu menatapnya kesal.
"Memangnya ada apa di dapur?" Tanya Hanbin yang masih penasaran.
"Hal yang dilakukan dua orang yang saling mencintai. Karena kau masih polos, kau pasti tidak tahu apa maksudku." Jawab Junhoe percaya diri.
"Kisseu?"
Junhoe membulatkan matanya.
Hanbin memasang wajah datar. "Hyung, mungkin aku polos, tapi aku tidak bodoh." Lalu ia menarik kursi yang ada di depannya dan duduk disana.
Junhoe masih berdiri mematung. Jadi dongsaengnya ini sudah tidak sepolos yang ia kira.
"Hanbin-ah, selamat pagi~" Sapa Sera ahjumma sambil membawa nampan, diikuti Seunghan ahjussi yang berjalan dibelakangnya.
"Selamat pagi, ahjumma dan ahjussi." Hanbin tersenyum kecil.
Melihat Hanbin tersenyum, Sera ahjumma menjadi tambah ceria. "Aigoo, uri Hanbin sangat manis saat tersenyum. Seragam itu juga cocok ditubuhmu… Ya Goo Junhoe! Cepat duduk! Kau tidak ingin sarapan?!"
Junhoe berjalan ke seberang meja sambil meringis. Sebenarnya siapa yang anak kandung disini?
"Wah… Masakan ahjumma sangat harum…" Puji Hanbin. Nasi goreng didepannya benar-benar mengugah selera.
"Tentu saja. Aku sudah berlatih semalaman."
Hanbin tersentak. Pasti Sera ahjumma berbuat seperti itu karena ucapannya saat makan malam kemarin. "Mianhaeyo. Aku sudah mengatakan hal yang buruk kemarin."
"Aniya. Kau jujur dan aku menyukainya. Dengan begitu aku bisa meningkatkan kemampuan memasakku." Kata Sera ahjumma, senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. "Ah iya! Ini." Ia memberikan Hanbin sebuah kotak makan lengkap dengan sayurnya. "Junhoe bilang kau sering membawa bekal ke sekolah. Jadi aku membuatkanmu ini."
Hanbin menatap benda didepannya itu sambil tersenyum. Lalu ia melirik Junhoe yang sedang duduk dihadapannya.
"Kau harus berterima kasih padaku." Kata namja itu.
"Gomawo, hyung."
"Junhoe-ya, kau berangkat bersama Hanbin?" Tanya Seunghan ahjussi.
"Tentu saja, appa." Jawab Junhoe enteng.
Hanbin membulatkan matanya. Pergi ke sekolah bersama Junhoe? Apa yang akan dikatakan murid-murid nantinya? Pasti satu sekolah mencibirnya. "Ahjussi, aku bisa berangkat sendiri." Katanya pada Seunghan ahjussi.
"Mwo?" Tanya Junhoe bingung. "Aku membawa mobil. Kau tinggal duduk saja."
"Tapi…"
"Kalau kau mau berangkat sendiri, silahkan. Halte bus dua kilometer dari sini." Junhoe menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Ya!" Teriak Sera ahjumma tiba-tiba, membuat Junhoe tersedak. "Kenapa kau kasar sekali?!"
"Uhuk! Uhuk!" Junhoe mengambil gelas berisi air putih didepannya dan menenggak air itu sampai habis.
Sedangkan Hanbin sedang sibuk memikirkan apa yang akan dikatakan Donghyuk nantinya.
.
.
.
"Heol…." Donghyuk menatap pemandangan didepannya tidak percaya. Seseorang yang ia kenal sebagai Kim Hanbin keluar dari mobil mewah milik seorang Goo Junhoe. "Ini pasti mimpi. Aku sedang bermimpi buruk."
Hanbin berdiri disamping mobil. Ia sedang menunggu Junhoe yang masih ada didalam mobil, mematikan mesin. Dilihat sekelilingnya, tatapan semua orang tertuju padanya. Sudah ia duga, tatapan seperti ini membuatnya tidak nyaman.
Donghyuk yang sedang berdiri beberapa meter dari Hanbin, menghampiri namja itu. "Kau gila?!"
Hanbin tersenyum canggung. "Aniya."
"Kenapa kau bisa bersama Junhoe sunbaenim?!"
"Donghyuk-ah, aku bisa jelaskan nanti." Hanbin melirik ke Junhoe yang sekarang sudah keluar dari mobil.
"A-anyeonghaseyo, sunbaenim." Donghyuk sedikit membungkukkan badannya.
"Keurae. Hanbin-ah, kau pulang jam berapa?" Tanya Junhoe pada Hanbin.
"Sekitar jam empat, hyung."
"Hyung?!" Gumam Donghyuk.
"Kalau begitu aku akan menunggumu. Kita pulang bersama."
"Eo."
"Banmal (bahasa informal)?!" Gumam Donghyuk lagi.
Hanbin memperhatikan ekspresi Donghyuk sedari tadi. Ia harus menjelaskan semuanya pada sahabatnya itu sebelum dia salah paham. "Hyung duluan saja. Ada hal yang harus aku bicarakan pada Donghyuk."
"Keurae." Junhoe tersenyum pada Hanbin dan Donghyuk lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ikut aku." Hanbin menarik tangan Donghyuk dan membawanya ke atap sekolah.
.
.
.
Jinhwan menatap namja bertubuh tinggi itu sambil tersenyum. Dari jarak sejauh ini saja ia tahu bahwa namja itu adalah pacarnya, Goo Junhoe. Junhoe yang sedang sibuk dengan handphone-nya, tidak sadar bahwa kini Jinhwan sudah ada dihadapannya.
"Ah… Annyeong…" Sapa Junhoe. Ia terheran-heran melihat ekspresi Jinhwan sekarang yang terlihat kesal. "Wae? Kau kenapa?"
Jinhwan menghela napas. "Aku sudah memperhatikanmu dari ujung lorong. Tapi sepertinya kau tidak melihatku."
"Mianhae." Junhoe merangkul pundak namja mungil itu. "Aku sedang membalas pesan."
"Nugu? Apa orang itu lebih penting dariku?"
Junhoe tertawa kecil. "Apa sekarang kau sedang cemburu dengan Eomma-ku?"
Jinhwan tersentak. "Ah… Mian. Aku tidak tahu kalau itu Eomma-mu."
"Gwaenchana, chagiya." Junhoe mempererat rangkulannya.
Jinhwan menggerakkan tangannya dan memeluk pinggang Junhoe. "Aku merindukanmu."
"Nado."
Jinhwan tersenyum pada Junhoe. Tapi senyumnya menghilang begitu melihat orang dibelakang Junhoe.
"Goo Junhoe."
Junhoe melepas rangkulannya dan membalikkan badannya. "Eo. Jiwon-ah."
Namja yang dipanggil Jiwon itu tersenyum kecil lalu memandang Jinhwan. "Annyeong, Kim Jinhwan."
"Eo. Annyeong." Jawab Jinhwan datar.
"Junhoe-ya, tadi aku melihatmu datang bersama Kim Hanbin." Kata Jiwon pada Junhoe sambil melirik Jinhwan.
Sedangkan namja mungil itu langsung menatap Junhoe, seolah-olah meminta penjelasan.
"Ah… itu…. Kim Hanbin sekarang tinggal di rumahku. Jadi kami berangkat ke sekolah bersama." Jawab Junhoe enteng.
"Mwo?!" Jinhwan melepaskan pelukannya. "Kenapa bisa…."
"Jiyoo ahjumma, maksudku, Eomma Kim Hanbin dan Eomma-ku ternyata sahabat dekat. Setelah Eomma-nya meninggal, Hanbin tinggal di rumahku karena Eomma-ku memintanya."
Ekspresi Jinhwan berubah menjadi kesal. "Kau tidak-"
"Jinhwan-ah." Kata Junhoe semangat. "Ternyata aku dan Hanbin adalah teman kecil! Kami sering bermain saat kecil! Wah…. Dunia sempit sekali…."
Mendengar kenyataan bahwa Junhoe dan Hanbin teman kecil, ditambah lagi sekarang namja itu tinggal bersama, membuat Jinhwan marah. Kenapa akhir-akhir ini Kim Hanbin selalu mengganggunya?
"Kau senang?" Tanyanya.
"Mwo?" Junhoe sadar akan perubahan ekspresi wajah Jinhwan. Ia sadar namja mungil itu tidak menyukai apa yang barusan ia katakan.
"Aku tanya apa kau senang?"
"Jinhwan-ah, aku-"
"Pasti saja kau senang." Kata Jinhwan sambil tersenyum kesal. "Sekarang kau tinggal bersamanya bukan? Jadi kau bisa mendekatinya."
Junhoe menghela napas. "Jinhwan-ah, hubunganku dengannya hanya sebatas teman kecil. Kenapa kau malah berpikir seperti itu?"
"Wae? Apa aku tidak boleh berpikir seperti itu?" Jinhwan meninggikan suaranya. "Junhoe-ya, apa kau tidak sadar? Akhir-akhir ini kau selalu membicarakan orang itu! Kau tidak memikirkan perasaanku!"
"Aku sudah bilang, aku dan Hanbin hanya sebatas teman, tidak lebih!"
"Kau bisa saja menyukai temanmu itu!"
"Kau tidak boleh-"
Jiwon membalikkan badannya, meninggalkan pasangan yang sekarang sedang bertengkar hebat itu. Samar-samar ia tersenyum kecil. "Cih…"
.
.
.
"Wah…. Sekarang semuanya makin jelas…" Donghyuk menyandarkan badannya pada tembok setinggi dadanya. "Selamat Kim Hanbin! Kau semakin dekat dengan suami masa depanmu! Kkk…. Lalu bagaimana? Apa kau betah tinggal disana?"
Hanbin menghela napas. Ia melihat jam yang ada dihandphone-nya. Sepuluh menit lagi bel masuk. Tapi sepertinya ia enggan pergi dari sana. Dihirupnya angin segar pagi hari sebanyak-banyaknya.
"Eo. Tapi aku masih merasa canggung."
"Wae? Apa ahjumma yang kau maksud memperlakukanmu dengan buruk?"
"Aniya. Sera ahjumma sangat baik padaku. Ia menganggapku seperti anaknya sendiri."
"Kau memang akan menjadi anaknya suatu saat nanti. Kkkkk…." Goda Donghyuk.
"Keumanhae…"
"Lalu apa lagi? Apa disana kau melihat kilasan?"
Hanbin membulatkan matanya. "Aniya. Aku tidak melihat apa-apa." Katanya bohong. Menceritakan kilasan semalam pada Donghyuk? Tidak. Hanbin masih waras. Sahabatnya itu pasti akan menggodannya habis-habisan.
"Hanbin-ah!"
"Eo?"
"Apa aku boleh main ke rumah barumu?"
"Mwo?!"
Donghyuk memperlihatkan aegyo-nya yang berhasil membuat Hanbin merinding. "Kau baru pindah rumah. Aku ingin melihat rumah barumu, boleh?"
"Andwae."
"Hanbin-ah~"
"Andwae. Lagipula aku pulang bersama Junhoe hyung nanti sore."
Ting!
Anda mendapat pesan baru.
Goo Junhoe: Mianhae, aku tidak bisa pulang bersamamu nanti. Apa kau bisa pulang dengan taxi? Aku akan memberikan alamat lengkapnya.
"Hanbin-ah, aku ke rumah barumu, ne?" Tanya Donghyuk sekali lagi.
"Eo."
"Assa!"
.
.
.
Sera ahjumma membuka majalah-majalah berisi resep masakan yang baru ia beli tadi. Dari masakan tradisional sampai masakan luar negeri. Ia memilih kira-kira makanan apa yang akan ia masak besok. Bukan tanpa alasan, Sera ahjumma sebenarnya ingin dipuji Hanbin. Tidak pernah ia kira ternyata sesenang ini rasanya dipuji Hanbin. Anak itu memang memberikan pengaruh baik.
Sera ahjumma mengingat kenangannya bersama sahabat terbaiknya, Jiyoo. Mereka sudah berteman sedari kecil sampai mereka menikah dan punya anak. Mereka saling bercerita bagaimana susahnya mengurus anak, berbelanja pakaian bersama, dan… "Hah…. Aku sangat merindukanmu, Jiyoo-ya…"
Hubungannya dengan Jiyoo mulai terputus saat suami Jiyoo meninggal. Pada saat yang sama, perusahaan suaminya yang ada di Jepang mengalami masalah dan terancam bangkrut. Mau tak mau Sera ahjumma meninggalkan Korea.
Sera ahjumma mengerutkan dahinya. Sepertinya Jiyoo bercerita sesuatu sebelum ia pergi. Kalau tidak salah berhubungan dengan Hanbin dan masa depan? Entahlah, ia tidak mengingatnya.
"Annyeonghaseyo, ahjumma."
Sera mengangkat kepalanya. "Eo, Hanbin-ah! Kau sudah pulang." Dirangkulnya anak itu. "Apa dia temanmu?"
Donghyuk membungkukkan badannya. "Annyeonghaseyo, Kim Donghyuk imnida. Aku teman dekat Kim Hanbin."
"Keurae? Aigoo… Kau sangat manis." Sera ahjumma mengelus kepala Donghyuk.
"Kamsahamnida." Kata Donghyuk sambil tersenyum lebar. "Ahjumma, masakanmu sangat enak!"
Sera ahjumma melirik Hanbin.
"Ah… Itu… Donghyuk mencicipi makanan yang ahjumma buatkan tadi pagi." Jelas Hanbin.
"Ne. Sangat enak."
"Aigoo… Gomawo…" Sera tersenyum. "Donghyuk-ah, apa kau ingin mencicipi masakanku lagi?"
"Ne! Aku mau!"
"Kalau begitu, kau harus ikut makan malam. Tunggu saja di kamar Hanbin. Nanti aku akan memanggil kalian."
"Ne!"
.
.
.
"Hanbin-ah, kau sangat beruntung tinggal disini." Donghyuk merebahkan badannya dikasur empuk milik Hanbin. "Kau memiliki keluarga yang baik."
Hanbin tidak menjawab. Ia sibuk melepaskan dasi dan jas sekolahnya.
"Sedangkan aku?" Lanjut Donghyuk. "Walaupun tinggal bersama, aku tidak pernah bertemu dengan orangtuaku. Mereka selalu sibuk bekerja."
"Bukankah mereka bekerja juga untuk dirimu?" Hanbin menghampiri Donghyuk dan duduk disamping namja itu.
"Memang. Tapi aku merasa seperti tidak punya orang tua."
"Hajima. Jangan berkata seperti itu."
"Aku selalu sendirian, Hanbin-ah."
"Kau boleh menginap disini lain kali."
Donghyuk menundukkan tubuhnya dikasur. "Jinjja?!"
"Eo. Lagipula sepertinya Sera ahjumma menyukaimu."
"Keurae? Aku memang anak yang menyenangkan." Kata Donghyuk percaya diri.
"Cih…" Hanbin tertawa kecil.
"Ah iya! Kau belum cerita kenapa kau tidak jadi pulang bersama Junhoe sunbaenim."
Hanbin menundukkan kepalanya. "Um…. Sepertinya dia punya urusan mendadak."
"Apa itu?"
"Molla. Aku juga tidak berhak bertanya."
"Hanbin-ah…"
"Mwo?"
"Sepertinya aku tidak akan pernah menginap disini."
"Wae?"
"Aku takut mengganggumu dan Junhoe sunbaenim. Kkkk…."
"Ya!" Hanbin memukul Donghyuk dengan bantal yang ada didekatnya.
Tok! Tok! Tok!
"Nuguseyo?" Hanbin berjalan ke pintu dan membukanya. Dilihatnya seorang pelayan yang sedang tersenyum.
"Tuan muda, nyonya memanggil anda." Kata pelayan itu.
"Ah, ne." Jawab Hanbin. Lalu pelayan itu membungkukkan badannya dan meninggalkan Hanbin.
Donghyuk menghampiri Hanbin yang masih ada didepan pintu. "Mwo? Tuan muda? Kkkkk…."
"Hentikan!"
"Kkkk…."
Hanbin dan Donghyuk berjalan melewati lorong lantai dua dan menuruni anak tangga. Samar-samar mereka mendengar suara Sera ahjumma.
"Omo! Kalian cocok sekali! Siapa namamu?"
"Nugu?" Tanya Donghyuk pada Hanbin.
Hanbin menggelengkan kepalanya. "Molla. Sepertinya ada tamu."
"Kim Jinhwan imnida."
DEG
Hanbin menginjakkan kakinya dilantai satu, bersamaan dengan itu, matanya bertatapan langsung dengan Jinhwan. Dilihatnya juga Junhoe sedang berada disamping namja itu.
"Hanbin-ah, Donghyuk-ah, kemari." Kata Sera ahjumma ceria. "Kalian sudah kenal dengan Jinhwan bukan? Kakak kelas kalian sekaligus pacar Junhoe."
"Ne." Jawab Donghyuk sambil melirik Hanbin yang berekspresi datar.
"Aigoo, kau tampan sekali. Sangat cocok dengan Junhoe." Puji Sera ahjumma ke Jinhwan.
Hanbin masih belum melepas padangannya dari Jinhwan yang sekarang sedang tersenyum penuh arti. Sebuah pertanyaan muncul dipikirannya. 'Jadi bukan karena dijodohkan?'
.
.
.
TBC
Haihai^^
Mianhae karena kalian sudah menunggu lama T.T
Kalau kalian mau kalian bisa follow wattpad saya: parksennassi
Review juseyo~
