DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
"Hanbin-ah, Donghyuk-ah, kemari." Kata Sera ahjumma ceria. "Kalian sudah kenal dengan Jinhwan bukan? Kakak kelas kalian sekaligus pacar Junhoe."
"Ne." Jawab Donghyuk sambil melirik Hanbin yang berekspresi datar.
"Aigoo, kau tampan sekali. Sangat cocok dengan Junhoe." Puji Sera ahjumma ke Jinhwan.
Hanbin masih belum melepas padangannya dari Jinhwan yang sekarang sedang tersenyum penuh arti. Sebuah pertanyaan muncul dipikirannya. 'Jadi bukan karena dijodohkan?'
.
.
.
"Jinhwan-ah, kau harus ikut makan malam bersama kami." Kata Sera ahjumma.
Jinhwan yang sedari tadi memandang Hanbin, mengalihkan pandangannya dan tersenyum ramah. "Kamsahamnida, Eomonim."
"Eomonim?" Bisik Donghyuk pada Hanbin. "Sunbaenim itu hebat sekali. Kau saja yang sudah kenal dari kecil tidak memanggil ahjumma seperti itu."
Hanbin masih berekspresi datar. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Ia mengalihkan pandangannya ke Junhoe. Dan ternyata namja itu juga sedang melihat ke arahnya, tanpa ekspresi.
"Aigoo…. Aku senang sekali hari ini mendapat banyak tamu." Sera ahjumma memandang Donghyuk dan Jinhwan bergantian. "Kalian tunggu disini sebentar. Aku akan menyiapkan makan malam."
"Biar aku bantu, ahjumma." Tawar Hanbin.
"Aniya. Dwaeseo. Kau temani saja mereka. Aku tidak akan lama." Kata Sera ahjumma sambil tersenyum lalu pergi ke arah dapur.
Setelah ditinggal Sera ahjumma, untuk beberapa saat suasana menjadi canggung. Donghyuk yang terkena dampaknya. Ia menjadi tidak nyaman. Jinhwan yang tersenyum penuh kemenangan (menurut Donghyuk), Junhoe yang sedang menatap Hanbin tanpa ekspresi dan sahabatnya yang sekarang sedang menundukkan kepala.
"Hahaha…" Donghyuk tertawa canggung. "Hanbin-ah, ayo duduk di sofa itu. Hahaha…." Ia menunjuk sofa yang ada diruang tamu didekat pintu masuk, lalu menggiring Hanbin ke sana.
Melihat Hanbin dan Donghyuk duduk di sofa, Junhoe akhirnya juga mengajak Jinhwan duduk disana. Suasana kembali canggung.
"Hanbin-ah, katakanlah sesuatu." Bisik Donghyuk sambil meringis.
Hanbin tidak menjawab. Matanya melirik tangan Jinhwan yang sedang mengelus-elus tangan Junhoe. Namja mungil itu tampak bermanja-manja pada calon suami masa depannya.
Jinhwan masih tersenyum mengingat kejadian tadi siang. Pertama kalinya ia dan Junhoe bertengkar hebat. Jujur ia cemburu. Sangat cemburu. Junhoe yang mulai perhatian pada Hanbin, ditambah lagi sekarang mereka tinggal bersama.
Hal itu membuat Jinhwan resah. Ia takut Junhoe berpaling pada Hanbn. Tapi perkataan pacarnya itu membuatnya tenang. 'Mana mungkin aku berpacaran dengan Hanbin?! Aku sudah menganggapnya adikku sendiri!' Tentu saja Jinhwan merasa menang. Sekarang pola pikirnya berubah. Melihat Junhoe perhatian pada Hanbin tidak akan membuatnya cemburu. Karena mereka sudah seperti kakak beradik.
"Hanbin-ah." Panggil Junhoe tiba-tiba.
Hanbin mengangkat kepalanya. "Eo?"
"Kau sakit? Eodi appo?"
"Ani. Nan gwaenchana." Kata Hanbin sambil tersenyum kecil.
"Kim Hanbin." Kali ini Jinhwan yang memanggil. "Kudengar kau teman kecil Junhoe."
Hanbin melirik ke arah Junhoe, lalu menatap Jinhwan. "Ne."
"Saat kecil Junhoe seperti apa? Apa yang berubah darinya?" Tanya Jinhwan sambil tersenyum.
"Mwoya… Kenapa kau bertanya seperti itu padanya?" Protes Junhoe.
"Wae? Aku hanya bertanya tentangmu. Aku harus tahu bagaimana pacarku saat kecil. Kkkk…."
"Junhoe hyung…" Kata Hanbin dengan suara pelan. "Tidak berubah. Hanya saja…."
"Hanya saja?" Tanya Jinhwan penasaran.
Hanbin memutar bola matanya, mencari kata-kata yang pas. "Hanya saja…. Sekarang hyung terlihat lebih dewasa."
"Wah… Jinjja? Kau tidak berbohong karena aku ada disini bukan?"
"Eeiii… Aniya." Junhoe menunjuk Hanbin. "Hanbin adalah anak yang sangat jujur. Dia bahkan berterus terang jika masakan Eomma-ku tidak enak."
"Jinjja?!" Tanya Jinhwan tidak percaya.
"Ne."
"Dasar bodoh! Kenapa kau berbicara seperti itu pada calon mertuamu?!" Bisik Donghyuk yang ada disebelah Hanbin.
"Lalu aku harus bilang 'masakan ahjumma sangat enak' disaat aku hampir tidak bisa menelannya?" Balas Hanbin yang juga berbisik.
Tiba-tiba pintu masuk terbuka. Seunghan ahjussi berjalan masuk sambil melonggarkan dasinya. Langkahnya terhenti saat melihat ruang tamu disebelahnya. "Ah… Ada tamu rupanya."
Donghyuk yang cekatan segera berdiri dan membungkuk sembilan puluh derajat. "Ahjussi, annyeonghaseyo. Aku Kim Donghyuk, sahabat dekat Hanbin." Katanya penuh semangat. 'Itu pasti Appa Junhoe sunbaenim.'
"Keurae, bangapta." Seunghan ahjussi tersenyum kecil lalu mengalihkan pandangannya ke Jinhwan yang sedang bersiap-siap memberi salam.
"Annyeonghaseyo, Kim Jinhwan imnida." Namja mungil itu membungkukkan badannya.
"Kau anak Kim Yongho? Pemilik yayasan sekolah Junhoe?"
"Ne. Bangapseumnida." Jinhwan tersenyum lebar. Posisinya bisa dibilang menguntungkan karena Appa Junhoe mengenalnya. Seunghan ahjussi mungkin lebih mudah didekati.
"Appa, Jinhwan adalah pacarku." Kata Junhoe.
"Ah…" Kata Seunghan ahjussi tanpa ekspresi.
"Kau sudah pulang?" Sera ahjumma datang dari dapur dan menyambut suaminya itu.
"Eo."
"Yeobo, hari ini kita kedatangan tamu. Mereka akan makan malam bersama kita." Kata Sera ahjumma sambil mengarahkan pandangannya ke Jinhwan dan Donghyuk.
"Keurae."
.
.
.
Donghyuk menghirup wangi makanan didepannya yang tampak menggoda itu. Matanya mengelilingi meja makan yang penuh dengan hidangan. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Untung saja Hanbin yang duduk disebelahnya tidak mendengar.
"Ini semua ahjumma yang masak?" Tanya Donghyuk antusias.
"Tidak semua. Aku dibantu beberapa pelayan." Kata wanita itu sambil tersenyum. "Tunggu apa lagi, Donghyuk-ah? Makanlah."
"Ne! Jalmoekhaeseumnida!" Donghyuk mengambil sesendok penuh nasi beserta lauknya, lalu memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ia makan dengan ceria.
"Jinhwan-ah, silahkan makan."
"Ne, Eomonim!" Jawab Jinhwan tak kalah semangat. Dicicipinya masakan Sera ahjumma. "Eomonim, ini sangat enak!"
"Keurae? Gomawo." Kata Sera ahjumma sambil tersenyum lebar. Lalu ia melirik Hanbin yang tampak sedang mengaduk-aduk makanannya. "Tidak enak?"
"Ne?" Namja berlesung pipi itu mengangkat kepalanya. "A-aniyo, ahjumma."
"Keureom wae? Kau tidak suka?"
"Aniyo. Masakan ahjumma sangat enak." Hanbin tersenyum canggung. Lalu ia melirik Jinhwan yang duduk didepannya. Namja mungil itu makan dengan anggun, sesekali menaruh lauk dipiring Junhoe dengan hati-hati. Hanbin menghela napas. Entah kenapa keberadaan Jinhwan hari ini membuatnya tidak nyaman.
"Eodi appo?"
"Gwaenchanayo. Terima kasih sudah memperhatikanku." Hanbin memindahkan sepiring lauk ke depan Sera ahjumma.
"Eo? Eotteokhae arra?" Tanya wanita. "Kau tahu aku ingin mengambil lauk ini?"
Hanbin tersentak. Ah… Ia lupa… Ia sudah terbiasa dengan Eomma-nya seperti itu. "Bukannya ahjumma sangat suka makanan ini?" Tanyanya senatural mungkin.
"Eo. Kenapa kau bisa…."
"Ahjumma pernah bilang padaku sangat menyukai makanan ini." Kata Hanbin percaya diri, yang sebenarnya adalah bohong besar. "Jadi aku mengambilkannya untuk ahjumma."
Sera ahjumma mengerutkan dahinya. "Keurae?"
"Ne."
"Hm… Gomawo." Walaupun masih bingung, Sera ahjumma memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya.
Hanbin menghela napas lega. Kali ini ia selamat. Beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening. Hanya terdengar sesekali dentingan piring.
"Junhoe-ya." Panggil Seunghan ahjussi tiba-tiba.
"Ne, appa."
"Sebentar lagi ujian masuk perguruan tinggi. Kau sudah siswa tingkat tiga bukan?"
"N-ne." Junhoe sedikit terkejut. Appa-nya jarang sekali membicarakan sekolahnya, hampir tidak pernah. Pemilik nama asli Goo Seunghan itu, termasuk orangtua yang cuek dengan pendidikan anaknya.
"Aku ingin kau fokus pada ujianmu. Belajar yang lain. Jangan melakukan hal yang tidak ada hubungannya dengan pendidikanmu." Kata Seunghan ahjussi tegas. "Bukan begitu, Kim Jinhwan?"
"N-ne." Tentu saja Jinhwan tersentak. Secara tidak langsung 'calon mertuanya' itu menyinggungnya. Apa ini berarti Seunghan ahjussi tidak menyukainya?
Hanbin melirik Jinhwan yang tersenyum canggung. Lalu ia memasukkan nasi ke dalam mulutnya agak banyak, lengkap dengan lauknya. Hanbin tidak senang, hanya prihatin. Ya, prihatin.
.
.
.
Setelah makan malam selesai, Donghyuk dan Jinhwan memutuskan untuk pulang. Mereka dijemput supir mereka masing-masing.
"Hanbin-ah, sampai jumpa besok!" Donghyuk memeluk sahabatnya itu sebelum masuk ke mobil. "Jangan ceroboh." Bisiknya. "Jangan sampai mereka tahu tentang kemampuanmu."
Hanbin menganggukkan kepalanya. "Aku akan berusaha."
"Annyeong~" Donghyuk masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya melalui jendela. "Aku akan datang lagi!"
Hanbin tersenyum kecil. Mungkin tidak ada salahnya sesekali Donghyuk menginap. Dia pasti merasa kesepian tinggal di rumah sendirian.
"Dia sudah pulang?"
Hanbin membalikkan badannya. Dilihatnya Junhoe sendirian, tanpa Jinhwan.
"Eo. Jinhwan sunbaenim…"
"Dia sudah pulang melalui pintu yang lain. Sepertinya Appa tidak suka dengannya."
"Ah…."
Tiba-tiba Junhoe menghampiri Hanbin dengan wajah marah. "Kau kenapa hari ini?"
"Eo?" Hanbin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajah marah Junhoe sangat menakutkan.
"Lihat! Kau bahkan tidak menatap mataku!"
Hanbin tidak menjawab dan masih melihat ke arah lain. Junhoe yang kesal segera menangkup wajah namja itu dengan kedua tangannya. Sekarang wajah mereka sangat dekat.
"Apa kau selalu datar seperti ini?"
Hanbin mengedipkan matanya beberapa kali. 'Mwoya? Kenapa dia seperti ini?'
"H-hyung… Wajahmu…."
"Kim Hanbin…."
"Eo?"
"Ternyata aku salah. Kau justru membuatku penasaran…."
.
.
.
Hanbin terus memandang jam dinding yang ada dimeja makan. Sudah jam segini dan Junhoe belum juga muncul. Apa hyung-nya itu belum bangun? Kalau begitu siapa yang akan mengantarnya ke sekolah?
Sekilas perkataan Junhoe semalam ternginang dikepalanya. 'Ternyata aku salah. Kau justru membuatku penasaran….'
Sampai sekarang Hanbin tidak mengerti apa maksud perkataan namja itu. Apanya yang salah? Penasaran tentang apa? Ia tidak berani bertanya pada Junhoe karena sepertinya namja itu sedang marah padanya. Bahkan Hanbin tidak tahu ia salah apa.
"Mwoya? Dimana anak menyebalkan itu?" Tanya Sera ahjumma pada Seunghan ahjussi yang sedang memakan roti panggangnya. Pagi ini sarapan roti panggang. Tidak lupa Sera ahjumma membawakan bekal untuk Hanbin dan tambahan satu bekal untuk Donghyuk.
"Maksud ahjumma Junhoe hyung?" Tanya Hanbin memastikan, walaupun ia sudah tahu jawabannya.
"Eo. Memangnya siapa lagi?"
Hanbin terdiam sebentar. "Aku akan mencoba membangunkannya."
"Dwaeseo."
Hanbin menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Junhoe datang dari arah tangga sambil membawa tas sekolahnya. Ekspresi namja itu masih terlihat marah.
"Kim Hanbin, kau sudah sarapan?" Tanyanya.
"Eo. Aku sudah selesai."
"Eomma, hari ini aku tidak sarapan." Kata Junhoe pada Sera ahjumma. "Hanbin-ah, kajja." Lalu ia berjalan ke pintu, meninggalkan Hanbin yang sedang bersiap-siap.
"Aku pergi dulu, ahjumma, ahjussi." Pamit Hanbin, tidak lupa ia membungkukkan badan. "Hyung, tunggu aku…."
Karena mempunyai kaki yang pendek, Hanbin harus berlari mengejar Junhoe yang memiliki kaki panjang. Saat diteras, namja itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Hanbin menabrak punggungnya.
"Aaa!" Hanbin memegang dahinya. Niatnya untuk protes segera diurungkan setelah melihat ekspresi wajah Junhoe.
"Tangan." Kata Junhoe sambil memperlihatkan telapak tangannya.
Hanbin mengerutkan dahinya. Lalu ia mengepalkan tangannya dan menaruhnya diatas tangan Junhoe.
"Kau pikir aku sedang mengajakmu bermain?!" Kata Junhoe kesal. Ia membuka kepalan tangan Hanbin lalu mengaitkan jari-jarinya dijari Hanbin.
"Mulai sekarang, setiap pagi kita harus berpegangan tangan. Kau mengerti?!"
"Eh?"
"Aku tanya apa kau mengerti?!"
"N-ne…"
Junhoe mengigit lidahnya, menahan tawa. Reaksi Hanbin sungguh menyenangkan. Memang luar biasa namja didepannya ini. Junhoe bahkan tidak bisa berpura-pura marah.
"Tunggu apa lagi?! Ayo masuk! Kau tidak ingin sekolah?!"
"N-ne…" Seperti anjing yang dimarahi majikannya, Hanbin yang tidak berani menatap mata Junhoe, langsung berlari ke arah mobil. Sedangkan Junhoe lagi-lagi mengigit lidahnya melihat tingkah Hanbin.
.
.
.
Hanbin memainkan jari jarinya, canggung. Sesekali ia melirik Junhoe yang sedang menyetir disebelahnya. Ekspresi namja itu masih dingin. Sedari tadi ia memutar otak bagaimana caranya mencairkan suasana.
Hanbin tidak mengerti kenapa Junhoe bersikap seperti ini. Ia merasa seperti sedang dihukum. Padahal ia tidak tahu apa kesalahannya. Apa ia harus membiarkannya? Atau protes?
'Ya! Goo Junhoe! Kau kenapa, eo?! Apa salahku?! Berhentilah bersikap seperti orang gila!'
Hanbin menghela napas. Mana berani ia berteriak seperti itu.
"Ehem…" Hanbin berpura-pura batuk. "Hyung, kau tidak lapar? Kau belum sarapan."
"Eo. Aku lapar." Jawab Junhoe yang sama sekali tidak melihat wajah Hanbin.
Karena berinisiatif berbaikan (walaupun Hanbin tidak tahu kesalahannya), Hanbin memberikan bekalnya pada Junhoe. Ia bisa meminta bekal Donghyuk nanti.
"Kau bisa makan ini, hyung." Hanbin menyodorkan kotak itu pada Junhoe.
"Kau tidak lihat? Aku sedang menyetir."
Hanbin terdiam. "Ah… Ya sudah." Ia kembali memasukkan kotak itu ke dalam tasnya.
Junhoe melirik Hanbin sebentar. "Ya! Omo…" Ia memegang lehernya yang berdenyut. "Aku bisa gila. Ya Kim Hanbin! Kau tidak mengerti maksudku, eo?"
Hanbin menghela napasnya. Jadi ia berbuat kesalahan lagi? "Aniyo, jadi tolong beritahu apa maksudmu, Goo Junhoe-ssi."
Mendengar Hanbin memanggilnya seperti itu, Junhoe menurunkan nada suaranya. "T-tanganmu sedang menganggur. Kau bisa bantu menyuapiku."
Hanbin mengambil kembali bekal itu sambil meringis. "Goo Junhoe-ssi, lain kali bilang saja apa maksudmu. Otakku yang bodoh ini tidak mengerti jika kau berbicara seperti itu." Lalu ia memasukkan kimbab ke dalam mulut Junhoe agak kasar.
"Kh-khenapha khaw mhemangghilhu sepherhi ihu? Ihshanghe… (Kenapa kau memanggilku seperti itu? Isanghae…)" Kata Junhoe dengan mulut penuh kimbab.
"Telan dulu makananmu, hyung."
.
.
.
Donghyuk berdiri ditempat parkir sambil melipat tangannya di dada. Sesekali ia melihat jam dihandphone-nya. Mulai sekarang ia mempunyai kebiasaan baru di pagi hari, yaitu menunggu Hanbin. Sebenarnya Donghyuk tidak menunggu Hanbin, ia hanya menunggu apa yang dibawa sahabatnya itu. Bekal buatan Sera ahjumma.
"Kau sahabat Kim Hanbin bukan?"
"Ne. Annyeonghaseyo, sunbaenim." Donghyuk membungkukkan badannya pada Jinhwan yang sedang berjalan ke arahnya.
"Mwohae? Kau menunggunya?"
"Ne. Apa sunbaenim menunggu…."
"Junhoe. Aku menunggunya." Jawab Jinhwan yang terdengar angkuh di telinga Donghyuk. "Biasanya dia menjemputku. Sejak ada anak itu, aku harus diantar supir."
Donghyuk tersenyum canggung. Ia tidak tahu harus memberi respon apa.
Beberapa menit kemudian, datang sebuah mobil yang sangat Jinhwan kenal. Namja mungil itu segera menghampiri pintu pengemudi. Sedangkan Donghyuk menghampiri sahabatnya dan membukakan pintu mobil.
"Selamat pagi, tuan muda." Ledek Donghyuk yang membuat Hanbin tertawa kecil.
"Annyeong~" Jinhwan melingkarkan tangannya di lengan Junhoe.
Belum sempat membalas sapa Jinhwan, Junhoe sudah mengumpat kata-kata kasar, membuat Jinhwan, Hanbin dan Donghyuk terkejut.
"Wae? Kau kenapa?" Tanya namja mungil itu.
"Dasar bodoh! Buku pelajaranku tertinggal dirumah!" Junhoe kembali masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin.
"Kau bisa meminjam punyaku." Tawar Jinhwan.
"Aniya. Disitu ada tugas yang harus kukumpulkan hari ini." Tak lama kemudian, mobil berwarna merah itu keluar dari gerbang sekolah dengan kecepatan tinggi.
Donghyuk mengerutkan dahinya lalu berbisik pada Hanbin. "Setelah kau menikah nanti, kau harus mengajarkannya tata bahasa yang baik. Kau pasti malu mempunyai suami yang mengumpat didepan orang banyak. Kau dengar, Hanbin-ah?"
Merasa Hanbin tidak menjawab pertanyaannya, Donghyuk menatap wajah sahabatnya itu. "Kau kenapa?!" Tanyanya panik. Dilihatnya wajah Hanbin pucat. Sangat pucat.
"Andwae…" Hanbin melepaskan tas dipundaknya dan melempar benda itu ke sembarang arah. Lalu ia berlari ke luar gerbang secepat yang ia bisa.
.
.
.
"Sial! Lampu merah!" Junhoe memukul setir didepannya kesal. Kalau saja ia tidak bangun terlambat, kalau saja ia tidak terburu-buru, mungkin saja buku itu tidak tertinggal. Sebenarnya ia bisa saja mengumpulkan tugas itu besok, tetapi ia tidak ingin mengecewakan Appa-nya yang mendadak perhatian pada pendidikannya. Karena suatu hari nanti, ia pasti akan menggantikan posisi Appa-nya di perusahaan.
Lampu hijau sudah menyala. Junhoe segera menginjak pedal gas. Sesaat kemudian ia menginjak rem. Seseorang berhenti didepan mobilnya. Orang itu melebarkan tangannya, menghadang Junhoe. Hanbin berdiri dengan napas terengah-engah.
Namja berlesung pipi itu menatap Junhoe sambil meneteskan air mata. Mulutnya membentuk kata 'syukurlah…'
BRAAAKKK!
Junhoe membeku ditempat duduknya. Tangannya gemetar. Dilihatnya tubuh Hanbin tertabrak truk, terlempar sejauh tiga meter.
.
.
.
TBC
Eottae?
P.S: Untuk JunBin moment, saya rekomendasikan lagu Bolbbalgan4 – Tell Me You Love Me
Wattpad: parksennassi
Review juseyo~
