DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Lampu hijau sudah menyala. Junhoe segera menginjak pedal gas. Sesaat kemudian ia menginjak rem. Seseorang berhenti didepan mobilnya. Orang itu melebarkan tangannya, menghadang Junhoe. Hanbin berdiri dengan napas terengah-engah.
Namja berlesung pipi itu menatap Junhoe sambil meneteskan air mata. Mulutnya membentuk kata 'syukurlah…'
BRAAAKKK!
Junhoe membeku ditempat duduknya. Tangannya gemetar. Dilihatnya tubuh Hanbin tertabrak truk, terlempar sejauh tiga meter.
.
.
.
Junhoe terus menggenggam erat tangan namja itu. Sudah tidak terhitung jumlahnya ia memanggil nama orang yang sekarang sedang terbaring berlumuran darah itu. Hanbin tidak membuka matanya sama sekali walaupun ia panggil berulang kali. Takut. Junhoe sangat takut sekarang.
"Hanbin-ah…. Ireona…. Ireona jebal…." Disentuhnya wajah namja berlesung pipi itu. Ia tidak peduli tangannya terkena cairan kental berwarna merah. "T-tolong panggilkan ambulan…"
.
.
.
Sera ahjumma membuka pintu kamar Hanbin perlahan. Dilihatnya kamar itu tampak rapi dan bersih. Tidak ada barang yang berserakan dilantai. Tidak ada tempat tidur yang berantakan.
"Aigoo… Bersih seperti kamar yeoja…" Gumamnya sambil tersenyum.
Mata wanita itu melirik meja kecil disamping tempat tidur Hanbin. Ada sebuah foto dengan wajah yang tidak asing disana. Wajah sahabat lamanya yang baru berpulang kemarin. Wajah yang hampir tiga belas tahun tidak dilihatnya.
Ia ingat saat Jiyoo mengandung Hanbin. Sahabatnya itu sangat senang dan terus berkata bahwa anak didalam perutnya ada perempuan. Ia juga ingat betapa terkejutnya Jiyoo saat mengetahui anaknya berjenis kelamin laki-laki.
Sera ahjumma tersenyum kecil mengingat kejadian lucu saat Hanbin baru berusia beberapa bulan. Saat itu ia dan suaminya mengunjungi rumah Jiyoo. Ia juga membawa Junhoe yang saat itu berusia satu tahun lebih.
.
FLASHBACK
Junhoe kecil menatap Hanbin yang masih bayi dengan wajah bingung. "Ahjumma, ini apa?" Tanyanya pada Jiyoo sambil menujuk Hanbin kecil yang sedang tertidur.
"Junhoe-ya, bukan 'Ini apa?' Tapi 'Ini siapa?'" Kata Sera ahjumma membenarkan.
Jiyoo tersenyum mendengar kepolosan Junhoe dan menjawab, "Ini anakku. Namanya Kim Hanbin. Junhoe-ya, lihat wajahnya. Sangat lucu bukan?"
Junhoe menatap Hanbin dan mengedipkan matanya beberapa kali. "Ne. Dia sangat lucu." Lalu ia menoleh ke Eomma-nya. "Eomma, aku menyukainya. Bolehkah aku menikah dengannya?"
"Ya! Dimana kau belajar kata-kata seperti itu?!" Sera ahjumma melirik Jiyoo yang sekarang sedang tersenyum. "Mianhae, aku rasa dia terlalu banyak menonton televisi."
"Gwaenchana." Jiyoo berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Junhoe. "Kau menyukainya?"
Junhoe menganggukkan kepalanya. Ia kembali melihat Hanbin kecil yang sekarang sedang tersenyum. "Pipinya kenapa?"
Jiyoo tertawa kecil. "Wae? Apa dia terlihat manis dengan pipi seperti itu?"
"Ne. Aku sangat menyukainya. Apa aku boleh membawanya pulang, ahjumma?"
"Hm…." Jiyoo tampak berpikir sejenak. "Keurae. Kau boleh membawanya pulang saat ia besar nanti."
Junhoe tersenyum bahagia. "Jinjjayo?"
"Eo. Kalau begitu apa kau bisa berjanji padaku untuk menjaganya?"
"Ne. Aku janji, Jiyoo ahjumma."
FLASHBACK END
.
Sera ahjumma menghela napasnya. "Jiyoo-ya, Junhoe benar-benar tinggal bersama Hanbin sekarang."
Tiba-tiba terdengar suara dering handphone. Sera ahjumma mengambil benda itu disakunya.
"Eo, Junhoe-ya…"
"Eo-Eomma…" Suara itu terdengar bergetar. "Maafkan aku…."
.
.
.
"Hanbin-ah… Jebal…. Jebal…" Junhoe terus bergumam seperti itu di lorong UGD. Hanbin sedang ditangani oleh dokter yang sedang bertugas sekarang. Semoga ia tidak terlambat. Semoga Hanbin masih bisa tertolong.
Junhoe menurunkan pandangannya. Dilihat tangannya berwarna merah akibat darah yang mengering. Air mata kembali membasahi pipi namja bermarga Goo itu. Bagaimana jika Hanbin tidak bisa diselamatkan? Bagaimana jika ia tidak bisa melihat namja itu lagi? Junhoe sangat takut sekarang.
"Junhoe-ya…."
Junhoe mengangkat kepalanya. Dilihat Eomma-nya sedang berjalan ke arahnya, berlinang air mata.
"Dimana Hanbin?" Tanya Sera ahjumma dengan suara serak. "Bagaimana keadaanya?"
"Hanbin sedang ditangani dokter, Eomma. Mianhae, jeongmal mianhae." Junhoe menundukkan kepalanya. "Bagaimana jika Hanbin pergi?"
Sera ahjumma terdiam sebentar. "Aniya. Hanbin tidak akan pergi." Ia memeluk anak satu-satunya itu.
"Keluarga pasien Kim Hanbin?" Seorang dokter menghampiri Sera ahjumma dan Junhoe.
"Ne. Aku Eomma-nya. Bagaimana keadaanya?"
Dokter itu menghela napas. "Kim Hanbin-ssi mengalami cedera yang cukup parah. Dia mengalami gegar otak dan beberapa tulangnya patah. Dan sekarang dia koma."
.
.
.
Donghyuk menatap bangku kosong disebelahnya sambil mengerutkan dahi. 'Kemana anak ini? Kenapa sampai pulang sekolah belum juga kembali?' Batinnya.
Lalu Donghyuk menatap sebuah handphone yang ada ditangan kirinya. Sahabatnya itu tidak membawa handphone. Bagaimana ia bisa menghubungi Hanbin? Donghyuk menghela napas. Karena tidak tahu nomor Junhoe, mau tidak mau ia harus bertanya pada Jinhwan. Tapi… Apakah harus?
Donghyuk tidak tahu kenapa ia tidak menyukai Jinhwan. Ada sesuatu yang tidak baik dari namja itu. Ia bisa merasakannya. Atau hanya perasaannya saja?
Donghyuk berdiri dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kelas Jinhwan. Saat sampai disana, dilihatnya namja itu sedang berbicara dengan sunbaenim yang menyebalkan, Kim Jiwon. Samar-samar Donghyuk mendengar pembicaraan mereka.
"Jangan ganggu aku lagi!"
"Cih, kau yang memulainya lebih dulu, Kim Jinhwan. Seharusnya aku yang marah!"
"Jogiyo." Donghyuk menginterupsi.
Jinhwan agak terkejut melihat Donghyuk disampingnya. Sedangkan Jiwon terlihat santai, seolah-olah pembicaraan mereka adalah hal yang umum.
"Mwo? Wae?" Tanya Jinhwan pada Donghyuk ketus.
"Sunbaenim, apa kau bisa menghubungi Junhoe sunbaenim? Dia dan Hanbin belum kembali dari tadi pagi. Aku khawatir terjadi sesuatu." Jawab Donghyuk pelan sambil melirik Jiwon. Namja bermata sipit itu terlihat berbeda kali ini. Wajahnya yang selalu terlihat bodoh kini terlihat sangat serius.
"Ah! Kau benar!" Jinhwan segera mengeluarkan handphone-nya dan menekan angka satu. Junhoe merupakan orang pertama yang ada dipanggilan cepatnya.
"Ya Kim Donghyuk! Hanbin tidak masuk hari ini?" Tanya Jiwon penasaran.
"Ne. Sebenarnya aku bertemu dengannya tadi pagi. Tetapi kemudian dia menyusul Junhoe sunbaenim yang pulang mengambil bukunya."
Jinhwan menatap Jiwon bingung. Sejak kapan namja itu peduli pada orang lain? "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif silahkan-"
"Tidak aktif. Aku akan mencoba menelepon rumahnya."
"Isanghae. Kim Hanbin yang merupakan siswa paling teladan itu tidak masuk." Jiwon melirik Jinhwan. "Apa mungkin ia bolos bersama Junhoe?"
Jinhwan melempar pandangannya kesal. "Tutup mulutmu."
Donghyuk menatap Jinhwan dan Jiwon bergantian. Aneh. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka. Mereka terlihat bermusuhan, tapi mereka terlihat akrab.
"Ne. Yeoboseyo." Kata Jinhwan pada orang diseberang sana. "Annyeonghaseyo. Aku Kim Jinhwan yang datang kemarin. Apa Goo Junhoe ada disana? Dia tidak masuk sekolah hari ini." Lalu ia terdiam sebentar mendengar jawaban dari pelayan rumah Junhoe. Tak lama kemudian ia membulatkan matanya. "Ne?! Kecelakaan?!"
Mendengar Jinhwan berkata seperti itu, Donghyuk membulatkan matanya. Ia berpikir cepat. Tadi pagi wajah Hanbin terlihat pucat, seperti telah melihat sebuah kilasan. Lalu tak lama kemudian ia berlari-
"Kim Hanbin kecelakaan?!"
Kaki Donghyuk melemas. Jadi itu alasannya Hanbin berlari mengejar Junhoe? Untuk menyelamatkan namja itu? Donghyuk menundukkan kepalanya. Ia mulai menangis. 'Bodoh! Dasar Hanbin bodoh!'
.
.
.
"Hanbin-ah… Hiks…" Sera ahjumma memandang Hanbin dari luar ruangan. Sebuah kaca tembus pandang memperlihatkan anak itu terbaring tak berdaya. Selang menempel dimulutnya, gips, perban-perban…
"Kau pasti sangat kesakitan, Hanbin-ah…" Entah sudah berapa kali ia menghapus air mata yang terus membanjiri pipinya.
"Eomma."
Sera ahjumma menoleh ke sampingnya.
"Eomma sebaiknya pulang dan beristirahat. Aku akan menunggu Hanbin disini." Ujar Junhoe pelan.
Wanita itu memperhatikan Junhoe dari kepala sampai kaki. Anaknya itu sudah terlihat seperti mayat hidup sekarang. Rambut yang berantakan, wajah yang pucat, seragam sekolah yang penuh bercak darah.
"Aniya. Kau saja yang pulang."
"Tidak. Aku akan menunggu disini."
Sera ahjumma menghela napas. Junhoe terkadang bisa keras kepala. Dihampirinya anak itu dan mengelus kepalanya lembut. "Pulanglah dan bersihkan dirimu. Istirahatlah. Besok setelah pulang sekolah, kau boleh kembali lagi ke sini dan menunggu Hanbin."
Junhoe tampak berpikir sejenak. "Arraseoyo."
"Ahjumma…." Panggil Donghyuk dari kejauhan.
"Donghyuk-ie?"
Donghyuk berjalan menghampiri Sera ahjumma dan Junhoe perlahan. "Hanbin… Apa Hanbin-" Kata-katanya terhenti saat melihat ruangan tembus pandang disebelahnya. "Hiks… Hiks…." Donghyuk menghapus air matanya kasar.
"Junhoe-ya!" Teriak Jinhwan sambil berlari ke arah Junhoe. "Gwaenchana?"
"Gwaenchana."
Jinhwan melihat Junhoe dengan tatapan sedih. Pasti namja itu sangat syok. "Ikut aku." Lalu ia membawa Junhoe ke taman belakang rumah sakit. Mereka duduk disebuah kursi disana.
Selama beberapa menit, Junhoe tidak mengeluarkan satu kata pun. Matanya terus menatap ke depan dan terlihat kosong. Hati Jinhwan sakit melihatnya.
"Junhoe-ya, bagaimana dia bisa tertabrak? Dia tidak bersamamu di mobil?" Ia mengambil tisu basah di tasnya dan membersihkan tangan Junhoe yang terkena bercak darah.
"Aniya." Jawab Junhoe dengan suara serak. "Dia… Dia…." Namja itu mulai meneteskan air matanya. "Dia tertabrak di depan mataku, Jinhwan-ah…."
Jinhwan menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap pacarnya itu terkejut. Selama mereka berpacaran, ia sama sekali tidak pernah melihat Junhoe menangis.
"Saat itu lampu hijau, aku sudah bersiap-siap melaju kencang. Tapi tiba-tiba dia berdiri didepan mobil dan berkata sesuatu. Aku tidak tahu apa yang dia katakan. Lalu…. Lalu truk itu menabraknya dari samping." Junhoe terdiam sebentar. "Eotteokhae, Jinhwan-ah? Bagaimana jika Hanbin tidak bangun lagi?"
Jinhwan menundukkan kepalanya. "Dia menolongmu, Junhoe-ya." Ia menarik napasnya dalam-dalam. "Kalau saja dia tidak menghentikan mobilmu. Bisa saja kau yang tertabrak truk itu."
Junhoe membulatkan matanya. Benar. Masuk akal. Jadi Hanbin menyelamatkannya? Jadi Hanbin rela tertabrak demi menolongnya? "Aniya. Seharusnya aku yang tertabrak. Seharusnya aku yang terbaring disana. Seharusnya…" Junhoe menjambak rambutnya frustasi.
Jinhwan menatap namja-nya itu sedih. Mwoya? Jadi perasaan mereka lebih dalam dari yang ia kira?
.
.
.
Donghyuk duduk termenung sambil menatap tas Hanbin yang masih dipegangnya. Dibukanya tas itu dan mengambil salah satu buku pelajaran Hanbin. Didepan buku itu terdapat sebuah catatan kecil yang ditulis pemiliknya. 'Besok ada ulangan mendadak bab 3! Harus beritahu Donghyuk!'
"Bodoh. Dasar bodoh." Gumam Donghyuk. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Hanbin dari luar yang kebetulan sejajar dengan tempat duduknya. "Kenapa kau mengorbankan dirimu? Toh ia akan hidup lama dan menikah denganmu nanti."
Hanbin memang sering menolong orang lain yang ada didalam kilasan yang dilihatnya. Tapi tidak pernah sampai seperti ini. Tidak sampai membahayakan nyawanya sendiri.
Donghyuk menghela napas. "Kau hanya tidak ingin melihat suami masa depanmu itu menderita bukan?"
"Donghyuk-ah…" Panggil Sera ahjumma. Ia menghampiri Donghyuk dan memberikan sebotol minuman yang dibawanya. "Jja."
"Kamsahamnida." Donghyuk menerima minuman itu dengan kedua tangannya.
Sera ahjumma duduk disebelah Donghyuk dan menatap ke depan. "Hanbin anak yang baik."
"Ne. Dia selalu menolongku."
"Walaupun dia selalu minim ekspresi, aku sangat menyukainya." Sera ahjumma terdiam sebentar. "Eotteokhaji? Aku takut dia pergi."
"Aniyo. Hanbin pasti akan bangun." 'Dan dia akan menikah dengan Junhoe suatu hari nanti.' Batin Donghyuk.
Sera ahjumma tersenyum kecil. "Keurae. Dia pasti akan sadar dan kembali mengomentari masakanku." Lalu ia melirik tas Hanbin yang sedang dipangku Donghyuk. "Kau membawa tasnya."
Donghyuk agak tersentak. "Ah… Ne…" Ia segera mencopot kertas kecil yang menempel dibuku Hanbin dan membereskan tas sahabatnya itu. "Ini." Lalu ia memberikannya kepada Sera ahjumma.
"Dia meninggalkannya?" Tanya wanita itu bingung. "Apa dia kau tahu kenapa Hanbin berlari mengejar Junhoe?"
"Ah…" Donghyuk memutar bola matanya, mencari alasan yang masuk akal. "Hanbin mengejar Junhoe sunbaenim karena bukunya juga tertinggal. Dia ingin ikut pulang, tetapi Junhoe sunbaenim sudah pergi lebih dulu."
"Ah…. Jadi karena itu ia menghadang Junhoe?"
"N-ne…" Tidak ada yang boleh tahu tentang kemampuan Hanbin. Donghyuk akan selalu merahasiakannya sampai kapanpun.
.
.
.
Sejak Hanbin dirawat, keseharian Junhoe menjadi berubah. Setiap pulang sekolah, ia akan pergi ke rumah sakit, menunggu disana sampai malam, lalu pulang. Besok paginya ia sekolah, siang ke rumah sakit dan seterusnya. Hal itu berlangsung hampir seminggu.
Hanbin sudah dipindahkan ke ruangan biasa, walaupun namja itu masih belum sadar. Alat-alat masih menempel ditubuhnya.
Pagi ini pun masih sama. Hanbin masih belum bangun. Nanti siang Junhoe akan ke rumah sakit, menggantikan Eomma-nya yang ingin pulang mengambil pakaian.
Saat Junhoe baru tiba disekolah, handphone-nya tiba-tiba berbunyi.
"Yeoboseyo?" Katanya sambil menutup pintu mobil.
"Junhoe-ya! Hanbin sudah bangun! Dia sudah sadar!"
.
.
.
Junhoe terus menatap jam dinding yang ada diatas papan tulis. Satu menit lagi. Lima puluh sembilan detik lagi…. Kenapa bel pulang terasa lama sekali?
Suara Eomma-nya terngiang-ngiang dikepalanya sejak tadi pagi. Hanbin sudah sadar. Betapa leganya Junhoe. Ia ingin segera bertemu dengan namja itu. Ingin sekali. Hah… ia merindukan Hanbin setengah mati.
Triiingg…. Triiinngg….
"Jja… Kalian boleh pulang. Jangan lupa untuk belajar ujian masuk perguruan tinggi." Kata Kang seonsaengnim sambil berjalan ke luar kelas.
Junhoe segera berdiri dan memakai tasnya. Tak lupa ia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.
Jinhwan menghampiri Junhoe yang terlihat sedang terburu-buru. "Junhoe-ya, kau-"
"Mianhae, aku harus pergi sekarang." Sahut Junhoe yang sama sekali tidak melihat wajah pacarnya itu. Ia berlari menuju parkiran dan membawa mobilnya ke rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah.
Sesampainya di rumah sakit, Junhoe segera menuju ruangan tempat Hanbin dirawat. Jantungnya berdebar kencang saat melihat Eomma-nya menangis didepan ruangan itu.
"Eomma…"
"Junhoe-ya, eotteokhae?" Sera ahjumma menutup wajahnya dengan tangannya.
"Apa yang terjadi? Bukankah Eomma bilang Hanbin sudah sadar?" Tanya Junhoe panik.
"Hiks… Lebih baik kau segera masuk ke dalam."
Junhoe menatap pintu didepannya takut. Ada apa lagi ini? Ia meraih gagang pintu itu dan membukanya perlahan.
Junhoe masuk ke dalam ruangan itu hati-hati. Dilihatnya Hanbin sedang duduk dengan wajah pucat. Namja itu perlahan menoleh padanya dengan wajah datar.
"Nuguseyo?"
DEG
"Hanbin-ah…."
"Apa kau mengenalku?"
Junhoe menghampiri Hanbin dengan tubuh gemetar. "Kim Hanbin…" Ia menatap namja itu dengan wajah tidak percaya. Lalu….
"Pffttt!" Hanbin menutup mulutnya menahan tawa. "Hyung, mianhae. Tapi wajahmu sangat lucu sekarang. Kkk…." Ia memegang perutnya sambil tertawa. "Ahjumma bilang aku boleh mengerjaimu sekali-kali. Aku tidak sangka ternyata menyenangkan seperti ini."
Hanbin tersenyum sambil memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. "Aigoo… Aku sudah lama tidak tertawa seperti ini…" Tak lama kemudian senyumnya menghilang saat melihat Junhoe meneteskan air matanya. "Hyung…."
Junhoe tersenyum kecil dan segera memeluk Hanbin dengan erat, yang tentu saja membuat namja itu terkejut.
"H-hyung…"
Junhoe melepaskan pelukannya. Ditatapnya Hanbin selama beberapa detik, lalu ia mencium dahi namja itu lembut.
"Jangan tinggalkan aku lagi…"
.
.
.
TBC
Eottae?
Maaf kalo chapter kali ini agak membosankan. Plis jangan benci Jinan ya… Ini cuma karakter dia di ff kok. *peluk Jinan-ie*
Lagu yang saya rekomen kali ini judulnya You (=I) – Bolbbalgan4. Cocok banget untuk scene terakhir!
Jja… Jangan lupa vote dan komen ya. Selamat tahun baru! Siap-siap liat selca member iKON di official ig mereka…
