DEAR FUTURE HUSBAND

Main Cast:

Kim Hanbin

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jinhwan

Kim Donghyuk

Kim Jiwon

Genre: Romance, Drama

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

Junhoe tersenyum kecil dan segera memeluk Hanbin dengan erat, yang tentu saja membuat namja itu terkejut.

"H-hyung…"

Junhoe melepaskan pelukannya. Ditatapnya Hanbin selama beberapa detik, lalu ia mencium dahi namja itu lembut.

"Jangan tinggalkan aku lagi…"

.

.

.

Hanbin membeku ditempatnya. Matanya menatap lurus leher Junhoe yang hanya berjarak beberapa senti didepannya. Dirasakannya bibir namja itu menyentuh dahinya lembut.

Tiba-tiba Hanbin tersadar. "Apa yang hyung lakukan?" Ia menjauhkan tubuh Junhoe dari hadapannya.

Junhoe tersentak. "Ah… Mianhae…" Ia menatap Hanbin sama terkejutnya. Lalu ia memukul bibirnya yang sudah lancang itu. "Aku terlalu senang kau sadar, Hanbin-ah."

Hanbin melirik pintu. "Hyung, jangan lakukan hal seperti itu lagi. Orang yang melihat akan salah paham." Kata Hanbin tegas. Untung saja Sera ahjumma tidak masuk. Entah apa yang dipikirkan wanita itu jika melihat kejadian tadi. Hanbin melirik Junhoe yang sekarang sedang berekspresi datar. Apa ia salah berbicara? Kenapa Junhoe tidak menjawabnya?

"Ehem…" Hanbin berpura-pura terbatuk. "Hyung gwaenchana? Apa kau terluka saat kecelakaan itu?"

Junhoe terdiam sebentar lalu menghela napas. Diambilnya sebuah kursi agar bisa duduk didekat Hanbin. "Disaat seperti ini kau masih mengkhawatirkan orang lain?" Tanyanya sedikit kesal. "Nan gwaenchana. Hanbin-ah, kenapa kau berhenti didepan mobilku kemarin?"

Hanbin membulatkan matanya. Ah… Ia belum memikirkan hal itu. Eotteokhae? Apa yang harus ia katakan?

"Eomma dengar dari Donghyuk, katanya kau mengejarku karena bukumu juga tertinggal di rumah. Maja?"

Hanbin menghela napas lega. Ia harus berterima kasih pada Donghyuk nanti. "Eo. Maja. Hyung pergi begitu saja, padahal aku sudah memanggilmu." Bohongnya.

Junhoe sedikit tersentak. "Ah… Mianhae…" Ia menundukkan kepalanya tanda menyesal. "Andai saja aku mendengar teriakkanmu, kau mungkin tidak akan tertabrak."

Hanbin meringis. Ia merasa berdosa telah membohongi Junhoe. "Aniya, hyung. Jangan berpikir seperti itu."

"Hanbin-ah…."

"Aku sudah baik-baik saja sekarang. Kau tidak perlu khawatir. Kau akan membuatku merasa tidak nyaman jika kau berpikir seperti itu."

Junhoe tersenyum kecil. Kenapa anak ini terlihat sangat dewasa? "Keurae. Sebagai rasa penyesalanku, aku akan merawatmu sampai sembuh." Katanya penuh semangat.

"Tidak usah. Aku…."

"Apa ini makananmu?" Tanya Junhoe sambil menunjuk semangkuk bubur yang ada disampingnya.

"Eo. Aku-"

"Kenapa tidak kau makan?"

"Aku-"

"Aku akan menyuapimu." Junhoe mengambil mangkuk itu dan mulai mengaduknya.

"Hyung, aku bisa-"

"Aniya. Aku akan menyuapimu."

"Hyung…" Hanbin menghela napas. "Nan jinjja gwaenchana. Aku bisa makan sendiri. Berikan padaku." Ia berusaha mengambil mangkuk itu dari tangan Junhoe.

"Ya!" Kata Junhoe dengan nada marah, membuat Hanbin menghentikan gerakannya. "Kau sedang sakit. Kau boleh bermanja-manja padaku."

"Aniya. Aku tidak ingin merepotkan orang lain. Lagipula hanya tangan kiriku yang diperban, aku bisa makan dengan tangan kanan." Hanbin menggerakan tangannya. "Lihat. Tanganku kananku baik-baik saja."

Junhoe merengut kesal. "Aniya!" Katanya dengan nada suara tinggi. "Pokoknya kedua tanganmu sedang sakit! Kau tidak bisa makan jika tidak ada yang menyuapimu!"

"Tapi hyung…" Hanbin tidak melanjutkan omongannya karena sekarang Junhoe menatapnya tajam. Sepertinya ia harus mengalah. "Arraseo. Hyung, KEDUA TANGANKU sedang sakit. Tolong suapi aku."

Junhoe tersenyum lebar. "Keurae. Buka mulutmu. Aaaaa…."

.

.

.

Donghyuk berjalan menuju parkiran sekolah dengan lesu. Badannya lemas. Otaknya sedang tidak fokus. Sesekali ia tidak sengaja terdorong dari belakang oleh siswa yang sedang berlari. Donghyuk benar-benar tidak punya semangat hidup. Sahabat satu-satunya sedang di rumah sakit. Ia kesepian.

Donghyuk menghentikan langkahnya. Dilihatnya supir keluarganya sedang menatapnya dari jauh. Haruskah ia pulang ke rumah? Donghyuk benci rumah. Ah… Tidak… Tempat itu tidak cocok disebut rumah. Tempat yang hampir tidak ada penghuninya itu, tidak pantas disebut rumah.

Donghyuk hanya tinggal sendirian disana dan ditemani oleh beberapa pelayan. Orang tuanya sibuk mencari uang seperti orang gila. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan sampai-sampai menelantarkan Donghyuk, berbeda dengan orang tua Hanbin ataupun Junhoe. Jujur, Donghyuk sangat iri melihatnya. Kenapa keluarganya berbeda?

"Ya! Dong Dong!"

Donghyuk memutar bola matanya malas. Ia tahu suara itu.

"Ya! Kau kenapa?" Jiwon menghampiri Donghyuk dan menepuk pundak namja itu. "Kenapa kau lesu sekali? Seperti tidak punya tulang."

Donghyuk menghela napas. "Sunbaenim, mianhaeyo. Aku tidak sedang ingin meladenimu." Lalu ia berjalan kembali. Tapi kemudian Jiwon menarik tasnya, membuat Donghyuk berhenti mendadak. "Wae tto?!"

"Kau tidak ke rumah sakit? Kudengar sahabatmu itu sudah sadar."

Donghyuk membulatkan matanya. Melihat reaksi namja itu, Jiwon mengerutkan dahinya. "Molla?"

"Ne… Jinjjayo? Hanbin sudah sadar?"

"Eo. Aku melihat Junhoe pergi terburu-buru ke arah rumah sakit tadi."

Donghyuk tersenyum lebar. Akhirnya… Akhirnya Hanbin sudah sadar. Ia harus pergi ke sana sekarang. Donghyuk membalikkan badannya, saat hendak berjalan ke arah mobilnya, Jiwon kembali menarik tasnya. "Aaa! Wae?"

"Biar aku antar." Tawar Jiwon.

Donghyuk menjauhkan tangan Jiwon dari tasnya. "Dwaeseoyo. Aku bisa pergi sendiri."

Jiwon tersenyum mengejek dan segera menarik tangan Donghyuk. "Aku ingin pergi ke sana bersamamu." Lalu ia segera membawa Donghyuk ke hadapan supir namja itu. "Ahjussi, hari ini aku ingin pergi sebentar dengan Donghyuk. Nanti aku akan membawanya pulang."

Donghyuk menatap Jiwon horror. "Micheoseo?!"

Supir itu terlihat agak sedikit kaget mendengar perkataan Jiwon. "Ne. Keuraeyo…" Jawabnya ragu-ragu.

Jiwon tersenyum lebar. Ia membungkukkan badannya. "Kamsahamnida ahjussi. Aku akan mengantarnya sebelum malam."

.

.

.

Sera ahjumma termenung dilorong rumah sakit. Matanya terus menatap lantai, entah sudah berapa lama. Pikirannya melayang ke beberapa menit yang lalu. Tak lama kemudian, ia melemparkan pandangannya ke arah lain. Aniya. Tidak mungkin. Hubungan mereka hanya sebatas kakak beradik.

Sera ahjumma menghela napas. Itu hanya pendapatnya, tapi bagaimana kedua anak itu merasakan hal lain? Bagaimana jika mereka memang saling menyukai? Sera ahjumma tidak bisa melarangnya. Lagipula ia sudah menganggap Hanbin seperti anaknya sendiri. Tapi jika anak itu benar-benar menjalin hubungan dengan Junhoe, ia…. Ia…

"Ahjumma!"

Sera ahjumma mengangkat kepalanya dan menoleh ke kanan. Dilihatnya Donghyuk dan seorang namja sedang menghampirinya.

"Ahjumma… Apa Hanbin sudah sadar?" Tanya Donghyuk sambil menahan tangis. Matanya sudah terlihat memerah.

"Eo. Mianhae. Aku lupa memberitahumu." Sera ahjumma melirik seorang namja yang berdiri disamping Donghyuk.

"Aa…" Sadar belum memperkenalkan diri, Jiwon membungkukkan badannya. "Annyeonghaseyo. Kim Jiwon imnida."

Sera ahjumma tersenyum kecil. "Kau juga teman Hanbin?"

"Um… Aku teman satu kelas Junhoe."

"Kalau begitu kau juga satu kelas dengan Jinhwan?"

"Ne."

"Dimana Dia? Kalian tidak datang bersamanya?"

"Itu…" Jiwon melirik Donghyuk. Eomma Junhoe sudah pernah bertemu dengan Jinhwan? "Mungkin sebentar lagi dia datang."

"Aa…. Keurae, silahkan masuk." Sera ahjumma membukakan pintu ruangan tempat Hanbin dirawat dan mempersilahkan Donghyuk serta Jiwon masuk. Sedangkan ia menunggu diluar.

Tangis Donghyuk pecah setelah melihat sahabatnya itu sedang duduk ditempat tidur. Ia langsung berlari menuju Hanbin dan memeluknya. "Huwaaaa…. Hanbin-ah…. Kau sudah sadar… Hiks… Aku sangat senang…."

"Donghyuk-ah…" Hanbin tersenyum dan membalas pelukan namja itu. "Mianhae…" Lalu matanya melirik Jiwon yang sedang berdiri disamping Donghyuk. "Sunbaenim, annyeonghaseyo."

"Eo. Annyeong…" Jawab Jiwon sambil tersenyum kecil.

Donghyuk melepas pelukannya dan memandangi Hanbin dari kepala hingga kaki. "Eotteokhae. Manhi appo?"

"Gwaenchana. Donghyuk-ah, uljima…"

Donghyuk menghapus air matanya kasar. "Pabbo! Kenapa kau menghentikan mobilnya?! Jika saja kilasan itu-"

Hanbin membulatkan matanya dan segera menutup mulut Donghyuk dengan tangannya. "Apa yang kau bicarakan? Kilasan? Hahaha…." Ia tertawa canggung.

Butuh beberapa detik untuk membuat Donghyuk tersadar. Lalu kemudian ia menjauhkan tangan Hanbin dari mulutnya. "Kilasan? Aku bilang kilasan? Sepertinya kau salah dengar." Katanya dengan tampang polos yang dibuat-buat.

"Kalian datang bersama?" Tanya Junhoe pada Jiwon dan Donghyuk. Sejujurnya ia heran kenapa dua orang itu bisa saling mengenal.

"Eo. Aku datang bersamanya." Jawab Jiwon sambil menunjuk Donghyuk dengan dagunya. "Wae?"

"Aniya. Hanya saja aku tidak menyangka kalian ternyata akrab."

Donghyuk yang merasa dirugikan, segera berkata, "Sunbaenim, tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya menumpang di mobilnya." Ia melirik Jiwon sinis.

Jiwon tertawa kecil. "Ya! Kau terlihat mencurigakan jika berkata seperti itu."

Hanbin menatap Donghyuk bingung. Ekpsresinya seolah-olah berkata, 'Apa ada sesuatu diantara kalian?'

"Aniya! Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Isanghae." Kata Junhoe. "Sepertinya kalian-"

"Aniyo, sunbaenim!" Teriak Donghyuk frustasi.

"Ya! Pelankan suaramu… Disini rumah sakit…." Ujar Hanbin pelan.

Junhoe yang terkejut mendengar teriakan Donghyuk, mengerutkan dahinya. "Memangnya apa yang ingin kau katakan?"

Sreeekk…. Terdengar suara pintu dibuka.

"Kim Hanbin…." Panggil seorang namja. Semua orang diruangan menoleh ke arah pintu. Jinhwan masuk ke dalam sambil tersenyum. "Aku senang kau sudah sadar."

"Ne. Annyeonghaseyo." Hanbin sedikir menundukkan kepalanya. Senyuman Jinhwan selalu membuatnya merasa tidak nyaman.

Jinhwan menghampiri Junhoe dan berdiri disamping namja itu. "Junhoe-ya, kenapa kau tidak memberitahuku kalau Hanbin sudah sadar?"

"Aah… Itu…."

"Cih…" Jiwon tertawa meremehkan. "Berhentilah berpura-pura peduli pada orang lain. Kau terlihat sangat aneh."

Jinhwan menatap Jiwon kesal. "Bukankah kata-kata itu cocok untukmu? Kenapa kau ada disini? Menjenguk Hanbin? Hah! Jangan bercanda."

"Aku datang ke sini sebagai kakak kelasnya yang baik hati. Sedangkan kau? Aku berani taruhan kau datang ke sini untuk bertemu dengannya." Kata Jiwon sambil melirik Junhoe.

"Aninde. Aku ke sini untuk menjenguk adiknya pacarku. Bukankah begitu Junhoe-ya? Kau pernah bilang Hanbin sudah kau anggap adikmu sendiri." Jinhwan merangkul lengan namja chingu-nya itu manja.

"Ahh…. Aku…." Junhoe melirik Hanbin yang sekarang sedang menatap lurus ke depan, tanpa ekspresi.

"Benarkah Goo Junhoe? Adik?" Tanya Jiwon sambil tersenyum sinis. Wah… Ini lebih menyenangkan dari yang ia kira.

Donghyuk yang sedari tadi diam, akhirnya mulai mengambil tindakan. Dipegangnya lengan Jiwon dan mulai menyeret namja itu ke arah pintu. "Hanbin-ah, mianhae. Sepertinya aku harus pulang sekarang." Katanya pada Hanbin. "Sunbaenim, ayo pergi. Kau berjanji mengantarku pulang."

"Jigeum?"

"Ne. Sunbaenim-deul. Aku pamit pulang." Donghyuk membungkukkan badannya. "Hanbin-ah, nanti aku akan menghubungimu." Lalu ia dan Jiwon keluar dari ruangan itu. Diluar mereka bertemu dengan Sera ahjumma.

"Kalian sudah mau pulang?"

"Ne." Jawab Donghyuk. "Besok aku akan datang lagi."

"Biar aku antar ke depan."

"Aniyo. Tidak apa-apa, ahjumma."

Sera ahjumma tersenyum kecil. "Gwaenchana, aku juga ingin membeli makanan didepan."

"Aah… Keuraeyo."

Kemudian mereka bertiga berjalan ke parkiran dan berhenti didepan mobil Jiwon.

"Ahjumma ingin makan apa? Aku akan membelikannya." Tawar Jiwon.

"Aigoo… Kau baik sekali…" Puji Sera ahjumma. "Tidak apa-apa, aku akan membelinya sendiri. Terima kasih sudah menjenguk Hanbin."

"Ne. Ahjumma, kami pamit pulang dulu." Jiwon membungkukkan badannya dan masuk ke dalam mobil.

Donghyuk juga melakukan hal yang sama. Ia membuka pintu mobil. Saat hendak masuk, Sera ahjumma menahannya.

"Donghyuk-ah, ada yang ingin aku tanyakan."

"Ne."

"Umm… Kau dan Hanbin berteman sangat dekat. Kalian pasti sudah mengobrol banyak. Apa mungkin… Kau tahu… Biasanya orang yang bersahabat dekat membicarakan orang yang mereka suka." Sera ahjumma menatap Donghyuk ragu. "Apa Hanbin pernah cerita hal seperti itu padamu?"

Donghyuk berpikir sejenak. "Aniyo. Aku rasa Hanbin sedang tidak suka dengan siapa-siapa."

Sera ahjumma menghela napas lega. "Keurae?"

"Ne. Keundae, terkadang Hanbin suka menyimpan masalahnya sendiri. Aku juga tidak yakin."

"Aa…."

"Waeyo ahjumma? Apa aku harus bertanya padanya?"

"Aniya. Aniya. Itu tidak terlalu penting." Kata Sera ahjumma sambil tersenyum. "Gomawo, Donghyuk-ah."

.

.

.

"Marhaeyo. Sepertinya ada yang sunbae ingin bicarakan denganku." Kata Hanbin datar. Ia tahu Jinhwan datang ke sini dengan tujuan tertentu. Maka dari itu, berhubung Junhoe sedang keluar, Hanbin langsung bertanya seperti itu.

"Kau cepat tanggap rupanya." Kata Jinhwan sambil tersenyum. "Keurae. Aku akan langsung ke intinya. Kau menghentikan mobil itu untuk menyelamatkan Junhoe bukan?"

"Aniyo."

"Jinjja?"

"Jinjjayo."

"Kim Hanbin. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan, tapi aku berterima kasih kau telah menyelamatkan Junhoe. Jika kau tidak menghentikan mobilnya, mungkin saja dia yang dirawat di rumah sakit ini."

Hanbin terdiam. Ia tidak berniat menjawab.

"Wae? Kau syok karena Junhoe hanya menganggapmu adik?" Tanya Jinhwan dengan nada penuh kemenangan. "Jangan berpikir merebutnya dariku, Kim Hanbin. Kau tidak bisa menang."

Hanbin tersenyum kecil. "Apa sunbaenim berpikir aku menyukai pacarmu?" Ia menatap mata Jinhwan tajam. "Aku tidak menyukainya. Seperti yang kau dengar dari Junhoe hyung, dia hanya menganggapku adik. Begitu juga denganku. Bagiku, dia hanya anak dari teman Eomma-ku, tidak lebih." Katanya tegas.

"Keurae?" Tanya Jinhwan sambil tersenyum sinis. Tak lama kemudian Junhoe masuk ke dalam ruangan. "Kalau begitu kau seharusnya tidak marah jika aku melakukan ini." Jinhwan menghampiri Junhoe, menangkup wajah namja itu dan melumat bibirnya. Di depan Hanbin.

.

.

.

TBC