DEAR FUTURE HUSBAND

Main Cast:

Kim Hanbin

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jinhwan

Kim Donghyuk

Kim Jiwon

Genre: Romance, Drama

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Wae? Kau syok karena Junhoe hanya menganggapmu adik?" Tanya Jinhwan dengan nada penuh kemenangan. "Jangan berpikir merebutnya dariku, Kim Hanbin. Kau tidak bisa menang."

Hanbin tersenyum kecil. "Apa sunbaenim berpikir aku menyukai pacarmu?" Ia menatap mata Jinhwan tajam. "Aku tidak menyukainya. Seperti yang kau dengar dari Junhoe hyung, dia hanya menganggapku adik. Begitu juga denganku. Bagiku, dia hanya anak dari teman Eomma-ku, tidak lebih." Katanya tegas.

"Keurae?" Tanya Jinhwan sambil tersenyum sinis. Tak lama kemudian Junhoe masuk ke dalam ruangan. "Kalau begitu kau seharusnya tidak marah jika aku melakukan ini." Jinhwan menghampiri Junhoe, menangkup wajah namja itu dan melumat bibirnya. Di depan Hanbin.

.

.

.

Hanbin mengepalkan tangannya dibalik selimut. Rahangnya mengeras. Susah payah ia mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat datar. Dilihatnya pemandangan itu tanpa berkedip. Junhoe yang tampak terkejut dan Jinhwan yang menikmati ciuman itu.

"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Hanbin kesal.

Jinhwan menjauhkan bibirnya dari Junhoe. Ia sedikit senang melihat reaksi Hanbin. "Lihat. Kau tampak kesal."

"Tentu saja. Siapa yang tidak kesal? Kau baru bangun dari koma beberapa jam lalu dan kau melihat dua orang berciuman ditempat yang tidak seharusnya." Kata Hanbin datar.

"Jinjja? Bukan karena cemburu?" Jinhwan tersenyum mengejek. Entah kenapa ia merasa kalah. Orang didepannya ini benar-benar susah ditebak.

Hanbin menghela napas. "Sunbaenim, berhentilah berbicara hal yang tidak masuk akal." Ia menarik selimut, bersiap-siap tidur. "Aku lelah. Sebaiknya kau pulang."

.

.

.

Junhoe menarik tangan Jinhwan kasar. Dibawanya namja mungil itu ke luar rumah sakit. Ia tidak peduli suara Jinhwan yang terdengar meringis kesakitan.

"Kau gila hah?!" Teriaknya begitu sampai didepan mobil Jinhwan.

"Ah… Appo…" Jinhwan mengelus pergelangan tangannya yang memerah.

"Kau sadar apa yang kau lakukan barusan?" Junhoe benar-benar marah sekarang.

Jinhwan menatap namja chingu-nya itu terkejut. Selama mereka berpacaran, Junhoe tidak pernah marah padanya. "Aku hanya menciummu."

"'Hanya' katamu?" Junhoe melemparkan pandangannya kesal. "Jinhwan-ah, kita sedang di rumah sakit sekarang. Kau seharusnya tidak melakukan hal itu disini."

Jinhwan menundukan kepalanya. Kenapa ia menjadi seperti ini? Ia terlalu cemburu melihat hubungan Junhoe dan Hanbin yang semakin dekat sampai-sampai bertindak sebelum berpikir "Aku tahu. Mianhae, aku-"

"Kau juga melakukannya di depan Hanbin. Dan anak itu-"

Jinhwan mengangkat kepalanya. Apa itu? Kenapa suara Junhoe terdengar sedih?

Junhoe menghela napas, berusaha meredakan amarahnya. "Jinhwan-ah, jangan melakukan hal seperti itu lagi. Mianhae, aku tidak bisa mengantarmu." Lalu ia membalikkan badan dan berjalan masuk ke rumah sakit.

Jinhwan menatap punggung namja yang mulai menjauh itu. Sebuah pertanyaan muncul dipikirannya. Junhoe marah karena tiba-tiba ia menciumnya atau karena ekspresi Hanbin yang terlihat tidak peduli?

.

.

.

Donghyuk melirik namja yang sedang menyetir disebelahnya. Wajah Jiwon terlihat sangat serius. Wajah yang selalu dia tunjukan jika bertemu dengan Jinhwan. Kemudian Donghyuk mengerutkan dahinya. Ada yang tidak ia pahami disini. Apa hubungan Jiwon dengan Jinhwan? Kenapa mereka terlihat bermusuhan tapi mereka juga terlihat akrab?

Pada saat tahun pertama di sekolah, Donghyuk tidak pernah melihat Jiwon dan Jinhwan mengobrol ataupun sekedar menyapa. Mereka bertingkah seolah-olah tidak kenal. Dan akhir-akhir ini justru sebaliknya. Mereka saling membenci tapi juga seperti terlihat peduli satu sama lain.

Kalau dipikir-pikir sejak Hanbin tinggal bersama Junhoe, mereka…..

"Ya! Jangan diam saja! Tunjukan dimana rumahmu!" Suara Jiwon membuat Donghyuk sedikit terkejut. "Kita sudah berputar-putar disini lima kali. Ini sudah malam!"

"Ah…" Donghyuk memperbaiki cara duduknya. "Kau bisa berhenti didepan situ, sunbaenim." Katanya sambil menunjuk rumah bercat cokelat.

Jiwon menepikan mobilnya lalu masuk ke halaman rumah yang pintu gerbangnya terbuka otomatis itu. Ia berhenti tepat didepan pintu masuk.

Donghyuk membuka seatbelt-nya lalu membungkukkan badannya. "Kamsahamnida. Terima kasih sudah mengantarku pulang."

"Kenapa kau membatalkan janji kita, eo?! Aku sudah memesan restoran itu sebulan yang lalu!" Teriak seorang yeoja dari rumah Donghyuk.

"Kau tidak mengerti! Jika aku tidak menemui direktur itu, kita tidak akan mendapatkan dana investasi!" Sahut seorang namja.

"Aiisshh…" Kata Donghyuk kesal. "Mereka ingat pulang rupanya."

"Kau terlalu memikirkan perusahaanmu! Kau sama sekali tidak peduli dengan Donghyuk!"

"Lalu bagaimana denganmu?! Kau bahkan tidak pernah menghadiri acara kelulusannya!"

"Seharusnya dia tidak punya Appa sepertimu!"

Donghyuk menghapus air matanya kasar. Lalu ia melirik Jiwon yang sekarang sedang menatapnya. "Aiisshh jinjja… Sungguh memalukan…" Inilah alasan kenapa ia membenci rumah. 'Haah… Ayolah Kim Donghyuk, kau sudah biasa dengan hal seperti ini. Kau hanya perlu masuk ke kamarmu dan menyetel musik sekencang-kencangnya.'

Saat Donghyuk hendak membuka pintu mobil, Jiwon sudah menguncinya terlebih dahulu.

"Sunbaenim…."

"Kau mau masuk ke sana sekarang?" Tanya Jiwon datar. "Kau hanya akan menyiksa dirimu."

Donghyuk menundukan kepalanya. "Buka pintunya. Aku sudah biasa mendengar mereka bertengkar."

Jiwon tidak mendengarkan omongan Donghyuk sama sekali. Namja itu menyalakan mesin mobil dan keluar dari lingkungan rumah.

"Sunbaenim, kita mau kemana?"

"Ke rumahku."

.

.

.

Junhoe melangkahkan kakinya perlahan. Kepalanya terus menunduk. Ia termenung.

'Jinjja? Bukan karena cemburu?'

'Sunbaenim, berhentilah berbicara hal yang tidak masuk akal.'

"Aisshh…" Junhoe mengacak rambutnya kasar. Kenapa kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya?

"Junhoe-ya…"

Junhoe menghentikan langkahnya. Dilihat Eomma-nya sedang berjalan menghampirinya sambil membawa tas. "Eomma sudah mau pulang?" Tanyanya.

"Eo. Kau bisa menjaga Hanbin malam ini?"

"Ne. Eomma tidak usah khawatir, aku akan menjaganya." Junhoe tersenyum kecil.

"Keurae. Besok pagi-pagi aku akan datang."

"Ne." Junhoe berjalan menuju ruangan tempat Hanbin dirawat. Baru beberapa langkah, Sera ahjumma kembali memanggilnya.

"Junhoe-ya."

Junhoe membalikkan badannya. "Ne?"

Wanita itu tampak berpikir sebentar. "Hubunganmu dengan Jinhwan baik-baik saja bukan?"

"Ne. Waeyo?"

Sera ahjumma menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Aniya. Aku pergi dulu."

.

.

.

Junhoe membuka pintu hati-hati. Dilihatnya Hanbin sedang tidur membelakanginya. Junhoe mengambil sebuah tas yang berisi pakaian dan perlengkapan mandi yang dibawakan Eomma-nya. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia membuka pintu kamar mandi dan….

"Kkamjagiya!" Dilihatnya Hanbin sedang duduk ditempat tidur sambil memegang lututnya. "Y-ya! Bukannya tadi kau tidur?"

Hanbin menghela napas dan menatap Junhoe dengan wajah datar. "Bagaimana aku bisa tidur? Hyung bernyanyi sangat kencang di kamar mandi."

Junhoe terdiam sebentar. "Ehem… Mianhae." Ia berjalan ke tas tadi dan menaruh pakaian kotor. "Kau ingin makan sesuatu?"

Hanbin menggelengkan kepalanya lemah. "Aku tidak lapar." Ia melirik Junhoe. "Jinhwan sunbaenim sudah pulang?"

Junhoe mengusap lehernya canggung. "Eo. Dia sudah pulang. Dia minta maaf karena sudah mengganggumu." Bohongnya.

"Gwaenchana. Aku hanya terkejut."

Junhoe menatap Hanbin dari kejauhan. Lalu didekatinya namja berlesung pipi itu.

"Minggir."

"Eo?"

Junhoe duduk ditempat tidur dan mendorong Hanbin agar memberinya ruang.

"Hyung sedang apa?"

"Aku ingin tidur. Wae? Kau keberatan?" Junhoe menarik selimut lalu tiduran dengan nyaman.

Hanbin menatap namja itu terkejut. Jadi maksud Junhoe, mereka tidur di satu kasur? "Kalau begitu aku tidur di sofa." Ia bersiap-siap turun dari tempat tidur.

"Coba saja. Kalau kakimu menyentuh lantai, aku tidak akan berbicara padamu lagi."

Hanbin meringis.

"Aku juga tidak akan menyuapimu lagi, mengantarmu sekolah, memanggil namamu, pokoknya aku tidak mau berhubungan denganmu lagi."

Hanbin menghela napas. "Arraseo. Aku tidak akan tidur di sofa." Ia memundurkan tubuhnya agar bisa tiduran.

Junhoe tersenyum senang, seperti anak kecil. Tapi kemudian senyumnya luntur begitu saja melihat Hanbin tidur membelakanginya.

"Oho! Kim Hanbin! Dasar tidak sopan! Aku tidak ingin melihat punggungmu!"

"Tapi hyung…"

"Kalau kau tidak segera berbalik, aku tidak akan berbicara padamu lagi, menyuapimu, mengantarmu-"

"Ah! Arraseo!" Hanbin membalikan badannya kesal.

"Oho! Ada apa dengan wajahmu?! Kau marah padaku?"

"Aniya!"

Junhoe tersenyum senang, lagi. Sekarang ia dan Hanbin tidur berhadapan. "Jangan merengut didepanku."

"Haaaah! Hyung, jebal… Aku ingin tidur…" Hanbin mulai memejamkan matanya.

"Aegyo."

Hanbin kembali membuka matanya. "Mwo?"

"Kalau kau ingin aku membiarkanmu tidur, kau harus beraegyo." Kata Junhoe sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Aku tidak bisa."

"Kau bisa."

"Aku tidak bisa."

"Kalau kau tidak mau beraegyo, aku tidak akan -"

"Molla!" Hanbin menutup wajahnya dengan selimut, jengkel. Sedangkan Junhoe tertawa puas.

"Hanbin-ah…"

"Mwo?!"

Junhoe menyelipkan lengannya ke leher Hanbin dan merangkul namja berlesung pipi itu. "Jalja."

Hanbin terdiam beberapa lama. Pelukan Junhoe membuatnya nyaman. Lalu tanpa sadar ia mulai terpejam.

.

.

.

"Mwohae? Kau tidak mau masuk?" Tanya Jiwon kepada Donghyuk yang sekarang sedang berdiri didepan pintu.

"Sunbae tinggal sendiri?" Donghyuk masuk ke dalam apartemen Jiwon. Ia mengedarkan pandangannya. Tempat itu cukup luas untuk dihuni satu orang.

"Eo. Orang tuaku ada diluar negeri."Jiwon membuka kulkas dan mengambil minuman. "Kau mau minum apa?"

"Aniyo. Gwaenchanayo." Donghyuk berjalan ke ruang tamu. Ia mengamati lemari yang ada disana. Tidak ada foto keluarga. Apa Jiwon sama sepertinya? Donghyuk kembali mengedarkan pandangannya. Entah kenapa tempat itu lebih terasa 'kosong' dari rumahnya.

"Igeo." Jiwon menghampiri Donghyuk dan memberinya sekaleng cola. "Tidak usah malu-malu. Anggap saja rumahmu sendiri."

"Ah… Ne…" Donghyuk mengambil minuman itu dengan kedua tangannya. Lalu ia mengikuti Jiwon yang berjalan menuju sofa.

"Eottae?" Tanya Jiwon.

Donghyuk menyeruput minumannya. "Sangat enak."

Jiwon tertawa kecil. "Bukan minumannya, tapi perasaanmu. Apa sudah baikan?"

"Ah… Ne…" Donghyuk menundukan kepalanya. Jarinya memainkan tutup kaleng yang sedang dipegangnya. "Mwo… Aku sudah biasa. Mereka selalu bertengkar setiap pulang ke rumah. Hal yang mereka ributkan selalu sama, yaitu aku. Menyalahkan satu sama lain, padahal sebenarnya mereka berdua sama saja."

Donghyuk melirik Jiwon yang sekarang sedang menatapnya dengan serius. Lalu ia tersenyum. "Sunbae tidak usah menganggap serius. Ini bahkan bukan urusanmu."

"Kau pasti sangat kesepian."

Donghyuk terdiam.

"Mempunyai orang tua yang tidak pedui padamu pasti hal yang menyakitkan." Lanjut Jiwon. "Aku tidak ingin menasehatimu. Tapi kau tahu, bagaimanapun mereka itu orang tuamu."

Donghyuk menatap mata Jiwon dalam. Baru pertama kali ada orang yang berkata seperti itu padanya, bahkan Hanbin sekalipun. Sahabatnya itu berusaha untuk tidak menjadikan keluarganya sebagai topik pembicaraan. Tapi Jiwon tidak.

"Karena itu, kau boleh datang ke sini kapanpun kau mau."

Deg Deg… Deg Deg…

Donghyuk memegang dadanya. Oh tidak. Jantungnya berdebar sangat keras sekarang.

Ting Tong!

Ting Tong!

"Tunggu sebentar." Jiwon berjalan menuju intercom untuk melihat siapa yang datang dan kemudian ia sangat terkejut. "Donghyuk-ah, mianhae. Bisa kau bersembunyi di kamarku sebentar?"

"Ne?"

Jiwon menghampiri Donghyuk, kemudian menarik namja itu masuk ke dalam kamarnya. "Diam disini sebentar, eo?"

"N-ne…" Lalu pintu kamar itu ditutup. Donghyuk mengerutkan dahinya. Memangnya siapa yang datang? Orang tua Jiwon? Ia menempelkan telinganya dipintu, berusaha menguping pembicaraan.

"Jiwon-ah…"

Donghyuk membulatkan matanya. 'Jinhwan sunbaenim?'

.

.

.

TBC