DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
"Tunggu sebentar." Jiwon berjalan menuju intercom untuk melihat siapa yang datang dan kemudian ia sangat terkejut. "Donghyuk-ah, mianhae. Bisa kau bersembunyi di kamarku sebentar?"
"Ne?"
Jiwon menghampiri Donghyuk, kemudian menarik namja itu masuk ke dalam kamarnya. "Diam disini sebentar, eo?"
"N-ne…" Lalu pintu kamar itu ditutup. Donghyuk mengerutkan dahinya. Memangnya siapa yang datang? Orang tua Jiwon? Ia menempelkan telinganya dipintu, berusaha menguping pembicaraan.
"Jiwon-ah…"
Donghyuk membulatkan matanya. 'Jinhwan sunbaenim?'
.
.
.
Jinhwan melangkahkan kakinya masuk ke apartemen Jiwon. Sangat natural. Seolah-olah masuk ke rumahnya sendiri. Ia melepaskan sepatunya lalu mengedarkan pandangannya. "Tidak ada yang berubah. Sama seperti terakhir kali aku datang ke sini."
"Cih…" Jiwon menatap namja didepannya itu sinis. "Lihat siapa yang datang."
"Wae? Aku tidak boleh datang ke sini?" Jinhwan berjalan menuju sofa dan duduk disana.
"Eo. Kau tidak boleh datang ke rumah orang seenaknya." Jawab Jiwon ketus.
"Yeoksi, kau memang orang yang membosankan." Kata Jinhwan mengejek. "Password rumahmu tidak berubah. Tadi aku memencet bel hanya untuk menghormatimu sebagai tuan rumah. Eo?" Namja mungil itu menunjuk dua kaleng soda di depannya. "Kau meminum itu sekaligus? Dua-duanya masih penuh."
"Bukan urusanmu." Kata Jiwon dingin. "Mau apa kau ke sini? Aku rasa hubungan kita tidak sedekat ini sekarang."
Jinhwan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia duduk dengan nyaman. "Aku hanya mampir. Omong-omong, kau tidak menawariku minuman?"
Jiwon menghela napas jengkel. Ia berjalan ke kulkas dan mengambil sebuah kaleng soda. Jinhwan mengangkat tangannya, bersiap-siap menerima minuman dari Jiwon. Tetapi namja bergigi kelinci itu justru meletakannya di meja, dengan kasar.
Jinhwan tersenyum kecil. "Semuanya tidak berubah, kecuali kau."
"Berhentilah berbicara seolah-olah kita ini dekat."
"Kita ini memang pernah dekat. Tiga tahun yang lalu aku masih menjadi pacarmu." Jinhwan membuka kaleng soda itu dan meminumnya.
Jiwon sedikit tersentak. Ia melirik ke arah kamar. "Aku tidak ingin membahas itu sekarang."
Jinhwan terdiam. Ia menatap namja yang pernah ia cintai itu untuk beberapa saat. "Jiwon-ah, apa kau akan terus membenciku seperti ini?"
"Aku tidak membencimu."
"Jinjja? Kau tidak membenciku setelah apa yang kuperbuat padamu sebelumnya?"
"Aku tidak ingin membahasnya sekarang."
"Isanghae. Akhir-akhir ini aku merindukan semua hal yang terjadi tiga tahun lalu, antara kau dan aku."
Jiwon menatap Jinhwan datar. "Aku justru tidak ingin mengingatnya. Karena semua yang berhubungan denganmu tidak pantas di kenang."
"Kau benar-benar membenciku." Jinhwan tertawa kecil. "Keurae, mianhae karena aku telah menyakitimu."
Jiwon mengepalkan tangannya kesal. "Lebih baik kau pergi sekarang."
"Keurae. Aku juga tidak ingin berlama-lama disini." Jinhwan berdiri dan berjalan ke pintu. "Terima kasih atas minumannya. Ah… Jiwon-ah, aku mengundangmu datang ke pesta ulang tahunku beberapa hari lagi. Kau tidak lupa tanggal berapa bukan?" Saat hendak keluar, ia melirik ke arah bawa. "Aku tidak tahu kau mempunyai sepatu yang ukurannya lebih kecil dari kakimu." Ia tersenyum sinis, lalu keluar dari apartemen Jiwon.
Jiwon membuang mukanya kesal. Kenapa dia itu datang kesini? Membuatnya emosi saja. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Aiisshh…" Jiwon segera berjalan ke kamarnya dan membuka pintu. Dilihatnya Donghyuk sedang berdiri di samping pintu dengan ekspresi luar biasa syok.
"A-aku tidak mendengar apa-apa!" Kata Donghyuk terbata-bata. Ia melirik Jiwon yang sekarang sedang menatapnya tidak percaya. "Ah! Arrraseo! Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa."
"Kau beritahu semua orang juga tidak tidak masalah."
"Eh?"
"Aku tidak merasa dirugikan. Justru dia yang akan kena dampaknya. Dia pasti akan bertengkar dengan pacarnya yang kaya raya itu." Kata Jiwon cuek. "Ya! Kalau dipikir-pikir bukankah itu bagus untuk sahabatmu?"
Donghyuk mengerutkan dahinya. "Ne? Aku tidak mengerti maksudmu…"
"Bukankah Kim Hanbin…. Aniya-aniya." Jiwon menggelengkan kepalanya. "Tidak usah dipikirkan. Aku ingin memesan makanan, kau mau?"
"Ne."
"Keurae. Aku akan menelepon restoran cepat saji." Lalu Jiwon berjalan ke luar kamar.
Melihat Jiwon pergi, Donghyuk segera mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia mengetik sesuatu layar. Tetapi kemudian ia berhenti. "Aniya. Aku tidak boleh bilang padanya." Donghyuk meringis. "Hanbin-ah, mianhae. Suatu saat kau pasti akan tahu."
.
.
.
Hanbin merasakan angin yang mengenai pipinya secara teratur. Ia juga merasakan hangatnya sinar matahari yang menembus selimutnya. Sudah pagi rupanya. Hanbin membuka matanya perlahan. Hal pertama ia lihat adalah wajah Junhoe dengan mata yang terpejam. Hanbin menatap namja itu cukup lama. Lalu ia mengerakan tangannya sedikit. Tapi… Mwoya? Sejak kapan ia memeluk pinggang Junhoe?
Karena terkejut, Hanbin tidak sengaja bergerak tiba-tiba. Junhoe yang merasakan adanya pergerakan, mulai membuka matanya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Hanbin kembali memejamkan matanya.
"Hm… Sudah pagi rupanya." Ia mendengar suara Junhoe.
Selama beberapa saat, Hanbin tidak tahu apa yang dilakukan Junhoe. Tetapi kemudian ia merasakan pelukan namja itu semakin erat. Tangan Junhoe menyentuh pipinya lembut. Nafas hangat namja itu sangat terasa dipipinya. Lalu sebuah benda lembut menempel disana.
Hanbin mengepalkan tangannya. Ia tahu apa yang sedang diperbuat Junhoe sekarang. 'Benda itu' menempel dipipinya semakin dalam. Kemudian Hanbin merasakan jari-jari Junhoe menyisir rambutnya beberapa kali.
Beberapa saat kemudian, Hanbin lega karena 'benda itu' sudah menjauhi wajahnya. Tetapi justru sekarang dagu namja berlesung pipi itu dipegang dan sedikit diangkat ke atas. Dan nafas hangat itu kembali terasa, kali ini mengarah ke bibirnya. Tunggu. Bibir?
Kalau Hanbin tidak salah mengira, kali ini pasti 'benda itu' akan menempel ke bibirnya. Apa yang harus ia lakukan? Membiarkannya?
"Hm…." Hanbin menggerakan tubuhnya seperti sedang mengulet. Hal itu membuat Junhoe sedikit gelagapan dan menjauhkan tangannya dari wajah namja itu. Ia segera bangun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
"Micheoseo!" Junhoe memukul kepalanya sendiri. Ada apa dengannya? Tubuhnya bergerak sendiri! Lalu… ia memegang bibir bawahnya. "Aiisshh… Aku hampir saja mencium bibirnya." Untung saja gerakan Hanbin menghentikannya, kalau tidak…
"Hanbin-ah…"
Junhoe keluar dari kamar mandi. Dilihat Eomma-nya sedang membangunkan Hanbin.
"Eo, Junhoe-ya. Kau sudah bangun?" Tanya Sera ahjumma.
"Eo." Junhoe melirik tubuh yang masih berbaring itu. Sepertinya Hanbin tertidur sangat pulas sehingga tidak sadar apa yang ia lakukan tadi.
"Hanbin-ah, ireona." Sera ahjumma menepuk kepala Hanbin lembut. "Aku membawakanmu bubur untuk sarapan."
Hanbin membuka matanya. Lalu berpura-pura mengulet, karena tentu saja sebenarnya ia sudah bangun sedari tadi. "Ah… ahjumma…" Hanbin mendudukan dirinya diatas tempat tidur.
Sera ahjumma membuka kotak makan yang ia bawa. "Ah!" Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Hanbin-ah, mian. Kau bisa makan sendiri? Aku lupa. Aku ada janji dengan dokter yang menanganimu pagi ini. Dia akan memberitahu kondisimu dan kapan kau boleh pulang."
"Ne. Gwaenchanayo."
Sera ahjumma tersenyum dan mengelus kepala Hanbin sebelum pergi. "Junhoe-ya, makananmu ada disana." Katanya sambil menunjuk kotak yang satu lagi. Lalu Sera ahjumma keluar dari ruangan itu.
Hanbin mengambil kotak makan yang ada didekatnya dan mulai mengaduk bubur itu. Saat ia hendak memasukan sendok ke dalam mulutnya, ia tidak sengaja melihat Junhoe yang sekarang sedang menatapnya tajam.
"Ah! Arraseo!" Hanbin kembali meletakan sendok yang tadi dipegangnya. "Hyung, tolong suapi aku!" Katanya kesal.
Junhoe tersenyum girang dan mengambil kotak itu dari tangan Hanbin. "Aigoo… uri Hanbinie sangat manja padaku~ Jja…. Aaaa…."
.
.
.
Setelah bertemu dengan dokter, Sera ahjumma membawa kabar baik. Hanbin sudah boleh pulang dan tangannya yang di gips sudah bisa dibuka. Dengan kata lain, Hanbin hampir sembuh total. Dan hal itu membuat Junhoe sedikit sedih karena ia tidak punya alasan lagi untuk menyuapi namja berlesung pipi itu.
Hanbin disambut oleh Seunghan ahjussi dan pelayan di rumah saat ia pulang. Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan. Seunghan ahjussi juga meminta maaf ia tidak bisa menjenguk Hanbin karena ada urusan mendadak yang mengharuskannya pergi ke Jepang beberapa hari lalu. Setelah itu mereka makan malam bersama.
"Ah. Hanbin-ah…" Panggil Junhoe pada Hanbin saat mereka sedang berjalan ke kamar masing-masing. "Jinhwan mengundangmu besok. Katanya kau harus datang."
Hanbin mengedipkan matanya beberapa kali. "Memangnya ada apa besok?"
"Besok malam adalah pesta ulang tahun Jinhwan. Dia merayakannya di rumah."
Hanbin terdiam sebentar. "Aku harus datang?"
"Tentu saja. Dia mengundangmu."
"Aku rasa aku lebih baik di rumah. Hyung saja yang pergi."
Junhoe mengerutkan dahinya kesal. "Aniya! Kau harus datang! Aku akan menunggu jam 7 besok malam. Kau harus sudah siap. Kalau kau tidak pergi, aku tidak mau berhubungan denganmu lagi." Lalu ia masuk ke dalam kamarnya, tidak peduli dengan jawaban Hanbin.
Hanbin menghela napas. Ia masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Jinhwan mengundangnya ke pesta ulang tahun? Aneh. Sangat terlihat sunbae itu tidak menyukainya. Entah kenapa Hanbin merasa ia tidak usah datang.
Saat hendak memejamkan matanya,handphone Hanbin berbunyi. Dilihatnya Donghyuk menelepon.
"Wae Donghyuk-ah?"
"Kau sudah tidur?"
"Kalau aku sudah tidur, aku tidak mungkin mengangkat teleponmu."
"Kau benar. Hanbin-ah…."
"Wae?"
"Aniya-aniya. Tidak terlalu penting."
Hanbin terdiam sebentar. "Donghyuk-ah, apa Jinhwan sunbaenim mengundangmu besok?"
"Jinhwan sunbaenim? Memangnya ada apa besok?"
Ah… Jadi Jinhwan tidak mengundang Donghyuk. Hanbin semakin tidak ingin datang ke sana besok. "Besok ulang tahunnya."
"Jadi dia akan mengadakan pesta? Kau diundang?"
"Eo."
"Dia tidak mengundangku. Hanbin-ah, lebih baik kau tidak usah datang. Jangan berhubungan dengannya."
"Keurae?" Hanbin memainkan selimut dengan jari-jarinya. "Aku juga berpikir seperti itu. Tapi Junhoe hyung memaksaku ikut."
"Aigoo… Kau diposisi yang sulit. Begini saja, besok kau tetap datang, tapi jangan terlalu lama disana. Kau harus pulang secepat mungkin."
"Eo."
"Keundae, Hanbin-ah. Kau sudah menyiapkan baju untuk besok?"
Hanbin terdiam. Ia menatap lemari besarnya yang hanya berisi sebagian. "Entahlah."
.
.
.
Keesokkannya, Hanbin mengeluarkan semua isi lemarinya. Setelah berjam-jam mencari, ia menarik satu kesimpulan: pakaian paling bagus yang ia punya hanyalah seragam sekolahnya, selebihnya adalah baju rumah. Menyedihkan memang, tapi justru Hanbin merasa lega. Itu artinya ia tidak perlu datang.
"Mwohae?" Tiba-tiba Sera ahjumma masuk ke dalam kamarnya. "Omo. Kenapa bajumu berserakan di lantai?"
"A-aku akan membereskannya." Hanbin memungut bajunya satu persatu.
Sera ahjumma tersenyum. "Kau mencari baju untuk nanti malam?"
"Ne. Tapi aku tidak punya pakaian yang cocok. Jadi sepertinya aku tidak akan datang nanti malam."
"Kau tidak punya? Kenapa kau tidak bilang? Aku akan membelikannya untukmu."
"Ne?" Hanbin menggelengkan kepalanya. "Aniyo. Tidak usah ahjumma."
"Aniya. Kalau dipikir-pikir kau juga perlu didandani. Ayo kita cari baju yang cocok untukmu." Sera ahjumma lalu menarik Hanbin ke luar kamar.
Hanbin menghela napas. Ia benar-benar tidak ingin datang.
.
.
.
"Ya! Kim Hanbin! Kenapa kau lama sekali?" Teriak Junhoe dari ujung tangga. Ia menggunakan jas warna hitam dengan corak putih. Ya, pesta ulang tahun Jinhwan memang dirayakan dengan meriah. Semua tamu undangan wajib menggunakan pakaian formal. "Aiisshh… Kim Hanbin!" Tiba-tiba Junhoe merasa seseorang memukul punggungnya. "Aw! Ah! Eomma!"
"Kenapa kau berteriak seperti itu didalam rumah? Kau pikir ini hutan, hah?" Kata Sera ahjumma sinis. "Hanbin-ah… Mwohae? Cepat turun." Panggilnya pada Hanbin lembut.
Hanbin mengeluarkan kepalanya dari balik tembok, badannya tidak terlihat. "Ahjumma, sepertinya pakaian ini terlalu mencolok."
"Aniya. Kau sangat tampan. Cepat turun."
"Aniyo. Aku akan menggantinya." Lalu kepala Hanbin tidak terlihat lagi.
Sera ahjumma tertawa kecil. Ia naik ke atas dan menarik Hanbin turun. Hanbin yang diseret turun, menundukan kepalanya. Ia tidak ingin mendengar pendapat Junhoe. Namja itu pasti akan menertawainya.
"Junhoe-ya, eottae? Hanbin terlihat sangat tampan bukan?" Kata Sera ahjumma sambil membetulkan pakaian Hanbin.
Junhoe tidak memberikan jawaban. "Ayo cepat. Kita sudah terlambat." Ia berjalan ke luar dengan tergesa-gesa.
"Mwoya… Dasar tidak sopan…" Sera ahjumma mengalihkan pandangannya ke Hanbin. "Jja… Pergilah. Junhoe sudah menunggumu."
Hanbin membungkukkan badannya. "Aku pergi dulu, ahjumma." Lalu ia berlari kecil untuk mengejar Junhoe.
Sedangkan Junhoe berjalan ke arah mobil dengan wajah memerah. Sekilas ia mengingat apa yang tadi dilihatnya. Dahi Hanbin yang tertutupi poni. Rambutnya yang hitam pekat sangat kontras dengan kulit pucatnya. Jasnya yang agak sedikit kebesaran. Dasi kupu-kupu yang menempel di kerah kemejanya. Dan bibirnya yang berwarna cherry. Semua itu membuat Hanbin terlihat sangat….
"Imut…" Gumam Junhoe tanpa sadar. "Kenapa ia terlihat sangat imut hari ini?" Wajahnya sangat memerah sekarang.
"Hyung." Panggil Hanbin dari belakang.
"Kkamjagiya!" jantung Junhoe hampir melompat dari tempatnya. "Wae?!"
Hanbin sedikit tersentak. "A-aniyo. Aku hanya memanggilmu."
Junhoe kembali menatap namja berlesung pipi itu dari kepala hingga kaki. "Aiisshh…" Jantungnya berdebar kencang.
"Hyung, kau kenapa?" Hanbin memiringkan kepalanya bingung. Ia mengedipkan matanya beberapa kali.
Jangan ditanya apa reaksi Junhoe melihat tingkah Hanbin itu. Nyawanya sudah meninggalkan raganya.
.
.
.
Mereka sampai di kediaman Jinhwan pukul delapan, terlambat satu jam dari jadwal. Junhoe memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet. Lalu ia masuk ke dalam tempat itu dengan Hanbin yang mengikuti dibelakang.
Hanbin mengedarkan pandangannya kagum. Rumah Jinhwan terlihat sangat besar dan mewah, ditambah dengan dekorasi dominan berwarna putih, membuat tempat itu terlihat sangat berkelas.
"Junhoe-ya!"
Junhoe dan Hanbin menoleh ke sumber suara. Jinhwan menghampiri mereka dengan terburu-buru. "Kenapa kau baru datang sekarang?" Tanyanya manja.
"Aku terjebak macet." Bohong Junhoe.
"Keurae?" Jinhwan menatap Hanbin yang sedang berdiri canggung. "Kau datang Kim Hanbin."
"Ne." Hanbin membungkukkan badannya. "Saengil chukhahamnida, sunbaenim."
Jinhwan tersenyum kecil. "Gomawo." Lalu ia menarik Junhoe ke tengah kerumunan, meninggalkan Hanbin sendirian.
Hanbin menatap sekelilingnya. Tidak ada orang yang ia kenal. Tempat itu terasa sangat asing baginya. Suara musik yang kencang dan cahaya yang tidak terlalu terang, seperti klub malam.
Hanbin memegang lehernya. Ia merasa haus. Matanya mencari meja berisi air minum. Ah. Itu dia. Dipojok dekat jendela besar. Ia berjalan ke arah meja itu, mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya hingga habis.
"Jogiyo." Tiba-tiba seorang namja menghampiri Hanbin. "Aku baru pertama kali melihatmu." Namja itu tersenyum malu-malu. "Kau sangat manis."
Hanbin terdiam. Lalu sedikit membungkukkan badannya. "Kamsahamnida."
"Kau datang sendiri ke sini? Apa kau sudah punya pacar?"
"Keugo…"
"Ya! Mau apa kau dengan adikku?!" Junhoe menghampiri Hanbin dan merangkul pundak namja berlesung pipi itu posesif.
"A-aniyo." Namja itu langsung pergi saat melihat wajah sangar Junhoe.
"Lihat, baru ditinggal sebentar saja sudah ada yang mendekatimu."
"Hyung, kau tidak perlu berkata seperti itu." Kata Hanbin pelan.
"Aniya! Aku akan terus disini agar tidak ada yang mengganggumu."
Setelah itu, Hanbin terus mendengar Junhoe mengumpat pada namja-namja yang berada didekatnya.
"Ya! Brengsek! Lihat apa kau?! Dia adikku!"
"Jangan mendekati adikku!"
"Aku tahu dia sangat manis! Jangan melihatnya seperti itu!"
"Ya! Kau mau berkelahi denganku, hah?!"
"Pergi sana!"
Hanbin meringis. Ia menutupi wajahnya dengan gelas yang sedang dipegangnya. Junhoe sangat memalukan.
"Goo Junhoe-ssi?"
"Mwo?!" Jawab Junhoe sewot.
"Aku panitia acara. Sebentar lagi acara puncaknya akan dimulai. Aku ingin kau bersiap-siap."
"Ah. Ne." Junhoe menundukkan kepalanya malu. "Hanbin-ah. Jangan kemana-mana! Aku akan segera kembali. Ingat! Jangan bergerak dari tempatmu!" Lalu ia pergi mengikuti panitia acara itu.
Hanbin melihat kepergian Junhoe dengan ekpresi datar. Namja berisik itu sudah pergi.
"Eo? Kim Hanbin?"
Hanbin membulatkan matanya. Ia tersenyum melihat orang didepannya. Akhirnya ada orang yang ia kenal selain Junhoe dan Jinhwan. "Jiwon sunbaenim?"
"Aigoo… Aku tidak menyangka kau ada disini." Jiwon menghampiri Hanbin. "Kau datang bersama Junhoe?"
"Ne."
Tiba-tiba suara musik terdengar lebih kencang, tanda acara puncak sudah dimulai.
"Kau ingin pergi dari sini?!" Jiwon meninggikan suaranya agar bisa terdengar. "Tempat ini terlalu berisik!"
"Ne!"
Jiwon menegok ke belakangnya. Ada sebuah jendela besar dengan tinggi dua kali lipat dari tinggi badannya. Jiwon mendorong jendela yang sebetulnya lebih mirip pintu kaca itu. Terlihat sebuah balkon kecil menghadap ke arah taman. "Kaja!"
Jiwon dan Hanbin berjalan ke balkon itu dan melihat pemandangan disekitarnya. Banyak pohon yang mengelilingi rumah itu. Tepat diatas kepala mereka ada beberapa ranting pohon yang menjulur masuk.
"Sahabatmu itu tidak datang?" Tanya Jiwon sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok setinggi pinggang didepannya.
"Donghyuk? Dia tidak diundang."
"Jinjja? Kalau tahu seperti itu aku akan membawanya kemari. Anak itu pasti tersiksa tinggal dengan orang tua seperti itu."
Jiwon melirik Hanbin yang sekarang sedang menatapnya dengan ekspresi terkejut. Ia tertawa kecil. "Aku sudah tahu tentang keluarganya. Kau tidak usah terkejut seperti itu."
Tapi Hanbin terkejut bukan karena itu. Melainkan kilasan yang ia lihat beberapa detik lalu. Sebentar lagi sebuah ranting yang cukup besar akan menimpa kepala Jiwon. Dengan cepat Hanbin menarik lengan namja itu agar lebih dekat dengannya.
BUK!
Hanbin dan Jiwon menatap ranting besar itu horor. Untung saja kilasan itu muncul tepat pada waktunya. Kalau tidak bisa-bisa sekarang kepala Jiwon sudah mengeluarkan darah.
"Wah… Hampir saja… Gomawo, Kim Hanbin."
"Ne."
"Um… Keundae. Orang yang akan melihat posisi kita pasti akan salah paham." Kata Jiwon yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Hanbin. Tangan Hanbin memeluk pinggang Jiwon, dan tangan Jiwon yang memeluk punggung Hanbin.
"KIM HANBIN!"
Teriakan Junhoe membuat Hanbin sangat terkejut. Ia segera menjauhkan tangannya dari tubuh Jiwon. Junhoe terlihat sangat marah.
"H-hyung…."
Junhoe menghampiri Hanbin dan menarik tangan namja itu kasar. "Ayo pulang!"
"Ah! Appo!" Teriak Hanbin kesakitan. Junhoe menarik tangannya yang di gips beberapa hari lalu. "Hyung, neomu appo!"
Tapi Junhoe tidak memperdulikan teriakan Hanbin. Namja bermarga Goo itu justru mempererat pegangannya membuat Hanbin semakin merintih kesakitan.
"Hiks… Appo…"
"Ya Goo Junhoe! Kau menyakitinya!" Jiwon mendorong Junhoe kasar.
"Bukan urusanmu." Kata Junhoe dingin. Ia menarik Hanbin keluar dari rumah Jinhwan. Tidak peduli dengan orang-orang yang melihat ke arahnya.
Junhoe mendorong Hanbin masuk ke dalam mobil. Ia lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Hanbin memegang tangannya yang kesakitan. Ia berusaha untuk tidak menangis.
Sesampainya dirumah, Junhoe kembali menarik tangan Hanbin. Tetapi Hanbin dengan sekuat tenaga menghempaskan tangannya.
"Appo!" Teriaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang kau lakukan tadi dengannya?!" Teriak Junhoe tidak mau kalah. "Berpelukan?!"
"Aku tidak berpelukan dengannya!"
"Mwo?! 'Tidak' kau bilang?! Jelas-jelas aku melihatnya dengan mataku sendiri!"
Hanbin menatap Junhoe marah. "Lalu kenapa?! Itu bukan urusanmu!"
"Kau itu adikku! Aku tidak suka kau dekat dengannya!"
"Kau bahkan bukan kakak kandungku! Kau tidak berhak melarangku!"
Junhoe terdiam.
Hanbin mulai meneteskan air matanya. Nada suaranya mulai merendah. "Kau tahu hyung? Kau orang yang paling egois yang pernah kukenal. Kau hanya menganggapku adik, tapi kau tidak memperbolehkanku dekat dengan orang lain." Hanbin menghapus air matanya. "Apa kau sadar selama ini kau memperlakukanku lebih dari sekedar adik?"
.
.
.
TBC
