DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
"Kau itu adikku! Aku tidak suka kau dekat dengannya!"
"Kau bahkan bukan kakak kandungku! Kau tidak berhak melarangku!"
Junhoe terdiam.
Hanbin mulai meneteskan air matanya. Nada suaranya mulai merendah. "Kau tahu hyung? Kau orang yang paling egois yang pernah kukenal. Kau hanya menganggapku adik, tapi kau tidak memperbolehkanku dekat dengan orang lain." Hanbin menghapus air matanya. "Apa kau sadar selama ini kau memperlakukanku lebih dari sekedar adik?"
.
.
.
Junhoe membeku di tempatnya.
"Kau memelukku dan menciumku, tidak hanya sekali. Apa kau pikir kau bisa melakukan itu semua karena aku adikmu?" Hanbin menatap Junhoe marah. "Kenapa tidak sekalian kau tidur denganku?!"
"YA!" Teriak Junhoe.
Hanbin mengepalkan tangannya, berharap ia mendapat kekuatan. Namja didepannya ini perlu di sadarkan, sebelum semuanya melebihi batas.
"Sadarlah, Goo Junhoe. Kau sudah punya Kim Jinhwan. Aku ini hanya teman kecilmu, tidak lebih." Lalu ia berjalan ke kamar tidurnya, meninggalkan Junhoe yang mengacak rambutnya frustasi.
Hanbin masuk ke kamar tidurnya dan mengunci pintu. Kemudian ia berjongkok dan menangis. Ia tidak bodoh. Hanbin tahu semua perlakuan Junhoe padanya itu tidak wajar. Namja itu suka padanya. Tapi bagaimana dengan Jinhwan?
Tok! Tok! Tok!
"Hanbin-ah, gwaenchana?" Tanya Sera ahjumma dari luar kamar.
Hanbin berusaha menghentikan tangisnya. Sera ahjumma sudah sangat baik padanya, ia tidak ingin membuat wanita itu khawatir.
"Ne, aku baik-baik saja."
"Hanbin-ah, buka pintunya."
Hanbin mengatur napasnya, lalu ia berdiri dan membuka pintu. Dilihatnya raut wajah Sera ahjumma yang terlihat sangat khawatir.
"Aigoo Hanbin-ah…. Kau menangis…" Sera ahjumma menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Hanbin. "Kau bertengkar dengan Junhoe?"
Hanbin menundukkan kepalanya. "Ne."
"Apa dia menyakitimu?"
Hanbin mengelus tangannya yang di gips beberapa waktu lalu. Cengkraman Junhoe tadi membuat tangannya terasa nyeri. "Aniyo." Tidak. Nanti Junhoe bisa kena marah.
Sera ahjumma menatap Hanbin sedih. "Mianhae, Hanbin-ah. Sepertinya tinggal disini membuatmu tidak tenang."
Hanbin terus menundukkan kepalanya, ia tidak menjawab.
"Mianhae, jeongmal mianhae." Sera ahjumma mengelus kepala Hanbin lembut. Ia merasa bersalah. Sejak tinggal disini, Hanbin selalu mendapat kesulitan karena Junhoe. Pertama kecelakaan itu, dan sekarang… Lagi-lagi Hanbin menangis karena anaknya.
"Hanbin-ah, lebih baik kau beristirahat. Aku akan berbicara dengan Junhoe besok." Sera ahjumma membalikkan badannya hendak pergi, tetapi tangan Hanbin menahannya.
"Ahjumma, jangan memarahinya."
.
.
.
Junhoe mengacak rambutnya yang semakin tidak beraturan itu. Ia tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri.
"Kau menyukainya, bodoh. Kau sangat menyukainya." Gumamnya. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang?
Junhoe menatap sekeliling kamarnya. Tadi ia berpapasan dengan Eomma-nya, tapi wanita itu hanya berpesan bahwa ia harus meminta maaf pada Hanbin. Junhoe terlalu malu untuk meminta maaf pada namja berlesung pipi itu. Ia sudah bersikap keterlaluan.
'Sadarlah, Goo Junhoe. Kau sudah punya Kim Jinhwan. Aku ini hanya teman kecilmu, tidak lebih.'
Junhoe kembali mengutuk dirinya. Ia berpacaran dengan Jinhwan dan sekarang ia jatuh cinta pada orang lain. Bukankah ia jahat?
Apa yang harus Junhoe lakukan? Menjauhi Hanbin dan kembali pada Jinhwan atau sebaliknya? Kalau menjauhi namja berlesung pipi itu…. Entahlah… Rasanya Junhoe tidak sanggup. Sepertinya ia menyukai Hanbin lebih dari Jinhwan.
.
.
.
Junhoe merapihkan kemeja yang melekat di badannya. Tak lupa ia memakai dasi sebagai aksesoris terakhir seragam sekolahnya itu. Hari ini ia akan meminta maaf pada Hanbin, semoga namja berlesung pipi itu menerimanya.
Junhoe membuka pintu kamarnya dan kebetulan sekali namja yang sedang ia pikirkan itu juga keluar dari kamarnya.
"Hanbin-ah, annyeong…"
Hanbin tidak menjawab dan membuang muka, seolah-olah Junhoe tidak ada didepannya, lalu berjalan menuruni tangga.
Junhoe menatap punggung namja itu tidak percaya. Astaga. Jadi seperti ini sikap Hanbin jika sedang marah? Lebih menyebalkan dari yang ia kira. Junhoe menghela napas. Keurae, mungkin ia bisa meminta maaf saat di mobil nanti.
Junhoe berjalan ke ruang makan, mengikuti Hanbin. Namja itu terlihat sangat dingin hari ini. Hanbin benar-benar marah padanya.
"Selamat pagi, Hanbin-ah…" Sapa Sera ahjumma dengan senyuman. Lalu ia melirik Junhoe yang berjalan di belakang Hanbin. Mulutnya membentuk gerakan 'kau sudah minta maaf padanya?'.
Junhoe menggelengkan kepalanya.
Sera ahjumma mengerutkan dahinya kesal. 'Kau harus meminta maaf padanya hari ini. Kalau tidak, jangan makan satu meja denganku.'
Junhoe mengiris. Sekarang ia mulai berpikir sepertinya ia dan Hanbin tertukar saat masih kecil.
Sera ahjumma menghampiri Hanbin yang baru saja duduk di tempatnya. Diambilnya kotak bekal punya anak itu. "Hanbin-ah, aku ingat sekali kau sangat suka kimbab buatanku. Jja… Bekalmu hari ini…"
"Kamsahamnida." Hanbin menundukkan kepalanya. "Ahjumma, kau tidak usah repot-repot membuatkan bekal setiap hari. Aku bisa membuatnya sendiri."
"Aniya. Aku justru senang melakukannya." Sera ahjumma melirik Junhoe dengan ekspresi mengejek. "Karena anakku satu-satunya tidak pernah bersikap baik sepertimu."
Junhoe membulatkan matanya. Ia merasa jengkel. "Eomma, berhenti menjelekkanku didepan Hanbin! Aku tidak seburuk itu, benarkan Hanbin-ah?" Tanyanya pada namja berlesung pipi itu.
"Slurrp…" Hanbin menyeruput sayur didepannya santai. "Ahjumma, ini sangat enak."
"Ah…" Junhoe memegang lehernya kesal. "Dia tidak menganggapku ada…" Ia mengatur napasnya. Keurae. Ia tidak boleh emosi. "Hanbin-ah…" Junhoe tersenyum setulus mungkin. "Kau akan berangkat denganku hari ini, bukan? Aku akan memanaskan mobil-"
Hanbin menatap handphone-nya yang bergetar. Ada panggilan masuk. "Eo, Donghyuk-ah. Ah… Kau sudah didepan gerbang? Keurae. Aku akan kesana sekarang." Ia mematikan telepon lalu berdiri dan mengambil tas. "Ahjumma, aku berangkat dengan Donghyuk hari ini. Aku pergi dulu." Hanbin membungkukkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aiissh jinjja!" Teriak Junhoe frustasi. Sepertinya hari ini akan terasa sangat panjang.
.
.
.
"Isanghae. Baru pertama kali kau memintaku menjemputku. Wae irae?" Tanya Donghyuk sambil memakan sandwichnya di mobil. "Kau mau?" Tawarnya pada Hanbin.
"Dwaeseo." Hanbin memandang ke luar kaca mobil. "Aku hanya tidak ingin berbicara dengannya hari ini."
"Nugu? Junhoe sunbaenim?"
"Eo."
"Oh…" Donghyuk tersenyum jahil. "Kau sedang bertengkar dengan suami masa depanmu itu? Aigoo… Hanbin sangat pintar bermain tarik ulur."
"Keumanhae, jinjja. Kau tidak tahu cerita sebenarnya."
"Kalau begitu ceritakan padaku."
Hanbin menghela napas dan mulai bercerita. Dari awal ia pergi ke pesta ulang tahun Jinhwan, sampai ia bersikap cuek pada Junhoe tadi. Tidak ada satupun yang terlewat.
"Ah…" Donghyuk menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Jadi kalian salah paham?"
"Eo."
"Dan sekarang kau menghukumnya dengan cara mendiamkannya?"
"Aku tidak-"
"Hanbin-ah, jika dipikir-pikir, sepertinya kau cemburu."
Hanbin membulatkan matanya. "Mwo?"
Donghyuk menatap sahabatnya itu bingung. Hanbin sangat tidak peka, bahkan pada perasaannya sendiri. "Kau pasti berpikir seperti ini 'aku menyukai Junhoe dan dia juga menyukaiku. Aku ingin dia menyelesaikan hubungannya dengan Jinhwan dan memulai lembaran baru denganku.' Akui saja, kau takut menjadi orang ketiga bukan?"
Hanbin tersentak. "Kenapa kau berbicara seperti itu?"
Donghyuk mengambil sandwich ketiganya. "Karena aku sangat mengenalmu lebih dari dirimu sendiri."
Hanbin menatap lurus ke depan. Entah kenapa perkataan Donghyuk barusan sangat menusuknya. "Kau salah. Semua yang kau katakan salah. Aku tidak menyukai Junhoe hyung."
"Ckckck…." Donghyuk menatap sahabatnya itu kesal. "Kita lihat apa kau juga akan berkata seperti itu lima tahun lagi."
.
.
.
Jinhwan duduk di tempat Junhoe gelisah. Bel masuk sebentar lagi akan berbunyi, tapi namja chingu-nya itu belum datang juga. Banyak hal yang ingin Jinhwan bicarakan dengan Junhoe. Kenapa namja itu pergi begitu saja kemarin, kenapa tidak berpamitan dengannya, dan kenapa lebih memilih Hanbin daripada dirinya.
Sejujurnya Jinhwan takut. Takut Junhoe berpaling pada Hanbin. Memang, namja bermarga Goo itu pernah bilang hanya menganggap Hanbin adik, tapi sepertinya situasinya tidak seperti itu sekarang. Jinhwan tahu, pacarnya menyukai orang lain.
Jinhwan menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha kuat, mau bagaimanapun, mau apapun yang terjadi nanti, Junhoe pasti akan menjadi miliknya. Bahkan jika namja itu sudah tidak menyukainya, Jinhwan tidak peduli.
Trriiinggg…. Trriinnggg..
"Ya! Kalian tidak duduk di tempat kalian?!" Teriak Han saem memasuki kelas.
Murid-murid kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, termasuk Jinhwan. 'Kenapa dia belum datang?' Batinnya.
Tok! Tok! Tok!
"Saem, maaf aku terlambat." Junhoe membungkukkan badannya.
Han saem menghela napas. "Keurae, kau boleh masuk."
.
Jinhwan menghampiri Junhoe saat bel istirahat berbunyi. Ia segera menarik tangan namja itu karena sepertinya Junhoe sedang tergesa-gesa berjalan ke luar kelas.
"Eo, Jinhwan-ah."
"Apa tidak ada yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Jinhwan kesal. Apa Junhoe lupa perbuatannya kemarin?
Junhoe tampak berpikir sejenak. "Ah… Aku minta maaf soal kemarin. Jeongmal mianhae, Jinhwan-ah."
Jinhwan melempar pandangannya ke arah lain. Lagi. Ia sudah bosan mendengar maaf dari Junhoe. Berapa kali pun namja itu meminta maaf, dia pasti akan mengulanginya lagi.
"Kau memaafkanku, Jinhwan-ah?"
"Tentu saja."
Junhoe tersenyum lega. "Gomawo. Aku tidak akan-"
"Junhoe-ya." Panggil Jinhwan sambil tersenyum. "Dengar baik-baik, aku hanya memperingatimu sekali." Ia mengelus pipi Junhoe lembut. "Jangan terlalu menyukai anak itu atau kau akan menyesal."
.
.
.
Sera ahjumma menatap sebuah laptop didepannya. Laptop itu berwarna putih, terlihat sangat baru dan bagus. Sera ahjumma tersenyum kecil. Anak itu pasti menyukainya.
"Aku pulang."
Sera ahjumma menengok ke arah pintu luar. Ah… Anak itu sudah datang. "Hanbin-ah, kemari sebentar."
"Ne." Hanbin menghampiri Sera ahjumma.
"Jja… Ini untukmu." Kata wanita itu sambil menyerahkan laptop.
Hanbin menatap benda didepannya bingung lalu mengambilnya dengan kedua tangannya. "Ini untukku?"
"Eo. Appa Junhoe yang membelinya. Katanya sebagai hadiah karena kau telah keluar dari rumah sakit kemarin."
"Ahjumma." Hanbin mengedipkan matanya beberapa kali.
"Laptop itu untuk membantumu membuat tugas."
"Aku tidak bisa menerima ini. Ini terlalu-"
"Ck!" Sera ahjumma memperlihatkan ekspresi pura-pura marahnya. "Kau harus menerimanya. Kalau tidak pasti Appa Junhoe akan sedih."
Hanbin menundukkan kepalanya. "Aku rasa aku selalu merepotkanmu."
Sera ahjumma tersenyum dan mengelus kepala Hanbin. "Aniya. Aku justru senang sekali kau ada disini, Hanbin-ah."
Hanbin tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. "Kamsahamnida, ahjumma. Aku akan belajar dengan rajin."
"Aigoo…" Sera ahjumma mencubit pipi Hanbin pelan. "Kau sangat manis saat tersenyum. Jja… Bawalah laptop itu ke kamarmu."
"Ne." Hanbin membungkukkan badannya sambil memeluk benda itu. Lalu ia menuju tangga dengan girang.
Begitu sampai di kamarnya, Hanbin langsung menaruh tasnya di sembarang tempat dan mendudukkan dirinya di tempat tidur. Dibukanya laptop itu dan menekan tombol power.
"Bagaimana cara menggunakan ini?" Gumam Hanbin bingung. Ia mengarahkan kursor ke sembarang menu lalu tidak sengaja menekan sebuah gambar kotak berwarna merah dengan segitiga putih ditengahnya.
"Mwo-ya?"
Hanbin memperhatikan gambar-gambar menarik didepannya. Lalu ia membuka sebuah video asal. Beberapa menit awal tidak ada yang aneh pada video itu, hanya seorang namja dan yeoja sedang berbincang. Tapi kemudian namja dan yeoja itu mulai berciuman. Hanbin memiringkan kepalanya bingung.
"Hanbin-ah…"
Hanbin menolehkan kepalanya ke sumber suara. Dilihatnya Junhoe sedang berdiri didepan pintu. Namja itu menatapnya takut.
"Aku tahu mungkin kau sangat marah padaku. Aku ingin-"
"Nngghh…. Oppaaahhh…. Ahhh~ Lebih dalam oppaaahhh…."
Junhoe membulatkan matanya. Lalu matanya mengarah ke layar laptop. Ia menutup mulutnya tidak percaya.
Hanbin mengerutkan dahinya bingung. Saat ia kembali menatap layar laptop, yeoja dan namja tadi sedang… sedang…
"EOMMA! HANBIN SEDANG MENONTON VIDEO PORNO!" Teriak Junhoe.
Panik. Hanbin langsung menutup laptop itu, melompat dari tempat tidur dan mendorong Junhoe sampai menabrak dinding.
"H-hyung, jangan salah paham. A-aku tidak sengaja membukanya." Hanbin membekap mulut namja itu dengan kedua tangannya.
"Mmmm!" Berontak Junhoe. Sebenarnya bisa saja ia mendorong Hanbin, tapi melihat muka namja berlesung pipi itu yang sangat dekat dengan wajahnya, Junhoe pura-pura lemah. Kesempatan tidak datang dua kali, bukan?
"Hyung, kau harus percaya padaku. Aku tidak berniat menontonnya."
Junhoe mengangkat bahunya. Ekspresinya seolah-olah mengatakan 'Aku tidak percaya, bisa saja kau berbohong'.
Hanbin ingin menangis rasanya. Ia semakin menekan tangannya ke mulut Junhoe, otomatis wajahnya juga semakin mendekat. "Hyung! Jinjja! Aku tidak menontonnya. Jangan beritahu ahjumma!" Katanya dengan nada berbisik.
Wajah Junhoe memerah. Bukan karena hidung Hanbin yang hampir menempel dengan wajahnya, melainkan ia kehabisan oksigen. Melihat wajah Junhoe yang berubah warna, Hanbin menjauhkan tangannya.
Junhoe menarik napas sebanyak-banyak. "Ya! Kau mau membunuhku?!"
"Mianhae." Hanbin menatap namja itu khawatir. "Gwaenchana?"
Junhoe masih mengatur napasnya. "Mendekatlah."
"Mwo?" Hanbin maju satu langkah. Tiba-tiba Junhoe memeluknya erat.
"Ah… Begini lebih baik. Sekarang aku baik-baik saja."
Hanbin terdiam sebentar. Tidak. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya ia masih marah pada Junhoe. Saat ia ingin berusaha menjauhkan tubuhnya…
"Mianhae, Hanbin-ah. Aku sangat egois."
Hanbin menghentikan gerakannya.
"Aku sudah bertindak kasar kemarin. Aku benar-benar jahat. Jeongmal mianhae. Hanbin-ah…"
"Eo?"
"Apa kau memaafkanku?"
Hanbin menundukkan kepalanya. Ia memejamkan matanya. Dihirupnya wangi tubuh Junhoe. "Eo." Sejak kapan ia menyukai wangi namja itu?
Junhoe tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Gomawo. Ehem…" Ia berpura-pura batuk. "Aku tidak akan bilang Eomma. Ya! Kau harus lebih berhati-hati, eo?"
"Um…"
Junhoe mengedarkan pandangannya. Kenapa suasananya jadi canggung seperti ini? "K-kalau begitu aku pergi dulu."
"Eo." Hanbin membuka pintu disebelahnya. Setelah Junhoe keluar, ia menutup pintu itu. Samar-samar ia mendengar sesuatu.
"Aku sangat menyukaimu, Hanbin-ah. Tunggu aku. Aku akan menyelesaikan semuanya untukmu."
Hanbin menundukkan kepalanya. Ia tersenyum samar.
.
.
.
Junhoe menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Senyumnya terus mengembang. Ya, ia sudah mengambil keputusan. Ia akan memutuskan Jinhwan dan mengakui perasaannya pada Hanbin. Seharusnya ia tidak usah berpikir lama-lama. Tentu saja Junhoe akan memilih Hanbin, karena ia sudah menyukai namja berlesung pipi itu sejak kecil.
"Eomma." Panggil Junhoe pada wanita yang sedang duduk di ruang tamu itu. "Aku ingin berbicara sesuatu."
"Mwoga?" Tanya Sera ahjumma yang terus menatap majalah didepannya. "Sebentar, Junhoe-ya. Lihat. Menurutmu mana yang paling bagus?" Ia menyodorkan majalah itu pada Junhoe.
Junhoe mengerutkan dahinya. Majalah itu berisi foto cincin-cincin pasangan yang harganya sangat mahal. Dan setahunya, Eomma-nya tidak terlalu menyukai barang-barang seperti itu.
"Eomma dan Appa ingin membelinya?"
"Aniya. Ini untukmu."
"Mwo?"
Sera ahjumma tersenyum. "Jadi dia belum bilang padamu?"
"Nugu?"
"Jinhwan. Kalian sudah dijodohkan dan akan bertunangan setelah kau lulus nanti."
.
.
.
TBC
