DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Junhoe mengerutkan dahinya. Majalah itu berisi foto cincin-cincin pasangan yang harganya sangat mahal. Dan setahunya, Eomma-nya tidak terlalu menyukai barang-barang seperti itu.
"Eomma dan Appa ingin membelinya?"
"Aniya. Ini untukmu."
"Mwo?"
Sera ahjumma tersenyum. "Jadi dia belum bilang padamu?"
"Nugu?"
"Jinhwan. Kalian sudah dijodohkan dan akan bertunangan setelah kau lulus nanti."
.
.
.
Hanbin menatap ke luar jendela dari tempat duduknya. Ia sangat menyukai cuaca hari ini. Tidak hujan, juga tidak terlalu panas. Hanbin tersenyum saat melihat bunga-bunga yang bermekaran dari dalam kelas. Ah benar… Sebentar lagi musim panas tiba.
"Kim Hanbin…"
Hanbin menolehkan kepalanya ke sumber suara. Dilihatnya Jinhwan menghampirinya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Aku akan menikah dengan Junhoe. Kau kalah." Kata namja bertubuh mungil itu.
Tiba-tiba Junhoe datang dan langsung merangkul pundak Jinhwan. "Kita akan bertunangan beberapa bulan lagi. Kau harus datang, Hanbin-ah."
Hanbin membulatkan matanya. Aniya. Seharusnya ia yang menikah dengan Junhoe. Kilasan yang saat itu muncul memperlihatkan pernikahannya dengan Junhoe. Kenapa… Kenapa…
"Hah!"
Hanbin bangun dari tempat tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Ia menatap sekitarnya. Mimpi. Tadi hanya mimpi. Kenapa terasa nyata sekali? Hanbin memeluk lututnya. Ia mengusap keringatnya di dahi dengan tangan gemetar.
Kenapa Hanbin sampai bisa bermimpi seperti itu? Apa ia terlalu takut Junhoe tidak jadi menikah dengannya?
Hanbin menyibakan selimutnya dan berjalan ke luar kamar, menuju dapur. Tiba-tiba ia merasa sangat haus. Saat turun dari tangga, dilihatnya Junhoe dan Sera ahjumma. Ekspresi mereka berdua sangat serius, seperti baru saja membicarakan sesuatu yang penting.
"Eo? Hanbin-ah…" Panggil Sera ahjumma sambil menghampiri namja berlesung pipi itu. Diusapnya wajah Hanbin dengan penuh kasih sayang. "Kenapa wajahmu pucat sekali?"
Hanbin terdiam, tangannya masih gemetar. Ia melirik Junhoe yang sedang menatapnya datar, tanpa ekspresi. Tiba-tiba ia teringat mimpinya barusan.
"Aku… bermimpi buruk…"
"Omo…" Sera ahjumma menatap Hanbin khawatir. "Ijae gwaenchana. Itu hanya mimpi. Kau ingin susu cokelat hangat? Aku akan membuatkannya untukmu."
"Aniyo. Aku hanya ingin minum air." Hanbin berusaha tersenyum. Sekali lagi ia melirik namja bertubuh tinggi didepannya. Aneh. Junhoe sama sekali terlihat tidak peduli padanya. Namja itu seperti mengindari tatapannya.
"Aku tidur dulu, Eomma." Kata Junhoe pada Sera Ahjumma. "Selamat tidur Hanbin-ah." Ia mengelus kepala Hanbin sebentar, lalu berjalan menuju tangga.
Hanbin menundukkan kepalanya. Bukankah seharusnya tadi Junhoe bertanya sesuatu? Seperti… 'Kau bermimpi buruk, Hanbin-ah?', 'Seburuk apa mimpimu?', 'Aigoo.. Gwaenchana, aku ada disini.' Hanbin berharap Junhoe mengkhawatirkannya seperti itu.
.
.
.
Donghyuk mengintip ke dalam sebuah kelas sambil berjinjit. Sesekali ia berjongkok dan memijit kakinya yang pegal karena sudah satu jam berdiri. Untuk yang terakhir kalinya ia mengintip ke dalam kelas itu. Tidak ada. Orang itu belum datang.
Donghyuk menundukkan kepalanya sedih. Ia menatap sebuah kotak makan yang sedang dipegangnya itu. Apa hari ini dia tidak datang?
"Kau mencariku?"
Donghyuk mengangkat kepalanya. Ia tersenyum saat melihat Jiwon berdiri didepannya. "Waseoyo?"
"Eo. Kau mencariku?"
"Ne. Igeo." Donghyuk menyerahkan kotak makan itu. "Aku membuatkannya untukmu."
Jiwon mengambil benda itu sambil terheran-heran. "Untuk apa kau repot-repot membuatkannya untukku?"
Donghyuk tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Jiwon mengerutkan dahinya. Aneh sekali sikap anak itu. "Donghyuk-ah, kau menyukaiku?"
"Ne?!"
Jiwon menatap namja didepan yang terlihat gugup itu. Sangat mudah tertebak. "Jangan menyukaiku."
Donghyuk membeku ditempatnya. "Waeyo?"
"Sepertinya kau salah paham sikap baikku padamu. Aku tidak mempunyai perasaan apa-apa padamu."
"Lalu kenapa waktu itu kau membawaku ke rumahmu?"
"Keugo…." Jiwon terdiam.
"Jangan membohongi dirimu sendiri, sunbaenim."
"Donghyuk-ah, aku pernah menjalin hubungan yang buruk di masa lalu."
"Maksudmu dengan Jinhwan sunbaenim?"
Jiwon menghela napas. "Eo. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku." Ia membalikkan badannya, hendak masuk ke dalam kelas.
"Aniyo, sunbaenim. Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku akan tetap menyukaimu."
.
.
.
Hanbin tahu ada yang aneh dari Junhoe. Namja itu berubah. Tidak seperti biasanya, kali ini Junhoe jadi sangat pendiam. Bahkan namja bermarga Goo itu tidak bicara satu kata pun saat dimobil.
Hanbin ingin sekali bertanya. 'Hyung, ada apa denganmu?', 'Kenapa kau tidak berbicara apa-apa?', 'Apa salahku?' Tetapi ia menahan diri. Hanbin masih terbayang-bayang mimpi semalam.
"Kau pulang jam berapa nanti?" Tanya Junhoe sambil mematikan mesin mobilnya. Mereka sudah sampai di sekolah.
"Aku tidak tahu. Aku ada kerja kelompok bersama Donghyuk sepulang sekolah."
"Aku akan menunggumu."
Hanbin menggelengkan kepalanya cepat. "Aniyo. Aku bisa meminta Donghyuk mengantarku pulang."
"Keurae. Kalau begitu sampai bertemu di rumah." Setelah berkata seperti itu, Junhoe mempercepat langkahnya dan meninggalkan Hanbin dibelakang.
Hanbin menundukkan kepalanya sedih. Ia tidak suka sikap Junhoe yang seperti ini. Ditambah lagi mimpi semalam. Entahlah… Ia merasa gelisah. Bahkan Hanbin tidak bisa mengikuti pelajaran sepanjang hari ini dengan baik. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Junhoe.
"Ya! Wae geurae? Sedari tadi kau hanya melamun." Kata Donghyuk sambil menyalin kembali catatan Hanbin. Kelas sudah mulai sepi karena bel pulang sudah berbunyi. Hanya tersisa Hanbin dan Donghyuk yang sedang mengerjakan tugas mereka.
"Ah! Hanbin-ah, apa Yoo saem datang ke sekolah besok? Aku benar-benar benci tugas ini." Donghyuk memukul buku didepannya dengan pensil yang ia pegang.
"Dia akan datang."
"Aiissh…. Jinjja…"
"Donghyuk-ah." Panggil Hanbin pelan. "Bagaimana jika kilasan yang sering aku lihat tidak pernah terjadi?" Tanyanya ragu-ragu.
"Cih… Kau sedang berusaha melucu? Kilasan yang kau lihat tidak pernah salah, Kim Hanbin-ssi."
Hanbin tersenyum lega. "Keurae? Aku peramal yang hebat bukan?"
Donghyuk tertawa kecil. "Wae? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Aniya. Aku hanya berandai-andai." Hanbin bangkit dari duduknya. "Aku ingin ke toilet."
"Ah… Hanbin-ah, aku menyukai seseorang." Kata Donghyuk sambil tersenyum malu-malu.
Hanbin membulatkan matanya. "Jinjja? Nugu?"
"Aku akan menceritakannya setelah kau kembali nanti."
"Cih.. Arraseo."
Hanbin berjalan ke luar kelas, menuju toilet. Setelah selesai mencuci tangan, ia kembali berjalan menuju kelas. Tapi kemudian Hanbin berhenti. Dilihatnya dua orang yang tidak asing dimatanya sedang membicarakan sesuatu.
Jinhwan terlihat mengerutkan dahinya kesal. Sedangkan Hanbin tidak bisa melihat ekspresi Junhoe karena namja itu membelakanginya.
Beberapa lama kemudian, pembicaraan mereka selesai. Junhoe meninggalkan Jinhwan sendirian. Hanbin masih berdiri disana saat namja mungil itu menghampirinya.
"Kim Hanbin, pada akhirnya aku yang akan mendapatkan Junhoe." Katanya sambil tersenyum. "Aku akan bertunangan dengannya beberapa bulan lagi."
Hanbin tersentak. Perasaan ini sangat familiar, sama seperti kemarin malam.
"Kami dijodohkan. Dia sudah menjadi milikku. Aku akan menikah dengannya. Kau kalah." Jinhwan tersenyum sinis lalu berjalan meninggalkan Hanbin.
Hanbin hanya bisa diam ditempatnya. Aniya. Kilasannya tidak pernah salah. Ya, Jinhwan hanya berkata omong kosong.
Hanbin berjalan menuju ruang kelasnya dengan perasaan gelisah. Perkataan Jinhwan membuatnya takut.
"Hanbin-ah!" Teriak Donghyuk begitu Hanbin menginjakkan kakinya ke dalam kelas. "Yoo saem mengalami kecelakaan! Jadi dia tidak akan datang besok!"
"Mwo?" Hanbin mengerutkan dahinya. Ia sangat yakin ia melihat Yoo saem mengajar saat kilasan itu muncul kemarin. Kenapa bisa salah? Bukankah ia tidak pernah salah? Tunggu.
Tiba-tiba Hanbin menjadi tegang. Mimpi kemarin malam itu dan omongan Jinhwan tadi…. Aniya. Junhoe tidak boleh menikah dengan orang lain.
Hanbin berlari ke luar kelas, meninggalkan Donghyuk yang berteriak memanggil namanya.
.
.
.
Junhoe membuka pintu mobilnya dan duduk ditempat pengemudi. Lalu ia melamun, merenungkan pembicaraannya dengan Eomma-nya semalam. Ia menghela napas berat.
Junhoe hendak menyalakan mesin saat melihat Hanbin mengetuk jendela sebelah kanan. Namja berlesung pipi itu menerobos masuk ke dalam mobil sambil menangis.
"Hyung…. Hiks…." Hanbin mengusap air matanya kasar yang sebenarnya percuma saja karena ia menangis sangat keras.
"Aku menyukaimu, hyung. Aku sangat menyukaimu. Hiks…. Kumohon jangan menikah dengannya… Aku hanya ingin kau menikah denganku, bukan dengan orang lain…"
Hanbin menghentikan tangisnya karena ia tidak mendengar jawaban dari Junhoe. Namja itu menatapnya beberapa lama dengan ekspresi terkejut.
"Apa aku terlambat?" Tanya Hanbin.
Junhoe tidak menjawab. Ia menarik tengkuk Hanbin dan menempelkan bibirnya dengan bibir namja berlesung pipi itu. Lalu melumatnya pelan.
Hanbin yang terkejut, mendorong tubuh Junhoe menjauh. "H-hyung…"
"Ah mian…" Kata Junhoe sambil tersenyum. "Aku tidak bisa menahan diriku."
Hanbin menatap Junhoe dengan mulut yang setengah terbuka. Ia terlihat sangat syok. Entahlah, mungkin ciuman Junhoe yang mendadak membuatnya kehilangan akal.
"Kau baik-baik saja?"
"Molla…" Hanbin mengedipkan matanya beberapa kali. Ia benar-benar tidak mengerti situasi ini.
"Kau juga menyukaiku, Hanbin-ah?" Tanya Junhoe sambil tersenyum girang.
"Eo. Tapi sepertinya aku terlambat." Jawab Hanbin murung. "Bukankah kau akan bertunangan dengan Jinhwan sunbaenim?"
"Kau tahu dari mana?"
"Ah… Jadi benar…" Hanbin menundukkan kepalanya. Omongan Jinhwan tadi benar.
"Tapi tentu saja aku menolaknya, walaupun gara-gara itu aku hampir bertengkar dengan Eomma."
.
.
.
FLASHBACK
"Jinhwan. Kalian sudah dijodohkan dan akan bertunangan setelah kau lulus nanti."
"Mwo?!" Junhoe menatap wanita didepannya itu tidak percaya. Eomma-nya tidak sedang bercanda kan?
Sera ahjumma menutup majalah yang sedari tadi dipegangnya dan menatap Junhoe dengan wajah serius. Ia tahu anaknya itu merasa tidak senang. "Wae?"
Junhoe mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Tiba-tiba ia menjadi sangat marah. "Kenapa Eomma melakukan itu?" Tanyanya dengan nada setenang mungkin.
"Bukankah kalian saling menyukai? Kami hanya membantu kalian."
"Mwo? Membantu?" Junhoe mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Eomma harusnya bertanya padaku terlebih dahulu! Kenapa memutuskan seenaknya?!" Ia mulai menaikkan nada bicaranya.
"Wae? Kau tidak suka? Toh kalian saling menyukai."
"Aniya Eomma! Aku menyukai Hanbin!"
Sera ahjumma terdiam.
Junhoe mengatur napasnya. Ia tahu Eomma-nya sangat terkejut mendengar perkataannya. "Aku menyukai Hanbin, Eomma. Sangat menyukainya." Nada bicaranya mulai menurun. "Keuraeseo, aku mohon jangan menjodohkanku dengan Jinhwan."
Sera ahjumma menatap anaknya itu sedih. "Eotteokhae, Junhoe-ya? Kalian sudah dijodohkan bahkan sebelum Hanbin datang ke sini."
Junhoe menggenggam tangan Eomma-nya. Ditatapnya wanita itu dengan tatapan memohon. "Tolong batalkan pertunangan itu, Eomma. Aku akan berbicara pada Jinhwan besok."
Sera ahjumma tampak berpikir sejenak. Sejujurnya ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi Junhoe. Anak itu sudah besar, sudah bisa mengambil keputusannya sendiri.
Dan soal Hanbin, tentu saja tidak ada alasan ia melarang anak sahabatnya itu menjalin hubungan dengan Junhoe. Tapi Sera ahjumma takut. Hanbin terlalu baik untuk Junhoe. Anaknya itu sangat plin plan, tidak berpendirian. Tidak pantas dengan Hanbin yang baik dan pendiam.
Dulu saat tinggal di Jepang, Junhoe selalu menceritakan Jinhwan padanya setiap kali ia menelepon. Dan sekarang, namja bertubuh mungil itu seolah-olah dibuang. Junhoe menyukai orang lain saat statusnya masih berpacaran dengan Jinhwan. Sera ahjumma takut anaknya itu akan melakukan hal yang sama pada Hanbin.
Tapi ia juga tidak bisa melarang anaknya menyukai orang lain. Karena tentu saja semua orang tua ingin anaknya bahagia.
"Keurae. Aku akan berbicara dengan Appa-mu setelah dia pulang dari Hongkong."
Junhoe tersenyum senang.
Sera ahjumma menatap Junhoe sinis. "Jangan senang dulu. Aku tidak tahu apa keputusan Appa-mu nantinya."
Junhoe menganggukkan kepalanya semangat. "Eo. Gomawo, Eomma. Jinjja gomawo."
"Cih…" Sera ahjumma tersenyum kecil. "Apa kau benar-benar menyukai Hanbin?"
"Eo. Aku sangat menyukainya."
"Lalu apakah dia menyukaimu?"
"Eo?" Junhoe tersentak. "Itu…. Aku… Tentu saja dia menyukaiku."
"Apa dia pernah bilang seperti itu?"
"Um…" Junhoe mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Dia pasti 'akan' berkata seperti itu nanti."
"Cih… Dia tidak mungkin menyukai orang sepertimu." Ejek Sera ahjumma. "Dia terlalu baik untukmu."
"Eomma!"
Sera ahjumma tertawa kecil. "Junhoe-ya, aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Kalau kau menyakitinya, aku akan benar-benar mengusirmu."
.
.
.
"Eomma juga setuju dengan hubungan kita. Kau tidak perlu takut." Junhoe menghapus air mata Hanbin yang masih tersisaanbiHanbin. Ditatapnya namja itu sambil tersenyum. "Keundae, apa kau benar-benar menyukaiku?"
Hanbin menundukkan kepalanya. Pipinya bersemu merah. "Aku tidak mau mengulangnya."
"Kkk… Kenapa kau tiba-tiba merasa malu? Kau bahkan melamarku tadi."
"A-ani!"
Junhoe tertawa kecil. Dielusnya pipi Hanbin lembut. "Sekarang masalahnya hanya pada Jinhwan. Aku yang akan mengurusnya. Kau tidak usah khawatir." Junhoe mendekatkan bibirnya untuk kembali mencium Hanbin. Tetapi Hanbin justru mendorong dadanya.
"Wae?"
"Kau sudah melakukannya tadi, hyung." Kata namja itu malu-malu.
Junhoe tersenyum. Kemudian ia menarik dagu Hanbin dan kembali melumat bibirnya penuh nafsu.
.
.
.
TBC
