DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Junhoe tertawa kecil. Dielusnya pipi Hanbin lembut. "Sekarang masalahnya hanya pada Jinhwan. Aku yang akan mengurusnya. Kau tidak usah khawatir." Junhoe mendekatkan bibirnya untuk kembali mencium Hanbin. Tetapi Hanbin justru mendorong dadanya.
"Wae?"
"Kau sudah melakukannya tadi, hyung." Kata namja itu malu-malu.
Junhoe tersenyum. Kemudian ia menarik dagu Hanbin dan kembali melumat bibirnya penuh nafsu.
.
.
.
Jiwon berdiri didepan kelas. Matanya terpaku pada namja yang sedang menatap handphonenya itu. Senyumannya, matanya yang indah dan lesung pipi yang terlihat samar. Jiwon merasakan hal aneh dalam dirinya. Entah kenapa jantungnya mulai terasa tidak normal.
'Aniyo, sunbaenim. Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku akan tetap menyukaimu.'
Jiwon menghela napas. Dasar gila. Dia pikir dia siapa berani berkata seperti itu padanya?
Donghyuk mengangkat kepalanya karena merasa ada yang memperhatikannya. "Eo? Jiwon sunbae!" Teriaknya girang. Ia berlari menghampiri Jiwon. "Sedang apa kau disini?"
Jiwon tidak menjawab, matanya terus menatap Donghyuk.
"Ah…." Kata Donghyuk pelan. "Mwo… Aku pikir hubungan kita sudah cukup dekat jadi mulai sekarang aku akan memanggilmu sunbae bukan sunbaenim lagi." Ia mengira Jiwon marah padanya karena mulai bersikap kurang ajar.
"Aku tidak peduli kau mau memanggilku apa." Sahut Jiwon enteng. "Kenapa belum pulang?"
"Aku sedang menunggu Hanbin. Dia sedang ke toilet."
"Ah…." Jiwon menundukkan kepala. "Apa kau ada waktu luang besok malam?"
"Ne? Eobseoyo…"
Jiwon mengangkat kepalanya dan tersenyum lega. Tidak ada salahnya memulai hal yang baru bukan? "Keurae, aku akan menjemputmu jam tujuh malam."
Donghyuk menatap namja didepannya itu bingung. "Mau kemana?"
"Kencan, bodoh."
.
.
.
"Hmmpt…."
"Hm…"
"Hmmptt!"
"Hmmm..….."
"H-hyung! Keuman!" Hanbin mendorong Junhoe kasar. Ia mengambil napas sebanyak-banyaknya. Wajahnya sangat memerah. "Kau hampir saja membunuhku."
"Ah… Mian…" Kata Junhoe dengan napas memburu. "Aku sangat menyukaimu, jadi…"
"Itu bukan alasan yang tepat." Hanbin membersihkan sekitar bibirnya yang sangat basah. Bayangkan, Junhoe menyerangnya dengan ciuman penuh nafsu hampir setengah jam! Bukan berarti Hanbin tidak berusaha menghentikannya, tapi semakin ia mendorong Junhoe semakin namja itu menekan tubuhnya. "Aku pikir bibirku sudah hilang."
"Kkkk…. Mau kukembalikan padamu lagi?" Junhoe kembali mendekatkan bibirnya untuk menggoda Hanbin.
"Aniya aniya. Dwaeseo."
Junhoe menatap Hanbin sambil tersenyum kecil. Diusapnya pipi namja berlesung pipi itu. "Kau tidak tahu betapa bahagianya aku sekarang."
Hanbin menatap Junhoe sedikit tidak suka. "Keumanhae. Jangan mengatakan hal yang membuatku merinding." Katanya sambil mengelus kedua lengannya.
"Oh….." Junhoe menyipitkan matanya sinis. "Kau tidak suka pria romantis ternyata." Ia memperbaiki cara duduknya dan menghadap ke Hanbin. "Kau suka yang seperti apa? Cuek? Hm… Imut?" Junhoe menunjukkan aegyo-nya yang membuat Hanbin semakin merinding. "Atau seksi?" Ia mengigit bibir bawahnya sambil menatap namja chingu-nya itu genit.
Hanbin menghela napasnya dan melemparkan pandangannya ke luar jendela. "Tidak usah bersikap seperti orang lain. Aku suka hyung apa adanya."
Junhoe terdiam. "B-bagaimana bisa k-kau berkata seperti itu dengan wajah datar?" Ia menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah. "Aishh… Dia lebih romantis dariku."
"Ah! Hyung, aku pergi dulu."
"Eodiga?" Junhoe menarik tangan Hanbin yang hendak membuka pintu mobil.
"Donghyuk menungguku di kelas. Ada tugas yang harus kami kerjakan." Hanbin berusaha melepas tangan Junhoe darinya, tapi namja itu justru mengeratkan pegangannya.
"Kau mau meninggalkanku?" Kata Junhoe dengan ekspresi wajah paling sedih yang ia punya, seperti saat pemakaman neneknya sepuluh tahun lalu. "Hari ini hari pertama kita dan kau pergi begitu saja?"
Hanbin menghela napas, lagi. Sebenarnya siapa yang lebih muda disini? "Kita bisa bertemu di rumah nanti. Jangan bersikap seperti aku akan pergi jauh."
"Keurae. Aku akan menunggu dirumah."
"Eo."
"Hanbin-ah…"
"Apa lagi?"
Junhoe mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Hanbin berkali-kali. "Sampai bertemu di rumah, chagiya."
.
.
.
"Kau sedang bermasalah dengan penceraanmu, Tuan Kim?" Tanya Donghyuk sambil melipat tangan didepan dada. Ia tidak bisa menahan rasa kesalnya. "Aku menunggumu di kelas seperti orang bodoh. Bahkan ahjussi yang biasa membersihkan ruangan ini terus bertanya padaku apakah kelas ini sudah selesai dipakai atau belum."
"Mianhae, Donghyuk-ah…" Hanbin tersenyum canggung. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya salah. Junhoe terus menahannya didalam mobil.
"Untung saja Jiwon sunbae menemaniku." Donghyuk tersenyum samar, yang tentu saja membuat Hanbin curiga.
"Wae irae? Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Hanbin-ah…" Tiba-tiba Donghyuk terlihat ceria. "Aku sudah bilang padamu aku menyukai seseorang."
"Eo." Jawab Hanbin antusias. Karena selama ini Donghyuk tidak pernah membahas hal seperti itu dengannya, tentu saja Hanbin juga ikut merasa senang. "Kau menyukai siapa?"
"Ah… Eotteokhae…." Donghyuk menutup wajahnya malu. "Sekarang orang itu mengajakku kencan."
"Ya! Kau benar-benar membuatku penasaran. Siapa-" Hanbin terdiam. "Ah… ternyata dia orangnya."
"Eo?" Donghyuk menatap Hanbin terkejut. "Kau tahu?"
"Kenapa kau bisa menyukai orang seperti dia?" Hanbin menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Tapi aku ikut senang mendengarnya. Jiwon sunbaenim mengajakmu kencan? Jinjja?"
"Eo. Keundae eotteokhae arra? Orang yang aku suka adalah Jiwon sunbae?" Tanya Donghyuk bingung. Kemudian mengedarkan pandangan matanya malas. "Aku lupa sahabatku seorang cenayang." Katanya pada dirinya sendiri.
"Kapan kalian kencan?"
"Besok malam." Wajah Donghyuk memerah. "Hanbin-ah eotteokhae? Apa menurutmu itu tandanya dia juga menyukaiku?"
"Eo. Tentu saja dia menyukaimu." Hanbin tersenyum melihat sahabatnya itu. Ia tidak pernah melihat Donghyuk bahagia seperti sekarang. Sejak pertama bertemu, Hanbin tahu ada yang salah dengan Donghyuk. Namja itu selalu berpura-pura bahagia dihadapannya. Bersikap ceria dan tertawa seperti tidak terjadi apa-apa pada keluarganya.
Dan sekarang Hanbin merasa lega, sepertinya kehidupan sahabatnya itu akan jadi lebih berwarna dengan kehadiran Jiwon.
"Hanbin-ah, kau melihat kilasan itu bukan?" Tanya Donghyuk penasaran. "Didalam kilasan itu ada aku dan Jiwon sunbae bukan?"
Hanbin menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana? Apa yang akan terjadi? Apa hubungan kami berjalan lancar?"
"Hm…." Hanbin berpura-pura berpikir keras. "Aku tidak melihat begitu jelas."
"Ah…." Donghyuk menggoyangkan tangan Hanbin ke kanan dan ke kiri, seperti anak yang merengek pada Ibunya. "Jangan berbohong. Kau itu tidak pandai berbohong."
"Andwae. Aku tidak pernah memberitahu masa depan seseorang kepada orang tersebut. Aku hanya mencegah hal buruk yang akan terjadi."
"Jebaaall…. Aku bukan orang lain. Aku sahabat dekatmu, Hanbin-ah…." Kata Donghyuk memohon. "Beritahu aku! Atau aku akan memberitahu Junhoe sunbaenim kalau kau menyukainya." Tiba-tiba saja perkataannya berubah menjadi ancaman. Tapi tentu saja Hanbin tidak akan terpengaruh, karena….
"Kami sudah berpacaran."
"MWO?!" Donghyuk membuka mulutnya lebar-lebar dan menatap Hanbin tanpa berkedip. "Tunggu tunggu…" Ia memegang kepalanya yang mendadak pusing. "Aku rasa aku salah dengar…. Hanbin-ah kau bilang apa tadi?"
"Aniya. Aku tidak akan mengulangnya." Hanbin berjalan ke mejanya dan membereskan bukunya. "Kau sudah selesai? Aku ingin pulang."
"Ya! Kau harus menceritakannya padaku!" Donghyuk menghampiri Hanbin dan ikut membereskan peralatannya. "Kau… dan Junhoe sunbaenim…. Sejak kapan?"
"Lima belas menit yang lalu." Jawab Hanbin datar.
Donghyuk terdiam sebentar. Kemudian perlahan ia mulai tersenyum lebar. "Waaaahh…..Kim Hanbin! Chukhaeeee!"
Hanbin menahan senyumnya. "Pelankan suaramu."
"Waaahhh…. Ternyata kalian menikah karena saling menyukai! Waaahhh…. Kau selangkah lebih dekat dengan pernikahanmu!"
Hanbin membalikkan badannya dan menatap mata Donghyuk dalam. "Kau. Aku akan memberitahu sedikit apa yang kulihat saat kilasan tadi."
"Eo. Eo." Donghyuk menganggukkan kepalanya tidak sabar.
"Mulai sekarang hal baik akan terus datang padamu."
"Mwoya…." Kata Donghyuk kecewa. "Kau tidak memberitahukan detailnya!"
"Kau seharusnya berterima kasih." Hanbin mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan kelas. Samar-samar ia mendengar Donghyuk berteriak.
"Ya! Kim Hanbin! Eodiga? Yaa! Kau bisa membuatku mati penasaran!"
Hanbin tersenyum. Haaa…. Ia tidak menyangka bisa melihat kilasan pernikahan sahabat dekatnya….
.
.
.
Braaakkk!
Jinhwan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu. Ia melemparkan tubuhnya ke kasur. Lalu tak lama kemudian ia bangkit dan mondar-mandir gelisah.
"Aniya. Aniya." Gumamnya.
Jinhwan mengacak rambutnya kasar. "Eotteokhae…." Ia mengambil handphone-nya dan mengetik sesuatu dengan tangannya yang gemetar.
"Yeoboseyo, Appa. Aku ingin pernikahanku dengan Junhoe dipercepat."
.
.
.
"Hehe…."
Sera ahjumma menatap orang yang duduk disebelahnya sinis.
"Hehehe…."
"Aiisshh jinjja…. Kau sungguh mengganggu, Goo Junhoe." Sera ahjumma menutup majalah yang sedang baca dan sedikit membantingnya ke meja. "Sedang apa kau disini? Tidak biasanya kau menemaniku diruang tamu seperti ini."
Junhoe menatap Eomma-nya itu bingung. "Aninde. Aku disini bukan untuk menemani Eomma." Lalu namja bermarga Goo itu kembali tersenyum aneh, tertawa sendiri.
Sera ahjumma menatap anaknya itu takut. "Ya! Kau kenapa? Kau salah makan hari ini?"
"Aniyo… Hehe… Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini."
Sera ahjumma menghela napas. Ia mengambil secangkir teh didepannya dan meminumnya. "Pasti ada hubungannya dengan Hanbin."
Junhoe melompat kaget, tetapi masih dalam posisi duduk. "Eotteokhae arrayo?"
Sera ahjumma menatap Junhoe jengkel. "Ya! Bahkan ahjussi tukang kebun yang datang tiga kali seminggu pun tahu kau sudah berpacaran dengan Hanbin hari ini."
"Keuraeyo…." Kata Junhoe sambil tersenyum malu-malu. "Apa tertulis diwajahku, Eomma? 'Kim Hanbin menyukaiku'?"
"Cih… Jangan berkata seolah-olah Hanbin yang mengejarmu."
"Annyeonghaeyo….."
Sera ahjumma tersenyum kecil melihat siapa yang datang. "Eo Hanbin-ah. Kau sudah pulang."
"Ne." Hanbin masuk ke dalam ruangan sambil membungkukkan badan ke Sera ahjumma. Ia melirik Junhoe yang sedang menatapnya berbinar-binar.
Sera ahjumma berdiri dari tempat duduknya. "Kau sudah makan? Aku membuatkanmu-"
"CHAGIYAAAA!"
Tiba-tiba Junhoe berlari dan memeluk Hanbin seolah-olah itu pertemuan mereka yang pertama kali dalam sepuluh tahun.
"Aku merindukanmu…." Junhoe melepas pelukannya dan mencubit kedua pipi Hanbin gemas. "Aigoo… Kau bertambah manis…"
Hanbin membeku ditempatnya, terkejut dengan perilaku Junhoe. Kemudian ia sadar, Sera ahjumma sedang menatapnya horor.
Hanbin mendorong Junhoe menjauh, cukup keras sampai-sampai namja itu berteriak kesakitan.
"A-ahjumma… Jangan salah paham…" Kata Hanbin panik. "J-junhoe hyung yang tiba-tiba memelukku." Ia menundukkan kepalanya. "Hyung, eotteokhaji?" Bisiknya pada Junhoe.
"Hanbin-ah, Eomma sudah tahu bahkan sebelum aku bilang padanya." Jawab Junhoe dengan nada suara normal sehingga Sera ahjumma bisa mendengarnya.
"Eo?"
Junhoe tersenyum lembut dan merangkul Hanbin. "Eomma, perkenalkan. Ini Kim Hanbin, nae namjachingu."
Hanbin hanya bisa diam, ia tidak berani mengangkat kepalanya. Kenapa Junhoe terburu-buru sekali? Ini bukan yang dimau Hanbin. Ia tahu Sera ahjumma menyukainya, tapi pasti rasanya akan canggung.
"Hanbin-ah…" Panggil Sera ahjumma.
"N-ne."
"Lihat aku."
Hanbin mengangkat kepalanya ragu-ragu. Dilihatnya Sera ahjumma menatapnya bingung.
"Bagaimana kau bisa menyukai orang seperti dia?"
"Ne?"
"Lihat." Sera ahjumma mengangkat dagu Junhoe. "Dia memang tampan, tetapi sifatnya seperti anak kecil."
"Eomma!" Protes Junhoe.
"Dia juga egois, keras kepala dan kadang berbuat suatu hal tanpa berpikir panjang." Sera ahjumma terdiam, menunggu reaksi Hanbin yang biasanya datar itu. Tapi kemudian yang terjadi sungguh diluar dugaannya. Hanbin menatapnya sambil tersenyum kecil.
"Arrayo."
"Kau tahu sifat buruknya dan kau masih menyukainya?"
"Ne."
Sera ahjumma memejamkan matanya beberapa lama, lalu diliriknya Junhoe yang sedang menatap Hanbin lembut. Ia menghela napas. "Keurae, aku tidak bisa melarang kalian. Hanbin-ah, mulai sekarang jangan panggil aku ahjumma, panggil aku Eomma."
.
.
.
Junhoe berjalan mengikuti Hanbin dari belakang. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Masih segar diingatan Junhoe, Hanbin yang menangis didalam mobil tadi siang. Ia sungguh tidak menyangka namja yang berumur satu tahun lebih muda darinya itu akan menyatakan perasaannya. Junhoe benar-benar beruntung, ia tidak perlu berpikir keras untuk membuat Hanbin menyukainya.
"Eo! Tunggu." Junhoe menarik tangan Hanbin yang hendak membuka pintu kamarnya.
"Wae?" Tanya Hanbin sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
"Aiisshh…."
Junhoe menarik Hanbin masuk ke dalam ruangan diseberang, yaitu kamarnya.
"Hyung, ada apa?"
"Lagi lagi. Kenapa kau memberikan tatapan seperti itu?" Junhoe mendorong Hanbin sampai punggung namja berlesung pipi itu bersentuhan dengan pintu.
Hanbin sadar apa yang akan dilakukan Junhoe. Maka dari itu ia berusaha menjauhkan dada namja itu darinya. "Aniya. Aniya. Jangan sekarang. Nanti Sera ahjumma- maksudku Sera Eomma melihatnya."
"Tentu saja Eomma tidak akan tahu." Junhoe melirik bibir Hanbin yang menggoda itu. "Karena itu aku sengaja berdiri disini untuk menghalangi pintu." Ia mendekatkan wajahnya perlahan.
Hanbin menutup matanya. Dirasakannya sebuah benda kenyal menempel dibibirnya. Untuk beberapa saat benda itu hanya diam, tapi kemudian bibir Junhoe mulai bergerak.
Junhoe melumat bibir Hanbin dengan sangat lembut sampai-sampai Hanbin tidak bisa menolaknya.
Hanbin, perlahan tetapi pasti mulai membalas ciuman Junhoe yang membuat namja bermarga Goo itu bertambah semangat.
Tangan Junhoe mulai naik ke atas, mengelus-elus punggung Hanbin. Sedangkan tangan Hanbin mulai mendorong tengkuk Junhoe untuk memperdalam ciuman mereka.
Hanbin melenguh tanpa sadar. Dan tiba-tiba saja ciuman mereka menjadi panas. Junhoe memasukkan lidahnya ke dalam mulut Hanbin, menelusuri apa saja yang ada disana.
Kaki Hanbin mulai melemah. Tangannya kini berpegang erat pada bahu Junhoe. Tangan yang satunya ia pakai untuk memukul dada Junhoe, meminta namja itu melepas ciuman mereka agar Hanbin bisa menarik napas.
Junhoe yang mengerti maksud Hanbin, segera menjauhkan wajahnya. Ditatapnya wajah Hanbin yang memerah serta saliva yang memenuhi bibir namja chingu-nya itu. Sangat menggoda.
Junhoe kembali melumat bibir Hanbin, kali ini tangannya mulai bergerak ke arah bokong.
Hanbin kembali melenguh. Sentuhan Junhoe bisa membuatnya gila. Tiba-tiba kilasan yang ia lihat beberapa waktu lalu, teringat kembali.
Lampu kamar yang mati. Hanbin yang berkeringat tanpa pakaian. Junhoe yang juga telanjang berada diatasnya.
"Appooo…"
"T-tahan sebentar, Hanbin-ah…."
"Ahh! Hhyyuunngg…"
Cup
"Saranghae, Kim Hanbin…"
Hanbin menutup matanya rapat-rapat. Apa kilasan itu akan terjadi sebentar lagi?
.
.
.
TBC
