DEAR FUTURE HUSBAND

Main Cast:

Kim Hanbin

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jinhwan

Kim Donghyuk

Kim Jiwon

Genre: Romance, Drama

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

Hanbin kembali melenguh. Sentuhan Junhoe bisa membuatnya gila. Tiba-tiba kilasan yang ia lihat beberapa waktu lalu, teringat kembali.

Lampu kamar yang mati. Hanbin yang berkeringat tanpa pakaian. Junhoe yang juga telanjang berada diatasnya.

"Appooo…"

"T-tahan sebentar, Hanbin-ah…."

"Ahh! Hhyyuunngg…"

Cup

"Saranghae, Kim Hanbin…"

Hanbin menutup matanya rapat-rapat. Apa kilasan itu akan terjadi sebentar lagi?

.

.

.

Hanbin menurunkan tangannya yang sedari tadi memegang tengkuk Junhoe. Ia tahu ada sesuatu yang salah saat namja itu mulai membuka kancing paling atas kemejanya. Ia melepas ciumannya.

"H-hyung, ini tidak benar. Kita seharusnya tidak…"

Junhoe tidak menjawab. Ia menatap mata Hanbin cukup lama sambil mengatur napasnya. Dan Junhoe sedikit terkejut melihat apa yang telah diperbuatnya pada orang yang ia sayangi itu.

"Ah… Mian… Aku tidak sadar melakukannya…"

Hanbin menghela napas lega. Syukurlah jika Junhoe tahu batas-

"Tapi sudah terlanjur, aku akan melanjutkannya."

Junhoe kembali melumat bibir Hanbin kasar. Kali ini tangannya bergerak lebih banyak. Ia menaruh kedua tangan Hanbin di lehernya dan mengangkat paha namja berlesung pipi itu, menggendongnya didepan.

Hanbin mendorong pundak Junhoe dan menatap orang didepannya itu syok.

"Hyung! Turunkan aku!"

"Keurae."

Junhoe membawa Hanbin ke tempat tidur dan merebahkannya disana. Ia mulai membuka bajunya.

"A-aniya aniya. Bukan itu maksudku." Hanbin panik. Ia mencoba berdiri tetapi Junhoe sudah terlanjur merayap diatasnya dan menahan kedua tangannya.

"Lalu apa maksudmu?"

Walaupun wajah Junhoe tepat berada diatas wajahnya, Hanbin tahu mata namja itu tidak menatapnya, melainkan sesuatu dibawah sana.

"M-maksudku aku ingin keluar dari sini."

"Keurae. Kau ingin melakukannya di kamarmu?"

"Aniya!"

"Lalu?"

Hanbin menggerakan bibirnya gugup. "A-aku tidak ingin melakukannya sekarang."

"Besok? Nanti malam?"

"Ah… Hyung…" Wajah Hanbin memelas. Sejujurnya ia tidak siap. Bukankah mereka harus menikah dulu? Tapi Hanbin tidak bisa bertanya seperti itu, nanti Junhoe menganggapnya sebagai lamaran.

"Hanbin-ah, kau tahu aku orang yang seperti apa. Aku tidak terima penolakan."

Junhoe mengarahkan bibirnya ke leher Hanbin. Dikecupnya perlahan. Lalu….

Tok! Tok! Tok!

"Junhoe-ya ini Eomma…. Buka pintunya."

Junhoe melompat kaget. Ditatapnya Hanbin dan daun pintu bergantian.

"Eotteokhae eotteokhae….."

Hanbin sama terkejutnya. Ia segera berdiri dan berjalan ke arah pintu. Tapi Junhoe menahannya.

"Ya!" Kata Junhoe berbisik. "Apa yang kau lakukan?"

"Tentu saja keluar dari sini." Kata Hanbin yang juga berbisik. "Nanti Eomma curiga."

"Dia akan lebih curiga kalau kau keluar dari kamarku dengan pakaian seperti itu." Junhoe menunjuk kemeja Hanbin yang terbuka dengan dagunya.

"Ini semua karena hyung!"

"Tanganku yang bergerak sendiri!"

"Junhoe-ya! Buka pintunya! Kau tidur?!" Sera Eomma mulai menggedor-gedor pintu.

"Aniya Eomma, tunggu sebentar." Junhoe mendorong Hanbin agar berdiri dibelakangnya. Ia membuka pintu dan hanya memperlihatkan wajahnya. "Ada apa Eomma?"

Sera Eomma mengerutkan dahinya. "Kau sedang berganti baju?" Tanyanya saat sekilas melihat bahu terbuka Junhoe.

"Eo. A-aku sedang berganti baju. Kenapa Eomma memanggilku?"

"Aku ingin menjemput Appa-mu di bandara. Dia sudah pulang dari Hongkong. Kau mau ikut?"

"A-aku sedang tidak enak badan."

"Jinjja? Eodi appo?" Sera Eomma mendorong pintu, ia ingin masuk dan melihat keadaan anaknya yang katanya sakit itu.

"J-jangan." Junhoe berusaha menahan pintu. Sedangkan Hanbin berusaha menutup mulutnya karena tubuhnya tergencet diantara tembok dan Junhoe.

"Wae? Aku tidak boleh masuk?"

"Eo. A-aku sedang tidak pakai apa-apa."

"Kau bilang kau sakit? Pakai bajumu dan minum obat. Aku akan meminta bantuan Hanbin untuk merawatmu." Sera Eomma membalikkan badannya dan mengetuk pintu kamar Hanbin.

"Andwae…" Hanbin meremas tangan Junhoe cukup kencang, membuat namja itu kesakitan.

"AAAA!" Teriak Junhoe.

"Kkamjjagiya! Kenapa kau berteriak?!"

"H-hanbin sedang beristirahat. Jangan ganggu dia. Aku akan meminum obat setelah ini."

"Keurae. Junhoe-ya, setelah menjemput Appa-mu di bandara, kami akan langsung pergi ke Busan. Ada acara pernikahan yang harus kami hadiri. Kami akan pulang besok."

Junhoe tersenyum girang. "Joah!"

"Mwo?" Sera Eomma menatap Junhoe bingung. "Kau bilang apa tadi? Ya! Jangan cari-cari kesempatan mendekati Hanbin selagi aku tidak ada. Atau kau kutendang dari rumah. Arraseo?!"

"Arraseo, Eomma. Ppali ka."

Junhoe menutup pintunya perlahan. Ia membalikkan badannya. DIlihatnya Hanbin sedang menatapnya takut.

"Hanbin-ah, Eomma dan Appa akan pulang besok." Katanya sambil menyeringai.

Hanbin menggelengkan kepalanya cepat. "A-andwae. Andwae, hyung."

"Wae? Kau tidak suka?"

"Bukannya seperti itu." Hanbin menghela napasnya. Bagaimanapun ia harus mengutarakan isi hatinya. "Kita belum menikah. Aku tidak ingin melakukannya sebelum kita menikah."

"Kau…. Melamarku lagi?"

Hanbin mengedarkan pandangannya kesal. Sudah dia duga…..

"Eo! Aku melamarmu! Lalu kenapa?! Hyung. Kau selalu membuatku kesal."

Junhoe tertawa kecil. Sifat keras kepala Hanbin muncul lagi. Sama seperti dulu saat namja berlesung pipi itu bertengkar dengannya soal boneka Mickey Mouse. Dan hal seperti itulah yang membuatnya menyukai Hanbin, sejak tiga belas tahun yang lalu.

"Kau sangat ingin menikahiku rupanya. Keurae. Aku terima lamaranmu. Sekarang ayo kita ke tempat tidur."

"Mwo? Kita belum menikah!"

"Kau melamarku, dan aku sudah terima lamaranmu. Tidak ada yang perlu kau takutkan, Hanbin-ah."

Hanbin terdiam. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.

"Ya. Dengarkan aku." Junhoe memegang pundak Hanbin dan sedikit menundukkan kepalanya, menyamakan dengan tinggi Hanbin. "Kita pasti akan menikah, eo? Karena aku sudah berencana menikahimu bahkan sejak kau belum bisa berbicara." (Baca chapter 6)

Hanbin membulatkan matanya, sedikit senang. "Jinjja?" Lalu tiba-tiba wajahnya terlihat marah. "Kalau begitu seharusnya hyung tidak perlu pacaran dengan Jinhwan sunbaenim."

"Mwo?"

"Aniya. Lupakan."

"Kau cemburu?"

"Aniya!" Hanbin menaikkan nada suaranya. "Aku tidak cemburu!"

Junhoe tersenyum dan merangkul pinggang namja chingu-nya itu. "Kau sangat manis saat cemburu."

"Aku bilang aku tidak-hmptt!"

Junhoe kembali melahap bibir Hanbin. Kali ini ia bergerak cepat. Dibukanya kemeja Hanbin, dan ditariknya ikat pinggang namja itu.

"H-hyung… T-tunggu dulu…"

Junhoe tidak mendengarkan perkataan Hanbin. Ia melucuti celananya dan celana namja berlesung pipi itu lalu dihisapnya leher putih Hanbin.

"Ahhh…. Jangaannhh…." Tetapi apa yang Hanbin ucapkan tidak sesuai dengan reaksi tubuhnya. Ia memejamkan matanya dan mengadahkan kepala seolah-olah memberi ruang untuk bibir Junhoe. Hanbin merasa aneh. Setiap kali kulitnya bergesekan dengan namja bermarga Goo itu, ia merasa kehilangan dirinya. Hanbin tidak percaya ia ternyata sangat menginginkan Junhoe.

Junhoe menggiring Hanbin ke tempat tidur. Matanya menatap Hanbin dalam. Dan Hanbin menganggukkan kepalanya.

Junhoe memasukkan juniornya dengan hati-hati.

"Appo…" Hanbin memejamkan matanya. Bokongnya terasa sangat sakit. Tetapi entah kenapa ia tidak bisa menolaknya.

"T-tahan sebentar, Hanbin-ah…"

Junhoe memasukkan juniornya lebih dalam.

"Ahh! Hhyyuunngg…"

Begitu semuanya sudah masuk dengan sempurna. Junhoe mengecup dahi Hanbin lembut.

Cup…

"Saranghae, Kim Hanbin…"

Seterusnya Hanbin mendesah kenikmatan saat tubuhnya bergerak seirama dengan Junhoe. Ah… Kilasannya memang tidak pernah salah.

.

.

.

"Wae irae?" Seunghan Appa sedari tadi memperhatikan istrinya yang terlihat gelisah. Sesekali ia menatap jalan didepannya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Busan menggunakan mobil.

"Aniya. Firasatku tidak enak meninggalkan Hanbin berdua dengan Junhoe." Sera Eomma menatap kaca mobil disampingnya, ia termenung.

"Memangnya apa yang akan mereka lakukan?"

Sera Eomma memperbaiki cara duduknya dan menatap suaminya itu dengan raut wajah serius. "Yeobo, Junhoe ingin membatalkan pertunangannya dengan Jinhwan."

"Lalu?"

"Anak itu menyukai Hanbin."

"Arra."

"Kau tidak terkejut?"

Seunghan Appa tersenyum kecil, sangat menawan, sama seperti senyuman Junhoe. "Aku sudah mengetahuinya sejak melihatnya terus mendekati Hanbin. Aku tidak bodoh, Sera-ya."

"Dan kau menyetujuinya?"

"Tentu. Hanbin lebih baik daripada Jinhwan."

Sera Eomma menatap orang disampingnya itu bingung. "Jinhwan anak yang manis. Kenapa kau tidak menyukainya?"

"Kau mungkin belum tahu, Jinhwan tidak sebaik yang kau kira, begitupun dengan keluarganya."

"Ada apa? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?"

"Keluarga Jinhwan mau memanfaatkan kita. Mereka ingin memperluas perusahaannya dengan cara pernikahan keluarga. Keluarga Kim mempunyai reputasi buruk di dunia bisnis. Mereka menyarankan Jinhwan bertunangan dengan Junhoe saat tahu anak kita itu menyukainya. Padahal setahuku saat itu Jinhwan sudah mempunyai pasangan. Kudengar anak bungsu keluarga Kim itu mencampakkan pacarnya."

"Wah… Jinjja?"

"Kemarin mereka menghubungiku, meminta pernikahan Junhoe dan Jinhwan dipercepat. Dan kau tahu apa sebabnya?"

"Karena Junhoe mau membatalkan pertunangannya?"

"Benar. Dan aku ingin Junhoe bersikap seperti pria dewasa. Dia harus berbicara sendiri ke keluarga Jinhwan tentang hal itu."

"Yeobo, berarti ini semua karena Hanbin?"

"Eo. Aku sangat berterima kasih dengannya. Kalau tidak kita bisa kena tipu keluarga Kim."

Sera Eomma tersenyum mendengarnya. Tidak salah ia membawa Hanbin masuk ke keluarganya. Ah… Ia semakin menyukai anak itu.

"Tapi terkadang aku merasa kasihan pada anak itu." Lanjut Seunghan Appa.

"Karena Jiyoo meninggal beberapa bulan lalu? Hanbin sudah seperti keluarga kita sendiri sekarang."

"Aniya. Bukan itu. Kau ingat saat suami Jiyoo meninggal? Jiyoo bilang Hanbin memimpikan Appa-nya meninggal dan itu benar terjadi."

Sera Eomma terdiam. "Tunggu. Apa katamu?"

"Setelah itu Hanbin bisa melihat masa depan. Saat masih kecil dia bahkan memberitahuku bahwa usahaku akan berjalan dengan sukses. Kau lupa?"

"Hanbin… bisa melihat masa depan….?"

.

.

.

TBC