DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Sera Eomma terdiam. "Tunggu. Apa katamu?"
"Setelah itu Hanbin bisa melihat masa depan. Saat masih kecil dia bahkan memberitahuku bahwa usahaku akan berjalan dengan sukses. Kau lupa?"
"Hanbin… bisa melihat masa depan….?"
.
.
.
Hanbin menatap langit kamar yang berwarna kecokelatan itu selama beberapa menit. Otaknya masih mencerna apa yang terjadi semalam. Hanbin tidak berani menoleh ke kiri karena ia tahu siapa pemilik tangan yang sedang memeluknya sekarang.
Pipi Hanbin memerah saat mengingat betapa intimnya ia dan Junhoe semalam. Uh… Bisa dibilang ia sangat puas….mungkin? Walaupun sering berekspresi datar, Hanbin adalah anak yang polos, jadi ia membiarkan dirinya dibawah kendali suami masa depannya itu.
Hanbin tidak menyangka kilasan itu terjadi di hari pertama ia dan Junhoe berpacaran. Sungguh amat sangat terlalu cepat. Dan mereka bahkan melakukannya di kamar Junhoe.
Tiba-tiba hatinya terasa sesak. Hanbin tidak bodoh, mungkin saja Junhoe pernah melakukan hal yang sama dengan Jinhwan, karena mereka sudah berpacaran hampir dua tahun. Ah… bicara mengenai Jinhwan, bagaimana dengan orang itu kedepannya? Apa dia dan Junhoe akan berpisah baik-baik?
Hanbin memejamkan matanya, berniat kembali tidur karena ia sangat lelah. Tak lama kemudian tangan yang tadi merangkul lengannya , sekarang mulai bergerak mengelus perutnya. Ya, Hanbin sekarang tidak memakai apapun, karena tentu saja Junhoe melarangnya.
Tangan itu mulai turun, berusaha meraih benda yang ada dibawah perut Hanbin.
"Aku lelah, hyung. Jangan lagi."
"Hm? Kau bilang apa?" Tanya Junhoe dengan suara serak.
Hanbin melirik sinis wajah orang disebelahnya itu. Lalu ia menjauhkan tangan Junhoe dari tubuhnya.
"Berkatmu, badanku sakit semua sekarang. Terima kasih banyak."
"Sama-sama." Sahut Junhoe genit. Namja bermarga Goo itu menyanggah kepalanya dengan lengannya dan menatap Hanbin sambil tersenyum. "Hanbin-ah, kenapa kau sangat manis ketika bangun tidur?"
Hanbin tidak menjawab. Ia membalikkan badannya, membelakangi Junhoe.
"Hanbin-ah~~"
Junhoe mulai mengelus bokong Hanbin dan menciumi leher namja berlesung pipi itu, sesekali menjilat telinganya. Merasa Hanbin tidak merespon, Junhoe sedikit kesal. Diremasnya benda yang merupakan kelemahan Hanbin.
"Aahhhh…."
Berhasil!
"Hhyyuungghh…. Jangaaannhh…"
Junhoe mengocok junior Hanbin pelan, sedangkan sebenernya ia sendiri sudah menegang sedari tadi. Mendengar desahan Hanbin saja membuatnya gila.
"G-goo Juunnhhoee… Hentikaaanhhh….."
Hanbin memejamkan matanya. Ah… ia sudah sangat lelah. Tapi Junhoe terus memancingnya.
"Biar aku bantu."
Junhoe memasukkan 'kebanggaannya' ke dalam hole Hanbin pelan-pelan sambil menciumi leher namja itu agar tidak terlalu merasakan sakit.
Hanbin meremas bantal sekuat mungkin. Dasar gila… Padahal semalam itu seharusnya sudah lebih dari cukup.
"Ahhhhh!" Hanbin mendesah keras saat Junhoe menumbuk titik prostatnya beberapa kali.
Junhoe memejamkan matanya, merasa kenikmatan karena hole Hanbin menjepitnya sangat kuat.
"Hanbin-ah, ireona."
Junhoe menarik tubuh namja chingu-nya itu agar duduk dan menghadap kearahnya. Sekarang terlihat jelas wajah sayu Hanbin yang memerah dengan bibir yang setengah terbuka, sangat menggoda. Junhoe mengecup bibir itu beberapa kali.
"Kau siap, sayang?"
Hanbin menatap Junhoe sedikit kesal. "Kau yang memulainya. Apa semalam tidak cukup?"
"Eo. Kau kurang aktif, sayang."
Wajah Hanbin semakin memerah. "A-aku harus bagaimana? Aku tidak berpengalaman sepertimu."
Junhoe mengerutkan dahinya bingung. "Ini juga pertama kalinya untukku."
"Jinjja?"
"Eo."
"Dengan Jinhwan sunbaenim sekalipun?"
Junhoe menghela napas. Ternyata Hanbin tipe pencemburu.
"Kenapa kau harus bawa-bawa nama dia sekarang, hm?"
"A-aku hanya bertanya. Siapa tahu kalian sering melakukan ini."
Junhoe memeluk pinggang Hanbin posesif, menarik agar teman masa kecilnya itu mendekat.
"Aku tidak pernah melakukannya dengan Jinhwan. Berhenti membicarakan orang itu."
Hanbin melemparkan pandangannya ke arah lain. Ia memeluk Junhoe erat dan menempelkan pipinya ke pundak namja itu.
"Arraseo. Aku tidak akan membicarakannya lagi."
Junhoe tersenyum kecil. "Saranghae. Jeongmal saranghae, Kim Hanbin."
"Nado."
"Aku boleh bertanya satu hal?"
"Mwo?"
"Apa mungkin ada hal yang sedang kau sembunyikan dariku?"
"Tidak ada."
Junhoe menghela napas, Hanbin masih belum jujur padanya. "Keurae."
"Aahhhh~~ K-kau tidak memberiku aba-aba, hyung..."
"Itu tidak perlu, sayang~"
.
.
.
Donghyuk menatap satu-persatu tumpukan baju yang ada didepannya. Kira-kira pakaian apa yang cocok ia pakai nanti malam? Donghyuk tersenyum malu. Akhirnya… Akhirnya hari ini tiba juga. Jiwon mengajaknya kencan, apa itu berarti sunbaenya itu memberikannya kesempatan?
Donghyuk mendudukkan dirinya ditempat tidur. Selama dihidupnya, ia selalu penuh dengan kepalsuan, termasuk pura-pura bahagia didepan Hanbin. Ia tidak ingin membuat sahabatnya itu khawatir, karena Donghyuk tahu Hanbin juga punya banyak masalah sepertinya. Ia tidak boleh egois.
Donghyuk adalah anak broken home. Keluarganya tidak pernah akur. Kupingnya sudah kebal mendengar Eomma dan Appa-nya bertengkar setiap hari. Dan hal yang membuat mereka bertengkar selalu sama, yaitu dirinya.
Donghyuk sudah muak tinggal dirumah ini. Maka dari itu ia berencana pindah ke tempat yang jauh dari orangtuanya. Ia sudah tidak peduli lagi jika Hanbin memarahinya. Karena jujur saja, ia hampir gila.
Ah.. Bicara mengenai Hanbin, bukankah lebih bagus jika Donghyuk bertanya pada sahabatnya itu apa yang harus ia pakai nanti malam?
Donghyuk meraih handphone disampingnya, menekan nomor satu dilayar agak lama. Tidak ada jawaban.
"Mwo-ya…. Anak itu belum bangun jam segini?"
Tok! Tok! Tok!
"Donghyuk-ah… Kau sudah bangun?"
Donghyuk sedikit tersentak mendengar suara perempuan yang tidak asing itu. Tiba-tiba suasana hatinya memburuk.
"Ada apa?"
"Kau sudah sarapan? Buka pintunya."
Donghyuk menghela napas kasar. Mau tak mau ia berjalan membuka pintu. Wanita itu tidak akan berhenti menganggunya jika keinginannya belum dituruti.
"Wae? Kenapa tiba-tiba mengajakku sarapan? Dimana suami tersayangmu itu?" Donghyuk memperlihatkan ekspresinya datar. Tapi wanita didepannya itu tidak menjawab karena matanya berfokus pada pakaian Donghyuk yang berserakan dilantai.
"Kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu."
"Kau ingin kabur dari sini, eo?"
"Aku bilang bukan urusannmu." Donghyuk berniat menutup pintu, tapi wanita itu menahannya.
"Kau sudah mulai melawanku rupanya. Donghyuk-ah, aku ini Ibumu, kau tidak boleh kurang ajar."
"Memangnya kau merawatku dari kecil? Tolong sadar Nyonya Kim, kau bahkan tidak pernah mengantarku ke sekolah."
Wanita itu membelalakkan matanya, terlihat sangat marah.
"Aku selalu membelamu didepan pria itu dan sekarang ini balasanmu?"
Donghyuk membalikkan badannya. Ia mengambil beberapa buah baju dan memasukkannya ke dalam tas. Sebenarnya ia tidak ingin pergi dari rumah dengan cara seperti ini, tapi Donghyuk benar-benar tidak tahan.
"Ya! Kau tidak mendengarkanku?!"
Setelah selesai, Donghyuk berjalan ke luar kamar, sedikit menabrak bahu wanita itu.
"Anggap saja kau telah membuang anakmu. Jangan pernah cari aku, 'Eomma'."
.
.
.
Jiwon membuka matanya kesal. Ia turun dari tempat tidur sambil mengumpat. Siapa orang gila yang terus membunyikan bel apartemennya ini? Betapa terkejutnya ia melihat Donghyuk sedang berdiri didepan pintu.
"Donghyuk-ah…"
"Sunbae…"
Jiwon menatap pemandangan didepannya tidak percaya. "Kau menangis?"
Donghyuk mengusap air matanya kasar. "Sunbae, boleh aku tinggal dirumahmu beberapa hari? Aku tidak tahu harus pergi kemana." Katanya sambil berusaha tersenyum, seolah-olah kabur dari rumah adalah hal sepele.
"Eo." Jawab Jiwon cepat, walaupun sebenarnya ia masih kebingungan. Ia mempersilahkan Donghyuk masuk, mengambil tas besar dari tangan namja itu dan menaruhnya dilantai.
"Ada apa?" Jiwon membersihkan sisa air mata dipipi Donghyuk. Pasti sesuatu terjadi pada namja yang mulai menarik perhatiannya itu.
"A-aku…" Donghyuk meneteskan air matanya. "Lelah… Aku… Tidak ingin tinggal ditempat itu lagi… Aku benci mereka…"
Jiwon menatap mata Donghyuk dalam. Ia tidak tahu jika melihat seseorang menangis bisa membuat hatinya sakit seperti ini. Jiwon memeluk Donghyuk erat, karena hanya hal itu yang bisa dilakukannya.
"Gwaenchana… Gwaenchana… Kau bisa tinggal disini selama mungkin."
.
.
.
Sera Eomma terus menatap Hanbin tanpa berkedip, sesekali ia memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Pikirannya dipenuhi perkataan sahabat karibnya beberapa belas tahun yang lalu. Walaupun tidak bisa mengingatnya dengan jelas, yang pasti hal itu berhubungan dengan Hanbin dan masa depan.
Sera Eomma bahkan lupa keistimewaan yang dimiliki Hanbin itu. Sebenarnya tidak masalah, ia menerima Hanbin apa adanya. Tapi kenapa anak itu tidak jujur padanya. Apa yang ditakutkan Hanbin?
Sera Eomma menaruh sendoknya. Ia berniat mengambil gelas kosong yang ada didekat Hanbin. Tapi anak berlesung pipi itu mengambilkannya bahkan sebelum Sera Eomma menggerakkan tangannya.
Ibu dari Goo Junhoe itu terdiam, menatap Hanbin selama beberapa saat.
"Bagaimana kau tahu aku ingin mengambil gelas, Hanbin-ah?"
Hanbin tersentak. Ah… Lagi-lagi… Ia sudah terbiasa seperti itu dengan Eomma-nya.
"Hm… Aku…"
"Hanbin mengambil gelas itu karena Eomma terlihat haus." Kata Junhoe santai. "Bukan begitu, Hanbin-ah?"
"N-ne… Eomma terlihat haus." Hanbin menundukkan kepalanya. Dasar bodoh. Kau harus lebih berhati-hati Kim Hanbin. Mereka semua tidak tahu apa-apa.
Sera Eomma menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Padahal sebenarnya ia memberikan kesempatan pada anak itu untuk jujur. Tapi ya sudahlah… Mungkin Hanbin belum siap.
"Ah maja! Hanbin-ah, kenapa cara berjalanmu aneh?"
Junhoe dan Hanbin tersedak hampir bersamaan. Dan sekarang mereka sedang terbatuk-batuk.
"H-hanbin tadi terpeleset di kamar mandi Eomma." Kata Junhoe senatural mungkin. Ia bisa digantung jika Eomma-nya itu tahu yang sebenarnya.
"N-ne Eomma. Junhoe hyung yang membantuku."
Sera Eomma menatap Hanbin khawatir. "Kau ingin ke rumah sakit?"
Junhoe menghela napas lega. Untung saja namja chingu-nya itu dikaruniai wajah yang selalu datar. Sera Eomma tidak akan percaya jika Hanbin berbohong.
"Gwaenchanayo. Tidak separah itu, Eomma." Kata Hanbin sambil menatap Junhoe kesal.
"Junhoe-ya.." Seunghan Appa membuka suaranya. "Setelah ini kau harus ke rumah keluarga Jinhwan. Jelaskan semuanya."
"Ne, appa." Jawab Junhoe penuh keyakinan sambil tersenyum menatap Hanbin.
.
.
.
TBC
