"Selamat da-" namun suara lelaki itu tertambat ditengah. Manik rubinya membola, tertegun.
Sedangkan lelaki dengan helaian biru muda yang menjadi tamu ikut terdiam. Membatu beku saat melihat wajah pelayan lelaki di kedai yang dikunjunginya secara tidak sengaja itu. "Kashuu-san—" menelan ludah.
"Ichigo—" Kashuu masih berada dalam kekagetannya. Menelan ludah sekuat tenaga. "-Hitofuri,"
Lelaki dengan nama Ichigo itu seperempat detik kemudian melangkahkan kaki dengan cepat kearah Kashuu. Memegang kedua bahu lelaki didepannya. Memastikan bahwa ia MEMANG tepat berada didepan orang yang tengah dicarinya. Ichigo menghela napas lega. Sangat lega. Lalu buru-buru duduk dimeja terdekat. Lutut-lututnya terasa lemas karena terlalu bahagia.
"Syukurlah kau sehat-sehat saja, Ichigo." Lalu Kashuu memulai pembicaraan ketika sudah beberapa saat berlalu. Lelaki itu duduk tepat didepan Ichigo.
"Syukurlah kau masih hidup, Kashuu-dono. Ketua berkata bahwa kau kemungkinan besar sudah mati..." suara Ichigo terdengar bahagia. "Menghadapi kenyataan bahwa kau masih hidup dan tidak kehilangan ingatanmu adalah sesuatu yang sangat luar biasa,"
Kashuu hanya diam. Menyimak. Namun beberapa saat kemudian lelaki itu membuka mulutnya. "Aku juga. Senang bertemu lagi denganmu,"
"Hei, ayo pulang ke 'rumah' bersamaku! Aku yakin ketua dan yang lain akan senang jika aku membawa pulang atasanku." Ichigo tertawa kecil. Lalu memegang lengan Kashuu. Menatap serius. "Aku benar-benar ingin kau pulang, otoutou*."
Manik Kashuu membola. Mengingatkannya pada dirinya yang dulu. Dirinya dulu adalah seorang intelijen yang masih muda, namun telah memegang satu skuad anggota. Melatih anggota yang lain. Dan salah satunya adalah lelaki yang berada tepat didepannya. Ichigo Hitofuri. Umurnya terpaut 3 tahun lebih tua dari Kashuu. Tapi saat itu Ichigo hanyalah anggota baru yang masih pemula. Masuk lewat jalur reguler. Membuat perbedaan yang jauh terhadap sang Kiyomitsu.
Kashuu kembali membuka mulutnya, "Aku mungkin..." Kashuu menggantungkan jawabannya. Bimbang. Namun demi melihat manik hazel terang milik lelaki didepannya membuat Kashuu mengeratkan genggamannya. "Mungkin tak bisa kembali- ke 'rumah',"
Dan manik hazel yang sama membulatkan dirinya. 'Mustahil, kan? Bohong!' adalah kata yang tepat untuk penggambaran raut Ichigo. "A-apa yang kau katakan? Kashuu-dono?" Ichigo benar-benar terguncang. "Kau akan tetap bersamaku kan?! Nee—"
Kashuu juga bimbang. Apakah ia memang ingin keluar? Demi Yasusada? Tapi apa yang bisa ia lakukan? Bahkan ia membuat lelaki yang berada didepannya menjadi khawatir.
"—KIYOMITSU!"
Ichigo setengah berteriak dengan penuh ketidak percayaan.
.
.
.
Title: Tempat Tuk Pulang
Chapter 2:
Genre: T aja keknya /heh
Genre: Romance, Drama. Sebenarnya saya bingung, ini cerita genrenya apa si? /lha
Warning: sama kayak sebelumnya. Sama aja. Saya mager copas #buang
Pair: Kiyo x Fem!Yasu
Dont like? Komen aja :vv #digaplok
.
.
.
Yasusada mengerjap bingung. Gatal ingin bertanya apa yang sedang terjadi. Namun sebagian besar dirinya yang lain menahan keinginan tersebut. Suasana sekedai berubah menjadi kelabu. Syukurlah semua orang sudah pulang -kebanyakan karena takut kalau terjadi perkelahian disana—. Sang gadis masih tetap bersembunyi di balik bilik dapur. Memutar otak bagaimana ia dapat mencairkan suasana rumit antara sang Kashuu dengan sang tamu.
Oh, ayolah... Yasusada tidak suka suasana rumit.
Sejenak kemudian, hasil dari putaran otak itu terwujud. Kemudian, dengan sigap tangannya membuat teh di dalam teko. Biasa, Yasusada selalu membuatkan teh gratis jika ia melihat pengunjungnya tengah berada di dalam situasi rumit ataupun sedang bersedih. Tidak termasuk kasus Tsurumaru. Lelaki itu beda kasus tentu saja.
'Aku akan berusaha menceriakan suasana!' pikirnya riang, tertawa kecil. Tidak sadar bahwa sekelebat bayangan tawa Kashuu menjadi alasan terkuat.
Di lain sisi, Ichigo berusaha mengerti situasi. Memahami keadaan. "Kenapa kau ingin keluar, Kashuu-dono?"
Kashuu menatap Ichigo tiga-empat detik. Kemudian menunduk, memainkan lembaran uang kertas yang ditinggalkan pengunjung sebelumnya. Menarik napas sejenak, mempersiapkan diri. "Aku... gagal dalam misi terakhir. Membuat pihak kita kehilangan lima orang nyawa, lalu aku melarikan diri. Seharusnya aku menemui ketua dan melakukan harakiri* saja tapi—"
Suara Kashuu refleks berhenti. Demi mendengar langkah kaki setengah gugup Yasusada yang mendekat. Membawa senampan teh hijau panas dan camilan manis.
Lelaki manik merah rubi itu langsung menatap manik emas cair Ichigo. Menempelkan ujung telunjuknya pada kedua belah bibir. Mengeluarkan suara 'ssstt' pelan. Ichigo mengangguk takzim. Paham betul maksudnya.
"Lekaslah pulang, Kashuu-dono. Penduduk tidak akan memarahimu lagi atas kejadian ini. Sungguh," Ichigo akhirnya memutuskan mengarang cerita. Entah nyambung atau tidak.
Tepat setelah itu, Yasusada sudah di samping Kashuu. "Eh? Kalau boleh tahu Kiyomitsu terkena masalah apa?" sembari meletakkan dua gelas teh hijau dan sepiring camilan manis.
"Ah, maaf nona... aku belum memesan," Ichigo langsung bingung, demi melihat suguhan didepannya. Gara-gara bertemu Kashuu secara tidak terduga, sih. Membuat Ichigo mengindahkan sekitarnya. Dan lupa kalau tujuannya kemari adalah memenuhi perutnya yang lapar setengah hidup.
"Suguhan, gratis untuk kalian berdua." Gadis itu menjawab dengan senyuman yang manis. Tahu betul bagaimana cara mencerahkan suasana hati orang lain.
Sudut bibir Ichigo ikut terangkat. Membentuk kurva keatas. "Terima kasih banyak," lalu meminum tehnya. "Teh ini enak sekali,"
"Pokoknya aku tidak mau kembali ke desa!" Kashuu melanjutkan sandiwara. "Pokoknya aku tidak sudi!"
Yasusada mengerjap. "Ada apa kalau aku boleh tahu?" mengulang pertanyaannya, kemudian duduk disamping Kashuu. Untung itu meja untuk empat orang.
"Kashuu dituduh mencuri harta suci kuil," manik Ichigo menatap Yasusada. Pura-pura menghela napas. "Lalu dipukuli satu desa karena masalah itu. Makanya dia kabur,"
Manik Yasusada berbinar. Menemukan kepingan jawaban dari rangkaian peristiwa yang belum lengkap. "Oh! Pantas saja aku menemukannya dalam keadaan setengah mati setengah hidup seperti ikan di darat! Tergelepar!"
"Hoi, siapa yang kau sebut ikan, hah?" Kashuu yang tidak terima, mencubit kedua pipi Yasusada.
"Aduduh sakit, Kiyomitsu—"
Ichigo menahan napasnya. Seperti melihat suatu kejadian besar. Kashuu dapat akrab dengan orang lain sampai seperti itu. Jelas adalah sebuah kejadian langka. Manik emas Ichigo menatap Yasusada. Ber 'ohh' pelan, lalu tertawa kecil.
Gadis itu sangat hebat.
'Yah, mungkin ini saatnya membebaskan Kashuu dari bayangan yang membelenggu,' pikirnya.
Setelah waktu bergulir cukup lama untuk mengobrol dan menghabiskan suguhan, Ichigo akhirnya melihat jam kantungnya. Sudah hampir tengah malam. Dan Yasusada sudah tertidur dengan kepala bersandar di atas meja.
"Sepertinya aku harus pulang," Ichigo tersenyum. Berdiri. "Terima kasih atas makanannya,"
Kashuu kemudian mengikuti. Berdiri untuk mengantar Ichigo keluar. "Akan kuantar,"
"Terima kasih," sang helaian biru muda tersenyum. Berjalan menuju pintu masuk yang tadi. "Jangan lupa untuk menggendong gadis itu ke kamarnya,"
Mengangguk, sang manik merah rubi mengiyakan. Lalu Ichigo memberinya dua keping koin perak dan emas. Koin emas menjadi perhatian Kashuu. Meski itu bukan koin emas yang digunakan untuk transaksi jual beli pada umumnya, tapi Kashuu tahu itu koin apa. Lebih dari sekedar tahu, lelaki itu sangat mengenalnya.
"Aku secara pribadi melepaskan dirimu. Tinggalah disini jika kau ingin. Jalani kehidupanmu sesuai dengan keinginan dari dalam dirimu." Ichigo berujar. Menatap manik merah rubi menyala didepannya lamat-lamat. "Tapi aku berikan koin ini jika sewaktu-waktu kau membutuhkan bantuanku,"
Kashuu balas menatap Ichigo tidak percaya. Kemudian segera memeluk lelaki didepannya. Mengatakan terima kasih dari hati yang terdalam. Bibir Ichigo mengulas senyum. Balas memeluk lelaki yang lebih pendek didepannya.
'Akhirnya... aku merasa berhasil menjadi seorang kakak dimatanya,' Ichigo membatin senang.
Beberapa detik kemudian, Kashuu melepas pelukan itu. Tersenyum dari lubuk hatinya. Dibalas dengan anggukan Ichigo. Sepatah-dua patah kata perpisahan, Ichigo lalu berjalan pergi. Mengikuti sinar rembulan yang menerangi jalan. Kemudian hilang ditelan malam.
Ichigo masih ingat dengan jelas. Saat pertama kalinya ia sebagai seorang lelaki berumur enam belas tahun yang sangat polos, menginjakkan kakinya di sebuah rumah elit. Yang ternyata adalah markas bagi badan intel. Ichigo terpaksa bekerja disana. Demi mendapatkan uang yang layak untuk delapan adiknya.
"Baiklah, Ichigo Hitofuri kan? Aku adalah ketua dari intel Jepang. Dan karena kau masih baru, aku akan memberikanmu mentor yang usianya tak terlalu jauh denganmu." seorang lelaki lain yang terpaut usia empat hingga lima tahun lebih tua darinya tersenyum. Menatapnya dengan manik biru safir dan kilatan bulan yang indah. "Masuklah, nak!"
Seketika itu juga, suara pintu digeser terdengar. Menampilkan seseorang yang terlihat begitu cantik. Kulitnya putih walau sedikit pucat. Dengan bola mata merah rubi yang kosong. Ditambah dengan sebuah tahi lalat kecil disudut bibir. Helaian cokelat tua panjang yang terlihat halus juga sangat cantik. Saat itu Ichigo berpikir bahwa ia adalah seorang perempuan. Namun yukata yang dikenakannya adalah yukata untuk lelaki. 'Anak lelaki yang cantik,' pikirnya.
Anak itu kemudian masuk. Lalu mendudukkan dirinya disamping lelaki yang mengaku sebagai ketua dari badan intel tersebut. Tangan sang ketua membelai kepala anak itu dengan lembut.
"Mulai sekarang, belajarlah banyak hal dari anak ini." Ucap sang ketua sembari tertawa. "Namanya Kashuu Kiyomitsu. Ia hebat dalam hal-hal seperti ini, lagipula ia juga anak yang patuh. Jadi santai saja."
Anak kecil dengan nama Kashuu itu kemudian bersujud. Menempelkan dahinya dengan lantai tatami. Membuat Ichigo tersentak sejenak. Kaget. Kenapa anak itu tiba-tiba saja bersujud dihadapannya?
"Nama saya Kashuu Kiyomitsu. Saya akan menjadi partner berlatih anda, Ichigo-san." Anak kecil itu tak menunjukkan ekspresi berarti. Hanya nada yang kosong dan datar. "Senang bertemu denganmu."
Ichigo menelan ludahnya. Anak ini? Anak yang lebih muda darinya ini? Akan menjadi gurunya? Namun sebelum pikirannya meluber lebih jauh lagi, Ichigo cepat-cepat mengembalikan pikirannya. "A-ah, saya juga. Mohon bantuannya, Kashuu-san." Ichigo kemudian tersenyum. Dan hanya dijawab oleh anggukan datar sang manik rubi.
.
Ketika pertama kalinya Ichigo mendapatkan kesempatan untuk berlatih dengan Kashuu, yang dapat dikatakan kedua belah bibir lelaki itu hanyalah, "Dia benar-benar hebat..."
Lihatlah anak lelaki itu, ia menggunakan pedang yang tingginya hampir sama dengan tubuh itu dengan sangat lihai. Melepaskan anak panah dengan sangat akurat pada sasaran. Atau bergerak dengan lihai, teratur, dan hampir tanpa suara. Membuat lelaki dengan helaian biru langit itu seharusnya berdecak kagum, tapi matanya malah memancarkan kesedihan. Membuat suatu pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Pertanyaan yang sudah terlintas saat pertama kali ia bertatapan dengan anak lelaki itu.
"Hei, Kashuu-san. Bolehkan aku bertanya?" Ichigo akhirnya berani menanyakan itu disela-sela latihan mereka yang kesekian.
Kashuu yang tengah mengasah sebuah pedang, menengadah. Menatap Ichigo, lalu mengangguk. "Apa yang ingin kau tanyakan, Ichigo-san?"
"Apa... Apa kau sudah—" Ichigo bertanya dengan hati-hati dan sangat ragu-ragu. "-sudah pernah membunuh orang? Maksudku—" namun ucapan lelaki itu tidak jadi dilanjutkan. Demi melihat anak itu mengangguk.
Manik hazel Ichigo resmi membola. "Sudah, aku sudah pernah membunuh lebih dari lima orang."
Tapi yang membuat Ichigo menjadi lebih tertekan, adalah karena Kashuu sama sekali tak menunjukkan ekspresi yang berarti. Mirip seperti adiknya jika ditanyai apakah sudah makan atau belum. Anak ini—
Membuat hatinya sakit.
Dan Ichigo tiba-tiba saja memeluk sang Kiyomitsu. Membuat anak itu kaget.
"Ada apa, Ichigo-san?" Kashuu bertanya dengan wajah polos. Kebingungan. "Apa kau terluka?"
'Ya, Kashuu. Hatiku terluka melihatmu,' tapi kata-kata itu hanya terucap dalam hati. Ichigo kemudian menarik napas. "Kau terlihat seperti adikku,"
Kashuu menampakkan raut kebingungan, tapi tetap diam walau Ichigo memeluknya lebih erat lagi. "Ichigo-san...? Latihannya belum selesai..."
"Sebentar saja," lelaki berhelaian biru muda itu merasakan betapa menyakitkannya anak ini. Bagaimana bisa anak ini tumbuh di lingkungan yang begitu memilukan? Ah, Ichigo jadi merasa bahwa kehidupannya yang diambang kemiskinan dan mempunyai delapan orang adik menjadi lebih beruntung. Jauh lebih beruntung dibandingkan dengan anak kecil didepannya ini. "Sebentar saja, kumohon."
.
.
Hari-hari berganti. Ichigo masih tetap berada di bawah bimbingan Kashuu. Bahkan saat ini lelaki yang lebih muda tiga tahun darinya itu telah membawahi empat atau lima orang lain. Ichigo tidak terlalu mengingat pastinya. Namun hal seperti itu bukan hal penting. Yang terpenting adalah—
"Ichigo-san, ini kubawakan kain lap untuk keringat," Kashuu tiba-tiba saja datang menghampiri. Memberikan sebuah kain kumal namun bersih.
Yang terpenting adalah, Ichigo dapat menjadi lebih dekat dengan Kashuu.
Sang helaian biru mint membalas dengan senyuman. Menerima uluran kain lap. Menyeka dahinya. "Terima kasih, Kashuu-san,"
Sang manik cokelat tua mengangguk. "Ya, sama-sama," dengan wajah tersenyum datar dan manik merah rubi yang kosong.
"Nee, Kashuu..." Ichigo melirik Kashuu. Berhitung dengan suasana, lalu akhirnya memutuskan melanjutkan pertanyaannya. "Apa kau... punya keinginan untuk keluar dari sini?"
Kashuu menatan Ichigo, mengerjap polos. "Aku selalu keluar dari sini jika sedang misi,"
"Bukan, bukan itu," kepala Ichigo menggeleng pelan. "Apa kau ingin berhenti dari pekerjaan ini?"
Aah, Kashuu akhirnya mengerti maksud pertanyaan Ichigo.
Kali ini Kashuu balas gantian menggeleng. "Aku... jiwaku, tubuhku, keseluruhan jiwaku... adalah milik ketua,"
Bibir Ichigo hendak menjawab, membantah pernyataan itu. Tapi dirinya terdiam. Membisu, bingung. Kashuu terlihat tidak keberatan dengan statusnya. Malahan secercah kilatan kehidupan terpantul dari manik rubinya itu. Hingga akhirnya Ichigo memutuskan diam. Tanpa menyadari bahwa misi pertama telah menunggunya.
.
.
Panas.
Pengap.
Sesak.
Tenggorokan Ichigo terasa tersekat. Bukan, bukan karena betapa tidak enaknya berada di dalam sebuah rumah yang terbakar, pengap dengan asap-asap yang hampir memenuhi ruangan. Namun—
"Tidak! Tolong! A-ampuni aku, kumohon!"
Namun karena jeritan seorang lelaki tambun didepannya. Yang mengeluarkan cicitan bagai seekor tikus yang sudah setengah sekarat. Memohon ampun, menangis hingga kantung air matanya kering.
Sebuah tendangan lagi-lagi merangsek di pipi lelaki itu. Membuatnya semakin membiru. "Diam." Kashuu mendesis. Manik merah rubinya berkilat terpantul kobaran api.
Sedangkan Ichigo gemetar. Memegang sebuah pedang panjang yang seharusnya digunakan untuk mengeksekusi pria yang menjadi tersangka mafia internasional. Merugikan sekali bagi negara. 'Ayolah Ichigo! Kau sudah mempersiapkan diri untuk ini!' manik hazel itu kembali meyakinkan dirinya.
Ichigo menarik napas dalam. Tidak sanggup.
"Pulanglah," Kashuu berbisik lirih. Mendorong Ichigo keluar dari ruangan itu.
Manik hazelnya tersentak. "Tidak! Aku bisa melakukannya!" terdorong oleh tangan mungil Kashuu.
"Jangan melakukan hal yang tidak kau sukai, begitukan katamu?" Kashuu tersenyum. "Ya kan? Ichigo-niisan*"
Lalu pintu itu dikunci dari dalam.
Ichigo mematung. Terdiam beku. Bingung dengan dirinya sendiri. Lagi-lagi... lagi-lagi ia membiarkan anak itu membunuh orang. Menghilangkan satu nyawa lagi. Lelaki itu jatuh bersimpuh. Tak mampu menahan bobot tubuh dan bobot permasalahan yang dipikulnya.
"Kenapa dia memanggilku dengan sebutan kakak?" manik hazel itu tergugu. Menahan luapan perasannya. "Kenapa disaat seperti ini?"
Ichigo Hitofuri. Pada umurnya yang ke tujuh belas, ia mulai mempertanyakan dirinya. Mempertanyakan apakah ia masih pantas disebut sebagai manusia.
.
Misi itu berlangsung sukses tentu saja. Tidak ada bekas-bekas yang bisa dijadikan bukti. Semuanya lenyap tak bersisa. Seperti bayangan pada siang hari.
"Bagus, bagus sekali Ichigo Hitofuri," sang ketua tersenyum puas. Memberikan stempel tanda lulus di atas kertas. Laporan pencapaian yang ditulis Kashuu.
Dengan sedikit pengubahan tentu saja.
Membuat Ichigo aman tanpa perlu susah-susah diberi hukuman. Misi itu berakhir lancar, sempurna. Dan tentu saja membuat berita gembira bagi sang ketua. Yang saat ini tengah membaca kembali lampiran-lampiran diatas kursi ruangannya yang cukup nyaman serta ditemani segelas teh hijau dengan uap mengepul diatasnya.
"Baiklah, Ichigo Hitofuri, kau boleh meninggalkan tempat." Seukir senyuman indah-misterius sang ketua membuat Ichigo langsung mengangguk. Menunduk hormat, lalu tanpa basa-basi meninggalkan ruangan.
Sedangkan Kashuu yang sejak tadi juga berada diruangan itu menatap kearah sang ketua. "Aku punya permintaan,"
Manik biru cerah lelaki dua puluhan keatas itu menatap Kashuu. Tumben sekali. "Dan apa itu, Kashuu?"
Sang manik merah rubi melangkah mendekat menuju sang ketua. "Biarkan Ichigo Hitofuri—"
Hanya sampai situ yang bisa didengar oleh Ichigo dari balik pintu kayu jati yang tebal. Namun apapun itu yang dikatakan oleh Kashuu, berhasil membuat Ichigo tidak terjun ke lapangan secara langsung. Hanya mengatur strategi. Berdiri dibarisan belakang.
Cerita itu sudah bertahun lalu. Ichigo mengeratkan mantelnya. Selesai bernostalgia. Menatap bulan purnama indah dilangit. Apapun, apapun yang dinegosiasikan oleh Kashuu saat itu pasti berhubungan dengan jabatannya saat ini.
Sebagai ahli strategi organisasi.
Hari ini, masih terlalu pagi sebenarnya untuk bangun. Yang bahkan matahari saja baru sinarnya yang keluar dari permukaan ufuk timur. Namun lelaki beryukata merah bata dengan helaian cokelat panjang telah membuka matanya. Berisik membersihkan cangkir-cangkir yang mulai kusam terkena zat melanin teh dengan sikat dan soda kue. Sedangkan Yasusada, setengah mengantuk memotong-motong sayuran untuk sarapan. Sesekali mengaduk kuah kaldu miso didalam panci.
"Hari ini lebih dingin dari biasanya ya," Yasusada memulai percakapan. Memasukkan potongan sayuran dan tahu.
Dibalas anggukan dari Kashuu. "Kau benar sekali. Dan tumben kau bangun pagi-pagi begini? Kedainya kan buka agak siang,"
"Aku tidak ingin membuat Kiyomitsu membersihkan rumah sendirian," kedua bibir Yasusada membentuk senyuman. Aku ingin menemanimu.
Kashuu tertegun sejenak. Tidak menyangka mendapatkan pernyataan itu. Lalu tersenyum tipis, beranjak dari kursinya.
Hup! Kemudian badannya sudah menempel pada punggung Yasusada. Memeluk perempuan itu.
"Ki—Ki- Kiyomitsu...!" Yasusada mencicit kaget. Bingung. Wajahnya memerah.
Sedangkan Kashuu, malah mengusap pipinya di rambut Yasusada. Wangi. "Aku capek, Yasusada... biarkan aku istirahat disini,"
Berdalih tentu saja.
"Kalau lelah, duduk saja dulu. A-aku kesulitan mengaduk supnya," sang manik biru safir memejamkan matanya. Terlalu malu.
Kashuu kemudian memegang tangan Yasusada, membantu Yasusada mengaduk sup bening didalam panci. "Aku bantu deh," Tertawa menggoda Yasusada.
"Kau menggodaku, Kiyomitsu..." menggembungkan pipi, Yasusada kesal.
Dan pagi itu, penuh oleh candaan Kashuu yang menggoda Yasusada. Bagi Kashuu, ini pertama kalinya ia menggoda orang dan semenyenangkan ini. Di tempatnya berada, di 'rumah'nya, ia yang paling muda. Selain itu juga disana suasananya selalu serius. Palingan ia hanya akan digoda oleh sang ketua.
Sedangkan bagi Yasusada, yang untuk pertama kalinya ada lelaki lain dirumahnya selain sang ayah, dirinya merasa tidak kesepian. Tertawa lepas. Kesal dengan Kashuu, lalu menjitaknya.
Aah, semoga hari-hari seperti ini tidak berakhir,
Pikiran mereka menyatu. Memikirkan hal yang sama.
Namun, langit itu tak akan selalu cerah, bukan? Di suatu saat yang tepat, badai akan selalu datang. Membuat luka baru. Atau, membuat luka lama yang terbuka kembali.
Maka, malam itu, saat kedai hampir tutup, lelaki itu datang. Seorang lintah darat bertubuh besar, dengan bau alkohol memuakkan dari tubuhnya. Mendatangi kedai Yasusada. Sembari menyeringai memuakkan pula. Seorang tokoh antagonis dalam hidup Yasusada dan juga cerita ini.
"Yamatonokami-san... aku datang, menagih janjimu,"
Badai itu, akan muncul lebih cepat dari dugaan kita.
.
.
.
Bersambung, qaqa :vv
.
.
.
Otoutou: Adik lelaki dalam bahasa Jepang
Harakiri: bunuh diri dengan menusuk perut sendiri dengan sebilah pedang. Cara ini lazim digunakan oleh prajurit dan kerajaan kalah perang zaman dulu
Hola holaaa~ kembali dengan saya~ eh? Saya apdetnya lama? Hmm...
MEMANGNYA SAYA PERNAH JANJI APDET CEPET?! GAK KAN?! /santet onlen/
Maafin saya, /dogeza/ saya anu, itu, gini... padat banget di real life, jadi ya gitu. Tapi saya bersyukur kalau masih ada pembaca yang mau baca, terima kasih juga untuk yang udah fav story ini, saya terhura :")
Sungguh.
Oh iya, saya mau balas review disini aja ya :"D
Guest:
AAAA QAQAAAAA MAKASIH SUDAH BACA YHAAA UMUMUMUMU~ /cipoque basah/
Blue Ocean:
Ini sudah lanjut qaqaaa meski hiatus hampir setahun! Tapi tangan saya sudah berjuang dengan keras! Terima kasih sudah membaca, luv yu~ saya tunggu review selanjutnya, qaqa
KashuuYasu foreva:
SYUDAH LANJUDH KAK! /kok ngegas si?!
SAYA TUNGGU REVIEW SELANJUTNYAAA
KashuuYashuu loper:
SEMANGAT AKU MAH! SELALU SEMANGAT MESKI SEMANGAT DOANG, NULIS KAGA! /buang/ eh, tapi review lagi yha :")
Fuyuki25:
:vvv author biadab anda! /ngaca heh/ kasian readernya woi! /sama, lu juga!/ gapapa, lanjut aja dikit-dikit~ dan lanjut review ugha~
Coretan kecil:
Whaaa terima kasih sudah merevieeww
Syukurlah kalau ga ooc, tapi emang Yasoesada pantasnya poyos-poyos gitu~ ufufuufu~ terima kasih telah repiu yaaa~
Oh iya, saya lupa bilang. Cerita kali ini lebih pendek, dan chapter-chapter selanjutnya juga akan pendek. Tapi, SAYA, ASHEERA. BERJANJI UNTUK APDET MAKSIMAL 2 MINGGU SEKALI.
Gitu deh, hehe~ biar lebih cepat kan yhaa
Dan, sekian bacotan saya,
Mind to review?
.
.
.
Asheera W
