DEAR FUTURE HUSBAND

Main Cast:

Kim Hanbin

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jinhwan

Kim Donghyuk

Kim Jiwon

Genre: Romance, Drama

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Junhoe-ya.." Seunghan Appa membuka suaranya. "Setelah ini kau harus ke rumah keluarga Jinhwan. Jelaskan semuanya."

"Ne, appa." Jawab Junhoe penuh keyakinan sambil tersenyum menatap Hanbin.

.

.

.

Jiwon menaruh selimut yang baru saja ia ambil dari lemari dan menaruhnya diatas sofa. Lalu ia melebarkan selimut itu dan menatanya. Untuk sementara ini ia akan tidur di ruang tamu. Jiwon membiarkan Donghyuk menempati tempat tidurnya. Karena tidak mungkin ia membiarkan tamunya itu tidur disofa yang sempit.

"Sunbae, aku bisa tidur diruang tamu." Donghyuk menghampiri Jiwon, memberikan bantal dan guling dari dalam kamar.

"Aku sudah bilang tidak apa-apa. Berapa kali aku harus bilang itu padamu?"

Donghyuk menundukkan kepalanya. "Aku terlalu banyak merepotkanmu."

"Gwaenchana."

"Gomawo-yo, sunbae. Aku akan segera mencari tempat tinggal baru."

Jiwon tersenyum kecil. "Memangnya kau punya uang?"

Donghyuk membulatkan matanya. Benar! Uang! Kenapa ia lupa membawa benda yang sangat diperlukan jika kabur dari rumah? "Aku ada…. Sedikit… Aishh… Bahkan uang itu tidak cukup untuk sewa kamar…"

"Donghyuk-ah…"

"Ne?"

Jiwon berjalan mendekati Donghyuk. Dipegangnya pundak namja itu dan ditatapnya lembut. "Jangan khawatir. Mulai sekarang aku yang akan mengurusmu, eo?"

Donghyuk merona. Entah kenapa kata-kata Jiwon terdengar seperti 'mulai-sekarang-kita-akan-tinggal-bersama.'

"Ah iya!" Tiba-tiba Jiwon teringat sesuatu. "Donghyuk-ah, kau ingin makan diluar?" Ia lupa. Jiwon menatap jam dinding didepannya. Pukul sebelas. Apa masih ada restoran yang buka?

"Ne?" Donghyuk tampak berpikir sejenak. "Ah… makan malam…" Benar, bukankah hari ini mereka seharusnya kencan?

"Ayo kita makan diluar."

"Um…. Gwaenchanayo, sunbae. Aku rasa ini sudah terlalu malam."

"Tapi…."

Donghyuk tersenyum. "Kita bisa pergi lain waktu."

Jiwon terdiam sebentar. Ditariknya tangan namja itu lalu dipeluknya tubuh itu, erat. "Bagaimana kau bisa terlihat baik-baik saja? Mulai sekarang katakanlah apapun yang ada dipikiranmu. Jangan dipendam. Nanti kau bisa sakit."

"Baiklah. Sejujurnya aku kecewa." Sahut Donghyuk cepat.

Jiwon tertawa kecil. "Keurae. Ayo kita pesan makanan. Kau pasti lapar."

"Ne…"

"Donghyuk-ah, mulai sekarang aku akan menjagamu."

Donghyuk tidak menjawab, menutupi wajahnya dibawah lengan Jiwon. Apa itu sama artinya dengan 'mari berpacaran'?

.

.

.

Sera Eomma menatap pemandangan didepannya malas. Benar-benar membuatnya muak.

"Hanbin-ah, aku pergi dulu, eo?"

"Kau sudah bilang itu berkali-kali, hyung."

Junhoe terdiam. Lalu dipeluknya namja berlesung pipi itu untuk yang kesekian kalinya. "Aku akan segera kembali, eo?"

"Ya! Keuman!" Teriak Sera Eomma frustasi. Ia menghampiri pasangan itu lalu menjewer telinga Junhoe. "Kau sudah setengah jam berdiri disini! Cepat pergi! Appa-mu menunggu di mobil!"

"Aaaaaa! Arraseo arraseo!" Junhoe menjauhkan tangan Eomma-nya itu. Hampir saja telinganya lepas dari tempatnya. Lalu Junhoe kembali menatap Hanbin yang sedang tersenyum padanya. "Hanbin-ah, aku pergi dulu, eo?"

"CEPAT!"

"AKU PERGI!" Junhoe berjalan menuruni tangga dengan wajah ditekuk. Ia juga dengan sengaja menghentakan kakinya sehingga menimbulkan suara yang keras.

"Lihat itu. Seperti anak kecil saja." Kata Sera Eomma pada Hanbin. "Aku tidak tahu kenapa bisa mempunyai anak seperti itu."

Hanbin tertawa kecil.

Sera Eomma menatap anak itu heran. Kenapa Hanbin bisa menyukai Junhoe? Ia sendiri saja tidak begitu menyukai anak satu-satunya itu. Entahlah, ia tidak mau memikirkannya lagi mulai dari sekarang. Setidaknya jika orang itu Hanbin, Junhoe pasti akan bahagia.

"Eomma…"

"Hm? Wae"

Hanbin tidak langsung menjawab. Ia menatap mobil Junhoe yang mulai pergi menjauh. Hanbin sangat khawatir. Hari ini Junhoe dan Seunghan Appa pergi ke rumah keluarga Jinhwan. Berusaha menjelaskan ke orangtua Jinhwan bahwa calon suami masa depannya itu tidak ingin ditunangkan.

Tentu saja itu bukan hal mudah. Apalagi jika menyangkut keluarga besar. Dan apa Jinhwan akan baik-baik saja? Pasti sunbae itu sangat terpukul. Oh tidak. Sekarang Hanbin merasa bersalah.

"Hanbin-ah…." Panggil Sera Eomma lembut. Ia tahu Hanbin sangat khawatir. "Gwaenchana. Junhoe pasti bisa menyelesaikannya."

"Eomma…. Apa aku terlihat seperti merebut pasangan orang lain?"

Sera ahjumma tersenyum kecil. Diusapnya rambut Hanbin pelan. "Jauhkan pikiran itu dari kepalamu. Junhoe sangat menyukaimu. Dia pasti sedih jika mendengar itu."

Hanbin menundukkan kepalanya. Ia harus meminta maaf dengan Jinhwan nanti.

"Sudahlah. Jangan bersedih. Ayo kita pergi ke taman belakang. Aku ingin minum teh dengan pacar anakku."

Dan pipi Hanbin merona.

.

.

.

Junhoe menatap sebuah bangunan besar yang ada didepannya. Ia menarik napas panjang. Keurae. Ia harus berani. Demi Hanbin.

"Jangan gugup." Kata Seunghan Appa sambil mengetuk pintu rumah. "Kita datang kesini untuk menyelesaikan masalah. Aku akan membantumu."

"Ne! Appa juga ingin mempunyai menantu seperti Hanbin bukan?" Tanya Junhoe tiba-tiba dengan ekspresi wajah semangat.

"Menikah? Kau harus kuliah."

"Ne! Aku akan menikah dengan Hanbin lalu kuliah!"

Seunghan Appa tidak menjawab. Biarkanlah anaknya yang gila itu berimajinasi.

"Aigoo! Direktur Goo!" Sapa seorang pria berumur sekitar lima puluh tahun. "Sudah lama kita tidak bertemu."

"Ne. Apa kabar Tuan Kim?" Seunghan Appa menjabat tangan Ayah Jinhwan itu sambil tersenyum.

"Tentu saja aku sangat sehat hahaha…" Mata Tuan Kim berpindah ke Junhoe. "Kau pasti Goo Junhoe bukan?"

"Ne. Annyeonghaseyo." Junhoe membungkukkan badannya.

"Hahaha… Jinhwan ada didalam. Mari masuk."

Tuan Kim membawa tamunya itu ke sebuah ruangan besar penuh sofa dan mempersilahkan duduk.

"Ada apa direktur Goo? Aku tidak menyangka kau akan datang mengunjungiku. Oh iya, bagaimana pembagian keuntungan perusahaan kita?"

"Tuan Kim, aku kesini bukan untuk itu. Aku-"

"Tunggu sebentar." Tuan Kim memotong omongan Seunghan Appa. Lalu matanya menatap Junhoe. "Kau ingin bertemu dengan Jinhwan? Aku akan memanggilkannya untukmu."

Junhoe tersentak. "Tidak-"

"Jinhwan-ah! Kemarilah! Junhoe mencarimu!"

Junhoe menghela napas. Entah kenapa semuanya terasa menjadi lebih berat karena sikap Ayah Jinhwan itu. Tak lama kemudian, mata Junhoe melirik seorang namja mungil yang berjalan menghampirinya. Sangat terlihat dari wajah Jinhwan bahwa ia tahu alasan Junhoe dan Seunghan Appa datang ke rumahnya.

"Jinhwan-ah, ajak Junhoe melihat-lihat rumah. Bagaimanapun ia harus tahu rumah calon tunangannya. Bukankah begitu direktur Goo? Hahaha…."

Junhoe tidak beranjak dari tempat duduknya sesuai kemauan Tuan Kim. Ia mengepalkan tangannya. "Abeonim, maksud kedatanganku kemari adalah-"

"Appa! Aku tidak ingin bertunangan dengan Junhoe!"

Semua mata tertuju pada Jinhwan. Tampak air mata menggenang di pelupuk matanya. Wajah namja mungil itu terlihat pucat, bibirnya bergetar. "Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak menyukaiku."

"Jinhwan-ah…" Kata Tuan Kim terkejut. "Apa maksudmu?"

"Junhoe… Dia berselingkuh." Jinhwan menunjuk Junhoe yang sekarang sedang menatapnya terkejut. "Aku tidak ingin menikah dengan pengkhianat."

"D-direktur Goo, ada apa ini?"

"Maaf, Tuan Kim. Aku ingin membatalkan pertunangan Junhoe dengan Jinhwan."

.

.

.

Hanbin menatap taman bunga yang ada didepannya. Sangat indah. Bagaimana bisa sebuah tanaman bisa menghasilkan warna yang sangat menarik. Hanbin sangat menyukainya.

Tapi lain dari itu, pikirannya masih melalang buana ke tempat lain. Apa Junhoe baik-baik saja?

"Kau terlalu sering melamun, Hanbin-ah." Sera Eomma menyeruput secangkir teh yang sedang dipegangnya. "Sudah kubilang berapa kali? Junhoe pasti baik-baik saja."

"Ne…" Cicit Hanbin. Entah kenapa firasatnya tidak enak.

"Kau sudah melakukan apa saja dengan Junhoe?"

Hanbin tersedak ludahnya sendiri. "N-ne?!" Kenapa Sera Eomma tiba-tiba bertanya seperti itu?

Wanita yang sedang duduk disamping Hanbin itu tersenyum meledek. "Jangan berpura-pura. Kalian pasti pernah berciuman."

Dan Hanbin kembali merona, apalagi saat mengingat kegiatannya dengan Junhoe semalam.

"Kalian benar sudah berciuman?!" Sera Eomma meninggikan suaranya. Padahal tadi ia hanya bercanda.

Hanbin menganggukkan kepalanya lemah.

"Omo! Jangan-jangan lebih dari itu?!"

"A-aniyo!"

"Jinjja?" Sera Eomma menyipitkan matanya, terus memandang Hanbin curiga.

"N-ne, Eomma." Namja berlesung pipi itu meremas tangannya gugup. Aishh… Ibu dari Goo Junhoe ini peka sekali.

Sera Eomma menghela napas lega. "Baguslah. Kalian masih sekolah. Jangan berbuat macam-macam."

"Ne…"

"Ah benar… Sebentar lagi Junhoe lulus sekolah bukan? Dan kau naik ke tingkat tiga?"

"….."

"Hanbin-ah?"

Tidak ada jawaban.

"Kim Hanbin…." Sera Eomma menolehkan kepalanya ke samping kanan. Dilihatnya wajah Hanbin pucat serta berkeringat. "Kau kenapa?!"

"Eomma… K-kita harus segera ke tempat Jinhwan sunbae…"

.

.

.

"Maaf, Tuan Kim. Aku ingin membatalkan pertunangan Junhoe dengan Jinhwan."

"Ne?!" Tuan Kim berteriak, menatap Jinhwan dan Seunghan Appa bergantian. "Kenapa dibatalkan?"

"Appa tidak mendengarku?!" Jinhwan menghampiri Ayahnya sambil menangis. "Aku bilang Junhoe berselingkuh!"

"Ya! Kau harus memaafkannya! Kau tetap harus menikahinya!" Tuan Kim berdiri dari tempat duduknya kemudian berlutut sambil memegang tangan Seunghan Appa. "Direktur Goo, aku mohon maafkan anakku. Jinhwan sudah berkata kasar. Kumohon jangan tarik sahammu dari perusahaanku."

Jinhwan menatap Ayahnya tidak percaya. Apa? Jadi uangnya lebih penting dari anak kandungnya sendiri?

Seunghan Appa berusaha menjauhkan tangan Tuan Kim darinya. "Maaf, sepertinya tidak tepat jika membicarakan hal itu sekarang."

"D-direktur Goo, aku mohon…" Tuan Kim berdiri dan menghampiri Junhoe. "Junhoe-ya, maafkan anakku."

"APPAAA!" Jinhwan berteriak sangat keras. Kenapa Ayahnya harus mengemis seperti itu? Dan kenapa Ayahnya tidak memikirkan perasaannya?

"Ya! Aku bilang cepat minta maaf! Kau ingin menjadi miskin?!"

"Appa… hiks…." Jinhwan menghapus air matanya kasar. Matanya melirik Junhoe yang sekarang menatapnya khawatir. Jinhwan malu. Sangat malu.

"Sunbaenim!"

Jinhwan memegang kepalanya yang mulai berdenyut. Kepalanya serasa ingin pecah. Jinhwan tidak kuat. Kakinya melemah. Tapi kemudian seseorang menahan berat tubuhnya. Samar-samar ia melihat Kim Hanbin berlari ke arahnya.

"Semoga tidak terlambat…."

Itulah kata-kata terakhir yang ia dengar dari Hanbin. Setelah itu Jinhwan tidak ingat apa-apa lagi.

.

.

.

TBC