DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Jinhwan memegang kepalanya yang mulai berdenyut. Kepalanya serasa ingin pecah. Jinhwan tidak kuat. Kakinya melemah. Tapi kemudian seseorang menahan berat tubuhnya. Samar-samar ia melihat Kim Hanbin berlari ke arahnya.
"Semoga tidak terlambat…."
Itulah kata-kata terakhir yang ia dengar dari Hanbin. Setelah itu Jinhwan tidak ingat apa-apa lagi.
.
.
.
Hanbin menepuk pipi Jinhwan beberapa kali, berharap agak namja itu sadar. Tapi hasilnya nihil. Wajah Jinhwan sangat pucat dan napasnya melemah. Lalu Hanbin menatap Junhoe yang sedang memegang Jinhwan khawatir.
"Hyung, kita harus membawanya ke rumah sakit."
Junhoe menganggukkan kepala tanda setuju. Ia mengangkat tubuh Jinhwan dan menggendongnya.
"Jinhwan-aaaahh…." Teriak Tuan Kim sambil menangis. "Ada apa anakku?" Tanyanya pada Hanbin.
Hanbin hanya bisa menatap Tuan Kim sedih. Meskipun ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jinhwan, ia tidak bisa memberitahunya sekarang. "Maafkan aku, tapi lebih baik anakmu segera dibawa ke rumah sakit."
Junhoe dan Hanbin segera membawa Jinhwan ke dalam mobil. Mereka segera melaju ke rumah sakit. Diikuti dengan Seunghan Appa, Sera Eomma dan Tuan Kim dimobil lain.
Sesampainya di rumah sakit, Junhoe kembali menggendong Jinhwan dan membawanya ke Unit Gawat Darurat. Hanbin yang berjalan lebih dahulu segera mencari perawat pertama yang ia lihat.
"Jogiyo." Ia menarik tangan seorang yeoja berseragam rumah sakit yang lewat didepannya. "Tolong periksa orang ini." Katanya sambil menyentuh punggung Jinhwan.
"Ne? Ada apa dengannya?" Tanya perawat itu.
"Periksa kepalanya." Kata Hanbin yakin.
"Tuan, kau harus mengisi formulir pendaftaran terlebih dahulu. Pasien ini datang bukan karena dibawa oleh ambulance. Jadi harus ada wali-"
"AKU BILANG PERIKSA KEPALANYA!"
.
.
.
Tuan Kim menyandarkan tubuhnya ditembok sambil menundukkan kepalanya. Ia terlihat sangat takut dan frustasi. "Bagaimana ini? Bagaimana jika aku kehilangan putraku satu-satunya?"
Seunghan Appa menepuk pundak Tuan Kim beberapa kali, berusaha menenangkan laki-laki paruh baya itu.
"Itu tidak mungkin, Tuan Kim. Jinhwan pasti baik-baik saja. Aku yakin dia bisa diselamatkan." Kata Sera Eomma lembut.
Junhoe menatap ruangan tempat Jinhwan dirawat yang ada didepannya. Dokter sudah memeriksa namja mungil itu dan sekarang mereka hanya tinggal menunggu hasilnya.
Junhoe mengerutkan dahinya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Jinhwan? Apa penyakit yang dideritanya? Dan kenapa Hanbin tidak mengatakan apa-apa?
Junhoe menoleh ke kanan. Dilihatnya Hanbin duduk agak jauh darinya. Namja berlesung pipi itu seolah-olah tidak ingin diganggu. Dia terus menatap lantai, melamun. Junhoe tidak yakin orang yang dicintainya itu mau diajak bicara sekarang.
"Keluarga pasien Kim Jinhwan?" Seorang dokter menghampiri Tuan Kim.
"Ne! A-aku Ayahnya!"
"Begini, Tuan. Kami sudah memeriksa anakmu. Dia harus dioperasi secepatnya."
"Ada apa dengan anakku, dokter?"
Dokter itu terdiam sebentar. "Kim Jinhwan-ssi memiliki tumor di otaknya."
DEG
"A-apa? T-tumor?"
"Ne."
"Apa anakku bisa selamat?"
Dokter itu tersenyum kecil. "Untung saja anakmu segera dibawa ke rumah sakit, tuan. Ukuran tumornya tidak terlalu besar dan letaknya mudah dijangkau. Kami bisa mengangkatnya tanpa merusak jaringan otak apapun."
Tuan Kim menghela napas lega. "Tolong aku, dokter. Tolong selamatkan anakku."
"Tenang saja, tuan. Kami akan mengoperasinya segera. Tapi sebelumnya kau harus menandatangani surat persetujuan dari rumah sakit." Dokter itu mengayunkan tangannya, meminta Tuan Kim mengikutinya.
Tuan Kim menganggukkan kepalanya. Lalu ia menatap Seunghan Appa, Sera Eomma bergantian dan Junhoe. "Tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada anak yang membawa Jinhwan ke rumah sakit itu, Junhoe-ya. Aku berhutang banyak padanya." Lalu Tuan Kim berjalan meninggalkan keluarga Goo.
Junhoe membalikan badannya, berniat menyampaikan ucapan terima kasih Tuan Kim. Tapi Hanbin sudah tidak ada ditempatnya. Kemana anak itu?
Junhoe berjalan sedikit tergesa menelusuri lorong rumah sakit. Tidak ada. Namja berlesung pipi itu tidak ada. Junhoe terus mencari Hanbin sampai ke sudut rumah sakit bahkan toilet. Dan hasilnya masih sama.
Saat Junhoe hendak menelepon Hanbin, ia melihat orang yang sedang dicarinya itu duduk di taman belakang rumah sakit yang cukup gelap. Sendirian.
"Hanbin-ah…."
Hanbin mengangkat kepalanya, menatap Junhoe sejenak lalu ia kembali melanjutkan lamunannya.
"Sedang apa kau disini, hm?" Junhoe mendudukkan dirinya disamping Hanbin. Kemudian ia mengelus rambut namja itu lembut.
"Hyung…."
"Ya?"
Junhoe terkejut saat mendengar isakan tangis dari Hanbin. Samar-samar dilihatnya namja berlesung pipi itu mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangisannya.
"H-hyung… Kecelakaan diatas atap sekolah saat pertama kita bertemu, kecelakaan mobil yang hampir menimpamu, dan penyakit yang diderita Jinhwan sunbae… I-itu semua karena aku bisa melihat masa depan. M-maksudku aku melihat semuanya….Hiks…. Aku melihatmu tertimpa besi yang ada diatap sekolah, aku melihatmu tertabrak truk dan aku melihat… Jinhwan sunbae meninggal karena tumor otak. Hiks…"
Hanbin menghapus air mata yang entah mulai kapan membasahi pipinya. "Aku tidak ingin melihat orang yang ada didekatku meninggal. Cukup Eomma-ku. Cukup Eomma saja… hiks… yang tidak bisa kuselamatkan. Aku tidak mau ada yang pergi meninggalkanku lagi…"
"Saat umur lima tahun aku bermimpi Appa meninggal. Aku menceritakan semua itu pada orangtuaku, tapi mereka tidak percaya. Dan….beberapa hari kemudian Appa benar-benar… Hiks…"
Hanbin menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu menangis dengan keras. Ia tidak peduli lagi dengan Junhoe yang mungkin saja akan menganggapnya aneh. Ia tidak peduli dengan orang-orang didekatnya yang mungkin akan menjauhinya. Hanbin tidak peduli lagi. Ia hanya ingin menangis. Beban di hatinya yang belasan tahun ia tahan, sudah tidak sanggup lagi….
Tangisan Hanbin semakin menjadi saat Junhoe yang sedang duduk disebelahnya tidak memberikan reaksi apapun. Ia tidak merasakan pergerakan namja bermarga Goo itu maupun suaranya. Junhoe sudah meninggalkannya…
Setelah beberapa menit menangis, Hanbin mengatur napasnya lalu menjauhkan tangannya dari wajahnya.
"Kau sudah selesai menangis?"
Hanbin tersentak.
Junhoe menatap Hanbin lembut, sangat lembut. "Sudah mulai tenang?"
"Hyung…" Hanbin kembali menitikan air matanya. "A-aku pikir kau sudah…"
Junhoe menarik tangan namja berlesung pipi itu dan merangkulnya dengan erat. "Jangan menangis seperti itu lagi didepanku."
"Maaf… Maafkan aku karena sudah tidak jujur padamu…"
"Aniya. Aku sudah tahu semuanya bahkan sebelum kau memberitahuku."
Hanbin melepaskan pelukannya dan menatap Junhoe bingung.
"Kau…tahu?"
Junhoe tersenyum kecil sambil membersihkan sisa air mata dipipi namja yang berumur satu tahun dibawahnya itu. "Mana mungkin aku lupa saat kau menyelamatkanku tiga belas tahun yang lalu?"
"Eo?"
"Kau lupa? Kau juga pernah menyelamatkanku saat kecil. Dan kau juga menceritakan semuanya padaku tentang kemampuanmu itu."
Hanbin mengedipkan matanya beberapa kali. Benarkah? Ia pernah menceritakannya pada Junhoe? Jadi namja itu sudah tahu?
"Aku tidak ingat…." Ujar Hanbin pelan. Jadi untuk apa ia menangis sampai matanya bengkak tadi? Hanbin menundukan kepalanya malu. Sangat memalukan menangis didepan Junhoe.
"Wae? Kenapa sekarang pipimu memerah?"
"Aku hanya…malu…"
Junhoe membulatkan matanya. Diciumnya pipi Hanbin bertubi-tubi.
"Ah! Hyung!" Hanbin mendorong tubuh Junhoe kesal. Sekarang pipinya penuh air liur namja itu.
"Neomu kyeowo… Aku tidak bisa menahannya kkk…."
Hanbin memandang Junhoe sinis. Lalu tak lama kemudian ia tersenyum. Entahlah. Sikap Junhoe yang menyebalkan seperti sekarang membuat Hanbin merasa sangat nyaman. Ia merasa beruntung mempunyai Junhoe disisinya.
"Gomawo hyung…"
"Terima kasih untuk apa, chagi?"
"Untuk semuanya. Aku tidak mungkin menyebutkannya satu persatu."
Cup!
Junhoe menatap Hanbin tidak percaya. Ia menjilat bibir bawahnya yang baru saja dikecup namja chingu-nya itu. "Berani-beraninya kau menggodaku di rumah sakit seperti ini!" Ia tidak terima Hanbin menciumnya duluan. Junhoe menarik tengkuk namja bermarga Kim itu lalu dilumatnya bibir Hanbin pelan.
Hanbin membalas ciuman Junhoe. Tangannya memegang pinggang namja itu. Tanpa sadar ia tersenyum disela-sela ciumannya. Hanbin tidak menyangka, bahkan hal-hal kecil seperti ini jika dilakukan bersama orang yang kau cintai akan sangat berbeda. Semuanya terasa indah.
"Ehem!"
"Yeobo, aku tidak tahu ternyata ini gunanya taman belakang rumah sakit."
Hanbin segera mendorong Junhoe. Cukup kuat, sampai-sampai namja itu terjatuh.
"Eo-Eomma…."
Sera Eomma memutar bola matanya malas. Inginnya segera menampar Junhoe karena mencium Hanbin ditempat umum seperti ini. Tapi apalah daya dirinya karena pasangan yang ada didepannya sekarang ini hanyalah anak muda yang sedang dimabuk cinta.
Junhoe yang terkejut segera berdiri. Kemudian ia menundukkan kepala. Persis seperti anak yang baru saja ketahuan mencuri.
"Junhoe-ya…"
Suara berat Seunghan Appa membuat Junhoe maupun Hanbin tersentak.
"Ne…"
"Kau tahu apa yang kau perbuat barusan tidak pantas dilakukan ditempat seperti ini?"
"Ne, Appa…"
Mata Seunghan Appa berpindah ke Hanbin yang sekarang sedang menatapnya takut. Otomatis anak itu segera membungkukkan badannya. Hanbin juga tidak tahu kenapa ia melakukan itu.
"Hanbin-ah… Kemari…" Panggil Sera Eomma.
Hanbin berjalan mendekati Ibu dari Junhoe itu. Dan sepertinya ia tahu apa yang ingin dibicarakan wanita itu.
"Aku tahu tentang kemampuanmu. Maksudku kami berdua tahu." Sera Eomma melirik Seunghan Appa sekilas. "Sebenarnya aku ingin menunggu sampai kau yang sendiri yang memberitahu kami."
Hanbin menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa bersalah. Keluarga Goo sungguh menganggapnya anggota keluarga mereka. Tapi Hanbin malah menutup diri.
"Maafkan aku…. Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian." Cicitnya.
"Hanbin-ah, sudah kubilang berapa kali. Jangan sungkan menceritakan masalahmu. Aku malah senang direpotkan olehmu." Sera Eomma mengelus kepala Hanbin lembut. Ia sungguh menyayangi anak dari sahabatnya ini. Karena hanya dengan melihat Hanbin ia bisa merasakan keberadaan Jiyoo, sahabat kecilnya.
"Dan kau Goo Junhoe!" Nada suara Sera Eomma meninggi. "Urusan kita belum selesai." Katanya sambil menyipitkan mata.
Junhoe hanya bisa tersenyum kecut. Pilihannya ada dua. Dimarahi habis-habisan atau dipukul sampai babak belur.
"Junhoe-ya, Hanbin-ah…" Seunghan Appa menatap handphone yang sedang dipegangnya. "Tuan kim bilang Jinhwan sudah sadar. Sebelum dioperasi dia ingin berbicara dengan kalian berdua."
Hanbin dan Junhoe saling bertatapan. Seolah-olah saling bertanya kira-kira apa yang ingin dibicarakan namja mungil itu.
.
.
.
TBC
