DEAR FUTURE HUSBAND

Main Cast:

Kim Hanbin

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jinhwan

Kim Donghyuk

Kim Jiwon

Genre: Romance, Drama

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Junhoe-ya, Hanbin-ah…" Seunghan Appa menatap handphone yang sedang dipegangnya. "Tuan kim bilang Jinhwan sudah sadar. Sebelum dioperasi dia ingin berbicara dengan kalian berdua."

Hanbin dan Junhoe saling bertatapan. Seolah-olah saling bertanya kira-kira apa yang ingin dibicarakan namja mungil itu.

.

.

.

Jinhwan mengedipkan matanya lemah, menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih bersih diatas kepalanya. Dipegangnya benda kecil yang entah kapan terpasang dihidungnya. Bola matanya berputar, memeriksa apakah dua orang itu sudah datang atau belum.

Jinhwan menghela napas. Mungkin kepalanya sudah tidak berdenyut, tapi ia merasa sangat lemah. Bahkan menggaruk leher sudah membuatnya sangat lelah. Jinhwan menutup mata seiring dengan air mata yang membasahi pelipisnya.

"Jinhwan-ah…"

"Sunbaenim…"

Jinhwan menggerakkan kepalanya. Sudut bibirnya tertarik begitu melihat pasangan itu. Pasangan? Um… ya… Ia tidak bisa berbohong jika mereka terlihat sangat cocok sekarang.

"Kemarilah…" Ujarnya pelan.

Dua orang itu berjalan perlahan menghampiri Jinhwan. Salah satu namja yang bertubuh tinggi duduk disebelahnya, menggenggam tangannya. Jinhwan menghela napas, tidak percaya bahwa ia sangat rindu diperlakukan seperti ini oleh namja itu.

"Sunbaenim, apa kepalamu masih sakit?" Tanya seorang namja yang satunya lagi.

Jinhwan kembali tersenyum. Entah kenapa perasaan bencinya pada namja berlesung pipi itu sirna sudah. "Tidak. Um.. Hanbin-ah…"

Hanbin sedikit tersentak. Karena untuk yang pertama kalinya Jinhwan memanggilnya dengan panggilan akrab seperti itu. "N-ne…"

"Jangan panggil aku sunbaenim. Panggil saja hyung, sama seperti kau memanggil Junhoe."

"N-ne, hyung." Hanbin tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Hatinya merasa lega sekaligus senang karena Jinhwan sudah berubah. Maksudnya, sifat namja bermarga Kim itu tidak seperti mereka terakhir kali bertemu.

"Kau akan dioperasi." Kata Junhoe pelan.

"Aku tahu. Karena itu aku memanggil kalian, mungkin saja diruang operasi nanti aku tidak bisa diselamat-"

"Jangan, hyung." Sahut Hanbin. "Aku mohon jangan berbicara seperti itu."

"Kau pasti baik-baik saja, Jinhwan-ah. Aku yakin itu."

Air mata Jinhwan mengalir dipelipisnya. "Junhoe-ya, Hanbin-ah… Aku ingin meminta maaf. Dari dulu sebenarnya aku tahu kalian saling menyukai, tapi aku dengan sengaja… Hah…" Jinhwan menghela napasnya.

"Sudahlah. Jangan dibahas lagi." Junhoe mengelus punggung tangan Jinhwan dengan ibu jarinya. "Aku juga minta maaf telah membohongimu. Aku mendekati dengan orang lain disaat kita masih pacaran."

"Maaf. Sepertinya aku yang paling bersalah disini." Cicit Hanbin. "A-aku merusak hubungan kalian."

"Kau baru sadar?"

"M-maafkan aku…." Hanbin-ah menundukkan kepalanya.

Jinhwan tertawa kecil. Kenapa suasananya jadi seperti ini? "Kau tidak masuk hitungan, Hanbin-ah. Kalian memang ditakdirkan. Aku yang jadi penganggu."

"Takdir?" Junhoe mengelus lengannya berkali-kali. "Kau membuatku merinding. Jangan gunakan kata-kata seperti itu."

"Jinjja? Padahal kau pernah mengatakan hal seperti itu padaku." Kata Jinhwan mengejek.

Junhoe melirik Hanbin, hanya untuk membela diri. "Jangan percaya padanya. Aku tidak pernah mengatakan hal menjijikan seperti itu."

"Tidak, hyung. Aku percaya pada Jinhwan hyung. Karena kau orang yang 'berlebihan'."

"Ya!"

Jinhwan terkekeh melihat pemandangan didepannya. Hatinya terasa ringan. Sejujurnya inilah yang ia inginkan. Tapi entah kenapa waktu itu Jinhwan lebih memilih untuk egois. Tidak peduli pada perasaan dua orang didepannya sekarang ini.

"Kalian bisa bertengkar diluar. Sebentar lagi aku.. eum.. dioperasi."

Junhoe dan Hanbin terdiam. Wajah mereka terlihat khawatir.

"Ada apa dengan ekspresi kalian? Bukankah kalian bilang aku akan baik-baik saja?"

"Ya, hyung. Aku akan mendoakanmu dari sini."

"Aku juga." Sahut Junhoe. "Jinhwan-ah, tadi kenapa kau yang membatalkan pertunangan? Bukankah kau yang bersikeras-"

"Aku tidak ingin terlihat menyedihkan."

"Eo?"

"Aku tidak ingin terlihat menyedihkan didepan Appa. Kau tahu, aku juga masih punya harga diri." Kata Jinhwan sambil tersenyum lebar. "Sudahlah, kalian keluar. Aku ingin istirahat sebentar."

Junhoe menghentakan kakinya berdiri, berpura-pura marah. "Pertama kalinya dalam hidupku diusir oleh seorang pasien."

"Hyung, maafkan anak kecil ini." Hanbin mendorong punggung Junhoe ke depan pintu. "Semoga operasimu berhasil, hyung."

Jinhwan menatap kepergian kedua namja itu dengan penuh senyuman. Tiba-tiba muncul semangat dari dalam dirinya untuk segera sembuh. Karena ingin melihat akhir bahagia dari pasangan itu dan juga akhir bahagia untuk dirinya.

.

.

.

Beberapa tahun kemudian….

Hanbin berusaha mempertahankan roti panggang agar tidak jatuh dari mulutnya. Tangannya sibuk mengikat tali sepatu. Sesekali ia menatap tangga, berharap agar orang itu turun dari sana.

"Aisshh! Menyebalkan!"

Setelah selesai, ia berlari-lari kecil menaiki tangga, berjalan menuju sebuah kamar.

"Hyuuungg! Junhoe hyuuunggg!"

Tidak ada jawaban. Hanbin mulai mengetuk pintu itu dengan keras.

"Kalau begitu aku akan pergi sendiri!"

Ceklek!

"A-aku akan mengantarmu." Jawab Junhoe dengan suara serak lengkap dengan wajah khas bangun tidur.

Hanbin menatap namja itu dengan wajah jengkel. "Kita sudah terlambat! Kau bilang ingin mengantarku, tapi lihat sekarang! Kau bahkan masih memakai piyama!"

"Maaf…"

"Sudahlah! Kau lanjutkan saja tidurmu. Aku bisa naik taksi." Hanbin menghentakan kakinya kesal dan berjalan meninggalkan Junhoe yang masih linglung.

"Tunggu aku, Hanbin-ah. Lima menit lagi aku turun!"

Hanbin kembali menuruni tangga. Menyebalkan, pagi ini Junhoe sangat menyebalkan.

"Eo? Kau belum berangkat, Hanbin-ah?" Sera Eomma menghampiri Hanbin yang baru saja menginjakkan kakinya ditangga terakhir.

"Ne. Junhoe hyung belum bangun, Eomma."

"Mwo?!" Teriak Sera Eomma. "Anak itu! Biar aku yang memberinya pelajaran!"

Hanbin dengan cekatan menghalangi jalan Sera Eomma sambil merentangkan kedua tangannya. Ya…. Walaupun sebenarnya ia juga kesal, tapi Hanbin juga tidak tega jika melihat Junhoe dimarahi Eomma-nya.

"Tidak apa-apa, Eomma. Sekarang dia sudah bangun. Aku bisa menunggu beberapa menit lagi."

Sera Eomma menghela napas. "Kau ini, selalu saja membelanya. Kau harus lebih tegas, Hanbin-ah."

"Ne…"

"Karena kau belum berangkat, aku ingin menitipkan ini."

Hanbin mengambil sebuah kotak berisi kimbab dari tangan Sera Eomma.

"Untuk Jinhwan hyung?"

"Eo. Sampaikan juga permintaan maafku karena tidak bisa mengantarnya. Aku dan suamiku ada undangan ke Macau. Kami akan berangkat siang ini."

"Ne. Aku akan menyampaikannya ke Jinhwan hyung." Hanbin terdiam sebentar. "Eomma kapan pulang?"

"Mungkin tiga sampai empat hari lagi. Wae?"

Hanbin menelan ludahnya kasar. Ia dengar beberapa pelayan juga sedang cuti. Itu berarti ia dtinggal berduaan dengan Junhoe? Hm… Firasatnya tidak enak…

"Hanbin-ah!"

"N-ne?"

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Sera Eomma sambil mengerutkan dahinya.

"Eobseo-yo…"

"Ayo pergi!" Teriak Junhoe yang berjalan menghampiri Hanbin dan Eomma-nya.

"Ya! Kau masih mengantuk, eo?! Kau tidak boleh menyetir mobil!" Protes Sera Eomma. "Kau bisa mencelakakan Hanbin!"

"Tenang saja. Aku sudah professional, Eomma." Jawab Junhoe enteng. Sesekali ia melebarkan matanya agar tidak mengantuk.

"Biar aku bantu."

Sera Eomma mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kemudian dipukulnya kepala Junhoe cukup keras.

"Aaaaa! Appo!" Teriak Junhoe sambil mengelus kepalanya yang berdenyut.

"Kau sudah tidak mengantuk?" Sera Eomma tersenyum penuh kemenangan. "Hanbin-ah, kalau dia mengantuk lagi, kau pukul saja belakang kepalanya, eo?"

Hanbin tersenyum canggung. Mana berani ia memukul Junhoe? Bisa-bisa namja itu membalasnya. Dengan cara lain tentunya. (If you know what i mean)

.

.

.

Hanbin dan Junhoe berjalan memasuki bandara sambil menatap sekeliling mereka. Mencari seorang namja bertubuh pendek yang mereka kenal.

"Hanbin-ah! "

Hanbin membalikkan badannya. Dilihatnya Donghyuk melambaikan tangan ke arahnya. Disebelah sahabatnya itu terlihat Jinhwan dan juga Jiwon.

"Hyung, mereka disana!"

Hanbin berjalan menghampiri ketiga namja itu, diikuti Junhoe dibelakangnya.

"Ya! Kim Hanbin! Kau sangat terlambat!" Kata Jinhwan jengkel.

"Mianhae, hyung. Aku bisa saja lebih cepat jika tidak membawa dia kemari." Hanbin menunjuk 'namja-yang-tidak-mandi-karena-takut-terlambat' yang berdiri disebelahnya.

"Ya! Aku tidak benar-benar terlambat! Buktinya kita masih bisa bertemu!" Protes Junhoe.

"Tapi berkatmu Hanbin jadi tidak bisa bertemu Jinhwan sedikit lebih lama." Sahut Jiwon. "Sebentar lagi pesawatnya berangkat."

Junhoe tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap sinis Jiwon.

"Hyung, kau sudah mau pergi?" Tanya Hanbin sedih.

"Eo." Jinhwan tersenyum kecil. "Kau bisa mengunjungiku kapanpun kau mau."

"Tapi Amerika sangat jauh…"

"Tenang saja. Junhoe sangat kaya. Minta saja dia membeli pesawat pribadi."

Merasa namanya disebut, Junhoe menatap Jinhwan tidak terima. "Maaf, apa kau bilang? Aku bahkan harus bersujud didepan Appa agar dibelikan mobil. Dan sekarang apa? Pesawat pribadi? Itu sama saja aku harus rela diusir dari rumah."

"Mari kita abaikan dia." Kata Jinhwan ketus. Matanya kembali menatap Hanbin lembut. "Aku akan kembali beberapa tahun lagi sebagai dokter yang hebat. Kau harus menungguku, eo?" Jinhwan merangkul namja berlesung pipi itu. Andai saja jika saat itu Hanbin tidak menolongnya, mungkin ia sudah meninggal.

"Jinhwan hyung, sepertinya kau harus pergi sekarang." Kata Donghyuk mengingatkan. "Pesawatnya…"

"Ah benar… Aku harus pergi."

Jinhwan meraih koper besar yang ada disebelahnya. Kemudian ia menatap keempat sahabatnya itu bergantian.

"Kalian jangan melupakan aku. Aku akan kembali beberapa tahun lagi. Dan saat itu, kau, Goo Junhoe, harus menerimaku sebagai dokter di rumah sakit milikmu. Paham?"

Junhoe memutar bola matanya malas. "Terserah kau."

"Annyeong… Aku pergi dulu…"

Jinhwan melangkahkan kakinya. Sesekali ia menoleh ke belakang. Hah… ia tidak berencara menangis sebenarnya…

.

.

.

Hanbin mendorong pintu depan dengan tubuhnya. Ia sangat kelelahan. Tidur di mobil membuat kepalanya sakit.

Hanbin menatap sekelilingnya. Lampu-lampu sudah dinyalakan karena hari sudah malam. Ia menghela napas. Rumah tampak sepi tanpa Sera Eomma dan Seunghan Appa. Semua pelayan juga tampaknya sudah pergi karena mereka akan merayakan Chuseok di rumah masing-masing.

Hanbin berjalan menuju dapur dan mengambil sebuah gelas. Ditenggaknya segelas air putih dengan cepat.

"Hanbin-ah…"

Hanbin menolehkan kepalanya. "Kau haus, hyung?" Tanyanya sambil mengangkat gelas kosong ditangannya.

"Tidak." Junhoe menarik sebuah kursi didepannya dan duduk disana. "Jiwon dan sahabatmu itu berpacaran?"

"Eo. Sudah hampir dua tahun."

"Ah… Begitu rupanya…"

Lalu selama beberapa menit kemudian tidak ada yang berbicara. Hanbin menghela napasnya kemudian melipat tangan didepan dada. Ia tahu Junhoe ingin berbicara sesuatu padanya karena namja itu terlihat gugup.

"Hyung, katakanlah. Aku tahu kau ingin berbicara sesuatu padaku."

Junhoe menatap Hanbin takut. "Benarkah?"

"Eo. Aku tidak suka basa-basi."

"Baiklah."

Junhoe berdiri dari kursinya, berjalan menuju Hanbin, menarik tengkuknya, kemudian dilumatnya bibir namja berlesung pipi itu.

"Kau tahu apa selanjutnya?" Tanya Junhoe disela-sela ciuman mereka.

Hanbin menganggukkan kepala. Ia sedikit melompat agar kakinya bisa mengunci pinggang Junhoe dengan kuat. Dipegangnya leher Junhoe agar ia tidak jatuh. Ya… Hanbin tidak bisa berbohong jika ia merindukan sentuhan Junhoe.

Malam itu, di dapur, terdengar sangat berisik. Suara bibir yang saling melumat, meja yang berdecit dan desahan Hanbin yang tiada hentinya.

.

.

.

Beberapa minggu kemudian...

Hanbin berjalan menuju meja makan dengan lunglai. Badannya terasa sangat berat. Dilihatnya Sera Eomma sedang menyiapkan sarapan.

Hanbin duduk disalah satu kursi lalu ia meletakan kepalanya diatas meja.

"Hanbin-ah, wajahmu pucat." Sera Eomma menghampiri Hanbin dengan wajah khawatir. "Kau sakit?"

"Gwaenchana, Eomma."

Sera Eomma menyentuh dari Hanbin, mencoba merasakan apakah anak itu demam. "Badanmu tidak panas. Ayo kita ke rumah sakit."

"Aniyo, Eomma. Aku baik-baik saja."

"Ck! Kau ini. Masih saja keras kepala." Kata Sera Eomma berpura-pura marah. "Apa yang kau rasakan?"

Hanbin memperbaiki cara duduknya. Lalu ia terdiam sebentar. "Aku merasa pusing dan mual. Perutku terasa kram. Tubuhku terasa berat. Dan aku ingin makan yang asam-asam. Apa Eomma punya mangga?"

Sera Eomma membulatkan matanya. Tidak percaya dengan kata-kata Hanbin. Bukankah itu tanda-tanda….. Hamil?

.

.

.

TBC