DEAR FUTURE HUSBAND

Main Cast:

Kim Hanbin

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jinhwan

Kim Donghyuk

Kim Jiwon

Genre: Romance, Drama

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

Hanbin memperbaiki cara duduknya. Lalu ia terdiam sebentar. "Aku merasa pusing dan mual. Perutku terasa kram. Tubuhku terasa berat. Dan aku ingin makan yang asam-asam. Apa Eomma punya mangga?"

Sera Eomma membulatkan matanya. Tidak percaya dengan kata-kata Hanbin. Bukankah itu tanda-tanda….. Hamil?

.

.

.

"Eomma?" Hanbin menatap Sera Eomma bingung. Ekspresi wajah wanita itu terlihat syok. Apa ada yang salah dengan kata-katanya?

"Eo?" Sera Eomma seolah tersentak dari lamunannya. "A-aniya." Hanbin? Hamil? Mungkin saja. Tapi itu berarti dia dan Junhoe sudah…. "Hanbin-ah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit."

"Ne? Tidak usah Eomma. Aku masih bisa mengikuti kuliah hari ini."

"Tidak! Pokoknya kita harus ke rumah sakit!"

Hanbin mengerutkan dahinya. Sedikit heran kenapa Sera Eomma berteriak seperti itu. "Aku sungguh tidak apa-apa. Tidak perlu ke rumah sakit."

Sera Eomma menghela napas, merasa kesal karena anak didepannya ini begitu keras kepala. Padahal niatnya membawa Hanbin ke rumah sakit adalah untuk mengecek apakah anak itu hamil atau tidak. Tapi ia kembali berpikir. Bukankah Hanbin adalah anak baik-baik? Rasanya tidak mungkin…

"Apa salahnya kita ke rumah sakit?" Ujar Sera Eomma yang ternyata rasa penasarannya lebih besar daripada rasa percayanya ke Hanbin.

"Begini saja, Eomma. Jika besok aku tidak membaik, aku akan pergi dengan Eomma ke sana."

"Keurae! Kita lihat keadaanmu besok."

Sera Eomma membalikkan badannya, meninggalkan Hanbin yang terheran-heran. Kakinya melangkah ke dapur sambil terus berpikir 'apakah aku akan mempunyai cucu di umur semuda ini?'

.

.

.

Junhoe melajukan mobilnya ke kampus. Sesekali ia menegok ke sebelahnya, Hanbin yang sedang memijat pelipisnya sambil memejamkan mata. Namja chingunya itu terlihat kesakitan.

"Gwaenchana? Eodi appo?"

"Kepalaku pusing…" Kata Hanbin lemah.

"Wae? Apa bau mobilnya membuatmu pusing?"

"Aniya…"

Junhoe menepikan mobilnya. Lalu ia membuka seatbelt agar bisa lebih leluasa melihat wajah Hanbin. Disentuhnya dahi namja berlesung pipi itu.

"Kau tidak demam. Tapi wajahmu pucat. Aku akan membawamu pulang. Kau tidak usah kuliah hari ini."

"Andwae, hyung. Aku harus kuliah…"

Junhoe berdecak kesal. "Tidak. Aku tidak mengijinkanmu! Bagaimana kau bisa mengikuti kelas jika tubuhmu lemas seperti itu?"

Hanbin tidak menjawab. Terus memandang wajah Junhoe tanpa berkedip.

"Wae? Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Junhoe bingung. Ia bercermin di kaca yang ada di tengah. Tidak ada apa-apa. Wajahnya tetap tampan.

"Hyung…."

"Eo?"

Hanbin tiba-tiba mengusap pipi Junhoe pelan. Lalu berbisik didekat kuping namja itu. "Hyuuungghh~"

Junhoe membulatkan matanya. Suara Hanbin terdengar seperti desahan. Dan itu memancing sesuatu yang ada dibawah Junhoe.

Hanbin mengecup pipi calon suami masa depannya itu. Dengan sangat lembut dan perlahan sampai-sampai Junhoe mulai menghela napas berat. Lalu Hanbin melumat bibirnya.

Tentu saja Junhoe syok, karena namja chingunya itu tidak pernah bertindak seperti ini. Tapi apa boleh buat, kesempatan tidak datang dua kali. Junhoe mulai bertindak lebih.

Seperti biasa, seperti permainan mereka yang sebelum-sebelumnya. Berciuman, lidah yang saling memilit, meraba-raba bagian atas dan bawah, lalu sampai ke Hanbin yang entah bagaimana caranya sudah duduk dipangkuan Junhoe.

"Wae irae?" Tanya Junhoe sambil mengatur napasnya. Diusapnya dahi Hanbin yang mulai berkeringat. Mata yang sayu, bibir yang bengkak berwarna merah… Ah… Ekspresi Hanbin yang seperti sekarang yang Junhoe sangat suka.

"Aku juga tidak tahu…" Bisik Hanbin di telinga Junhoe. Lalu diciumnya leher namja itu beberapa kali. "Hyung sangat wangi hari ini…"

Junhoe mengigit bibirnya. Berusaha untuk tidak mendesah. Ia memutar bola matanya. Bingung apakah dia harus senang atau curiga dengan tingkah Hanbin yang sekarang.

"K-Kau sangat aneh hari ini."

Hanbin menghela napas berat. "Bisakah hyung tidak usah banyak bicara dan langsung masukan saja?"

Junhoe membelalakkan matanya. "A-apa kau bilang?"

Tangan Hanbin mulai menggerayangi resleting Junhoe. "Ppali… Aku bisa terlambat masuk kelas."

Bagaikan anak buah yang diperintahkan oleh komandannya, Junhoe langsung mengikuti perkataan Hanbin tanpa berpikir dua kali. Dan begitulah caranya bagaimana bisa mereka melakukan hal itu, di dalam mobil, di tepi jalan.

Junhoe merasa permainan mereka kali ini benar-benar berbeda. Desahan Hanbin yang terdengar nakal membuatnya merasa melakukannya didalam mobil saja tidak akan cukup. Mereka harus mencari tempat yang luas, seperti kamar tidur contohnya. Tapi setiap kali Junhoe menawarkan mencari hotel terdekat, Hanbin bersikeras bahwa ia harus kuliah. Menyebalkan memang, tapi apa boleh buat. Junhoe hanya menurut saja….

.

.

.

Donghyuk memainkan pena yang ada ditangannya sambil menatap pintu dengan gelisah. Kemana sahabatnya itu? Dosen Kang sebentar lagi masuk tapi Hanbin tidak ada tanda-tanda akan datang.

Donghyuk menatap sekitarnya. Kelas hari ini cukup ramai. Dan ia sudah bersusah payah menyediakan satu tempat kosong disampingnya agar Hanbin bisa duduk disebelahnya. Itupun setelah beradu mulut dengan beberapa orang.

"Hanbin!" Teriak Donghyuk saat melihat sosok sahabat baiknya itu. Dahinya sedikit mengkerut saat melihat wajah pucat Hanbin dan cara berjalannya yang aneh (?)

"Ya! Darimana kau saja?! Kau tahu bagaimana susahnya mengambil tempat duduk yang bagus setiap mata kuliah ini! Aku hampir saja dikeroyok satu kelas demi menyiapkan kursi untukmu!"

"Mian… Hiks…"

Donghyuk membulatkan matanya. Kenapa anak itu malah menangis?! "Ya…. G-gwaenchana. Aku tidak marah. Kau jangan menangis." Donghyuk menundukkan kepalanya, memastikan apakah Hanbin sungguh menangis atau hanya akting.

"Kau pasti kesal karena aku telah merepotkanmu…" Hanbin mengusap air matanya.

"A-aniya…" Donghyuk jadi salah tingkah. Seumur-umur ia tidak pernah membuat Hanbin menangis. Sahabatnya itu terkenal dengan ekspresi datarnya. Tapi kenapa Hanbin jadi sensitif seperti ini?

Donghyuk menepuk punggung Hanbin berkali-kali dengan harapan namja itu berhenti menangis karena sekarang beberapa orang melihat kearahnya. Ia terlihat buruk sekarang. "Aku sudah memaafkanmu. Jadi berhentilah menangis."

Hanbin menanggukkan kepalanya lemah dan mulai tersenyum. "Gomawo. Aku janji tidak akan datang terlambat lagi."

Donghyuk mengerutkan dahinya. "Kim Hanbin, kau aneh. Kepalamu sepertinya harus diperiksa."

.

.

.

Donghyuk menatap horor makanan yang ada didepannya. Mulai dari makanan pembuka, makanan berat hingga makanan yang manis-manis. Dan matanya semakin membesar saat melihat Hanbin dengan senyumnya yang lebar memasukkan satu sendok penuh nasi beserta lauk ke dalam mulutnya.

"Kau yakin bisa menghabiskan semua ini?" Bagaimana tidak? Hanbin memesan hampir seluruh makanan yang ada di kantin kampus!

"Eo. Aku sangat lapar." Kata Hanbin sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.

"Kau tidak pernah makan sebanyak ini. Memangnya kau tidak sarapan?"

"Aku sarapan dua kali lipat dari biasanya."

"Wah…. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Kau benar-benar aneh hari ini, Kim Hanbin. Kau bukan orang yang aku kenal."

"Aku sedang tidak enak badan hari ini. Wajar saja aku makan lebih banyak."

"Kau sakit? Lalu kenapa kau ke kampus hari ini, bodoh! Istirahat di rumah!" Teriak Donghyuk kesal. Bukan sekali atau dua kali, Hanbin kadang mementingkan kuliah daripada tubuhnya sendiri. Pernah suatu kali sahabatnya itu datang ke kampus dengan wajah yang sangat pucat dan dibopong oleh Junhoe. Alasannya karena dia tidak ingin melewati kuis hari itu.

"Aku ingin menjadi dokter. Karena itu aku harus belajar dengan giat."

Donghyuk memutar bola matanya malas. Pasti karena pengaruh dari Jinhwan yang juga kuliah kedokteran.

Donghyuk terkejut karena tiba-tiba Hanbin meletakkan sendoknya sehingga menimbukan suara dentingan. Hanbin memegang mulutnya, seperti hendak mengeluarkan makanan yang baru saja ditelannya.

"Ya! Gwaenchana?" Donghyuk sangat khawatir. Ia berdiri dari tempat duduknya kemudian duduk disebelah sahabatnya itu. Dielusnya punggung Hanbin pelan. "Kondisi tubuhmu benar-benar sedang tidak baik sekarang. Berhenti makan dan pulanglah. Aku akan mengantarmu."

Hanbin menganggukkan kepalanya lemah. Ia tidak melawan saat Donghyuk mengambil tasnya kemudian membopongnya ke mobil.

Dalam perjalanan pulang, Hanbin berusaha untuk tidak muntah. Sebisa mungkin ia tahan karena ia tidak ingin merepotkan Donghyuk.

"Kau tidak biasanya sakit sampai seperti ini. Apa yang kau makan semalam? Mungkin ada makanan yang tidak cocok denganmu."

Hanbin memutar bola matanya sambil berpikir. "Aku makan buah-buahan kemarin dan tentu saja sayur buatan Sera Eomma."

"Lalu?"

"Tidak ada. Hanya itu."

"Hm?" Donghyuk mengerutkan dahinya. "Apa saja yang kau rasakan hari ini?"

"Pusing dan mual."

"Apa mungkin…. Ada sesuatu yang sangat ingin kau makan sekarang?"

"Mangga! Aku sangat ingin makan manga yang asam. Sayang sekali Ahjumma di kantin tidak menjualnya."

"Heol…." Donghyuk menatap Hanbin tidak percaya. Mungkinkah….

"Ah… Kita sudah sampai Donghyuk-ah…"

Hanbin dan Donghyuk turun dari mobil bergantian. Donghyuk yang tidak sabaran, mendorong punggung Hanbin sekuat tenaga dan segera membawa namja berlesung pipi itu ke dalam kamarnya. Berusaha agar orang-orang rumah tidak melihat mereka. Lalu Donghyuk mengunci pintu.

"Dimana Sera Ahjumma?" Tanyanya khawatir.

Hanbin menatap Donghyuk terheran-heran. "Sepertinya ada di dapur. Wae?"

"Junhoe hyung?"

"Dia sangat sibuk hari ini. Setelah kuliah dia harus ke kantor Seunghan Appa dan belajar tentang perusahaan. Donghyuk-ah, ada apa denganmu?"

Donghyuk mengobrak-abrik tasnya. Mencari sesuatu benda kecil yang panjang.

"Ini dia! Aku tahu ini gila. Tapi setidaknya kita harus mencoba."

"Apa itu?"

"Nanti aku jelaskan. Sekarang kau buang air kecil dan harus mengenai benda ini."

"Eo? Kau gila? Untuk apa benda ini?"

"Cepat! Kau bisa membuatku mati penasaran!"

Donghyuk mendorong punggung Hanbin, lagi. Kali ini ke kamar mandi. Ia mengepalkan tangannya cemas atau lebih tepatnya tidak sabaran. Ada gunanya juga ia membawa test pack setiap hari. Ya… Jangan berpikir yang macam-macam. Donghyuk hanya iseng.

Beberapa menit kemudian Hanbin keluar dari kamar mandi sambil memegang test pack yang sudah dibuka. Dan jumlah garis merah yang ada di benda itu membuat Donghyuk jatuh lemas.

"Donghyuk-ah, wae irae?" Tanya Hanbin yang sama sekali tidak mengerti.

"KAU ORANG PALING BODOH YANG PERNAH AKU TEMUI!"

.

.

.

Keesokkan paginya….

Sera Eomma melangkahkan kakinya terburu-buru menuju kamar Hanbin. Ia ingin melihat kondisi anak itu. Dan tentu saja Hanbin harus menepati janjinya. Jika dia masih sakit hari ini, Sera Eomma akan menyeretnya ke rumah sakit.

"Hanbin-ah…." Panggil Sera Eomma sambil mengetuk pintu kamar Hanbin. "Kim Hanbin…."

"N-ne, Eomma…" Sahut Hanbin dari dalam.

Tak lama kemudian, anak bermarga Kim itu membuka pintunya. Dan Sera Eomma tersenyum kecil saat melihat wajah pucat Hanbin.

"Kau masih sakit."

"A-aniyo, Eomma. Aku sudah sehat." Hanbin tersenyum, cangggung. "Gwaenchanayo, aku akan pergi kuliah hari ini."

"Mwo? Lihat ini." Sera Eomma memegang bibir Hanbin. "Bibirmu pucat dan kering." Lalu ia memegang dahi anak itu. "Kau juga sedikit demam. Ayo ke rumah sakit."

"T-tapi Eomma…"

Sera Eomma berdecak tidak suka. "Kau harus menepati janjimu." Lalu ia berjalan ke kamarnya, bersiap-siap. Sedangkan Hanbin hanya bisa memelas sambil menahan tangis.

.

.

.

Junhoe tersenyum lebar. Entah sudah berapa lama. Ia duduk di sofa rumahnya dengan setelan kantor lengkap walaupun ia sudah tiba dari setengah jam lalu.

Junhoe menggerakkan pinggangnya agar tidak pegal. Lalu ia melirik jam tangannya. Sudah malam begini tapi Eomma-nya dan Hanbin belum pulang berbelanja. Begitulah yang dipikir Junhoe.

Karena sudah terlalu lama menunggu, akhirnya Junhoe berjalan ke kamarnya. Setelah mandi, ia kembali duduk di sofa ruang tamu, kembali menunggu Hanbin. Sesungguhnya ia ingin memberikan kejutan ke namja chingu-nya itu, karena beberapa hari ini mereka tidak bisa bertemu karena jadwal Junhoe yang padat.

Ya. Beberapa tahun lagi Junhoe akan memegang perusahaan Appa-nya. Tidak semuanya. Ia mulai dari jabatan yang paling biasa, yaitu karyawan. Seunghan Appa tidak ingin memanjakan anaknya. Menurutnya, Junhoe juga harus merasakan apa yang ia rasakan agar anaknya itu lebih termotivasi. Baru setelah karirnya menanjak, Junhoe benar-benar memegang perusahaannya sedangkan Seunghan Appa akan pensiun.

"Eomma-mu dan Hanbin belum pulang?" Tanya Seunghan Appa sambil menghampiri anak satu-satunya itu. "Kita belum makan malam."

"Mungkin sebentar lagi mereka pulang." Jawab Junhoe. "Aku menelepon keduanya tapi tidak diangkat."

Tidak lama setelah itu, dua orang yang dibicarakan Junhoe dan Seunghan Appa pulang. Tapi sepertinya ada yang aneh. Ekspresi mereka terlihat tidak seperti biasanya.

Junhoe tidak peduli. Ia menghampiri Hanbin sambil tersenyum lebar. Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar hendak memeluk namja berlesung pipi itu. Tapi….

BUGH!

"Eommaaaaa!" Teriak Junhoe sambil memegang pipinya yang berdenyut.

Sera Eomma menatap anaknya itu murka, dengan tangan masih mengepal.

"BRENGSEK KAU GOO JUNHOE!"

Seunghan Appa menahan tangan Sera Eomma saat wanita itu ingin memukul Junhoe lagi. Sedangkan Hanbin menghampiri Junhoe sambil menatap namja itu khawatir.

"Yeobo, tenanglah… Kenapa kau memukul Junhoe tanpa alasan?"

"Tanpa alasan katamu? Kau tahu apa yang sudah dia lakukan? DIA SUDAH MENGHAMILI HANBIN!"

"MWOO?!"

.

.

.

TBC