DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Seunghan Appa menahan tangan Sera Eomma saat wanita itu ingin memukul Junhoe lagi. Sedangkan Hanbin menghampiri Junhoe sambil menatap namja itu khawatir.
"Yeobo, tenanglah… Kenapa kau memukul Junhoe tanpa alasan?"
"Tanpa alasan katamu? Kau tahu apa yang sudah dia lakukan? DIA SUDAH MENGHAMILI HANBIN!"
"MWOO?!"
.
.
.
FLASHBACK (Baca chapter 18)
"Gwaenchana? Eodi appo?"
"Kepalaku pusing." Kata Hanbin lemah. Hari ini ia benar-benar tidak bertenaga. Tubuhnya sangat lemas. Tidak seperti biasanya. Hah…. Ada apa dengannya….
"Wae? Apa bau mobilnya membuatmu pusing?"
Hanbin mencoba menghirup udara disekitarnya. "Aniya…" Ia hanya bisa menatap lurus ke depan saat Junhoe menepikan mobilnya. Syukurlah. Namja chingunya itu sangat pengertian. Perutnya sangat mual sekarang. Hanbin berpikir ia mabuk perjalanan. Mungkin cara menyetir Junhoe yang membuat perutnya tidak enak, wajar saja karena namja itu baru bangun tidur.
Tapi rasa mual itu tiba-tiba hilang begitu saja saat Junhoe mendekatkan wajahnya. Wangi khas bangun tidur namja itu memaksa masuk ke dalam hidung Hanbin. Wangi yang selalu ia cium di pagi hari setelah ia dan Junhoe tidur bersama. Hanbin benar-benar menyukainya.
Lalu tiba-tiba Junhoe menyentuh dahinya. Membuat jantung Hanbin berdegup sangat kencang.
"Kau tidak demam. Tapi wajahmu pucat. Aku akan membawamu pulang. Kau tidak usah kuliah hari ini."
"Andwae, hyung. Aku harus kuliah…"
"Ck! Tidak. Aku tidak mengijinkanmu! Bagaimana kau bisa mengikuti kelas jika tubuhmu lemas seperti itu?"
Untuk beberapa saat Hanbin terpukau oleh wajah tampan Junhoe. Matanya yang terlihat sangat indah (ya walaupun kantung matanya agak mengganggu), bentuk hidung yang sempurna serta bibir lebar dan tebal yang sering Hanbin lumat. Omo! Kenapa hari ini ia merasa sangat terpesona pada namja bermarga Goo itu?
Hanbin tidak mendengar saat Junhoe bertanya apakah ada sesuatu di wajahnya. Lalu namja chingu-nya itu berkaca. Ekspresinya mengatakan 'tidak ada apa-apa diwajahku'. Lucu sekali. Hanbin tersenyum kecil. Padahal ia hanya sedang mengagumi wajah tampan suami masa depannya itu.
Hanbin menelan ludahnya kasar. Matanya terus memandang bibir Junhoe. Mungkinkah ia harus bertidak 'sedikit' lebih berani?
"Hyung…."
"Eo?"
Diusapnya pipi Junhoe lembut. Hanbin mendekatkan bibirnya ke kuping Junhoe dan entah kenapa suaranya berubah menjadi desahan. "Hyuuungghh~"
Junhoe terlihat syok. Tapi Hanbin tidak peduli. Diciumnya pipi Junhoe. Lalu turun ke bagian yang sangat ia sukai, yaitu bibir.
Junhoe membalas ciuman Hanbin. Lalu mereka saling melumat. Dan Hanbin hanya bisa melenguh saat lidah namja itu masuk ke dalam mulutnya. Seperti biasa, Junhoe sangat hebat dalam berciuman. Hanbin harus belajar banyak darinya.
Selama berciuman, otak Hanbin terus berpikir bagaimana cara menyelesaikannya karena ia harus masuk kuliah. Tidak mungkin Junhoe membiarkannya hanya sebatas ciuman. Hanbin kenal betul namja itu.
Hanbin tahu ia gila saat kaki kanannya mendekati paha Junhoe, diikuti kaki kirinya. Pokoknya ia harus menyelesaikannya secepat mungkin karena kalau tidak, Donghyuk pasti akan memarahinya.
"Wae irae?" Tanya Junhoe saat Hanbin melepaskan ciuman mereka.
"Aku juga tidak tahu…" Bisiknya di telinga Junhoe. Jujur, Hanbin benar-benar tidak tahu kenapa ia seperti ini. Yang sekarang ada dipikirannya hanyalah leher Junhoe yang terlihat sangat menarik untuk dihisap. "Hyung sangat wangi hari ini…" Leher. Titik kelemahan Junhoe selain 'benda' yang berada diantara selangkangannya.
"K-Kau sangat aneh hari ini."
Hanbin menghela napas berat. Kenapa Junhoe malah mengajaknya mengobrol? "Bisakah hyung tidak usah banyak bicara dan langsung masukan saja?"
"A-apa kau bilang?"
Hanbin mengerutkan dahi tidak suka saat melihat wajah 'pura-pura polos' Junhoe. Ayolah… Siapa yang membuatnya tidak polos lagi, hm? "Ppali… Aku bisa terlambat masuk kelas." Hanbin membuka resleting Junhoe tidak sabaran. Tapi kemudian tangan namja itu menghalanginya.
"Arraseo."
Lalu mereka melanjutkan kegiatan mereka seperti biasanya. Entah kenapa kali ini terasa berbeda. Hanbin tidak bisa menahan desahannya sampai-sampai Junhoe mengerang sambil berkata 'Ayo kita cari hotel!' Dan tentu saja Hanbin menggelengkan kepala. Bagaimana dengan kuliahnya nanti?
Setelah puas dengan kegiatan mereka, Hanbin segera memerintahkan namja chingu-nya untuk membawanya ke kampus. Ia bahkan tidak memberi waktu Junhoe untuk beristirahat sebentar. Selama diperjalanan, namja bermarga Goo itu terus mengerutkan dahinya kesal karena ajakannya ke hotel ditolak mentah-mentah oleh Hanbin.
Untuk membujuknya, Hanbin harus mencium pipi, dahi dan bibir Junhoe bertubi-tubi lalu berjanji lain kali mereka akan melakukannya di hotel. Setidaknya itu berhasil karena ekspresi Junhoe terlihat seperti anak kecil yang dijanjikan permen.
Hanbin turun dari mobil dan berjalan terburu-buru di lorong kampus sambil meringis. Bokong dan pinggangnya sakit. Ya… Itu resiko yang harus ditanggungnya.
Hanbin membuka pintu kelas perlahan. Lalu ia menghela napas lega saat melihat kursi dosen kosong. Berarti ia tidak terlambat.
"Hanbin!"
Hanbin menolehkan kepalanya. Lalu ia melangkahkan kakinya tanpa ragu ke namja yang memanggilnya. Beruntung sahabatnya itu satu kelas dengannya di mata kuliah wajib. Karena sebenarnya mereka beda jurusan.
"Ya! Darimana kau saja?!" Hanbin sedikit tersentak karena bentakan Donghyuk.
"Kau tahu bagaimana susahnya mengambil tempat duduk yang bagus setiap mata kuliah ini! Aku hampir saja dikeroyok satu kelas demi menyiapkan kursi untukmu!" Lanjut Donghyuk.
Hanbin tahu ada yang tidak beres dengan tubuhnya saat air matanya jatuh hanya karena sebuah bentakan. Ia tidak tahu. Hatinya merasa terluka. "Mian… Hiks…"
"Ya…. G-gwaenchana. Aku tidak marah. Kau jangan menangis."
Kata-kata itu justru membuat Hanbin semakin ingin menangis. "Kau pasti kesal karena aku telah merepotkanmu…"
"A-aniya… Aku sudah memaafkanmu. Jadi berhentilah menangis." Kata Donghyuk sambil menepuk punggungnya beberapa kali.
Lalu suatu hal aneh terjadi. Tiba-tiba Hanbin merasa senang karena Donghyuk sudah memaafkannya. Ia menanggukkan kepalanya dan mulai tersenyum. "Gomawo. Aku janji tidak akan datang terlambat lagi."
"Kim Hanbin, kau aneh. Kepalamu sepertinya harus diperiksa."
Ya… Hanbin sadar ia memang aneh hari ini. Perutnya yang mual, kepalanya yang pusing, hormonnya yang tidak menentu dan perubahan mood yang mendadak. Tunggu. Sepertinya Hanbin pernah membaca gejala-gejala penyakit (?) itu dibuku kedokteran?
Hanbin menggelengkan kepalanya tidak peduli. Nanti ia akan mencarinya sepulang kuliah. Sekarang perutnya terasa lapar. Padahal ia makan cukup banyak pagi ini. Rasa laparnya itu membuatnya tidak fokus sehingga begitu dosen ke luar dari ruangan, Hanbin langsung menyeret Donghyuk ke kantin dan memesan apapun makanan yang dilihatnya.
"Kau yakin bisa menghabiskan semua ini?" Tanya Donghyuk sambil menatap piring-piring berisi makanan didepannya.
"Eo. Aku sangat lapar." Hanbin memasukkan makanan ke dalam mulutnya sambil tersenyum lebar.
"Kau tidak pernah makan sebanyak ini. Memangnya kau tidak sarapan?"
"Aku sarapan dua kali lipat dari biasanya."
"Wah…. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Kau benar-benar aneh hari ini, Kim Hanbin. Kau bukan orang yang aku kenal."
Hanbin menatap Donghyuk sinis. "Aku sedang tidak enak badan hari ini. Wajar saja aku makan lebih banyak."
"Kau sakit? Lalu kenapa kau ke kampus hari ini, bodoh! Istirahat di rumah!"
Mwo? Istirahat di rumah? Bagaimana Hanbin bisa melakukan itu? Tekadnya menjadi dokter lebih kuat dari rasa sakitnya. "Aku ingin menjadi dokter. Karena itu aku harus belajar dengan giat."
Hanbin menghentikan gerakannya saat tiba-tiba rasa mual itu datang lagi. Sesuatu yang ada diperutnya naik ke kerongkongan. Ugh… Hanbin ingin muntah.
"Ya! Gwaenchana? Kondisi tubuhmu benar-benar sedang tidak baik sekarang. Berhenti makan dan pulanglah. Aku akan mengantarmu." Ujar Donghyuk khawatir.
Donghyuk terus bertanya pada Hanbin apa yang dirasakannya diperjalanan pulang. Hanbin menjelaskannya dan Donghyuk tampak tahu sesuatu. Entah sesuatu yang baik atau tidak.
Lalu sampai dimana Donghyuk mengeluarkan sebuah test pack dari tasnya. Hanbin mengikuti perintah sahabatnya itu. Setelah buang air kecil, Hanbin menatap benda itu bingung. Dua garis merah?
"KAU ORANG PALING BODOH YANG PERNAH AKU TEMUI!" Teriak Donghyuk dengan mata melotot. "Kau tahu apa yang sedang aku pegang ini, Kim Hanbin? Testpack! Kau sudah mencobanya dan lihat apa hasilnya! Dua garis merah! DAN ITU ARTINYA KAU HAMIL, BODOH!"
Jantung Hanbin bagaikan ditusuk sebuah pisau besar. Sangat menohok. Saking terkejutnya, kakinya tidak mampu menopang berat badannya. Hanbin jatuh terduduk sambil menatap lantai. Ia…. Hamil…? Diperutnya ada sebuah bayi?
"Kau melakukannya dengan siapa? Junhoe hyung?"
Hanbin tidak menjawab. Atau lebih tepatnya ia tidak mampu menjawab saat ini. Bibirnya kelu.
"Kau…. Aku tidak percaya anak sepolosmu… Ah sudahlah…" Donghyuk meremas rambutnya frustasi. "Kau harus memberitahunya. Kau sedang mengandung anaknya. Ah! Kau juga harus memberitahu orangtuanya."
Orangtua…. Junhoe?
"Andwae!" Teriak Hanbin. " A-aku tidak bisa memberitahu mereka." Lalu tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Eotteokhae Donghyuk-ah? Sera Eomma akan membawaku ke rumah sakit besok. Apa yang harus kulakukan?" Ia menangis. Bulir-bulir air mata jatuh mulai membasahi pipinya.
"Aisshh…" Donghyuk menghapus air mata sahabatnya itu. Ia tidak suka melihat Hanbin menangis. "Kenapa kau menangis? Junhoe hyung adalah suami masa depanmu. Mungkin inilah penyebab kalian menikah. Karena kau sedang mengandung anaknya."
"Hiks… Bagaimana dengan Sera Eomma dan Seunghan Appa? Mereka pasti marah besar…."
"Kau mencintai Junhoe hyung, bukan?"
Hanbin menganggukkan kepalanya lemah. Tentu saja. Ia mencintai namja itu lebih dari apapun.
"Pilihannya hanya dua, Kim Hanbin. Kau yang memberitahu mereka atau orang lain, maksudku dokter yang akan memeriksamu." Donghyuk menarik lengan Hanbin, membantu namja berlesung pipi itu berdiri. "Jja… Uljima… Aku tidak kenal dengan Hanbin yang cengeng."
Hanbin menghapus air matanya kasar. "Aku bingung, Donghyuk-ah. Bagaimana jika Junhoe hyung tidak menginginkan anak ini?" Ia menyentuh perutnya. Ajaib rasanya saat mengetahui didalam perut rata itu ada sebuah kehidupan lain.
"Bodoh! Tentu saja dia menginginkannya. Dia juga sangat mencintaimu. Jangan berpikir yang aneh-aneh!"
"Tapi…"
Donghyuk berdecak kasar. "Ibu hamil memang sensitif. Aku memaklumimu. Dengarkan aku. Jangan khawatir. Aku yakin Junhoe hyung senang mendengarnya."
FLASHBACK END
.
.
.
"Tanpa alasan katamu? Kau tahu apa yang sudah dia lakukan? DIA SUDAH MENGHAMILI HANBIN!"
"MWOO?!"
Hanbin terus memandang wajah Junhoe yang sedang terkejut itu. Ekspresi namja itu tidak terlihat senang. Malah terlihat seperti…. Takut… Apa benar kata Donghyuk? Junhoe sangat menginginkan bayi didalam perutnya?
"K-kau…" Junhoe menolehkan kepalanya ke samping dan menatap Hanbin. "Bagaimana bisa hamil?"
DEG
Saat itulah, Hanbin sadar. Perkataan Donghyuk kemarin mungkin hanya untuk menghiburnya. Karena kenyataannya, tidak seperti itu.
"YA! BAGAIMANA BISA HAMIL KATAMU?!" Teriak Sera Eomma murka. "TENTU SAJA KARENA KAU MENGHAMILINYA! KAU PIKIR ANAK DI PERUT HANBIN ANAK SIAPA, EO?! Aigoo… Eotteokhae… anakku menghamili anak orang lain…"
"Goo Junhoe…" Panggil Seunghan Appa dengan suara beratnya, terdengar sangat serius sampai-sampai membuat Junhoe bergidik. "Kau harus bertanggung jawab."
"Hah…. A-appa… aku…" Ujar Junhoe pelan.
Entah kenapa, Hanbin mendengarnya seperti sebuah protes. Junhoe tidak menginginkannya. Junhoe tidak seperti yang ia harapkan. Lalu sebuah ide gila muncul diotak Hanbin.
"Kau harus bertanggung jawab. Kau harus menikahi Han-"
"Tidak!" Seru Hanbin. "Aku tidak ingin menikah dengan Junhoe hyung."
.
.
.
TBC
