DEAR FUTURE HUSBAND
Main Cast:
Kim Hanbin
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jinhwan
Kim Donghyuk
Kim Jiwon
Genre: Romance, Drama
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, Ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Junhoe melepas pelukannya. "Yeobo? Jangan panggil aku seperti itu. Aku tidak ingin seperti orangtuaku. Ayo kita pilih panggilan sayang yang bagus."
Hanbin menganggukkan kepalanya. Sambil menangis bahagia. Sepertinya mulai dari sekarang ia akan sibuk, mengurus pernikahannya dengan Junhoe.
.
.
.
"Hiks… Aigoo… Hiks…." Sera Eomma mengambil sekotak tissu disamping tempat tidurnya. Diambilnya beberapa lembar tissu dan ditempelkan ke hidungnya.
"Yeobo… Berhentilah menangis…" Seunghan Appa menepuk pundak istrinya itu beberapa kali dengan lembut. "Kau sudah menangis selama lima belas menit.
Sera Eomma memencet kedua sisi hidungnya agar cairan itu keluar dan ia bisa bernapas. Terakhir kali ia menangis hebat seperti ini adalah saat sahabatnya, yang juga Ibu Hanbin, meninggal. "Aku hanya senang mereka bisa menikah. Hiks… Aku terharu…."
Seunghan Appa merangkul pundak Sera Eomma untuk menenangkannya sambil terus mengelus kepala istrinya itu, setelah beberapa saat lalu mereka berdua melihat Junhoe melamar Hanbin dari ujung tangga lantai atas.
"Kalau begitu berhentilah menangis. Kau bisa sakit nanti."
Sera Eomma mengatur napasnya, menuruti perkataan suaminya. "Apa menurutmu Hanbin menyukai cincinya? Junhoe tidak pandai memilih barang."
"Kau tidak melihat wajah Hanbin? Anak itu terlihat sangat bahagia."
"Tadinya aku yang ingin membelikannya."
"Kenapa harus kau? Yang ingin melamar kan Junhoe."
"Sudah aku bilang Junhoe tidak pandai memilih barang."
Kepala keluarga Goo itu tersenyum kecil mendengar jawaban istrinya itu. "Yoon Sera-ssi, anak kita sudah besar sekarang. Sebentar lagi dia akan mempunyai keluarga baru. Kau tidak bisa terus mencampuri urusannya. Dia harus belajar mengambil keputusan sendiri."
Sera Eomma terdiam. Perasaannya campur aduk sekarang. Senang sekaligus sedih. Senang karena anaknya sudah menemukan pasangan hidup. Sedih karena itu artinya Junhoe sudah dewasa, dan ia harus 'lepas tangan'.
"Ah… Yeobo…" Panggil Seunghan Appa. "Sebentar lagi kita juga akan punya cucu."
Sera Eomma menghela napas. "Aigoo… Ternyata di umur segini aku sudah pantas punya cucu."
"Anak kita itu, Goo Junhoe, ck! Bagaimana bisa dia menghamili anak orang?"
"Kau harus berkaca Goo Seunghan-ssi. Junhoe itu belajar darimu…."
Seunghan Appa menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kau lupa? Kita menikah saat aku sedang mengandung. Dua bulan."
"A-aku ingat…"
"Saat itu aku terpaksa memakai gaun pengantin yang bagian perutnya tidak terlalu terlihat agar orang-orang tidak tahu aku sedang mengandung. Ah! Maja! Hanbin akan memakai kemeja! Eotteokhae? Perutnya pasti terlihat besar…." Katanya sedih. Lalu Sera Eomma memandang suaminya sinis. "Memang Ayah dan anak sama saja."
"Ehem…" Seunghan Appa pura-pura terbatuk. "Maka dari itu kita harus segera menggelar resepsi. Sederhana saja. Tidak usah mengundang banyak orang."
"Arraseo. Bagaimana kalau dua minggu lagi? Kita gelar acaranya di taman belakang saja."
"Keurae."
.
.
.
"Hyung, apa tidak apa-apa kau tidur disini malam ini?"
Hanbin melemparkan pakaian kotornya ke dalam sebuah keranjang didekat kamar mandi. Diangkatnya keranjang itu dan ditaruhnya ke dekat pintu kamar agar ahjumma yang biasa membereskan kamarnya lebih mudah mengambilnya.
"Gwaenchana. Sebentar lagi kita kan menikah." Kata Junhoe yang sedang tiduran diatas tempat tidur Hanbin. Sejujurnya namja bermarga Goo itu merasa merdeka karena ia bisa keluar-masuk kamar Hanbin sesukanya sekarang. "Hanbin-ah, setelah menikah kau harus pindah ke kamarku. Kamar ini akan kujadikan kamar anak kita."
"Bukankah kamar ini terlalu besar?" Tanya Hanbin sambil memperhatikan sekitarnya. "Aku bahkan merasa kamar ini masih terlalu besar untukku."
"Eeiii… Aniya… Badanmu saja yang terlalu mungil."
Hanbin mengerutkan dahinya. "Mwo? Hyung bilang apa tadi?"
"Aniya."
"Kau bilang badanku terlalu mungil tadi!"
"Anirago…."
Hanbin menghampiri calon suaminya itu. Ekspresi wajahnya terlihat tidak suka. "Kau tahu hormon orang yang sedang hamil sedang tidak stabil. Dan aku marah kau bilang badanku mungil."
Junhoe tersenyum canggung. "Eeiii… Kau tidak perlu marah. Aku menyukai orang berbadan mungil."
"Ah…." Hanbin tampak menyadari sesuatu. "Karena itu kau menyukai Jinhwan hyung? Yang lebih mungil dariku?"
Junhoe tersentak. "A-aniya…."
"Jinjja?"
Junhoe segera bangun dari tidurnya dan berlutut menghadap Hanbin, sambil menundukkan kepala. Persis seperti anak yang ketahuan mencuri. Ya… Goo Junhoe… Kau hanya membuatnya jadi lebih buruk. Kenapa harus bawa-bawa kata 'mungil'?
"Mianhae, Hanbin-ah. Bunuh saja aku."
"Ah… Karena itu juga kau berpacaran dengannya hampir dua tahun? Kau sangat menyukainya?"
"Jeongmal mianhae… Bisakah kita berhenti membicarakan Jinhwan? Aku yakin dia sedang bersin-bersin sekarang."
"Aku tidak membicarakannya. Aku membicarakanmu!"
"Chagiya, aku sudah meminta maaf. Ayo kita tidur…" Mohonnya setengah menangis.
Hanbin menghela napas kesal. Lalu ia berbaring di tempat tidur sambil membelakangi Junhoe. Hormon hamil sungguh menyusahkannya. Sebenarnya Hanbin tidak ingin marah pada Junhoe, tapi entah kenapa hari ini ia kesal sekali pada namja bermarga Goo itu.
"Hanbin-ah…."
"Hm…"
"Hanbin-ah…."
"Hmmmm…"
"Mianhae…"
"Gwaenchana… Suasana hatiku memang sedang tidak baik…."
Perlahan tangan Junhoe meraih perut Hanbin. Dielusnya perut itu lembut. "Aegi-ya… Jangan menyusahkan Eomma-mu, eo? Kau tahu Appa sangat menyayangimu…."
Hanbin tertawa kecil. Pintar sekali Junhoe membujuk anak dalam perutnya ini.
"Nanti kalau kau sudah lahir…" Lanjut Junhoe. "Appa akan membelikanmu mainan yang banyak. Lalu kau akan sekolah di tempat yang sangat bagus. Lalu kau akan menggantikan Appa di perusahaan-"
"Hyung." Sahut Hanbin. "Bukankah kau mengkhayal terlalu jauh? Anak ini bahkan baru berumur tiga minggu diperutku."
"Keurae? Aku hanya tidak sabar anak kita lahir." Junhoe memeluk Hanbin erat dari belakang. Diciumnya leher calon istrinya itu berkali-kali. Wangi Hanbin sangat membuatnya ketagihan.
"Hyung, aku lapar."
"Lapar? Ayo kita makan dibawah. Aku akan memasakanmu omurice."
"Aniya. Aku ingin makan yang lain."
"Mwo?"
Hanbin membalikkan tubuhnya. Ditatapnya mata Junhoe penuh harap.
"Pudding melon."
"MWO?!"
"Pudding melon dengan es krim diatasnya."
Junhoe melemparkan pandangannya ke arah lain. Dimana ia bisa temukan pudding melon tengah malam seperti ini?
"Hyuunggg~"
"Hanbin-ah… Kau makan yang lain saja, hm? Aku akan membelikanmu pudding melon besok."
"Aku maunya sekarang~"
"Bagaimana kalau susu melon? Aku rasa kita punya itu di kulkas."
Dahi Hanbin mengerut tanda tidak setuju.
Junhoe menghela napas. Rasanya ia ingin menangis sekarang. "Jebal…. Jangan marah… Aku tidak tahu dimana tempat yang menjual pudding melon tengah malam, Hanbin-ah. Lihat." Ia menujuk jam dinding didekat mereka. "Sekarang pukul satu pagi lewat tiga puluh menit. Orang-orang sudah tidur…"
Hanbin tampak berpikir sejenak. "Keurae. Kau bisa membeli makanan itu besok. Tapi aku ingin makan yang lain."
"Mwo?"
"Takoyaki."
"….."
"Kau harus beli takoyaki sekarang~"
"Bunuh saja aku sekarang, Kim Hanbin."
.
.
.
Junhoe memejamkan matanya beberapa saat. Kedua tangannya dilipat didepan dada, berusaha agar tidak jatuh karena ia tidur sambil duduk. Suasana kelas yang tidak terlalu ramai membuatnya bisa tidur lebih nyenyak. Sampai Jiwon datang mengejutkannya.
"YA!"
Junhoe tersentak. Ditatapnya Jiwon sinis.
"Ya! Goo Junhoe! Wae irae? Kenapa wajahmu lesu begitu?" Jiwon sedikit mendorong Junhoe agar ia bisa duduk. Ditaruh tasnya yang berwarna cokelat tua diatas meja. "Aku dengar kelas hari ini dibatalkan. Dosen Lee ada tugas mendadak diluar kota."
"Keurae? Baguslah." Junhoe menaruh tangannya diatas meja. Dipakai tangannya itu untuk alas tidur. "Aku sangat mengantuk."
"Sudah sampai mana persiapan pernikahan kalian?"
"Delapan puluh lima persen. Ah!" Junhoe mengangkat kepalanya. "Kau harus datang. Acaranya minggu depan. Tidak ada undangan. Kami hanya mengundang keluarga dan teman dekat."
"Arraseo. Aku pasti datang. Eum… Junhoe-ya…"
"Mwo?"
"Minggu depan pernikahanmu tapi kau tidak terlihat gugup?"
Junhoe membulatkan matanya dan mencengkram pundak Jiwon. "Aku sangat gugup sampai-sampai tidak bisa tidur."
"Ya! Kau bisa tidur dengan Hanbin. Dia pasti akan menenangkanmu."
"Shireo. Setiap aku ke kamarnya, dia selalu meminta dibelikan yang aneh-aneh. Kau tahu tadi pagi aku hampir dibawa ke kantor polisi karena menggedor-gedor pintu penjual donat jam lima subuh."
Jiwon tertawa keras. "Mwo?"
"Hanbin minta dibelikan donat yang banyak. Dia tidak membiarkanku tidur!"
"Kkkk… Tampaknya anak didalam perut Hanbin tidak menyukaimu."
"Aisshh…."
"Percayalah padaku, pernikahan pasti akan membuatmu bahagia."
"Kalau begitu kenapa kau belum juga menikah?"
Jiwon terdiam sebentar. "Siapa bilang? Aku akan menikah tahun depan dengan Donghyuk."
"Mwo?! Jinjja?"
Jiwon menganggukkan kepalanya. "Tapi pertama-tama aku harus membuat Donghyuk dan Ibunya akur. Hubungan mereka tidak pernah baik."
Junhoe menepuk pundak Jiwon berkali-kali, tanda bangga. "Kau pria yang hebat. Aku mendukungmu."
"Menjijikan. Aku tidak perlu pujianmu, tuan yang menghamili anak orang."
"YA!"
.
.
.
Seminggu kemudian…
Hanbin memandang pantulan dirinya didepan cermin. Sebuah jas tampak melekat ditubuhnya. Jas yang ia lihat dalam kilasannya beberapa tahun lalu. Ah… Kilasan yang ia lihat saat pertama kali bertemu dengan Junhoe, sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Hanbin tidak menyangka akan terjadi secepat ini.
Air mata Hanbin tiba-tiba terjatuh. Hari ini ia menikah, tapi kedua orangtuanya sudah tidak ada. Tidak ada Appa yang mengantarnya ke altar. Tidak ada Eomma yang melihatnya dari atas altar.
Hanbin memegang dadanya yang berdenyut. Terlalu sakit. Ia tidak bisa menahan tangisnya. Bolehkah Hanbin menangis keras untuk menenangkan hatinya?
"Hanbin-ah, kau sudah siap?"
Seunghan Appa menghampiri Hanbin. Dilihatnya anak itu sedang menangis.
"Hiks… Maafkan aku…. Bisakah Appa menunggu sebentar?"
"Hanbin-ah…." Seunghan Appa menghapus air mata yang baru saja turun membasahi pipi Hanbin. "Aku tidak melarangmu menangis. Tapi kau bisa melakukan itu setelah acaranya selesai. Kau boleh menangis selama yang kau mau."
"N-ne…"
"Asal kau tahu, Ayah dan Ibumu pasti senang melihatmu memakai jas pengantin."
Hanbin menganggukkan kepalanya. "Hiks…. Ne…"
"Jja… Sekarang hapus air matamu. Junhoe sedang menunggumu."
Hanbin menghentikan tangisnya. Ia mengatur napasnya.
Seunghan Appa mengulurkan tangannya. "Kajja…"
Hanbin tersenyum dan menerima uluran tangan itu. Ia berdiri dan merapikan jasnya. Lalu Seunghan Appa menuntunnya ke depan pintu. Pintu belakang rumah Junhoe yang sudah dihias seindah mungkin.
Tak berapa lama kemudian, pintu itu terbuka. Hal pertama yang dilihat Hanbin adalah karpet panjang berwarna putih yang ada didepannya. Disamping kanan dan kiri karpet itu, para tamu undangan berdiri untuk menyambut sang mempelai.
Perlahan tapi pasti, mata Hanbin menyusuri karpet itu. Dan seorang namja tampan yang tampak sangat gugup sedang berdiri diujung karpet, tersenyum ke arahnya.
Hanbin menolehkan kepalanya. Lalu ia menganggukkan kepala pada mertuanya itu tanda bahwa ia sudah siap.
Hanbin melangkahkan kakinya sambil terus menatap suaminya tanpa berkedip. Sepertinya ia tidak usah lagi menjelaskan semuanya. Karena tidak berbeda dengan kilasan yang ia lihat pertama kali.
Dua orang yang memakai jas pengantin.
Bergandengan tangan.
Saling memakaikan cincin.
Dan berciuman….
Hanbin tersenyum. Kali ini kilasan itu muncul lagi. Seperti potongan film. Ia akan menjadi dokter yang hebat dan Junhoe yang akan sukses menjalankan perusahaannya.
Lalu terlihat, wajah dewasa anaknya yang akan lahir.
.
.
.
THE END
