LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Happy Reading

.

.

.

Bagi Yunhyeong, tidak ada yang lebih mengerikan dari arwah yang baru saja meninggal. Mereka akan terus bergentanyangan dengan keadaan saat mereka meninggal, sampai waktu mereka tiba, dan mengganggu orang-orang seperti Yunhyeong sampai mereka bosan.

"Guru olahraga kita! Ahn saem! Ia meninggal kemarin malam!"

Satu masalah datang lagi. Haaah….. Kapan Yunhyeong bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang?

.

.

.

Wali kelas 1-5 memasuki kelas. Murid-murid berhamburan kembali ke tempat duduk. Mereka tahu apa yang akan dibicarakan Kim saem.

"Aku ada berita duka."

Mata Kim saem menjelajahi ruangan kelas, dan ia melihat Yunhyeong, yang sedang menundukkan kepala, masih menggunakan headphone, "Ya Song Yunhyeong! Bisakah kau melepas headphone-mu?!"

Tentu saja Yunhyeong tidak mendengar. Maka dari itu, seorang siswa yang sedang duduk didepan Yunhyeong memberikan isyarat kepadanya untuk melepas headphone. Yunhyeong melepas headphone pelan-pelan dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat.

Kim saem menghela napas dan melanjutkan omongannya, "Aku punya berita duka. Kalian pasti sudah mendengarnya, Ahn saem meninggal kemarin malam."

Kelas menjadi rebut seketika. Seorang siswa mengangkat tangannya, "Saem, apakah benar Ahn saem meninggal bunuh diri karena terlilit hutang?"

Lalu seorang siswa lainnya juga mengangkat tangan, "Saem, aku dengar Ahn saem meninggal bunuh diri karena stress."

"Ya! Apakah itu penting? Kenapa kalian membicarakan hal buruk seperti itu? Arwah Ahn saem sudah tenang di alam sana. Pemakaman Ahn saem akan dilangsungkan besok, bagi kalian yang ingin ikut bisa bertemu denganku sepulang sekolah nanti."

Arwahnya sudah tenang? Tidak mungkin. Hanya orang yang tidak percaya hantu yang berkata seperti itu. Pemakaman? Oh, tidak. Yunhyeong lebih baik mati daripada pergi ke sana.

.

.

.

Yunhyeong masuk ke apartemen dengan tergesa-gesa. Ia tidak menghiraukan arwah-arwah yang mengikutinya saat perjalanan pulang tadi. Ia membuka kulkas, mengambil sebuah botol yang berisi air dan minum sebanyak-banyaknya.

Yunhyeong tinggal sendirian. Bukan karena keinginan orang tuanya, melainkan karena keinginannya sendiri. Ia tidak mau merepotkan orang tuannya jika tiba-tiba saat tengah malam ia menjerit-jerit karena melihat arwah berwajah rusak tepat didepan wajahnya. Yunhyeong melihat sekeliling ruang tamu dan sudut-sudut apartemennya. Belum ada tanda-tanda kedatangan Ahn saem.

Saat membalikkan badannya, dilihatnya sosok itu dengan wajah yang sangat pucat.

"OMO!", hampir saja botol kaca yang ia pegang jatuh. Ahn saem melihatnya dengan wajah yang juga terkejut.

"Saem….", kata Yunhyeong pelan. Ya.. cepat atau lambat Ahn saem akan muncul didepannya, seharusnya kau tidak terkejut seperti itu Song Yunhyeong.

"Kau bisa melihatku?", tanya Ahn saem bingung.

Yunhyeong menganggukan kepala.

"Wah… daebak! Jadi benar rumor itu? Kau bisa melihat hantu?"

"Ne."

Seharusnya Yunhyeong merasa beruntung karena Kim saem meninggal bunuh diri, bukan karena ditabrak mobil atau sejenisnya yang membuat tubuhnya berantakan, hal itu membuat Yunhyeong sedikit lega.

"Akhirnya ada orang yang bisa aku ajak bicara. Sekarang aku merasa masih hidup. Kau tahu? Aku bisa berjalan menembus tembok!", entah kenapa nada bicara Ahn saem terdengar ceria.

"Karena saem memang sudah meninggal", kata Yunhyeong datar.

"Ah, iya. Saat aku keluar dari tubuhku, tidak ada satu pun malaikat yang menjemputku. Apa arwah yang meninggal bunuh diri memang seperti itu?"

"Ne, mereka tidak akan menjemput saem karena saem belum ada didalam daftar mereka. Saem akan gentayangan sampai 'waktu yang seharusnya' tiba, pada saat itu mereka akan datang dan membawa saem ke tempat mereka."

"Ah, begitu.. Aku menjadi arwah gentayangan, pasti rasanya sangat kesepian. Aku bunuh diri bukan karena stress seperti yang orang-orang bilang. Aku melakukan ini agar mendapatkan uang asuransi untuk membayar hutang. Kasihan istri dan anakku. Sekarang mereka bisa menggunakan uang itu untuk membayar hutang dan melanjutkan hidup mereka", kata Ahn saem sedih.

"Saem, bagaimana dengan perasaan anak dan istri saem saat saem meninggal? Apa saem tidak memikirkan perasaan mereka?"

Ahn saem terdiam, "Aku hanya ingin mereka tetap hidup."

Suasana menjadi sepi beberapa saat karena baik Yunhyeong maupun Ahn saem sama-sama terdiam.

"Ah, Yunhyeong-ah. Kau tahu tidak? Pengaruhmu sangat hebat. Kau seperti magnet bagi orang mati."

Yunhyeong membelalakan matanya, "Ne?"

"Saat keluar dari tubuhku, aku tidak tahu harus kemana. Aku pergi ke sekolah dan melihat beberapa guru menangis sambil membicarakanku. Lalu aku melihatmu, kau mempunyai daya tarik yang sangat kuat, seperti magnet."

Yunhyeong terdiam.

"Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang. Tiba-tiba aku merindukan istri dan anakku", Ahn saem tersenyum, "Gomawo, Yunhyeong-ah, karena sudah berbicara denganku. Aku pergi."

Ahn saem pergi, dengan menembus tembok, meninggalkan Yunhyeong yang sedari tadi termenung memikirkan sesuatu. Magnet? Ia baru pertama kali mendengar hal seperti itu. Apa yang membuatnya terlihat menarik diantara orang mati? Apakah itu yang membuatnya tidak bisa hidup seperti orang normal?

.

.

.

Keesokkan harinya…..

Hari ini Yunhyeong pergi ke sekolah seperti biasa. Semalam ia tidak bisa tidur, lagi. Bukan karena arwah-arwah itu mengganggunya, melainkan karena Yunhyeong memang tidak bisa tidur. Ia memikirkan perkataan Ahn saem. Apakah ada cara untuk menghilangkan kemampuannya melihat arwah?

Berita Ahn saem meninggal sudah mereda, sekarang murid-murid membicarakan siapa yang akan menggantikan Ahn saem. Mereka bergerombol di kelas dan masing-masing mengutarakan keinginan mereka.

"Aku berharap guru olahraga kita yang baru seorang wanita cantik", kata seorang namja.

"TIdak. Aku ingin guru olahraga kita adalah namja keren berotot yang tampan. Kyaa!", kata seorang yeoja.

Tiba-tiba datang dua orang namja menghampiri gerombolan tersebut, "Aku harap guru olahraga kita yang baru berbadan gendut dan jorok."

"Ya! Kim Jiwon! Kau mau mati?!"

"Kkkk…. Mianhae, Jiwon hanya bercanda. Kalian terlalu serius membahas itu, bagaimana jika tidak sesuai kenyataan? Kalian pasti akan kecewa", kata Hanbin.

Mata Jiwon lalu tertuju pada Yunhyeong yang sedang termenung di tempat duduknya.

"Ya Song Yunhyeong!"

Yunhyeong mengarahkan matanya ke sumber suara. Ternyata Kim Jiwon dengan pacarnya, Kim Hanbin, yang memanggilnya.

"Menurutmu, bagaimana penampilan guru olahraga kita yang baru nanti?", tanya Jiwon kepada Yunhyeong.

Yunhyeong terdiam. Ia tidak berniat menjawab.

"Mwo-ya… Kenapa kau berbicara dengannya?", kata seorang yeoja sambil berbisik.

"Wae?", tanya Hanbin bingung.

"Ani, hanya saja tidak ada yang berbicara dengannya. Semua murid disini menjauhinya."

"Wae? Kalian menjauhinya? Kau berkata seperti itu seolah-olah dia telah melakukan dosa besar", kata Jiwon.

"Aku dengar dia bisa melihat hantu. Kau harus berhati-hati dengannya."

"Ah, pasti dia sangat merasa kesepian", kata Hanbin.

"Chagiya, kau tidak takut?", tanya Jiwon sambil merangkul Hanbin.

"Ani. Aku justru merasa kasihan padanya."

.

.

.

Yunhyeong memikirkan ucapan Kim Hanbin tadi di sekolah. Semua orang menjauhinya, tetapi Hanbin malah merasa kasihan padanya? Haaa… Yunhyeong berharap ia memiliki teman yang pengertian seperti Hanbin.

Tiba-tiba Yunhyeong mendengar suara tangisan dari sebuah gang yang gelap dan sepi. Ia mencari sumber suara, dan ia melihat seorang halmeoni sedang menangis dibalik tumpukan sampah.

"Halmeoni…", Yunhyeong berjalan mendekat, ia hanya bisa melihat punggung halmeoni yang memakai baju merah tersebut.

"Halmeoni, kenapa menangis?", Yunhyeong semakin mendekat, ia hendak menyentuh punggung halmeoni itu dan…. 'wuss..' Tangannya tembus! Berarti halmeoni itu….

Yunhyeong berjalan mundur perlahan, saat hendak berlari…

"Tolong aku… Aku mohon.. Tolong aku…", kata halmeoni itu sambil terisak.

.

.

.

"Halmeoni, sudah merasa baikkan?", tanya Yunhyeong. Sekarang dia sedang duduk bersama halmeoni itu. Yunhyeong tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian.

"Ne", halmeoni itu tersenyum.

"Apa yang membuat halmeoni bersedih?"

"Aku sudah lama mencari orang sepertimu."

"Ne?", tanya Yunhyeong bingung, "Mencari orang sepertiku? Maksud halmeoni…."

"Ada yang harus aku lakukan sebelum pergi ke alam sana. Bisakah aku meminta bantuanmu?"

Yunhyeong terdiam sejenak. Dugaannya benar. Ia sudah lelah dengan permintaan dari arwah-arwah seperti ini, tapi di satu sisi ia tidak bisa menolak permintaan halmeoni itu.

"Baiklah, aku akan melakukan yang bisa kau lakukan", kata Yunhyeong ragu.

"Aku meminta kau menjaga cucu kesayanganku."

"Ne?", Yunhyeong terkejut. Cucu? Anak kecil? Oh tidak, Yunhyeong tidak menyukai anak kecil. Baginya anak kecil sangat merepotkan. Ia lebih baik pergi ke pemakaman.

"Aku tahu yang ada dipikiranmu. Tenang saja, cucuku sudah dewasa. Hanya saja sifatnya masih terlihat seperti anak-anak", halmeoni itu tertawa kecil.

"Ah, maafkan aku…"

"Gwaenchana. Apa kau mau menjaganya?"

Yunhyeong tidak menjawab.

"Kau hanya perlu menjaganya sampai dia menemukan pendamping hidup", halmeoni itu tersenyum lagi.

Yunhyeong berpikir sebentar, "Ne, aku bersedia."

"Berjanjilah padaku."

"Ne, aku janji. Apakah kau bisa memberitahuku dimana dia tinggal?"

Halmeoni itu terdiam sebentar, "Aku tidak tahu."

"NE? Halmeoni tidak tahu? "

"Sudah lama aku tidak melihatnya, sekitar 13 tahun. Orang tuanya melarang aku bertemu dengannya", kata halmeoni itu sedih.

"Tapi bagaimana aku bisa menemukannya? Seoul sangat luas."

"Cucuku memiliki tanda lahir dibelakang telinganya dan dia tipe orang jarang tersenyum. Ah, dan satu lagi, dia sangat tampan."

"Namanya?"

"Junhoe. Goo Junhoe."

.

.

.

Ini merupakan permintaan tersulit yang pernah diminta oleh arwah-arwah manapun. Berapa banyak namja di Seoul yang memiliki tanda lahir dibelakang telinga? Yunhyeong sedikit menyesal menerima permintaan halmeoni itu. Tapi apa boleh buat. Ia sudah terlanjur berjanji.

Hari ini hari libur. Yunhyeong berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menginjakkan kakinya diluar apartemen dari pagi sampai pagi lagi. Ia ingin tidur seharian di rumah karena hari ini tidak akan ada arwah yang datang ke apartemennya (Yunhyeong sudah menaruh bawang putih di depan pintu).

Tetapi takdir berkata lain, persediaan air putih habis. Mau tidak mau Yunhyeong harus pergi ke supermarket. Dengan langkah malas, Yunhyeong memakai hoodienya dan pergi ke supermarket terdekat.

.

Hari sudah mulai malam dan jalanan sudah sepi. Yunhyeong sudah membeli air putih sebanyak-banyaknya. Dari jauh terlihat seorang ahjumma berpakaian aneh, menatap lurus ke arahnya. 'Mwo-ya? Kenapa dia melihatku seperti itu? Apakah ia hantu? Ani. Ia berjalan, bukan melayang.'

Ahjumma itu semakin dekat. Yunhyeong mempercepat langkahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak mau bertatapan dengan ahjumma aneh itu. Tetapi ahjumma itu justru berhenti tepat didepannya. Yunhyeong sangat terkejut.

"Omo!"

"Kau, bisa melihat arwah bukan?", tanya ahjumma itu.

"N-ne. Nuguseyo?", Yunhyeong berjalan mundur satu langkah.

"Kau memiliki daya tarik yang kuat, arwah-arwah menyukaimu, mereka menganggapmu dewa penolong. Apa mereka sering meminta bantuan kepadamu?"

"Ne. Bagaimana kau bisa tahu?", Yunhyeong mulai penasaran dengan perkataan ahjumma itu. Ahjumma itu menatap mata Yunhyeong cukup lama. Tiba-tiba ahjumma itu mundur ke belakang dengan wajah ketakutan.

"Jangan. Mulai dari sekarang jangan lakukan itu, kalau kau ingin selamat!", lalu ahjumma itu berbalik dan berjalan cepat menjauhi Yunhyeong. Tetapi ahjumma itu tiba-tiba berhenti dan kembali mendekati Yunhyeong.

"Jangan menolong mereka lagi. Itu bukan urusannmu. Abaikan saja mereka. Kau jangan terlalu mencampuri urusan dunia lain, terutama dunia bawah. 'Dia' akan sangat marah, dan 'dia' tidak akan segan-segan membunuhmu. Kau lebih baik menuruti perkataanku", lalu ahjumma itu berlari menjauhi Yunhyeong.

Yunhyeong tidak mau ambil pusing dengan perkataan ahjumma itu. Ahjumma itu pasti hanya orang gila yang ingin menakut-nakutinya. Akhir-akhir ini banyak orang gila yang bertindak seolah-olah mereka paranormal.

.

.

.

Keesokkan harinya…

Sekarang waktunya istirahat. Berbeda dengan siswa-siswa lainnya yang berlomba-lomba pergi ke kantin, Yunhyeong lebih memilih diam di kelas, mendengarkan lagu. Yunhyeong memejamkan matanya, mendengarkan alunan musik yang dapat menyejukkan hatinya.

Tiba-tiba seseorang menyentuh tangannya. Yunhyeong membuka mata, ia melihat sosok Kim Hanbin didepannya. Hanbin memberikan isyarat kepada Yunhyeong untuk melepas headphonenya dan Yunhyeong menurutinya.

"Yunhyeong-ah, jangan hanya berdiam diri di kelas. Ayo ke kantin."

"Kau…. berbicara padaku?"

"Tentu saja. Hanya kau yang ada di kelas ini. Tunggu apa lagi. Ayo ke kantin!"

.

.

.

Dalam seumur hidupnya, ini pertama kalinya ada yang mengajak Yunhyeong makan bersama. Dan orang yang pertama kali yang makan bersamanya selain keluarganya adalah Kim Hanbin.

"Kau mau makan apa?", tanya Hanbin dengan bersemangat.

"Apa saja", kata Yunhyeong pelan.

"Kantin ini terkenal dengan jjajangmyeon-nya. Kau mau?"

Yunhyeong mengangguk. Lalu ia mengedarkan pandangannya. Banyak orang-orang yang menatap ke arahnya sambil berbisik-bisik, Yunhyeong tahu mereka berbicara buruk tentangnya.

"Tidak usah peduli dengan perkataan orang lain. Mereka membicarakanmu karena kau orang yang unik.", kata Hanbin tersenyum.

Yunhyeong terdiam. Ucapan Hanbin sedikit membuatnya tenang.

"Annyeong chagiya!", Jiwon datang dan merangkul Hanbin.

"Kau mau jjajangmyeon?", tanya Hanbin.

"Tentu", lalu Jiwon melihat Yunhyeong, "Yunhyeong-ah, akhirnya kau keluar kelas!", kata Jiwon dengan girang.

"Aku yang mengajaknya, Yunhyeong harus memiliki teman di sekolah", kata Hanbin.

"Keureom, Yunhyeong-ah kau harus bersosialisasi. Jangan menutup dirimu. Kau bisa bercerita apapun kepada kami, eo?"

Yunhyeong hanya terdiam.

Teman? Mereka mau berteman dengan orang seperti Yunhyeong?

.

.

.

Diruang kepala sekolah…..

'Tok! Tok! Tok!'

"Masuk", kata seseorang yang menjabat sebagai kepala sekolah.

Kim saem masuk ke dalam ruangan.

"Ada apa Kim saem?"

"Aku ingin memperkenalkan guru baru yang akan menggantikan Ahn saem."

"Ah, kau boleh menyuruhnya masuk."

"Saem, kau bisa masuk sekarang", kata Kim saem kepada seseorang yang berada di luar pintu.

Lalu masuk seorang namja tinggi berambut blonde.

"Kau masih sangat muda", kata kepala sekolah dengan sedikit tersenyum, "Kau bisa memperkenalkan dirimu."

Namja itu membungkukkan badan.

"Annyeonghaseyo, Goo Junhoe imnida."

.

.

.

TBC

Haaaiiiii…

Saya udah update cepat! Terima kasih karena sudah mereview! *bow*

Ada yang bilang mirip Master Sun, emang beberapa yang aku ambil dari drama itu, tapi beda jauh kan? Hhehee

Saya munculin DoubleB! Bagaimana dengan member iKON yang lain? Tunggu ya…

Rada deg-degan sendiri pas nulis kalimat terakhir *ini beneran sumpah*

Saya memang pantas dikeroyok karena munculin June-nya cuma sedikit…..

Bagaimana kelanjutannya? Jangan bosen ngereview ya! ^^