LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

Lalu masuk seorang namja tinggi berambut blonde.

"Kau masih sangat muda", kata kepala sekolah dengan sedikit tersenyum, "Kau bisa memperkenalkan dirimu."

Namja itu membungkukkan badan.

"Annyeonghaseyo, Goo Junhoe imnida."

.

.

.

"Saya berumur 23 tahun dan baru saja lulus dari Universitas Seoul", lanjut namja itu.

"Baiklah, Goo saem. Tapi aku rasa kau belum memiliki pengalaman mengajar", kata kepala sekolah.

"Ne. Saya akan berusaha."

"Keurae, mulai besok kau bisa mengajar di sini. Jika kau ingin bertanya atau membutuhkan sesuatu kau bisa bilang pada Kim saem atau padaku."

"Ne, kamsahamnida", namja yang dipanggil Goo saem itu sedikit membungkukkan badan.

"Aku harap kau nyaman bekerja di sini."

"Ne."

.

.

.

"Kau kenapa, Yunhyeong-ah? Apa kau tidak nafsu makan?", tanya Hanbin.

Yunhyeong menggelengkan kepalanya, "aku tidak apa-apa."

"Jinjja?", tanya Jiwon.

Hanbin memegang tangan Yunhyeong, "Yunhyeong-ah, mulai sekarang kami ini temanmu. Kau jangan sungkan menceritakan masalahmu. Kami akan dengan senang hati mendengarnya."

Yunhyeong diam sebentar, lalu matanya mengarah kepada beberapa orang yang sedang membicarakannya. Memang suatu kejadian langka seorang Yunhyeong menginjakkan kaki di kantin, ditambah lagi ada rumor buruk tentangnya.

"Gwaenchana? Apa kau ingin pindah tempat?", tanya Jiwon.

"Gwaenchana. Kau telah susah-susah mencari meja", Yunhyeong tersenyum, "aku hanya tidak terbiasa dengan situasi seperti ini."

"Tenang saja Yunhyeong-ah, setiap hari aku akan mengajakmu ke sini sampai kau terbiasa", kata Hanbin.

"Nado. Aku juga akan menghabisi orang-orang yang menghinamu", kata Jiwon penuh semangat.

Yunhyeong tersenyum lalu menatap Hanbin dan Jiwon bergantian, "gomawo. Terima kasih telah mau menjadi temanku". Hanbin dan Jiwon tersenyum. Akhirnya Yunhyeong mau menerima mereka menjadi temannya.

"Yunhyeong-ah, coba kau makan jjajangmyeon-nya."

Yunhyeong mengangguk dan mulai memakan jjajangmyeon-nya.

"Eottae? Bagaimana rasanya?"

"Ini sangat enak! Jjajangmyeon terenak yang pernah aku makan!", kata Yunhyeong dengan nada girang. Ia mulai makan dengan lahap.

"Keurae? Aku juga senang kalau kau senang", kata Hanbin sambil tersenyum lebar.

"Kau juga harus mencoba acar lobak-nya", Jiwon menaruh acar lobak dimangkuk Yunhyeong.

"Eo", Yunhyeong memasukkan acar lobak ke dalam mulutnya sampai mulutnya penuh.

Hanbin tertawa kecil, "Ya! Kau bisa makan pelan-pelan."

Yunhyeong hanya tersenyum. Sangat lucu melihatnya seperti itu. Rambut yang berwarna coklat dengan poni yang menutupi dahinya, pipi yang menggembung serta bumbu jjajangmyeon disekitar mulutnya.

"Chamkkaman, aku ingin ke toilet sebentar."

.

.

.

Junhoe sekarang sedang melihat-lihat sekolah yang mulai besok akan menjadi tempat kerjanya. Sekolah ini cukup luas dan memiliki aksitektur yang bagus. Junhoe rasa ia akan betah kerja di sini. Ia tidak menyangka pekerjaan pertamanya adalah menjadi guru. Guru olahraga pula. Ia hanya coba-coba melamar di sini dan ternyata diterima. Ya, bukan sesuatu yang buruk.

Junhoe sadar sedari tadi banyak murid yang memperhatikannya. Apakah ia terlalu mencolok dengan rambut blonde seperti ini? Ia baru beberapa hari mengecat rambut, toh kepala sekolah tidak mengatakan apapun soal rambutnya.

'Eo? Apakah itu kantin?', Junhoe menghentikan langkahnya. Diperhatikannya ruangan kantin yang ramai. Tiba-tiba seseorang dari arah berlawanan berjalan ke arahnya dan menabraknya pelan.

"Ah, maafkan aku", kata orang itu sambil membungkukkan badan. Saat orang itu menegakkan badannya, Junhoe hampir saja tidak dapat menahan tawanya.

"Pffft…", Junhoe menutup mulutnya. Yunhyeong, namja yang menabraknya itu memasang wajah bingung.

"Waeyo?"

Selama beberapa detik Junhoe berusaha meredakan tawanya. Lalu ia menunjuk bibirnya tanda ada sesuatu dimulut lawan bicaranya. Tetapi Yunhyeong bukan tipe orang yang cepat tanggap. Ia menjadi tambah bingung dan memiringkan kepalanya.

"Kau mempunyai sesuatu dimulutmu", jelas Junhoe.

"Ah", Yunhyeong sadar. Ia segera membersihkan bumbu jjajangmyeon dimulutnya. 'Dasar memalukan!', Yunhyeong memaki dirinya sendiri. Lalu ia berlari ke toilet sambil menundukkan kepalanya. Sedangkan Junhoe hanya memperhatikan Yunhyeong dari jauh.

"Song Yunhyeong….", Junhoe mengingat name tag Yunhyeong yang ia baca tadi.

.

.

.

Yunhyeong menolak saat Hanbin dan Jiwon menawarkannya pulang bersama. Sejujurnya, Yunhyeong adalah tipe penyendiri walaupun Hanbin sudah bilang agar ia harus mulai terbuka pada orang lain. Bagaimanapun, sulit rasanya terbuka pada orang lain jika orang tersebut tidak menerimamu. Ya, seperti murid-murid di sekolahnya, seperti orang-orang yang menghinanya.

Yunhyeong sedang dalam perjalanan menuju apartemennya saat ia melihat stand peramal. Meramal? Sepertinya bukan hal yang buruk. Yunhyeong menimbang-nimbang apakah ia harus masuk atau tidak. Sedari tadi ia menunggu didepan stand itu, ia melihat beberapa orang yang masuk dan keluar dengan berbagai ekspresi. Ada yang sepertinya senang mendengar hasil ramalannya, dan juga ada yang kecewa. Akhirnya, Yunhyeong memutuskan masuk ke dalam stand itu.

"Annyeonghaseyo", sapa Yunhyeong. Peramal itu tersenyum dan meminta Yunhyeong memperlihatkan tangannya. Peramal itu lalu memejamkan mata selama beberapa detik.

"Kau… memiliki kesulitan dalam hidupmu", kata peramal itu.

"Ne, majayo", Yunhyeong setuju dengan perkataan peramal itu, kesulitan menangani arwah-arwah yang tidak tahu diri itu.

"Ada masalah besar yang akan datang padamu. Tetapi kau jangan khawatir, jika kau percaya pada dirimu, kau bisa melewatinya."

"Kamsahamnida", Yunhyeong menarik tangannya dari peramal itu.

"Kenapa kau menarik tanganmu?"

"Ne?", tanya Yunhyeong bingung.

"Apa tidak ada hal lain yang ingin kau tahu? Jodoh mungkin?"

Ah… Yunhyeong tidak berpikiran ke sana. Ia lalu menyerahkan tangannya lagi ke peramal itu. Peramal itu memejamkan matanya lagi.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Apakah jodohku berumur lebih tua dariku?"

"Eo."

"Apakah… ehem..", Yunhyeong terbatuk sedikit, "Apakah ia seorang namja?", tanyanya malu-malu.

"Eo."

Entah kenapa Yunhyeong merasa wajahnya memerah.

"Dia seorang namja dan berumur lebih tua darimu. Dia memiliki penampilan yang menarik dan sangat tampan dan… Oh! Ia berada didekatmu!"

"Jinjjayo?", tanya Yunhyeong tak percaya.

"Eo. Ia berada didekatmu. Meskipun begitu, akan sulit kau dengan dia bersatu, akan ada beberapa halangan. Tetapi jangan khawatir, kalian bisa bersatu dan hidup bahagia", peramal itu membuka matanya dan menatap Yunhyeong dengan wajah serius, "apa kau memiliki sebuah kelebihan yang orang-orang tidak punya?"

Yunhyeong sedikit terkejut. Ia tahu apa yang dibicarakan peramal itu.

Peramal itu tersenyum, "aku tahu kau merasa tersiksa dengan kelebihanmu itu. Kau bisa menghilangkannya."

"Benarkah itu? Bagaimana caranya?"

"Jodohmu yang akan menghilangkannya. Setelah kau bertemu dengannya, perlahan-lahan kemampuanmu akan hilang."

Yunhyeong tersenyum. Akhirnya saat-saati itu akan tiba. Saat dimana ia bisa hidup seperti orang normal. Yunhyeong tidak sabar menantikannya.

"Kau ingin diramal apa lagi?"

"Tidak, sudah cu-"

"OMO! Apa kau berniat menikah muda?"

Yunhyeong yakin sekarang wajahnya sangat merah.

.

.

.

Keesokkan harinya…

Hari ini Yunhyeong tidak enak badan. Ia tidak bisa tidur karena mendengar ramalan kemarin, tentang jodohnya… Ah… bahkan memikirkan hal itu membuat jantung Yunhyeong berdegup kencang. Selama ini ia tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Yunhyeong terlalu sibuk mengurusi arwah-arwah sialan itu. Lagipula tidak ada yang mau mendekatinya, selain Hanbin dan Jiwon, tentu saja.

Tunggu. Peramal itu bilang jodohnya berumur lebih tua darinya, tetapi peramal itu tidak bilang berapa tahun perbedaanya. Apakah jodohnya seorang ahjussi tua yang menyebalkan?

"Yoyo-ah~~", sapa Hanbin sesaat Yunhyeong sampai di kelas.

"Yoyo?", tanya Yunhyeong. Baru pertama kali ada yang memanggilnya seperti itu.

"Eo, Yoyo. Itu panggilan barumu. Eottae?"

"Joahae. Aku menyukainya", Yunhyeong tersenyum.

"Omo, wajahmu sangat pucat. Apa kau sakit?", tanya Hanbin khawatir.

"Aku hanya merasa sedikit pusing."

"Gwaenchana? Apa kau mau ke UKS? Aku akan mengantarmu."

"Gwaenchana. Aku masih bisa mengikuti pelajaran. Tetapi mungkin aku tidak mengikuti pelajaran olahraga hari ini."

"Oh, keurae. Ya, sayang sekali kau tidak mengikuti pelajaran olahraga."

"Wae?"

"Aku dengar guru baru itu masih sangat muda dan tampan", bisik Hanbin.

.

.

.

"Trriiiinnnggg…"

Bel istirahat pergantian pelajaran telah berbunyi. Para murid bersiap-siap mengganti seragam olahraga. Kecuali Yunhyeong yang sedang diantar Hanbin dan Jiwon ke UKS.

"Gwaenchana, kalian tidak usah mengantarku", tolak Yunhyeong.

"Kami tidak ingin kau pingsan dijalan", ujar Jiwon.

"Benar. Kau tahu, wajahmu sangat pucat", tambah Hanbin.

Sesaat setelah sampai di sana, Yunhyeong langsung membaringkan badan di kasur. Kepalanya sangat sakit, lebih sakit dari tadi pagi. Ia juga merasakan badannya lemas.

"Apa kau mau ditemani?", tawar Hanbin.

"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Lagipula kau bisa tertinggal pelajaran, Hanbin-ah."

"Kami akan langsung ke sini setelah pelajaran selesai. Kau juga tidak usah mengikuti pelajaran selanjutnya. Kau sepertinya sangat kesakitan", kata Jiwon.

"Aku yang akan memberitahu guru yang bersangkutan. Kau tidak perlu khawatir", kata Hanbin.

"Gomawo. Jinjja gomawo."

"Eo. Kalau begitu kami pergi dulu. Semoga cepat sembuh."

Setelah Hanbin dan Jiwon keluar, Yunhyeong langsung diperiksa oleh dokter di UKS.

.

.

.

Karena cuaca mulai dingin, pelajaran olahraga kali ini dilakukan di lapangan indoor. Semua murid penasaran bagaimana penampilan guru olahraga yang baru. Mereka mendengar desas-desus bahwa guru olahraga kali ini tampan, bahkan beberapa yeoja sengaja berdandan.

Beberapa menit kemudian mereka berhenti berbicara dan mulai fokus kepada sosok yang sedang berjalan ke arah mereka. Guru baru itu berdiri didepan seluruh murid. Seorang namja tinggi berambut blonde dengan wajah yang menawan.

"Selamat pagi. Namaku Goo Junhoe. Mulai hari ini aku adalah guru olahraga kalian yang baru", kata Junhoe tanpa senyum sedikitpun. Ia melihat seluruh muridnya dan matanya tertuju pada yeoja yang sedang berdiri di pojok.

"Kau", Junhoe menunjuk seorang yeoja. Yeoja itu terlihat senang karena Junhoe menghampirinya.

"Ne saem?", yeoja itu tersenyum lebar.

"Apa kau memakai make up?"

"Ne?", air muka yeoja itu langsung berubah.

"Kalau kau ingin mengikuti pelajaranku, hapus make up itu sekarang", kata Junhoe tegas.

Yeoja itu diam selama beberapa detik.

"Apa kau tuli?"

Yeoja yang bernama Shin Yura itu menangis dan berlari keluar lapangan, diikuti beberapa yeoja yang juga mengenakan make up.

"Kalau kalian ingin mengikuti pelajaranku, kalian harus mematuhi peraturan yang aku buat. Pertama, tidak ada yang boleh mengenakan make up. Kedua, kalian tidak boleh terlambat. Ketiga kalian tidak boleh membolos pelajaranku. Kalau kalian melanggar peraturanku, kalian akan tanggung sendiri akibatnya. Mengerti?"

"Ne, saem."

Hanbin mengangkat tangannnya, "saem, temanku yang bernama Song Yunhyeong tidak bisa ikut pelajaran hari ini karena sakit."

"Song Yunhyeong?"

.

.

.

Yunhyeong POV

Dimana ini? Apa Kang saem mematikan lampu? Aku mencoba berdiri. Setelah Hanbin dan Jiwon pergi, Kang saem memberiku beberapa obat dan aku tertidur. Tunggu. Ini sepertinya bukan di sekolah.

"Jogiyo. Apakah ada orang?", aku mencoba berjalan tapi di sini sangat gelap.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang berbisik dibelakangku,"kau seharusnya tidak mencampuri urusanku…..", saat aku membalikkan badan, aku tidak melihat apa-apa.

"Si-siapa kau?"

Lalu terdengar suara-suara aneh yang menyeramkan. Aku mencoba menutup telingaku, tetapi suara itu tetap ada seperti berasal dari kepalaku sendiri.

"Aku harus melakukan sesuatu…."

"Kau terlalu ikut campur….."

"Kau tidak boleh melakukan itu…."

"Aku harus membunuhmu…."

Suara-suara itu bertambah banyak dan semakim menyeramkan. Tanpa sadar aku menangis ketakutan. Tiba-tiba sebuah tengkorak manusia berada tepat didepan wajahku. Aku memekik ketakutan.

.

.

.

Auhtor POV

"Yunhyeong-ah! Yunhyeong-ah!", Hanbin mencoba membangunkan Yunhyeong yang sedari tadi berteriak ketakutan.

"Eotteokhae Jiwon-ah? Yunhyeong tidak bangun", kata Hanbin khawatir, air mata jatuh dipipinya.

"Aaaaa!", Yunhyeong membuka matanya.

"Yunhyeong-ah", Hanbin langsung memeluk Yunhyeong. Yunhyeong mengatur napasnya. Ternyata ia hanya mimpi buruk.

"Gwaenchana?", Hanbin melepas pelukkannya. Dilihatnya Yunhyeong yang berwajah pucat dan terlihat sangat ketakutan.

"Syukurlah kau bangun. Hampir sepuluh menit kami membangunkanmu. Ini minumlah", Jiwon memberikan segelas air putih. Yunhyeong mengambilnya dengan tangan gemetar dan meneguknya sampai habis.

"Apa kau mimpi buruk?", tanya Hanbin.

Yunhyeong menganggukkan kepala. Jantungnya masih berdegup kencang.

"Ada seseorang yang ingin membunuhku", kata Yunhyeong pelan.

"Gwaenchana Yunhyeong-ah. Itu hanya mimpi."

"Kami akan mengantarkanmu pulang."

.

.

.

Yunhyeong sudah menolak saat Hanbin dan Jiwon mengajaknya pulang bersama. Tetapi Hanbin bersikeras mengantarnya pulang. Di perjalanan, Hanbin tak henti-hentinya berbicara tentang guru olahraga yang baru.

"Kau tahu tidak? Dia membuat ratu kelas Shin Yura menangis! Aku hampir saja tepuk tangan!", kata Hanbin penuh semangat, "ah, dia juga punya peraturan sendiri. Tidak ada boleh yang berdandan, terlambat dan membolos pelajarannya."

"Apa ia sebegitu menyeramkan?", tanya Yunhyeong hati-hati.

"Sebetulnya tidak. Menurutku Goo saem hanya tegas dan sedikit dewasa", jelas Jiwon.

"Goo saem?"

"Eo. Namanya Goo Junhoe."

"Ah… Goo Junhoe… MWO? GOO JUNHOE?"

.

.

.

TBC

iKON is coming to town…

Hai hai^^

*disirem bensin sama readers*

Saya memang pantas mati… Bunuh saja saya di rawa-rawa…

Saya habis hiatus sodara-sodara… 'ya sebenernya mau hiatus apa nggak uptade-nya juga lama'… saya tahu anda semua berkata seperti itu..

Saya tahu chapter ini aneh, saya tahu juga banyak yang kurang :")

Sabar ya, Junhyeong momentnya saya usahakan chapter depan..

Saya akan cepet uptade kalo kaliannya ngerespon, begitu juga dengan anak saya yang lain, yaitu SUBWAY

Terima kasih yang sudah mereview… Jangan bosen-bosen ngereview ya^^