LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Apa ia sebegitu menyeramkan?", tanya Yunhyeong hati-hati.

"Sebetulnya tidak. Menurutku Goo saem hanya tegas dan sedikit dewasa", jelas Jiwon.

"Goo saem?"

"Eo. Namanya Goo Junhoe."

"Ah… Goo Junhoe… MWO? GOO JUNHOE?"

.

.

.

"Kkamjagiya", Jiwon mengelus dadanya. Hampir saja jantungnya berhenti mendadak.

"Wae? Apa kau mengenalnya?", tanya Hanbin yang juga terkejut mendengar Yunhyeong berteriak.

"A-ani."

"Lalu kenapa kau terkejut begitu mendengar namanya?"

"A-aku…."

"Yunhyeong-ah, kenapa tanganmu?", Jiwon memegang punggung tangan Yunhyeong yang tampak membiru.

"Eo! Kau kenapa?", Hanbin lalu menekan daerah tangan yang berwarna biru tua itu, "apakah sakit?"

Yunhyeong menggelengkan kepala. Aneh, tadi pagi tangannya tidak kenapa-kenapa. Apakah tadi tangannya terantuk sesuatu? Yunhyeong tidak ingat. Kalaupun tangannya terantuk, pasti akan terasa sakit.

"Yoyo-ah~", Hanbin mengeluarkan aegyo-nya.

"Wae?"

"Apakah kami boleh main ke rumahmu?", Hanbin tersenyum mengeluarkan lesung pipinya.

"Andwae."

"Wae? Toh kami mengantarmu pulang. Setidaknya kau harus memberikan kami minum", kata Jiwon mendukung pacarnya.

Yunhyeong menghela napas. Apakah pertemanan mereka sudah sedekat itu? Belum pernah ada orang yang pernah ke rumah (atau lebih tepatnya apartemen) Yunhyeong selain keluarganya. Itupun hanya beberapa kali dalam setahun.

Selama beberapa hari mereka berteman, tidak pernah ada pembicaraan tentang kemampuan Yunhyeong yang bisa melihat arwah. Apakah mereka sudah tahu? Atau mereka pura-pura tidak tahu? Yunhyeong ingin sekali punya teman dekat. Tapi ia takut setelah mengetahui hal tersebut mereka akan pergi meninggalkannya, seperti teman-temannya yang dulu.

"Keurae, aku hanya akan memberi kalian minum."

"Makan? Bagaimana dengan makan siang?"

"Apa kau akan membiarkan kami kelaparan?"

"Keurae, aku hanya akan memberi kalian makan dan minum."

"Assa!"

.

.

.

Junhoe sedang merapikan meja kerjanya. Ia mengatur posisi benda-benda yang ia bawa dari rumah, seperti beberapa buku dan peralatan mandi. Peralatan mandi? Untuk apa? Karena Junhoe adalah guru olahraga, tentu saja ia harus mandi setelah mengajar. Ya, di sekolah ini menyediakan kamar mandi umum untuk murid-murid yang ingin mandi setelah pelajaran olahraga.

Junhoe menata benda-benda itu (kecuali peralatan mandi, ia menaruh di dalam laci) di atas meja kerjanya dengan sangat rapi. Karena ia golongan darah A, semua harus serba perfeksionis.

"Goo saem!"

Orang yang dipanggil Goo saem itu membalikkan badannya.

"Ada apa Yang saem?"

"Bagaimana hari pertamamu?"

"Aku rasa aku memulainya dengan sangat baik."

"Jinjjayo? Tapi tadi aku melihat seorang siswi menangis saat pelajaranmu."

Junhoe menelan ludahnya. Apa ia terlalu keras? Apa ini berdampak buruk bagi karirnya? Tapi… hey! Junhoe hanya meminta siswi itu menghapus make up-nya, bukan menyuruhnya lompat dari lantai tiga atau semacamnya. Lagipula untuk apa kau memakai bedak saat pelajaran olahraga? Toh setelah itu wajahmu akan berkeringat.

"Aku hanya memintanya menghapus make up."

"Ah.. Keurae? Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku jadi kau. Keundae, kau harus lebih halus dalam mengajar. Aku tahu ini pertama kalinya kau menjadi guru, tetapi anak-anak tidak akan menghormatimu jika kau terlalu keras pada mereka."

Junhoe seperti mendapat tamparan keras. Betul perkataan Yang saem. Mungkin Junhoe terlalu galak pada mereka. Sepertinya ia perlu banyak belajar pada guru senior yang satu ini.

"Ne, aku mengerti. Terima kasih atas nasehatnya."

"Eo. Goo saem, apa kau mempunyai pacar? Kau tahu, kau sangat tampan, beberapa murid sudah ada yang menjadi penggemarmu."

"Eobseo-yo."

"Kalau gitu istri?"

"Aku tidak berniat menikah."

.

.

.

"Waaahhh….. Rumahmu sangat bersih, Yunhyeong-ah", kata Jiwon sambil melepas sepatunya di depan pintu.

"Apa kau sendiri yang membersihkannya?", Hanbin mengelilingi dapur. Ia terpukau dengan rumah Yunhyeong yang bersih, sangat bertolak belakang dengan rumahnya yang bahkan membutuhkan waktu setengah jam hanya untuk mencari kaus kaki.

Matanya berhenti pada sebuah laci yang agak terbuka. Hanbin menarik laci itu, dilihatnya bawang putih yang jumlahnya cukup banyak, lalu ia menutupnya. Hanbin tahu Yunhyeong bisa melihat arwah dan ia memakluminya. Hanbin bukan tipe orang yang memilih-milih teman dan ia tahu Yunhyeong membutuhkannya, seorang teman yang pengertian, seorang teman yang selalu ada untuknya.

"Kalian ingin minum apa?"

"Cola!"

Yunhyeong mengeluarkan beberapa cola dari kulkasnya, lalu ia berikan pada Hanbin dan Jiwon yang sedang duduk di sofa.

"Yunhyeong-ah, apa kau tinggal sendirian?", tanya Hanbin saat Yunhyeong memberikannya cola.

"Eo."

"Bagaimana dengan keluargamu?"

"Mereka tinggal di Jepang."

"Ah.. Apa kau tidak merasa kesepian?", tanya Jiwon.

"Tidak, selalu saja ada yang datang menemuiku."

Jiwon ingin bertanya lebih lanjut, tapi niat itu diurungkannya, ia tahu apa maksud Yunhyeong. Hanbin sudah memberitahunya, bahkan Hanbin sendiri yang mengajaknya berteman dengan Yunhyeong.

"Aku lapar. Yunhyeong-ah, buatkan kami makanan!", perintah Hanbin pada tuan rumah.

"Aiisshh….", Yunhyeong sedikit kesal pada tamunya yang satu ini. Dasar kurang ajar. Tetapi tak lama kemudian ia tersenyum, "apa kalian ingin mencicipi nasi goreng kimchi buatan chef Song?"

"Ne!"

.

.

.

"Yunhyeong-ah…"

"Eo?"

"Bagaimana kau bisa membuat makanan seenak ini?!", Jiwon memakan nasi goreng kimchi buatan Yunhyeong dengan lahap.

"Ini bahkan lebih enak dari buatan eomma-ku!", Hanbin sudah menghabiskan piring keduanya.

"Kau tahu, beberapa orang memang dilahirkan mempunyai kemampuan memasak diatas rata-rata", Yunhyeong menyombongkan diri. Ia memang suka memasak, bahkan ia pernah membuat resep makanan sendiri.

"Kau tinggal sendiran, kau mempunyai rumah yang bersih, kau juga jago memasak. Wahh… akan sangat menyenangkan jika kami menginap beberapa hari di sini", Jiwon meneguk minumannya.

"Andwae."

"Wae? Apa kau sering melakukan hal-hal negatif? Seperti menonton video porno mungkin?"

"Ani!"

"Apa karena pacarmu sering datang ke sini?", kata Hanbin sambil menyeringai.

"Aku tidak memiliki pacar."

"Jeongmal?"

"Jinjja-ya."

"Waahh… sangat disayangkan seorang Song Yunhyeong yang tampan dan jago memasak tidak memiliki pacar. Apa perlu aku carikan pacar untukmu?"

"Tidak usah repot-repot, Kim Hanbin-ssi."

"Kau suka orang yang bagaimana? Tampan atau lucu? Tua atau muda? Atau jangan-jangan…", Jiwon menyeringai, "seseorang yang seksi?"

"A-ani! K-kenapa aku menyukai orang yang seperti itu?!"

"Aku benar! Lihat! Wajahmu memerah Yunhyeong-ah!", Jiwon dan Hanbin tertawa puas. Wajah Yunhyeong sangat lucu.

Yunhyeong memegang pipinya yang terasa panas. Karena Jiwon berkata seperti itu, ia jadi membayangkan hal yang bukan-bukan.

"A-aku pernah diramal", kata Yunhyeong tiba-tiba. Ia berniat mengubah topik pembicaraan.

"Jinjja? Aku tidak menyangka kau menyukai hal-hal seperti itu", kata Hanbin.

"Apa hasilnya?", tanya Jiwon.

"Apa kau bertanya soal jodoh?", tanya Hanbin semangat. Sepertinya ia sangat tertarik dengan percintaan Yunhyeong.

"Eo. Peramal itu bilang jodohku adalah seorang namja yang berumur lebih tua dariku."

"Jangan-jangan…", Hanbin membelalakkan matanya.

"Mwo?"

"Jodohmu adalah seorang ahjussi berumur empatpuluh tahun yang tidak punya gigi?", Hanbin dan Jiwon tertawa terbahak-bahak.

"Aniya! Ya! Kenapa kalian senang sekali menghinaku?!", kata Yunhyeong jengkel. Pasangan ini sangat usil padanya.

"Kkkk… Mianhae. Ekspresimu sangat lucu. Kau diramal apa lagi?"

"Peramal itu bilang jodohku berada didekatku dan dia… ehem….", Yunhyeong pura-pura batuk, ia yakin wajahnya agak sedikit memerah, "dia sangat tampan."

"Yunhyeong-ah…", wajah Jiwon tiba-tiba berubah serius.

"Mwo?"

"Pedagang ubi bakar didekat rumahku berumur empat puluh tahun, dia belum menikah, tampan tetapi tidak punya gigi. Apakah dia jodohmu?"

"YA!"

.

.

.

Keesokkan harinya….

Yunhyeong memasuki kelas dengan mata pandanya. Bukan karena kemarin malam arwah-arwah itu datang lagi, tetapi karena Hanbin dan Jiwon main di rumahnya hingga malam. Ia bahkan baru membereskan buku tadi pagi.

"Wae? Kenapa dengan wajah kalian?"

"Ujian tengah semester….", Hanbin menidurkan kepalanya di meja Yunhyeong.

"Aku bahkan tidur saat pelajaran Yang saem kemarin", kata Jiwon lemas.

"Yunhyeong-ah, apa kau tidak khawatir?"

"Ya. Apa kau lupa? Dia masuk ranking sepuluh besar."

"Ah, golongan orang pintar", kata Hanbin sedikit mengejek.

"Kau mempunyai rumah yang bersih, jago memasak, kau juga pintar. Hah… betapa beruntungnya kau Song Yunhyeong."

"Aku tidak seberuntung yang kalian pikirkan", kata Yunhyeong pelan.

Jiwon dan Hanbin terdiam, sepertinya mereka salah bicara.

"Mian", ujar Jiwon pelan.

"Wae? Kenapa kau minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan padaku."

Mereka bertiga diam selama beberapa detik. Lalu tiba-tiba Hanbin berdiri.

"Ah! Aku lupa! Lee saem memanggilku setelah bel istirahat. Kalian tunggu di sini. Aku segera kembali", Hanbin berlari ke luar kelas. Jiwon tersenyum melihat kepergian Hanbin. Yunhyeong melihat Jiwon dengan tatapan aneh.

"Wae? Kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu?"

"Senyummu mengerikan", kata Yunhyeong dengan wajah seolah-olah sedang ketakutan.

"Aiisshh… Kau tidak pernah punya pacar, makanya kau seperti itu."

"Apa hubungannya?!"

"Tentu saja ada, tuan Song. Hidupmu akan jauh lebih menyenangkan jika kau memiliki pacar."

Yunhyeong menggelengkan kepalanya. Kenapa ia bisa berteman dengan orang aneh seperti Jiwon? "Aku ingin ke toilet."

.

.

.

Hanbin berlari ke ruang guru. Ia lupa tadi Lee saem memanggilnya.

"Saem, maafkan aku", kata Hanbin dengan napas terengah-engah.

"Kenapa kau lama sekali Kim Hanbin?"

"Maafkan aku."

"Ya sudah, kau bawakan ini ke kelas. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi."

"Ne saem."

Hanbin mengambil beberapa buku dan sebuah kotak pensil dari Lee saem, lalu ia keluar dari ruang guru.

.

.

.

Yunhyeong sedang berjalan menuju toilet di dekat ruang guru. Ia melihat Hanbin berjalan ke arah ruang kelas.

"Eo? Han-", Yunhyeong berniat memanggil Hanbin. Tetapi ia melihat sesuatu yang berjalan dibelakang Hanbin. Sosok kakek tua itu mengikuti Hanbin dari belakang. Sepertinya Yunhyeong belum pernah melihat kakek itu. Dari mana asalnya? Apa ia baru saja meninggal? Yunhyeong harus segera mengusir kakek itu, ia takut Hanbin kenapa-kenapa.

"Yunhyeong-ah…"

Yunhyeong membalikkan badan. Ternyata Kim saem yang memanggilnya.

"Annyeonghaseyo saem", Yunhyeong membungkukkan badan.

"Sedang apa kau di sini?"

"Aku hanya ingin ke toilet", kata Yunhyeong sambil menunjuk ke arah toilet.

"Yunhyeong-ah, aku harap kau tidak berkeliaran di sekitar ruang guru. Bukannya aku tidak menyukaimu, tapi kau kan tahu murid dilarang datang ke ruang guru pada hari-hari mendekati ujian."

"Ne saem. Kalau begitu aku pergi dulu", Yunhyeong berjalan ke arah toilet. Baru beberapa langkah, ia kembali menghampiri Kim saem. Ia harus memastikan sesuatu. "Umm… saem, apa saem bisa memberitahku yang mana Goo saem?", tanya Yunhyeong hati-hati.

Kim saem melihat meja kerja Junhoe dari luar ruang guru, "dia tidak ada di sini, sepertinya dia sedang ke toilet."

"Ah, kamsahamnida", Yunhyeong membungkukkan badannya lagi.

"Wae? Apa kau salah satu murid yang menyukainya?"

"Aku? Aniyo."

"Kenapa banyak sekali yang menanyakan Goo saem? Apa ia sebegitu terkenalnya?"

"Ne?"

"Aniya, aku sedang berbicara pada diriku sendiri. Kau tahu, Goo saem sangat terkenal dikalangan murid-murid. Apa kau belum pernah melihatnya?"

"Belum."

"Ah, itu Goo saem", Kim saem menunjuk sosok yang sedang berjalan ke arah mereka, "Goo saem, ada yang mencarimu", kata Kim saem pada Junhoe.

Junhoe mengarahkan matanya pada Yunhyeong, "wae?"

Yunhyeong segera menghampiri Junhoe. Dilihatnya Junhoe dari kepala sampai kaki. Agak mirip dengan orang yang dimaksudkan halmeoni. Ia hanya tinggal memastikan apakah Junhoe memiliki tanda lahir dibelakang kuping, tapi bagaimana caranya?

"Wae?", tanya Junhoe sekali lagi.

"A… aku…. Umm… Ah! Aku Song Yunhyeong, murid yang ijin saat pelajaran saem kemarin."

"Ahh… Song Yunhyeong… Keureom wae?", tanya Junhoe datar.

"A… aku… a….", Yunhyeong memutar otaknya. Ia harus segera mencari alasan yang masuk akal.

"Wae?!", Junhoe meninggikan suaranya.

Yunhyeong tersentak.

'Apakah anak ini hanya mencari alasan agar bertemu denganku? Seperti murid yang lain?', tanya Junhoe dalam hati. Ia kesal, selama beberapa detik, Yunhyeong hanya diam menunduk. Lalu Junhoe tiba-tiba sadar, ia ingat perkataan Yang saem bahwa ia tidak boleh terlalu keras pada murid.

Junhoe menghela napas, dipegangnya pundak Yunhyeong. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Yunhyeong, lalu berkata dengan sangat halus dan dengan sedikit senyum, "gwaenchana? Aku dengar kau sakit."

Yunhyeong mendongakkan kepalanya, ditatapnya mata Junhoe selama beberapa detik. 'Tampan….'

"Ya! Apa yang sedang kalian lakukan?", suara Kim saem membuat Yunhyeong mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia salah tingkah. Sementara Junhoe melepaskan tangannya dari pundak Yunhyeong.

"Yunhyeong-ah, kau jangan terpesona padanya. Goo saem tidak berencana menikah. Kau jangan berharap banyak padanya", kata Kim saem sambil masuk ke ruang guru.

'Mwoo?! Tidak berencana menikah?!' Lalu bagaimana dengannya?! Halmeoni berkata ia harus menjaga Junhoe sampai Junhoe mendapatkan pendamping hidup. Tapi apa ini?! Junhoe tidak akan menikah?!

Yunhyeong memegang lengan Junhoe (karena ia lebih pendek), lalu berkata dengan lantang tanpa jeda, "SAEMKENAPAKAUTIDAKINGIN MENIKAH?! KAUHARUSMENIKAH! HARUS! AKUINGINKAUMENIKAHAKU-"

Junhoe mengerutkan dahinya, "apa kau baru saja melamarku?"

.

.

.

TBC

Hai hai^^

Tbc dengan nista hehehe….

Bagaimana chapter ini? Saya tidak menyangka respon Let's Talk About Ghosts sangat bagus! Terima kasih atas reviewnya!^^

Double B moment? Saya usahakan chapter depan. Oh iya, saya punya firasat ff ini akan berumur panjang karena saya sudah pikirkan endingnya! Terus juga ada member yang belum saya munculin, tunggu ya…

Next project saya adalah bikin ff YOU full version! Itu untuk menjawab pertanyaan para readers YOU & YOU: FOUND ME karena saya bikin endingnya ngegantung ehehehe…

Ff JiDong couple? Gidarryeo…

Dah, sekian dari saya…

Review juseyo^^