LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

Yunhyeong memegang lengan Junhoe (karena ia lebih pendek), lalu berkata dengan lantang tanpa jeda, "SAEMKENAPAKAUTIDAKINGIN MENIKAH?! KAUHARUSMENIKAH! HARUS! AKUINGINKAUMENIKAHAKU-"

Junhoe mengerutkan dahinya, "apa kau baru saja melamarku?"

.

.

.

"N-ne?" Yunhyeong memandang orang di depannya dengan wajah bingung.

Junhoe memegang tangan Yunhyeong yang ada dipundaknya lalu menghempaskannya. "Aku bertanya apakah kau baru saja melamarku?" Junhoe memasang wajah datarnya. Ternyata Yunhyeong sama saja seperti murid lain yang mencari perhatiannya. Apakah ini cara anak jaman sekarang menyatakan perasaan mereka? Dengan cara melamar orang yang mereka suka? Aigoo… Junhoe menunggu jawaban Yunhyeong yang sekarang sedang terdiam menunduk.

"Ya Song Yunhyeong. Apakah kau menyukaiku?"

"Aniyo!" Jawab Yunhyeong tegas. Percaya diri sekali orang ini.

"Lalu kenapa kau ingin sekali aku menikah?"

Yunhyeong memutar bola matanya, ia sedang mencari alasan yang tepat. Apa yang harus ia bilang pada Junhoe? 'Nenekmu ingin kau menikah.' Tentu saja itu bukan alasan yang bagus. Junhoe tidak akan percaya, lagipula nanti Yunhyeong bisa dianggap anak aneh.

"Dengarkan aku, aku sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan. Aku juga tidak tertarik dengan orang sepertimu. Arraseo?"

Yunhyeong menghela napas, baru pertama kali dia bertemu dengan orang yang terlalu percaya diri seperti Junhoe. "Saem, aku juga tidak tertarik pada orang seperti saem, jadi saem tidak usah khawatir."

Junhoe menganggukkan kepala tanda mengerti, tetapi ekspresinya seperti 'aku-tidak-percaya-padamu.'

"Tapi kenapa saem tidak ingin menikah? Apa saem tidak ingin memiliki keluarga sendiri? Apa saem tidak ingin memiliki anak?" Yunhyeong tidak bisa tinggal diam. Bagaimanapun Junhoe harus menikah suatu hari nanti. Kalau bisa secepatnya agar pekerjaannya lebih mudah. Yunhyeong tidak mau seumur hidupnya menjaga orang menyebalkan seperti Junhoe. Lebih baik ia pergi ke pemakaman.

"Apakah itu urusanmu?" Junhoe memasang wajah malasnya.

Yunhyeong terdiam, "A-aniyo. Aku hanya memberi saran, ya, hanya sekedar saran."

"Apa kau sudah selesai dengan saranmu itu? Aku sedang sibuk," kata Junhoe dengan tujuan mengusir Yunhyeong.

"Ne…. Kalau begitu aku pergi dulu." Yunhyeong membungkukkan badannya dan berjalan menuju ruang kelas dengan wajah melas.

Junhoe melihat Yunhyeong dari belakang dengan tatapan heran, "Mwo-ya? Bahkan Eomma tidak memaksaku menikah." Junhoe lalu masuk ke ruang guru.

Kim saem menghampiri Junhoe dan memberikannya segelas kopi. "Jja…."

"Kamsahamnida." Junhoe menerima dengan kedua tangannya.

"Kenapa Yunhyeong mencarimu?" Kim saem meneguk minumannya.

"Ia hanya memperkenalkan dirinya. Kemarin ia tidak mengikuti pelajaranku karena sakit."

"Ah, keurae... Tidak biasanya ia mengobrol dengan orang lain. Yunhyeong adalah salah satu siswa yang sangat pendiam. Bahkan aku baru pertama kali mendengar suaranya. Ia juga tidak memiliki teman, kau tahu kenapa?"

Junhoe menggelengkan kepala, ia menyeruput minumannya.

"Ada rumor yang beredar, katanya ia bisa melihat arwah," kata Kim Saem sambil berbisik.

"Jinjjayo?" Junhoe sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan seperti itu.

"Eo. Tetapi itu hanya rumor, aku tidak tahu benar atau tidak. Keundae, apa kau tidak takut Goo saem?"

"Takut? Pada arwah?"

"Eo."

"Kim saem, aku tidak percaya pada hal konyol seperti itu."

.

.

.

Bel masuk sudah berbunyi, sekarang Lee saem sedang mengajar. Jika murid yang lain sedang mencatat, Yunhyeong malah sedang termenung, ada sesuatu yang dipikirkannya.

Ternyata memenuhi permintaan halmoeni tidak semudah yang ia pikirkan, apa lagi Junhoe tidak berniat menikah. Ah... Sangat sulit… Tunggu. Bisa saja Junhoe bukan Goo Junhoe yang dimaksudkan halmeoni. Lagipula Yunhyeong belum mengecek apakah namja itu memiliki tanda lahir dibelakang kuping atau tidak. Benar, halmeoni adalah orang yang baik, tidak mungkin memiliki cucu menyebalkan seperti Junhoe. Tapi bagaimana jika Junhoe orang yang dia cari?

"Haahh…. Menyebalkan…."

"Kau kenapa Song Yunhyeong?"

Yunhyeong menegakkan kepalanya. Ternyata Lee saem yang bertanya padanya. Yunhyeong melihat hampir seluruh murid yang ada di kelas sedang melihat ke arahnya.

"Apa kau tidak menyukai pelajaranku?"

"A-aniyo saem."

.

.

.

'Hah.. Memalukan…' Yunhyeong memasuki toilet sambil mengutuk dirinya sendiri. Hampir saja ia dihukum Lee saem. Hari ini Yunhyeong sudah dibuat sakit kepala karena memikirkan Junhoe sampai-sampai ia tidak fokus belajar. Namja blonde itu terlalu menyita perhatiannya. Yunhyeong membuka keran air lalu membasuh wajahnya. Air yang terasa dingin membuatnya sedikit lebih segar.

'Kreeettt…..' Suara pintu toilet terbuka. Yunhyeong terdiam sejenak. Ia menunggu selama beberapa detik, tetapi tidak ada orang yang keluar dari bilik tersebut.

"Jogiyo…" Perlahan Yunhyeong mendekati bilik itu. Tidak ada jawaban. Jika ia tidak salah….

"Hihihihi…." Terdengar suara tawa. Kakek tua itu keluar dari bilik toilet. Yunhyeong mundur beberapa langkah.

"Oh, haksaeng (*siswa)!" Kakek itu tidak seseram yang Yunhyeong pikirkan. Wajahnya berseri dengan senyum di bibirnya dan badannya bongkok.

"Ha-harabeoji…. Sedang apa disini?" Yunhyeong bertanya dengan nada agak ceria. Ia sudah pernah menemui arwah seperti ini. Arwah ini tidaklah menakutkan, hanya selalu menyusahkan orang lain saja. Tipe arwah yang suka menjahili manusia.

"Aku? Aku sedang bermain dengan benda ini." Kakek itu menunjukkan sebuah benda yang mirip dengan flashdisk.

"Ah… Begitu…" Yunhyeong sedikit heran bagaimana kakek itu bisa mempunyai flashdisk.

"Eo? Kau memiliki daya tarik yang kuat. Apa kau orang yang selalu dicari arwah-arwah penasaran?"

"Kurasa begitu…"

"Wah, ternyata kau juga memiliki pelindung! Yaaa…. Kau sedikit beruntung, tetapi itu tidak dapat menyelamatkanmu. Kau harus berhati-hati, musuh sedang mengawasimu."

"Musuh?"

"Kau akan tahu maksudku suatu hari nanti. Jja! Aku pergi dulu!" Setelah berkata seperti itu, kakek tua itu menghilang dari pandangan Yunhyeong. Sedangkan Yunhyeong hanya terdiam di tempatnya. Musuh? Siapa yang dimaksud kakek itu?

Tak berapa lama kemudian terdengar langkah kaki masuk ke dalam toilet.

"Kkamjagiya!" Junhoe membelalakkan matanya, hampir saja jantung keluar dari tubuhnya.

"Saem…." Yunhyeong juga terkejut dengan kedatangan Junhoe. Junhoe memakai kaos putih polos yang tipis sehingga badannya yang 'agak' sixpack itu sedikit terlihat. Junhoe juga menggunakkan celana jeans hitam. Jika berpakaian seperti ini ia tidak terlihat seperti guru. Mata Yunhyeong mengarah pada tangan Junhoe yang sedang memegang resleting celana, sepertinya Junhoe ingin buang air kecil.

Junhoe mengikuti arah pandang Yunhyeong dan segera menjauhkan tangannya, "Ya! Apa yang kau lihat?!"

"A-aku tidak lihat apa-apa!" Yunhyeong segera melempar pandangannya ke arah lain.

Junhoe menatap Yunhyeong sinis lalu segera buang air kecil, sedangkan Yunhyeong masih diam di tempatnya.

Ada apa dengan Yunhyeong? Kenapa Junhoe terlihat sangat seksi hari ini? Yunhyeong menggelengkan kepalanya. 'Sadarlah Yunhyeong, dia itu gurumu! Dan lihat sifatnya yang menyebalkan tadi, ia hanya akan membuatmu kesal.'

'Apa yang harus kulakukan agar Goo saem mengubah pikirannya? Haruskah aku mengenalkannya pada seseorang? Atau kencan buta mungkin? Ah! Betul! Kencan buta!' Yunhyeong tersenyum dan bangga akan dirinya yang memiliki ide cemerlang seperti itu. Ia harus segera merencanakan kencan buta untuk Junhoe. Sekarang Yunhyeong merasa ia seperti agen biro jodoh untuk Junhoe.

Junhoe melirik Yunhyeong yang sedang berdiri di depan bilik paling ujung. "Ya. Sedang apa kau di sana sambil tersenyum? Mencurigakan."

"Ne?"

"Apakah kau sedang menungguku?" Junhoe berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya.

"Tentu saja tidak! Kenapa aku harus menunggu saem?!" Tanya Yunhyeong sewot, menyebalkan.

Junhoe memandang Yunhyeong dengan tatapan aneh, "Aku hanya bertanya padamu, kenapa kau begitu marah?"

"Mianhaeyo," cicit Yunhyeong. Akhir-akhir ini dia agak sensitif. "Saem, apa kau ingin berkencan?" Tanya Yunhyeong dengan nada ceria.

Junhoe terdiam beberapa saat lalu berjalan mendekati Yunhyeong perlahan, sedangkan Yunhyeong mundur beberapa langkah sampai menabrak tembok yang ada di belakangnya. Junhoe menaruh tangannya di tembok, tepat di samping wajah Yunhyeong dan mendekatkan wajahnya

Yunhyeong membelalakkan matanya. Wajah Junhoe terlalu dekat, bahkan nafasnya terasa di pipi Yunhyeong. Bola mata Yunhyeong bergerak ke arah leher Junhoe, putih dan mulus dan ohh… dadanya yang bidang…

"Kau sangat aneh. Jelas-jelas kau tertarik padaku, tetapi kau tidak mau mengakuinya."

Yunhyeong menundukkan kepalanya dan saat melihat ke bawah, jantungnya berdebar kencang, pipinya terasa panas.

"Aiigoo… Apa kau malu?" Tanya Junhoe sambil menyeringai.

"S-saem, resletingmu terbuka…"

.

.

.

Yunhyeong berlari menuju kelas sambil memegang pipinya yang panas. Ia langsung kabur begitu Junhoe yang panik membetulkan resletingnya. Apa yang ia lihat? Tentu saja underware Junhoe yang berwarna putih, memangnya apa yang Yunhyeong harapkan?

Saat Yunhyeong melewati ruang guru, ia melihat murid-murid bergerombol di depan ruang guru.

"Apa kau masih belum mengaku juga?!"

"Saem, aku benar-benar tidak mengambil flashdisk itu!"

'Eo? Bukankah itu suara Hanbin?' Yunhyeong menerobos mendekat ke jendela. Dilihatnya Hanbin dan Jiwon sedang beradu argumen dengan Lee saem.

"Lalu siapa yang mengambilnya?! Hantu?! Katakan padaku dimana kau menyimpannya?!"

"Aku tidak tahu! Saem bahkan tidak punya bukti bahwa aku yang mengambil flashdisk itu!"

"Kau orang terakhir yang memegang kotak pensilku! Sudah pasti kau yang mengambilnya!"

"AKU TIDAK MENGAMBILNYA!"

Plaaakkk!

"Omo…." Terdengar suara murid yang lain dari luar. Lee saem menampar Hanbin cukup keras. Yunhyeong membelalakkan matanya, Hanbin pasti sangat kesakitan.

"Saem! Kau seharusnya tidak melakukan itu!" Jiwon meluapkan emosinya.

"Diam kau!" Kata Lee saem pada Jiwon. "Dengar Kim Hanbin! Mulai sekarang kau diskors sampai ujian selesai!"

.

.

.

"Hiks... Hiks…." Hanbin menangis sambil memegang pipinya.

"Gwaenchana." Jiwon memeluk Hanbin dengan erat. Mendengar Hanbin menangis membuat hatinya sakit.

"Aku benar-benar tidak mengambilnya… Hiks…"

"Arra… Aku tahu kau tidak mungkin berbuat seperti itu." Jiwon mengecup dahi Hanbin, ia berusaha menenangkan pacarnya.

Yunhyeong melihat mereka dari kejauhan. Saat ini sudah waktunya pulang sekolah. Jiwon membawa Hanbin ke auditorium yang sepi dengan tujuan menenangkan Hanbin. Jiwon meminta Yunhyeong tidak mengikuti mereka dan Yunhyeong memakluminya.

Hanbin dituduh mencuri flasdisk Lee saem yang berisi soal-soal ujian, karena Hanbin yang terakhir memegang kotak pensil Lee saem. Yunhyeong merasa sedih melihat Hanbin seperti itu. Ia tahu Hanbin tidak mungkin melakukannya, pasti ada salah paham. Ia marah kepada Lee saem karena memperlakukan sahabatnya seperti itu. Tetapi ia juga tidak bisa membela Hanbin, karena ia tidak tahu kejadian sebenarnya.

"Yunhyeong-ah…." Suara serak Hanbin membuyarkan lamunan Yunhyeong.

"Hanbin-ah…." Yunhyeong melihat Hanbin sudah berhenti menangis. Matanya sembab dan masih ada bekas tamparan di pipinya.

"Apakah itu sakit?"

Hanbin memegang pipinya dan berusaha tersenyum, "Gwaenchana, ini tidak sakit. Yunhyeong-ah, kau jangan merindukanku eo?"

Yunhyeong terdiam. Hanbin diskors sampai ujian selesai, berarti dua minggu lagi Hanbin baru akan masuk sekolah, bukan waktu yang singkat.

"Eo? Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kau terlihat sedih? Yoyo-ah, kalau kau merindukanku kau bisa datang ke rumahku, aku akan memasakanmu makanan. Ya walaupun tidak seenak makanan buatanmu."

Yunhyeong tersenyum, ia tahu Hanbin berusaha menghiburnya.

"Sampai jumpa." Hanbin memeluk Yunhyeong dengan erat.

.

.

.

Sudah tiga hari sejak Hanbin diskors. Yunhyeong merasa dirinya seperti dulu. Kesepian. Jiwon tetap menemaninya dan mengajaknya makan bersama, tetapi sahabatnya yang satu itu tidak seceria dulu. Jiwon lebih banyak diam.

Yunhyeong merasa ia teman yang tidak berguna. Di saat temannya sedang kesusahan tidak ada yang bisa ia lakukan. Setiap hari ia menghubungi Hanbin dan Hanbin dengan ceria menceritakan tentang kejadian yang dialaminya. Walaupun begitu, Yunhyeong tahu Hanbin hanya berpura-pura senang dan hal itu membuatnya sakit.

Hari sudah mulai malam. Yunhyeong melangkahkan kakinya ke pintu gerbang sekolah, ia baru akan pulang ke rumah. Jiwon sudah pulang terlebih dahulu, ia bilang ada yang harus ia lakukan.

"Aww!" Yunhyeong memegang dahinya. Ia melamun hingga tidak melihat tiang di depannya.

"Apa kau tidak menggunakan matamu?"

Yunhyeong membalikkan badan dan ia melihat Junhoe berada dibelakangnya.

"Saem…."

"Wae?"

"Kenapa kau masih ada di sini?"

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu."

'S-saem, resletingmu terbuka…'

"Aisshh…." Tiba-tiba Junhoe ingat kejadian memalukan itu. Karena kejadian itu, Junhoe selalu mengecek celana setiap saat dan ia jadi malu sendiri ketika bertemu dengan Yunhyeong.

Junhoe berjalan mendahului Yunhyeong. Lalu tak berapa lama kemudian dia berhenti, ia sadar Yunhyeong masih diam di tempatnya.

"Ya, apa kau tidak ingin pulang?"

Yunhyeong menundukan wajahnya, "Hiks… Hiks…."

"Mwo-ya? Apa kau menangis?"

"Hiks…. Hiks…."

"Gwaenchana? Apa dahimu terluka?" Junhoe mendekati Yunhyeong. Ia sedikit menundukan kepalanya agar sejajar dengan wajah Yunhyeong.

"Aku bukan teman yang baik… Hiks…. Temanku sedang kesusahan dan aku tidak melakukan apapun…. Aku bahkan tidak berusaha menghiburnya…. Dia juga bersikap seolah-olah dia baik-baik saja…"

Junhoe terdiam, sebetulnya ia tidak terlalu peduli. Junhoe tahu siapa yang Yunhyeong maksud. Kejadian Hanbin yang dituduh mencuri flashdisk menggemparkan sekolah. "Aku tahu siapa yang kau maksud. Kau harus percaya pada temanmu, ia pasti bisa melewatinya. Dia juga bersikap seperti itu karena tidak ingin membuatmu sedih", kata Junhoe dengan wajah datarnya.

Yunhyeong menatap Junhoe dengan penuh harap, "Benarkah?"

"Eo."

Yunhyeong menghapus air matanya, sekarang ia sudah mulai tenang. "Gomawo-yo ,saem."

"Mwo?"

"Terima kasih sudah menghiburku."

Junhoe menghela napas, "Aku bahkan tidak berniat menghiburmu. Jja.. Ayo pulang, sebentar lagi gerbang akan di kunci." Junhoe berjalan terlebih dahulu.

Yunhyeong baru berjalan beberapa langkah saat ia melihat arwah kakek itu memasuki sekolah. Tiba-tiba ia teringat kakek itu yang sedang memegang flashdisk beberapa hari yang lalu. Pasti kakek itu yang mencurinya! Yunhyeong berlari ke gedung sekolah dengan sekuat tenaga sebelum kakek itu menghilang.

Junhoe menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya. Dilihatnya Yunhyeong berlari ke pintu masuk. "YA! Song Yunhyeong! Sebentar lagi gerbang akan ditutup! Apa kau ingin menginap di sekolah?!" Tentu saja Yunhyeong tidak mendengar suara Junhoe.

"Ah, molla!" Junhoe melanjutkan langkahnya menuju gerbang sekolah. Baru beberapa langkah Junhoe berhenti. "Aiiisshhh….." Lalu ia berlari ke dalam sekolah.

.

.

.

Yunhyeong mengejar kakek itu sampai ke lantai tiga, dekat ruang guru. Lalu tiba-tiba kakek itu berhenti, Yunhyeong juga berhenti, ia mengatur nafasnya.

"Haksaeng, kenapa kau mengikutiku?" Kakek itu mendekati Yunhyeong.

"Ha… Harabeoji… Apa… Apa… Kau flashdisk itu… ada padamu?" Yunhyeong masih berusaha mengatur nafasnya.

"Maksudmu ini?" Kakek itu menunjukkan flashdisk yang sedang dipegangnya pada Yunhyeong.

"Ne… Juseyo…."

"Kenapa aku harus memberikannya padamu?" Kata kakek itu dengan wajah jahilnya.

"Aku membutuhkan itu… Temanku mengalami kesulitan karena kau mengambil flashdisk itu… Aku mohon berikan padaku…" Yunhyeong memohon pada kakek itu. Hanya ini satu-satunya cara yang dapat dilakukannya untuk membantu Hanbin.

"Song Yunhyeong! Kau berbicara dengan siapa?" Kata Junhoe yang berada di belakang Yunhyeong.

.

.

.

TBC

Hai hai^^

Saya sudah update! Maaf ya kalo chapter ini kurang menarik dan aneh…

Terima kasih kepada yang sudah mereview!

Saya tidak menyangka responnya bagus^^

Mesem-mesem sendiri pas adegan di toilet *pasang muka mesum* *ini serius*

Saya nulis ff ini sambil mendengarkan lagu What's Wrong, di MV-nya June terlalu ganteng… Saya hampir mimisan…

IF YOU EVER LOVED SOMEBODY SAY YEAAHHH... *grepe-grepe June*

Maaf saya terlalu hiper...

Yosss…. Sekian dari saya *kecup basah*

Review juseyo^^