LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Jung Chanwoo

Kim Hanbin

Kim Jiwon

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Aku membutuhkan itu… Temanku mengalami kesulitan karena kau mengambil flashdisk itu… Aku mohon berikan padaku…" Yunhyeong memohon pada kakek itu. Hanya ini satu-satunya cara yang dapat dilakukannya untuk membantu Hanbin.

"Song Yunhyeong! Kau berbicara dengan siapa?" Kata Junhoe yang berada di belakang Yunhyeong.

.

.

.

"S-saem…" Yunhyeong yang kaget dengan kedatangan Junhoe segera menengok ke belakang. Dilihatnya Junhoe sedang membungkukkan badan, mengatur napasnya.

"Kau…. harus segera keluar dari sini. Sebentar lagi gerbang akan ditutup." Kata June dengan napas terengah-engah.

"T-tapi…" Yunhyeong kembali menoleh ke depan. Rupanya kakek itu sudah menghilang.

Junhoe menghampiri Yunhyeong yang hanya berjarak beberapa meter di depannya. "Ayo. Aku tidak ingin menginap di sini."

"Tunggu!"

"Mwo? Apa kau sedang mencari sesuatu?"

Yunhyeong tidak menjawab pertanyaan Junhoe. Ia mengedarkan pandangannya ke lantai. Siapa tahu kakek itu menjatuhkan…. "Flashdisk!"

"Eo?"

"Apa itu flashdisk Lee saem?" Yunhyeong menunjuk benda yang tergeletak di dekat pintu ruang guru itu.

Junhoe mengambil flashdisk itu dan mengamatinya. "Eo. Kau benar. Tapi kenapa bisa ada di sini?"

"Mungkin Lee saem tidak sengaja menjatuhkannya. Berarti Hanbin tidak mencurinya, saem!"

Junhoe menganggukkan kepala. "Aku akan mengembalikannya." Ia memasukkan flashdisk itu ke dalam tasnya.

"Saem…"

"Mwo?"

"Apa besok Hanbin bisa kembali ke sekolah?" Tanya Yunhyeong penuh harap.

Junhoe terdiam sebentar. "Dia boleh masuk besok. Aku akan membicarakannya pada Lee saem."

"Hiks…." Yunhyeong menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Ya! Apa kau menangis lagi? Kenapa kau begitu cengeng?!" Kata Junhoe kesal.

"Hiks… Akhirnya…. Akhirnya Hanbin bisa kembali sekolah…. Hiks… Aku sangat bahagia, saem…" Yunhyeong tersenyum, ia menghapus air matanya.

Junhoe menghela napas. "Sudahlah. Ayo pulang."

"Ne!" Kata Yunhyeong dengan semangat. Karena terlalu semangat, ia tidak sadar ia menggenggam tangan Junhoe.

Yunhyeong berjalan terlebih dulu, sedangkan Junhoe masih diam di tempatnya. Karena Junhoe tidak bergerak, otomatis Yunhyeong juga menghentikan langkahnya.

"Waeyo, saem?" Tanya Yunhyeong sambil memiringkan kepalanya.

Junhoe menarik tangan Yunhyeong cukup kuat sehingga pemilik tangan itu ikut tertarik. Sekarang wajah mereka berdekatan.

"W-waeyo?" Tanya Yunhyeong gugup.

"Lepaskan tanganmu." Kata Junhoe datar. "Jangan mencuri-curi kesempatan saat bersamaku."

Yunhyeong memandang Junhoe dengan mulut sedikit terbuka. Astaga…. Betapa menyebalkan orang yang berdiri di depannya ini. Yunhyeong melepaskan genggamannya, lalu memijat pelipisnya. Tingkah laku Junhoe membuatnya sakit kepala.

"Terserah kau saja." Yunhyeong berjalan terlebih dahulu.

Junhoe masih diam di tempatnya, dipandangnya punggung Yunhyeong yang mulai menjauh. Lalu ia melihat tangannya yang tadi dipegang Yunhyeong.

"Hangat…."

.

.

.

Yunhyeong berdiri di halte sambil menggosokkan lengannya. Malam ini udara sangat dingin. Jaket yang ia pakai terlalu tipis. Ia melirik Junhoe yang sedang berdiri di sebelahnya. Junhoe memakai jaket yang cukup tebal dan juga scarf.

Junhoe yang merasa diperhatikan, menolehkan pandangannya ke Yunhyeong. Dilihat Yunhyeong sedang memegang lengannya.

"Apa kau kedinginan?"

"Ne."

Junhoe memegang scarfnya, lalu ia kembali melihat Yunhyeong yang sekarang sedang melihatnya dengan mata penuh harap. "Apa kau berharap aku akan meminjamkan ini padamu?" Katanya datar.

Yunhyeong membelalakkan matanya. "Aniyo! Aku tidak mengharapkan itu!" Kata Yunhyeong jengkel.

Junhoe tersenyum melihat reaksi Yunhyeong. Ia melepas scarf yang melilit lehernya lalu memberikannya pada Yunhyeong. "Ini."

Yunhyeong melirik Junhoe dengan tatapan sinis. "Tidak usah. Aku sudah tidak kedinginan." Lalu ia melemparkan pandangannya ke arah lain. Terus melihat Junhoe bisa membuat kesehatannya memburuk.

Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak Yunhyeong. Yunhyeong menolehkan kepalanya. Junhoe mengalungkan scarf di lehernya.

"Aku hanya bercanda. Kenapa kau begitu sensitif?" Kata Junhoe pelan.

Yunhyeong memandang Junhoe selama beberapa detik. Wajah Junhoe seolah menghipnotisnya. "G-gomawoyo."

"Tidak usah berterima kasih. Lagipula aku tidak meminjamkannya padamu."

"Ne?"

"Per hari biayanya lima ribu won."

"Saem!"

.

.

.

Yunhyeong duduk di dekat jendela. Diperhatikannya jalanan kota Seoul yang sudah mulai sepi. Yunhyeong tersenyum. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah dan memberitahu Hanbin kabar bahagia ini. Hanbin sudah sangat baik padanya. Di saat teman-temannya yang lain menjauhinya, Hanbin malah mengajaknya berteman, begitu juga dengan Jiwon. Betapa beruntungnya Yunhyeong memiliki teman seperti mereka.

"Kau turun dimana?" Tanya Junhoe yang sedang duduk di samping Yunhyeong.

"Dua halte lagi. Saem?"

"Aku turun di halte berikutnya."

"Ah…." Yunhyeong kembali melihat ke luar jendela. 'Aku meminta kau menjaga cucu kesayanganku.' Tiba-tiba Yunhyeong mengingat perkataan halmeoni waktu itu. Menjaga? Apa itu juga berarti ia harus memastikan Junhoe sampai di rumahnya dengan selamat?

Bus berhenti. Junhoe segera berdiri. "Jja.. Aku turun dulu. Sampai jumpa besok."

Yunhyeong melihat Junhoe keluar dari bus. Apa ia harus mengikuti Junhoe? Beberapa detik kemudian pintu bus tertutup. "Ahjussi! Aku ingin turun!"

Yunhyeong segera turun dari bus. Ia mengikuti Junhoe dari belakang dengan pelan-pelan. 'Aku hanya memastikannya sampai di rumah, setelah itu aku akan pulang menggunakan bus berikutnya.'

Ternyata jalan yang dilalui Junhoe cukup sepi. Yunhyeong berjalan beberapa meter di belakang Junhoe. Tiba-tiba Junhoe berhenti. Yunhyeong juga berhenti, dengan panik ia bersembunyi di belakang pohon yang berada di dekatnya.

Yunhyeong mengintip Junhoe yang sekarang sedang menoleh ke belakang. Ia menghela napas lega. Untung saja ia cepat bersembunyi. Tetapi kemudian jantungnya berdegup kencang. Junhoe berjalan menghampiri pohon tempat ia bersembunyi.

Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sesosok arwah sedang memperhatikan Yunhyeong. Yunhyeong membelalakkan matanya, arwah itu mendekatinya. Sekarang ia terjebak, arwah itu dan juga Junhoe sedang berjalan ke arahnya.

"Husss! Pergilah! Aku sedang sibuk!" Bisik Junhoe pada arwah itu. Tetapi arwah itu terus mendekatinya. Dengan terpaksa Yunhyeong mengambil segenggam garam dari tasnya lalu melemparkannya pada arwah itu. Arwah itu berteriak kesakitan lalu menghilang.

"Apa kau stalker?"

"Kkamjagiya!" Yunhyeong terjatuh ke belakang.

Junhoe sedang berdiri di depannya dengan tatapan penuh curiga. "Kenapa kau mengikutiku?"

Yunhyeong segera berdiri. Sekarang ia tertangkap basah. "A-aku hanya ingin memastikan saem sampai di rumah dengan selamat." Katanya pelan.

Junhoe mengerutkan dahinya. "Kenapa kau berbuat sampai sejauh ini? Memangnya aku anak kecil?"

"A-aniyo."

"Sudahlah. Kau harus segera pulang. Hari sudah semakin malam."

"Ne. Kalau begitu aku pulang dulu." Yunhyeong membungkukkan badannya dan berjalan ke halte dengan terburu-buru.

.

.

.

Yunhyeong sampai di rumah pukul sembilan malam. Setelah membuka sepatu, ia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Hari ini sangat melelahkan.

"Hanbin…" Yunhyeong mengingat hal pertama yang harus ia lakukan jika sampai di rumah. Ia mengambil handphonenya dan menekan nomor satu. Ya, Kim Hanbin adalah orang yang ada di daftar panggilan cepat Yunhyeong.

"Yoyo-ah~" Suara Hanbin terdengar dari seberang.

"Hanbin-ah..."

"Aku sedang membuat nasi goreng kimchi seperti yang kau buatkan untukku! Ya… Walaupun sedikit gosong…"

"Keurae? Kau tidak akan pernah bisa membuat makanan enak seperti yang aku buat."

"Cih, dasar sombong."

"Kkk…. Hanbin-ah, aku ada kabar baik untukmu."

"Mwo? Apa itu? Apa kau akan membuatkanku makanan lagi?"

"Ani. Flashdisk Lee saem sudah ditemukan. Besok kau boleh ke sekolah."

"Jinjja?! Besok aku bisa kembali ke sekolah?!" Tanya Hanbin girang.

"Eo. Sampai bertemu besok. Jangan terlambat eo?"

"Eo! Besok aku akan datang lebih pagi! Sampai jumpa besok!"

Yunhyeong menjauhkan handphone dari telinganya. Ia sangat senang mendengar suara Hanbin. Tangannya beralih memegang scarf yang Junhoe berikan, sangat nyaman dan hangat. Scarf itu memiliki aroma yang sama seperti aroma tubuh Junhoe, membuat Yunhyeong terus mengingat namja yang berstatus gurunya itu.

.

.

.

"Ting tong! Ting tong ting tong!"

"Aiisshhh! Siapa yang datang pagi-pagi begini?!" Yunhyeong bangun dari tempat tidur dengan penuh rasa jengkel. Hei! Ini baru jam setengah enam pagi! Sekolah dimulai pukul delapan!

Yunhyeong menyeret tubuhnya ke depan pintu. "Nuguseyo?" Begitu ia buka pintu, terlihat wajah Jiwon dan Hanbin yang sedang tersenyum lebar.

"Good morning, chinguya~~"

"Selamat pagi Song Yunhyeong!"

Yunhyeong melihat kedua temannya itu dengan tatapan horor. "Sedang apa kalian di sini?!"

"Kami ingin minta sarapan."

"Aku ingin makan nasi goreng kimchi buatanmu!"

Yunhyeong terdiam sebentar. Ia berniat menutup pintu, tapi Jiwon menghalanginya.

"Ya! Apa kau berpura-pura tidak melihat kami?" Tanya Jiwon kesal.

"Biarkan kami masuk!" Hanbin dan Jiwon menerobos masuk. Mereka dengan kompak mendorong si tuan rumah.

Hanbin mengobrak-abrik dapur Yunhyeong. "Ya! Apa kau tidak punya susu coklat?"

"Ada di kulkas." Kata Yunhyeong pasrah.

.

.

.

"Wah… Yeoksi… Sarapan di rumah Yunhyeong memang pilihan yang baik." Kata Jiwon sambil memasukkan sendok berisi nasi goreng kimchi ke dalam mulutnya.

"Kenapa kalian datang pagi sekali?" Tanya Yunhyeong yang juga sedang memakan nasi goreng kimchi.

"Ini sebagai perayaan kembalinya aku ke sekolah." Kata Hanbin girang.

"Kau sebut ini perayaan? Dengan cara membangunkan orang untuk membuatkanmu makanan?" Tanya Yunhyeong sinis.

"Ya… Mianhae… Sebenarnya kami hanya ingin berangkat ke sekolah bersamamu. Tapi Hanbin bilang ia ingin memakan nasi goreng kimchi buatanmu."

"Maja. Yunhyeong-ah, siapa yang menemukan flashdisk itu?"

Yunhyeong menghentikan makannya. Apa yang harus dikatakannya pada Hanbin?

"Goo saem yang menemukannya. Benda itu terjatuh ditemukan di depan ruang guru. Mungkin Lee saem tidak sengaja menjatuhkannya." Bohong Yunhyeong. Mana mungkin ia bilang flashdisk itu dicuri arwah kakek-kakek jahil?

"Goo saem?"

"Eo. Sudahlah tidak usah dipikirkan. Kau sudah terbukti tidak bersalah. Nanti saat tiba di sekolah kau harus bertemu dengan Goo saem, dia yang akan membantumu."

"Arraseo. Aku tidak menyangka ternyata Goo saem orang yang baik. Aku kira dia orang yang harus dijauhi."

"Ani. Kau memang harus menjauhinya. Dia orang yang sangat menyebalkan. Dia bahkan memintaku membayar uang sewa scarf yang ia pinjamkan kepadaku." Yunhyeong mengacak-ngacak nasi goreng di piringnya. Mengingat kejadian kemarin membuatnya kembali emosi. Selama beberapa detik Yunhyeong tidak mendengar suara Hanbin maupun Jiwon, Yunhyeong mengangkat kepalanya.

Hanbin dan Jiwon sedang menatap Yunhyeong sambil menyipitkan mata mereka.

"Wae? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"

"Hanbin-ah, isanghae (*aneh), kenapa aku merasa Yunhyeong dengan Goo saem sangat akrab?"

"Aku juga merasakannya. Mereka terdengar seperti sedang berkencan."

"YA! MANA MUNGKIN AKU BERKENCAN DENGAN ORANG MENYEBALKAN SEPERTI ITU?!"

"Hohoho…. Dia marah…." Ejek Jiwon.

"Hohoho… Yunhyeong sedang marah…"

"KALAU KALIAN SUDAH SELESAI MAKAN, SEGERA KELUAR DARI RUMAHKU!"

.

.

.

"Yoyo-ah, apa kau marah?" Tanya Hanbin.

Setelah kejadian tadi, Yunhyeong tidak bersuara sama sekali, wajahnya ditekuk. Ia tidak menghiraukan Hanbin dan Jiwon sampai sekarang, di depan gerbang sekolah.

"Mianhae, Yunhyeong-ah…" Kata Jiwon. "Aku janji tidak akan ke rumahmu pagi-pagi lagi."

"Aku juga janji tidak akan meminum susu coklatmu lagi."

Yunhyeong menghentikan langkahnya. Hanbin dan Jiwon juga menghentikan langkah mereka. Di samping sekolah Yunhyeong melihat kakek tua itu yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.

"Wae? Apa kau memaafkan kami?" Tanya Hanbin penuh harap.

"Ya. Kalian pergi ke kelas dulu. Aku ada urusan." Yunhyeong berjalan ke arah kakek itu, meninggalkan Hanbin dan Jiwon yang berseru memanggil namanya.

"Aku rasa aku harus membelikannya susu coklat lagi."

.

.

.

Yunhyeong mengikuti kakek tua itu ke belakang gedung sekolah yang sepi.

"Haksaeng, aku lihat temanmu sudah kembali."

"Ne, kamsahamnida karena sudah mengembalikan flashdisk itu." Yunhyeong membungkukkan badannya.

"Kau pikir aku akan mengembalikannya begitu saja?"

"Ne?"

"Kau harus menuruti perintahku, sebagai balasan karena aku sudah mengembalikan benda itu." Kata kakek itu sambil menyeringai.

"Ne? T-tapi…."

"Atau aku akan menjahili temanmu lagi."

Yunhyeong menghela napas. Dimana-mana arwah itu memang sama saja, sama-sama merepotkannya. "Mwondaeyo?"

"Pertama-tama…."

.

.

.

Yunhyeong berjalan menghampiri Junhoe dengan penuh rasa malas. Ia sedang memegang kopi ditangannya. 'Kau harus membelikan kopi untuk orang yang pulang bersamamu kemarin. '

"Jogiyo…"

Junhoe membalikkan badannya. "Mwo? Aku sudah menyelesaikan masalah temanmu. Kau tidak perlu menemuiku lagi." Junhoe berjalan menjauhi Yunhyeong.

"Saem!" Yunhyeong berjalan menghalangi Junhoe.

"Wae tto?"

"Aku membelikanmu kopi." Yunhyeong memberikan kopi itu kepada Junhoe. Junhoe menatap kopi itu bingung.

"Keurigo…." Yunhyeong mengingat-ingat perkataan kakek itu. 'Ah! Kau juga harus beraegyo!' Yunhyeong menarik napas dan… "Saem~ Gomawoyo~~" Lalu ia berlari menjauhi Junhoe sejauh mungkin.

Junhoe masih diam di tempatnya. Ia memegang dadanya. "Orang itu tidak baik untuk jantungku."

.

.

.

Yunhyeong memasuki kelas dengan wajah yang penuh keringat. Ia berlari sangat cepat tadi. Yunhyeong merasa ia tidak akan bisa bertemu dengan Junhoe lagi, pasti sangat memalukan.

"Ya! Ya! Cepat duduk! Kim saem datang!" Kata seorang murid. Murid-murid berhamburan kembali ke tempat duduk mereka, begitu juga dengan Yunhyeong.

Kim saem memasuki kelas bersama seseorang. Namja itu memakai seragam yang sama seperti sekolah mereka.

Kim saem memperhatikan murid satu persatu. "Yaedeul-ah, kalian kedatangan teman baru." Kim saem memberikan isyarat agar orang di sebelahnya memperkenalkan diri.

"Jung Chanwoo imnida."

Selama beberapa detik kelas hening. "Apa kau hanya mengatakan itu? Apa kau tidak mengatakan sekolah asalmu?"

Namja yang bernama Jung Chanwoo itu hanya terdiam. Meskipun wajahnya tampan, tetapi namja itu tidak tersenyum sama sekali.

"Keurae kalau kau tidak ingin mengatakannya.. Chanwoo-ya, kau bisa duduk di samping anak yang sedang mengelap keringat itu."

Yunhyeong yang sedang mengelap keringat di wajahnya itu terkejut. Apa Kim saem baru saja menyuruh anak baru itu duduk di sebelahnya? Apa itu berarti ia memiliki teman sebangku? Ini pertama kalinya selama bersekolah di sini ia memiliki teman sebangku. Tapi….

"Mwoya? Anak baru itu duduk di samping si anak aneh Yunhyeong?"

"Aku harap Chanwoo baik-baik saja."

"Jung Chanwoo pasti akan menerima kesialan selama bersekolah di sini."

Beberapa anak mencibir Yunhyeong. Sedangkan orang yang dibicarakan itu hanya menundukkan kepalanya.

Hanbin melihat Yunhyeong sedih. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berteriak, "Ya! Shin Yura! Tutup mulutmu atau aku akan merobeknya!"

Shin Yura menatap Hanbin horor, ia sedikit takut dengan ancaman Hanbin yang mengerikan itu.

"Sudahlah Kim Hanbin. Jangan menambah masalah. Shin Yura, kau harus jaga ucapanmu. Chanwoo-ya, kau boleh duduk di tempatmu."

Chanwoo berjalan ke meja paling pojok dan duduk di sebelah Yunhyeong.

"Yaedeul-ah, aku harap kalian memperlakukan Chanwoo dengan baik. Sekarang kalian boleh istirahat." Begitu Kim saem keluar kelas. Beberapa murid berhamburan keluar, beberapa ada yang diam di kelas.

"Yoyo-ah… Ayo ke kantin." Ajak Hanbin.

"Aku akan mentraktirmu ramyeon sebagai permintaan maaf." Kata Jiwon, sepertinya ia masih merasa bersalah.

"Aku harus membereskan tasku. Kalian pergilah dulu, aku akan menyusul."

"Keurae, aku akan memesankanmu makanan."

"Annyeong…."

Hanbin dan Jiwon berjalan keluar kelas. Yunhyeong mengambil tasnya, karena tadi ia terburu-buru ia tidak sempat membereskan tasnya. Sedangkan Chanwoo masih duduk di tempatnya.

Beberapa yeoja menghampiri meja Yunhyeong, berusaha menggoda Chanwoo.

"Jung Chanwoo, kau sangat tampan. Apa kau ingin makan bersamaku?" Tanya Yura dengan genit.

Orang yang diajak bicara itu hanya diam saja.

"Aku akan mentraktirmu."

"Tutup mulutmu." Kata Chanwoo dingin.

Semua orang yang berada di sekitar Chanwoo terkejut, termasuk Yunhyeong.

"M-mwo? Kau bilang apa tadi?"

"Aku bilang tutup mulutmu, brengsek."

Yura membelalakkan matanya. Ia tampak syok. Tak lama kemudian gerombolan yeoja itu menjauhi Chanwoo. Mereka merasa takut dengan anak baru itu. Sedangkan Yunhyeong terburu-buru membereskan tasnya, ternyata ia mendapatkan teman sebangku yang buruk.

Saat hendak bangkit dari tempat duduknya, Yunhyeong di datangi kakek tua itu.

"Haksaeng, aku ada permintaan."

Yunhyeong membuka mulutnya, ia membuat gerakan mulut yang berarti 'Jangan sekarang.'

"Aku ingin kau berfoto dengan namja di sebelahmu itu. Mm…. apa sebutannya? Ah! Selca! Kau harus selca bersamanya!"

"MWO?!" Yunhyeong kelepasan berteriak. Meskipun kelas sepi, tetap saja ada Chanwoo di sebelahnya. Yunhyeong menolehkan kepalanya. Dilihatnya Chanwoo sedang menatapnya bingung.

"Mwoeyo~ Ireumi mwoeyo~" Tiba-tiba Yunhyeong bernyanyi. "Apa kau tahu 4minutes? Aku sangat menyukai lagu-lagu mereka! Hahaha…." Yunhyeong tertawa canggung.

Chanwoo kembali menatap ke depan. Ia tidak peduli dengan Yunhyeong. Yunhyeong menutup matanya. Pasti sangat memalukan.

"Haksaeng…" Kakek tua itu memanggil Yunhyeong lagi.

"Aiisshh…." Dengan pasrah Yunhyeong mengeluarkan handphone dari kantong celananya. Ia menempatkan handphonenya di kiri atas kepalanya.

"Haksaeng, kau harus tersenyum."

Yunhyeong menghela napas. Ia tersenyum dengan terpaksa. "Kimchi~"

'Cekrek.' Ia lupa men-silent handphonenya. Yunhyeong menolehkan kepalanya. Lagi-lagi Chanwoo menatapnya aneh.

"K-kau tahu? A-aku senang berfoto dengan orang baru kutemui. Hahaha…." Yunhyeong segera berdiri lalu berlari ke luar kelas.

.

.

.

Yunhyeong melewati koridor dekat kantin dengan terburu-buru. Aiiisshhh… Kenapa hari ini dia sangat memalukan? Pasti Chanwoo menganggapnya orang aneh.

"Haksaeng…" Lagi-lagi kakek itu memanggilnya bahkan menghalangi jalannya.

"Apa lagi?! Aku sudah menuruti perkataanmu." Kata Yunhyeong kesal.

"Aku ada permintaan terakhir. Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi."

Yunhyeong terdiam. Apa ia harus percaya kepada arwah ini? "Jinjjayo?"

"Eo. Majimakiya."

"Baiklah."

"Apa kau punya pacar?"

"Aniyo."

"Bagus kalau begitu. Aku akan membuatmu mendapatkan seorang pacar. Bagaimana? Apa kau senang?"

"Ne?" Tanya Yunhyeong bingung.

"Kau lihat lorong itu?" Kakek tua itu menunjuk ke depan, ke lorong yang sepi.

"Ne."

"Kau harus mencium orang pertama yang melewati lorong itu."

"Ne?!"

.

.

.

Junhoe sedang berjalan ke arah kantin. Hari ini jantungnya terus berdegup kencang. Ini semua karena Song Yunhyeong. Ia harus menjauhi namja itu, kalau tidak jantungnya akan meledak.

Junhoe menegakkan kepalanya. Dilihatnya Yunhyeong sedang berjalan ke arahnya. Junhoe memegang dadanya. Degup jantungnya bertambah kencang. Yunhyeong semakin mendekatinya.

Kini Yunhyeong berdiri tepat di depannya.

"Kau-"

Yunhyeong menarik kerah baju olahraga Junhoe dan mencium bibirnya.

.

.

.

TBC

KISSEU! KISSEU! JUNHYEONG KISSEU! KISSSEEEUUUU

Saya menyarankan anda membaca part terakhir di atas sambil mendengarkan lagu G-Friend yang "Me Gustas Tu"! Seriusan, feelnya dapet banget! Saya membuat chapter ini sambil mendengarkan lagu itu!

Ini chapter terpanjang yang pernah saya buat lho! Apakah anda merasa puas?

Ada yang bilang kejadian flashdisk itu diambil dari drama Cheer Up. Selamat anda mendapatkan 2 juta rupiah dipotong pajak 120%!

Maaf kalo chapter ini agak aneh. Jadi ceritanya kakek itu hantu yang jahil sodara sekalian. Namanya juga hantu…

Apa yang terjadi pada June? Chanwoo is coming to town! Dialah orang ketiga di ff ini! Sudah lama saya ingin memasukkan dia! *peluk Chanu*

Saya sangat amat menyukai pertemanan Double B dengan Yoyo. Manis-manis gitu….

Oh iya, saya liat ff ini readersnya mencapai 200 lebih orang. Ayolah sider, beritahu saya pendapatmu~~

Yoosss… Sekian dari saya! *ketjup basah*

Review juseyo^^