LET'S TALK ABOUT GHOSTS
Main Cast:
Song Yunhyeong
Goo Junhoe
Other Cast:
Jung Chanwoo
Kim Hanbin
Kim Jiwon
Genre: Romance, a little bit horror
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Junhoe sedang berjalan ke arah kantin. Hari ini jantungnya terus berdegup kencang. Ini semua karena Song Yunhyeong. Ia harus menjauhi namja itu, kalau tidak jantungnya akan meledak.
Junhoe menegakkan kepalanya. Dilihatnya Yunhyeong sedang berjalan ke arahnya. Junhoe memegang dadanya. Degup jantungnya bertambah kencang. Yunhyeong semakin mendekatinya.
Kini Yunhyeong berdiri tepat di depannya.
"Kau-"
Yunhyeong menarik kerah baju olahraga Junhoe dan mencium bibirnya.
.
.
.
Selama beberapa detik mereka bertahan pada posisi itu. Kemudian Yunhyeong mulai menjauhkan wajahnya. Dilihatnya wajah Junhoe yang seperti baru saja tersambar petir.
"K-kau…"
"Saem, aku…."
"K-kau menciumku?"
Yunhyeong menarik napasnya. APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN SONG YUNHYEONG?! KENAPA KAU MENCIUMNYA? Yunhyeong mematung. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"W-wae? Kenapa kau menciumku?"
"A-aku…. Mianhaeyo, saem. Jeongmal mianhaeyo." Yunhyeong membungkukkan badannya beberapa kali. Walaupun sebenarnya ia tahu meminta maaf tidak akan merubah keadaan.
"Aku tanya kenapa kau menciumku?"
"Aku….." Yunhyeong memutar bola matanya. Apa yang harus ia katakan? Astaga, Yunhyeong sangat tidak menyukai situasi seperti ini. Kenapa dia dengan mudahnya mau menuruti permintaan kakek itu?! Yunhyeong sangat ingin arwah itu menjauh darinya. Apapun akan dia lakukan, sampai-sampai ia tidak berpikir lagi siapa yang akan dia cium. Kau ini polos atau bodoh, Song Yunhyeong?
Saat Yunhyeong hampir saja berlutut untuk meminta pengampunan dari Junhoe, ia melihat Chanwoo sedang berjalan ke arahnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Yunhyeong langsung menarik tangan namja itu agar berdiri di sebelahnya.
"Dia yang menyuruhku, saem!" Yunhyeong menunjuk Chanwoo yang sekarang sedang berdiri di sebelahnya dan mencoba merangkulnya seolah-olah mereka sudah berteman dari kecil. Tapi apa daya si pendek Yunhyeong, ia hanya bisa merangkul lengan Chanwoo. Sedangkan orang yang dirangkulnya memasang wajah bingung.
"Mwo? Apa katamu?"
"K-kami sedang bermain, ya, sedang bermain. Chanwoo menantangku untuk mencium orang yang pertama kali melewati lorong ini. A-aku tidak menyangka saem yang….." Yunhyeong terdiam. Ia tidak berani melanjutkan omongannya dan menundukan kepalanya. Lalu ia melihat ekspresi Junhoe yang sedang memandang Chanwoo dari kepala hingga kaki sambil mengerutkan dahi.
"Na-namanya Jung Chanwoo, saem! Mungkin kau belum pernah melihatnya, dia murid baru di sini dan langsung akrab denganku. Betulkan, Chanwoo? Hahahaha…" Yunhyeong tertawa canggung. "A-aiggooo… Chanwoo-ya, permainanmu sungguh tidak menyenangkan. Hahaha…."
Chanwoo masih memasang wajah bingung. Apa-apaan orang ini? Bahkan ia tidak tahu nama orang yang sok akrab ini. Ia memandang Yunhyeong dengan tatapan 'ada-apa-dengan-orang-gila-ini.'
"Chanwoo-ya, ayo minta maaf. Maafkan kami, saem." Yunhyeong membungkukkan badan. Lalu ia melirik Chanwoo yang tidak membungkukkan badan. Namja itu malah melihat Yunhyeong dengan tatapan mengejek. Dengan terpaksa Yunhyeong mengeluarkan tenaganya. Ia memegang belakang leher Chanwoo dan mendorongnya, membuat namja yang tidak tahu apa-apa itu ikut membungkukkan badan.
"Ya! Kenapa aku harus minta maaf?" Chanwoo berusaha menegakkan lehernya, tapi ternyata tenaga Yunhyeong lebih kuat dari yang ia duga.
"Maafkan kami. Kami berjanji tidak akan mengulangnya lagi. Chanwoo-ya, kau lapar? Ayo kita ke kantin. Aku sudah berjanji akan mentraktirmu. Hahaha… Saem, kami pergi dulu. Hahaha…" Yunhyeong tersenyum lebar pada Junhoe seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan menyeret Chanwoo ke kantin.
Junhoe melihat punggung Yunhyeong dan Chanwoo menjauh. Lalu ia memegang dadanya. Jantungnya masih berdebar kencang.
.
.
.
Yunhyeong terus menyeret Chanwoo hingga ke kantin. Lalu tiba-tiba Chanwoo menghempaskan tangannya, membuat Yunhyeong terkejut.
"Apa maumu?" Tanya Chanwoo dingin.
"Gomawo, gomawo, jinjja gomawo. Aku berhutang budi padamu." Yunhyeong mengatur napasnya. Sedari tadi ia bertingkah sangat tenang. Sekarang ia lega, seperti baru saja selesai wajib militer.
"Mwoga?"
"Terima kasih sudah menolongku."
"Cih, menolongmu?"
"Eo." Yunhyeong mengedarkan pandangannya. Dari kejauhan Yunhyeong melihat Hanbin melambaikan tangannya ke arahnya. "Yoyo-ah! Yeogi!"
"Jja! Itu temanku. Ayo kita makan." Yunhyeong menunjuk ke arah meja yang ditempati Hanbin dan Jiwon. Lalu ia menarik tangan Chanwoo dan membawa namja berkulit kecoklatan itu ke sana.
"Mwo-ya? Kenapa kau membawanya?" Tanya Hanbin begitu Yunhyeong dan Chanwoo tiba di sana.
"Wae? Tidak boleh?"
Hanbin menyipitkan matanya. "Isanghae, tidak biasanya kau cepat akrab dengan orang lain. Aku saja sangat sulit mendekatimu."
"Wae? Kau sendiri yang bilang aku harus mulai terbuka dengan orang lain." Yunhyeong menarik kursi dan duduk di sebelah Hanbin. Ia juga mempersilahkan Chanwoo duduk di sebelahnya.
"Hanbin-ah, seharusnya kau senang teman kita yang satu ini sudah mulai akrab dengan orang lain selain kita. Keundae Yunhyeong-ah, kami hanya memesankan tiga mangkuk ramyeon." Jiwon memberikan sebuah mangkuk ramyeon pada Yunhyeong.
"Chanwoo-ya, kau makan ini." Yunhyeong memberikan mangkuk itu pada Chanwoo.
"Ya! Kenapa kau berikan padanya?"
"Gwaenchana, aku tidak ingin makan ramyeon." Yunhyeong melihat Chanwoo yang sedang melihatnya dengan tatapan datar. "Wae? Kenapa kau tidak makan? Kau ingin makan yang lain?"
"Ya! Song Yunhyeong, kenapa kau begitu perhatian padanya? Kau tidak pernah bertanya seperti itu pada kami!" Protes Hanbin. Selama ia dan Jiwon berteman dengan Yunhyeong, tidak pernah sekalipun namja manis itu peduli pada mereka.
Chanwoo mengerutkan dahinya. "Song Yunhyeong?"
"Eo. Itu namaku. Bangapta, Jung Chanwoo. Kerigo terima kasih karena telah menolongku." Yunhyeong mengulurkan tangannya, mengajak Chanwoo bersalaman. Tetapi Chanwoo hanya melihat Yunhyeong dengan tatapan sinis.
"Menolongmu? Ya, Song Yunhyeong, sekarang aku baru berpikir, apa tadi kau menjadikanku alasan mencium orang itu?"
Yunhyeong membelalakkan matanya, begitu juga dengan Hanbin dan Jiwon yang hampir saja tersedak kuah ramyeon.
"Mwo?! Kau mencium seseorang?!"
"A-aniya!" Kata Yunhyeong terbata-bata. Sejujurnya ia tidak pandai berbohong.
"Dimana kau menciumnya? Di pipi? Di bibir?!" Tanya Hanbin.
"Ya! Pelankan suaramu!" Yunhyeong mengedarkan pandangannya. Ia takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Chanwoo-ya, katakan pada kami siapa orang yang dicium Yunhyeong? Kelas berapa?" Jiwon bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Ya! Hajima…" Bujuk Yunhyeong pada Chanwoo.
"Ya! Jung Chanwoo, beritahu kami!"
"Jangan katakan pada mereka!" Sekarang Yunhyeong mengancam Chanwoo. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Hanbin dan Jiwon tahu kejadian itu. Mau taruh di mana mukanya?
Selama beberapa detik Chanwoo hanya terdiam, membuat Hanbin dan Jiwon semakin penasaran.
"Molla."
Yunhyeong menghela napas lega. Ia baru ingat bahwa Chanwoo murid baru, tentu saja dia belum mengenal guru di sini. Haah… Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Song Yunhyeong…
"Aku tidak tahu namanya. Tapi dia memanggil orang itu dengan sebutan 'saem', orang itu berambut blonde, mengenakan pakaian olahraga dan tampak sangat muda."
"YUNHYEONG-AH! KAU MENCIUM GOO SAEM?!"
Yunhyeong baru tahu ternyata Chanwoo pandai mendeskripsikan sesuatu.
.
.
.
Junhoe sedang termenung di ruang guru. Hari ini ia tidak fokus mengajar, bahkan tadi hampir saja ia menggelinding di tangga. Pikirannya melayang pada kejadian tadi. Yunhyeong mendatanginya dengan tergesa-gesa, menarik kerahnya tiba-tiba dan mencium bibirnya. Tanpa sadar ia memegang bibir tebalnya. Ia mengingat-ingat saat bibirnya dan bibir Yunhyeong bertemu, rasanya…..
"Hah! Apa yang sedang aku lakukan?! Dasar gila!" Junhoe menjauhkan tangannya dari bibirnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Selalu saja seperti ini ketika ia memikirkan namja yang berumur lima tahun lebih muda darinya itu. Apa itu berarti Yunhyeong membawa kesialan untuk Junhoe?
"Goo saem, kau kenapa? Kenapa kau terus memegang dadamu?" Tanya Kim saem yang baru saja memasuki ruang guru.
"Ada sesuatu yang aneh dengan jantungku."
"Ada apa dengan jantungmu?"
"Jantungku terus saja berdebar. Seperti baru saja selesai berlari."
"Apa keluargamu ada riwayat penyakit jantung?"
"Aniyo. Waeyo?"
Kim saem tampak berpikir sebentar. "Yang aku tahu hanya ada dua penyebab kenapa kau seperti itu. Pertama, kau mengidap penyakit jantung, tapi tadi kau bilang di keluargamu tidak ada yang terkena penyakit itu. Kedua…"
"Kedua?" Tanya Junhoe penasaran.
"Kau sedang menyukai seseorang."
"Ne?!"
"Goo saem, apa kau sedang menyukai seseorang?"
"Eobseoyo. Mana mungkin jantungku berdebar karena itu. Kekanak-kanakan sekali." Ejek Junhoe.
"Jogi… Apa mungkin kau belum pernah jatuh cinta?"
"Jatuh cinta?"
"Ne. Saat jatuh cinta, kau tidak bisa berhenti memikirkan orang itu. Sedih, marah, ataupun senang, orang itu yang ada pertama kali dipikiranmu. Apa kau pernah mengalami itu?"
Junhoe terdiam. Ia mengingat-ingat, apa ia pernah jatuh cinta? Apa kesukaannya pada Michael Jackson itu berarti Junhoe cinta padanya? Dulu ia sedih saat tidak bisa membeli album artis kesayangannya itu, marah karena orang lain sudah memilikinya, dan senang saat ia sudah mampu membelinya. Apa itu yang dinamakan cinta?
"Jatuh cinta berbeda dengan mengidolakan seseorang. Jangan berpikir yang aneh-aneh, saem." Kata Kim saem seolah-olah mampu membaca pikiran Junhoe.
.
.
.
Yunhyeong sedang menunggu seseorang di belakang gedung sekolah. Siapa lagi jika bukan arwah kakek tua itu, yang sudah menyebabkan masalah untuknya.
"Haksaeng, apa kau mencariku?" Kakek itu melayang ke arah Yunhyeong dengan penuh senyuman tanpa dosa.
"Harabeoji, aku sudah menuruti permintaanmu."
"Eo. Gomawo! Aku sangat terhibur." Kakek itu tersenyum lebar.
"Kau juga harus minta maaf padaku. Kau sudah menyuruhku yang bukan-bukan."
"Kkkk… Mianhae. Tapi permintaan yang terakhir bukan sepenuhnya salahku."
"Ne? Tentu saja salahmu. Kau membuatku mencium guruku sendiri!" Kata Yunhyeong tidak terima.
"Memangnya aku menyuruhmu mencium bibirnya?"
Yunhyeong tersentak. "N-ne?"
"Aku tidak menyuruhmu mencium bibirnya. Kau bisa mencium pipinya, tangannya atau bagian tubuh yang lain. Tapi ternyata kau sendiri yang mencium bibirnya. Apa itu juga salahku?"
"A-aniyo… Itu salahku…" Yunhyeong menundukkan kepala. Apa yang dikatakan kakek itu ada benarnya.
"Apa mungkin kau memang ingin mencium bibir orang itu?"
"Aniyo! K-kenapa aku ingin mencium bibirnya?"
"Kkkk…. Jja. Sudah waktunya aku pergi dari sini."
"Tunggu. Harabeoji mau kemana?"
"Ke tempat terakhirku. Kau sudah memenuhi permintaanku. Sekarang aku bisa tenang." Kakek itu terdiam sebentar. "Gomawo, Song Yunhyeong."
Yunhyeong tersenyum. "Ne. Semoga kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya." Lalu ia membungkukkan badannya.
Kakek itu perlahan mulai melayang lebih tinggi dan mulai menghilang.
.
.
.
Yunhyeong berjalan menuju kelas. Bel pulang sudah bunyi sedari tadi. Ia sedang berpikir tentang perkataan kakek itu. Apa ia benar-benar memang berniat mencium Junhoe? Ya, Yunhyeong akui namja itu tampan dan keren. Tetapi tetap saja sifatnya yang menyebalkan itu menganggu Yunhyeong. Tunggu. Sekarang Yunhyeong baru tersadar. Tadi itu adalah ciuman pertamanya! Dan dia yang mencium terlebih dahulu! Dimana harga dirimu Song Yunhyeong?!
Yunhyeong tiba di ruang kelas. Begitu ia masuk, Hanbin menariknya dan mendudukkannya dikursi terdekat.
"Kau benar-benar mencium Goo saem?!" Tanya Hanbin.
"Eo." Jawab Yunhyeong pelan.
"Omo…. Ternyata kau orang seperti itu, Yoyo-ah…"
"Ya! Apa maksudmu orang yang seperti itu?!"
"Jiwon-ah… Ternyata Yunhyeong benar-benar menyukai Goo saem."
"Kim Hanbin!"
"Bagaimana bisa kau menciumnya? Ceritakan pada kami."
Yunhyeong menghela napas. Sudah saatnya ia bercerita tentang kemampuannya melihat arwah, toh sepertinya Hanbin dan Jiwon sudah tahu.
"Kalian pasti sudah tahu aku bisa melihat arwah bukan?" Tanya Yunhyeong pelan.
Hanbin dan Jiwon terdiam beberapa saat. "Eo…"
Yunhyeong bercerita semuanya. Dari kakek yang mengambil flashdisk itu (tentu saja dia tidak bercerita kejadian di toilet bersama Junhoe, memalukan) sampai akhirnya ia mencium namja berambut blonde.
"Ahh… Jadi itu sebebnya kau berterima kasih pada Chanwoo…" Hanbin menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Eo."
"Lalu bagaimana dengan arwah kakek itu? Apa dia masih mengganggumu?" Tanya Jiwon.
"Aniya. Dia sudah pergi."
"Apa yang kau bicarakan padanya?"
"Aku marah padanya karena telah menyuruhku mencium Goo saem, tapi dia bilang 'memangnya aku menyuruhmu mencium bibirnya?'" Yunhyeong meniru gaya bicara kakek itu.
"Pfffttt!" Baik Hanbin dan Jiwon sama-sama menutup mulutnya, menahan tawa.
"Ya! Apa menurut kalian itu lucu?!" Yunhyeong mempoutkan bibirnya.
"Kkk…. Mianhae… Yoyo-ah…"
"Mwo?!"
"Gomawo, terima kasih telah membuatku kembali ke sekolah." Hanbin memeluk Yunhyeong dengan erat.
"Eo. Terima kasih juga telah menjadi temanku." Yunhyeong membalas pelukan Hanbin. "Keundae Hanbin-ah, lepaskan pelukanmu, aku sesak."
"Yunhyeong-ah, terima kasih sudah membuat Hanbin kembali." Jiwon juga ikut-ikutan memeluk Yunhyeong.
"Ya! Lepaskan! Aku tidak bisa bernapas!"
.
.
.
Keesokkan harinya…
Yunhyeong berlari dari halte bus ke sekolah dengan tergesa-gesa. Hari ini ia bangun kesiangan, salahkan Hanbin dan Jiwon yang lagi-lagi bermain di rumahnya sampai larut malam. Lain kali Yunhyeong akan memberlakukan jam malam untuk kedua temannya itu.
"Haaaa….. Aku selamat….." Yunhyeong masuk ke kelas tepat saat bel masuk berbunyi. Ia mengatur napasnya dan berjalan ke tempat duduknya dengan lunglai. Dilihatnya Chanwoo sudah berada di sana. Yunhyeong langsung duduk dan menidurkan kepalanya di atas meja. Tak lama kemudian Jiwon dan Hanbin menghampirinya.
"Ini pertama kalinya aku melihatmu terlambat." Kata Jiwon sambil memberikan air minum pada Yunhyeong.
"Aku kesiangan."
"Jinjja? Apa kau sudah sarapan?" Tanya Hanbin.
Yunhyeong menggelengkan kepalanya. Ia sangat terburu-buru tadi, bahkan ia tidak sempat sarapan.
"Ya! Kau harus makan sesuatu! Sebelum istirahat ada pelajaran olahraga. Kau bisa pingsan nanti!"
"Gwaenchana, aku bisa makan selesai olahraga nanti." Yunhyeong menenggak minum itu sampai habis. Setidaknya ia sudah mengisi perutnya dengan air.
"Kim saem datang!" Murid-murid berhamburan ke tempat duduknya masing-masing termasuk Hanbin dan Jiwon.
Chanwoo hanya memandang murid-murid itu dengan tatapan malas. Dasar anak-anak. Matanya tidak sengaja melihat tangan Yunhyeong yang sedang tergeletak di meja.
"Ada apa dengan tanganmu?" Tanyanya sedikit kaget.
"Eo?" Yunhyeong melihat tangan kanannya yang memar berwarna biru-kemerahan. "Isanghae, memarnya bertambah banyak."
"Itu pasti sangat sakit."
"Aniya. Aku tidak merasakan apa-apa."
Chanwoo membelalakkan matanya "Mwo?! Tidak sakit?!"
"Eo. Wae? Kenapa kau begitu terkejut?" Tanya Yunhyeong bingung.
Chanwoo terdiam sebentar, lalu meluruskan pandangannya. Ia tidak menjawab pertanyaan Yunhyeong.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tahu sesuatu?"
"Aniya. Itu hanya dugaanku saja."
.
.
.
"Yunhyeong-ah, kenapa kau tidak berganti baju?" Kata Jiwon yang sedang memakai baju olahraga. Beberapa menit lagi pelajaran yang diajar Junhoe itu akan dimulai.
"Nanti saja."
"Wae? Kau harus cepat. Goo saem tidak suka murid yang akan menunggumu." Kata Hanbin yang sedang memasukan seragamnya ke dalam loker.
"Gwaenchana, kalian tidak usah menungguku."
"Jinjja?"
"Eo. Aku berjanji tidak akan lama."
"Keurae, kami akan menunggumu di lapangan." Jiwon dan Hanbin keluar ruang ganti. Sekarang hanya tinggal Yunhyeong sendiri di sana. Ada alasan kenapa ia ingin menjadi orang yang terakhir di tempat itu.
Yunhyeong mengambil baju olahraga dari lokernya, berjalan ke depan kaca besar yang ada di sana dan mulai membuka kemejanya. Perlahan ia membalikkan tubuhnya dan berkaca. Ada memar yang cukup besar di bawah punggungnya, berwarna biru-kemerahan. Ini alasannya. Ia tidak mau Hanbin dan Jiwon khawatir padanya.
Yunhyeong juga bingung apa yang terjadi padanya. Memar itu tidak sakit sama sekali, ia juga merasa tidak pernah terantuk sesuatu apalagi terjatuh. Yunhyeong tidak mau ambil pusing, ia segera berganti baju dan memasukkan seragamnya ke dalam loker.
.
.
.
"Jiwon-ah, Yunhyeong belum juga muncul. Eotteokhae? Sebentar lagi Goo saem datang." Kata Hanbin khawatir. Junhoe sangat tidak menyukai murid yang terlambat. Ia takut Junhoe akan menghukum Yunhyeong.
"Eo. Kenapa ia tidak mau berganti baju bersama kita? Seperti yeoja saja. Aw! Appo…" Hanbin memukul lengan Jiwon cukup keras.
Suara langkah kaki terdengar menggema di lapangan indoor. Junhoe sudah datang sambil membawa stopwatch. Murid-murid segera berbaris rapi. Junhoe mengedarkan pandangannya. "Dimana Song Yunhyeong?"
"Aku di sini saem!" Yunhyeong berlari dari pintu masuk ke arah Junhoe. "Maaf aku terlambat."
Junhoe menghela napas. "Apa kau tahu peraturanku?"
"Ne. Tidak ada yang boleh terlambat." Yunhyeong menundukkan kepalanya, ia tahu kesalahannya.
"Lalu apa yang sekarang kau lakukan?" Tanya Junhoe dingin.
"Maafkan aku."
"Lari."
"Ne?" Yunhyeong mendongakkan kepalanya.
"Lari mengitari lapangan sampai aku bilang berhenti."
"Tapi-"
"Apa kau tuli?"
"Aniyo." Yunhyeong mulai berlari mengitari lapangan.
"Kalian semua boleh duduk. Kita akan mulai pelajaran sampai dia berhenti berlari."
Semua murid berjalan ke pinggir lapangan dan duduk di sana, kecuali Hanbin dan Jiwon yang berdiri cemas.
"Eotteokhae? Dia belum sarapan." Kata Hanbin khawatir.
Waktu sudah berlalu lima belas menit. Yunhyeong masih terus berlari. Setiap kali dia melambat langkahnya, Junhoe akan berteriak marah.
"Ya! Song Yunhyeong! Kau sendiri yang menyusahkan dirimu. Kalau kau terlambat lagi aku tidak akan membiarkan kau mengikuti pelajaranku!" Teriak Junhoe dari tengah lapangan. Sebenarnya ia juga tidak ingin menyiksa Yunhyeong seperti ini. Tetapi aturan tetaplah aturan.
"Saem…" Kata Hanbin pelan.
"Wae?"
"Apa Yunhyeong boleh berhenti berlari sekarang?"
"Andwae." Kata Junhoe datar.
"Saem, dia belum makan apa-apa dari pagi."
Junhoe membelalakkan matanya. "Mwo?! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" Lalu ia berteriak pada Yunhyeong yang masih berlari. "Ya! Song-"
BUUKKK!
Sebelum Junhoe selesai berbicara, Yunhyeong sudah ambruk terlebih dahulu. Junhoe berlari ke arah Yunhyeong secepat mungkin, diikuti Hanbin dan Jiwon.
Junhoe menepuk wajah Yunhyeong yang sekarang tampak sangat pucat. "Ya Song Yunhyeong!" Ia menepuk pipi namja manis itu, tetapi tidak ada reaksi apapun.
"Aku akan membawanya ke UKS, kalian tunggu di sini."
.
.
.
Junhoe berlari di lorong sambil membawa Yunhyeong di punggungnya. Tanpa ia ketahui, Yunhyeong mulai sadarkan diri.
'Mwo-ya? Siapa yang menggendongku?' Tanya Yunhyeong dalam hati. Ketika ia melihat warna rambut orang yang menggendongnya... 'Ahh….'
Yunhyeong tersenyum kecil, ia mengeratkan pelukannya, diciumnya wangi rambut Junhoe yang khas. 'Joah….' Jantungnya sedikit berdebar. Saat ia melihat belakang kuping Junhoe….
Junhoe mendobrak pintu ruang UKS. "Jogiyo, saem! Apa ada orang?!" Hasilnya nihil, tidak ada orang sama sekali. Dengan perlahan Junhoe mendudukkan Yunhyeong di kasur.
"Kkamjagiya! Kau sudah bangun?"
Yunhyeong sekarang duduk dengan wajah terkejut.
"Gwaenchana?" Junhoe berjongkok, memegang lengan Yunhyeong dan mengamatinya dari kepala sampai kaki.
"Saem…"
"Wae? Eodi appo?" Tanya Junhoe khawatir.
"Kau memiliki tanda lahir di belakang kuping?" Tanya Yunhyeong pelan.
Junhoe mengerutkan dahinya. "Eo. Wae?" Tanya Junhoe bingung.
Yunhyeong membulatkan matanya dan tersenyum lebar. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Junhoe dan memegang pipi namja itu dengan kedua tangannya.
"Aku menemukanmu, Goo Junhoe. Mulai sekarang aku akan menjagamu."
.
.
.
TBC
TBC nista… Hai hai^^
Saya baru update *disirem oli sama readers*
Saya pantas mati….. Gimana chapter kali ini? Saya ketawa sendiri ngebayangin Yoyo ketawa canggung kkk… pasti lucu sekali… Saya juga senang sekali membuat Junhoe menderita… hohoho…
BUTUH PACAR KAYAK JUNE PLIS! *abaikan*
Chanwoo-nya kurang banyak ya? Chapter depan saya akan lebih menjelaskan karakter Chanwoo. Kenapa dia terkejut melihat tangan Yunhyeong yang memar? Ada apa dengan tubuh Yunhyeong?
Terima kasih buat yang sudah mereview ff ini, terima kasih juga yang sudah sabar menunggu, kalian harus lebih bersabar lagi menunggu chapter selanjutnya (?)
Next project saya: ff dengan couple iKON baru yang belum pernah ada! (kayaknya)
Tunggu ya… Kalo saya lagi ada waktu luang hehehe…
Yoossss! Sekian dari saya *ketjup basah*
Review juseyo^^
