LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Jung Chanwoo

Kim Hanbin

Kim Jiwon

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Kau memiliki tanda lahir di belakang kuping?" Tanya Yunhyeong pelan.

Junhoe mengerutkan dahinya. "Eo. Wae?" Tanya Junhoe bingung.

Yunhyeong membulatkan matanya dan tersenyum lebar. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Junhoe dan memegang pipi namja itu dengan kedua tangannya.

"Aku menemukanmu, Goo Junhoe. Mulai sekarang aku akan menjagamu."

.

.

.

Yunhyeong tersenyum penuh kemenangan. Ternyata menemukan cucu halmeoni tidak sesusah yang ia kira. Goo Junhoe yang didepannya adalah orang yang selama ini ia cari. Yunhyeong senang tugasnya menjadi lebih mudah. Saking senangnya, Yunhyeong tidak sadar wajahnya terlalu dekat dengan wajah Junhoe.

Sementara namja berambut blonde itu sedang memegang dadanya yang berdegup kencang. Matanya terus melirik bibir Yunhyeong. Oh Tuhan… Junhoe tidak tahu kenapa sekarang ia sangat menginginkan bibir Yunhyeong. Tunggu. Apa mungkin… Tidak…. Ini tidak benar… Tidak mungkin ia menyukai Yunhyeong. Pasti ada sesuatu yang salah.

Junhoe masih memegang dadanya. Ia harus menghentikan ini sebelum jantungnya meledak. Junhoe memegang pergelangan tangan Yunhyeong lalu menghempaskannya.

"H-hentikan tingkah konyolmu, Song Yunhyeong! A-apa kau pura-pura pingsan agar aku menghentikan hukumanmu?!" Junhoe menaikan nada suaranya. Bagaimanapun ia harus tetap terlihat galak. Tetapi ia juga merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa ia menjadi gugup?

"Aniyo." Kata Yunhyeong sambil tersenyum seperti orang bodoh, bentakan Junhoe tak sedikitpun merusak mood-nya.

Junhoe terkejut. Ucapannya sama sekali tidak membuat Yunhyeong takut. Namja itu malah tersenyum lebar sampai matanya sedikit tertutup. Sangat manis… Junhoe melempar pandangannya ke arah lain. Terus melihat Yunhyeong bisa membuatnya diabetes.

"Eodi appo?"

"Aniyo, saem. Aku hanya sedikit lemas."

Junhoe melirik Yunhyeong yang sekarang sedang mengelap keringat didahinya dengan tangan gemetar. "YA! Kenapa kau tidak sarapan?! Kau tahu pelajaranku sebelum istirahat! Seharusnya kau makan sesuatu!" Tiba-tiba emosinya meluap. Junhoe tidak tahu kenapa ia marah. Marah karena Yunhyeong telah menyusahkannya atau marah karena khawatir namja manis itu sakit.

"Kemarin Hanbin dan Jiwon bermain dirumahku sampai malam. Pagi harinya aku bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan. Mianhaeyo, saem…" Kata Yunhyeong sambil menundukan kepala. Junhoe adalah orang kedua setelah Hanbin yang menegurnya karena tidak sarapan.

Junhoe terdiam. Ia merasa sedikit bersalah karena telah membentak Yunhyeong. Junhoe menurunkan nada bicaranya. "Tetap saja kau harus makan sesuatu." Ia menghela napas. Junhoe tidak bisa membiarkan Yunhyeong mengikuti pelajarannya hari ini. "Kau istirahatlah disini. Aku akan memanggil mereka untuk menemanimu."

"Jinjjayo?" Tanya Yunhyeong dengan nada riang. Ternyata Junhoe tidak seburuk yang ia kira. "Gomawoyo, saem." Lagi-lagi Yunhyeong tersenyum lebar, membuat jantung Junhoe kembali berdegup kencang.

"Song Yunhyeong…"

"Ne?"

"Jangan tersenyum lagi dihadapanku."

"Waeyo?"

"Jangan banyak bertanya dan ikuti perkataanku."

.

.

.

"Dia akan baik-baik saja, Hanbin-ah." Kata Jiwon kepada Hanbin yang sekarang sedang mondar-mandir dihadapannya.

"Seharusnya aku membeli makanan untuknya tadi. Perutnya pasti kosong." Sudah sekitar lima belas menit sejak Yunhyeong dibawa ke UKS dan Junhoe belum juga kembali, bagaimana Hanbin tidak khawatir?

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Percayalah Yunhyeong akan baik-baik saja." Jiwon berusaha menenangkan Hanbin, walaupun sebenarnya ia juga khawatir. Ia tahu namchin-nya ini sangat menyayangi Yunhyeong. Dulu saat mereka awal-awal berpacaran, Hanbin sering bercerita betapa inginnya dia mendekati Yunhyeong dan mengajaknya berteman. Hanbin bilang Yunhyeong sangat membutuhkan orang disampingnya. Walaupun Yunhyeong selalu terlihat baik-baik saja, tetapi Jiwon dan Hanbin sama-sama tahu namja bermarga Song itu sangat kesepian.

"Chanwoo-ya, apa kau tidak khawatir?" Tanya Hanbin kepada Chanwoo yang sekarang sedang duduk santai dibelakang Jiwon.

"Kenapa aku harus khawatir?" Chanwoo malah balik bertanya.

"Yunhyeong adalah teman sebangkumu." Jawab Hanbin kesal. Sepertinya ia sudah salah bertanya.

"Keuraseo?"

"Sudahlah, lupakan. Kau hanya membuatku kesal." Hanbin melemparkan pandangannya ke arah pintu masuk, kembali menunggu Junhoe.

Chanwoo terdiam memandang lantai kayu lapangan indoor. Sejujurnya ada sesuatu yang membuatnya penasaran. "Ya Kim Jiwon."

Jiwon menolehkan kepala ke arah Chanwoo. "Wae?"

"Tadi aku lihat tangan Yunhyeong memar. Apa sesuatu terjadi padanya?" Chanwoo mengatur ekspresinya agar terlihat tidak terlalu peduli.

"Ah… Itu…. Aku juga tidak tahu. Beberapa hari ini tangan Yunhyeong menjadi tambah memar. Tapi orang itu bilang ia tidak pernah terantuk ataupun terjatuh. Memar itu juga tidak membuatnya kesakitan. Aku pikir cepat atau lambat memar itu akan hilang."

"Aniya. Memar itu tidak akan hilang, malah akan bertambah banyak sampai menutupi seluruh tubuhnya." Chanwoo menurunkan nada suaranya.

"Mwo? Kau bilang apa tadi?"

"Aniya. Aku tidak bilang apa-apa."

"Goo saem!" Teriak Hanbin sambil berlari menghampiri Junhoe. Jiwon segera berlari mengikuti Hanbin.

"Saem, bagaimana keadaan Yunhyeong?" Tanya Jiwon.

"Dia baik-baik saja." Junhoe teringat wajah Yunhyeong yang berseri-seri. Sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit.

"Syukurlah." Akhirnya Hanbin dan Jiwon bisa bernapas lega.

"Sekarang dia sedang beristirahat. Aku ijinkan kalian ke UKS untuk menjaganya."

"Ne? Gomawoyo, saem." Hanbin dan Jiwon membungkukkan badan dan bersiap berlari ke arah pintu.

"Tunggu!" Junhoe membalikkan badannya. Dilihatnya dua namja itu juga membalikkan badannya. "Aku tidak ingin mendengar kalian tidak bermain dirumahnya sampai malam lagi dan membuatnya bangun kesiangan."

"Ne?" Tanya Hanbin bingung. Otaknya membutuhkan waktu yang lama untuk mencerna kata-kata Junhoe. Ia berniat meminta Junhoe mengulangi perkataannya, tetapi niat itu diurungkannya setelah namja berambut blonde itu menatapnya tajam.

"N-ne." Cicit Hanbin. Setelah itu ia dan Jiwon berlari keluar lapangan.

Junhoe membalikkan badannya dan memperhatikan murid-muridnya yang sedang duduk santai sambil berbincang-bincang. Sepertinya mereka tidak menyadari kehadirannya.

"Mwohae?" Tanya Junhoe ke arah mereka. Secara serentak semua murid menoleh ke sumber suara dan segera berlari ke tengah lapangan, membuat barisan. Hanya Chanwoo yang berjalan dengan santai.

"Dia baik-baik saja." Kata Junhoe kepada Chanwoo yang sedang berjalan didepannya.

"Ne? Siapa yang kau maksud?" Tanya Chanwoo datar.

"Tentu saja Song Yunhyeong."

"Kenapa kau harus melapokan hal itu padaku?"

Junhoe mengerutkan dahinya. "Bukankah kau teman dekatnya? Kalian bermain bersama saat istirahat kemarin."

"Aniyo. Aku bahkan tidak mengenalnya." Kata Chanwoo sambil berjalan melewati Junhoe.

.

.

.

"Yoyo-ah!" Hanbin dan Jiwon langsung menerobos masuk ke dalam UKS. Dilihatnya Yunhyeong sedang duduk dipinggir tempat tidur.

"Gwaenchana?" Tanya Jiwon.

Yunhyeong tersenyum. "Gwaenchana."

"Igeo. Kau harus makan ini sampai habis." Hanbin memberikan Yunhyeong beberapa bungkus roti.

"Astaga, ini banyak sekali. Bagaimana aku bisa menghabiskannya?" Yunhyeong menatap horor roti-roti yang berada dipahanya.

"Aku tidak tahu kau menyukai rasa apa. Jadi aku membeli semuanya."

"Ah… Ini juga. Kau harus menghabiskan semuanya." Jiwon menaruh beberapa kotak susu dengan berbagai rasa dikasur.

Yunhyeong menatap makanan dan minuman pemberian Hanbin dan Jiwon. "Gomawo. Jinjja gomawo."

Hanbin tersenyum. "Eo. Sebagai gantinya hari ini kau harus mentraktir kami."

Yunhyeong memandang Hanbin sinis. "Arraseo. Sepulang sekolah nanti aku akan mentraktir kalian."

"Assa! Aku tahu dimana restoran tteokbokki yang enak." Seru Hanbin.

Jiwon hanya menggelengkan kepala melihat tingkah namja chingu-nya itu. Ia mengambil sebungkus roti dan membukanya. "Ini. Makanlah." Jiwon memberikan roti itu kepada Yunhyeong

"Gomawo." Yunhyeong menerima roti itu dan memakannya.

Hanbin dan Jiwon berjalan ke kasur didepan Yunhyeong dan duduk disana.

"Yunhyeong-ah, apa yang kau bicarakan dengan Goo saem?" Tanya Jiwon.

Yunhyeong mengerutkan dahinya. "Eobseo."

"Tapi tadi dia bilang kami tidak boleh bermain di rumahmu sampai malam."

"Ah… Aku yang bilang padanya."

Hanbin mempoutkan bibirnya. "Jadi kau tidak suka kami ke rumahmu?"

"Aniya. Bukan itu maksudku."

"Kau tahu tidak? Tadi Goo saem menatapku tajam. Sepertinya dia marah karena kami yang menyebabkan kau tidak sarapan."

"Jinjja?"

"Eo. Seperti namja yang marah karena namja chingu-nya diganggu orang lain." Kata Jiwon santai. Tak lama kemudian Jiwon dan Hanbin menatap Yunhyeong sambil menyipitkan mata mereka.

"Jiwon-ah, perkataanmu ada benarnya."

"Tentu saja, chagi. Aku sudah curiga mereka memiliki suatu hubungan yang tidak kita ketahui."

Yunhyeong menatap kedua namja didepannya ini dengan tatapan tidak percaya. "Kenapa kalian membahas itu lagi? Aku sudah bilang, aku dan Junhoe tidak memiliki hubungan apa-apa."

Hanbin dan Jiwon semakin menyipitkan mata mereka. "Kau dengar itu, Hanbin-ah? Dia memanggil Goo saem dengan nama belakangnya."

"Eo. Itu terlalu akrab untuk hubungan murid dengan guru."

"Terserah kalian mau bilang apa." Yunhyeong memijat pelipisnya. Lagi-lagi pasangan ini membuatnya sakit kepala.

Hanbin dan Jiwon tertawa. Menjahili Yunhyeong adalah kesenangan mereka. Tiba-tiba Jiwon teringat sesuatu.

"Yunhyeong-ah, apa memar ditanganmu sudah hilang?"

Yunhyeong tersentak dan segera menutup punggung tangannya dengan jaket olahraga. "Eo. Memar itu sudah mulai menghilang. Wae?"

"Tadi Chanwoo bertanya tentang memarmu itu."

Yunhyeong terdiam sebentar. Sebelum itu Chanwoo juga bertanya tentang memar ditangannya. Malah namja itu tampak terkejut. Apa Chanwoo tahu sesuatu?

"Mwo-ya… Kau memiliki dua orang namja yang menyukaimu. Kau sangat beruntung, Song Yunhyeong-ssi. Tapi aku lebih setuju kau dengan Goo saem."

"Ya Kim Hanbin!"

.

.

.

Junhoe sedang mondar-mandir didepan UKS. Ia sudah selesai mengajar kelas Yunhyeong dan sekarang ia penasaran bagaimana kondisi namja manis itu. Junhoe sudah berusaha untuk tidak peduli. Tetapi pikirannya terus melayang pada Yunhyeong. Pikirannya menjadi tidak tenang membayangkan wajah pucat Yunhyeong tadi. Junhoe memaki dirinya sendiri dalam hati. Sepertinya ia benar-benar menyukai namja itu.

Tak lama kemudian pintu UKS terbuka. Junhoe kalang kabut mencari tempat sembunyi. Tetapi lorong itu tidak ada tempat sembunyi sama sekali. Alhasil, Hanbin dan Jiwon memergoki Junhoe yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka.

"Saem, sedang apa disini?" Tanya Jiwon polos. Hanbin menyikut perut Jiwon dan memberi isyarat. "Ah…" Jiwon mengerti maksud Hanbin.

"A-aku hanya kebetulan lewat sini." Bohong Junhoe.

"Saem, Yunhyeong sedang tidur sekarang dan kami ingin berganti baju sebentar. Bisakah kau menjaganya?" Kata Hanbin sambil tersenyum penuh arti.

"Tenang saja kami tidak akan lama." Kata Jiwon sambil menekankan kata 'lama'.

Junhoe terdiam sebentar. Ini alasan yang bagus untuk bertemu Yunhyeong. "Keurae. Aku hanya menjaganya sebentar. Ya, hanya sebentar."

Hanbin dan Jiwon tertawa pelan, sebenarnya mereka hanya ingin ke toilet. Tapi pikiran Hanbin berubah begitu melihat Junhoe. Sepertinya mereka berniat meninggalkan Yunhyeong dan Junhoe berduaan sampai pulang sekolah.

"Kamsahamnida, saem." Hanbin dan Jiwon membungkukkan badan mereka dan berjalan melewati Junhoe.

Tiba-tiba Hanbin menjatuhkan dirinya ke belakang dan langsung ditangkap oleh Jiwon. "Ya Kim Hanbin!" Jiwon menepuk pipi Hanbin.

Junhoe membalikkan badannya, ia tidak mengambil tindakan sama sekali bahkan melengos tidak peduli.

"Aku akan membawanya ke UKS, kalian tunggu di sini." Kata Jiwon.

Junhoe membelalakkan matanya dan memandang pasangan itu. Bukankah itu kata-kata yang ia ucapkan saat Yunhyeong pingsan tadi?

Hanbin dan Jiwon melirik Junhoe yang sekarang sedang melotot ke arah mereka. Ternyata Hanbin hanya pura-pura pingsan.

"YA!" Saat Junhoe berteriak seperti itu, Hanbin dan Jiwon sudah berlari menjauhinya sambil tertawa bahagia.

.

.

.

Junhoe membuka pintu UKS perlahan. Dilihatnya Yunhyeong sedang tidur dengan beberapa sampah bungkus roti ditubuhnya. Junhoe menggelengkan kepalanya. Ia mengambil bungkus kosong itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia juga menyingkirkan makanan dan minuman yang berada di tempat tidur dan menaruhnya di tempat lain. Lalu ia mengambil selimut dan menyelimuti Yunhyeong sampai dada.

Junhoe membersihkan sisa-sisa makanan yang ada disekitar bibir Yunhyeong. Tangannya berhenti saat ia tidak sengaja menyentuh bibir Yunhyeong. Tanpa sadar, Junhoe mengelus pelan bibir bawah Yunhyeong.

"Aigoo! Apa yang aku lakukan?!" Ia segera menarik tangannya dan memukulnya beberapa kali.

Junhoe mengambil kursi dan duduk disebelah tempat tidur itu. Dipandanginya wajah Yunhyeong cukup lama. 'Bahkan ia sangat manis saat tidur.'

"Aigoo! Apa yang aku pikirkan?!" Ia memukul kepalanya beberapa kali. Junhoe rasa, menyukai Yunhyeong hanya akan membodohinya. Ia tidak pernah menyangka menyukai seseorang akan membuatnya menjadi gila.

"Bagaimana aku bisa menyukai orang sepertimu, Song Yunhyeong?" Junhoe kembali memandang Yunhyeong.

Tiba-tiba Yunhyeong mengerutkan dahinya dan muncul keringat dingin disekitar wajahnya. Napas Yunhyeong terengah-engah seperti sedang berlari.

"Maafkan aku…. Aku mohon maafkan aku…." Kata Yunhyeong pelan.

Junhoe yang panik segera berdiri dan memegang kedua lengan Yunhyeong. "Song Yunhyeong! Ireona! Kau hanya bermimpi! Ireona!"

Yunhyeong terbangun dan membuka matanya. Dilihatnya Junhoe sedang menatapnya khawatir. Tanpa sadar Yunhyeong meneteskan air mata. Ia menutup wajahnya dan menangis sekencang-kencangnya.

Junhoe terpaku melihat Yunhyeong menangis. Dirangkulnya punggung Yunhyeong dan dipeluknya namja manis itu dengan sangat erat. "Gwaenchana…. Itu hanya mimipi…."

Yunhyeong menangis cukup lama dan Junhoe terus memeluknya sambil mengelus kepalanya beberapa kali. Setelah tangis Yunhyeong reda, Junhoe melepaskan pelukannya dan mengelap air mata Yunhyeong. "Apa mimpimu sangat buruk?" Junhoe bertanya dengan sangat halus.

Yunhyeong menunduk dan menganggukkan kepalanya. Ia masih terisak. Junhoe mengelus dahi Yunhyeong dan…

'Cup….'

Seketika itu juga tangis Yunhyeong berhenti. "Saem, apa yang kau lakukan?"

Junhoe tersadar dan segera menjauhkan bibirnya dari dahi Yunhyeong. Dilihatnya Yunhyeong sedang menatapnya horor.

"A-aku hanya berusaha menenangkanmu." Junhoe bertingkah santai, seolah-olah ia sering melakukan hal itu.

Yunhyeong memegang dahinya. "Ah… Keuraeyo…" Ia terlalu polos.

Junhoe mengambil beberapa lembar tisu dari meja dekat pintu dan memberikannya kepada Yunhyeong.

"Gomawoyo…" Yunhyeong mengambil tisu itu dan mengelap dahinya, lalu mengelap lehernya.

Junhoe salah fokus. Matanya tertuju pada leher Yunhyeong yang sedikit berkeringat dan putih mulus itu. "A-aku akan memanggil teman-temanmu." Setelah itu Junhoe tergesa-gesa keluar dari ruang UKS sambil memegang dadanya, meninggalkan Yunhyeong yang bingung dengan tingkahnya.

.

.

.

Yunhyeong berjalan menuju ruang ganti dengan sangat pelan. Ia masih memikirkan mimpinya tadi. Yunhyeong bermimpi seseorang berjubah hitam mengejarnya sambil membawa pisau. Wajah orang itu sangat menyeramkan, matanya bolong dan bibirnya robek sampai ke telinga. Orang itu juga tersenyum dengan sangat mengerikan. Yunhyeong juga tidak tahu kenapa ia meminta maaf dimimpinya itu. Sepertinya ia telah berbuat kesalahan pada orang itu.

"Yoyo-ah~" Hanbin memanggil Yunhyeong dari belakang. Hanbin dan Jiwon menghampiri Yunhyeong.

"Kenapa kau keluar? Apa kau sudah baikan?" Tanya Jiwon khawatir.

"Eo. Ini sudah pulang sekolah dan aku harus berganti baju." Yunhyeong berusaha tersenyum. "Aku juga harus mentraktir kalian bukan?"

"Lupakan itu, aku hanya bercanda. Kau harus banyak beristirahat." Kata Hanbin.

"Aniya. Nan gwaenchana. Aku juga ingin mentraktir seseorang."

"Nugu?"

"Iseo… Kalian tunggu didepan gerbang. Aku akan datang bersama orang itu."

.

.

.

Setelah berganti baju, Yunhyeong berjalan menuju ruang guru. Betul sekali. Ia berniat mentraktir Junhoe karena telah menolongnya. Lagipula ia harus selalu berada disamping namja itu karena Yunhyeong berjanji akan menjaganya.

Yunhyeong mengintip meja kerja Junhoe dari luar. Orang itu tidak ada ditempatnya. Guru yang lain sepertinya sudah pulang. Yunhyeong menghela napas kecewa. Apa Junhoe juga sudah pulang?

Yunhyeong mendatangi lapangan indoor berharap ia akan menemukan Junhoe disana. Tetapi hasilnya nihil. "Hari ini aku gagal menjaganya." Saat Yunhyeong berjalan menuju pintu, tiba-tiba ia mendengar suara air dari kamar mandi. Apa ada seseorang disana? Atau hanya hantu?

Yunhyeong berjalan menuju kamar mandi. Benar saja, ada seseorang yang mandi disana. Yunhyeong mendekati pintu kamar mandi umum dan membukanya. Diperhatikannya siapa yang mandi dan… OMO! Yunhyeong hanya bisa menelan ludah melihat tubuh Junhoe yang indah itu.

Yunhyeong melihat tubuh Junhoe dari atas sampai… Oh untungnya tubuh bagian bawah Junhoe tertutup tembok. Namja itu mengusap rambut basahnya kasar, lalu mengusap lengannya yang berotot. Tiba-tiba Junhoe memutar badannya ke arah Yunhyeong. Yunhyeong menahan napas, matanya berfokus pada tubuh sixpack Junhoe.

"Kkamjagiya!" Junhoe hampir saja jatuh karena terkejut. Dilihatnya Yunhyeong sedang memandang perutnya yang rata itu. "Sedang apa kau disini?!"

Yunhyeong tersadar dari lamunannya. "Mianhaeyo, saem. Aku tidak sengaja…."

"Lupakan. Kemarilah."

"Ne?"

"Kemari."

Yunhyeong berjalan mendekati Junhoe. Sekarang ia dan Junhoe hanya terpisah tembok pendek. Tiba-tiba tangan Junhoe yang basah menariknya. Junhoe mendekatkan bibirnya ke telinga Yunhyeong dan berbisik.

"Mau mandi bersama?"

.

.

.

TBC

Hai hai^^

Saya rekomendasi kalian baca chapter ini sambil mendengarkan lagu You Call It Romance – feat. Davichi

Bagaimana chapter ini? Maaf kalo agak berantakan. Saya sangat suka double b disini! *peluk double b*

Saya minta maaf karena kemarin saya berjanji akan mengungkapkan jati diri Chanwoo, tapi malah dia muncul disini dikit banget. Tebakan kalian belum ada yang bener lho… hehehe bener kalo Chanwoo tahu sesuatu tapi dia ga serumit itu kok…

Kalian boleh manggil saya apa aja. Eonni kek, noona kek, dongsaeng kek, oppa sama hyung juga boleh hehehe…

Saya mau mengumumkan sesuatu. Sepertinya kalian tidak baca bio saya ya? Sebenarnya saya sudah hiatus…

Maafkan saya hiks… Saya mau hiatus dari pas update chapter 6 sebenernya… Tapi review kalian bikin saya semangat, ditambah lagi saya juga penasaran chapter selanjutnya..

Saya pengen banget update cepet, pengen juga bales pm kalian, tapi apa daya waktu tidak mengijinkan saya. Saya siswa tingkah akhir sodara… Mulai disibukan dengan tugas ini-itu.. Ujian juga numpuk..

Akhirnya saya putuskan untuk update chapter ini sekalian mau bilang salam perpisahan… Maaf kalo ceritanya makin aneh, maaf kalo saya typo, maaf kalo mengecewakan kalian

Terima kasih yang sudah review dari awal sampai sekarang, terima kasih udah semangatin saya, terima kasih sudah ngasih saran, terima kasih karena telah membuat saya tidak berhenti tersenyum baca review kalian *deep bow* Semangat buat yang lagi ujian!

Sedikit info buat kalian, saya akan perbaiki ff Dear Future Husband. Saya juga akan bikin sekuel ff Truth or Dare sama seperti ff You yang ada 3 part. Saya berjanji akan membuat ff 3 part buat couple yang lain.

Tunggu saya 2 bulan lagi oke? Saya berjanji akan membuat ff ini menjadi lebih baik! *muter lagu Wait For Me*

"Wait (wait) because I'll go to you right now

Wherever you are, I'll go

Wait for me, hey, time is ticking faster

Wait (wait) because I'll go to you right now

I'll run against time and go to you

Wait for me yeah"

Udah ah… Jadi baper saya….

Review juseyo^^ sampai ketemu 2 bulan lagi! *ketjup basah*