LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Jung Chanwoo

Kim Hanbin

Kim Jiwon

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Lupakan. Kemarilah."

"Ne?"

"Kemari."

Yunhyeong berjalan mendekati Junhoe. Sekarang ia dan Junhoe hanya terpisah tembok pendek. Tiba-tiba tangan Junhoe yang basah menariknya. Junhoe mendekatkan bibirnya ke telinga Yunhyeong dan berbisik.

"Mau mandi bersama?"

.

.

.

Yunhyeong membulatkan matanya, mulutnya sedikit terbuka. Junhoe bilang apa tadi?! Mandi bersama?! MANDI BERSAMA?! Mata Yunhyeong kembali melihat ke tubuh Junhoe, ia memegang hidungnya, takut keluar darah dari sana. Yunhyeong tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka mandi bersama.

"Ya! Aku bertanya sedang apa kau disini?!"

Yunhyeong tersentak dari lamunannya. Dipandanginya Junhoe yang sekarang sedang melotot ke arahnya. Tunggu. Bukankah tadi ia berada didekat Junhoe? Kenapa sekarang ia masih didepan pintu? Astaga! Ternyata itu hanya imajinasinya saja. Kau sudah gila Song Yunhyeong! Kenapa otakmu jadi tercemar seperti ini?!

"YA!" Junhoe berteriak dengan lantang. Jika saja orang yang didepannya ini tidak melamun, mungkin ia bisa mengusirnya baik-baik. Lagipula… ehem… situasi sekarang ini membuatnya tidak nyaman, tubuh telanjangnya yang hanya tertutupi tembok dan seseorang yang sedang melihatnya dengan wajah terkejut didepan pintu kamar mandi. Junhoe segera mengambil handuk yang ia sampirkan ditembok pendek dan segera menutup tubuh bagian bawahnya. "Sejak kapan kau ada disini?!"

Yunhyeong dengan ekspresi wajahnya yang masih terkejut, menjawab dengan pelan, "baru saja. Te-tenang saja, saem, aku tidak melihatnya!" Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat dengan harapan Junhoe percaya padanya. Tetapi menurut Junhoe, perkataan Yunhyeong sedikit ambigu… Hem…

"Mau apa kau kesini?!" Kata Junhoe masih dengan wajah galaknya. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk lain dan berjalan menuju loker. Yunhyeong mengekor dibelakangnya. Junhoe mengeluarkan celananya dari dalam loker dan mengarahkan pandangannya ke Yunhyeong. Yunhyeong yang mengerti maksud Junhoe segera memalingkan wajahnya.

"A-aku ingin mentraktirmu makan. Apa saem ada waktu?" Tanya Yunhyeong ragu-ragu.

Junhoe yang hendak memakai celana segera menghentikan gerakannya. Yunhyeong mengajaknya makan bersama? Makan malam romantis? Hanya berdua? Tanpa sadar Junhoe tersenyum kecil.

"Tenang saja, aku juga mengajak dua temanku yang lain."

Wajah Junhoe berubah seketika, mood-nya langsung turun drastis. Inilah salah satu sifat aslinya yang jarang orang lain ketahui. Junhoe adalah tipe orang yang suasana hatinya mudah sekali berubah. Kadang sifatnya itu merugikan orang disekitarnya. Seperti sekarang ini, ia melanjutkan kegiatan 'berpakaian'nya tanpa peduli Yunhyeong yang sedang menunggu jawabannya.

Yunhyeong yang melihat perubahan ekspresi diwajah Junhoe, menundukkan kepala dengan wajah gugup. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bertanya lagi atau diam saja? Sudah cukup lama ia menunggu. Junhoe sudah berpakaian lengkap dan sekarang sedang membereskan tasnya. Yunhyeong menarik napas dan mengumpulkan keberanian. Hah… Kenapa namja itu selalu membuatnya gugup? "Saem…."

Junhoe mengambil tasnya dan membanting pintu loker dengan keras. "Shireo."

Yunhyeong meremas tangannya, ia menjadi tambah gugup. "W-waeyo? Aku akan membelikan makanan apapun yang saem mau."

Junhoe berdiri tegak dan menatap Yunhyeong dengan wajah datarnya. "Apa kau pikir itu sekarang masalahnya?"

"K-keureom waeyo?" Tanya Yunhyeong bingung. Perkataan Junhoe tadi sulit dicerna diotaknya.

Junhoe menghela napas. "Sudahlah." Ia menaruh tas dipundaknya dan berjalan melewati Yunhyeong. Saat hendak membuka pintu keluar, sebuah tangan menahannya.

"Saem, apa kau marah padaku?" Yunhyeong bertanya dengan mata bulatnya.

Junhoe menatap namja manis itu cukup lama. Benar. Seharusnya ia tidak kekanak-kanakan seperti ini, apalagi Yunhyeong adalah orang yang polos. "Ani."

"Apa saem sedang sibuk?"

"Ani."

"Apa saem tidak ingin makan bersamaku?"

"Ani."

"Lalu kenapa?"

Junhoe terdiam sebentar, lalu ia memalingkan wajahnya. "Kenapa kau…. ehem… mengajak temanmu?"

"Ne?" Yunhyeong semakin bingung.

"Aku bilang kenapa kau mengajak temanmu! Aku kira kita hanya makan berdua saja!" Kata Junhoe dengan nada tinggi. Yunhyeong kelewat polos atau tidak peka?

Yunhyeong tersentak. Ia tidak menyangka Junhoe akan berteriak seperti itu. "Saem ingin makan berdua denganku? Hanya berdua?" Tanyanya lagi.

"Apa kau tuli?"

"Aniyo." Jawab Yunhyeong cepat.

Junhoe menatap Yunhyeong dengan wajah miris. Sepertinya ia tidak perlu berolahraga lagi, karena berbicara dengan orang didepannya ini sudah membuatnya lelah.

"Mianhaeyo karena aku sudah membuatmu marah. Apa saem tidak ingin ikut? Kali ini saja. Setelah itu aku berjanji akan mengajakmu makan bersama lagi. Hanya berdua."

Junhoe tersenyum kecil. Ini salah satu kelemahan dari sifatnya yang moody-an itu, gampang sekali dibujuk. Maka dari itu, sejak kecil orang tua Junhoe tidak pernah membiarkannya berbicara dengan orang asing, karena dia sangat mudah diculik. "Jinjja?"

"Ne. Aku janji."

"Keurae. Aku ikut."

.

.

.

"Hanbin-ah, kenapa Yunhyeong lama sekali?"

"Molla."

Sudah setengah jam Jiwon dan Hanbin menunggu didepan gerbang, sampai sekarang chingu-nya itu belum datang juga. Sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa murid berjalan ke luar gerbang.

"Apa kau yakin Yunhyeong masih ada disekolah? Apa ia tidak diam-diam kabur?"

"Aniya. Mana mungkin ia melakukan hal itu."

"Aku lapar." Jiwon memegang perutnya dengan wajah melas.

"Nado…"

"Aku juga lelah." Jiwon menaruh kepalanya dipundak Hanbin dan memeluk namja itu dari belakang.

"Ya! Hentikan!" Hanbin mendorong Jiwon menjauh, membuat namja itu mundur beberapa langkah.

"Aaa…. Wae…." Protes Jiwon.

"Kau lihat! Beberapa murid melihat kita dengan tatapan aneh." Kata Hanbin sambil menunjuk seorang yeoja yang berjalan ke arah mereka. Sedangkan yeoja yang ditunjuk itu memasang wajah kebingungan.

"Keureom wae? Bukannya hampir semua murid disini sudah tahu kita berpacaran?" Jiwon hendak memeluk Hanbin, tapi lagi-lagi namja itu mendorongnya.

"Hajima. Aku tidak suka bermesraan didepan umum." Kata Hanbin pelan.

"Wae? Apa kau malu punya pacar seperti aku?"

"Aniya. Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Karena kau terlihat seperti itu." Jiwon memalingkan wajahnya. Untuk beberapa lama, tidak ada satupun yang berbicara. Hanbin dan Jiwon sama-sama diam.

"Apa kau marah?"

"Menurutmu?"

Hanbin menghela napas. Jiwon memiliki sifat manja. Ia sudah terbiasa dengan sifat namchin-nya itu. Untuk itu, Hanbin sudah menyiapkan beberapa strategi agar Jiwon memaafkannya. Pertama, lakukan apa yang Jiwon suka. Hanbin mendekati Jiwon dan memeluknya dari belakang. "Mianhae. Eo?"

Tidak ada jawaban dari Jiwon. Kedua, jika ia masih marah, lakukan aegyo. "Jiwon-ah~ Mianhae~ Mianhae chagiya~"

Masih belum ada jawaban dari Jiwon. Beberapa lama kemudian Jiwon melepas pelukam Hanbin dan membalikkan badan. "Kau tidak boleh seperti itu lagi, eo?"

Hanbin menganggukkan kepalanya dengan imut. Berhasil! Sekarang Jiwon sudah tersenyum! Cara-cara lama seperti ini selalu berhasil ia terapkan. Hanbin lalu memeluk Jiwon dengan erat. Ya. Mereka berpelukan. Didepan gerbang sekolah.

"Pemandangan yang sangat bagus. Mataku sampai sakit melihatnya."

Hanbin dan Jiwon melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke sumber suara. Mereka melihat Junhoe dengan wajah sinisnya dan Yunhyeong dengan wajah polosnya.

"Saem…" Yunhyeong menyenggol lengan Junhoe.

"Wae? Apa kau suka melihatnya?" Yunhyeong terdiam. "Ya! Kalian tidak boleh berpelukan seperti itu disini! Aiisshh… Aku harus membicarakan hal ini dengan dewan guru." Junhoe menurunkan nada suaranya pada kalimat terakhir. Sungguh sangat menyebalkan melihat pemandangan seperti tadi.

'Lagipula sekolah adalah tempat belajar, bukan tempat berpacaran.' Junhoe berpikir seperti itu karena ia belum pernah berpacaran sama sekali. Ya. Diumurnya yang hampir seperempat abad itu, ia tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan seseorang, baik dengan yeoja maupun namja.

"Waeyo, saem? Apa kau marah karena tidak punya pacar?" Ledek Jiwon.

"Atau karena kau tidak bisa melakukannya dengan Yunhyeong?" Lanjut Hanbin.

Junhoe membulatkan matanya dan menunjuk dua namja yang berada beberapa meter didepannya itu. "YA!"

Hanbin dan Jiwon tertawa lalu berlari ke luar gerbang.

"Mwoya…. Kenapa aku bisa mempunyai murid seperti mereka…"

"Saem, ka-yo. Restorannya tidak jauh dari sini." Yunhyeong berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Junhoe yang masih merasa kesal.

Junhoe memandang punggung Yunhyeong heran. "Ya! Kenapa kau tidak marah? Apa kau tidak dengar apa yang mereka katakan?"

Yunhyeong menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. "Ne. Aku dengar."

"Lalu kenapa kau tidak terlihat kesal?"

"Tentu saja aku merasa kesal. Tapi apa boleh buat. Sifat mereka memang seperti itu. Berapa kalipun aku marah, mereka akan terus melakukannya. Lagipula aku sudah mulai terbiasa." Yunhyeong tersenyum kecil. Memang pada awalnya ia tidak suka dengan gaya bercanda Hanbin dan Jiwon, tetapi sekarang ia sudah mulai terbiasa.

"Setiap orang pada awalnya pasti merasa tidak nyaman dengan suatu perubahan, tetapi jika kita mulai berpikir dewasa, lama-kelamaan kita perubahan itu bisa menjadi hal yang biasa."

Junhoe terdiam sebentar, lalu memandang Yunhyeong dengan tatapan kagum. Ternyata namja manis itu lebih dewasa dari yang kelihatannya. "Keurae, kau benar. Kajja. Aku sudah lapar."

.

.

.

"Bukankah tadi kalian bilang ingin makan tteokbokki?" Tanya Yunhyeong kebingungan. Ia ingat betul tadi Hanbin bilang ingin makan kue beras pedas itu. Tetapi kenapa sekarang mereka ada di restoran yang menjual makanan Jjampong (*mie kuah pedas)?

"Tiba-tiba saja aku ingin makan sesuatu yang pedas dan berkuah." Kata Hanbin sambil tersenyum malu-malu.

"Nado." Sahut Junhoe. Ia sangat menyukai masakan apapun yang pedas. Baginya, tidak ada hari tanpa makanan pedas.

Yunhyeong terdiam. Sejujurnya ia tidak terlalu suka masakan pedas selain ramyeon. Ramyeon yang biasa ia makan juga tidak terlalu pedas. Rencananya tadi Yunhyeong hanya akan makan beberapa tteokbokki lalu memberikannya kepada Jiwon dengan alasan ia sudah kenyang. Tetapi sekarang mereka makan di restoran yang terkenal menjual jjampong dengan porsi besar dan sangat pedas.

"Kau tidak keberatan kan?" Tanya Jiwon.

"Apa kau ingin makan yang lain?" Tanya Hanbin. Mereka bertiga menunggu jawaban dari pentraktir (?).

"Gwaenchana." Kata Yunhyeong sambil tersenyum. "Keurae, aku akan memesan empat porsi jjampong. Apa kalian ingin pesan yang lain?"

"Kimchi!" Kata Junhoe, Hanbin dan Jiwon kompak. Mereka lalu saling melihat satu sama lain.

"Ya! Kenapa kalian mengikutiku?" Tanya Junhoe.

"Bukankah saem yang mengikuti kami?" Kata Hanbin sinis.

"Maja-yo." Sahut Jiwon.

Yunhyeong menghela napas. Ternyata Junhoe sangat tidak cocok dengan kedua temannya itu. Sebaiknya mereka bertiga segera dipisahkan. Yunhyeong mengangkat tangannya dan mulai memesan. "Jogiyo, aku-"

"Untuk apa aku mengikuti kalian? Aku memang sangat menyukai kimchi." Protes Junhoe.

Yunhyeong terdiam. Mereka masih beradu mulut. "Jogiyo aku pesan-"

"Memang di Seoul hanya saem yang menyukai kimchi?" Kata Hanbin mencibir.

"Semua anggota keluargaku menyukai kimchi." Kata Jiwon polos.

Yunhyeong masih berusaha berbicara dengan pelayan restoran. "Aku pesan empat-"

"Aku tidak bertanya tentang keluargamu!" Kata Junhoe sambil menunjuk Jiwon.

"KEUMANHAE!"

Junhoe, Hanbin dan Jiwon tersentak. Mereka bertiga menatap Yunhyeong yang sedang mengatur napasnya. Baru pertama kali mereka mendengar Yunhyeong berteriak seperti itu. Bahkan orang-orang yang ada di restoran itu juga terkejut.

"Jogiyo, aku pesan empat porsi jjampong dan kimchi." Kata Yunhyeong dengan nada sangat halus kepada seorang pelayan. Pelayan itu menggangguk lalu mencatat pesanan Yunhyeong. "Kamsahamnida." Yunhyeong menolehkan kepala kepada Junhoe-Hanbin-Jiwon yang sedang terdiam. "Waeyo? Kenapa kalian tidak lanjutkan adu mulut kalian?" Tanyanya santai.

"Ehem…" Junhoe berpura-pura batuk. Sungguh kekanak-kanakan berkelahi dengan muridnya, apa lagi merebutkan kimchi.

"Yoyo-ah, kau sudah baikan? Apa kau masih pusing?" Tanya Hanbin sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Yunhyeong.

"Yoyo? Cih…" Cibir Junhoe. Tetapi tidak ada satupun yang meladeninya.

"Eo." Yunhyeong menjauhkan tangan Hanbin dari dahinya. "Aku merasa lebih baik berkat makanan dan minuman yang kalian bawakan tadi."

"Keurae? Syukurlah." Kata Hanbin sambil tersenyum lebar.

Mereka berempat lalu terdiam sejenak. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Tak berapa lama kemudian pesanan mereka datang.

"Ini pesanan anda." Kata seorang pelayan yang membawa nampan besar.

"Ne. Kamsahamnida. Jalmeokhaeseumnida." Kata Yunhyeong sambil membantu pelayan itu menata meja.

"Ah! Aku baru ingat. Yunhyeong-ah, apa kau ingin menonton film hari minggu besok?" Tanya Jiwon sambil mengaduk jjampong miliknya.

"Film apa?"

"Ada film horror baru yang akan dirilis. Aku sudah melihat poster filmnya. Hantunya sangat seram. Hiii…." Kata Hanbin dengan wajah takut yang dibuat-buat.

Yunhyeong tersenyum miris. Untuk apa ia menonton film horror? Toh setiap hari ia melihat hantu. Hanbin dan Jiwon yang sadar akan perubahan ekspresi wajah Yunhyeong baru tersadar. Mereka telah salah bicara.

"Mwo? Hantu? Kenapa kalian percaya hal seperti itu? Hantu itu tidak ada. Hanya orang-orang konyol yang percaya hal seperti itu. Apalagi orang yang berkata bahwa mereka bisa melihat hantu. Aku sungguh tidak suka dengan orang seperti mereka." Kata Junhoe santai. Ia tidak sadar perkataannya justru memperburuk suasana.

Hanbin dan Jiwon segera melihat Yunhyeong. Mereka khawatir perasaan Yunhyeong terluka. "Saem, kenapa kau berkata seperti itu?"

"Wae? Aku hanya memberikan pendapat." Kata Junhoe cuek.

Yunhyeong menundukkan kepala, sambil menahan rasa sakit didadanya. Ia berusaha agar air matanya tidak jatuh. Keurae, bukan pertama kalinya ia mendengar hal menyakitkan seperti itu. Tapi kenapa kali ini terasa sangat sakit?

.

.

.

"Yunhyeong-ah, gomawo!" Kata Hanbin girang sambil membuka pintu restoran, diikuti dengan yang lainnya. Sedari tadi Hanbin berusaha keras mengubah suasana, walaupun tidak cukup berhasil. Yunhyeong masih saja murung.

"Lain kali aku yang traktir." Kata Jiwon.

"Yunhyeong-ah, gwaenchana? Tadi aku lihat kau terlalu banyak minum." Kata Hanbin khawatir. Selama makan tadi, Yunhyeong sudah menghabiskan dua botol besar air putih.

"Gwaenchana, aku hanya merasa haus." Yunhyeong tersenyum kecil, berusaha agar Hanbin percaya kebohongannya. Jjampong yang ia makan tadi sangat pedas, sampai-sampai ia merasa lidahnya terbakar. Yunhyeong melihat Hanbin menganggukkan kepalanya, sepertinya namja itu percaya padanya.

"Keurae. Kajja! Aku ingin cepat sampai rumah." Hanbin melingkarkan tangannya dilengan Yunhyeong.

"Hanbin-ah, mianhae." Yunhyeong menjauhkan tangan Hanbin dari lengannya. "Aku harus ke suatu tempat."

"Jinjja? Eodi?"

"Isseo… Nanti aku akan meneleponmu jika sudah sampai rumah."

"Arraseo, kami pulang dulu. Kajja jiwon-ah. Saem, kami pamit." Hanbin dan Jiwon membungkukkan badan mereka ke Junhoe dan melambaikan tangan ke Yunhyeong. Lalu mereka berjalan ke halte bus terdekat.

"Kajja." Tiba-tiba Junhoe menarik tangan Yunhyeong.

Yunhyeong membelalakkan matanya. "Eodigayo?" Tetapi pertanyaannya tidak dijawab oleh Junhoe yang terus melanjutkan langkahnya. Tidak beberapa lama kemudian mereka sampai disebuah kedai es krim.

"Kau suka rasa apa?"

"Strawberry." Jawab Yunhyeong pelan.

"Aku pesan satu es krim strawberry dan satu es krim coklat."

"Saem, aku tidak ingin-"

"Diamlah. Aku tahu kau tidak menyukai makanan pedas. Kau harus makan es krim."

"Eotteokhae arrayo?" 'Apa sangat terlihat jelas?' pikir Yunhyeong.

"Kau makan jjampong dengan terburu-buru dan kau minum air sangat banyak. Mungkin kau bisa membohongi temanmu, tapi tidak denganku."

Yunhyeong tersenyum. Aneh sekali orang ini. Hari ini ia sedih karena Junhoe, ia juga senang karena namja itu.

Mereka menunggu beberapa saat sampai es krim itu selesai dibuat. Junhoe menyerahkan beberapa lembar uang ke kasir dan memberikan es krim strawberry ke Yunhyeong. Namja manis itu menerimanya dengan senang hati, membuat Junhoe tanpa sadar tersenyum kecil.

"Kau boleh pergi."

"Ne?" Tanya Yunhyeong bingung. Apa Junhoe baru saja mengusirnya?

"Kau bilang kau harus ke suatu tempat."

"Ahh…. Umm… itu…."

Yunhyeong berpikir keras. Sebenarnya itu hanya alasan untuk Hanbin dan Jiwon. Yunhyeong hanya tidak ingin mereka tahu bahwa ia berencana mengantar Junhoe pulang. Ia harus memastikan namja blonde itu sampai dirumah dengan selamat. Tetapi Yunhyeong juga malu mengutarakan keinginannya pada Junhoe. Ia harus mencari alasan lain.

"Wae?" Tanya Junhoe sambil memakan es krim yang ada ditangan kirinya.

"K-kebetulan sekali tempat yang harus aku datangi dekat dengan tempat tinggal saem. Jadi kita bisa pulang bersama." Kau memang punya banyak akal Song Yunhyeong.

Junhoe terdiam. "Keurae. Kajja."

.

.

.

Saat didalam bus, tidak ada satupun yang berbicara. Junhoe sibuk melihat pemandangan diluar jendela, sedangkan Yunhyeong menundukkan kepalanya dan melamun.

"Ya Song Yunhyeong!"

Yunhyeong tersentak, lalu menolehkan kepalanya ke Junhoe. "Ne?"

"Astaga. Kau ini kenapa? Aku sudah memanggilmu beberapa kali." Kata Junhoe kesal.

"Mianhaeyo." Cicit Yunhyeong. "Ada apa saem memanggilku?"

"Aku bertanya padamu, apa kau akan bertemu seseorang ditempat itu?"

"Ne?"

Junhoe menghela napas. Ada apa dengan Yunhyeong?

"Aaa…." Yunhyeong baru ingat kebohongannya. "Ne." Jawabnya.

'Siapa orang itu? Namja? Yeoja? Apa kau menyukainya?' Banyak hal yang ingin Junhoe tanyakan, tetapi ia tidak berhak bertanya seperti itu, karena Yunhyeong bukan siapa-siapanya. "Apa orang itu sangat penting bagimu?"

Yunhyeong terdiam. Ia menatap Junhoe. "Ne. Dia orang yang sangat penting bagiku dan aku baru sadar hal itu sekarang."

Junhoe dan Yunhyeong saling bertatapan cukup lama. Tetapi kemudian Junhoe memalingkan wajahnya, ia tidak tahu Yunhyeong menatapnya sedih. Perkataan Junhoe terus berputar-putar dikepala Yunhyeong. Namja manis itu merasa ia harus merahasiakan kemampuannya dari Junhoe seumur hidupnya.

Sedangkan Junhoe memalingkan wajahnya penuh rasa kecewa juga kesal. Kecewa karena orang yang dimaksud Yunhyeong bukan dirinya. Kesal karena tampaknya Yunhyeong menyukai orang itu.

Setelah itu mereka tidak berbicara sama sekali. Junhoe kembali sibuk melihat pemandangan diluar jendela, sedangkan Yunhyeong terus menatap namja yang duduk disebelahnya itu.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Junhoe membuyarkan lamunan Yunhyeong.

"Ne?"

"Song Yunhyeong, gwaenchana?"

"Gwaenchanayo." Yunhyeong yang masih linglung, mengedarkan pandangannya. Didepannya ada sebuah gedung yang menjulang tinggi. Aaa…. Ternyata ia sudah berjalan sejauh ini.

"Apa kau akan terus mengikutiku sampai masuk ke apartemen?" Junhoe memasang wajah datarnya. Sejujurnya ia bingung apa yang terjadi pada Yunhyeong. Sejak didalam bus, namja yang lebih pendek darinya itu murung dan selalu menundukkan kepala.

"Apa itu apartemen saem?" Yunhyeong menunjuk gedung itu.

"Eo. Wae?"

"Aniyo." Yunhyeong menggelengkan kepala lemah.

Junhoe menatap Yunhyeong lembut. Ingin sekali ia memeluk namja manis didepannya ini dan bertanya ada apa. Tapi lagi-lagi Junhoe tidak berhak melakukan itu. Lagipula sepertinya Yunhyeong menyukai orang yang akan ia temui setelah ini. Bukankah orang itu yang lebih berhak?

"Pergilah. Mungkin orang itu menunggumu." Kata Junhoe pelan.

"Ne." Yunhyeong membungkukkan badan lalu meninggalkan Junhoe tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Ia sama sekali tidak menatap mata Junhoe.

Yunhyeong terus berjalan menunduk sampai tiba didepan halte bus, ia melihat seseorang berdiri didepannya. "Jung Chanwoo…"

Namja berkulit coklat itu memandang Yunhyeong dari kepala sampai kaki. "Song Yunhyeong? Sedang apa kau disini?"

"A-aku…"

Chanwoo melirik tangan Yunhyeong yang tertutup jas sekolah. "Apa tanganmu masih memar?"

"Eo?" Yunhyeong langsung menutup punggung tangannya. "Memarnya sudah hilang."

Chanwoo yang tidak percaya dengan perkataan Yunhyeong, langsung mendekati namja itu. Ia segera meraih tangan Yunhyeong. "Kau bohong."

Tanpa mereka sadari, namja berambut blonde itu memperhatikan mereka dari kejauhan. 'Jadi orang itu yang penting bagimu?' Apa Junhoe harus mundur secara perlahan?

.

.

.

TBC

Hai hai~

Ada yang kangen sama saya? *digebukin readers* Maaf ya T.T Ujian udah selasai dari kemarin-kemarin tapi saya baru update sekarang… Jeongmal mianhae… Terima kasih yang sudah mendoakan saya *deep bow*

Banyak halangan rintang yang menyulitkan saya melanjutkan ff ini, hape rusak, laptop rusak.. Bunuh saja saya dirawa-rawa… udah dua bulan lebih hiatus, jadi maaf kalo penulisannya rada beda, typo atau ada kata" yang absurd

Chapter ini saya bikin berhari-hari lho! *ini serius* Cieee…. Siapa yang ngarepin Junhyeong mandi bareng? Ahaha… Disini Yoyo masih belum cukup umur, jadi belum boleh ya… kalo mau baca aja Truth or Dare *Promo dikit

Chanu lagi-lagi perannya sedikit… Minggu depan ya? Oh iya, menurut saya ff ini udah mulai memasuki tahap sedih-sedih. Jadi siap-siap baper oke? Dichapter-chapter depan masalah sudah mulai bermunculan. Tenang aja, ga bakal saya bikin rumit kok, saya juga bingung soalnya hehe… Ga rumit sih… Tapi mungkin masalah muncul bertubi-tubi (?)

Bagaimana chapter kali ini? Part yang paling saya suka pas Junhoe-Hanbin-Jiwon berantem!

Kalo mau tanya-tanya boleh askfm: Sennassi Nanti kita bisa ngobrol-ngobrol (?)

Review Juseyo^^