LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Jung Chanwoo

Kim Hanbin

Kim Jiwon

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

Namja berkulit coklat itu memandang Yunhyeong dari kepala sampai kaki. "Song Yunhyeong? Sedang apa kau disini?"

"A-aku…"

Chanwoo melirik tangan Yunhyeong yang tertutup jas sekolah. "Apa tanganmu masih memar?"

"Eo?" Yunhyeong langsung menutup punggung tangannya. "Memarnya sudah hilang."

Chanwoo yang tidak percaya dengan perkataan Yunhyeong, langsung mendekati namja itu. Ia segera meraih tangan Yunhyeong. "Kau bohong."

.

.

.

"Jinjja-ya…" Kata Yunhyeong pelan, ia menarik tangannya yang sedang dipegang Chanwoo.

"Katakan padaku, bagaimana kau bisa mendapatkan memar itu?" Tanya Chanwoo dengan wajah serius. Matanya tidak berkedip sedikitpun.

"A-aku terjatuh dan tanganku terantuk sesuatu." Kenapa Chanwoo selalu bertanya tentang memarnya? Dan ada apa dengan sikapnya itu? Yunhyeong semakin curiga namja itu mengetahui sesuatu.

"Kita harus bicara." Chanwoo menarik tangan Yunhyeong dan membawa namja manis itu menjauhi halte bus.

"Eodiga?" Tanya Yunhyeong dengan langkah terseret karena tarikan Chanwoo.

"Ke rumahku."

"Eo?! Y-ya!" Yunhyeong menghentikan langkahnya, membuat namja yang didepannya itu juga berbuat demikian.

Chanwoo membalikkan badannya. Ia tidak berkata apa-apa, tapi ekspresi wajahnya seperti 'apa –lagi?!'

"Kita bisa berbicara disini. K-kenapa harus ke rumahmu?" Entah apa yang dipikirkan Yunhyeong. Ia merasa aneh jika pergi ke rumah orang lain malam-malam seperti sekarang. Bahkan Hanbin dan Jiwon saja tidak pernah mengajaknya ke rumah mereka.

Yunhyeong akui, Chanwoo memang tampan, rambut yang berwarna coklat hazelnut dan badan yang tinggi, sedikit membuatnya terpesona. Tapi tetap saja menurutnya Junhoe lebih tampan. 'Apa yang kau pikirkan Song Yunhyeong?!' Namja manis itu menggelengkan kepalanya beberapa lagi. Gawat. Junhoe sudah meracuni otaknya.

"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Tanya Chanwoo datar. "Apa kau berpikir yang aneh-aneh?"

Yunhyeong tersentak. "Eo?! A-aku hanya…."

"Haksaeng-deul!" Teriak seorang namja dari belakang mereka. Dengan kompak mereka menolehkan kepala.

Chanwoo memandang Junhoe dengan tatapan malas, berbeda dengan Yunhyeong yang membelalakkan matanya. "Goo Saem?"

Junhoe berjalan ke arah mereka. Yunhyeong memandang namja itu bingung. Pakaian Junhoe masih sama seperti tadi, tasnya juga masih ia bawa. Apa namja itu belum pulang ke rumahnya?

"Sedang apa orang itu disini? Kenapa dia ada dimana-mana?" Tanya Chanwoo pada dirinya sendiri, tentu saja dengan suara pelan. Entah kenapa dari awal ia tidak menyukai Junhoe.

"Mwohae?" Junhoe memandang kedua muridnya itu bergantian, lalu matanya merlirik tangan Chanwoo yang masih memegang tangan Yunhyeong.

Yunhyeong yang mengikuti arah pandang Junhoe, segera menarik tangannya. "Saem, kenapa belum pulang?"

"Kau sendiri? Kenapa kau ada disini dengan orang ini?" Junhoe memperhatikan Chanwoo dari kepala sampai kaki. Wajahnya tidak mengenakkan.

Chanwoo yang dipandang seperti itu oleh Junhoe, mengerutkan dahinya. Lalu ia melempar pandangannya ke arah lain. 'Mengganggu saja.'

"Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Lalu ia mengajakku ke…. Umm… ke….." Yunhyeong melirik ke Chanwoo, seolah-olah meminta persetujuan dari namja itu.

"Mengajakmu ke mana? Malam-malam begini?"

"Aku mengajaknya ke rumahku." Kata Chanwoo dengan tatapan malasnya.

"Untuk apa?" Kali ini wajah Junhoe berubah sinis.

Chanwoo terdiam sebentar. Wajahnya berubah bingung sekaligus kesal. "Apa kau harus tahu?"

"Tentu. Aku adalah guru kalian. Bukankah sudah tugasku menegur murid yang masih berkeliaran diluar rumah mereka malam-malam begini?" Junhoe melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Chanwoo.

Sekarang kedua namja itu saling bertatapan tajam. Yunhyeong merasa situasi ini agak tegang. Ia berusaha membuka suara. "Aku-"

Krruuuyyuuukkk…

"Suara apa itu?" Junhoe mencari sumber suara.

Chanwoo menolehkan kepala ke namja manis yang ada disampingnya itu. Dilihatnya Yunhyeong sedang memegang perut sambil menundukkan kepala. "Song Yunhyeong, kau sangat memalukan."

Yunhyeong mengangkat kepalanya. Chanwoo sedang memandangnya sinis sedangkan Junhoe menatapnya dengan wajah tidak percaya. "Mianhaeyo…" Cicit Yunhyeong. Rasanya ia ingin lari sejauh mungkin. Ia sangat malu.

"Kau lapar?"

"Uumm…."

"Keurae, meokja! Aku yang traktir."

"Ne?!"

.

.

.

Junhoe memandang Chanwoo dengan tatapan kesal. 'Kenapa namja berkaki panjang itu ikut kesini?' Tanyanya dalam hati. Sepertinya Junhoe tidak sadar diri. Sedangkan Chanwoo memakan daging yang baru matang itu dengan tergesa-gesa, tak lupa ia meniupnya terlebih dahulu. Ia harus buru-buru selesai lalu mengajak Yunhyeong berbicara.

Yunhyeong rasanya ingin menangis, ia yang sudah repot-repot memanggang daging tetapi Chanwoo, dengan rasa tidak bersalah, merebutnya. Alhasil, Yunhyeong hanya menjilati sumpit yang dipegangnya., berharap benda itu berubah menjadi daging.

"Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Chanwoo bertanya kepada Yunhyeong dengan mulut yang penuh daging. Namja manis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku belum makan satupun…"

Chanwoo mengedipkan matanya beberapa kali. "Ahh… Mian…." Ia mengambil sebuah daging dan menawarkan diri untuk menyuapi Yunhyeong.

Junhoe yang melihat hal itu, membulatkan matanya. Saat Yunhyeong hendak membuka mulut, ia segera menarik tangan Chanwoo dan memasukkan daging itu ke dalam mulutnya. "Wah… Ini sangat enak."

Yunhyeong benar-benar ingin menangis. Ia harus segera pulang ke rumah dan memakan ramyeon. Daging yang dimakan Junhoe adalah yang terakhir. Yunhyeong memandang kedua namja itu sinis. Buat apa Junhoe mengajaknya makan? Ia bahkan hanya meminum air putih.

"Sudah selesai? Ayo kita pulang." Junhoe berdiri dan memakai tasnya. "Yunhyeong-ah, kau harus segera pulang. Jangan pergi dengan orang asing." Kalimat terakhir sebenarnya ditujukan untuk Chanwoo.

"Aku ada urusan dengannya. Saem, kau bisa pulang dulu." Kata Chanwoo sedikit menantang. 'Dari awal, guru olahraga ini sudah terlalu ikut campur.'

"Ya! Apa tidak bisa dibicarakan besok?!" Kesabaran Junhoe sudah mencapai puncaknya. "Yunhyeong-ah, kau harus pulang."

"Aniya. Yunhyeong-ah, kau ikut aku."

"Pulang sekarang."

"Ikut aku."

"Pulang!"

"Jangan pulang!"

Yunhyeong menghela napas. Sepertinya kepalanya akan meledak sebentar lagi. Hari ini sudah dua kali orang yang pergi bersamanya saling beradu mulut, ditambah lagi perutnya lapar. Yunhyeong sudah tidak peduli dengan sekitarnya. "Chanwoo-ya, kau bisa berbicara denganku besok. Saem, aku pamit pulang." Ia membungkukkan badannya. "Itu saja. Kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian." Yunhyeong meninggalkan restoran itu dengan langkah lemas.

Junhoe tersenyum penuh kemenangan. Yunhyeong lebih mengikuti perintahnya daripada Chanwoo.

"Keurae, aku bisa berbicara dengannya besok." Kata Chanwoo pada dirinya sendiri yang tentu saja didengar Junhoe.

"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan dengannya?"

Chanwoo menghela napas jengkel. "Ini tidak ada urusannya denganmu. Kau tidak perlu ikut campur."

.

.

.

Junhoe memasuki apartemennya dan membanting tubuhnya ke sofa. 'Ini tidak ada urusannya denganmu. Kau tidak perlu ikut campur.' Ucapan Chanwoo masih terngiang-ngiang diotaknya. "Dasar murid kurang ajar."

Sejujurnya Junhoe ingin menyerah saat melihat Yunhyeong dan Chanwoo berpegangan tangan di halte bus tadi (ini menurut pandangan Junhoe). Semakin lama ia berpikir, ia semakin yakin. Ia tidak akan menyerah sampai mendengar dari mulut Yunhyeong bahwa namja manis itu tidak ada perasaan padanya. 'Belum waktunya untuk menyerah Goo Junhoe, kau tidak boleh kalah dari namja berkaki panjang itu.' Seseorang harus mengingatkan Junhoe bahwa ia juga memiliki kaki yang panjang…

Junhoe memandang sebuah bingkai foto dimeja sebelah sofa tempatnya duduk. Didalam foto itu terdapat seorang wanita tua dan seorang anak kecil sedang tersenyum. "Halmeoni, aku akan menikah dengan orang yang kucintai sesuai keinginanmu. Aku berharap kau mendukungku."

.

.

.

Yunhyeong berjalan dilorong sekolah dengan wajah bengkak. Ramyeon yang ia makan kemarin sepertinya membuat wajahnya sedikit membesar. Hah…. Jika saja Chanwoo tidak memakan semua daging itu…. Jarang-jarang Yunhyeong makan daging sapi Korea yang terkenal enak itu. Maklum, ia tinggal sendirian disini. Ia harus berhemat.

"Yoyo-ah~ Annyeong~" Sapa Hanbin saat melihat sahabatnya itu masuk ke dalam kelas.

"Eo, annyeong…" Yunhyeong meletakkan tasnya disamping meja. Matanya melirik kursi kosong disebelahnya, Chanwoo belum datang. Ia juga harus berbicara dengan namja itu. Banyak pertanyaan yang ia ingin tanyakan.

"Yunhyeong-ah…. ada sesuatu hal baik yang akan terjadi. Coba kau tebak apa itu?" Kata Hanbin sambil tersenyum lebar.

"Apa itu? Jamkkan. Dimana Jiwon?" Tanya Yunhyeong heran. Biasanya namja berlesung pipi itu selalu bersama pacarnya.

Senyuman Hanbin semakin lebar. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Yunhyeong dan berbisik, "kita akan berkemah. Jiwon terpilih sebagai salah satu panitia, ia sedang rapat sekarang."

Yunhyeong tersenyum kecut. Kemah? Itu artinya ia akan melihat arwah-arwah lebih banyak dari biasanya. Hantu di hutan lebih mengerikan dari hantu-hantu lain karena jika ada orang yang meninggal di tempat itu, roh mereka akan terjebak dan bentuk mereka akan berubah seiring berjalannya waktu. Jika saja Yunhyeong tidak bisa melihat mereka, pasti sekarang reaksinya sama seperti Hanbin. "Kapan kita berkemah? Minggu depan?"

"Lusa. Besok malam kau harus mempersiapkan semuanya."

Yunhyeong mengerutkan dahinya. "Kenapa mendadak?" Ia harus membeli garam dan bawang putih yang banyak sepulang sekolah.

"Molla. Ah… Benar… Apa kau baik-baik saja?" Tanya Hanbin setelah melihat perubahan ekspresi wajah Yunhyeong. "Aku dengar kita akan berkemah di Perkemahan Nanji. Tempat itu tidak menyeramkan. Kau tidak usah takut. Atau jika kau mau aku akan minta izin ke Jiwon agar kau tidak usah ikut."

"Aniya. Aku akan membawa garam dan bawang putih yang banyak. Bukankah ada nilai tambah bagi siswa yang aktif?"

"Eo. Goo saem selaku guru olahraga yang akan memberi nilai."

"Keurae. Aku akan mendapatkannya, lihat saja nanti." Kata Yunhyeong semangat, sejujurnya ia tidak ingin Hanbin khawatir.

"Cih… kau kan sudah pintar, untuk apa mendapatkan nilah tambah? Mau pamer?" Hanbin mempoutkan bibirnya.

"Aku paling tidak bisa pelajaran olahraga. Kau tahu sendiri, sudah berapa kali aku melewatkan mata pelajaran itu." Yunhyeong tersenyum. "Lagipula Jiwon tidak bisa menemanimu karena dia panitia dan kau pasti akan kesepian. Aku tidak mau hal itu terjadi." Ya.. Karena ia tahu bagaimana sedihnya sendirian itu.

Mata Hanbin sedikit berbinar setelah mendengar perkataan Yunhyeong. "Yoyo-ah~ Kau sangat pengertian~" Ia lalu memeluk Yunhyeong dengan erat.

"Hentikan Kim Hanbin! Kau mau membunuhku ya?!"

Hanbin tidak memperdulikan Yunhyeong. Ia sangat senang. Semakin lama Yunhyeong semakin terbuka padanya. Hanbin melepas pelukannya saat melihat Chanwoo datang. Namja itu datang tergesa-gesa, meletakan tasnya dan langsung membawa Yunhyeong keluar dari kelas tanpa berbicara sepatah katapun.

.

.

.

"Taehyun-ah, bagaimana dengan lokasi perkemahan?" Tanya Kang Seungyoon selaku ketua panitia. Sekarang para panita sedang melaksanakan rapat. Hari ini merupakan rapat terakhir, hanya untuk memantapkan acara lusa besok.

"Semua sudah kupersiapkan." Kata Taehyun yang menjabat wakil ketua.

"Bagaimana dengan perlengkapan?"

"Perlengkapan sudah lengkap, besok aku akan mengirimnya kesana." Kata Jiwon. Ia menjabat sebagai seksi perlengkapan.

"Baiklah, besok kita akan berkemah di Perkemahan Nanji. Hari ini aku akan mengumumkan ke murid-murid lain. Aku harap semuanya berjalan dengan lancar." Dengan begitu rapat berakhir.

Saat para panitia hendak bubar, Lee saem tiba-tiba masuk dengan napas terengah-engah, sepertinya guru itu berlari ke ruang rapat. "Yaedeul-ah, lokasi perkemahan akan diganti."

"Ne?!" Kata semua pantia kompak.

"Saem, kenapa tiba-tiba?" Kata Taehyun, dari semua panita yang ada disana, ia yang paling terkejut.

"Ada perbaikan jalan mendadak didepan Perkemahan Nanji. Kendaraan tidak bisa lewat. Mianhae, mereka baru memberitahuku tadi."

"Lalu bagaimana dengan lokasinya?"

"Tenang saja. Lokasi yang baru tidak terlalu jauh."

"Memangnya ada perkemahan lain disana?" Tanya Jiwon bingung.

"Kita akan berkemah di hutan belakang Perkemahan Nanji."

Semua panitia terkejut mendengar perkataan Lee saem, Jiwon bahkan sampai membelalakkan matanya.

"Mwo-ya… Bukankah hutan itu sangat menyeramkan?" Tanya salah satu yeoja ketakutan.

"Eo. Aku dengar banyak hantu-hantu menyeramkan disana." Jawab yeoja yang lain.

Jiwon memejamkan mata dan memijit pelipisnya pelan. Ia harus mencari cara agar Yunhyeong tidak ikut.

.

.

.

Setelah beberapa perundingan, akhirnya rapat selesai. Hasilnya, mereka akan tetap berkemah, walaupun lokasi diubah dan beberapa permainan yang dilakukan diluar perkemahan –seperti mencari benda-benda tertentu di hutan- dihapus. Mereka tidak ingin ambil resiko.

Jiwon keluar ruang rapat dengan langkah lemas. Dilihatnya Hanbin melambaikan tangan di ujung koridor. Jiwon menghampiri namja chingu-nya itu.

"Kenapa dengan wajahmu?" Hanbin mengusap wajah Jiwon pelan.

"Hanbin-ah, eotteokhae?" Suara Jiwon terdengar sedih.

"Wae? Apa sesuatu telah terjadi?"

Jiwon menarik napas dan menceritakan semuanya. Dari perkataan Lee saem yang membuatnya syok sampai hasil rapat mereka tadi.

"Eotteokhae? Bagaimana dengan Yunhyeong?" Jiwon menundukan kepalanya. Ia sungguh khawatir pada sahabatnya itu.

Hanbin terdiam. Ia sedang berpikir keras. Sangat beresiko jika Yunhyeong ikut, ia pasti akan sangat menderita. "Aku akan membujuknya untuk tidak ikut."

"Goo saem akan menilai murid yang aktif dan akan dimasukan ke nilai olahraga. Yunhyeong sudah beberapa kali melewatkan pelajaran itu. Nilainya pasti banyak yang kosong. Kau yakin dia akan menurutimu?"

"Molla. Jika perlu aku akan memaksanya."

.

.

.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Nado."

Chanwoo mengerutkan dahinya. "Apa itu?"

"Kau duluan, Jung Chanwoo-ssi." Yunhyeong melipat tangannya di dada. Ia bersyukur Chanwoo membawanya ke lapangan indoor yang sepi. Dengan begitu ia bisa berbicara dengan nyaman.

"Keurae. Darimana kau mendapatkan memar itu?" Chanwoo melirik punggung tangan Yunhyeong yang tertutup jas.

Yunhyeong terdiam sebentar. Ia lalu mengelus punggung tangannya. "Aku juga tidak tahu. Memar ini muncul dengan sendirinya."

"Apa terasa sakit?"

"Ani. Sangat mengherankan, aku tidak merasakan apapun."

Chanwoo terdiam, ia tampak berpikir sejenak. "Song Yunhyeong, apa kau bisa melihat hantu?"

Yunhyeong tersentak. Dipandangnya Chanwoo dengan wajah serius.

"Sudah kuduga." Chanwoo melempar pandangannya ke arah lain. Ekspresi Yunhyeong menjawab pertanyaannya. Hal yang ia khawatirkan benar-benar terjadi. "Kau dalam bahaya."

Yunhyeong menatap Chanwoo tidak percaya. "Apa maksudmu?"

"Sejak kapan memar-memar itu mulai muncul?" Bukannya menjawab pertanyaan Yunhyeong, Chanwoo malah bertanya hal yang lain.

"Sekitar beberapa minggu yang lalu."

"Apa memar-memar itu hanya ada ditangan? Tidak dibagian tubuh yang lain? Ah, ani. Pasti sudah ada memar dipunggungmu."

Yunhyeong memandang Chanwoo bingung sekaligus ketakutan. Kenapa namja di depannya ini tahu banyak? "Neo otteokhae ara? Chanwoo, kau pasti tahu sesuatu."

Chanwoo terdiam. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan Yunhyeong. "Yunhyeong-ah, sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusan arwah-arwah. Itu bukan tugasmu." Chanwoo memegang pundak Yunhyeong. "Atau sesuatu yang buruk akan menimpamu." Lalu ia berjalan ke pintu keluar.

Yunhyeong terdiam memandang lantai. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar perkataan seperti itu. "Ya! Jung Chanwoo!"

Chanwoo menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. "Wae?"

"Kau pasti tahu sesuatu. Aku mohon beritahu aku." Suara Yunhyeong terdengar sedih. Kenapa orang-orang selalu memperingatinya tanpa memberitahu alasan? Apa ia tidak berhak tahu?

"Apa yang ingin kau tahu?" Chanwoo memandang namja manis itu dengan tatapan kasihan. Kenapa Yunhyeong bisa bernasib sama seperti hyung-nya?

"Semuanya. Jelaskan semuanya padaku." Yunhyeong menahan air matanya agar tidak jatuh.

Chanwoo menghela napas. Ia kembali menghampiri Yunhyeong. "Uri hyung… sama sepertimu… ia bisa melihat hantu, selalu menolong arwah-arwah. Bahkan ia juga mempunyai memar-memar sepertimu dan dia… hidup menderita…"

Yunhyeong diam seribu kata. Air mata yang sedari tadi ia bendung, jatuh ke pipinya. Tubuhnya lemas, ia jatuh terduduk.

"Memar ditubuhnya semakin banyak, hampir menutupi seluruh tubuhnya. Ia seperti mayat hidup." Lanjut Chanwoo. Hatinya sakit mengingat saudaranya itu. "Aku tidak mau hal itu terjadi padamu. Keuraeseo, aku mohon mulai dari sekarang kau tidak usah berhubungan dengan arwah-arwah itu lagi. Anggap saja mereka tidak ada." Chanwoo berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Yunhyeong. Ia mengusap lengan namja manis itu pelan.

Yunhyeong mulai menangis. "Bagaimana bisa aku mengabaikan mereka?! Mereka selalu saja menggangguku! Aku bahkan tidak bisa hidup seperti manusia normal!" Ia mengeluarkan emosi yang ia pendam selama ini. "Aku tersiksa kau tahu! Aku juga tidak ingin melihat arwah-arwah itu! Mereka sungguh menggangguku! Keundae oetteokhae? Aku tidak bisa mengganggap mereka tidak ada…. Aku tidak bisa…."

Yunhyeong melampiaskan kekesalannya dengan menangis. Ia kesal kenapa hidupnya menyedihkan seperti ini. Yunhyeong juga ingin hidup seperti orang pada umumnya, tinggal bersama keluarga, mempunyai banyak teman dan hidup tanpa gangguan.

"Song Yunhyeong."

Yunhyeong menghentikan tangisnya. Suara itu…. Ia segera menolehkan kepalanya ke sumber suara, begitu juga Chanwoo yang sedang berjongkok disebelahnya.

Junhoe berdiri didekat pintu keluar. "Kau bilang apa tadi? Kau… Bisa melihat hantu?"

.

.

.

TBC

TBC nista… Bagaimana reaksi Junhoe?!

Bagian Chanwoo sudah banyak kan? Hehe… FYI, perkemahan Nanji biasa dipake buat syuting (contohnya Running Man), kalo soal hutannya saya ngasal hehe….

Biasanya saya menulis ff sambil mendengarkan lagu-lagu tertentu… di setiap ff beda-beda lagu… Mungkin bisa dibilang soundtrack? Hehe… oleh karena itu kali ini saya merekomendasikan beberapa lagu: Toy – Block B, Trust – G Friend, dan Missing U – Lee Hi. Siapa tahu kalo kalian mendengarkan lagu-lagu itu bisa lebih dapet feel-nya.

Mian kalo ada typo atau kata-kata yang tidak nyambung… Mian kalo author bawel…

Review juseyo^^