LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Jung Chanwoo

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Song Yunhyeong."

Yunhyeong menghentikan tangisnya. Suara itu…. Ia segera menolehkan kepalanya ke sumber suara, begitu juga Chanwoo yang sedang berjongkok disebelahnya.

Junhoe berdiri didekat pintu keluar. "Kau bilang apa tadi? Kau… Bisa melihat hantu?"

.

.

.

Yunhyeong tersentak. Sejak kapan Junhoe berdiri disitu? Apa dia mendengar pembicaraannya dengan Chanwoo? Apa Junhoe sudah tahu semuanya? Apa ia harus mengaku sekarang?

"Song Yunhyeong! Jawab aku."

Tidak. Jika Junhoe tahu, namja itu akan membencinya dan memandangnya aneh. Ya, seperti yang semua orang lakukan padanya. Yunhyeong tidak tahu harus bagaimana. Maka dari itu, ia memutuskan untuk kabur. Ia berlari, menabrak Junhoe yang berada di depan pintu.

.

.

.

"Hanbin-ah, kenapa Yunhyeong belum kembali?" Tanya Jiwon.

"Molla. Aku rasa dia ada masalah dengan Chanwoo." Hanbin terus menatap ke arah pintu, berharap Yunhyeong masuk dan ia bisa meminta namja itu untuk tidak ikut kemah. Tapi sampai bel masuk hampir berbunyi sekarang, Yunhyeong belum kembali.

"Chanwoo?"

"Eo. Tadi Chanwoo menarik tangan Yunhyeong dan membawanya pergi."

Jiwon tampak berpikir sejenak. "Yunhyeong tidak cerita apa-apa padamu?"

"Ani."

Jiwon menghela napas. "Aku pikir kita bertiga sudah akrab. Tapi ternyata Yunhyeong masih menutup-nutupi masalahnya."

Hanbin merenung sejenak. Benar juga. Yunhyeong masih belum membuka dirinya.

"Ah! Itu Chanwoo." Jiwon menunjuk namja bertubuh tinggi yang masuk ke dalam kelas.

Hanbin segera mendatangi Chanwoo tanpa pikir panjang lagi, Jiwon menyusul di belakang.

"Chanwoo-ya, Yunhyeong eodiseo?"

"Molla."

"Mwo? Kau pergi dengannya tadi." Kata Hanbin dengan nada kesal.

"Aku tidak tahu. Dia langsung pergi mendahuluiku begitu pembicaraan kami selesai."

"Memangnya apa yang kalian bicarakan?" Tanya Jiwon.

Chanwoo terdiam sejenak, lalu menatap Hanbin dan Jiwon. "Aku rasa kalian harus bertanya sendiri pada Yunhyeong."

.

.

.

Dan disinilah Yunhyeong sekarang. Atap gedung sekolah yang jarang didatangi orang. Ia berjongkok, bersandar pada tembok dan menangis.

Junhoe pasti sudah tahu. Ya, pasti namja itu sudah tahu. Walaupun Yunhyeong tidak menjawab pertanyaan Junhoe, namja itu pasti sudah tahu jika melihat gelagatnya.

Bagaimana sikap Junhoe setelah ini padanya? Menjauhinya? Aneh memang, disaat seperti ini Yunhyeong malah memikirkan Junhoe, bukan cerita Chanwoo tentang hyung-nya yang bernasib sama dengan Yunhyeong.

Setelah menangis hampir satu jam, Yunhyeong berhenti menangis. Dilihat jam tangannya, jam pelajaran kedua sedang berlangsung. Ia tidak ingin masuk kelas hari ini, apalagi dengan mata bengkak. Juga besar kemungkinannya bertemu dengan Junhoe. Junhoe... Junhoe...

"Aiisshh..." Yunhyeong menghapus air matanya yang keluar dengan kasar.

.

.

.

BRAAKK!

"Ini tidak beres. Ya, ada yang tidak beres."

Hanbin tidak memperdulikan tangannya yang memerah karena memukul meja. Untung saja sekarang kelas sudah sepi, jadi ia bisa berbuat sesukanya. "Kita sudah mencarinya saat istirahat tadi tapi tidak ketemu. Chanwoo juga sepertinya menutupi sesuatu, dia langsung pulang saat bel pulang berbunyi."

"Hanbin-ah, aku rasa Yunhyeong masih ada di dalam sekolah. Dia tidak mungkin pulang ke rumahnya tanpa membawa tas." Ujar Jiwon. Ia juga khawatir dengan Yunhyeong. Yunhyeong jarang sekali membolos

"Maja. Tapi dia tidak ada dimana-mana."

Kreekk...

Suara pintu kelas terbuka. Namja yang mereka bicarakan itu masuk dengan wajah lesu.

"Yoyo-ah!" Hanbin dan Jiwon langsung menghampiri namja manis itu. "Dari mana saja kau?! Kami mencarimu seharian ini!"

Yunhyeong tidak menjawab pertanyaan Hanbin. Ia hanya tersenyum dan berkata, "mianhae."

"Gwaenchana? Wajahmu pucat, matamu juga bengkak." Tanya Jiwon.

"Gwaenchana." Suara Yunhyeong terdengar serak.

"Yoyo-ah, apa yang terjadi?" Tanya Hanbin khawatir.

Yunhyeong menundukkan kepala. "Goo saem sudah tahu. Dia sudah tahu aku bisa melihat hantu."

Hanbin dan Jiwon tersentak. "Bagaimana dia bisa tahu?! Kau yang memberitahunya?!"

"Ani." Yunhyeong mengangkat kepalanya. Matanya terlihat berair. "Eotteokhae? Pasti sikapnya padaku akan berubah. Dia pasti memandangku aneh…"

Hanbin memeluk Yunhyeong dan mengelus punggung sahabatnya itu. "Aniya. Kau jangan berpikir seperti itu."

"Kau punya kami Yunhyeong-ah. Sikap kami padamu tidak akan berubah." Jiwon juga ikut mengelus punggung Yunhyeong. Ia merasa sedih melihat Yunhyeong seperti ini.

Hanbin melepas pelukannya. "Yunhyeong yang aku kenal adalah orang yang pemberani. Kau tidak usah peduli pandangan orang terhadapmu. Jangan mencoba berubah jika kau sudah merasa menjadi orang baik."

"Eo. Maja. Dimana headphone yang biasa kau pakai itu?"

"Biasanya kau sering memakai benda itu. Apa punyamu rusak? Jiwon akan membelikanmu headphone edisi terbaru." Kata Hanbin sambil melirik Jiwon yang sedang kebingungan.

"Eh? Kenapa aku? Aku saja tidak punya headphone."

"Dasar miskin."

"Mwo?! Kenapa kau berkata seperti itu kepada pacarmu sendiri?!"

Yunhyeong tertawa. Pasangan ini selalu saja bisa membuat moodnya menjadi lebih baik.

Setelah puas bertengkar, Hanbin dan Jiwon menawarkan diri untuk mengantar Yunhyeong pulang. Diperjalanan Jiwon tak henti-hentinya mengatakan hal lucu yang membuat Hanbin dan Yunhyeong terpingkal-pingkal.

Setelah sampai di depan gedung apartemen, Hanbin dan Jiwon pamit pulang.

"Yoyo-ah. Aku mau kau mengabulkan dua permintaan kami."

Yunhyeong mengerutkan dahinya. "Permintaan apa?"

"Kau berjanji akan mengabulkannya?"

"Aku harus mendengarnya terlebih dahulu."

"Baiklah. Yang pertama, kau tidak boleh masuk sekolah besok."

"Wae?"

"Kau demam, pabbo. Kau harus istirahat." Sahut Jiwon.

Hanbin mengangguk setuju. "Yang kedua, aku tidak ingin kau ikut kemah."

"Lokasi kemah diganti. Aku dengar tempat yang baru angker."

Yunhyeong memandang kedua sahabatnya itu sambil tersenyum. "Kalian tahu aku tidak akan mengabulkan permintaan yang kedua."

Hanbin membelalakkan matanya, dia tampak marah. "Aniya! Kau tidak boleh ikut!"

"Mianhae."

"Yoyo-ah, kalau kau ikut, kau akan menderita!"

"Nan gwaenchana."

"Tidak! Aku tidak memperbolehkanmu ikut!"

"Hanbin-ah, hentikan. Kau tidak boleh egois seperti itu." Jiwon menengahi pembicaraan. "Itu keputusan Yunhyeong. Dan kau Yunhyeong, sebagai gantinya saat di perkemahan, kau tidak boleh jauh-jauh dari Hanbin."

"Keurae, aku akan menempel padamu seperti baju yang kau pakai." Kata Hanbin menakut-nakuti. "Kau juga harus mengabulkan permintaan yang pertama."

Yunhyeong tersenyum. "Arraseo." Ia tahu kedua sahabatnya itu mengkhawatirkannya. Tetapi ia sudah memutuskan untuk ikut dan siap menanggung akibatnya.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

"Uhh…"

Tok! Tok! Tok!

"Song Yunhyeong!"

"Siapa yang datang jam segini?" Yunhyeong bangkit dari tempat tidur sambil memegang kepalanya yang sedikit pening. Ia berjalan ke depan dan membuka pintu. "Kim Hanbin?" Bukan Hanbin yang ia lihat, melainkan namja tinggi berkulit cokelat.

"Jung Chanwoo?! Sedang apa kau disini?!" Yunhyeong menengok ke belakang, melihat jam yang ada di ruang tamu. Jam sembilan. "Kau tidak sekolah?!"

"Aku dengar kau sakit. Jadi aku membawakan obat dan bubur. Bubur ini terkenal enak." Chanwoo mengangkat kantong plastik yang ia pegang, mensejajarkannya dengan wajah Yunhyeong.

"Hm… Sepertinya enak…" Yunhyeong menghirup wangi benda yang ada di depannya. Ekspresinya tiba-tiba berubah. "Tunggu. Kau tahu rumahku darimana?!"

"Itu… rahasia…"

.

.

.

Hanbin memegang secarik kertas sambil tersenyum. Jiwon memandang namja chingu-nya itu aneh. Apa ini efek kimchi yang mereka makan tadi? Lalu ia melihat kertas ditangan Hanbin.

"Apa itu?" Tanyanya.

"Resep masakan. Aku ingin membuatkan Yunhyeong bubur agar dia cepat sembuh."

"Bukannya kau tidak bisa masak?"

"Memang. Oleh karena itu aku mencari resepnya."

Jiwon memandang Hanbin ngeri. "Hajima."

"Wae?" Tanya Hanbin bingung.

"Aku tidak ingin Yunhyeong masuk rumah sakit."

Hanbin membelalakkan matanya lalu menjambak rambut Jiwon. "Mwo?! Apa maksudmu?!

"Aaakk! Chagiya, mianhae!" Jiwon memegang tangan Hanbin yang menarik rambutnya.

"Miaaan?!"

Jiwon melihat sekelilingnya, semua orang yang ada di koridor memperhatikannya. Lalu ia melihat Junhoe yang sedang berjalan ke arahnya.

"I-itu Goo saem! Saem, annyeonghaseyo!" Teriak Jiwon. Ia tidak bisa membungkukkan badan karena Hanbin menarik rambutnya.

Mendengar teriakkan Jiwon, Hanbin segera menjauhkan tangannya dari kepala namchin-nya itu. "Annyeonghaseyo, Goo saem."

Junhoe menghentikan langkahnya dan berhenti didepan pasangan kekasih itu. "Keurae…"

Hanbin menundukkan kepalanya. Malu atas tindakannya yang kekanak-kanakan itu. Tetapi kemudian ia mengangkat kepalanya. Heran pada Junhoe yang masih berdiri didepannya dan Jiwon.

"Apa… Song Yunhyeong benar-benar bisa melihat hantu?" Tanya Junhoe tiba-tiba.

Hanbin dan Jiwon tersentak. Kemudian mereka saling pandang.

"Ne, saem." Jawab Jiwon.

Junhoe menghela napas, lalu melemparkan pandangannya ke arah lain. Hanbin melihat ada sesuatu yang aneh pada guru olahraga itu.

"Saem, apa kau marah pada Yunhyeong?" Tanyanya, yang berhasil membuat Junhoe kaget.

"Aku… Tidak…"

"Apa kau kecewa padanya?"

"Umm… Sedikit…"

Tiba-tiba Hanbin tertawa. Jiwon dan Junhoe memandang namja itu bingung.

"Apanya yang lucu?" Tanya Jiwon. Mungkin penyebabnya benar-benar kimchi.

Hanbin berusaha meredakan tawanya. "Saem, kami pergi dulu." Ia menarik paksa tangan Jiwon dan menjauhi Junhoe.

Saat guru itu sudah tidak terlihat, Hanbin kembali tertawa.

"Hanbin-ah, gwaenchana?" Tanya Jiwon panik. Takut namchin-nya itu harus dibawa ke rumah sakit jiwa.

"Gwaenchana." Hanbin memegang perutnya yang sakit karena terlalu keras tertawa.

"Lalu kenapa kau tertawa seperti itu? Kau membuatku takut."

"Kkk… Apa kau tidak melihat wajah Goo saem tadi?"

"Tentu saja."

"Bagaimana ekspresinya?"

"Terlihat khawatir?"

"Lalu pipinya?"

"Umm… sedikit memerah? Tunggu. Apa kau sedang mengajakku bermain tebak-tebakan?"

"Aniya. Pipinya memerah saat dia membicarakan Yunhyeong. Itu berarti?" Tanya Hanbin penuh harap.

Jiwon berpikir sejenak. "Jangan-jangan…."

Hanbin tersenyum sambil mengangguk.

Senyum sumringah muncul dibibir Jiwon. "Wah… aku harus minta traktir pada Yunhyeong!"

.

.

.

Yunhyeong memainkan tangannya. Sudah beberapa lama ia dan Chanwoo terdiam seperti ini. Rasanya canggung. Dilihatnya namja itu sedang meminum air yang ia berikan tadi.

"Gomawo." Kata Yunhyeong berusaha mencairkan suasana.

Chanwoo mengalihkan pandangannya ke Yunhyeong. "Mwoga?"

"Kau sudah membawakanku makanan, obat, bahkan kau membantuku mencuci piring."

Yunhyeong merasa tidak enak hati. Seharusnya ia melayani Chanwoo sebagai tuan rumah. Sekarang malah terbalik seperti ini.

"Gwaenchana." Ujar Chanwoo sambil tersenyum.

Yunhyeong kaget. Namja di depannya ini jarang tersenyum, padahal dia terlihat semakin tampan jika melakukan hal itu.

"Kau lapar? Ingin aku buatkan sesuatu?" Tanya Yunhyeong.

"Aniya, tidak usah." Chanwoo membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna putih. "Ini untukmu." Ia menyerahkannya pada Yunhyeong.

"Apa ini?" Yunhyeong membuka tutup botol itu.

"Itu krim yang digunakan hyung-ku untuk menutupi memarnya. Memang tidak bisa menghilangkan semua. Tapi memarmu bisa tersamarkan."

"Ah… Gomawo…"

"Sini kupakaikan." Chanwoo kembali mengambil botol itu dari tangan Yunhyeong dan menarik tangan namja manis itu.

Chanwoo memakaikan krim itu perlahan-lahan. "Kau harus memakainya seperti ini. Sedikit-sedikit saja."

Benar saja. Memar dipunggung tangan Yunhyeong sedikit menghilang.

"Wah… menghilang!" Ujar Yunhyeong girang. "Gomawo, jinjja gomawo!"

Saat hendak mengambil krim itu dari tangan Chanwoo, tiba-tiba namja itu menariknya. Yunhyeong membulatkan matanya. Jarak wajahnya dengan wajah Chanwoo hanya berbeda beberapa senti.

"Kalau krim ini habis, kau bisa bilang padaku. Aku akan membelikannya lagi." Kata Chanwoo setengah berbisik.

Yunhyeong dan Chanwoo saling pandang untuk beberapa saat. Entah kenapa Yunhyeong merasa gugup…

Tok! Tok! Tok!

"Song Yunhyeoooongg~" Terdengar suara orang berseriosa dari luar. "Ooh Song Yunhyeoonngg~"

"Ah.. Itu pasti Hanbin dan Jiwon. Tunggu sebentar, Chanwoo-nya." Yunhyeong segera menjauhkan wajahnya dari Chanwoo. Ia berdiri dan berjalan ke pintu depan.

"Annyeong!" Sapa Jiwon yang langsung melepas sepatu begitu masuk.

"Yoyo-ah… Bagaimana suaraku?" Tanya Hanbin, berharap Yunhyeong memujinya. "Apa aku harus mencoba audisi drama musikal?"

"Hajima. Kau akan mempermalukan dirimu sendiri." Jawab Yunhyeong datar.

"Kau jujur sekali." Hanbin tersenyum masam. "Bagaimana? Kau sudah baikan?" Ia melepas sepatunya.

"Eo. Sudah lebih baik."

"Baguslah. Aku ikut senang." Hanbin memakai sendal rumah yang sudah disiapkan Yunhyeong.

"Yunhyeong-ah, aku masuk." Jiwon berjalan ke ruang tamu seperti tuan rumah.

"Eo." Yunhyeong kepada Jiwon. "Hanbin-ah, kenapa jam segini kalian sudah pulang?"

"Sekolah mengadakan pulang cepat karena kemah besok. Itu sepatu barumu?" Hanbin menujuk sepatu cokelat yang kelihatan mengkilap disebelah sepatunya.

"Ani."

"Lalu punya siapa?"

"Jung Chanwoo?!" Teriak Jiwon dari dalam.

Hanbin memandang Yunhyeong sebentar lalu segera berlari ke ruang tamu. "Sedang apa kau disini?!" Teriaknya pada Chanwoo.

"Reaksi kalian sama dengan Yunhyeong." Ujar Chanwoo. Ia berdiri dan memakai tasnya dipunggung. "Song Yunhyeong! Aku pamit."

"Keurae." Teriak Yunhyeong dari arah pintu. Ia sedang membereskan sepatu Hanbin dan Jiwon karena sahabatnya yang kurang ajar itu menaruh seenaknya.

Chanwoo memandang Hanbin dan Jiwon bergantian lalu berjalan melewati mereka.

"Wah… pantas saja dia tidak masuk tadi." Jiwon masih syok dengan apa yang ia lihat barusan, begitu juga dengan Hanbin.

"Kenapa dia ada disini?" Hanbin berjalan ke kulkas, mengambil sebotol minuman soda dan meminumnya. "Ah… segarnya…"

"Ya!" Teriak Yunhyeong yang baru kembali dari depan. "Itu minuman soda terakhirku!" Ia menatap Hanbin horor.

"Mian. Ini. Masih ada setengah." Hanbin hendak menyerahkan minuman itu. "Aniya. Kau baru sembuh. Tidak boleh." Lalu kembali menenggak botol itu.

Yunhyeong melihat sahabatnya itu dengan tatapan kesal. Ia lalu membuka kulkas dan mengambil minuman yang lain untuk Jiwon.

"Yunhyeong-ah, kenapa Chanwoo datang ke sini?" Tanya Jiwon sambil menerima minuman dari tuan rumah.

"Dia bilang dia mendengarku sakit. Lalu datang kemari untuk menjengukku."

"Wah… aku baru tahu Jung Chanwoo orang yang seperti itu." Ujar Hanbin.

"Dia juga membawakanku obat dan bubur." Lanjut Yunhyeong.

"Jadi kau sudah makan? Aku baru saja ingin membuatkanmu bubur." Kata Hanbin sedih.

"Bagaimana dia tahu rumahmu?" Jiwon mengerutkan dahinya.

"Molla. Itu juga yang menghantui pikiranku sedari tadi."

"Isanghae. Tapi tidak apa-apa. Jika Yunhyeong punya banyak teman, aku senang. Omong-omong, ini apa?" Tanya Hanbin. Tangan kirinya memegang botol punya Yunhyeong yang diberikan Chanwoo tadi.

Yunhyeong terkejut. "I-itu krim wajah." Jawabnya cepat.

"Keurae? Boleh aku coba?" Hanbin membuka tutup botol itu. Sebelum memakainya, Yunhyeong segera mengambil benda itu.

"Wae? Aku hanya akan mencoba sedikit." Protes Hanbin.

"Aniya. Tidak boleh."

"Cih… Dasar pelit."

Yunhyeong tidak mendengarkan Hanbin dan berjalan ke rak buku. Menaruh botol itu disana.

"Ah… Yunhyeong-ah, ini untukmu." Jiwon menyerahkan sebuah kantong besar berwarna hitam ke Yunhyeong.

"Ige mwoya?"

"Itu barang-barang yang mungkin butuhkan untuk kemah besok."

Yunhyeong membuka kantong itu dan melihat barang-barang keperluan kemping yang ia tidak punya.

"Dan ini dariku." Hanbin memberikan sebuah plastik bening berisikan bawang dan garam. "Kau pasti tidak sempat membelinya. Apa itu kurang?"

"Aniya. Ini lebih dari cukup. Aku bisa mengusir semua hantu di tempat kemping." Ujar Yunhyeong terharu. "Gomawo…"

"Ah.. Iya… tadi Goo saem-" Hanbin segera menutup mulut Jiwon. Sedangkan Yunhyeong memandang kedua sahabatnya itu bingung.

"Ah… Wae?" Kata Jiwon begitu tangan Hanbin lepas dari mulutnya.

"Biar dia tahu sendiri! Kau jangan ikut campur!" Ancam Hanbin.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Yunhyeong polos.

"Aniya. Tidak ada." Ujar Hanbin sambil tersenyum. "Chef Song, kita makan apa hari ini?"

"Hm… Telur gulung?"

"Ne!"

.

.

.

Yunhyeong kembali memeriksa tasnya. Pakaian, senter, peralatan mandi, sandal, dan tentu saja bawang serta garam. Ya, semuanya lengkap.

"Hah… aku lupa bawa handuk!" Hanbin mengorek-ngorek tasnya, berharap ia salah.

"Kau bisa memakai punyaku. Aku bawa dua." Tawar Yunhyeong. Ia membawa dua untuk berjaga-jaga.

"Benarkah? Kau penyelamatku, Song Yunhyeong." Hanbin memeluk Yunhyeong sebentar.

"Hentikan. Jangan melakukan hal itu di dalam bus." Ujar Yunhyeonh sedikit kesal.

Benar. Mereka sedang dalam perjalanan ke tempat kemah. Yunhyeong harus berterima kasih pada Jiwon. Berkat namja bergigi kelinci itu, ia dan Hanbin bisa satu bus, bahkan satu tenda.

Semua guru dan murid ikut kemah, termasuk Junhoe. Sejak kejadian dua hari lalu itu, Yunhyeong belum bertemu dengan namja itu lagi. Hari ini ia bertekad untuk menghindar dari Junhoe, sebisa mungkin menjauhinya.

"Hari ini dan besok aku tidak bisa dekat-dekat dengan Jiwon." Kata Hanbin sedih.

"Kkk…. Bukankah kalian sering bertengkar?"

"Tetap saja. Hampir setiap hari kami bertemu. Hah… kalau dia tidak terpilih menjadi panitia, kita bertiga bisa duduk bersama di bus, dan…." Hanbin terdiam sebentar, ia menundukkan kepala. "Kita bisa satu tenda." Wajahnya memerah.

Yunhyeong memandang wajah Hanbin sambil tertawa geli. "Apa yang kau bayangkan?" Godanya.

"T-tidak. Memangnya apa yang aku bayangkan?" Kata Hanbin malu-malu.

"Aku justru bersyukur Jiwon menjadi panitia. Aku tidak mau satu tenda dengan kalian."

"Wae?"

Yunhyeong tertawa miris. "Apa yang kau rasakan jika kau diposisiku? Menjadi nyamuk?"

Hanbin tertawa. "Itu karena kau tidak punya pacar. Yoyo-ah, berpacaranlah dengan seseorang jadi kau tidak terlihat menyedihkan."

"Apa aku terlihat menyedihkan dimatamu?" Tanya Yunhyeong gondok."

"Yoyo-ah kita sudah sampai." Kata Hanbin mengalihkan perhatian.

Yunhyeong melihat ke luar jendela. Pemandangan yang sangat bagus. Udaranya juga sejuk. Ini pertama kalinya Yunhyeong pergi ke tempat seperti ini. Biasanya ia selalu menolak jika diajak pergi kemah. Ia harus mencoba hal baru bukan?

Begitu bus berhenti, satu persatu murid turun dari bus. Saat semuanya sudah berkumpul, Kang Seung Yoon selaku ketua OSIS mengarahkan kegiatan.

"Chingu-deul, kita sudah sampai. Kalian pasti heran kenapa tempat perkemahan diubah. Karena ada kejadian yang tidak terduga, panitia memutuskan untuk kemah disini."

Terdengar suara murid-murid berbisik-bisik. Sudah bukan rahasia lagi tempat yang mereka injak sekarang adalah tempat angker.

"Sekarang kalian harus menyiapkan tenda sesuai dengan kelompok kalian. Dua jam lagi kita kumpul disini."

"Chagiya!" Teriak Jiwon dari belakang, mengagetkan Hanbin dan Yunhyeong.

"Jiwon-ah~" Hanbin memeluk Jiwon. "Kau dari mana saja?"

"Mian, aku harus mengurus beberapa hal." Jiwon mengelus rambut Hanbin.

"Eotteokhae? Kita akan jarang bertemu."

"Aniya, aku punya rencana." Jiwon membisikan sesuatu ke telinga Hanbin. Apapun perkataan namja bergigi kelinci itu berhasil membuat wajah Hanbin memerah.

Yunhyeong memutar bola mata malas. Ia dianggap nyamuk sekarang. Saat itulah matanya menangkap sosok namja yang ia ingin hindari itu. Walaupun hanya terlihat bagian punggung, Yunhyeong mengenali Junhoe.

Junhoe terlihat memakai kaus putih polos dan celana panjang hitam. Ah… bahkan punggungnya sangat enak dilihat.

Mwoya?! Yunhyeong menggelengkan kepalanya. Aniya, aniya. Ia tidak boleh memperhatikan namja itu. Yunhyeong kembali melirik Junhoe untuk yang terakhir kali. Oh tidak. Namja itu sekarang melihatnya! Pandangan mereka bertemu!

Panik. Yunhyeong segera melemparkan pandanganya ke arah lain dan mendorong-dorong Hanbin.

"Hahaha… apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali? Hahaha…" Tawa Yunhyeong terdengar canggung.

"Kau kenapa?" Tanya Jiwon bingung.

"Aniya hahaha… Hanbin-ah, mwohae? Kita harus membuat tenda, kajja!" Yunhyeong segera menarik tangan Hanbin menjauhi Jiwon. Ya, nyamuk bisa membuat sepasang kekasih terpisah…

.

.

.

Kegiatan kemah lebih seru dari yang Yunhyeong bayangkan. Ada lomba-lomba yang menarik. Ia juga puas tertawa walaupun kalah diperlombaan tarik tambang.

Yunhyeong juga berusaha mati-matian untuk tidak melirik Junhoe. Tapi ia selalu saja membuat kesalahan. Otaknya seperti sudah diatur hanya untuk melihat Junhoe. Matanya selalu saja menemukan namja tampan itu.

"Song Yunhyeong!"

Yunhyeong yang sedang melihat lomba estafet tongkat, menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Chanwoo sedang berdiri disampingnya.

"Astaga, aku baru melihatmu hari ini." Ujar Yunhyeong yang benar-benar terkejut.

"Dimana Hanbin?"

Yunhyeong menunjuk namja yang sedang berlari memegang tongkat. Wajahnya yang sedang serius terlihat menakutkan.

"Kau dari mana saja?"

"Aku baru saja selesai membereskan dapur."

"Bukankah itu tugas panitia?" Tanya Yunhyeong heran.

"Eo. Aku dipaksa menjadi panitia oleh orang itu." Chanwoo menunjuk Kang Seung Yoon yang sedang memegang mic, menyemangati peserta lomba.

Yunhyeong tertawa kecil. "Ternyata kau takut pada orang seperti itu."

"Tentu saja. Dia kakak sepupuku."

"Eo?! Jinjja?!" Teriak Yunhyeong kaget.

"Eo. Walaupun hanya berbeda beberapa bulan, dia tetap lebih tua dariku."

"Omo… kenapa kau baru memberitahuku sekarang?"

Chanwoo mengerutkan dahinya. "Memangnya itu sesuatu yang harus dibanggakan?"

"Ani." Cicit Yunhyeong. "Apa dia… ehem… tahu soal hyung-mu?"

"Aniya. Keluargaku merahasiakan hal itu. Orang tuaku tidak ingin mengumbarnya." Ujar Chanwoo pelan.

"Jung Chanwoo! Kemari kau!" Teriak Lee saem dari seberang lapangan.

"Aisshh… ini semua karena Seung Yoon-hyung. Aku akan memberitahu teman-temannya kalau ia pernah tercebur sumur." Kata Chanwoo sambil meringis.

Mendengat hal itu Yunhyeong tertawa terbahak-bahak, perutnya sampai sakit.

"Aw… perutku sakit… Ya Jung Chanwoo, aku tidak tahu kau orang yang menyenangkan seperti ini!" Puji Yunhyeong.

"Keurae?" Chanwoo tersenyum. Kalau begitu nanti aku akan memberitahu aib Seung Yoon-hyung semuanya padamu."

"JUNG CHANWOOO!" Teriak Lee saem sekali lagi.

"Ne! Yunhyeong-ah, aku harus pergi."

"Eo. Annyeong…" Yunhyeong memperhatikan Chanwoo sampai namja itu menghilang. Lalu matanya bergerak berlawanan dengan hatinya. Lagi-lagi namja tampan itu yang dilihatnya.

.

.

.

Hari sudah mulai gelap. Yunhyeong sudah membawa banyak bawang dan garam dikantong celananya. Acara api unggun sebentar lagi dimulai. Ia harus siap-siap melihat makhluk-makhluk mengerikan yang akan muncul.

"Yoyo-ah, sebaiknya kau tidak usah ikut." Ujar Hanbin yang sedang memakai sepatu diujung tenda.

"Aniya, aku sudah membawa bawang dan garam. Aku akan baik-baik saja." Yunhyeong menguatkan diri, sejujurnya ia takut.

"Keurae, aku akan membantumu nanti."

Acara api unggun dimulai. Belum apa-apa, Yunhyeong sudah melihat hantu. Hanbin yang tahu sahabatnya sedang ketakutan, mengajak Yunhyeong berbicara sampai namja itu lupa.

Kadang jika hantu itu muncul tiba-tiba, Yunhyeong pura-pura mengulet, padahal ia melempar garam. Begitu terus sampai acara selesai.

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Yunhyeong bersiap-siap untuk tidur.

"Kau ingin tidur?" Tanya Hanbin yang sedang memakai jaketnya.

"Memangnya aku harus berjalan-jalan seperti yang kau dan teman-teman di tenda lakukan?" Ejek Yunhyeong. Ada dua masalahnya, ia takut hantu dan tidak punya pacar.

Hanbin tertawa kecil. "Mianhae, aku sudah janji pada Jiwon."

"Gwaenchana, aku juga mengantuk."

"Keurae, tidurlah yang nyenyak."

Setelah itu Hanbin keluar dari tenda, meninggalkan Yunhyeong sendirian.

.

.

.

"Uh…" Yunhyeong membuka matanya. Dilihatnya hari masih gelap. Yunhyeong menengok ke sebelahnya, tempat Hanbin tidur, tapi sahabatnya itu belum juga kembali. Beberapa teman satu tendanya sudah tertidur.

"Toilet. Toilet." Gumam Yunhyeong. Ia bangun dari tidurnya dan memakai jaketnya. Tak lupa ia membawa garam.

Yunhyeong keluar dari tenda dan melihat sekeliling. Ada yang sedang foto-foto. Ada yang sedang berkumpul sambil bernyanyi-nyanyi di dekat api unggun.

Yunhyeong melihat ke kiri. Disana ada papan usang yang bertuliskan 'TOILET'. Ia melangkahkan kakinya ke sana. Ditengah perjalanan, beberapa yeoja menghadangnya.

"Jogi, apa kau punya garam?" Tanya salah satu yeoja.

"Kami hanya meminta sedikit untuk membuat makanan." Kata yeoja yang satunya lagi.

Yunhyeong mengeluarkan plastik bening dari kantongnya dan memberikan yeoja itu setengahnya.

"Terima kasih."

Setelah itu Yunhyeong segera meninggalkan yeoja-yeoja itu yang bertengkar tentang berapa kalori yang harus mereka makan.

Yunhyeong berdiri didepan pintu toilet sambil memandang sisa garam yang ia punya. Hanya tinggal sedikit karena tadi beberapa hantu muncul dihadapannya.

"Semoga cukup."

Setelah menuntaskan keinginannya, Yunhyeong membuka pintu toilet dan berjalan ke arah yang tadi ia lewati.

"Mwo-ya?! Sepertinya aku tidak melewati jalan ini tadi?!"

.

.

.

Jiwon berjalan ke arah tendanya dengan senyuman lebar. Ia teringat saat berduaan dengan Hanbin sejam yang lalu. Mereka berdua… Ah.. Sudahlah…

"Eo? Goo saem?" Dari kejauhan ia melihat Junhoe yang sedang berjalan ke arahnya. Namja itu berpakaian serba hitam. Kaus hitam, jaket hitam dan celana panjang hitam. 'Sial, dia memang tampan." Ujar Jiwon dalam hati.

"Eo. Ternyata kau." Kata Junhoe saat melihat Jiwon.

"Saem, kau belum tidur?"

"Aku tidak bisa tidur di tempat asing."

"Ah… saem, kenapa kau berpakaian seperti itu?"

"Wae? Ada apa dengan pakaianku?" Junhoe memandang jaket dan celananya.

"Ckckck…" Jiwon berdecak. "Aniyo."

Junhoe terdiam sebentar. "Yunhyeong-"

"Dia sudah tidur."

"Ah… keurae…" Junhoe menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kim Jiwon." Tiba- tiba Chanwoo datang menghampiri Jiwon dan Junhoe. "Dimana Yunhyeong?"

"Mwoya? Kenapa kalian berdua menanyakan Yunhyeong?" Tanya Jiwon sambil melihat Junhoe dan Chanwoo bergantian.

"Kim Jiwon!" Kali ini suara datang dari Hanbin yang berlari menghampiri ketiga namja itu.

Hanbin mengatur napasnya. "Apa kau melihat Yunhyeong?"

"Eo? Kau juga menanyakannya?"

"Aku tanya apakah kau melihatnya?!" Nada suara Hanbin meninggi.

"Aniya."

"Eotteokhae?!" Ujar Hanbin cemas. "Dia belum kembali ke tendanya dari sejam yang lalu!"

"MWO?!" Ujar Jiwon, Junhoe dan Chanwoo bersamaan.

"Apa kau sudah mencarinya?" Tanya Junhoe panik.

"Ne. Dia tidak ada dimana-mana." Hanbin menghapus air mata yang turun ke pipinya. Ia cemas setengah mati.

"Aku lihat dia ke arah sana." Teriak salah satu yeoja yang mendengar pembicaraan mereka. Yeoja tadi yang meminta garam pada Yunhyeong. Ia menunjuk ke arah namja itu pergi.

"Itu adalah jalan menuju hutan. Disana ada toilet yang sudah tidak terpakai! Mungkin Yunhyeong tersesat." Kata Jiwon panik.

"Aku akan pergi ke sana." Ujar Chanwoo mantap.

"Aniya. Disana berbahaya. Aku saja yang pergi." Kata Junhoe. "Jika aku tidak kembali dalam dua jam. Kalian harus memanggil penanggung jawab tempat ini." Lalu namja itu berlari ke dalam hutan.

.

.

.

Yunhyeong memegang ujung jaketnya. Sudah satu jam lebih ia berputar-putar di tempat ini. Tidak ada jalan keluar. Yunhyeong tidak tahu kemana harus pergi. Ia juga tidak bisa melihat lurus ke depan. Ia takut, garamnya sudah habis.

Tiba-tiba angin dingin muncul entah dari mana. Yunhyeong merapatkan jaketnya. Tak lama kemudian ia mendengar suara-suara mengerikan.

Yunhyeong menutup kupingnya. Ia bersandar pada salah satu pohon dan berjongkok. Saat mengangkat kepala, dilihatnya sesosok hantu berlumuran darah.

"Jangan mendekat! Hiks.. Aku mohon jangan mendekat

…" Ia menutup matanya rapat-rapat. Tiba-tiba ia merasakan tangan seseorang dipundaknya.

"Song Yunhyeong!"

Itu… suara Junhoe…

Yunhyeong membuka matanya. Dan benar. Junhoe berada tepat didepannya. "Hiks… saem…"

Junhoe segera memeluk namja manis itu dengan erat. "Hah… syukurlah…"

Tangis Yunhyeong bertambah keras saat merasakan pelukan Junhoe. "Seonsaengnim… Hiks…"

"Gwaenchana, ada aku disini…."

.

.

.

Junhoe menghapus air mata Yunhyeong yang sesekali masih keluar. "Sudahlah. Berhenti menangis."

"Hiks…" Akhirnya Yunhyeong sudah puas menangis, setelah hampir setengah jam.

Junhoe menggengam tangan Yunhyeong dan membantunya berdiri. "Ayo… teman-temanmu pasti menunggu."

Mereka berjalan pelan-pelan sambil bergandengan.

"Saem, apa kau tahu jalannya?" Tanya Yunhyeong curiga.

"Kau meremehkanku, eo?"

"A-aniyo."

Junhoe tersenyum melihat rekasi Yunhyeong. Sepertinya sudah bertahun-tahun ia tidak berbicara dengan namja manis ini.

"Dulu sering pergi ke sini dengan Appa. Jadi aku sudah hafal daerah sini."

"Ahh…" Yunhyeong sedikit lega. Entah kenapa sejak ada Junhoe, ia tidak melihat hantu lagi.

"Yunhyeong-ah…" Panggil Junhoe.

Jantung Yunhyeong berdegup kencang. Ini pertama kalinya Junhoe memanggilnya seperti itu. "N-ne?"

"Mianhae…" Junhoe menghentikan langkahnya dan menatap mata Yunhyeong. "Maafkan aku…"

Yunhyeong terdiam sebentar. Ia tahu apa yang sedang dibicarakan Junhoe. "Aniyo. Aku yang minta maaf. Aku sudah membuatmu tidak nyaman."

"Aku menyukaimu."

DEG

Yunhyeong membulatkan matanya. "Ne?"

Junhoe tersenyum, sangat manis. "Aku sangat menyukaimu. Apa kau juga menyukaiku?"

Yunhyeong menunduk malu.

"Yunhyeong-ah, apa kau juga menyukaiku?"

"N-ne. Aku menyukaimu."

Junhoe tersenyum bahagia. Ternyata perasaannya terbalas. Dipeluknya namja manis itu beberapa saat. Lalu ia menarik leher belakang Yunhyeong, mendekatkan bibirnya dan…

"Hajimayo.." Cicit Yunhyeong.

"Wae?" Tanya Junhoe sambil melirik bibir Yunhyeong.

"Wa-wajahku sedang aneh."

Junhoe tersenyum, lagi. Ia mendorong pelan Yunhyeong hingga punggung namja itu bersentuhan dengan pohon.

"Aku tidak peduli." Lalu Junhoe mengecup bibir Yunhyeong. Melumat pelan bibir namja yang disukainya itu.

Yunhyeong memukul dada Junhoe agar ia bisa bernapas. Beberapa detik kemudian, Junhoe bersiap menciumnya lagi.

"Saem, sebaiknya…"

Junhoe merangkul pinggang Yunhyeong dan kembali melumat bibir Yunhyeong.

.

.

.

TBC

Haihai^^

Kisseu? Kisseu!

Maafin saya yang sudah berbulan-bulan ga update. Chapter ini banyak bonusnya: lebih panjang, JunHyeong couple jadian. Eh cuma dua deng bonusnya..

Gimana chapter kali ini?

Review juseyo^^

Dengan ini saya resmikan Yunhyeong dan Junhoe sudah berpacaran...