LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Other Cast:

Jung Chanwoo

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

"Aku tidak peduli." Lalu Junhoe mengecup bibir Yunhyeong. Melumat pelan bibir namja yang disukainya itu.

Yunhyeong memukul dada Junhoe agar ia bisa bernapas. Beberapa detik kemudian, Junhoe bersiap menciumnya lagi.

"Saem, sebaiknya…"

Junhoe merangkul pinggang Yunhyeong dan kembali melumat bibir Yunhyeong.

.

.

.

"Eotteokhae?! Kenapa mereka belum kembali?!" Hanbin mengusap air mata yang jatuh ke pipinya kasar. "Hiks… Seharusnya aku tidak meninggalkannya…." Dia yang meminta Yunhyeong menempel padanya tetapi dia sendiri yang meninggalkan namja itu. Hanbin merasa sangat bersalah.

"Sudahlah…" Jiwon merangkul namja chingu-nya itu. "Aku yang mengajakmu bertemu tadi. Aku yang salah." Kalau saja ia tidak meminta Hanbin menemuinya, Yunhyeong pasti tidak akan hilang seperti ini.

Jiwon melirik Chanwoo yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara. Dan ia cukup terkejut melihat raut wajah namja berkulit cokelat itu. Khawatir, dia sangat khawatir. Chanwoo yang terlihat selalu tanpa ekspresi, ternyata juga bisa khawatir.

"Aku akan menyusul Goo saem." Chanwoo membulatkan tekadnya. Ia juga harus mencari Yunhyeong. Saat hendak pergi, tangan Jiwon menghalanginya.

"Ini belum dua jam. Goo saem bilang tunggu sampai dua jam." Kata Jiwon mengingatkan.

Chanwoo menghelan napas kesal. "Lalu kita harus menunggu disini sampai dua jam tanpa melakukan apa-apa, begitu? Padahal mungkin saja mereka membutuhkan bantuan kita?"

Chanwoo menghempaskan tangan Jiwon dan berjalan ke arah hutan. Tetapi kemudian langkahnya terhenti saat melihat kedua namja itu ke luar dari hutan. Chanwoo menurunkan pandangannya. Tangan. Mereka berpegangan tangan.

"Yunhyeong-ah!" Hanbin dan Jiwon berlari ke Yunhyeong dan memeluknya erat-erat. Astaga… Betapa leganya mereka bisa bertemu dengan namja manis itu lagi.

"Yoyo-ah, mianhae. Hiks… Jeongmal mianhae..."

Yunhyeong melepas pelukan Hanbin dan Jiwon lalu ia mengusap air mata sahabatnya itu. "Uljima… Aku sudah kembali sekarang."

"Yunhyeong-ah, mianhae…" Kata Jiwon pelan.

"Aniya. Ini salahku karena keluar tenda tanpa menunggu kalian."

"Ckckck…." Junhoe melipat tangan di dada. "Lain kali, aku tidak ingin seperti ini lagi. Kalau aku tidak ada, kalian harus menjaga Yunhyeong."

Yunhyeong menatap Junhoe tajam dan menyikut lengan namja itu. Ia harus menegur sikap Junhoe nanti. Semua orang bisa tahu tentang hubungan mereka jika guru olahraga itu tidak menjaga ucapannya.

"Hiks… Ne, saem. Maafkan kami." Hanbin menundukkan kepalanya.

"Sudahlah. Aku sudah kembali. Kajja. Ayo ke tenda. Aku mengantuk." Ia mendorong punggung Hanbin dan Jiwon menjauhi Junhoe.

Beberapa langkah kemudian, Yunhyeong menoleh ke belakang. Dilihatnya Junhoe sedang tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya, yang sukses membuat Yunhyeong tersipu.

"Song Yunhyeong."

Yunhyeong menoleh ke Chanwoo yang sedang berjalan ke arahnya. "Eo, Chanwoo-ya."

Chanwoo menghampiri Yunhyeong lalu memperhatikan namja manis itu dari kepala sampai kaki. "Gwaenchana?"

"Eo. Gwaenchana." Yunhyeong tersenyum kecil. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

"Syukurlah… Hm… Sepertinya aku terlambat." Gumam Chanwoo.

"Eo? Kau bilang apa tadi?"

Chanwoo melirik Junhoe yang masih berdiri ditempatnya tadi. "Aniya."

.

.

.

Yunhyeong membuka matanya perlahan. Sinar matahari sangat terang, menembus tenda yang tempat ia tidur sekarang. Lalu tiba-tiba ia tersenyum. Samar-samar ia mengingat kejadian di hutan semalam. Bibir Junhoe yang terasa sangat lembut… Tangan Junhoe yang memeluk pinggangnya….

"Hahaha…." Yunhyeong menutupi wajahnya yang memerah dengan selimut. Astaga. Mengingatnya saja ia tersipu.

"Semalam pasti terjadi sesuatu bukan?"

"Kkamjjagiya!" Yunhyeong menoleh ke samping kanannya. Dilihatnya Hanbin sedang duduk sambil melipat tangan di dada. "Aiissh… Kau hampir membuatku terkena serangan jantung!"

"Ceritakan padaku, Song Yunhyeong-ssi. Apa yang dikatakan Goo saem sampai membuatmu tersipu seperti ini?"

Yunhyeong tersenyum malu-malu. "Dia bilang dia menyukaiku…."

"Jinjja?"

"Eo."

"Waah… Chukhae…" Hanbin tersenyum. Entah kenapa ia juga ikut merasa senang. "Keuraeseo? Dia bilang apa lagi? Hanya itu?"

Yunhyeong tidak menjawab dan menggigit bibirnya.

"Tunggu. Jangan-jangan…. Kalian berciuman?!"

Mendengar teriakan Hanbin, Yunhyeong langsung bangun dari tidurnya dan memperhatikan sekitarnya. Untung saja tidak ada orang lain selain mereka. "Ya! Pelankan suaramu!"

"Jadi benar? Kalian berciuman?" Bisik Hanbin.

Yunhyeong menganggukkan kepalanya.

Hanbin tersenyum lebar lalu memeluk sahabatnya itu. "Chukhae, Yoyo-ah! Jadi sekarang kalian berpacaran?"

Yunhyeong kembali menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Eo."

"Keundae… Apa Goo saem tidak membahas hal lain? Seperti tentang kemampuanmu?" Tanya Hanbin tiba-tiba. Bukan tanpa alasan ia bertanya seperti ini. Hanbin hanya tidak ingin Yunhyeong menderita pada akhirnya. Kejujuran sangat penting dalam suatu hubungan.

Yunhyeong tersenyum kecil. "Eo. Dia tahu semuanya. Dia juga sudah meminta maaf."

"Syukurlah…" Hanbin menepuk pundak Yunhyeong. Kemudian matanya menangkap sesuatu. "Yoyo-ah, kamu memiliki memar dileher." Ia menurunkan sedikit kerah belakang Yunhyeong. "Omo! Kenapa kau memiliki banyak memar?!"

Yunhyeong membulatkan matanya. Lalu ia menjauhkan tangan Hanbin dari tubuhnya.

Hanbin menatap sahabatnya itu khawatir. "Yunhyeong-ah, kau harus ke rumah sakit."

"Aniya, tidak perlu. Aku baik-baik saja." Yunhyeong merapikan bajunya. Leher? Sekarang memarnya sudah menjalar ke lehernya juga?

"Apanya yang baik-baik saja?! Pertama ditanganmu, sekarang leher dan punggungmu."

"Nan gwaenchana."

"Aniya. Kau harus ke rumah sakit, aku akan mengantarmu."

"Yunhyeong sakit?" Tiba-tiba Junhoe masuk ke dalam tenda dengan ekspresi bingung. Lalu ia menatap Yunhyeong. "Kau sakit?"

Yunhyeong melirik Hanbin yang juga sedang melihat ke arahnya. Mudah-mudahan namja berlesung pipi itu tidak membicarakan masalah tadi pada Junhoe.

"Aniyo." Jawab Hanbin. "Aku memintanya check up rutin. Hanya untuk berjaga-jaga saja, bukankah begitu, Yoyo-ah?" Tanyanya pada Yunhyeong.

"Ne, ne." Jawab namja manis itu cepat. "Aku memang sering check up ke rumah sakit beberapa bulan sekali, saem." Bohongnya.

"Ah… Keurae..."

"Ah!" Hanbin memperlihatkan ekspresi pura-pura terkejutnya. "Yunhyeong-ah, aku harus pergi sekarang. Jiwon menungguku." Lalu namja itu pergi terburu-buru. Tentu saja Yunhyeong mengerti apa maksud Hanbin yang tiba-tiba pergi.

"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Junhoe dengan suara beratnya.

Yunhyeong tersenyum kecil. "Ne."

"Apa kau mimpi indah?"

Yunhyeong tersenyum lagi. "Ne."

"Baguslah." Junhoe mengelus kepala Yunhyeong lembut.

"Kenapa saem tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Wae? Shireo?"

"Aniyo. Hanya saja aneh rasanya mendengar saem bertanya seperti itu."

"Aneh? Aiissh…" Junhoe berpura-pura marah. "Padahal aku sudah bertanya layaknya seorang namja ke pacarnya."

Yunhyeong tertawa kecil.

"Aku memang tidak berpengalaman dalam berpacaran. Walaupun malu mengakuinya, tapi kau adalah yang pertama."

"Pertama untuk apa?"

"Kau tahu."

"Aku tidak tahu."

"Kau pasti tahu."

"Aku benar-benar tidak tahu."

Junhoe menatap mata Yunhyeong. "Kau sedang menggodaku, eo?"

Yunhyeong tersenyum malu. "Aniyo."

"Aiisshh…" Junhoe melemparkan pandangannya ke arah lain. "Melihat kau tersenyum seperti itu membuatku gugup."

Yunhyeong tertawa melihat tingkah Junhoe. Aigoo… Cucu halmeoni ini benar-benar seperti anak kecil. "Bagiku, saem juga orang yang pertama."

"Jinjja?"

"Ne."

Junhoe tersenyum bahagia. Wah… Song Yunhyeong memang mempunyai efek yang luar biasa dihidupnya. "Yunhyeong-ah…"

"Ne?"

"Jangan memanggilku sonsaengnim jika sedang berduaan seperti ini."

Yunhyeong mengerutkan dahinya. "Lalu?"

"Hyung?" Tanya Junhoe sambil menunggu reaksi pacarnya itu.

"Ne?!"

"Shireo? Kalau begitu… Oppa?"

Yunhyeong membulatkan matanya. Dirasakannya kedua pipinya memanas. "O-oppa?! K-kenapa aku harus memanggil saem oppa?"

Junhoe tertawa kecil melihat Yunhyeong yang salah tingkah. "Keurae! Melihat reaksimu, aku sudah memutuskan kau harus memanggilku oppa!"

"S-shireoyo! Aku tidak mau…" Yunhyeong mengipasi pipinya dengan tangannya.

"Ayo kita coba. Panggil aku oppa."

"Shireoyo."

"Eiii… coba bilang 'Junhoe oppa~ Aku menyukaimu~' Seperti itu."

"Tidak mau!"

"Kau belum mencobanya.

"Tidak mau! Aku tidak mau!"

"Eii… Song Yunhyeong…."

Disisi lain, Junhoe dan Yunhyeong tidak sadar ada yang menguping pembicaraan mereka sedari tadi.

"Kkkk… Kau lihat Jiwon-ah? Yunhyeong sangat malu. Kkkk…" Hanbin dan Jiwon mengintip dari luar tenda. Sekaligus memastikan tidak ada yang melihat Yunhyeong dan Junhoe pacaran.

"Hanbin-ah, coba panggil aku oppa!" Pinta Jiwon girang.

Hanbin terdiam dan menatap Jiwon tajam. "Kau mau mati, eo?"

.

.

.

Pukul sepuluh pagi. Seluruh siswa sudah berkumpul di lapangan untuk mendengar pengumuman sebelum mereka pulang. Yunhyeong berdiri dibaris paling belakang, disebelahnya ada Hanbin yang sedang tertawa. Namja berlesung pipi itu tertawa karena melihat tingkah konyol Jiwon yang sedang melakukan gerakan aneh dari jauh.

"Cih… Memangnya dia saja yang punya pacar?" Katanya sinis. Mata Yunhyeong mencari guru olahraga itu. "Goo saem… Goo saem…. Mana Goo saem… Itu dia!" Ah… Sayang sekali… Namja itu sedang membelakanginya, sibuk mengangkut barang-barang ke dalam bus.

Yunhyeong melirik Hanbin kesal. Sahabatnya itu masih bermesraan dari jauh dengan Jiwon. Merasa tidak adil, ia pun berteriak. "YA! KIMBAB! KAU PANITIA TAPI KENAPA KAU TIDAK MEMBANTU MENGANGKUT BARANG KE BUS?!"

Jiwon tersentak lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak lama kemudian ia berlari ke arah Junhoe dan membantu namja itu. Sekarang Yunhyeong tersenyum penuh kemenangan.

"Ya! Kau tidak perlu berteriak di kupingku!" Protes Hanbin. Ia tidak menyadari bahwa Yunhyeong sengaja mengganggunya dan Jiwon.

"Mian."

"Teman-teman…"

Terdengar suara Kang Seungyoon dari depan. Ketua panitia itu bersiap memberikan pengumuman.

"Terima kasih telah mengikuti acara ini dengan tertib. Acara kemah kali ini berjalan sangat sukses. Sekarang sudah waktunya kita pulang. Tolong kalian mengecek barang-barang kalian sekali lagi agar tidak tertinggal. Setelah itu kalian boleh masuk ke dalam bus dan bersiap-siap untuk pulang."

Setelah pengumuman selesai, seluruh siswa berhamburan pergi. Ada yang memeriksa tas mereka, ada yang langsung masuk ke dalam bus, dan ada yang berfoto-foto.

"Yunhyeong-ah!"

Yunhyeong menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Junhoe sedang melambaikan tangan ke arahnya. "Saem!" Dengan semangat ia berjalan menuju namja itu. Tetapi kemudan langkahnya terhenti melihat sekumpulan yeoja menghampiri pacarnya itu.

Yunhyeong menghela napas kesal. Yeoja-yeoja itu ternyata mengajak Junhoe berfoto. "Eo? Tangan!" Salah satu tangan yeoja itu memegang lengan Junhoe. "Aiisshh…" Pasti mereka sengaja mendekati Junhoe dengan alasan berfoto.

Setelah selesai berfoto, Junhoe menghampiri Yunhyeong. Namja manis itu sedang mempoutkan bibirnya. "Yunhyeong-ah, oppa datang."

Yunhyeong tersenyum mengejek. "Kau senang?"

"Tentu saja." Jawab Junhoe enteng. Tentu saja ia senang bertemu dengan namja bermarga Song itu.

Tetapi Yunhyeong mempunyai pemikiran lain. "Kau senang berfoto dengan yeoja-yeoja itu?" Tanyanya dengan nada tinggi.

Junhoe mengerutkan dahinya. "Aniya."

"Cih…" Yunhyeong melemparkan pandangannya kesal.

"Aaa… Kau cemburu."

"Aniyo."

Junhoe tersenyum kecil. "Jangan cemburu, karena kau satu-satunya orang yang kusuka."

Yunhyeong menatap Junhoe dengan mata bulatnya. Lagi-lagi pipinya memanas. "Mianhaeyo. Aku sudah bersikap seperti anak kecil."

"Gwaenchana. Mungkin aku juga akan cemburu jika aku diposisimu. Aigoo… Aku ingin sekali memelukmu."

"H-hajimayo. Jangan disini."

"Kalau begitu dimana? Dirumahmu? Rumahku?" Tanya Junhoe sambil tersenyum menggoda.

"Saem! Kau berbicara seperti itu pada anak yang masih sekolah!"

"Kkk…. Beberapa bulan lagi kau akan lulus dan masuk perguruan tinggi. Setelah itu kita bisa bebas berpacaran."

Ah… Iya… Sebentar lagi Yunhyeong harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Sebentar lagi ia akan menjadi dewasa. Sebentar lagi... Ia lulus dan meninggalkan sekolah serta guru olahraganya…

.

.

.

"Wae? Kenapa kau murung? Bukankah tadi kau bertemu dengan Goo saem?" Tanya Hanbin sambil memakan cemilan terakhirnya. Bus sudah dalam perjalanan pulang, sebentar lagi mereka tiba disekolah.

"Hanbin-ah, sebentar lagi kita lulus." Kata Yunhyeong sedih.

"Ah! Kau benar! Sebentar lagi ujian masuk perguruan tinggi. Aku harus giat belajar."

"Aniya… Bukan itu maksudku…"

"Keureom wae? Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku berpikir…. Setelah lulus apakah aku bisa bertemu dengan Goo saem lagi atau tidak." Yunhyeong menundukkan kepalanya. Ia pasti akan sibuk di kampusnya dan Junhoe sibuk mengajar. Mereka akan sulit bertemu.

"Ah…. Mwo…. Mau bagaimana lagi? Kalian bisa bertemu diakhir pekan."

"Satu minggu sekali?"

"Eo. Maka dari itu kau harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum lulus."

"Eo. Kau benar."

"Aigoo…. Ternyata begini sikap Yunhyeong jika punya pacar… Aigoo… kiyeopta…" Hanbin meledek Yunhyeong yang sekarang sedang tersipu. Lalu tiba-tiba matanya mengarah ke leher namja manis itu yang tertutupi syal. "Yoyo-ah, aku masih bingung kenapa tubuhmu bisa memar."

Yunhyeong mengedarkan pandangannya ke arah lain. "M-molla. Aku juga tidak tahu."

"Byeongwon kajja (Ayo ke rumah sakit). Kau harus diperiksa."

"Dwaeseo. A-aku sudah punya obatnya." Bohong Yunhyeong. Jika tidak berbohong, Hanbin pasti akan terus memaksanya ke rumah sakit. Sedangkan memarnya ini tidak bisa disembuhkan secara medis.

"Jinjja?"

"Eo. Aku sudah membelinya kemarin tetapi aku lupa membawanya hari ini."

"Keurae. Ah! Yunhyeong-ah, liburan ini kau mau pergi kemana?" Tanya Hanbin antusias. "Ayo kita pergi ke taman bermain!"

"Shireo. Aku ingin beristirahat di rumah."

"Aiishh.. Kau sungguh tidak menyenangkan."

.

.

.

Junhoe memutar matanya ke segala penjuru. 'Tanya atau tidak?' Pikirnya. Tetapi kalau tidak bertanya, bagaimana ia bisa tahu? Keurae. Ia harus bertanya.

"Ya Kim Jiwon." Panggil Junhoe ke Jiwon yang sedang duduk disebelahnya. Mereka duduk dibarisan paling belakang bus yang bisa menampung enam sampai tujuh orang.

"Ne, saem." Jawab Jiwon sambil mengunyah roti.

"Apa kau mempunyai kontak Yunhyeong?" Tanya Junhoe hati-hati, ia tidak ingin Chanwoo yang berada disebelah kirinya mendengar.

"Ne? MUAHAHAHA!" Jiwon tertawa keras. "SAEM TIDAK PUNYA? PADAHAL KAU DAN YUNHYEONG SUDAH BERPACAR-"

Junhoe yang panik segera mengambil roti dari tangan namja bergigi kelinci itu dan menyumpal benda itu ke mulutnya. "Micheoseo?! (Kau gila?!) Bagaimana jika yang lain dengar?!" Bisiknya.

Jiwon menundukkan kepalanya dan mulai mengunyah. "Mianhaeyo." Cicitnya.

"Keuraeso, kau mempunyai kontaknya?"

"Ne." Jiwon mengeluarkan handphone-nya dan mencari nomor Yunhyeong. "Igeoyo…"

Junhoe mengambil handphone dari tangan Jiwon hati-hati. Ia melirik Chanwoo dan agak tersentak ternyata namja itu sedang memperhatikannya. "Mwo? Lihat apa kau?"

Chanwoo mengerutkan dahinya lalu melepas earphone wireless dikupingnya. "Ne? Saem bicara apa tadi?"

Junhoe menghela napas lega. "Aniya. Aniya." Lalu ia mengetik nomor Yunhyeong di handphone-nya. "Igeo. Gomawo."

"Ne."

Junhoe mengerutkan dahinya. "Keundae, kau tahu dari mana aku dan Yunhyeong sudah berpacaran?"

Jiwon melirik Junhoe sambil tersenyum meledek. "Yunhyeong-ah, panggil aku oppa." Ia menirukan suara guru olahraga itu.

"YA!"

.

.

.

"Aigoo… Akhirnya aku bisa pulang ke rumah." Hanbin merenggangkan tubuhnya yang pegal karena terlalu lama duduk. Mereka sudah tiba disekolah dan sekarang bersiap-siap untuk pulang.

Yunhyeong juga melakukan hal yang sama. Pundaknya terasa sangat pegal menyanggah kepala Hanbin yang berat. Namja berlesung pipi itu tidur sangat pulas dipundaknya.

"Chagiya!"

Hanbin dan Yunhyeong kompak menoleh ke sumber suara. Jiwon yang berlari-lari kecil ke arah mereka dan Junhoe yang berjalan dibelakangnya.

"Hanbin-ah, Yunhyeong-ah, ayo kita makan ramyeon sebelum pulang." Ajak Jiwon.

"Keurae. Aku lapar!" Jawab Hanbin semangat.

"Kau mau ikut?" Tanya Junhoe pada Yunhyeong.

"Aniyo. Aku lelah." Jawab Yunhyeong sambil memijit pundaknya pelan.

"Keurae. Aku dan Yunhyeong tidak ikut."

"Arraseoyo."

"Ayo kita cari taksi." Kata Junhoe pada Yunhyeong.

"Eh? Taksi?" Tanya Yunhyeong bingung. "Kita bisa pulang dengan bus."

"Kau bilang kau lelah. Kita naik taksi saja. Aku akan mengantarmu sampai rumah."

"Uwwooo…. Mereka pulang naik taksi…." Kata Hanbin mengejek.

"Uwwooo…. Namja yang sudah bekerja memang berbeda." Jiwon menepuk lengan Junhoe sok akrab, yang dibalas tatapan tajam oleh namja bermarga Goo itu.

"Kajja." Junhoe berjalan mendahului Yunhyeong.

"Ne. Hanbin-ah, Jiwon-ah, annyeong…" Yunhyeong melambaikan tangannya dan berjalan mengikuti Junhoe.

"Saem!" Teriak Jiwon. "Kau seharusnya membeli mobil!"

Junhoe menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. "Tutup mulutmu!"

.

.

.

Yunhyeong memutar otaknya. Bagaimana ini? Seharusnya ia yang memastikan Junhoe sampai di rumah dengan selamat. Kenapa sekarang jadi terbalik? Ia kan sudah berjanji pada halmeoni untuk menjaga namja itu.

"Saem."

"Hm?"

"Kau tidak usah mengantarku pulang. Aku yang akan mengantarmu." Kata Yunhyeong memberanikan diri.

Junhoe mengerutkan dahinya. "Aniya. Kenapa harus kau?"

"A-aku…"

"Mwo?"

"Saem, aku takut terjadi sesuatu padamu dijalan. Jadi aku yang akan mengantarmu pulang." Bohong Yunhyeong.

"Aniya. Tidak akan terjadi hal yang buruk padaku. Kau tidak usah takut."

"Tapi…"

"Begini saja. Aku akan menghubungimu jika aku sampai dirumah, bagaimana?" Junhoe mengambil handphone Yunhyeong yang kebetulan sedang dipenggang namja itu lalu mengetik sesuatu disana. "Itu nomorku, aku akan menghubungimu nanti."

"Ne." Yunhyeong mengambil kembali handphone-nya dan melihat nama kontak barunya. 'Junhoe Oppa'.

"Saem!"

.

.

.

Yunhyeong membuka pintu apartemennya perlahan. Ia membuka sepatunya lalu duduk di sofanya yang empuk.

"Aigoo… Pegalnya…"

Lalu ia berjalan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Yunhyeong mengecek handphone-nya apakah ada pesan dari namja itu atau tidak.

Anda menerima satu pesan baru

From: Junhoe Oppa

Aku sudah sampai di -ah, besok jam sepuluh pagi aku akan menjemputmu. Ayo kita kencan.

.

.

.

TBC

Ada yang masih ingat ff ini? T.T Maafkan saya. Kalian bisa follow wattpad saya: parksennassi kalo kalian mau

Duh… Mereka yang pacaran saya yang mesem-mesem sendiri… Apa lagi June terobsesi banget dipanggil oppa sama Yoyo.

Eottae? Maaf bagian Chanumon-nya cuma sedikit. Untuk kedepannya bagian dia bakal lebih banyak kok. Untuk chapter ini saya merekomendasikan lagu Bolbbalgan4 – X Song. Karena saya dengerin lagu itu sambil bikin chapter ini.

Review juseyong~~