LET'S TALK ABOUT GHOSTS
Main Cast:
Song Yunhyeong
Goo Junhoe
Other Cast:
Kim Jiwon
Kim Hanbin
Genre: Romance, a little bit horror
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Yunhyeong membuka pintu apartemennya perlahan. Ia membuka sepatunya lalu duduk di sofanya yang empuk.
"Aigoo… Pegalnya…"
Lalu ia berjalan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Yunhyeong mengecek handphone-nya apakah ada pesan dari namja itu atau tidak.
Anda menerima satu pesan baru
From: Junhoe Oppa
Aku sudah sampai di -ah, besok jam sepuluh pagi aku akan menjemputmu. Ayo kita kencan.
.
.
.
Yunhyeong tersenyum didepan cermin dengan wajah bengkak sehabis bangun tidur. Sudah lima menit ia berdiri disana tanpa melakukan apa pun.
"Hehehe…." Yunhyeong tertawa sendiri. Hari ini kencan pertamanya dengan Junhoe. Membayangkannya saja sudah membuat Yunhyeong bahagia. "Eotteokhae?" Ia menutupi wajahnya malu. Ternyata benar, jatuh cinta membuatmu gila.
Yunhyeong menjauhkan tangannya. Untuk beberapa saat ia memandangi piyama yang ia pakai. Benar. Pakaian. Saking senangnya, ia belum menyiapkan baju untuk hari ini. Yunhyeong berjalan ke lemari dan melihat kira-kira apa yang harus ia pakai.
Satu menit…
Dua menit….
Tiga menit….
"Hah! Molla!" Yunhyeong melempar tubuhnya ke tempat tidur. Pengalaman berpacarannya benar-benar nol. Ia tidak tahu pakaian seperti apa yang biasa orang pakai untuk pergi kencan.
Apa Yunhyeong harus bertanya pada Junhoe? Ia menggelengkan kepalanya. Aniya. Itu sama saja mempermalukan diri sendiri. Tanya Hanbin? Namja itu pasti akan menggodanya habis-habisan.
Yunhyeong melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Setengah jam lagi Junhoe datang. Yunhyeong langsung melompat dari tempat tidur dan menyambar handuk di depan pintu kamar mandi. Bagus Song Yunhyeong. Kau terlambat di kencan pertamamu.
.
.
.
Ting Tong!
Ting Tong!
"Tunggu sebentar!" Teriak Yunhyeong yang baru keluar dari kamar mandi. Itu pasti Junhoe. "Aiiisshh! Kenapa dia datang lebih cepat?!" Matanya sibuk mencari pakaian didekatnya. Tidak mungkin ia keluar hanya menggunakan sebuah handuk dibagian bawah tubuhnya.
Yunhyeong memakai kaus pertama yang ia dilihatnya. Lalu ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Annyeong." Sapa Junhoe dengan senyum cerah.
"Annyeonghaseyo…" Jawab Yunhyeong sambil tersenyum lebar.
"Igeo."
Yunhyeong membulatkan matanya. Ia terpana. Junhoe memberinya sebuah buket bunga yang sangat cantik.
"Aku tidak tahu kau menyukainya atau tidak. Tapi bunga Baby Breath memiliki arti yang bagus." Kata Junhoe, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamsahamnida." Yunhyeong menundukkan kepalanya malu. Lalu ia memperhatikan Junhoe dari kepala hingga kaki. Lagi-lagi namja didepannya ini membuat jantungnya berdegup kencang.
Mari Yunhyeong jelaskan. Junhoe memakai kemeja putih agak ketat yang lengannya digulung hingga siku, membuat dadanya yang bidang terlihat. Rambutnya yang blonde sedikit berantakan dengan poni depan yang membuatnya terlihat semakin tampan.
"Wae?" Junhoe mengikuti arah pandang Yunhyeong. "Apa aku terlihat aneh?"
"A-aniyo." Jawab Yunhyeong gugup.
Junhoe juga melakukan hal yang sama. Matanya bergerak memperhatikan Yunhyeong dari atas hingga bawah. Namja manis itu memakai kaus yang kebesaran dengan paha putih mulus yang terlihat jelas dan rambut yang masih basah. Ugh…. Apa Yunhyeong sedang menggodanya?
"Yunhyeong-ah, apa kau akan pergi dengan pakaian seperti itu?" Tanya Junhoe yang matanya tidak bisa lepas dari bagian bawah tubuh Yunhyeong.
"Ne?!" Yunhyeong mengikut arah pandang Junhoe. Dilihatnya baju yang ia pakai hanya menutupi setengah pahanya. Gawat. Berarti ia hanya memakai… underware... "Aaaa! Saem tunggu sebentar!" Yunhyeong yang panik segera berlari ke dalam kamarnya. "Saem masuk saja dulu!" Teriaknya.
Junhoe menghela napas kecewa. Pemandangan menggoda tadi hanya bisa ia lihat beberapa detik. "Eo. Aku masuk." Ia melepas sepatunya dan memakai sandal rumah. Junhoe melihat sekelilingnya. Rumah Yunhyeong penuh bawang putih dan tumpukan garam dibeberapa sudut ruangan.
Junhoe merenung. Namja yang disukainya itu selama ini pasti hidup menderita. Ia pernah mendengar dari para dewan guru, dulu Yunhyeong di jauhi teman-temannya dan selalu duduk sendirian di kelas. Tidak ada yang mau berbicara padanya karena namja manis itu bisa melihat hantu.
"Saem, tunggu lima menit lagi!"
Junhoe tersenyum kecil. Mulai sekarang ia akan melakukan apapun agar Yunhyeong bahagia. Meskipun ia harus mempercayai hal yang tidak masuk akal baginya.
"Yunhyeong-ah, kau yakin tidak ingin mengunci pintu kamarmu? Karena aku bisa melihat semuanya dari sini."
Ceklek!
Terdengar suara pintu dikunci.
"Kkkk…." Junhoe tertawa. Tentu saja ia berbohong. Ia sadar status Yunhyeong masih pelajar. Jadi belum waktunya. Hm… Mungkin beberapa tahun lagi?
Beberapa menit kemudian, Yunhyeong keluar dari kamarnya. Ia memakai hoodie warna abu-abu yang terlihat sangat besar di tubuhnya dan celana panjang hitam. Sangat tidak cocok dengan pakaian Junhoe.
"Maaf, aku tidak bisa memilih baju." Katanya sedih.
"Gwaenchana." Junhoe menghampiri Yunhyeong dan tersenyum, lalu ia mengecup bibir namja manis itu beberapa kali. "Isanghae…."
"W-waeyo?"
"Ini." Junhoe menyentuh bibir Yunhyeong. "Selalu membuatku ketagihan."
"K-keumanhaeyo…" Yunhyeong menunduk malu.
.
.
.
"Eodigayo?" Yunhyeong berusaha menyamakan langkahnya dengan Junhoe. Namja berkaki panjang itu berjalan sangat cepat, membuat Yunhyeong sedikit berlari.
Melihat Yunhyeong yang terengah-engah, Junhoe memperlambat langkahnya dan mengenggam tangan namja bermarga Song itu. "Kau lapar?"
"Ne. Kita mau makan dimana, saem?"
"Ada restoran enak di dekat halte bus. Keurigo…" Junhoe terdiam sebentar.
"Ne?"
"Sudah aku bilang jangan memanggilku saem jika sedang berduaan seperti ini."
Yunhyeong membulatkan matanya. Ia tahu apa maksud namja chingu-nya itu.
"Lagipula, orang-orang akan memandang kita aneh jika tahu guru dan murid berkencan." Lanjut Junhoe. "Keureom… Panggil ku oppa eo?" Pintanya dengan wajah penuh harap.
"Micheoseoyo?" Teriak Yunhyeong cukup keras sampai-sampai orang disekitarnya melihat ke arahnya.
Junhoe tersentak lalu mengedipkan matanya beberapa kali. "A-arraseo. Aku tidak akan memaksamu lagi." Lalu ia berjalan lebih dulu dengan wajah sedih.
"A-aku…" Yunhyeong jadi sedikit merasa bersalah. Omongan Junhoe ada benarnya. Tidak seharusnya ia memanggil namja itu 'saem' jika ditempat umum. Tapi panggilan 'oppa' terlalu…
Yunhyeong menghela napas. "Saem-" Ia menggelengkan kepalanya. "Aniya. Junhoe-ssi!" Lalu ia berlari mengejar Junhoe.
Junhoe memandang Yunhyeong sambil tersenyum malu-malu. "Kau panggil aku apa tadi?"
"Junhoe-ssi."
"Keurae, kau boleh memanggilku seperti itu." Kata Junhoe sambil membuang muka, masih berpura-pura marah.
"Aaa…. Mianhaeyo Goo Junhoe-ssi. Kau masih marah?"
"Eo."
Yunhyeong tersenyum miris. Lagi, sifat kekanak-kanakan Junhoe muncul. Kadang ia tidak tahu siapa yang lebih muda disini. Yunhyeong mengedarkan pandangannya, mencari topik lain agar namja chingu-nya itu melupakan marahnya. "Junhoe-ssi, ayo ke sana!" Katanya sambil menunjuk sebuah tenda putih bertuliskan 'Peramal'.
"Mwoya? Kau percaya pada hal seperti itu?" Tanya Junhoe meremehkan.
"Tidak ada salahnya kita mencoba." Yunhyeong menyeret Junhoe menuju tenda itu dan masuk ke dalamnya. "Annyeongha- Eo?!" Ia tersentak melihat seorang wanita yang sedang duduk dibalik meja. Wanita itu adalah peramal yang pernah ia temui beberapa bulan lalu (baca chapter 3).
"Eo? Kau namja yang bisa melihat hantu itu?" Tanya peramal itu ramah.
"Ne. Annyeonghaseyo."
"Eo. Silahkan duduk."
"Ne." Yunhyeong menarik Junhoe agar namja itu duduk disebelahnya. "Apa kabar?"
Peramal itu tersenyum. "Tentu saja kabarku baik." Lalu ia melirik Junhoe. "Chukhae."
"Ne?"
"Selamat. Kau sudah menemukan jodohmu."
"Ne?!" Tanya Yunhyeong dan Junhoe kompak.
"Aaahh…" Yunhyeong teringat sesuatu. "Ramalan yang pernah ahjumma bilang padaku!"
"Mwo? Kau pernah diramal sebelumnya?" Tanya Junhoe bingung.
"Kau juga mau diramal?" Tawar wanita itu.
"Aah… Itu…"
"Ne, ahjumma." Jawab Yunhyeong sambil menyerahkan tangan Junhoe yang sedari tadi dipegangnya. "Coba ramal dia."
Wanita itu menyentuh telapak tangan Junhoe dan mulai memejamkan matanya. "Hm… Kau punya aura yang cukup kuat. Lalu… Kau sangat mencintai namja yang sedang duduk disebelahmu."
"Ehem…" Junhoe berpura-pura batuk sedangkan Yunhyeong tersipu malu.
Wanita itu membuka matanya. Ekspresinya berubah. "Kau harus melindunginya, apapun yang terjadi. Jangan mudah percaya dengan perkataan orang lain. Mereka hanya mencoba menghasutmu."
"Ne. Arraseoyo."
"Keurigo…." Peramal itu melirik Yunhyeong. "Ia masih terlalu muda. Jangan terburu-buru melamarnya."
.
.
.
Junhoe berjalan disebelah Yunhyeong canggung. Sedari tadi namja manis itu terdiam, tidak mengatakan apa-apa. Aiiishh… Pasti karena perkataan peramal itu.
"Junhoe-ssi…" Akhirnya Yunhyeong mengeluarkan suaranya. "Jadi kau benar-benar berniat menikah sekarang?"
Junhoe membulatkan matanya. "Aniya! Tidak sekarang!"
"Aniyo. Bukan itu maksudku. Dulu kau bilang kau tidak ingin menikah."
"Ah…" Junhoe tersenyum kecil. "Itu dulu. Sebelum aku bertemu denganmu."
Yunhyeong menghentikan langkahnya. "Kau ingin menikahiku?"
"Tentu saja."
"Tapi kita baru berpacaran dua hari…."
"Ah… Kau benar…." Junhoe menggenggam tangan Yunhyeong erat. "Kalau begitu bagaimana beberapa tahun lagi?"
Yunhyeong terdiam beberapa saat.
"Yunhyeong-ah…." Panggil Junhoe. "Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Ne? Ah… Tapi aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu…."
"Tentu saja kita akan menikah setelah kau wisuda…"
"S-setelah wisuda aku ingin membuka sebuah restoran. Aku pasti akan sibuk sekali. Jadi…"
"Kau tidak ingin menikah denganku?"
Yunhyeong terdiam sebentar. Ia menatap mata Junhoe dalam. "Saem… Kita bahas hal ini lain kali ne?"
Junhoe menghela napas. "Arraseo."
"Goo Saem?! Song Yunhyeong?!"
Junhoe dan Yunhyeong menoleh ke sumber suara. Terlihat beberapa yeoja dari sekolah sedang menatap mereka. Otomatis Yunhyeong menarik tangannya yang sedang digenggam Junhoe.
"Saem~" Kumpulan yeoja itu menghampiri Junhoe. "Omo! Kau sangat tampan! Kyaa…"
"Saem sangat tampan memakai kemeja itu. Kkk…."
"Saem berpakaian rapi sekali. Apa kau sedang berkencan?"
Kemudian yeoja-yeoja itu menatap Yunhyeong sinis.
"A-aniya! Kami hanya tidak sengaja bertemu." Kata Yunhyeong panik.
"Eo. Aku kebetulan bertemu dengannya." Tambah Junhoe.
"Saem, kalau begitu aku pergi dulu. Hati-hati dijalan." Yunhyeong membungkukkan badannya dan mulai menjauh. Ia memberi kode agar Junhoe meneleponnya nanti.
Yunhyeong pergi sejauh mungkin. Aigoo… Yeoja-yeoja itu tampak menyeramkan. Mudah-mudahan saja mereka tidak ketahuan.
Yunhyeong berjalan ke taman dan duduk disebuah bangku. Ia menundukkan kepalanya dan menatap memar ditangannya sudah dioleskan obat dari Chanwoo. Beruntung memar itu sedikit tersamarkan. Yunhyeong tidak tahu kapan memar itu hilang. Tentu saja obat yang diberikan Chanwoo tidak selamanya dapat menolongnya.
Yunhyeong mengingat janjinya pada halmeoni, bahwa ia akan menjaga Junhoe sampai menikah nanti. Ia tidak pernah menyangka akan jatuh cinta pada namja itu. Dan sekarang Junhoe berniat menikah dengannya. Apa Yunhyeong pantas? Apa Junhoe mau menikah dengan namja yang memiliki banyak memar tubuhnya?
Tiba-tiba handphone Yunhyeong berdering.
"Yeoboseyo?"
"Eodiya?"
"Aku sedang berada disebuah taman dekat restoran daging."
"Arraseo. Aku akan ke sana. Kau tunggu disana sebentar. Aku harus ke suatu tempat."
"Ne."
Beberapa menit kemudian Junhoe datang membawa sebuah belanjaan.
"Igeo. Pakai ini. Aku tidak ingin kencan kita terganggu."
"Ini apa?" Yunhyeong mengambil bungkusan itu. "Saem! Ini pakaian wanita! Dan sebuah wig!" Lalu ia menatap Junhoe tidak percaya. "Kau ingin aku memakai ini?!"
.
.
.
Junhoe membulatkan matanya tidak percaya melihat Yunhyeong didepannya. Cantik. Sangat cantik. Lebih cantik dari yeoja. "Yunhyeong-ah… Apa kau benar-benar seorang namja?"
Yunhyeong menutupi pahanya risih. Rok yang ia pakai terlalu pendek. Sesekali ia menggeser sebuah pita besar di bajunya, untuk menutupi dadanya yang rata. "Junhoe-ssi, ayo kita makan lalu pulang. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah."
Junhoe terbangun dari lamunannya yang tidak-tidak. "Tunggu sebentar." Ia mengambil sebuah lipbalm di kantung celananya, lalu ia menaruh agak banyak di bibirnya. Junhoe menarik tengkuk Yunhyeong dan menempelkan bibirnya ke bibir namja manis itu.
"Sekarang kau terlihat sangat cantik."
Yunhyeong menundukkan kepalanya. "Aku bisa memakai lipbalm itu sendiri." Gumamnya.
"Jja! Yunhyeong-ah, ayo makan bersama oppa!"
Junhoe menggandeng tangan Yunhyeong penuh semangat. Sesekali ia menatap kesal pada beberapa namja yang sepertinya terpesona melihat Yunhyeong. Setelah makan, mereka memutuskan untuk pulang.
"Kalau saja aku tidak bekerja dan kau tidak sekolah, kita bisa kencan hingga malam." Ujar Junhoe sedih.
"Aku harus belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi."
"Ah… Kau ingin masuk jurusan apa?"
"Hm…. Aku ingin menjadi chef yang handal."
"Kau bisa masak?"
Yunhyeong melirik Junhoe kesal. "Kau meremehkanku?"
"Aniya. Hanya saja kau belum pernah membuatkanku makanan."
"Ah… Mianhae. Nanti aku buatkan makanan yang paling enak ne?"
"Jinjja?"
Yunhyeong menganggukkan kepalanya yakin.
Junhoe tersenyum. "Kau tahu? Ada dua orang yang sangat aku sayangi di dunia ini selain orang tuaku."
"Siapa?"
"Neo… Kerigo uri halmeoni."
"Ah… Halmeoni?" Yunhyeong mengelus kepala Junhoe lembut. "Halmeoni sangat menyayangimu. Dia memikirkanmu di saat-saat terakhirnya. Pasti sangat sedih rasanya tidak melihat orang yang kau sayangi selama tiga belas tahun."
Junhoe berdiri mematung. "Bagaimana kau bisa tahu uri halmeoni sudah meninggal? Dan kenapa kau berbicara seolah-olah kau pernah bertemu dengannya?"
.
.
.
TBC
Lipbalm kiss! Saya kasih nama Lipbalm kiss!
Maaf kalo alurnya agak cepat dan ada kata-kata yang tidak sesuai. Turn Back The Time dan He's Immortal akan saya lanjutin kalo Let's Talk About Ghosts dan Dear Future Husband tamat. Jadi sabar ya…
Jja! Terima kasih sudah vote dan komen. Jangan bosen-bosen ya!
P.S: Arti bunga Baby Breath - Cinta yang tiada berakhir.
