LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Jung Chanwoo

Other Cast:

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

Junhoe tersenyum. "Kau tahu? Ada dua orang yang sangat aku sayangi di dunia ini selain orang tuaku."

"Siapa?"

"Neo… Kerigo uri halmeoni."

"Ah… Halmeoni?" Yunhyeong mengelus kepala Junhoe lembut. "Halmeoni sangat menyayangimu. Dia memikirkanmu di saat-saat terakhirnya. Pasti sangat sedih rasanya tidak melihat orang yang kau sayangi selama tiga belas tahun."

Junhoe berdiri mematung. "Bagaimana kau bisa tahu uri halmeoni sudah meninggal? Dan kenapa kau berbicara seolah-olah kau pernah bertemu dengannya?"

.

.

.

Yunhyeong tersentak. Ia menjauhkan tangannya dari kepala Junhoe. Ah… Benar juga, namja itu tidak tahu apa-apa.

Junhoe menatap mata Yunhyeong untuk beberapa saat. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Namja chingu-nya ini bisa melihat hantu. "Yunhyeong-ah…. Kau pernah bertemu dengan uri halmeoni?"

Yunhyeong a menundukan kepalanya. "Ne…" Ia menarik napas. "Suatu malam aku bertemu dengan halmeoni. Saat itu aku belum mengenalmu. Halmeoni bercerita banyak. Dia sangat khawatir padamu, saem." Yunhyeong terdiam sebentar. Ia ragu apakah harus mengatakan hal ini. "Oleh karena itu dia memintaku menjagamu…."

Junhoe menghela napas panjang. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Melihat reaksi namja itu, Yunhyeong menundukkan kepalanya sedih. "Saem, mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo. Seharusnya aku mengatakan padamu sejak lama."

"Aniya."

"Saem…"

"Ya! Jangan menatapku seperti itu."

"Tapi…."

Junhoe memegang pundak Yunhyeong dan menatap mata namja manis itu dalam. "Yunhyeong-ah, jangan terus merasa bersalah. Aku tidak apa-apa. Aku justru berterima kasih karena kau sudah menceritakan semuanya. Karenamu, aku tahu bahwa halmoeni sangat menyayangiku."

"Tetap saja. Aku minta maaf…."

Junhoe tersenyum kecil. Disaat seperti ini Yunhyeong terlihat sangat manis. "Aigooo…." Ia mencubit pipi namja itu. "Kenapa aku bisa memilki pacar yang manis sepertimu?"

Yunhyeong tidak memberikan reaksi sama sekali. Wajahnya masih terlihat sangat serius.

Melihat ekspresi namja didepannya, Junhoe menghela napas. "Aku benar tidak apa-apa. Itu bukan masalah besar."

"Jinjjayo?"

"Eo. Jibe kajja. Aku sudah mengantuk."

"Keuraeyo. Aku akan mengantarmu pulang."

Junhoe mengerutkan dahinya bingung. Ia menatap Yunhyeong dari kepala sampai kaki. "Kau ingin mengantarkanku pulang? Dengan pakaian seperti itu?"

Yunhyeong mengikuti arah pandang Junhoe. Ia melirik guru olahraga yang sekarang sedang tertawa itu. "Kau puas?" Tanyanya jengkel.

"Kkk…. Ehem…" Junhoe berusaha berhenti tertawa. "Kau tidak perlu mengantarku pulang."

"Tapi halmeoni bilang padaku-"

"Dengar. Aku akan mengantarmu pulang. Aku akan menghubungimu jika aku sudah sampai rumah, eo?"

Yunhyeong terdiam sebentar. "Arraseoyo…." Jawabnya lemas.

"Kajja." Junhoe meraih tangan Yunhyeong dan menggenggamnya. Kemudian ia menatap namja manis itu dengan wajah serius. "Tanganmu memar."

Yunhyeong membulatkan matanya. Obat itu sudah memudar, mungkin tidak sengaja terhapus saat ia berganti baju tadi. "Aa… Itu…" Ia segera menarik tangannya dari Junhoe. "Aku terlalu ceroboh. Tanganku terantuk meja tadi pagi."

"Jinjja? Kau harusnya berhati-hati. Besok aku akan membelikanmu obat."

"Aniyo. Gwaenchana-"

Cup…

"S-saem…"

Junhoe menjauhkan wajahnya perlahan. "Kau terlalu banyak berbicara hari ini."

Yunhyeong menundukkan kepalanya malu. Mereka sudah berciuman berkali-kali ia masih muda tersipu seperti ini.

.

Disisi lain….

"Heol!"

"Daebak…"

"Mereka berpacaran?"

"Aku tidak percaya ini…."

"Guru dan murid berpacaran? Song Yunhyeong dan Goo saem?"

"Aku sudah curiga ada sesuatu diantara mereka. Cepat ambil gambarnya!"

.

.

.

"Annyeong…."

Yunhyeong menatap horror namja berkulit cokelat didepan rumahnya. Ia benar-benar terkejut. "Sedang apa kau disini?"

"Wae?" Tanya Chanwoo datar. "Aku hanya ingin berangkat ke sekolah bersamamu. Kau sudah siap?"

"Eo." Jawab Yunhyeong linglung. "Aku pakai sepatu dulu." Ia mengambil sepatunya yang ada disebelah pintu dan memakainya.

"Kemarin kau kemana? Rumahmu kosong."

Yunhyeong mengerutkan dahinya. "Kemarin kau ke rumahku?"

"Eo. Aku ingin makan bersamamu."

Yunhyeong menatap Chanwoo heran. Aneh sekali namja ini. Jika dilihat dari pertemuan pertama mereka sampai sekarang, Chanwoo sudah berubah banyak. "Wae? Kenapa kau tiba-tiba ingin makan bersamaku?"

Chanwoo tersenyum kecil. "Molla."

Melihat Chanwoo tersenyum, Yunhyeong segera memakai sepatunya. Ia harus segera tiba di sekolah. Berangkat bersama namja itu membuatnya sedikit canggung.

"Kajja." Yunhyeong berjalan beberapa langkah didepan Chanwoo, membuat namja berkulit cokelat itu juga ikut berjalan cepat.

"Memarmu bagaimana?" Tanya Chanwoo tiba-tiba.

"Tidak ada perubahan." Kata Yunhyeong datar. Ia menundukan kepalanya sedih. "Aku rasa obat darimu tidak banyak membantu."

Chanwoo terdiam sebentar. "Song Yunhyeong, kau sering membantu arwah-arwah gentayangan bukan?"

"Eo."

"Kau selalu menuruti semua permintaan mereka?"

"Eo. Wae?"

Chanwoo terdiam, tampak berpikir sejenak, membuat Yunhyeong semakin bingung.

"Chanwoo-ya, kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"

Bukannya menjawab, Chanwoo malah kembali bertanya. "Apa mungkin diantara permintaan itu ada yang masih belum kau selesaikan?"

"Eo. Isseo." Junhoe. Ia harus menjaga Junhoe sampai namja itu menikah nanti. "Wae?"

Chanwoo membulatkan matanya. "Jinjja?" Ia mengedarkan pandangannya dan membawa Yunhyeong ke tempat duduk didekat mereka. "Ceritakan padaku."

"Mwo?"

"Dengar." Suara Chanwoo terdengar serius. "Obat yang aku berikan padamu sesungguhnya bisa menghilangkan memar itu dengan cepat. Tapi tadi kau bilang memar itu masih ada sampai sekarang. Pasti ada yang aneh."

Yunhyeong tersentak mendengarnya. "Aniya. Memar itu bahkan sudah melebar ke leherku."

"Song Yunhyeong, kasusmu sama seperti hyung-ku. Maka dari itu kau harus menceritakannya padaku. Mungkin aku bisa membantu."

Yunhyeong terdiam sebentar. "Aku bertemu dengan arwah seorang nenek. Dan nenek itu memintaku menjaga cucunya sampai menikah nanti."

"Lalu? Kau sudah bertemu dengan orang yang dimaksud nenek itu?"

"Sudah. Orang itu adalah Goo saem…"

Chanwoo menatap Yunhyeong tidak percaya. "Kau… Kenapa kau mau menuruti permintaan nenek itu? Kau pikir kau ini apa? Malaikat penjaga?!"

"Chanwoo-ya, apa yang terjadi dengan hyungmu? Apa aku bisa sembuh?" Yunhyeong tidak peduli Chanwoo memarahinya, yang ia butuhkan sekarang hanyalah jawaban.

"Kau harus menjauhinya." Jawab Chanwoo tegas.

"Mwo?"

"Hyung-ku juga pernah diminta menjaga seseorang. Setiap hari ia selalu mengikuti orang itu dan memastikannya sampai di rumah dengan selamat. Hyung-ku bahkan tidak peduli memar-memar yang mulai ada ditubuhnya. Dan kau tahu apa yang terjadi padanya?" Chanwoo menatap Yunhyeong tajam. "Dia meninggal… dengan tubuh membiru... Karena itu kau harus menjauhinya. Ini untuk kebaikanmu juga."

Yunhyeong mulai menitikan air matanya. Kenapa? Kenapa ia harus mengalami ini? Sudah cukup penderitaannya melihat orang mati, dan sekarang ia tahu sebentar lagi kematian akan menjemputnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Yunhyeong berpikir seharusnya ia tidak dilahirkan.

.

.

.

"Morning chagi.." Jiwon memeluk Hanbin dari belakang yang langsung segera ditepis namja berlesung pipi itu.

"Kau gila ya? Kita ini sedang di dalam kelas!" Hanbin mengedarkan pandangannya. Beberapa murid memandang mereka sinis.

"Wae?" Tanya Jiwon murung. Ia duduk dibangkunya dan menutup wajahnya sedih.

"Keumanhae jinjja!" Hanbin memukul Jiwon dengan buku yang sedang dipegangnya. "Aku tidak akan tertipu dengan akting jelekmu lagi."

Jiwon menjauhkan tangan dari wajahnya. "Kau tidak menyukaiku?"

"Aniya. Aku sangat menyukaimu."

"Kalau begitu kenapa kau sering memukulku?"

"Itu karena aku terlalu menyukaimu."

Jiwon tersenyum malu. "Kalau begitu, ayo kita menikah." Katanya yakin.

Mendengar Jiwon berkata seperti itu, Hanbin menatap namja itu horor. "Kau pikir menikah itu main-main?"

"Aniya. Bukan sekarang. Sepuluh tahun lagi. Saat kita sudah dewasa dan aku sudah mapan. Aku akan datang ke rumahmu dan melamarmu."

Hanbin terdiam sebentar. Semakin lama semakin terlihat pipinya memerah. "K-kau serius dengan ucapanmu?"

Jiwon mendekatkan mulutnya di telinga Hanbin dan berbisik, "Tentu saja, yeobo."

Tidak usah ditanya lagi bagaimana ekspresi Hanbin, muka namja itu merah padam. "Aigoo… Disini panas sekali…" Ia pura-pura mengipasi wajahnya.

"Kau malu?" Tanya Jiwon sambil tersenyum.

"A-aninde."

"Jinjja?"

"I-itu Yunhyeong!" Kata Hanbin mengalihkan pembicaraan.

Yunhyeong masuk ke dalam kelas dengan wajah muram, diikuti Chanwoo yang berjalan dibelakangnya. Yunhyeong mengedarkan pandangannya. Dilihatnya seluruh murid menatapnya sambil berbisik-bisik.

"Yoyo-ah…" Hanbin dan Jiwon menghampiri meja Yunhyeong. "Kau sudah sarapan? Ayo kita ke kantin."

"Mianhae, Hanbin-ah. Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun hari ini." Kata Yunhyeong pelan. Ia mengambil headphone dari tasnya dan memakainya.

"Dia kenapa?" Tanya Jiwon.

"Isanghae…" Hanbin melirik Chanwoo tajam. "Apa yang kau lakukan padanya?!"

"Kalian yang tidak tahu apa-apa lebih baik diam. Karena kalian tidak bisa banyak membantu." Jawab Chanwoo dingin.

.

.

.

Selama pelajaran berlangsung, Hanbin tidak bisa fokus. Sesekali ia menengok ke belakang. Dilihatnya Yunhyeong terus menunduk. Kenapa sahabatnya itu hari ini? Hanbin tahu Yunhyeong sedang ada masalah. Tapi kenapa tidak mau menceritakan masalah itu padanya?

'Kalian yang tidak tahu apa-apa lebih baik diam. Karena kalian tidak bisa banyak membantu.'

Hati Hanbin terasa sakit mengingat perkataan Chanwoo tadi. Kenapa ia tidak bisa membantu? Memang sebesar apa masalah Yunhyeong?

Hanbin menghela napas. Mungkin Yunhyeong benar-benar butuh waktu sendiri. Ia bisa bertanya pada namja itu nanti.

Trriiinnnggg….

Bel berbunyi. Itu artinya pelajaran selanjutnya segera dimulai. Pelajaran olahraga. Murid-murid berhamburan keluar untuk berganti baju, kecuali Yunhyeong yang masih duduk ditempatnya.

"Haaahh…. Kenapa harus olahraga?"

Yunhyeong mengambil baju olahraga dan berjalan ke ruang ganti perlahan. Untuk beberapa lama, ia menunggu didepan ruangan itu sampai orang-orang didalamnya keluar.

"Yunhyeong-ah…" Panggil Hanbin yang kebetulan orang terakhir yang keluar.

"Mianhae, Hanbin-ah…" Yunhyeong masuk ke dalam ruang ganti tanpa menatap wajah sahabatnya itu.

.

.

.

Junhoe masuk ke dalam lapangan indoor dengan pakaian khasnya. Ia berdiri didepan murid-murid yang berbaris rapi. Matanya sibuk mencari Yunhyeong.

"Yaedeul-ah, hari ini kita akan berlatih bola basket. Aku sudah membentuk kelompok. Apa ada yang tidak masuk hari ini?"

Jiwon menatap Hanbin disebelahnya, lalu ia mengangkat tangan. "Saem, Yunhyeong belum datang. Sepertinya dia masih di ruang ganti."

Junhoe mengerutkan dahinya. "Kenapa dia masih disana?"

"Itu… Aku tidak tahu saem…"

Junhoe tersenyum samar. "Keuare, aku akan memanggilnya. Kalian tunggu disini." Lalu ia berjalan ke arah ruang ganti.

"Hah! Kalian lihat itu? Sungguh menjijikan." Kata salah satu yeoja.

"Maja. Setidaknya mereka harus berusaha agar tidak terlihat pacaran."

"Song Yunhyeong memang brengsek. Dasar jalang."

Hanbin yang mendengar sahabatnya dihina segera mengampiri yeoja itu dan menjambak rambutnya. "Kau bilang apa?! Kau yang jalang!"

"Aaa! Appo!"

"Hanbin-ah, keumanhae!" Jiwon berusaha menjauhkan Hanbin dari yeoja itu

"Berhentilah mengurusi hidup orang lain!" Teriak Hanbin.

"Ya! Kim Hanbin! Hentikan!" Teriak yeoja lainnya. "Kau tidak usah membela orang itu! Satu sekolah sudah tahu sahabatmu itu berpacaran dengan Goo saem!"

DEG

"Mwo?"

.

.

.

Yunhyeong menatap tubuhnya sambil menangis. Memar-memar itu…. Bertambah dua kali lipat. Jauh lebih banyak dari kemarin. Ia menghela napas dan menghapus air mata dari pipinya. Keurae. Hari ini ia bisa ijin sakit agar tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga. Ia tidak bisa bertemu dengan Junhoe dengan kondisi seperti ini.

Saat hendak memakai kemejanya kembali, tiba-tiba seseorang membuka pintu.

"Yunhyeong-ah, kenapa kau-"

"Saem…."

Junhoe berdiri mematung. "Yunhyeong-ah, tubuhmu… Kenapa tubuhmu…."

Yunhyeong segera mengancingkan kemejanya, tetapi tangannya ditahan Junhoe. "Saem, tolong lepaskan… hiks…" Ia berusaha menutupi tubuhnya sebisa mungkin. "Aaaaa!"

Junhoe menarik kemeja Yunhyeong cukup kencang, sampai beberapa kancing terlepas. Kemudian terlihat semuanya, tubuh Yunhyeong yang penuh dengan bercak biru-keunguan.

"Song Yunhyeong…."

"Hiks…." Yunhyeong jatuh terduduk sambil menangis.

Junhoe berdiri gemetar. Saat ia ingin menghampiri Yunhyeong, seseorang menariknya lalu menonjok pipinya. Junhoe jatuh tersungkur.

"Hentikan!" Chanwoo menatap namja bermarga Goo itu geram. "Semua ini gara-gara kau! Kalau saja Yunhyeong tidak diminta menjagamu, mungkin dia baik-baik saja!"

Junhoe menatap Chanwoo bingung sekaligus syok. Ia tidak memperdulikan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Apa yang kau katakan?"

"Memar itu muncul karenamu! Yunhyeong bisa mati karenamu!" Chanwoo mengatur napasnya. Lalu ia menghampiri Yunhyeong dan membantu namja manis itu berdiri. "Kau sudah tamat, Goo Junhoe. Semua orang sudah tahu kau berpacaran dengan murid. Kau pasti akan dipecat."

.

.

.

TeBeCe