LET'S TALK ABOUT GHOSTS
Main Cast:
Song Yunhyeong
Goo Junhoe
Jung Chanwoo
Other Cast:
Kim Jiwon
Kim Hanbin
Genre: Romance, a little bit horror
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
Junhoe berdiri gemetar. Saat ia ingin menghampiri Yunhyeong, seseorang menariknya lalu menonjok pipinya. Junhoe jatuh tersungkur.
"Hentikan!" Chanwoo menatap namja bermarga Goo itu geram. "Semua ini gara-gara kau! Kalau saja Yunhyeong tidak diminta menjagamu, mungkin dia baik-baik saja!"
Junhoe menatap Chanwoo bingung sekaligus syok. Ia tidak memperdulikan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Apa yang kau katakan?"
"Memar itu muncul karenamu! Yunhyeong bisa mati karenamu!" Chanwoo mengatur napasnya. Lalu ia menghampiri Yunhyeong dan membantu namja manis itu berdiri. "Kau sudah tamat, Goo Junhoe. Semua orang sudah tahu kau berpacaran dengan murid. Kau pasti akan dipecat."
.
.
.
Yunhyeong menghapus air matanya yang sesekali keluar. Ia memegang erat kemejanya yang masih menempel ditubuhnya. Ia termenung, pikirannya kosong.
"Yunhyeong-ah!"
Namja yang dipanggil itu menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Hanbin dan Jiwon masuk ke dalam ruang UKS sambil menangis.
"Yunhyeong-ah…." Hanbin menghampiri sahabatnya itu. Air matanya merebak saat melihat tubuh Yunhyeong yang membiru. "Hiks… Mianhae… Aku tidak bisa menjagamu…"
Yunhyeong tidak memberikan reaksi. Matanya terus menatap ke depan, wajahnya pucat.
Jiwon ikut meneteskan air mata. Melihat kemeja Yunhyeong yang robek, ia mengambil selimut dari salah satu tempat tidur dan memakaikannya ke namja manis itu.
"Yunhyeong-ah…" Hanbin menatap orang didepannya itu dengan tatapan bersalah. "Aku sudah mendengar semuanya dari Chanwoo. Kau… Kenapa kau… Hiks…" Sahabat macam apa dia? Harusnya ia sadar ada yang tidak beres dengan Yunhyeong saat melihat memar di lehernya kemarin.
Jiwon menjambak rambutnya kasar. Ia juga merasa bersalah, sama seperti Hanbin.
"Hanbin-ah… Jiwon-ah…" Panggil Yunhyeong dengan suara serak. Air mata masih membasahi pipinya. "Aku ingin pulang…"
.
.
.
Chanwoo menghela napas kesal. Dipandanginya jam dinding didepannya. Entah sudah berapa lama ia menunggu, bersama Junhoe. Gara-gara Chanwoo menonjok namja itu, ia jadi berurusan dengan kepala sekolah. Diliriknya Junhoe yang sedang duduk disampingnya. Namja bermarga Goo itu melamun, tampak sudut bibirnya yang berdarah.
"Jung Chanwoo…"
Aisshh… Chanwoo melempar pandangannya kesal, ia sedang tidak ingin mengobrol sekarang. "Mwo?!"
Junhoe menundukkan kepalanya. "Bisa kau ceritakan padaku semuanya?" Ia terdiam sebentar. "Yunhyeong. Ceritakan padaku semua yang kau ketahui tentangnya."
"Cih… Memangnya apa pedulimu? Yang harus kau lakukan hanyalah menghilang dari kehidupannya."
"Tetap saja." Junhoe menatap mata Chanwoo. "Aku harus punya alasan kenapa aku harus menjauhinya."
Chanwoo tampak berpikir sejenak. "Apa kau tahu tentang permintaan halmeoni-mu pada Yunhyeong?"
"Eo."
"Jika seseorang terlalu mencampuri urusan arwah-arwah gentayangan, hidupnya tidak akan tenang. Salah satunya muncul memar ditubuhnya. Dan memar itu muncul karenamu. Yunhyeong berjanji menjagamu sampai kau menikah."
Junhoe membulatkan matanya. "Sampai aku menikah?" Yunhyeong tidak menceritakan bagian itu padanya. Jadi itu sebabnya kenapa namja manis itu memintanya menikah saat pertemuan pertama mereka? Bahkan memintanya kencan buta?
"Saem, mungkin jika kau menikah dengan orang lain, memar ditubuh Yunhyeong akan hilang, karena tugasnya sudah selesai."
"Aku tidak bisa menikah dengan orang lain."
"Kau tidak boleh egois. Jika kau tetap berada didekat Yunhyeong, dia bisa mati. Memar itu hanyalah permulaan. Apa kau tidak ingin melihatnya hidup dengan tenang?"
Junhoe tidak menjawab.
"Aku tahu kau ingin melihatnya bahagia. Dia akan bahagia jika tidak bersamamu. Kali ini kau harus menolongnya, karena dia sudah banyak berkorban untukmu."
Ceklek…
"Mwoya ige?!" Teriak kepala sekolah yang masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. "Goo saem. Aku tidak menyangka kau akan membuat masalah sebesar ini! Citra sekolah ini bisa buruk karenamu!" Lalu ia menatap Chanwoo tajam. "Dan kau Jung Chanwoo. Kau belum lama disini dan kau sudah memukul gurumu. Dan Song Yunhyeong… Hah…. Aku tidak bisa berkata apa-apa…."
Kepala sekolah memijat pelipisnya. "Aku sudah membuat keputusan. Jung Chanwoo, kau diskors selama sebulan. Goo saem dan Yunhyeong, kalian harus keluar dari sekolah ini."
"Aniyo." Junhoe mengangkat kepalanya dan menatap orang didepannya itu dengan yakin. Ya, mungkin ini yang terbaik. "Jangan keluarkan Yunhyeong, aku akan mengundurkan diri."
.
.
.
Yunhyeong berjalan menuju rumahnya dengan lunglai. Ia menolak Hanbin dan Jiwon yang bersikeras ingin mengantarnya pulang. Ada tempat yang harus didatanginya. Tempat yang mungkin bisa membantunya.
"Ahjumma…." Panggil Yunhyeong pada peramal itu.
"Selamat datang…" Sapa ahjumma itu ceria. Tetapi kemudian senyumnya hilang saat melihat Yunhyeong. "Omo… Apa yang terjadi padamu? Auramu sangat hitam!"
"Ahjumma… Apa yang harus aku lakukan?" Yunhyeong kembali meneteskan air mata. Ia benar-benar putus asa.
Ahjumma itu juga merasa sedih. Ia mengelus kepala Yunhyeong lembut. "Aigoo… Kenapa anak sepertimu bernasib buruk…" Lalu ia menarik tangan namja manis itu untuk duduk disebelahnya.
"Hiks… Aku tidak ingin seperti ini… Ahjumma, apa kau bisa menolongku?"
"Mianhae…" Wanita itu mengusap air mata yang turun dipipi Yunhyeong, tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Ah! Mungkin ini bisa membantumu." Ia mengambil sebuah kantong kain berwarna merah dari sakunya dan memberikannya pada Yunhyeong. "Simpan benda ini. Kau harus membawanya kemanapun kau pergi. Didalamnya ada beras yang sudah didoakan di kuil. Benda itu membuat hantu mengindarimu walaupun kau masih bisa melihat mereka."
.
.
.
Kesokkannya, Yunhyeong datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Ia berjalan ke ruang guru. Digenggamnya kantong berwarna merah itu dengan erat. Ije gwaenchana. Ia sudah bisa hidup dengan tenang sekarang. Sesampainya disana, Yunhyeong mengintip dari balik jendela. Tidak ada orang. Lalu pandangannya beralih ke meja Junhoe. Aneh. Meja namja itu terlihat kosong.
"Song Yunhyeong."
Yunhyeong tersentak dan membalikkan badannya. "Annyeonghaseyo, Kang saem."
Kang saem memperhatikan Yunhyeong dari kepala hingga kaki. "Gwaenchana?" Tanyanya lembut.
"Ne."
"Kau mencari Goo saem?"
"Ne! Apa dia belum datang?"
Kang saem menatap Yunhyeong iba. "Jadi kau belum tahu rupanya."
"Ne?"
"Goo saem sudah mengundurkan diri dan dia sudah meninggalkan Seoul kemarin malam."
Yunhyeong membulatkan matanya. Pergi? Jadi Junhoe memilih meninggalkannya? Yunhyeong menatap meja namja itu dari luar jendela. Ternyata begini akhirnya. Tanpa salam perpisahan.
.
.
.
10 tahun kemudian….
Ting tong! Ting tong!
"Ne…."
Ting tong! Ting tong! Ting tong!
"Aiishh… Tunggu sebentar!" Hanbin berjalan menuju intercom tergesa-gesa. Dilihatnya Jiwon sedang berada didepan pintu apartemennya. "Dasar gigi kelinci! Sedang apa dia pagi-pagi buta begini?!" Hanbin memencet sebuah tombol disamping layar. Tak lama kemudian, Jiwon masuk dengan wajah serius.
"Ya! Kau seharusnya menghubungiku terlebih dahulu! Aku sangat mengantuk! Aku lembur hingga tengah malam kemarin!"
"Hanbin-ah…" Kata Jiwon dengan suara datar. "Aku ingin berbicara sesuatu padamu."
Hanbin mengerutkan dahinya kesal. "Memangnya tidak bisa nanti siang?!"
"Aniya. Aku harus mengatakannya sekarang."
"Mwo?" Hanbin menurunkan nada suaranya. Jiwon terlihat sangat aneh. "Apa yang ingin kau katakan?"
"Ayo kita hentikan ini sekarang. Aku sudah tidak mau menjadi pacarmu lagi."
DEG
Hanbin menatap Jiwon tidak percaya. "Jiwon-ah… Apa yang kau-"
"Aku sudah lelah, Hanbin-ah. Aku tidak bisa lagi."
"Jiwon-ah, mianhae. Aku sudah kasar padamu. Jeongmal mianhae."
"Sudah terlambat."
Hanbin meneteskan air mata. "Jiwon-ah…"
Jiwon menatap mata Hanbin dalam. "Aku sudah tidak mau menjadi pacarmu lagi…. Karena aku ingin menjadi suamimu." Ia mengambil sebuah kotak kayu dari sakunya dan membukanya. "Ayo kita menikah, Kim Hanbin."
Hanbin terdiam sebentar. Ia menghapus air matanya, mengambil kotak itu dari tangan Jiwon dan menaruhnya di meja ruang tamu. Benda itu harus diselamatkan terlebih dahulu. Selanjutnya, ia memukul Jiwon membabi buta.
"Aw! Aw! Aaaww!"
"Kau pikir ini lucu, hah?!"
"Hanbin-ah! Appo…"
"Aku hampir mati karena serangan jantung!"
Jiwon memegang pergelangan tangan Hanbin dan berusaha menghentikan namja itu sebelum ia babak belur. "Keuraeso? Kau mau menikah denganku?"
Hanbin terdiam dan mengatur napasnya. "Tentu saja, bodoh!"
Jiwon tersenyum lebar lalu mengecup bibir namja berlesung pipi itu. "Gomawo, Hanbin-ah!"
Hanbin ikut tersenyum malu. "Mana cincinnya? Kau tidak memakaikannya di jariku?"
"Ah…" Jiwon mengambil cincin dari kotak kayu itu dan memakaikannya di jari manis Hanbin. "Gomawo, yeobo."
Pipi Hanbin bersemu merah. Ditatapnya cincin indah itu. Sangat pas di jarinya. "Ah! Kita harus memberitahunya!" Hanbin mengambil handphone dari sakunya. Ia mengetik sebuah nomor dan me-loudspeaker.
"Yeoboseyo?"
"Yunhyeong-ah!" Teriak Hanbin girang.
"Wae? Kau sudah bangun jam segini?"
"Song Yunhyeong!" Teriak Jiwon.
"Mwoya? Sedang apa Jiwon disana? Apa dia menginap? Tunggu. Apa yang kalian lakukan kemarin malam?"
"Aniya. Aku tidak menginap. Yunhyeong-ah, aku akan memberitahumu kabar baik."
"Jiwon melamarku!"
"Eee? Chukhae! Wah… Jinjja… Aku tidak menyangka akan mendapatkan kabar ini pagi-pagi begini. Kapan kalian menikah?"
"Dua minggu lagi." Kata Jiwon yakin.
"Mwo?!"
"Mwo?!"
"Kau juga tidak tahu, Hanbin-ah?"
"Eo." Hanbin menatap Jiwon bingung. "Kenapa cepat sekali?" Tanyanya pada Jiwon.
"Wae? Bukankah lebih cepat lebih baik?" Jawab Jiwon enteng.
"Ya! Memangnya dua minggu cukup apa, eo? Kalian harus mengukur baju pengantin. Belum lagi sewa tempat lalu…."
"Karena itu aku ingin kau pulang ke Korea secepatnya."
"….. undangan. Kau bilang apa tadi?"
"Kau. Harus. Pulang. Ke. Korea. Secepatnya." Ulang Jiwon.
"…"
"Yunhyeong-ah?"
"Aku tidak bisa."
"Wae?"
"Minggu depan pembukaan cabang restoranku yang kelima. Aku tidak bisa pergi."
"Kau harus menundanya. Lagipula, kau sudah terlalu lama tinggal disana!"
"Shireo. Ini restoranku, kenapa kau yang memerintahku?! Kalian saja yang menunda pernikahannya!"
"Yunhyeong-ah…" Panggil Hanbin lembut. "Apa kau tidak ingin membantu sahabatmu yang ingin menikah ini?"
"Aiisshh…"
"Selama ini selalu kami yang mengunjungimu ke Jepang, sekarang giliranmu yang mengunjungi kami. Hanya dua minggu, Yoyo-ah…" Pinta Hanbin dengan suara memelas.
"Ah… Molla!"
Tut tut tut
"Dia mematikan teleponnya." Kata Jiwon sedih. "Dia tidak akan datang."
"Aniya. Dia pasti akan datang. Kau bersiap-siap saja menjemputnya di bandara besok. Kkk…."
.
Sementara itu….
"Aisshh! Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini!" Kata Yunhyeong sambil melempar beberapa pakaiannya ke dalam koper. Lalu ia mengambil handphone-nya yang ada disamping tempat tidur. "Moshi moshi. Paman, aku ingin menunda pembukaan restoran yang di Osaka. Tidak. Tidak ada masalah. Hanya saja aku ada keperluan mendadak di Korea. Aku akan kembali dalam dua minggu. Jadi kita ganti saja ke bulan depan."
Yunhyeong mematikan teleponnya dan melempar tubuhnya ke samping tempat tidur. Hah... Akhirnya setelah sekian lama ia kembali ke Korea. Terakhir kali ia berada di negara itu adalah waktu acara kelulusan. Setelah itu ia pindah ke Jepang, tempat tinggal orang tuanya. Yunhyeong mengikuti sekolah chef dan sekarang ia sudah mempunyai empat cabang restoran.
"Ah! Aku harus bekerja." Yunhyeong merapikan kopernya lalu mengambil tasnya. Setelah itu ia berjalan ke luar rumah lalu naik taksi ke restorannya yang pertama.
"Ya! Kenapa kau baru datang?!" Teriak Chanwoo dari dalam dapur.
"Mianhae." Kata Yunhyeong sambil tertawa canggung.
Chanwoo melempar pandangannya jengkel. "Kalau setiap hari seperti ini, lebih baik kau berikan saja restoran ini padaku. Lagipula perusahaanku hanya memasok bahan ke restoranmu, tapi kenapa aku harus datang setiap minggu ke sini?!"
"Hehe… Jangan marah, Chanwoo-ya. Aku akan membuatkanmu kopi."
"Dwaeseo. Aku harus bertemu dengan seseorang."
"Nugu? Jinhwan hyung? Yaaa…. Aku tidak menyangka hubungan kalian awet sampai sekarang."
"Eo. Aku harus bertemu dengannya. Besok aku ada meeting di Korea."
Yunhyeong membulatkan matanya. "Eo? Jinjja? Berapa lama kau di Korea?"
Chanwoo tampak berpikir sejenak. "Mungkin sekita dua minggu?"
Yunhyeong tersenyum lebar. Kesempatan yang bagus. Ia harus memanfaatkan orang didepannya ini. "Aku ikut!"
"Untuk apa? Yang kau tahu kan hanya memasak."
Yunhyeong merengut kesal. "Aku ke sana karena sebentar lagi Hanbin dan Jiwon akan menikah."
"Jinjja? Pasangan aneh itu akan menikah? Wah… Kau di dahului sahabatmu sendiri, Chef Song."
Yunhyeong menghela napas kesal. "Pokoknya aku ingin ikut. Aku akan menjemputmu besok pagi."
.
.
.
"Kau yakin mereka naik pesawat tiga jam yang lalu?" Tanya Jiwon tidak sabar.
"Eo. Aku sudah bertanya pada sumber terpercaya (Eomma Yunhyeong)." Mata Hanbin sibuk mencari sahabatnya itu.
"Kenapa jam segini mereka belum datang?"
"Mungkin saja pesawatnya- Ah itu mereka!" Hanbin menunjuk dua orang yang sedang membawa koper masing-masing. "Yoyo-ah… Chanwoo-ya…."
Mendengar panggilan itu, Yunhyeong berhenti sejenak lalu berjalan ke arah Hanbin dan Jiwon dengan langkah malas. "Waseo?"
"Yoyo-ah~ Aigoo… Aku sangat merindukanmu." Hanbin memeluk Yunhyeong erat. "Omong-omong, sejak kapan kau mengganti warna rambutmu menjadi warna hitam?"
"Sejak kemarin. Karena katanya ada sahabatku yang akan menikah." Jawabnya datar.
Hanbin tersenyum lebar. Ia kembali memeluk Yunhyeong. "Gomawo kau sudah datang."
"Jung Chanwoo, apa kabar?" Sapa Jiwon.
Chanwoo melepas kacamata hitamnya. "Tentu saja kabarku buruk. Setiap hari aku selalu diganggu olehnya." Katanya sambil menujuk Yunhyeong dengan dagunya.
"Jja… Karena kalian sudah datang, sekarang kita akan bagi-bagi tugas."
"Jigeum?" Yunhyeong membulatkan matanya.
"Eo. Aku dan Hanbin akan mengunjugi tempat fitting baju pengantin, sedangkan kalian akan mengunjungi tempat resepsi."
"Yoyo-ah, kami sudah berbicara dengan pengelola disana. Kalian tinggal datang dan memilih dekornya."
"Ya! Kalian yang menikah kenapa harus kami yang ke sana?" Protes Chanwoo. Ia datang kesini bukan ingin membantu. "Aku ada meeting!"
"Kapan?"
"Besok siang."
"Kalau begitu hari ini kau tidak ada acara. Kau bisa membantu kami." Ujar Hanbin enteng.
"Igeo." Jiwon memberikan sebuah kunci mobil. "Kalian bisa naik mobilku. Aku akan naik mobil Hanbin. Ah… Ini alamatnya." Ia juga memberikan sebuah kartu nama.
"Hati-hati di jalan. Kami akan menyusul!"
.
.
.
Yunhyeong dan Chanwoo masuk ke dalam gedung yang dimaksud Jiwon. Selama perjalanan ke sana, Chanwoo tidak berhenti menggerutu. Dia sangat kesal.
"Jadi ini sebabnya kau ingin pergi bersamaku?" Tanya Chanwoo.
Yunhyeong pura-pura tidak mendengar. "Wah… tempatnya besar sekali…"
"Ya! Song Yunhyeong!"
Yunhyeong berjalan menuju tempat resepsionis, diikuti Chanwoo dari belakang. "Jogiyo…"
"Ne." Jawab seorang yeoja ramah.
"Aku ingin melihat ruangan atas nama Kim Hanbin dan Kim Jiwon."
"Ah.. Ne…" Yeoja itu memandang Yunhyeong dan Chanwoo bergantian. "Omo… Kalian pasangan yang cocok."
"Ne?" Tanya Yunhyeong bingung.
"Silahkan ke sini." Yeoja itu mengantar mereka ke sebuah ruang tamu lalu duduk disana. "Kim Hanbin-ssi dan Kim Jiwon-ssi, kalian beruntung sekali. Bulan ini kami sedang ada event spesial. Kalian berhak mendapatkan hadiah tiket bulan madu ke pulau Jeju gratis."
Yunhyeong membuka mulutnya. "Ah…. Tunggu sebentar. Kami bukan-"
"Kebetulan direktur kami sedang berkujung ke sini. Dia akan melayani kalian secara langsung. Mohon ditunggu sebentar." Yeoja itu pergi sebelum Yunhyeong menjelaskan apa-apa.
Yunhyeong menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya wanita itu salah mengira."
"Wae?" Tanya Chanwoo datar. "Kau senang?"
"Aniya! Kenapa aku harus senang?! Aku juga tidak mau menikah denganmu!" Teriak Yunhyeong tiba-tiba, membuat beberapa orang melihat ke arahnya. "Ehem… Mereka dapat tiket bulan madu gratis."
"Cih… jadi itu alasannya kenapa pasangan aneh itu ingin menikah disini."
"Jogiyo…" Yeoja itu kembali datang. "Direktur kami sudah tiba."
Yunhyeong dan Chanwoo berdiri untuk menyambut orang itu.
"Sajangnim, mereka adalah pasangan yang mendapat hadiah itu." Kata Yeoja itu pada orang yang ada disampingnya.
Betapa terkejutnya Yunhyeong melihat orang yang dipanggil 'sajangnim' itu.
"Kalian akan menikah?" Tanya Junhoe sambil menatap Yunhyeong dan Chanwoo bergantian.
.
.
.
TBC
