LET'S TALK ABOUT GHOSTS
Main Cast:
Song Yunhyeong
Goo Junhoe
Jung Chanwoo
Other Cast:
Kim Jiwon
Kim Hanbin
Genre: Romance, a little bit horror
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
"Jogiyo…" Yeoja itu kembali datang. "Direktur kami sudah tiba."
Yunhyeong dan Chanwoo berdiri untuk menyambut orang itu.
"Sajangnim, mereka adalah pasangan yang mendapat hadiah itu." Kata Yeoja itu pada orang yang ada disampingnya.
Betapa terkejutnya Yunhyeong melihat orang yang dipanggil 'sajangnim' itu.
"Kalian akan menikah?" Tanya Junhoe sambil menatap Yunhyeong dan Chanwoo bergantian.
.
.
.
Yunhyeong membeku ditempatnya. Ia menatap namja didepannya tidak percaya. "Seonsaengnim…" Matanya memperhatikan namja itu dari kepala hingga kaki. Junhoe terlihat sangat berbeda. Sekarang rambutnya sudah tidak blonde lagi, warna cokelat hazelnut tampak sangat cocok dengannya. Dan jas berwarna hitam serta kaus putih polos itu membuatnya terlihat semakin tampan.
Yunhyeong memegang dada kirinya. Oh tidak… Jantungnya masih berdetak kencang untuk namja itu.
"Sajangnim." Kata yeoja disebelah Junhoe sambil tersenyum. "Mereka adalah Kim Jiwon dan Kim Hanbin yang akan menikah dua minggu lagi."
"Pfftt!" Junhoe menutup mulutnya menahan tawa. "Mwo? Kim Jiwon dan Kim Hanbin? Kkkk…."
"Sajangnim…" Yeoja itu menatap Junhoe bingung.
"Ehem…" Junhoe menghentikan tawanya. "Aniya. Kau boleh pergi."
"Ne." Yeoja itu membungkukkan badannya lalu meninggalkan tempat itu.
"Silahkan duduk, Kim Jiwon-ssi dan Kim Hanbin-ssi." Ledek Junhoe sambil menundukkan dirinya di sofa.
"Tidak lucu." Balas Chanwoo dingin.
"Yaaa…. Yeoksi, kau Jung Chanwoo yang aku kenal." Mata Junhoe melirik Yunhyeong yang sekarang sedang duduk dengan posisi canggung. "Oraenmaniya, Song Yunhyeong."
"Ne... Annyeonghaseyo…" Namja manis itu membungkukkan badannya.
Junhoe memandang Yunhyeong untuk beberapa saat. Namja bermarga Song itu tidak berani menatap matanya.
"Jja…" Kata Junhoe memulai pembicaraan. "Jadi pasangan aneh itu akan menikah?"
"Benar bukan?" Tanya Chanwoo pada Yunhyeong. "Bukan aku saja yang menyebut mereka pasangan aneh." Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Junhoe. "Ne, saem. Mereka akan menikah."
"Aku sudah bukan gurumu lagi." Kata Junhoe tegas.
Yunhyeong memegang lututnya semakin erat. Benar. Junhoe sudah bukan guru lagi.
"Kenapa kalian yang ke sini? Mana Hanbin dan Jiwon?" Lanjut Junhoe sambil menatap Yunhyeong.
Yunhyeong tidak menjawab. Ia terus menundukkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkannya sampai-sampai tidak mendengar pertanyaan Junhoe. Chanwoo menyenggol lengan Yunhyeong untuk menyadarkan namja manis itu.
"N-ne?" Tanyanya kaget. "Hanbin dan Jiwon? Mereka sedang mengurus undangan."
"Lalu kalian ke sini menggantikan mereka?"
"Ne." Yunhyeong berpikir sejenak. Bukankah lebih cepat lebih baik? "Saem- Ani, maksudku sajangnim, bisakah kita melihat ruangan tempat resepsi itu sekarang? Waktuku tidak banyak."
Chanwoo mengerutkan dahinya. "Bukankah kau ke sini untuk membantu pasangan aneh itu? Kenapa kau bilang kau- Aaaah!" Ia berteriak kesakitan. Yunhyeong mencubit pinggangnya.
"Saem- Ani, sajangnim. Dimana tempatnya?" Tanya Yunhyeong setenang mungkin.
Junhoe tersenyum kecil. Lalu ia berdiri dan memandu jalan. "Lewat sini."
"Kelihatan sekali kau tidak ingin berlama-lama melihatnya." Bisik Chanwoo pada Yunhyeong yang berjalan berdampingan dengannya dibelakang Junhoe.
"Chanwoo-ya, kalau kau tidak menutup mulutmu, aku juga akan menjambak rambutmu sampai kepalamu lepas." Ancam Yunhyeong.
Junhoe menghentikan langkahnya, membuat dua orang dibelakangnya juga melakukan hal yang sama. "Jja… Ini tempatnya." Ia membuka pintu besar didepannya. "Ruangan ini merupakan ruangan yang paling favorit disini. Tetapi hanya bisa menampung sekitar dua ratus orang. Sangat cocok untuk pasangan yang ingin mendapatkan privasi." Jelasnya.
"Waaahh…." Yunhyeong menatap ruangan didepannya kagum. Tanpa sadar ia melangkah masuk. Memang benar apa yang dikatakan Junhoe. Ruangan itu memiliki aura yang bagus.
Tiba-tiba suara dering handphone berbunyi. Chanwoo mengambil benda itu dari sakunya. "Yunhyeong-ah, mian. Aku akan segera kembali."
"Eo." Jawab Yunhyeong tanpa menatap lawan bicaranya. Ia benar-benar terpukau melihat ruangan didepannya. Altar yang tampak sederhana tapi mewah, meja-meja besar yang mengelilinginya dan dekorasi yang indah. Semuanya benar-benar menarik perhatian Yunhyeong.
"Kau suka?" Tanya Junhoe.
"Ne. Melihat tempat ini membuatku juga ingin menikah." Jawab Yunhyeong polos.
Junhoe tersenyum. "Jadi kau belum menikah rupanya."
Yunhyeong membulatkan matanya. "N-ne? A-aku…" Ia mengalihkan pandangannya. "A-altar itu tampak bagus." Lalu ia berjalan menjauhi Junhoe. Sayangnya namja itu terus mengikutinya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik." Yunhyeong mengeluarkan buku kecil dari tasnya. "Saem- Ani, sajangnim, tadi kau bilang bisa menampung berapa tamu?"
"Sekitar dua ratus orang. Kenapa kau mengganti warna rambutmu?"
Yunhyeong mencatat sesuatu di bukunya. "Karena Hanbin akan menikah. Apa dekorasinya bisa sedikit diubah?"
"Tentu. Apa kau berhasil menjadi chef?" Tanya Junhoe yang masih berusaha mengganti topik.
"Ne, aku sudah mempunyai restoran. Bagaimana dengan MC dan pengisi acara?"
"Kami sudah menyiapkannya. Jinjja? Kau sudah mempuyai restoran?"
"Ne. Aku akan segera membuka restoranku yang kelima." Tiba-tiba ekspresi Yunhyeong terlihat kesal. "Tapi kemudian dua orang itu mendadak ingin menikah dan meminta bantuanku sehingga aku harus menundanya. Hah! Kenapa bukan mereka saja yang menunda pernikahannya?! Kau tahu? Karena mereka, aku rugi-" Yunhyeong menghentikan omongannya karena sekarang Junhoe sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Wae? Lanjutkan ceritamu. Aku sangat menikmatinya."
Yunhyeong menggigit bibir bawahnya. "Aniyo, saem- Maksudku- Aiisshh jinjja… Kenapa aku selalu memanggilnya saem?" Ia mengutuk dirinya sendiri.
Junhoe tertawa kecil. Astaga… Betapa ia merindukan namja manis didepannya ini. "Gwaenchana, aku suka kau memanggilku seonsaengnim."
"Aniyo. Kau sudah bukan guru lagi. Aku akan memanggilmu…." Yunhyeong memutar bola matanya. "Sajangnim? Goo Junhoe-ssi? Atau…."
"Aku lebih suka kau memanggilku chagi-"
"Ah! Ahjussi!"
"Mwo?!" Junhoe menatap Yunhyeong kesal. "Ahjussi?"
"Ne. Umurmu pasti sudah tiga puluh tahun lebih. Aku rasa 'ahjussi' lebih cocok." Kata Yunhyeong dengan wajah yakin.
Junhoe menghela napas kesal. "Maldo andwae… Umur kita hanya beda beberapa tahun. Ya! Bukankah panggilan ahjussi itu untuk namja yang sudah tua? Dan sudah menikah?"
Yunhyeong menganggukkan kepalanya. "Ne. Namja yang sudah tua dan sudah menikah." Tunggu. Yunhyeong mengedipkan matanya beberapa kali. Ia masih mencerna perkataannya sendiri.
"Goo Junhoe seonsaengnim!" Jiwon berlari menuju Junhoe dan memeluknya. "Aku merindukanmu!"
"Menjauh dariku!" Kata Junhoe jengkel. Ia mendorong Jiwon sekuat tenaga.
"Saem!" Hanbin juga menghampiri namja itu, diikuti Chanwoo dibelakangnya.
"Wah… Hanbin-ah, lihat pakaiannya. Sangat berkelas." Kata Jiwon pada namja chingu-nya.
"Tentu saja!" Junhoe membetulkan kerah jasnya.
"Dia terlihat sombong." Cibir Hanbin.
"Ya!" Teriak Junhoe. Pasangan ini benar-benar tidak berubah. "Kalian harus baik-baik padaku. Kalau tidak kalian tidak boleh menikah disini."
Hanbin membulatkan matanya. "Tempat ini punyamu?"
"Eo!"
Jiwon tersenyum bahagia. "Hanbin-ah, kita bisa mendapatkan potongan harga!"
Junhoe menatap namja bergigi kelinci itu horor. "Siapa yang bilang seperti itu?!"
"Saem…" Jiwon bergelayutan dilengan Junhoe.
"Aku bukan gurumu lagi."
"Kalau gitu, hyung… Kau terlihat semakin tampan."
Junhoe melirik Yunhyeong. "Aku tahu itu."
"Kau juga terlihat sangat kaya." Lanjut Jiwon. "Karena kau sudah punya banyak uang, kau pasti tidak rugi banyak jika memberi diskon kepada kami."
"Cih… Kau mengajak Hanbin menikah tetapi kau tidak punya modal. Lebih baik kalian tinggal serumah tanpa ikatan." Kata Junhoe enteng.
Mendengar perkataan Junhoe yang menyakitkan itu, mata Jiwon berkaca-kaca. "Hanbin-ah, dia sangat jahat…"
Hanbin memeluk Jiwon untuk menenangkannya. Lalu ia menatap Yunhyeong kesal. "Yunhyeong-ah, kau harus lebih memperhatikan mantan pacarmu."
Yunhyeong membulatkan matanya. Ia melirik Junhoe. Namja itu juga terlihat terkejut. Yunhyeong segera mengambil handphone-nya dari tas lalu menempelkan benda itu ke kupingnya. "M-moshi moshi? Ne, paman." Ia menjauhi kerumunan itu.
"Penipu." Kata Hanbin sinis. "Baterai handphone-nya kan habis."
.
.
.
"Hyung, jinjja gomawo! Kau memang yang terbaik." Puji Jiwon. Setelah beberapa jam bernegosiasi, akhirnya Junhoe menyetujui permintaan Jiwon dan Hanbin. Namja bermarga Goo itu juga berjanji akan mengurus semuanya.
"Kalian berhutang banyak padaku." Kata Junhoe datar.
"Arraseo. Aku akan melakukan apapun untukmu!"
"Cih…" Junhoe tertawa kecil. "Aku sudah sering bertemu dengan pasangan seperti kalian. Jadi tidak usah khawatir. Acara pernikahan kalian pasti akan berjalan dengan lancar."
"Gomawo, hyung. Sebagai rasa terima kasih, kami akan meminjamkan Yunhyeong padamu." Kata Hanbin seenaknya.
"Mwo?!" Yunhyeong menatap sahabatnya itu tidak terima. Ia sangat lelah. Dari bandara sampai sekarang ia belum beristirahat. Yunhyeong bahkan belum membongkar kopernya.
"Hyung, kau harus memanfaatkan waktu selagi Yunhyeong disini. Ia akan pulang ke Jepang dua minggu lagi." Kata Jiwon, mendukung Hanbin.
"Jinjja? Jadi selama ini kau tinggal di Jepang?" Tanya Junhoe pada namja manis itu.
"Ne."
"Keurae." Junhoe melihat jam tangannya. "Karena sudah jam segini, ayo kita makan malam."
"Ya Song Yunhyeong! Kau benar-benar akan pergi?" Chanwoo merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kunci mobil. "Andwae. Kau harus ikut pulang denganku. Kau harus menyetir. Aku lelah."
"Jung Chanwoo. Kau tidak boleh manja, eo?" Jiwon memegang tangan Chanwoo dan menyeret namja itu ke luar gedung.
"Hyung, kami pulang dulu. Bersenang-senanglah." Hanbin tersenyum lalu pergi menyusul Jiwon dan Chanwoo.
.
.
.
Yunhyeong duduk dengan canggung. Sesekali ia melirik Junhoe yang berada didepannya. Namja itu menatapnya tanpa berkedip membuatnya merasa tidak nyaman. Untung saja suasana restoran yang ramai membuatnya sedikit tenang.
"Apa yang kau lakukan selama sepuluh tahun ini?" Tanya Junhoe sambil menuangkan minuman ke gelas Yunhyeong.
"Aku berlatih menjadi chef."
"Itu saja?"
"Hm…. Aku juga membuka beberapa cabang restoran."
"Sepertinya kau sudah menjadi orang sukses."
Yunhyeong tersenyum kecil.
"Apa Chanwoo juga tinggal di Jepang?"
"Ne. Dia mendirikan perusahaan bahan pangan dan bekerja sama dengan restoranku."
Junhoe menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba ekspresinya berubah serius.
"Yunhyeong-ah…"
"Ne?"
"Apa memar di tubuhmu masih muncul?"
Yunhyeong tersentak. Akhirnya hal yang ia takutkan terjadi. Ia tahu cepat atau lambat, Junhoe akan bertanya seperti itu. Tetapi Yunhyeong tidak suka. Ia sangat benci membahas masa lalu.
"Saat terakhir aku melihatmu, memar itu…."
"Memar itu sudah hilang."
Junhoe tersenyum lega. "Jinjja?"
"Wae? Apa jika memar itu belum hilang kau akan meninggalkanku lagi? Seperti sepuluh tahun yang lalu?" Tanya Yunhyeong dingin.
Junhoe terdiam.
"Sekarang kau merasa menyesal, Goo Junhoe?"
"Yunhyeong-ah, mianhae…."
Yunhyeong mengepalkan tangannya. Pandangannya mulai kabur karena air mata. "Mwo? Mian? Saat itu aku berada di titik terendah dalam hidupku, tetapi kau justru meninggalkanku. Apa kau pikir aku bisa memaafkanmu?"
"Song Yunhyeong, aku-"
"Aku rela menderita demi menjagamu dan saat aku mulai tidak sanggup kau malah pergi begitu saja. Bagaimana aku tidak bisa membencimu?" Yunhyeong mulai tidak kuasa menahan air matanya. "Aku sangat membencimu, Goo Junhoe. Aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu lagi. Itulah alasanku pindah ke Jepang. Tetapi sepertinya Tuhan membenciku karena sekarang kau berada didepanku."
Yunhyeong menghapus air matanya. "Terima kasih atas makan malamnya. Aku harap kita tidak bertemu lagi." Lalu ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke luar restoran.
Yunhyeong tidak ingin hal seperti ini terjadi. Dalam bayangannya, ia pulang ke Korea, membantu Hanbin dan Jiwon, lalu kembali ke Jepang, hidup seperti biasa. Tetapi justru ia bertemu dengan orang yang paling tidak ingin ia temui. "Aiissh…. Aku menangis."
Saat hendak menghentikan taksi, tiba-tiba Junhoe menarik tangan Yunhyeong dan menyeret namja manis itu.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" Junhoe membawanya ke sebuah gang sempit diantara restoran dan bangunan disebelahnya.
"Lepaskan atau aku akan berteriak! Orang-orang akan datang lalu memukulmu!" Ancam Yunhyeong. Namja itu memegang tangannya cukup kuat.
"Berteriaklah." Kata Junhoe sambil menempelkan tubuh Yunhyeong ke tembok. "Kita lihat apa kau bisa melakukannya."
Yunhyeong terdiam. Ia menatap mata Junhoe cukup lama. "Hiks… Aku tidak bisa…." Ia menundukkan kepalanya. "Aku membencimu Goo Junhoe. Aku sangat membencimu."
Junhoe melepaskan genggamannya dari tangan Yunhyeong. Ia membiarkan namja manis itu meluapkan emosinya.
"Aku membencimu tapi aku juga menyayangimu. Hiks… Aku tidak menyukai diriku yang seperti ini…. Padahal kau sudah membuangku…"
"Aku tidak membuangmu, Yunhyeong-ah. Aku takut kau meninggal karena berada didekatku. Aku juga tidak ingin seperti ini." Junhoe mengelus kepala Yunhyeong lembut.
Tangis Yunhyeong semakin keras.
"Uljima… Hatiku sakit mendengarnya."
"Hiks…"
"Saranghae, Song Yunhyeong." Junhoe mendekatkan wajahnya dan mulai melumat bibir Yunhyeong.
Yunhyeong memejamkan matanya dan mengalungkan tangannya ke leher Junhoe. Ia membalas ciuman Junhoe bahkan membiarkan lidah namja itu masuk ke dalam mulutnya.
Beberapa saat kemudian, Junhoe menghentikan ciuman mereka karena ingin membiarkan namja manis itu menarik napas.
"Yunhyeong-ah, kyeorhonhaja uri…."
.
.
.
TBC
