LET'S TALK ABOUT GHOSTS
Main Cast:
Song Yunhyeong
Goo Junhoe
Jung Chanwoo
Other Cast:
Kim Jiwon
Kim Hanbin
Genre: Romance, a little bit horror
Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing
Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author
Previous
"Saranghae, Song Yunhyeong." Junhoe mendekatkan wajahnya dan mulai melumat bibir Yunhyeong.
Yunhyeong memejamkan matanya dan mengalungkan tangannya ke leher Junhoe. Ia membalas ciuman Junhoe bahkan membiarkan lidah namja itu masuk ke dalam mulutnya.
Beberapa saat kemudian, Junhoe menghentikan ciuman mereka karena ingin membiarkan namja manis itu menarik napas.
"Yunhyeong-ah, kyeorhonhaja uri…."
.
.
.
Yunhyeong menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Diingatnya Junhoe melamarnya beberapa menit lalu. Ia menutup mukanya malu. Tentu saja Yunhyeong menerimanya karena tidak ada alasan untuk menolak lamaran itu.
Ya, mereka sudah bisa hidup bahagia sekarang. Memar ditubuh Yunhyeong sudah hilang. Dan mengenai hantu… Para arwah itu sudah tidak menganggunya, walaupun Yunhyeong masih bisa melihatnya.
Yunhyeong melirik calon suaminya yang sedang menyetir. Beruntung sekali dirinya, pertama kali dalam sepuluh tahun ia kembali ke Korea dan langsung dilamar namja tampan.
"Aku bisa meleleh jika kau terus melihatku seperti itu." Kata Junhoe tanpa mengalihkan pandangan ke sebelahnya.
"Kkk…. Keuraeyo? Kalau kau meleleh, aku harus menikah dengan siapa nanti?"
Junhoe melirik Yunhyeong sekilas dengan tatapan tidak percaya. "Apa kau baru saja menggodaku? Dari mana kau belajar itu? Apa dari kedua sahabat anehmu itu?"
Yunhyeong tertawa kecil. "Jogiyo, aku harus memanggilmu apa? Sajangnim? Ahjussi?"
"Kalau kau memanggilku ahjussi, aku akan benar-benar marah." Jawab Junhoe kesal.
Yunhyeong kembali tertawa. Entahlah. Ia sangat bahagia sekarang. "Junhoe-ssi?"
"Begitu lebih baik. Aku sangat membenci kata 'ahjussi'."
"Aku tidak sepenuhnya salah. Kau sudah berumur tiga puluh tahun lebih, Junhoe-ssi. Kau pantas dipanggil ahjussi."
"Berhenti menyebut kata itu." Kata Junhoe tegas.
"KKk… Arraseoyo." Yunhyeong meraih tangan kanan Junhoe yang tampak menganggur. Ditempelkan punggung tangan itu ke pipinya. Tangan Junhoe cukup besar dan hangat. Yunhyeong menyukainya.
"Yunhyeong-ah, kau tidur dimana malam ini?"
"Mungkin di apartemen Hanbin. Atau di rumah Jiwon."
"Ahh…" Junhoe terdiam sebentar. "Apa kau ingin menginap di rumahku? Rumahku tidak jauh dari sini." Tawarnya.
"Jinjjayo?" Yunhyeong tampak berpikir sejenak. " Tapi koperku ada di mobil Hanbin."
"Sepertinya aku mempunyai pakaian yang pas untukmu."
"Hm…" Yunhyeong memutar bola matanya. "Keuraeyo. Aku akan menghubungi Hanbin." Ia mengambil handphone-nya dan menelepon sahabatnya itu. "Eo, Hanbin-ah. Kau sudah sampai rumah? Ah.. Keurae. Hari ini aku akan menginap di rumah Goo Junhoe-ssi."
Junhoe membelokkan mobilnya ke dalam sebuah rumah bergaya modern-minimalis. Ia memarkirkan mobilnya ke dekat pintu utama.
"Ya! Apa yang kau pikirkan?!" Teriak Yunhyeong yang membuat Junhoe terkejut. "K-Kami tidak akan melakukan apa-apa!" Lalu ia mematikan handphone itu kasar.
"Wae?" Tanya Junhoe yang melihat wajah merah padam Yunhyeong.
"A-aniyo." Dasar Kim Hanbin mesum! Memangnya apa yang ia dan Junhoe lakukan disini?! Yunhyeong mengalihkan pandangan ke luar kaca mobil. "Rumahmu bagus sekali, Junhoe-ssi." Katanya sambil mengagumi bangunan berwarna cokelat itu.
"Jja. Ayo masuk." Junhoe menarik Yunhyeong masuk ke dalam rumahnya. Dibawanya namja itu ke ruang tamu. "Kau ingin minum sesuatu?"
"Aniyo." Yunhyeong mengedarkan pandangannya. Rumah Junhoe terlihat sangat nyaman. Tidak terlalu besar dan didominasi warna cokelat. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Apakah ada orang lain yang pernah dibawa Junhoe ke sini, apakah Junhoe menyukai orang itu dan sampai sejauh mana hubungan mereka.
"Igeo."
Yunhyeong membuyarkan lamunannya. Dilihatnya Junhoe menyerahkan sebuah handuk dan pakaian.
"Aku rasa baju itu pas ditubuhmu."
Yunhyeong mengambil benda didepannya itu.
"Walaupun sebenarnya kau tidak membutuhkan baju malam ini." Lanjut Junhoe sambil menyeringai.
Tentu saja namja manis itu terkejut. Wajahnya menjadi panas. "Um… Itu… A-aku belum siap."
Junhoe tertawa puas. Sesekali menggoda Yunhyeong memang tidak ada salahnya. Diusapnya rambut Yunhyeong lembut. "Aku juga tidak ingin melakukannya sekarang." Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yunhyeong. "Tapi kalau kau menggodaku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini." Bisiknya.
Yunhyeong merinding. Ia mundur beberapa langkah. "J-jangan membuatku takut."
Junhoe kembali tertawa. Lalu ia mengecup bibir Yunhyeong singkat. "Kau ingin mandi dulu?"
"Aniyo. Kau duluan saja, Junhoe-ssi."
"Keurae." Junhoe melepas jasnya dan berjalan ke kamar mandi. "Anggap saja rumah sendiri. Ah… Ani. Sebentar lagi rumah ini juga rumahmu, Nyonya Goo." Lalu namja itu menghilang dari balik pintu.
Yunhyeong menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menutup wajahnya yang memerah dengan handuk. 'Nyonya Goo?'
"Jangan lupa pakai pengaman. Kau dan dia belum resmi menikah."
Entah kenapa tiba-tiba perkataan Hanbin di telepon tadi terngiang di kepalanya.
"Uhuk!" Yunhyeong terbatuk kecil. Jantungnya berdebar kencang. Ia dan Junhoe? Malam ini? Yunhyeong menggelengkan kepalanya. Ia berdiri dan mulai mengelilingi rumah Junhoe.
Yunhyeong memperhatikan beberapa foto yang menempel di dinding ruang tamu. Ada sebuah foto dua orang pria dan wanita yang sepertinya orang tua Junhoe. Dan ada sebuah foto yang tidak asing di mata Yunhyeong. Foto seorang nenek dengan anak kecil disebelahnya.
Yunhyeong tersenyum kecil. Halmeoni yang ia temui sepuluh tahun lalu dan Junhoe kecil yang sedang tersenyum ke kamera. Lalu mata Yunhyeong bergerak ke foto selanjutnya. Foto Junhoe dengan rambut blonde lengkap dengan pakaian olahraga. Aiggoo…. Sudah berapa lama ia tidak melihat guru olahraganya itu.
Yunhyeong berjalan menuju dapur. Lalu ia membuka sebuah lemari kecil di atas kompor. Ia merengut kesal saat melihat banyak mie instan disana. Apa namja itu hanya memakan mie instan disini? Dilihat dari sifatnya, sepertinya Junhoe lebih sering makan di luar. Ya, orang itu tidak bisa memasak.
Yunhyeong menghela napas. Mulai sekarang ia bertekad akan memasak makanan lezat untuk Junhoe setiap harinya. Namja itu bisa merusak tubuhnya jika terus memakan mie instan.
Yunhyeong mengalihkan pandangannya saat mendengar suara pintu kamar mandi. Dilihatnya Junhoe mengenakan kaus berwarna putih polos dan celana pendek selutut. Namja bermarga Goo itu menggosokkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Aku sudah selesai." Katanya sambil menghampiri Yunhyeong.
Yunhyeong menatap namja didepannya itu takjub. "Apa kau benar berumur tiga puluh tiga tahun?"
Junhoe tertawa kecil. "Wae? Apa wajahku masih sama seperti dulu?"
"Eo. Wajahmu tidak berubah, Goo Junhoe-ssi."
"Apa ketampananku bertambah?" Tanya Junhoe dengan percaya diri.
Yunhyeong tersenyum mengejek. "Eo. Walaupun aku benci mengakuinya." Lalu ia berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Junhoe yang tertawa puas.
.
.
.
Yunhyeong membuka sebuah pintu berwarna putih yang sepertinya kamar Junhoe. Dan benar saja. Namja itu sedang duduk di tempat tidur sambil memegang beberapa kertas.
"Apa itu?" Tanya Yunhyeong yang mendudukan dirinya di samping Junhoe.
"Ini foto beberapa konsep untuk pernikahan kita nanti." Junhoe menunjukan kertas itu pada Yunhyeong. "Kau suka yang mana?"
Yunhyeong melihat foto itu sekilas. Lalu ditatapnya namja itu dalam. "Kau harus beristirahat. Ini sudah malam." Ia mengambil kertas itu dari Junhoe, juga kertas yang berserakan di tempat tidur dan menaruhnya di meja kecil disamping tempat tidur.
"Jja." Yunhyeong mendorong Junhoe agar namja itu berbaring kemudian ia menarik selimut. "Selamat malam."
Melihat Yunhyeong yang berjalan ke luar kamar, Junhoe segera menarik tangan namja manis itu. "Eodiga?"
Yunhyeong menatap Junhoe bingung. "Aku ingin ke ruang tamu. Tidur di sofa."
"Ya! Micheoseo?!" Junhoe langsung menarik namja manis itu agar tidur disebelahnya. "Kau harus tidur disini."
Yunhyeong mengedipkan matanya beberapa kali. "Tidur disini? Bersamamu?"
"Eo. Aku tidak akan membiarkanmu tidur di sofa."
Yunhyeong tersenyum.
"Dan aku juga tidak mau tidur di sofa." Lanjut Junhoe. "Makanya kita tidur saja disini."
"Cih…" Yunhyeong memukul dada Junhoe pelan. "Kupikir kau ingin berkata romantis."
Yunhyeong dan Junhoe tidur menyamping, saling berhadapan. Untuk beberapa saat, mereka hanya menatap mata satu sama lain.
Yunhyeong menyentuh dada Junhoe dengan telunjuknya. "Apa ada orang lain selain aku yang menyentuhmu seperti ini selama sepuluh tahun?"
"Eobseo."
Lalu jarinya menyentuh bawah mata Junhoe. "Apa ada orang lain yang menarik perhatianmu selain aku selama sepuluh tahun ini?"
"Eobseo."
Yunhyeong tertawa kecil. Lalu jarinya menyentuh bibir Junhoe. "Kalau ini?"
"Eobseo. Aku tidak berhubungan dengan orang lain selain denganmu selama sepuluh tahun ini." Junhoe menarik tengkuk Yunhyeong dan mendekatkan bibirnya.
"Sebenarnya aku pernah berpacaran dua kali saat tinggal di Jepang."
Junhoe menghentikan gerakannya. Ditatapnya Yunhyeong yang sedang melihatnya menahan tawa. Lalu Junhoe membalikkan badannya, memunggungi namja manis itu.
"Kau cemburu, Junhoe-ssi?" Yunhyeong mendekati Junhoe, sedikit menangkat kepalanya agar bisa melihat wajah namja itu.
"Menurutmu?" Tanya Junhoe jengkel. "Ternyata hanya aku yang hidup menyedihkan seperti ini. Apa kau tahu aku tidak bisa menjalin hubungan dengan orang lain karenamu?"
"Kkkk…"
"Setiap hari aku selalu memikirkanmu. Apa yang dilakukan namja itu, apakah dia sudah lulus kuliah, apakah dia sudah menjadi seorang chef. Tapi ternyata namja itu malah melupakanku dan berpacaran dengan orang lain." Kata Junhoe mengejek.
Yunhyeong tertawa. Ternyata namja chingu-nya itu tidak bisa melupakannya. Junhoe tidak tahu, bahwa Yunhyeong juga sama. Namja manis itu tidak bisa berhenti memikirkannya. Maka dari itu ia berpacaran dengan orang lain agar bisa melupakan Junhoe. Walaupun tidak berhasil.
"Jangan marah. Toh aku sekarang ada disini." Yunhyeong memeluk Junhoe dari belakang. "Saranghae, Goo Junhoe-ssi."
Junhoe membalikkan badannya. Ia mengigit bibir bawahnya agar tidak kelihatan tersenyum. "Tetapi aku masih belum bisa memaafkanmu." Katanya pura-pura marah.
Yunhyeong mengecup bibir Junhoe cepat. "Kau puas?"
Junhoe tersenyum lalu memeluk tubuh Yunhyeong. "Aku masih marah."
"Kkk…" Yunhyeong membalas pelukan itu dan membenamkan wajahnya di dada Junhoe. "Junhoe-ssi, bagaimana jika saat itu aku tidak bertemu dengan nenekmu?"
"Hm…" Junhoe tampak berpikir.
"Atau bagaimana jika kau tidak tinggal di Seoul? Mungkin aku akan menghabiskan separuh hidupku mencarimu. Apa kau tidak pernah berpikir mencari namja dengan tanda lahir dibelakang kuping adalah hal yang mustahil?"
Junhoe mengerutkan dahinya. "Memangnya saat itu halmeoni bilang apa?"
"Halmeoni bilang, 'Cucuku memiliki tanda lahir dibelakang telinganya dan dia tipe orang jarang tersenyum'. Saat aku tahu kau adalah orangnya, aku merasa sangat beruntung sekali. Aku tidak perlu jauh-jauh mencarimu. Dan aku hanya perlu menjagamu sampai kau menikah." Yunhyeong melepas pelukannya lalu menatap Junhoe jengkel. "Dan kau bilang kau tidak ingin menikah. Bagaimana aku tidak kesal?"
"Kkkk…" Junhoe mengelus kepala Yunhyeong lembut. "Sekarang tugasmu sudah selesai. Aku akan segera menikah."
"Eo. Untung saja kau menikah denganku. Aku tidak bisa membayangkankan jika kau menikah dengan orang lain, tuan dengan tanda lahir dibelakang kuping." Yunhyeong mengelus pipi Junhoe. Ia menempelkan bibirnya dengan bibir namja itu. Saat hendak melepas ciumannya, Junhoe menarik pinggangnya.
Junhoe mulai melumat bibir atas dan bibir bawah Yunhyeong secara bergantian. Lalu lidahnya melesak masuk ke dalam mulut namja manis itu.
"Eunghh…" Yunhyeong melenguh. Ditariknya tengkuk Junhoe untuk memperdalam ciuman mereka. Ia merasa lidahnya dihisap beberapa kali oleh Junhoe. Dan ia juga merasa calon suaminya itu memasukan tangan ke dalam bajunya, meraba-raba punggungnya.
Yunhyeong juga melakukan hal yang sama. Ia menarik baju Junhoe, meminta namja itu melepas pakaiannya. Tapi kemudian tiba-tiba Junhoe melepas ciuman mereka.
"Wae?" Tanya Yunhyeong kecewa.
Junhoe membersihkan cairan bening disekitar bibir Yunhyeong. "Kau lupa? Kita belum menikah."
"Ah…" Yunhyeong menundukkan kepalanya malu.
"Aku tidak ingin melakukannya sebelum kita menikah, eo?" Junhoe kembali memeluk Yunhyeong. "Untuk sekarang seperti ini saja. Keundae…"
"Eo?"
"Tadi kau ingin membuka bajuku?"
Yunhyeong semakin dalam membenamkan kepalanya di dada Junhoe. "A-ani." Ia memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh namja bermarga Goo itu. Yunhyeong tidak sadar, sebuah memar berwarna biru-keunguan kembali muncul di bahunya.
.
.
.
TBC
