LET'S TALK ABOUT GHOSTS

Main Cast:

Song Yunhyeong

Goo Junhoe

Jung Chanwoo

Other Cast:

Kim Jiwon

Kim Hanbin

Genre: Romance, a little bit horror

Disclaimer: Tokoh punya YGent dan orang tua masing-masing

Warning: Yaoi, Typo, Cerita membosankan, Alur cepat, ide cerita murni hasil pemikiran author

Previous

Yunhyeong semakin dalam membenamkan kepalanya di dada Junhoe. "A-ani." Ia memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh namja bermarga Goo itu. Yunhyeong tidak sadar, sebuah memar berwarna biru-keunguan kembali muncul di bahunya.

.

.

.

Yunhyeong melihat wajah Junhoe saat membuka matanya. Namja itu masih tertidur. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipi Junhoe lembut. Lalu ia tersenyum kecil.

Yunhyeong sangat bahagia. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa sangat bersyukur bisa melihat hantu. Karena jika bukan hal itu, mungkin sampai sekarang Junhoe hanya sebatas mantan guru olahraganya.

Merasa ada yang menyentuh pipinya, Junhoe membuka matanya. Dilihatnya Yunhyeong sedang tersenyum ke arahnya.

"Tidurlah sebentar lagi." Kata Junhoe dengan suara serak. Ia menyelimuti tubuh Yunhyeong sampai sebatas dada. "Kau pasti lelah karena penerbangan kemarin."

"Aniyo. Aku baik-baik saja. Kau ingin pergi bekerja?"

"Shireo." Junhoe menggenggam tangan Yunhyeong yang masih menempel dipipinya. "Aku tidak mau bekerja hari ini. Ayo kita pergi kencan."

Yunhyeong tertawa kecil. "Kau harus bekerja. Bagaimana kau bisa membiayai acara pernikahan kita nanti? Carilah uang yang banyak."

"Tidak perlu. Uangku sudah banyak. Aku bahkan bisa membiayai pernikahan untuk sepuluh orang."

"Kau sedang menyombongkan diri Goo Junhoe-ssi?"

"Eo." Junhoe menarik pinggang Yunhyeong dan membenamkan wajahnya di leher namja manis itu. "Ayo kita kencan." Ajaknya lagi. Mulai sekarang, bermanja-manja dengan Yunhyeong adalah kesenangan barunya.

"Tapi aku harus membantu Hanbin mencari jas pengantin hari ini."

"Jiwon?"

"Dia pergi mengurus undangan."

"Chanwoo?"

"Chanwoo pergi meeting dengan rekan kerjanya. Lagipula kepulangannya ke Korea bukan karena ingin membantu Jiwon dan Hanbin."

Junhoe melepaskan pelukannya lalu memperlihatkan ekspresi pura-pura kesal. "Jadi kau yang harus menemani anak itu?"

Yunhyeong menganggukkan kepalanya. "Eo. Setelah menemani Hanbin, ayo kita makan malam dan menonton bioskop."

Junhoe tersenyum senang. "Keurae. Kalau begitu aku akan menjemputmu setelah selesai bekerja."

Yunhyeong mencubit pipi Junhoe gemas. Namja-nya itu bertingkah seperti anak kecil, tidak sesuai dengan usianya. "Jja. Cepat mandi. Aku akan membuat makanan yang enak untukmu." Ia menyibakan selimutnya dan bangun dari tempat tidur.

Bukannya mengikuti Yunhyeong yang hendak pergi ke luar kamar, Junhoe justru memejamkan matanya. Ia kembali tertidur.

Yunhyeong mengerutkan dahinya kesal. Ia kembali berjalan ke tempat tidur lalu memukul lengan Junhoe cukup keras. "Bangun, dasar pemalas!"

"Aaa!" Junhoe berteriak kesakitan. Ia segera mendudukan dirinya di kasur sambil mengelus lengannya yang memerah. "Sejak kapan kau kuat seperti ini?" Tanyanya heran.

"Ambil handukmu dan mandi." Kata Yunhyeong tegas. Lalu ia meninggalkan Junhoe yang masih kesakitan di kamar.

"Wah…" Junhoe menatap punggung namja manis itu setengah percaya. "Sepertinya kau tidak bisa bangun siang setelah menikah nanti." Ia berdiri dan berjalan ke kamar mandi dengan malas.

Junhoe melewati dapur dan melihat calon pengantinnya itu sedang mengambil sayuran dari kulkas.

"Kau hanya punya ini?" Tanya Yunhyeong sambil menunjukkan beberapa batang wortel dan brokoli.

"Kau ingin membuat makanan dari itu?" Junhoe menunjuk benda yang sedang dipegang Yunhyeong itu horror. Ia sangat membenci sayuran. Makanan yang menurut Junhoe rasanya pahit itu dibawa oleh Eomma-nya beberapa hari lalu dan ia lupa membuangnya hari ini.

"Wae?" Yunhyeong mengerutkan dahinya bingung. Beberapa detik kemudian ia mengerti saat memperhatikan ekspresi Junhoe. "Aku ingin membuat nasi goreng brokoli." Katanya sambil menyeringai. "Kau HARUS memakannya, Junhoe-ssi. SAMPAI HABIS."

"Shireo! Aku tidak akan memakannya!"

"Kalau begitu kita tidak jadi kencan hari ini."

Junhoe menatap Yunhyeong kesal. Namja manis berani mengancamnya hanya karena ia tidak mau makan sayuran? Memangnya Junhoe lelaki macam apa?

"Aku akan mencium bibirmu satu kali untuk satu sendok brokoli." Tawar Yunhyeong.

Junhoe membulatkan matanya. "Keurae!" Katanya girang. Lalu ia berlari ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya secepat mungkin. Ia bahkan menggosok giginya sambil keramas.

Setelah selesai membilas, Junhoe mengeringkan rambutnya asal-asalan dan berjalan menuju dapur. Tapi kemudian ia mendengar suara tangisan. Junhoe melangkahkan kakinya perlahan, dapurnya terlihat berantakan. Lalu ia menurunkan pandangannya, dilihatnya Yunhyeong sedang duduk berlutut sambil menangis.

"Yunhyeong-ah…" Panggil Junhoe.

Yunhyeong mengangkat kepalanya. Pipinya basah karena air mata. "Eotteokhae? Junhoe-ssi eotteokhae?"

"Wae geurae? Kenapa kau menangis?" Junhoe berjongkok, menyamakan tingginya dengan Yunhyeong. Dihapusnya air mata namja manis itu.

Yunhyeong mengangkat tangannya, memperlihatkan punggung tangannya yang berwarna ungu-kebiruan. "M-memar ini muncul lagi. Hiks…."

Junhoe membeku ditempatnya. Diperhatikannya memar itu di kedua tangan Yunhyeong yang gemetar. "Bagaimana…. Bagaimana bisa…"

"Eotteokae? Hiks…. Kenapa selalu seperti ini… Lebih baik aku mati saja…."

Junhoe langsung memeluk Yunhyeong. Perkataan namja itu membuat hatinya terasa tersayat. "Ya! Kau tidak boleh berkata seperti itu! Kau tidak akan mati, Yunhyeong-ah… Karena kau akan menikah denganku…"

.

.

.

Hanbin menatap pantulan dirinya di cermin. Sepertinya kemeja berwarna putih yang sedang ia pakai sekarang tidak buruk. Hm… Tapi bukankah biasanya kemeja pengantin berwarna hitam? Hanbin teringat perkataan Jiwon yang menyetujui apapun yang dipilihkannya. Karena sebenarnya sudah tidak ada waktu lagi. Pernikahan mereka tinggal menghitung hari.

Hanbin menolehkan kepalanya ke belakang saat mendengar suara pintu terbuka. Dilihatnya Yunhyeong dan Junhoe di depan pintu.

"Yoyo-ah, kenapa kau baru datang sekarang?"

"Mian." Jawab Yunhyeong pelan.

"Hyung, annyeonghaseyo." Sapa Hanbin pada Junhoe.

"Eo. Aku akan menjemput Yunhyeong setelah kau selesai." Junhoe mengelus kepala Yunhyeong sebentar lalu pergi dari tempat itu.

"Kau bertengkar dengannya?" Tanya Hanbin sambil menghampiri sahabatnya itu. "Kenapa wajahnya seperti itu? Dan kenapa kau memakai scarf saat cuaca panas begini?"

"Hanbin-ah…" Yunhyeong kembali menitikan air matanya.

"Wae wae? Kau benar bertengkar dengannya?"

Yunhyeong menggelengkan kepalanya. Ia melepaskan scarf yang sedari tadi menempel di lehernya.

"Y-yunhyeong…"

.

.

.

Junhoe masuk ke dalam sebuah café dengan tergesa-gesa. Ia mengedarkan pandangannya diantara banyak orang. Lalu matanya menangkap seorang namja yang sedang memperhatikannya dari jauh. Junhoe berjalan menghampiri Chanwoo dan duduk didepannya.

"Mian, aku terlambat."

Chanwoo memutar bola matanya malas. "Kalian berdua sama saja, selalu datang terlambat. Waeyo? Kenapa kau tiba-tiba memanggilku?"

"Ah… Keugo…" Junhoe menundukkan kepalanya. Ia benar-benar putus asa. Junhoe tidak tahu ia harus meminta tolong kepada siapa lagi. Ia takut. Ia sungguh takut kehilangan orang yang sangat dicintainya itu. "Memar itu… muncul lagi di tubuh Yunhyeong."

Chanwoo membulatkan matanya. "J-jinjjayo?"

"Chanwoo-ya, apa kau bisa membantunya? Memar itu sangat banyak." Kata Junhoe panik. Ia ingin menangis rasanya. "Aku mohon, bantu dia. Aku akan melakukan apa pun agar memar itu hilang…"

Chanwoo menghela napasnya. Ia memijit pelipisnya pelan. "Mianhaeyo. Aku tidak bisa membantu. Memar itu tidak akan hilang."

"Bukankah memar itu sempat hilang? Sebelum Yunhyeong bertemu lagi denganku?"

"Itu karena seorang ahjumma memberikannya jimat. Tapi sepertinya benda itu sudah tidak berguna lagi." Kata Chanwoo sedih.

"Apa aku harus menjauhinya lagi?"

"Itu tidak akan berpengaruh, hyung."

"Eotteokhaji…"

"Mianhaeyo."

Junhoe mengacak rambutnya frustasi. "Lalu apa yang akan terjadi padanya?"

"Yunhyeong…" Chanwoo terdiam sebentar. Ia tidak yakin harus menyampaikan hal ini pada Junhoe. "Meninggal… Mungkin umurnya tidak lama lagi."

Runtuh semua pertahanan Junhoe. Ia menangis. "Andwae… Dia tidak boleh meninggal… Bagaimana bisa dia meninggalkanku disaat kita baru bertemu setelah sepuluh tahun?"

"Hyung, jeongmal mianhaeyo…"

Junhoe menundukkan kepalanya. Kenapa akhirnya tragis seperti ini? Kenapa dia dan Yunhyeong tidak boleh merasa bahagia walau hanya sebentar?

.

.

.

Yunhyeong berdiri didepan gedung sambil memegang scarfnya dengan erat. Ia terus melamun sampai sebuah mobil berhenti didepannya. Yunhyeong membuka pintu mobil itu dan masuk ke dalamnya. Dilihatnya Junhoe sedang menatapnya.

"Kau menangis? Matamu bengkak." Kata Yunhyeong sambil mengelus kelopak mata Junhoe. "Aku sudah mendengar semuanya dari Chanwoo."

Junhoe menggenggam tangan Yunhyeong dan menciumnya. Ia menitikan air matanya. "Aniya. Semua yang dikatakannya tidak benar. Kau tidak boleh mati… Aku tidak mengijinkanmu."

Yunhyeong yang melihat Junhoe menitikan air mata, juga ikut menangis. "Mianhae…"

Junhoe menarik lengan Yunhyeong dan memeluk namja manis itu sangat erat, seolah-olah tidak ingin orang yang dicintainya itu pergi. "Kajima… Kajima…" Gumam Junhoe.

"Jeongmal mianhae…"

"Hajima! Jangan meminta maaf seperti itu!" Teriak Junhoe marah. "Kau tidak akan mati! Kau tidak boleh meninggalkanku!"

"Goo saem… Maafkan aku…" Yunhyeong melepaskan pelukannya. Ia berusaha tersenyum. "Apa kau bisa mempercepat tanggal pernikahan kita? Setidaknya aku ingin merasakan menjadi Nyonya Goo sebelum aku meninggal."

.

.

.

Yunhyeong memegang buket bunga berwarna putih yang sangat cantik itu. Ia tersenyum, berusaha mengabaikan punggung tangannya yang berwarna ungu-kebiruan.

Yunhyeong berjalan menuju altar ditemani Appa-nya. Dilihatnya Junhoe dari kejauhan, sangat tampan, ia memang tidak salah memilih pasangan.

Yunhyeong menoleh ke samping altar, dilihatnya Hanbin dan Jiwon memandanginya sambil menangis. Ah… ia merasa sangat bersalah karena mendahului kedua sahabatnya itu. Yunhyeong juga melihat Chanwoo yang tersenyum ke arahnya. Ia sudah sering bilang pada namja bermarga Jung itu untuk sering tersenyum, karena jujur saja, Chanwoo sebenarnya sangat tampan.

Pada akhirnya, Yunhyeong berdiri disebelah Junhoe, dipandanginya namja yang beberapa menit lagi menjadi suaminya itu. Junhoe terlihat agak kurus, mungkin karena tekanan yang dirasakannya.

Yunhyeong tersenyum bahagia. Sangat menakjubkan rasanya bagaimana bisa dua buah kata, "Aku bersedia", bisa merubah hidupnya begitu hebat. Yunhyeong sangat menyukai cara Junhoe mengucapkan kata-kata itu. Ia harus meminta suaminya itu untuk mengucapkannya setiap hari sampai sisa hidupnya.

Yunhyeong menganggukkan kepalanya saat Junhoe bertanya apakah ia mau langsung pulang setelah acara. Mempersiapkan acara pernikahan membuatnya tidak tidur berhari-hari. Yunhyeong sangat lelah, bahkan ia hanya bisa pasrah saat Junhoe melumat bibirnya dan menempelkannya ke tembok begitu mereka membuka pintu rumah.

Yunhyeong kewalahan membalas ciuman penuh nafsu namja itu. Ia mendesah keras saat Junhoe mulai menghisap lehernya dan meninggalkan tanda disana. Yunhyeong mengalungkan tanganya ke leher Junhoe. Ia juga mengaitkan kakinya ke pinggang suaminya itu.

Saat Junhoe memberikan waktu untuk ia menarik nafas, Yunhyeong berbisik meminta Junhoe membawanya ke kamar dan melanjutkan kegiatan mereka disana.

Yunhyeong sedikit berteriak saat Junhoe melemparkan tubuhnya ke kasur. Namja itu menindihnya dan memasukan lidahnya ke dalam mulut Yunhyeong.

Tapi kemudian tiba-tiba Yunhyeong merasa kesakitan. Sangat kesakitan sampai-sampai ia mengerang. Tubuhnya terasa terbakar. Pandangannya mulai kabur. Samar-samar ia melihat Junhoe menatapnya khawatir.

Yunhyeong tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa mendengar Junhoe berkata bahwa suhu tubuhnya sangat dingin. Bagaimana bisa? Padahal ia merasa terbakar sekarang.

Yunhyeong tidak bisa melihat dengan jelas. Yang ia lihat hanya Junhoe menempelkan handphone-nya ke telinga dan berbicara dengan seseorang diseberang sana.

"Suhu tubuhnya sangat panas. Aku akan membawanya ke dokter. Mwo? Kenapa tidak boleh?! Jebal, Chanwoo-ya… Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin dia mati. Aku sangat mencintainya."

Lalu Yunhyeong merasa namja itu mendekatkan wajahnya dan menatapnya terkejut.

"Astaga… Yunhyeong-ah… Memarmu… Andwae!"

.

.

.

Yunhyeong membuka matanya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sampai ia bisa melihat benda didepannya dengan jelas. Hm… sebuah lampu? Yunhyeong menolehkan kepalanya. Dilihatnya Junhoe sedang tidur disampingnya.

Lalu Yunhyeong mendudukkan dirinya di tempat tidur. Ia mengedarkan pandangannya. Ah… Ini kamar Junhoe. Cahaya matahari yang terang membuat matanya agak sakit.

Perasaan macam apa ini? Kenapa Yunhyeong merasa tubuhnya sangat ringan? Seolah-olah seluruh beban hidupnya hilang. Ia mengangkat tangannya dan sangat terkejut saat tidak mendapati memar itu sudah tidak ada.

Yunhyeong melompat dari tempat tidur dan berlari ke sebuah kaca besar yang menempel di lemari pakaian. Ia bercermin. Hilang. Semua memarnya sudah menghilang.

Yunhyeong berjalan ke luar kamar dan mengedarkan pandangannya. Tidak ada. Ia tidak melihat hantu. Yunhyeong membuka pintu rumah dan berlari ke sebuah pemakaman terdekat yang ia ingat.

Yunhyeong menangis bahagia. Ia benar-benar tidak melihat hantu, bahkan di pemakaman sekalipun. Sekali lagi ia melihat tangannya yang sudah bersih, tidak ada memar sama sekali.

Tiba-tiba ia merasa sebuah benda bergetar di kantong celananya. Ia merogoh benda itu dan dilihatnya siapa yang menelepon.

"Yeoboseyo?"

"Song Yunhyeong? Yunhyeong-ah! Kau dimana?!"

"Aku di pemakaman."

"Sedang apa kau disana?! Aku akan menjemputmu!"

"Tidak usah, Junhoe-ssi. Aku akan pulang sekarang."

"Kau… baik-baik saja? Kau masih merasa sakit?"

"Aniya… Aku justru merasa bahagia sekali." Yunhyeong terdiam sebentar, lalu berkata dengan semangat, "Junhoe-ssi! Aku sudah tidak melihat hantu lagi! Memarku juga sudah hilang! Aku tidak mati."

"Yunhyeong-ah…."

"Aku bisa hidup dengan normal sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu."

"Gomawo… Jinjja gomawo…. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi…."

Yunhyeong mengusap air mata bahagia yang membasahi pipinya. Ini benar-benar nyata. Ia benar-benar bisa hidup dengan normal sekarang.

Yunhyeong melangkahkan kakinya dengan ringan, ke luar dari pemakaman.

"Yeobo…"

"M-mwo? Kau panggil aku apa?"

"Yeobo…"

"Y-yeobo?"

"Kalau begitu… Oppa?"

"O-OPPAAA?"

"Oppa saranghaeyo…"

"N-nado saranghae…."

"Oppa ingin makan apa? Mau nasi goreng brokoli?"

"Aniya!"

"Satu sendok, satu kali cium?"

"….."

"Yeoboseyo?"

"Yunhyeong-ah, cepat pulang… Aku akan langsung menerkammu begitu kau sampai rumah."

.

.

.

THE END