"Omega sialan, kau tidak punya mata ya?" Suara husky berat itu membuat Jungkook menahan nafasnya, sesak. Sisi omeganya ketakutan mendengar kalimat kasar yang diucapan Alpha dihadapannya, namun otaknya berontak tidak terima karena dilecehkan.

'Omega sialan katanya, huh?'

Jungkook berdiri, netranya menatap tajam ke alpha dihadapannya. Dalam hati ia meminta maaf pada Yoongi karena tidak menuruti nasehatnya. Tapi ia tidak terima dihina sebegitunya. Memangnya ia takut?

"Sunbae buta ya? Kenapa tidak bisa lihat kalau aku punya mata?" Ia sudah terlanjur basah, langsung saja menyelam. Masa bodoh dengan masa depannya nanti, kini yang ia pikirkan hanya balas dendam pada pemuda angkuh Kim Taehyung ini.

"Buta? Sialan, kau kira aku buta, ha?!"

Jungkook terkejut kala tangan besar itu menarik kerah kemajanya hingga ia terangkat sejajar dengan Taehyung. Kakinya mengambang karena perbedaan tinggi diantara keduanya.

"Ugh.. brengsek! Lepash.."

"Omega Bangsat! Wanita murahan sepertimu harus tunduk membuka kakimu padaku bukannya melawan!"

Jungkook dilempar hingga ia terduduk di tanah. Ia meringis merasakan perih di kedua sikunya. Iris matanya menangkap gerombolan mahasiswa yang menatapnya melas tanpa niatan membantu. Tunggu bukannya itu Alice? Kenapa ia hanya diam disana tanpa membantu?

"Lihat kemana kau, hah?!" Hampir saja Jungkook tercekik jika saja tidak ada tangan yang menarik Taehyung menjauh darinya.

"Tae, berhenti!! Dia gadis!" Pemuda yang mencoba menjauhkan Taehyung itu adalah mate Yoongi.

"Memangnya kenapa?? Si bangsat itu harus kusiksa hingga dia mengerti derajatnya!!"

"Bodoh!.. Dia omega, sialan!! Buat apa melawan dia?!" Pemuda yang lebih pendek dari Taehyung itu tampak kesusahan menarik Taehyung.

Jungkook bangkit dan mendekati Taehyung. Bisa dia lihat jelas tatapan benci dari Taehyung. Aneh, iris Taehyung berubah jadi merah. Apa karena ia emosi? Entahlah Jungkook tidak peduli. Taehyung semakin berontak saat Jungkook semakin dekat hingga pemuda di belakangnya tampak kuwalahan menahan Taehyung.

"Menjauh, Kook!"

Tapi Jungkook tidak memperdulikan ucapan pemuda itu ataupun bagaimana ia tau namanya, hingga jarak mereka kurang dari 2 meter. Jungkook memaki Taehyung, "Jaga perkataanmu. TANPA ADANYA OMEGA KAU TIDAK BISA LAHIR, BRENGSEK!"

Ia langsung berlari, ia menangis tersendu, sebab hatinya tidak kuat menahannya lagi. Taehyung keterlaluan. Setiap kata yang diucapkan menusuk hati Jungkook, menoreh luka yang begitu dalam.

"Lepaskan aku, Jim!! Biarkan aku menyiksa jalang itu!" Ujar Taehyung tidak sabaran, ia menyikut Jimin berharap pemuda itu melepaskannya sehingga ia bisa mengejar Jungkook.

Namun Jimin tidak menyerah, ia terus memeluk Taehyung hingga sebuah tali merah terlihat sebelum akhirnya hilang begitu punggung Jungkook menghilang dari pandangannya.

Jimin melepas pelukannya pada Taehyung namun tetap memegang bahu pemuda itu, irisnya menjadi keemasan, ia menatap nyalang pada segerombolan orang yang masih menatap mereka. Buru-buru mereka membubarkan diri takut terkena amukan Jimin.

Saat dirasa Taehyung menjadi lebih tenang, tangannya bergerak mengambili kertas yang sepertinya milik Jungkook.

"Kau kenal dia?" Jimin menoleh menatap Taehyung yang masih setia menatap ke arah Jungkook berlari.

"Tidak, tapi Yoongi sering cerita tentang dia." Ia berdiri sambil membawa tumpukan kertas itu. Ngomong-ngomong soal Yoongi, apa dia masih di perpus? Jimin buru-buru berlari ke parkiran begitu mendengar ucapan siswa lain. Setelah berhasil mengelabuhi Yoongi ia pun berlari tanpa memperdulikan mate gulanya itu. Takut jika Yoongi tau Taehyung melukai Kookie kesayangannya.

Baru saja Jimin ingin berbicara dengan Taehyung, tapi bayangan seseorang yang berlari ke arah kepergian Jungkook membuat Jimin merinding.

"Uh.. Tae, tadi itu.." ucapnya sekuat tenaga sebab suara susah sekali keluar saking takutnya.

"Itu matemu." Ujarnya sambil menyisir helaian keunguannya ke belakang.

"BANGSAT! Yoongi tau!!" Jimin mendadak panik sendiri, bisa habis juniornya jika Yoongi tahu Jungkook terluka seperti itu. Kim sialan!

"Tenanglah, aku yang akan hadapi Yoongi." Dengan santainya Taehyung bersender di mobil belakangnya.

"Ngomong-ngomong itu miliknya? Berikan sini!" Taehyung ingin menyaut tumpukan kertas di tangan Jimin namun terhalangi tangan Jimin.

"No, biar aku yang bawa. Bisa-bisa kau membakar kertas ini."

"Biar saja. Biar dia tahu, siapa yang berkuasa disini."

Jimin mendengus, hafal betul dengan peringai Taehyung yang keras kepala dan egois. Ia tidak akan melepaskan mangsanya sampai mangsa itu menunduk dan minta maaf. Ia jadi kasihan pada Jungkook.

"Oy, bangsat. Kau tadi lihat ada tali merah saat Jungkook lari?"

"Ha? Tidak, kenapa memangnya? Matenya si omega itu?"

Jimin mengangguk pelan sambil menatap serius alpha di depannya. "Katanya, tali merah itu akan muncul dalam radius sekitar 3 atau 5 meter kan? Menurutmu tali itu tersambung dengan cincin siapa? Yang dekat dengan Jungkook hanya kita berdua loh."

Hening menyapa mereka, hingga tiba-tiba seringai muncul di wajah tampan Taehyung. Jimin yang sesama alpha pun merinding dibuatnya, perasaannya jadi tidak enak.

"Jadi Jungkook mateku ya? Kita tunjukan pada jalang itu cara menghormati alphanya."

"Tae! Mau kau apakan dia? Hey! Pergi kemana kau??" Jimin berlari mengikuti Taehyung yang keluar kampus. Senyuman tidak luntur sejak tadi. Otaknya merangkai rencana licik, ia mendapat mainan baru.

Jungkook terduduk di bawah pohon, entah sekarang ia dimana. Kepala terlalu pusing untuk berpikir, kakinya bergerak sendiri hingga menuju tempat ini. Bahkan kertas tugasnya pasti masih berserakan di sana, Jungkook berlari hanya membawa tasnya saja.

Ia meringkuk, tangisnya semakin pecah kala mengingat kejadian itu. Kenapa rasanya sakit sekali?

Mungkin Yoongi benar, seharusnya ia memilih diam. Seharusnya ia tidak melawan, maka hatinya tidak akan sesakit ini. Tapi mau bagaimana lagi? Taehyung keterlaluan, mana sudi dia dihina sebegitunya.

Tiba-tiba hangat menyelimuti Jungkook, sebuah pelukan membungkus tubuh ringkih Jungkook, membuatnya merasa nyaman dan terlindungi.

"Shh.. sudah, jangan menangis, Kookie." Suara itu, Jungkook kenal betul. Itu suara Yoongi. Ia memeluk balik pemuda itu dan menangis di ceruk leher Yoongi.

Ada sedikit aroma mint dan kopi tercium di indranya. Bak aroma terapi, otot-ototnya menjadi rileks setelah mencium aroma itu. Pelukannya semakin mengerat kala tangisnya berhenti.

"Kubilang apa soal Taehyung, hm?" Suara Yoongi begitu lembut, usapan pelan di kepalanya pun begitu menenangkan. Jungkook heran, kenapa pemuda lembut seperti ini bisa menjadi Beta?

"Kookie, aku sedang bicara denganmu."

Jungkook menggeleng, suaranya entah lenyap kemana. Ia terlalu lelah untuk membuka mulut, ia hanya ingin pelukan ini lebih lagi dan lebih lama.

"Katakan padaku bahwa ini yang terakhir kalinya kau berurusan dengan Taehyung, Jungkook. Hey, Kook? Kau deng-"

Terlambat, Jungkook sudah tenggelam ke dasar laut paling dalam. Ia sudah tertidur dengan mimpi yang memanjakannya. Ia sudah terlalu telah untuk membuka mata.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yahhooo~

Muncul lah adegan Kookie dan Taetaee~

Walau tidak seperti keinginan kalian maafkan ya :'(

See u next chp!