Happy Reading!

3

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook menatap heran poster yang ia bawa. Tadi pagi ia bertemu Yoongi di koridor, lalu si pucat itu memberikan poster ini dan berkata, "Kau harus janji akan datang, ya Kookie!" Dan berlalu pergi secepat kilat.

Oh, kini dia berada di taman kampus. Sendirian tentunya, karena teman-temannya masih sibuk dengan makul mereka.

Netra Jungkook menatap judul pada poster itu lagi.

"Prom .. party?"

"Wah! Tahun ini diadakan juga ya?" Jungkook tersentak mendengar suara tepat di telinga, jantungnya hampir lepas dari tempatnya.

"Alice! Kau mengejutkanku astaga!" Yang ditegur malah terkekeh menunjukan dimple manisnya. Kan, jadi tidak tega.

"By the way, cookie. Kau dapat poster itu darimana? Di papan pengumuman tidak ada tuh." Alice duduk di samping Jungkook menguap sebentar lalu menaruh kepalanya ke meja kayu.

Tangan lembut Jungkook bergerak mengelus pelan kepala Alice hingga gadis blasteran itu tersenyum padanya.

"Aku dapat dari kakak tingkat tadi pagi."

"Oh.. Min sunbae ya? Kau dekat ya dengannya, bikin iri." Alice mengerucutkan bibir tipis berwarna merah muda.

"Kau suka? Dia sudah punya mate loh."

Ia beranjak dari acara tidurannya dan memegang tangan Jungkook kelewatan keras. "Alice?"

"Benar! Dia sudah punya mate! Pria pula, siapa namanya? Ah Jimin! Park Jimin kan? Wah, siapa yang kira ya sunbae setampan itu dapat jodoh berbatang juga."

Jungkook menyerngit tidak suka, hey Yoongi itu cantik. Walau ada beberapa persen tampan tapi tetap saja dia cantik!

"Sedang membicarakan sugar ku, Kook?"

Kedua hawa itu membeku di tempatnya. Ini, suara Jimin kan? Mampus, terkutuklah Alice dan bibir ngaconya.

"U-uh sunbae.. kami hanya.." hanya apa? Kau mau bilang apa Alice? Hentikan mulut laknat Alice sebelum mereka semakin jatuh ke jurang.

"Sunbae ada keperluan apa?" Sebisa mungkin Jungkook menetralkan suara dan ekspresinya. Ia bernafas lega kala Jimin menyunggingkan senyuman pada Jungkook.

"Kemarin kau menemuiku, kan? Ada perlu apa?"

Ha? Sabar, otak Jungkook sedang loading dia belum makan dari pagi jadi agak lemot.

"Oh, waktu itu. Aku ingin bertanya apa kau melihat ber-"

"Ini?" Jimin menunjukan setumpuk berkas di tangannya. Berkas itu tampak masih utuh dan bersih, sepertinya Jimin menjaganya dengan baik.

"Ini tugasmu kan? Maaf ya belum bisa ku kembalikan. Kau tau kan si iblis itu selalu membuntutiku, jadi susah."

Jungkook langsung paham maksud Jimin, pasti Taehyung. Tangannya menerima setumpuk berkas itu dengan mata nanar.

"Kenapa?"

"Sunbae, tugas itu deadlinenya kemarin. Jadi sudah tidak berguna." Sahut Alice yang muncul dari balik bahu sempit Jungkook.

"Wah, maaf ya Kook. Sungguh aku tidak sengaja." Kedua tangan Jimin ia satukan dan menunduk minta maaf. Sungguh ia tidak sengaja.

"T-tidak apa kok, sunbae. Ini kan pure kesalahanku. Terimakasih sudah menyimpannya." Jungkook tersenyum, gigi kelincinya muncul malu-malu disela bibir cherry itu.

Alice dan Jimin saling bertatap, buru-buru Alice menutup mulut Jungkook dan menariknya ke dekapannya. "Sunbae, ingat mate dong. Cookie manis ini bukan punyamu!"

Ah, tipikal Alpha. Melindungi omega itu sifat alami alpha. Dan Jimin tersenyum geli melihat ekspresi marah Alice. "Tentang saja, aku berjanji tidak akan menyentuh Jungkookie kok."

"Ya sudah aku pergi dulu ya?" Jimin berlalu, namun ia berbalik dan menanyakan sesuatu, "Oh iya, alpha. Siapa namamu?"

Alis Alice naik, "Alice, kenapa?"

Jimin tersenyum, "Jaga Kookie ya, Alice."

Baik Jungkook maupun Alice bersemu menatap punggung Jimin yang menghilang di kerumunan.

"Itukah aura alpha?" Jungkook bersuara.

"K-keren!"

Pelukan di tubuhnya terlepas, dengan mudahnya Alice memutar tubuhnya menghadap dirinya. "COOKIE! Mulai sekarang kau dibawah pengawasanku!"

Ha?

Tunggu.

Apa??

Yoongi menoleh mencari pemuda pendek kesayangannya. Katanya dia berada di lapangan basket tapi hasilnya nihil. Irisnya menangkap helaian ungu, dengan langkah cepat Yoongi menghampiri.

"Oy bangsat, Mate ku mana?" Ucapnya dengan wajah kelewatan sebal.

"Sombongnya, mentang-mentang punya mate." Taehyung mengernyit tak suka pada Yoongi.

"Berisik. Mana Jimin?" Yoongi masih celingak celinguk mencari pemuda cebol itu.

"Tauk! Tiba-tiba lenyap. Dimakan setan kali."

Yoongi mendengus, hampir saja ia tertawa melihat wajah tertekuk Taehyung. "Mustahil, tau kenapa?"

Taehyung menoleh tidak minat ke Yoongi. Berani bertaruh alasannya pasti tentang dirinya. "Ngga."

"Satu, Jimin jelek ga enak. Kedua, setannya kamu, kan? Emang doyan makan Jimin? Oh, iya lupa. Kau kan doyan makan teman."

Nah kan, bangsat memang. Untung itu Yoongi kalau saja itu Jimin, habis tuh bocah cebol.

"Kim." Yang dipanggil menoleh, "apa hyung?"

Yoongi yang sedari tadi berdiri kini mendudukan dirinya di samping Taehyung. Iris legamnya menatap lurus ke langit sore hari itu. Taehyung masih menunggu, jantungnya terus-terusan berdetak kencang. Kira-kira apa yang Yoongi ingin ucapkan? Jangan-jangan soal Jungkook, apa Yoongi sudah tau? Mampus kau Taehyung.

Helaan nafas kasar dari Yoongi makin membuat Taehyung tegang, "Jungkook."

Deg!

"Kenapa dengan Jungkook?" Taehyung tersenyum bangga karena ia bisa menetralkan suara serta ekspresinya. Sepertinya ia berbakat menjadi aktor.

"Kau tau kan? Aku sangat sayang pada Jungkook, melebihi pada Jimin malah."

Batin Taehyung menertawakan Jimin keras. Coba saja Taehyung merekam perkataan Yoongi, dipastikan Jimin tidak akan tenang tidur.

Yoongi menoleh, menatap tajam Taehyung. Begitu tajam, sampai Taehyung merasakan wajahnya bisa terbelah oleh tatapan Yoongi-berlebihan memang.

"Sampai aku pulang ke Korea nanti, dan ku melihat Jungkookie ku terluka barang seinchi pun. Aku tidak mau peduli dari mana asal luka itu. Kau! Akan mati detik itu juga!"

Yoongi langsung melangkah pergi meninggalkan Taehyung yang mematung di posisinya. Otaknya masih memproses perkataan Yoongi tadi.

Pulang

Terluka

Mati

Oh, pulang? Itu berarti Yoongi akan pergi? Pergi jauh? Taehyung langsung terlonjak dan bersorak kegirangan. Tidak memperdulikan tatapan heran mahasiswa yang bermain basket ataupun yang berlalu lalang menatap heran pada Taehyung. Bukan urusannya, intinya dia sedang sangat senang dan harus ia rayakan!

"Idiot! Tidak punya malu ya?" Suara Jimin menginterupsi kebahagiaan Taehyung. Dengan secepat kilat Taehyung memeluk sahabat seperjuangannya lalu mengangkatnya.

"Kita akan pesta!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ada yang sedih karena Yoongi pergi?

Sini angkat tangan :') .. saya juga sedih

See u next chapter!

3