Happy Reading!

3

Suara detuman musik mengusik telinga Taehyung. Lampu-lampu tampak berwarna warni dan berputar-putar, membuat pandangannya semakin kabur. Ramainya tempat itu membuat Taehyung terhuyung karena pu.

Dia dimana?

Perlahan ia memfokuskan pandangannya, di sana ada Irene dengan gaun mini dan ketatnya. Dan oh, jangan lupakan seorang pria yang sedang mencumbu wanita itu. Masa bodohlah, kepala Taehyung terlalu pusing untuk memikirkan wanita itu. Perlahan ia mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk kosong, kakinya terasa begitu lemas dan dia ingin segera duduk.

Setelah mendapatkan sofa kosong, Taehyung langsung merebahkan dirinya. Menutup matanya dengan lengan tannya. Berharap musik itu berhenti dan lampu-lampu itu mati.

"Kim... tepar?" Samar-samar ia mendengar suara Jimin. Ia menoleh, menemukan pemuda itu masih rapi dan bersih dengan kemeja biru dongker dan celana panjang ketat yang membungkus kakinya.

"Kau lihat apa, brengsek? Aku tidak minat pada lubang lain selain punya Yoongi." Taehyung terkekeh, dengan pelan Jimin membopong tubuh berisi Taehyung. Berat, walau tidak punya 6 kotak diperutnya Taehyung tetap berat. Lihat saja bahu dan dadanya begitu mempesona dan lebar. Tangannya juga kekar dan terlihat kuat. Di bandingkan tubuh kekar Jimin masih berat Taehyung lah.

"Jim.. kook.." Jimin menoleh pada pemuda mabuk yang dibopongnya.

"Apa? Kau mencari siapa?" Mereka berjalan keluar klub dan menuju mobil Jimin, meninggalkan Irene yang sibuk menari.

Sebagai informasi saja, mereka baru saja mengantar Yoongi ke bandara lalu melaju ke klub untuk merayakan kepergian Yoongi-kata Taehyung. Walau sebenarnya Jimin sedih harus LDR an dengan kekasih gulanya. Tidak lama sih, hanya sebulan kok.

"Jim, Kook! Kook." Taehyung mengigau lagi. Katanya mau menyiksa Jungkook, giliran mabuk begini minta Jungkook.

"Dia di rumahnya, bangsat. Sudah tidur sana, berisik sekali." Jimin mengusap rambutnya sambil mengemudi. Ia sudah menduga Taehyung akan mabuk berat, maka dari itu ia tidak minum banyak. Takut-takut malah mereka berakhir di rumah sakit.

"Bawa.. kesana!" Nah, Taehyung mulai merengek.

"Lalu apa? Kau mau memperkosanya? Maaf ya, aku sudah janji pada Yoongi untuk menjaga Kookienya sampai dia pulang. Jadi tujuan kita kali ini apartemenku."

Geraman rendah Taehyung membuat Jimin tersentak. Gila, terakhir kali Taehyung mabuk tidak separah ini. Apa ini efek karena sudah menemukan matenya?

"Park, berikan Jungkook."

Jimin membeku mendengar perkataan Taehyung. Ia baru tersadar kala mobil yang mereka naiki terguncang karena Taehyung merebut kemudi.

"Sialan! Kita sedang di jalan raya!" Sekuat tenaga Jimin menahan kemudi agar mobilnya kembali berjalan lurus.

"Jungkook, Jimin! Berikan! Aku ingin Jungkook!!" Jimin mendesis, lengannya terluka karena genggaman Taehyung. Kekuatan Taehyung itu tidak main-main, entah datang darimana kekuatan itu, perasaan Taehyung sejak tadi lemas.

"Iya-iya kita ke Jungkook, okay? Sudah duduk diam di sana, jangan menggangguku menyetir." Ajaibnya Taehyung langsung menurut dan duduk manis di kursi penumpang. Membuat Jimin menghela nafas lega, tentunya ia tidak akan membawa mereka ke Jungkook. Rumahnya saja ia tidak tau, bagaimana bisa kesana?

"Tae, kenapa ingin bertemu Jungkook?" Dari sudut matanya ia melihat Taehyung yang menatap ke jalan raya. Keadaan jauh lebih baik, tidak seperti habis mabuk, ia malah terlihat sehat dan biasa saja.

"Aku ingin meremukkannya, membuatnya menangis dan menjeritkan namaku."

Glek.

Jimin merinding, ia harus benar-benar menjauhkan Jungkook dari Taehyung terutama dalam keadaan mabuk begini. Mendadak ia kangen sugar nya. Ia sudah mengurusi Taehyung, sekarang ditambah Jungkook. Dan lagi kalau sampai gagal Jimin duluan yang dihabisi, kurang apa lagi.

"Kemarin milih Irene, sekarang minta Jungkook. Jadi al-" suara dengkuran menghentikan Jimin, dasar. Taehyung itu bayi besar kelewatan bandel. Sudah mabuk, hilang kendali, sekarang dengan polosnya malah tertidur. Yah lebih baik dibanding lepas kendali sih, jadi Jimin bisa menyetir dengan santai.

Langkah Jungkook terhenti, ia menoleh ke arah pemanggil. Di sana berdiri Jimin dengan senyuman canggungnya.

"Kook, berniat bicara sebentar?" Dengan patuh Jungkook mengikuti langkah Jimin di koridor kampus. Netranya beredar mencari seseorang namun nihil. Jimin yang menyadari gelagat Jungkook tersenyum.

"Taehyung? Tenang saja, hari ini dia absen kok. Jangan takut dia muncul tiba-tiba."

Jungkook kembali mengangguk, lega setidaknya dia tidak perlu was-was hari ini. Namun ada terbesit penasaran mendobrak hatinya. "Tumben, sunbae. Apa terjadi sesuatu?"

Jimin menahan tawanya kala mengetahui Jungkook sedang menahan diri agar tidak terlihat begitu khawatir. Sudahlah Kook, percuma kau berbohong, Jimin tau semuanya.

"Ah.. itu kemarin ada sedikit insiden. Makanya dia tepar di kamarnya."

Jungkook menatap Jimin tidak percaya. Ada binar khawatir di iris coklat Jungkook, namun dengan tenang Jungkook menetralkan ekspresinya. Dan Jimin tidak tahan untuk menahan tawanya lagi. Jungkook itu menggemaskan astaga. Pantas saja Yoongi betah dengan gadis ini.

"Karma."

"Apa? Kenapa bisa karma?"

Jungkook melirik Jimin sebentar lalu mengedarkan pandangan lurus ke depan, "Karma karena menghina omega. Sekalian saja mati, kenapa cuma tepar?"

Nah, Jimin berharap Taehyung disini. Ia yakin Taehyung akan sakit hati-walau tidak mengaku-karena perkataan kejam matenya. Duh, pasangan satu ini bikin Jimin gemas.

"Ngomong-ngomong sunbae, katanya mau bicara? Tentang apa?"

"Ah, itu soal Yoongi. Dia sedang pergi ke luar negeri urusan pribadi. Kira-kira sebulan atau 2 bulan, jadi-"

Jimin panik karena pegangan erat Jungkook di lengan kirinya. Wajah manis itu kini memerah, mata bulat itu tergenang air mata yang bisa tumpah kapan saja. Bibir tebal cherry itu tergigit karena Jungkook menahan tangisnya.

Gawat, kenapa Jungkook malah menangis begini? Ia harus bagaimana ini? Yoongii...

"Kenapa tiba-tiba Yoongi oppa pergi? Mana tidak kasih kabar lagi." Bibirnya mengerucut, pipinya semakin gembil. Wah, diabetes dia.

"Kukira Yoongi sudah cerita, ternyata belum ya?" Jimin mengusak surainya frustasi. Untung mate, kalau tidak sudah habis Yoongi dimakan Jimin.

Kini mereka duduk berdua di taman kampus. Jungkook minta kesitu, katanya itu tempat favoritnya bersama Yoongi. Dibawah pohon maple.

"Baiklah, itu dulu yang ingin ku sampaikan, jaga dirimu baik-baik ya? Yoongi yang minta. Pokoknya kau tidak boleh terluka seinchi pun sampai Yoongi pulang." Jungkook tersenyum mendengar perkataan Jimin, hatinya menghangat memikirkan pemuda itu masih peduli dengannya.

Setelah kepergian Jimin, Jungkook beranjak dari duduknya. Menepuk-nepuk pelan roknya yang kotor. Niatnya ingin pergi ke kelas mengingat kini sudah jadwal pergantian. Namun pukulan keras di tengkuknya membuat Jungkook limbung ke pelukan seseorang.

Susah payah Jungkook membuka matanya, namun netranya hanya menangkap gambar kabur. Mungkin efek pukulan di kepalanya, jadi pandangannya mengabur.

"Oh, sudah bangun rupanya." Suara khas bariton itu mengumpulkan kesadaran Jungkook. Gelap, hanya ada seberkas cahaya yang malu-malu mengintip lewat celah pintu.

Dengan kekuatan yang tersisa, Jungkook menatap ke asal suara. Disana Kim Taehyung, terduduk di sebuah sofa rusak dengan angkuhnya, tersenyum licik padanya.

"Good morning, sweetheart."

Maaf ya guis baru apdet skrng :'(

Oh ya aku baca kok comment kalian 3

Maaf ya ga bisa mbalesi atu-atu :')

Terimakasih dukungannya

Thank u so muchh!!

Ps : jan benci taetae ya ..walaupun brengsek dia hatinya macam squishy kok :')

Nanti kookie marah loh

see u next chapter!

Vote and comment

3